"Tempat yang bagus." Ia memuji. "Kami rasa kami akan mampir sebentar."

Ryouta tersenyum sopan, "Tentu, silakan duduk." Ia berkata.

Dua orang itu kemudian memilih duduk di salah satu spot meja kayu bundar. Menempati dua kursi kosong yang berhadapan. Ryouta segera berjalan menuju mereka untuk memberikan menu.

"Kalian tidak punya kopi?" Si pemuda berkacamata bertanya setelah sebelumnya menelusuri menu.

"Ada, tapi hanya kopi biasa. Kopi bukan termasuk menu yang kami ajukan, tapi kalau anda mau kami bisa buat, meski tidak seenak kedai kopi."

"Miyuki-senpai, ini tea room." Si rambut indigo berujar datar. "Minumlah teh, jangan kopi." Ia melirik ke arah temannnya lalu mendongak dan menyerahkan buku menu pada Ryouta. "Aku ingin yellow tea dan macaron." Ia menyebutkan pesanan.

Yang memakai kacamata menghela napas. "Aku tetap ingin kopi." Katanya ringkas dan bulat. "Tolong buatkan saja kopi, dan kudapan yang tidak terlalu manis."

Ryouta mengangguk mengerti, ia mencatat pesanan lalu membungkuk kecil dan bergegas ke dapur. Anehnya, semakin lama, ia merasa mengenal atau pernah melihat dua pemuda itu.

o…

.

Ace of Diamond /ダイヤのA disclaimer by Terajima Yuuji

ENDIAFERON © Ohtani Kyko

kami mendapatkan keuntungan berupa kepuasan batin atas pembuatan fanfiksi ini

.

o…

Eijun yang sudah selesai membungkus kedua rangkaian bunga pun berjalan mendekati Kyoko yang sudah menghabiskan salad buahnya, "Benar-benar sampaikan salamku ya." Ucapnya menyerahkan kedua buket bunga.

"Wah, indah sekali. Terima kasih ya." balas Kyoko menerimanya. Dia terkagum menatap rangkaiannya, bahkan Eijun memberikan hiasan berupa daun segar yang entah namanya apa, "Aku jadi mendapat inspirasi untuk desain berikutnya."

"Ahaha, sama-sama." balas Eijun singkat.

Kyoko menghabiskan tehnya sejenak lalu mengikuti Eijun ke mesin kasir. Kyoko membayarnya lalu tersenyum kecil pada Eijun, "Salamku untuk adikmu ya."

"Ya, akan aku sampaikan. Maa, hari ini dia ikut kursus melukis sih. Jadi aku ragu kalau hari ini akan datang. Tapi Jum'at atau besok aku sampaikan." Balas Eijun, dia memberi kembalian pada Kyoko.

"Ya." Kyoko menerimanya. Dia diantar Eijun sampai pintu depan dan melambaikan tangannya satu sama lain. Setelah Kyoko benar-benar sudah jauh, baru Eijun ke dapur membantu Ryouta menyiapkan makanan untuk pelanggan mereka.

Tanpa meminta izin, Kazuya mengeluarkan gitarnya dan memainkannya perlahan mengikuti bagaimana isi hatinya sekarang. Matanya terpejam menikmati waktu, padahal sudah ada suara televisi yang menyiarkan berita siang.

"Maaf menunggu lama." Ryouta membawakan nampan dengan segala menu yang disiapkan. Segelas kopi hitam hangat, seteko kecil yellow tea dan lima biji macaron. Semangkok kecil granola yang dihiasi dengan yoghurt, potongan anggur hijau, dan strawberry, dan servis sepiring manggo cheese cake.

Telunjuk Satoru menunjuk potongan manggo cheese cake yang baru saja disajikan Ryouta, "Aku tidak memesan ini." Ucapnya pada Ryouta.

"Ini special service dari kami. Setiap pelanggan pasti mendapatkannya. Untuk menu khusus hari ini kami menyediakan Cantaloepe Manggo Cheese Cake. Saya jamin rasanya enak." Jelas Ryouta.

