Sebuah tas ransel di punggung dan sebuah botol minum Tupp*rware di tangan. Ada namanya tertulis di sana, sekaligus alamat. Jaga-jaga kalau hilang barangkali orang yang menemukan akan berbaik hati mengembalikan. Padahal pada sebagian besar waktu, yang ada, mah, botol minum tersebut sudah diklaim oleh yang menemukan.
Bukan Duri namanya kalau selalu berburuk sangka. Bunda selalu berkata bahwa itu bukan hal terpuji. Sebagai anak baik, Duri selalu ingat pesan orangtua agar selalu berbaik sangka kepada orang lain.
Pemuda itu melewati sepasang gerbang teralis setinggi dua meter yang masih terasa dingin. Sinar mentari menyorot palang plastik putih dengan huruf-huruf unik di atasnya yang bertuliskan, "Selamat datang di Mimosa Garden".
"Haahhh, segar~! Apa kabar, sayang-sayangku?"
Kebun subur membentang, hati Duri pun senang. Ia menghambur ke arah susunan pot berisi tanaman hijau yang tertata rapi di atas meja pameran. Sangat wholesome. Apa yang salah dari seorang pecinta alam yang sangat menyayangi kebunnya? Tidak mungkin ada yang salah!
"Ahaha, Evelyn, daunmu pagi ini kinclong sekali! Mmmh, kuncupmu sudah mekar, ya, Frederica? Ahh, aroma kalian buat semangatku bangkit! Ahh~! ✰"
Tubuhnya menyelip di antara pot lalu didekaplah semua yang bisa ia raih dalam genggaman. Seorang pemuda dewasa cekikikan dengan setengah badan rebahan di atas meja, memeluk pot-pot tanamannya dan menatap mereka penuh kasih. Sesekali mendesah untuk alasan yang tidak diketahui.
Anggap saja kalian tidak melihat adegan barusan.
"Eh, Den Duri. Tumben udah nyampe. Biasanya masih di rumah jam segini."
"Ah, Pak Cendawa! Pagi~!"
Duri turun dari meja untuk menyambut asisten kerjanya yang barusan tiba. Pak Cendawa adalah seorang pria paruh baya yang Duri percayakan untuk merawat kebunnya. Setelah mengetahui kondisi keuangannya yang waktu itu tengah mengalami krisis, sang pemilik toko tidak ragu-ragu merekrut si ayah beranak sepuluh sebagai asistennya.
Pria itu tersenyum, mengomentari bagaimana sang atasan begitu berseri-seri sejak pagi. Duri yang murah senyum memang bukan pemandangan aneh di Mimosa Garden, tetapi senyum kali ini begitu silau sampai lampu hijau lalu lintas depan toko minder dibuatnya. Mogok, deh.
"Ehehe, habisnya Solar mau datang siang nanti~" Pemuda bertopi terbalik itu garuk-garuk rambut sambil kesengsem.
Itu dia. Selain anak-anak kebunnya, sosok lain yang bisa membuat Duri tersenyum begitu cerah adalah sosok pacarnya yang sering ia samakan dengan bunga matahari. Habisnya, Solar itu begitu hangat!
Sangat disayangkan, pacarnya semakin hari semakin disibukkan dengan persiapan ujian akhir dan ujian masuk perguruan tinggi. Jarak toko Duri dengan kediaman Solar sendiri tidak begitu jauh, tetapi ia harus menjaga toko di siang hari. Alhasil, waktu bertemu mereka terus terpangkas belakangan ini.
Hari ini! Ia akan bisa bertemu Solar langsung! Tak seperti hari-hari biasanya di mana mereka hanya bisa berjumpa melalui layar ponsel, Duri akan bisa melepas rindu pada sosok favoritnya! Karena itu, ia harus semangat menjalani hari.
Suara kendaraan bermotor mulai mendominasi jalan raya di depan toko. Rupanya lampu hijau telah kembali menyala, bergantian shift dengan lampu merah dan kuning. Duri mengangguk kepada asistennya, memberi kode untuk mulai menyiapkan pembukaan toko pagi itu.