"Jadi ini gratis?" tanya Satoru lagi, dan disambut dengan anggukan kecil, "Terima kasih banyak."

"Sama-sama. Ah, dan untuk tuan satunya, kami tidak tidak punya menu yang tidak terlalu manis hari ini. Jadi kalau tidak keberatan, anda bisa menikmati granola ini. Namun jika anda merasa kurang puas, saya bisa membuatkan makanan asin seperti kentang goreng atau omelet." Ryouta menjelaskan pada Kazuya yang diam sejenak dari bermain gitarnya.

"Iie, ini saja cukup. Terima kasih." Kazuya tersenyum simpul pada Ryouta. Ryouta mengangguk sopan, memberi ucapan selamat menikmati, lalu ia pun permisi kembali ke balik counter.

Satoru mengambil sepiring cheese cake dan memakannya. Matanya langsung berbinar dan menyodorkannya pada Kazuya, "Miyuki-senpai, ini enak. Harus coba."

"Kau menawariku makanan manis?"

"Creamy."

"Sama saja." Kazuya menyesap kopinya, diam sebentar untuk merasakan takarannya, lalu mengangguk kecil, rasanya pas.

"Satu gigitan saja."

"Tidak."

"Keretanya datang..."

"Aku senpai lho."

Satoru diam. Dia menatap cheese cakenya, lalu ke granola milik Kazuya yang belum disentuh. Satoru menaruh cheese cakenya dan mengambil semangkuk granola milik Kazuya. Dia gunakan sendoknya dan mau memakannya.

"Ini punyaku, jangan asal makan!" Geram Kazuya langsung menyabet mangkoknya.

"Miyuki-senpai tidak mau mencoba cheese cakenya."

"Kau tahu aku tidak suka manis."

"Aku ingin merubah dunia abu-abu senpai."

"Abu-abu katanya."

"Miyuki-senpai, aaa..." Satoru sudah siap menyuapi Kazuya yang jelas-jelas tidak mau memakannya. Mereka tidak sadar kalau sudah jadi tontonan Ryouta dan Eijun sejak tadi.

Senyum Eijun mengulum. Dia senang melihat pelanggan yang menikmati waktu mereka di sini, apalagi membawakan kesan bahagia ketika mereka memakan kue bikinannya. Eijun bersyukur dia membuka toko yang digabung dengan café.

Usaha Satoru tercapai, dia berhasil menyuapi Kazuya sepotong cheese cake. Dan bisa dilihat jelas betapa bangganya Satoru pada usahanya sendiri, tidak mengindahkan Kazuya yang sudah meratapi betapa seluruh rongga mulutnya dipenuhi rasa manis gula dan buah. Dia secepatnya meminum kopinya sampai habis seperlima.

"Sumimasen, kentang goreng satu porsi." pinta Kazuya yang masih menunduk berusaha menghilangkan rasa manisnya. Sangat menyedihkan kondisinya sekarang.

"Hai." Ryouta langsung ke dapur, dia berhenti di tengah jalan berbalik menatap Eijun, "Yoshi-nii, udah beli kentang kan?"

"Udah kok, kemarin."

"Oke." Ryouta langsung meluncur ke dapur.

Tanpa merasa bersalah, Satoru kembali menawari Kazuya satu buah macaron, yang rasa mint, "Miyuki-senpai, coba ini juga."

"Kau mau membunuhku ya?" geram Kazuya.

"Tidak, aku hanya ingin berbagi."

"Tidak percaya."

"Ayolah Miyuki-senpai, satu saja. Rasakan nikmatnya."

"Kau ini..."

Eijun tertawa kecil melihat pemandangan itu. Pertama kalinya dia melihat pemandangan ini. Seorang pelanggan yang tidak suka manis tapi dipaksa makan manis. Dan itu membuat Eijun berpikir, kalau seumpama ada pelanggan lain yang datang ke sini dan tidak suka manis bagaimana ya? Ah, Eijun lupa. Kan masih ada teh.

Suara lonceng pintu utama berdenting, pria tua yang membawa kotak kecil stereofoam masuk dan menuju ke counter tempat Eijun berada, "Sudah lama tidak bertemu, Yoshiyuki." sapa pria tua itu tersenyum sangat ceria.

"Tomita-san, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar anda?" sapan Eijun sangat sopan.

"Baik baik, bagaimana tokonya? Kelihatan segar seperti biasa."

"Ahaha, saya hanya tidak tega melihat bunga-bunga di sini mati."

"Pasti repot mengurus bunga sebanyak ini."

"Tidak sama sekali kok. Saya hanya rutin menyiraminya dan sesekali memberikan pupuk alami." balas Eijun tersenyum, "Ngomong-ngomong, ini apa Tomita-san?" tanya Eijun pada sekotak stereofoam yang ditaruh di atas counter.

"Ah, ini," Tomita membuka penutupnya dan menunjukkan beberapa ekor sanma yang dikelilingi balok es, "Sanma, kiriman dari putraku."

"Woah, kelihatan enak." Puji Eijun.

"Aku berikan untukmu."

"Eh? Sungguh? Sebanyak ini?" kaget Eijun.

"Iya, lagian di rumah juga sudah dapat banyak. Aku juga berniat memberikannya pada orang tuamu. Mereka ada di rumah?"

"Hari ini Okaasan, Otousan, dan Naomi sedang keluar. Mungkin jam tiga atau jam empat sore kembali." jawab Eijun.

"Begitu ya, nanti saja kalau gitu aku kasihinya."

"Oh ya, tunggu di sini sebentar ya, Tomita-san." Eijun ke dapur, mengambil tupperware dan mengisinya dengan beberapa strawberry sampai penuh. Lalu dia kembali ke counter dan memberikannya pada Tomita, "Ini balasan dari saya, kebetulan juga lagi musimnya dan saya punya banyak. Saya jamin rasanya manis."

"Ohoho, terima kasih ya. Nanti aku makan bersama istriku." Tomita menerima tupperware yang berisi penuh strawberry itu.

"Sama-sama, saya juga berterima kasih atas Sanmanya." balas Eijun sedikit membungkuk pada Tomita.

Setelah itu Tomita berpamitan pergi membawa strawberrynya. Sementara Eijun menyimpan sanma di kulkas dapur. Nanti setelah toko tutup, dia akan bawa ke atas.

Belum lima menit Tomita pergi, pintu kembali terbuka, suara lonceng kembali terdengar. Tiga siswi dengan pakaikan simpel namun menarik masuk dan langsung ke spot mereka di depan jendela.

"Konnichiwa, Yoshi-nii." sapa mereka bertiga kompak.

"Konnichiwa." sapa Eijun balik. Dia mengambilkan tiga buku menu dan menghampiri ketiga teman Ryouta, "Aku kira kalian pergi berlibur."

"Kami ingin melihat Takeuchi-kun bekerja." Seru siswi yang duduk di tengah, membuat Ryouta yang sedang menggoreng kentang langsung merinding.

"Kalian ini..." Eijun memberikan tiga buku menu pada para siswi ini dan menunggu.

"Wah, hari ini banyak strawberrynya."

"Aku Cherry Blossom Strawberry Rice Cake."

"Kalau gitu aku Cherry Pound pudding, ini ada strawberrynya juga kan?"

"Iya ada." Balas Eijun singkat.

"Aku menu spesial deh. Strawberry shouffle pancake satu."

Eijun mencatat semua pesanan mereka, "Minumnya?"

Mereka tertawa kecil lalu berbisik sesuatu. Mereka menggumamkan se-no lalu berujar kompak, "Jus jeruk spesial buatan Takeuichi-kun!" Dan membuat Ryouta ingin pulang seketika mendengarnya.

"Oke, hanya itu?" mereka mengangguk, "Tunggu ya."

"Hai."