.
.
.
"Terima kasih atas pembeliannya! Datang lagi, ya!"
Pembelian kesekian siang ini membuat hatinya membumbung ke awan-awan. Tanaman hias dan karangan bunganya laris manis sejak pagi. Beruntunglah mendekati jam makan siang, jumlah pelanggan menurun sehingga Duri bisa meregangkan badan sedikit. Ia mengistirahatkan kepala di atas meja kasir.
"Ehehe, Jessica, coba tebak, aku lagi senang sekarang. Karena apa? Karena Solar mau datang!"
Yang suruh nebak siapa, yang jawab siapa.
"Maaf, ya, aku ada kencan sama Solar hari ini. Lain kali aku akan temani Jessica seperti biasa! Kamu bakal dijagain Nut, ya, setelah ini!"
Duri mengelus kepala … sepot tanaman venus flytrap di atas meja kasir yang ia sebut-sebut sebagai Jessica. Daun bergerigi Jessica menganga seperti tokoh film bersenyum lebar, dalam sebuah film horor, tapi. Seolah memaklumi keperluan tuannya siang itu.
Sesaat setelah mendapat izin dari anak kesayangannya, Duri beralih ke jajaran pot dekat dinding kaca untuk memangkas beberapa helai hijau yang telah sedikit menguning. Tak lupa, bercak tanah yang agak tercecer ia sapu kembali ke dalam pot supaya meja display tetap rapi dan bersih.
Dari belakang, terdengar sahutan suara tinggi seorang pemuda yang dengan berisik menurunkan tas bawaannya di ruang staf. Sudah terbiasa mendengarnya di jam ini membuat Duri sadar bahwa satu lagi asistennya, Nut, telah tiba untuk menggantikan shift-nya sebagai kasir. Bagus, dengan begini, Duri tinggal beres-beres ketika Solar tiba.
Baru selesai memotong dua helai, pemuda itu mengangkat wajah, menyadari ketukan pada dinding kaca. Ketika menoleh ke sumber suara, wajah belianya yang kena sedikit noda tanah berubah cerah.
Lihat siapa yang datang. Seekor kucing putih yang menunggu dibukakan pintu oleh babunya. Manik bulatnya yang bagai berlian berkilau penuh ekspektasi untuk segera dijemput.
"Solar~!" serunya, menyebut nama kucing itu.
.
.
.
"Wahh!" Duri menganga lebar, membayangkan isi kotak bekal di hadapannya masuk ke mulut. Setetes air liur nyaris tumpah dari sudut bibirnya. "Ini semua buatku?"
Seperangkat meja-kursi di kebun belakang terasa lebih meriah dengan kehadiran kotak bekal berisi satu pak nasi dan kroket kentang renyah yang uapnya masih mengepul. Di samping keduanya, ada kwetiau tumis yang dibalut kecap manis.
"Iya, lah. Pacarku, kan, cuma satu. Habiskan tanpa sisa, oke?" Solar terkekeh, bangga juga melihat hasil karyanya siang ini.
"Um!"
Teknik makan Duri berada di tengah-tengah antara makan sambil menikmati dan makan dengan membabi buta. Maklum, ia habis bekerja seharian di kebun sekaligus melayani pelanggan. Beberapa nasi yang menempel di sudut bibirnya membuat sang pacar sibuk mengusap mereka dengan sapu tangan bermotif bebek.
"Solar enggak makan?"
"Tadi sudah, kok. Bekalnya enak?" Solar mengalihkan topik. Kakinya yang melayang diayun-ayunkan sembari menunggu jawaban yang sudah ia tahu.
"Bekal buatan Solar gak pernah gak enak. Aku bisa makan ini setiap hari~"
Tebakannya benar. Putra pemilik restoran kecil itu mengangkat dagu. "Siapa dulu yang buat."