Eijun masuk ke dapur untuk membuatkan pesanaan Tiga Orang Gadis Remaja Pemuja Takeuchi Ryouta. Ia mengambil posisi di dekat Ryouta yang saat ini tengah menggoreng kentang. Hanya saja Eijun berdiri agak berjarak, dan berhadapan langsung dengan meja dapur setinggi pinggangnya, sementara Ryouta berhadapan langsung dengan kompor panas. Mencium aroma gurih yang menguar dari kentang goreng sebenarnya membuat Eijun sedikit merasa aneh, karena tokonya terbiasa dengan perpaduan aroma bebungaan dan kudapan manis.

"Kan," Kata Ryouta tiba-tiba, singkat dan tak jelas maksudnya. Eijun menoleh untuk memandang wajah sang pegawai sambil mengerutkan alis.

"Kan, apa?"

Ryouta menoleh sejenak padanya lalu kembali fokus membalik kentang goreng. "Ku bilang apa, tidak semua orang suka manis."

Eijun tak mampu menahan senyumnya, ia membuka rak atas dan mengelurkan beberapa piring, lalu berbalik membuka kulkas dan mengambil cake serta pudding.

"Iya, untung ada Ryou-kun. Pegawai kebanggaanku yang bisa mengatasi segalanya. Yeay!" Ia berkata dengan nada main-main begitu kembali di samping Ryouta.

Ryouta mendengus, mengangkat semua kentang yang sudah matang dengan saringan, lalu mematikan kompor. Tangannya tertahan di atas kolam minyak, menunggu semua minyak dari kentang menetes ke bawah. "Bukan itu poin pentingnya, Yoshi-nii."

Eijun saat ini sedang menata hidangan di piring-piring kecil, gerakannya sangat hati-hati seolah memperlakukan batu permata paling mahal di muka bumi. "Lalu apa?"

Ryouta menghela napas, "Sudahlah, lupakan." Kadang ia benar-benar menyerah menghadapi atasannya. Pasalnya sikap tenang Eijun dan beberapa ucapannya yang sering dibolak-balik justru membuat Ryouta merasa kalah saing.

"Oh ya, Yoshi-nii?"

"Hmm?" Eijun bergumam kecil lalu tersenyum pungkas, dan saat ini mulai menata pudding.

Ryouta berpikir sebentar, jari-jarinya menetuk di atas meja dapur. "Soal dua pelanggan tadi, rasanya bukankah mereka familiar? Ah, tolong sekalian ambilkan mangkuk."

Eijun menoleh padanya dengan kening mengerut. "Eh? Mereka pernah ke mari sebelumnya? Aku tidak ingat." Jawab Eijun, lalu tangannya kembali meraih rak dan mengeluarkan satu mangkuk ukuran medium permintaan Ryouta, juga satu mangkuk kecil untuk saus.

Ryouta berjalan ke sebelahnya bersama kentang goreng yang sudah ditiriskan. Ia meletakkan tisu makanan di atas tatakan kotak dan menuang kentang gorengnya ke sana, lalu mengambil penjepit kecil untuk menyusun kentang gorengnya di dalam mangkuk.

"Bukan." Ryouta menyahut akhirnya. "Maksudku bukan familiar dalam artian pengunjung yang sering datang. Tapi familiar karena sering muncul di banyak tempat. Apa mereka aktor?"

Eijun terkekeh geli. "Jadi diam-diam kau sering nonton drama?"

Ryouta memutar mata. "Tidak semua film bergenre drama, dan ku rasa mereka lebih cocok main film action daripada drama."

Eijun mangut-mangut. "Mungkin, entah." Ia angkat bahu, lalu menoleh. "Ryou-kun, jangan lupa jus jeruknya. Takeuchi-kun Fans Club mau kau yang membuatnya."

Ryouta lagi-lagi memutar mata. "Hentikan itu." Kata Ryouta penuh peringatan. "Yoshi-nii jadi suka sekali menggodaku sekarang. Dan tidak ada yang namanya Takeuchi-kun Fans Club." Ia berkata, setelah selesai menyusun semua potongan kentang goreng, Ryouta membuka rak bawah untuk mengambil botol saus lalu menuangnya ke mangkuk kecil. Pemuda itu kemudian berjalan menuju kulkas dan mengambil beberapa buah jeruk, dan seloyang es batu lalu mulai menyiapkan blender.

"Serius, ku pikir wajah mereka familiar. Memangnya Yoshi-nii tidak merasa begitu?" Ryouta masih enggan melepas topik sebelumnya.

Eijun hanya menanggapinya dengan senyum selagi ia menyusun semua hidangan di atas nampan. Ia masih harus menunggu Ryouta menyelesaikan jus jeruknya baru bisa mengantar pesanan.

"Aku tidak terlalu memperhatikan tadi." Kata Eijun akhirnya, ia menyugar poninya singkat lalu mengambil tisu untuk mengusap sedikit jejak keringat di keningnya. "Lagi pula tidak sopan kalau kita melotot pada pengunjung." Timpalnya dan kembali membiarkan poni keritingnya terurai menutupi kening, hampir menyentuh mata. Sang ibu belakangan mulai sibuk memintanya potong rambut, tapi Eijun jujur saja mulai suka rambut gondrongnya.

"Aku tidak bilang kalau Yoshi-nii harus memelototinya." Ryouta menyalakan blender, suara mesin itu bergaung memenuhi dapur. Ryouta kembali menatapnya tepat ke mata. "Hanya saja… pokoknya lihat sendiri, wajah mereka benar-benar tidak asing. Yoshi-nii kan up to date soal berita, pasti langsung bisa mengenali."

….

Kazuya semula memang berniat main gitar, namun saat matanya memandang sekeliling, ia justru lagi-lagi dibuat terpaku dan terkagum hingga memutuskan untuk meletakkan kembali gitarnya dan mengamati lebih detail desain interior tempat ini. Sementara itu Satoru yang duduk bersebrangan dengannya justru asyik sekali memakan kudapan pesanannya. Persis anak kecil yang baru diberi camilan enak, sosoknya mendadak berbeda sekali dengan monster yang biasa mengamuk di lapangan baseball.

Sebenarnya tempat ini tidak terlalu besar, kecil boleh dibilang. Bahkan mereka hanya menyediakan dua meja bundar dengan masing-masing set kursi berpasangan yang diberi bantal persegi berwarna soft cream. Selain itu, spot duduk lain adalah set kursi dan meja panjang merapat ke arah kaca yang menghadap langsung keluar. Saat ini di sana duduk tiga orang gadis remaja berpakaian ceria yang tengah bercakap-cakap seru sambil mengamati layar ponsel gadis yang duduk di tengah.

Lalu matanya kembali bergulir memindai ruangan. Bunga dan tanaman segar tersebar memenuhi nyaris setiap sudutnya. Semerbak harum bunga dan sejumput belukar kental mendominasi ruangan, meski begitu aromnya sangat lembut dan tidak sampai membuat orang tak nyaman. Bahkan seseorang dengan indra penciuman yang sensitif pun Kazuya rasa tidak akan keberatan dengan aroma ini.

Spot tanaman yang paling ramai adalah rak susun dari kayu bertingkat-tingkat yang dipenuhi oleh aneka macam tanaman, berbeda-beda ukuran. Mulai dari kaktus-kaktus mini sampai ekor bia berbunga merah terang disusun dengan indah di tiap tingkatannya. Selain itu ada pula spot khusus yang agak menempel ke dinding didominasi oleh tanaman anggrek aneka warna. Ada pula spot bunga-bunga yang biasa digunakan sebagai buket, seperti mawar, anyelir, lily, tulip, daisy, hyacinth, hydrangea, bunga matahari, dan masih banyak lagi yang tak Kazuya hapal namanya. Toko ini mirip taman rahasia, dengan segala keindahan yang tersembunyi dan terjaga dengan rapi di dalamnya. Mengingat bagian depan toko yang tidak terlalu mencolok, Kazuya rasa hanya pelanggan tetap dan beberapa pelancong beruntung yang bisa menikmati keindahan tokonya.