Pulang sekolah tadi, Solar buru-buru ke dapur untuk memasak makan siang untuk sang kekasih. Orangtuanya adalah pemilik sebuah restoran keluarga yang berdiri sejak sebelum ia lahir. Patutlah, sebagai putra pertama, Solar juga belajar menjadi koki andal yang juga bersinar dalam segala bidang lain. Kurang apa, sih, Solar ini. ✧
Berhubung hari ini tidak ada pelajaran tambahan, Solar buru-buru pulang hingga tak sempat ganti pakaian. Seragam sekolahnya masih lengkap dengan jaket putih dan sweter jingga kebanggaan yang tak pernah tanggal walau suhu udara naik sepanas Gurun Sahara sekalipun.
Tak butuh waktu lama bagi seorang lelaki dewasa yang butuh banyak energi melahap habis makan siang spesial buatan sang pacar. Duri menutupnya dengan sebotol jus jeruk dingin. "Segar~! Ah, tapi lihat Solar di sampingku lebih segar lagi."
"Gombal."
"Eeh~?!"
Gyuttt, sedetik kemudian, pipi Duri sudah kena terkam si kucing putih. Pelakunya menyeringai sambil tertawa kejam sementara si korban meringis minta dibebaskan. Sosok yang lebih muda menggoyang-goyangkan pipi itu bagaikan mereka sepasang bola empuk.
"Wajahmu makin bikin gemas sejak terakhir ketemu. Mau kumakan."
Kalau kita bicara tentang Solar, kalimat barusan bisa diartikan secara harfiah. Pipi Duri sudah sering jadi korban gigitan dan itu tidak mengenal mood. Solar gemas, gigit pipi. Solar marah, gigit pipi. Solar lapar, gigit pipi. Gabungan dua yang terakhir adalah yang paling berbahaya karena biasanya Duri berakhir diharuskan pakai perban, membuat para pelanggan mengira ia habis dijambret preman pasar mana.
Duri mengaduh dengan setitik air mata di pelupuknya. "Aduhh, harusnya Duri senam wajah saja …."
"Tidak boleh!" Solar menyalak.
"Kenapa?!" Manik peridot terbelalak.
"Kalau kau tambah keren, nanti makin banyak yang naksir." Giliran pipi si pelaku yang menggembung.
Pipi Duri menghangat, bukan karena cubitan pacarnya yang makin ganas. Penyebabnya adalah melihat sosok kesukaannya bertingkah manis membuat ia lupa akan segala tetek-bengek dunia. Andai mereka tidak sedang di toko pada jam kerja, sudah pasti Duri akan memeluknya dengan sepenuh jiwa raga.
Paling pol, ia membiarkan Solar bersandar di bahunya. Aroma jersey si pecinta alam yang bau matahari merebak ke dalam indra penciuman. Ia pasti habis seharian mengurus tanaman yang jumlahnya bejibun. Hmph, cukup bicara tentang tanaman, Solar jadi eneg membayangkan selingkuhan-selingkuhan Duri itu.
"Duh, padahal Solar gak perlu khawatir. Aku cuma punya Solar seorang. Kamu boleh lakukan apapun, bahkan makan pipiku~"
Kelopak di balik kaca jingga berkedip. Duri mengucapkan kalimat itu tanpa ragu.
Kepalanya menunduk, berposisi dekat dengan dada kekasihnya yang kokoh. Terdengar degup jantung pemuda itu yang hangat lagi menenangkan.
Apapun, katamu?
"Hei, Duri."
"Ya?"
Wajah yang menunduk konstan memerah. Masih tertutup topi putih-kelabu dan surai cokelatnya, ia mengutarakan bisikan sehening angin malam, "Duri pernah tidak …."
"Pernah …?"
"P-pernah kepikiran itu, denganku …?" Agh, kenapa dia jadi gagap sekarang.
"Itu apa? Naik teratai raksasa bersama?"
"Bukan!"
Duh, ngaco pun, pacarnya masih sempat-sempatnya menyebut tanaman. Seberapa freak, sebenarnya, Duri ini?
Solar menggenggam kerah jersey Duri lalu pelan-pelan mendongak. Matanya menyipit sayu, seakan meleleh ke dalam rona wajahnya yang makin pekat.
"Pernah terpikir … melakukan seks denganku …?"
"Hah …?"
.
.
.
Cuattt, ada roket tak kasat mata yang lepas landas ke udara, meledak lalu jadi pecahan blink-blink di langit.
"A-apa ini tiba-tiba?! Kenapa Solar tanya begitu?"
"Jawab saja!" Solar menutup mata, bibirnya membusur begitu mantap. "Atau jangan-jangan, kau tidak pernah terpikir? Karena aku tidak menarik, begitu?! Atau karena aku masih perjaka?!"
Tidak, justru itu yang bikin bagus. Hei, apa yang kau pikirkan, Duri! Sekarang ia harus berusaha mencari cara untuk mengatasi situasi ini. Melarikan diri tampaknya sia-sia apalagi Solar sudah masuk mode menuntut.
Hidung Duri kembang-kempis, dada naik-turun nyaris melontarkan roket kedua. Dada Solar yang bersinggungan dengannya menyalurkan panas yang sama. Berbagi debaran yang saling menggema melalui kulit ke telinga masing-masing.
"Aku … aku …." Duri menarik napas panjang. Pundak Solar ditepuknya supaya ia kembali duduk.
"A-aku … pernah, kok, te-terpikirkan. Tapi, Solar masih muda …. Duri khawatir Solar masih belum siap, makanya Duri menunggu Solar agak dewasa untuk membahasnya."
Terlepas rasa gugupnya yang meleduk luar biasa, pemuda itu menatap sang kekasih di mata. Senyumnya hangat, sedikit bengkok karena bibir digigit.
Manik kelabu balas menatapnya tanpa ragu. Kepalan pada lengan panjang pemuda itu semakin erat, mengikis jarak mereka berdua.
"Begitu, ya …."
"Um. Duri sayang Solar, kok."
Awalnya, mereka tidak berniat mau tebar kemesraan di kebun jam segini, tapi ini adalah pengecualian. Lengan Duri di leher Solar dan lengan Solar di punggung Duri. Berbagi rindu dan aroma tubuh yang menenggelamkan mereka dalam pesona satu sama lain.
.
.
.
Selesai beres-beres, waktunya Solar pulang untuk lanjut belajar. Kalau anak-anak sekelasnya biasa akan memilih istirahat atau main-main saja di akhir pekan, beda dengan si jenius satu ini. Tidak boleh ada waktu yang sia-sia (waktu bersama Duri masuk dalam kategori khusus).
"Dadah~ hati-hati di jalan, ya, Solar! Sampaikan salamku pada Ayah-Bunda dan Cahaya!"
"Um, Duri juga. Semangat kerjanya."
Solar berbalik badan setelah membalas lambaian si hijau hanya untuk kembali berbalik sepersekian detik setelahnya.
Remaja itu berjinjit, dibantu tangannya yang bertumpu pada bahu sang kekasih, lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir yang tak hilang-hilang senyumnya. Kembali, bagaikan cahaya, ia berbalik arah dan berlari secepat mungkin, meninggalkan seorang pemilik toko tanaman dengan jantung yang berdebar panas sepanjang sisa hari.
.
.
.
.
.
.
Hai, berjumpa kembali dengan Kaori. Sayang sekali, partner saya, Ari (kARImu), berhalangan menulis dikarenakan kesibukan dunia nyata. Maka dari itu, "Surga Khayal" berada di dalam tanggung jawab saya kali ini.
Lama tak berjumpa membuat saya rinnnnduuu sekali dengan para pembaca yang sama-sama sayang terhadap duo fotosintesis ini. Terima kasih atas penantian panjang Anda, kami mendapat motivasi untuk melanjutkan serial ini. Nantikanlah kelanjutan "Surga Khayal" dari ARIAORI.
Saya akan sangat menghargai jika pembaca berkenan membagi pendapat pembaca mengenai tulisan saya. Bisa melalui kotak komentar atau langsung mention ke Twitter saya (_akaori). Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di chapter berikutnya.
【】Kaori