Dindingnya sendiri didominasi oleh kaca. Selain pada bagian depan yang sederet dengan pintu utama, dinding kaca juga mengisi bagian samping kanan dari pintu masuk, besebrangan dengan posisi yang saat ini Kazuya duduki. Sehingga ia bisa memastikan bahwa sinar matahari dapat menyorot masuk dan menjadi asupan vitamin D bagi tumbuhan yang berada di dalam. Namun meski didominasi oleh kaca, ruangan di dalamnya sama sekali tidak terasa panas berkat banyaknya tanaman yang menjadi penyejuk alami ruangan.

Kazuya sedang mengamati bunga matahari yang mekar menghadap ke luar jendela. kelopak bunganya kuning terang, tampak ceria dengan sisi bagian tengah berbentuk lingkaran sempurna. Bunga-bunga itu mendongak ke atas. Seolah berusaha menengadah ke matahari yang sesungguhnya.

Bunga matahari itu selalu menghadap ke arah matahari. Tapi meski begitu, tetap saja tidak bisa menggapai matahari yang jauh.

Suara Sawamura Eijun kembali masuk kedalam memorinya. Kazuya menahan napas, memejamkan mata sejenak. Ini sudah lebih dari dua tahun berlalu, tapi belakangan ini Eijun justru tambah sering menghantuinya lewat kumpulan memori dan kenangan masa lalu.

Kazuya ingat Eijun pernah mengucapkan kalimat itu padanya sambil memandangi langit musim panas di tahun terakhir Kazuya berada di Seido. Saat itu mereka masih sebatas pasangan battery, masih diliputi ego dan keangkuhan selangit untuk saling mengungkapkan isi hati satu sama lain. Belakangan, saat akhirnya Eijun lulus dari Seido dan mereka mulai berkencan, Eijun mengatakan bahwa kalimat itu diucapkan sebagi kode untuk Kazuya.

Maksudnya kau mataharinya, aku bunga mataharinya. Itu analogi yang menyedihkan karena kau tidak juga menyadari perasaanku, Miyuki Kazuya-teme!

Wajahnya mendelik marah, cemberut dengan gestur yang lucu. Kazuya butuh beberapa detik untuk memproses segalanya sampai kemudian ia tersadar lalu terpingkal puas. Sejak saat itu Kazuya sesekali sengaja mampir ke toko bunga untuk membelikan Eijun buket bunga matahari.

Kazuya tersadar dari lamunan ketika pesanannya tiba. Semangkuk kentang goreng lengkap dengan sausnya. Kazuya mengamati sang pegawai. Pemuda itu kelihatan tidak lebih dari tujuh belas tahun, mungkin masih SMA. Pembawaannya kalem seperti Satoru, namun punya pesona yang tak luntur meski ia hanya memakai kaus putih lengan pendek, celana jeans biru terang, dan celemek yang sepertinya seragam. Celemek itu sendiri berdesain simple dengan warna abu-abu bergaris vertikal tipis, panjangnya cukup lumayan hingga melewati batas lutut. Sebuah kantung berukuran cukup besar tersemat pada bagian perut ke bawah, dibumbuhi dua garis horizontal yang menambah kesan penegasan yang manis. Kazuya melihat pegawai muda itu memakai sebuah nametag bertuliskan 'Takeuchi' yang ia asumsikan sebagai namanya.

"Ada lagi yang bisa saya bantu?"

Kazuya mendongak menatapnya, lantas menggeleng tipis. "Tidak, terima kasih."

Pemuda itu tersenyum sopan lalu menunduk dan mundur, melangkah menjauh dan mulai sibuk di balik counter. Tak lama berselang seorang pegawai lain keluar dari dapur dengan satu nampan besar. Ia jauh lebih tinggi dari Takeuchi, mungkin sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter.

Pemuda itu berperawakan ramping namun berisi, memakai celemek yang sama dengan Takeuchi, hanya saja ia memakai kaus lengan panjang berwarna biru langit yang digulung sampai batas siku, juga celana hitam berpotongan pas di badan, membungkus kakinya yang jenjang. Rambut coklat gelapnya tampak lumayan panjang, belum layak disebut gondrong namun bisa dibilang cukup panjang. Dengan model curly dan poni yang jatuh menutupi seluruh bagian kening, bahkan Kazuya juga melihat mullet di bagian belakang.

Ia juga memakai kacamata dengan desain kaca lebih besar berbentuk persegi yang tumpul di ujungnya. Kelihatannya seperti model-model kacamata remaja masa kini. Mata Kazuya tanpa sadar mengikuti ketika pemuda itu berjalan dengan senyum terkulum ramah melewatinya lalu menuju meja panjang dimana tiga gadis remaja telah menanti.

"Pesanan datang, Nona-Nona."

Suaranya terdengar renyah, pembawaannya kalem namun berkesan hangat. Kazuya mengamati ketika ia menata hidangan di atas meja dengan luwes, sesekali berkedip kepada para gadis remaja yang mulai heboh cekikikan.

"Ini jus buatan Takeuchi-kun?"

"Yep, tentu. Aku hanya pelayan di sini. Semua jus jeruknya dibuat dengan penuh cinta oleh Takeuchi Ryouta-kun." Kata si pemuda berkacamata dengan nada suara main-main.

Dan Takeuchi yang berdiri di balik counter sontak berdeham dengan keras.

Tiga gadis itu tertawa geli. "Terima kasih, Yoshi-nii." Ujar salah satu di antara ketiganya dengan suara manis.

"Terima kasih juga, Takeuchi-kun." Timpal yang lainnya seraya melirik genit ke arah Takeuchi.

Si pemuda berkacamata terkekeh geli, membawa kembali nampannya dan berdiri dengan posisi santai. "Ada lagi yang dibutuhkan?"

"Um, untuk sekarang tidak. Tapi nanti mungkin kami ingin minta selfie bersama Yoshi-nii dan Takeuchi-kun."

"Aa…" Ia mengangguk. "Ada biaya tambahannya, lho." Godanya. Lalu tetawa kecil saat tiga gadis itu memasang wajah kaget.

"Aku hanya bercanda." Katanya menengkan, lalu membuka mulut lagi. "Kalau begitu selamat menikmati. Bon appetit!" Dan ia pun berlalu meninggalkan ketiga gadis itu untuk bergabung dengan Takeuchi di balik counter.

Kazuya menyesap kopinya, lalu mengambil tiga potong kentang sekaligus dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia melirik ke arah Satoru yang saat ini mulai tampak sangat menikmati ketika menyesap yellow tea di cangkirnya.

"Apa rasanya seenak itu?" Tanya Kazuya penasaran.

Satoru membuka mata, dan meletakkan kembali cangkir tehnya dengan gaya anggun yang menurut Kazuya agak aneh. "Ini enak sekali. Siapaun pembuatnya, benar-benar jago soal teh."

Alis Kazuya terangkat sedikit. "Sejenis barista mungkin kalau dalam kopi." Ia berkomentar, lalu memanndangi cairan teh di teko Satoru yang nyaris habis.

"Miyuki-senpai sebaiknya juga pesan. Sudah jauh-jauh mampir ke sini, dan tidak mencicipi sama sekali pasti rugi."

"Heh, berani menyuruh segala kau."

Satoru angkat bahu. "Hanya menganjurkan."

Kazuya melirik kertas menu, dan mulai menekuri kembali daftar menu yang tertulis rapih di sana. Memang banyak sekali aneka teh yang ditawarkan. Kazuya berpikir sejenak, lalu melirik kembali ke arah Satoru yang kelihatannya benar-benar sedang kasmaran dengan yellow tea. Ia menghela napas, lalu mengangkat tangan.

Kali ini yang datang menghampiri mejanya adalah si pemuda curly berkacamata.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?"

Ada sengatan seperti setrum kecil yang mengigit hati Kazuya ketika matanya bertatapan dengan pemuda itu. Perasaan aneh dan sebersit rasa ganjil yang muncul entah darimana. Kazuya berdeham untuk mengalihkan perhatian, ia melirik sekilas ke arah nametag si pemuda, dan membaca nama 'Yoshiyuki' tersemat manis di sana.

"Aku ingin white tea." Jawab Kazuya akhirnya, kembali beradu pandang dengan si pemuda berkacamata. Kali ini, Kazuya menyadari warna mata pemuda itu coklat terang, berkikau samar karena terhalang lensa dan bingkai kacamata.

"Pesanan yang bagus. Itu salah satu menu favorit di sini." Si pemuda berkata dengan kalem, senyum tipis mengembang ramah di bibirnya. Kazuya spontan ikut tersenyum.

"Ini enak." Satoru tahu-tahu ikut bicara. Sang pitcher mengangkat cangkirnya yang sudah kosong. "Anda hebat sekali bisa meramu teh seenak ini."

"Terima kasih." Sahut Yoshiyuki, tersenyum simpul. "Le premier verre est aussi doux que la vie, le deuxiѐme est aussi fort que l'ammor, le troisiѐme est aussi amer que la mort."

Kazuya hanya menatapnya bengong, Yoshiyuki barusaja mengucapkan kalimat panjang dalam bahasa asing yang tak dapat ia mengerti, Satoru sendiri kelihatannya heran bukan kepalang.

"Bahasa Spanyol?" Tanya Kazuya spontan.

Yoshiyuki menggeleng kecil, dan tersenyum geli. "Bukan, itu pepatah dari Aljazair. Yang artinya kira-kira: Gelas pertama selembut kehidupan, gelas kedua sekuat cinta, gelas ketiga sepahit kematian."

Jantung Kazuya berdetak aneh.

Satoru mengernyit. "Yang terakhir kedengaran seram." Komentarnya. "Sepahit kematian."

Tapi Yoshiyuki masih tersenyum ramah. "Saya rasa, ini yang dimaksud pepatah itu: Kehidupan, cinta, dan kematian ada di satu teko teh. Dan kita tidak bisa menghentikan pencampurannya. Jadi walaupun pahit, kita tidak seharusnya merasa kasihan pada orang yang meminumnya. Itu sudah satu paket."

Kehidupan, cinta dan kematian. Dalam satu teko teh. Paket lengkap. Kazuya mendengus. Ia rasanya sudah menikmati itu semua.

"Ah, maaf jadi banyak bicara. Saya akan segera buatkan white tea pesanan anda."

Eijun pun pergi ke dapur. Membiarkan Kazuya berdua hanya dengan Satoru. Saat membuka toples yang biasa Eijun isi dengan teh putih, dia terkaget kalau isinya habis. Dia jadi mengecek lemari penyimpanan apakah masih ada stok teh putih yang tersisa. Tapi ternyata habis. Eijun menunduk menyesal dan terpaksa kembali.

"Maafkan saya, ternyata white tea yang anda pesan habis." ucap Eijun penuh penyesalan.

"Ohh..."

"Kebiasaan." sindir Ryouta berbisik, untung tidak didengar oleh Eijun atau pun Kazuya. Tapi dia pergi ke dapur untuk mengecek bahan apa saja yang habis, yang Eijun sendiri tidak sadar.

"Kalau begitu, kami pesan dua Dandelion Tea." seru Satoru mendadak menyahut di sebelah Kazuya, "Dan blue velvet juga."

"Dimengerti." balas Eijun, "Kalau anda?" tanya Eijun pada Kazuya.

"Saya itu saja." balas Kazuya canggung.

Eijun menunduk sopan, lalu pergi ke dapur. Saat itu dia diberitahu kalau ada tiga set teh yang habis. Untung yang dipesan Satoru tidak, karena bahannya sendiri lebih sering dipetik di kebun pribadi.

Satoru berjalan ke sekeliling café itu. Ada nota harga yang disampirkan pada setiap pot atau botol kaca. harganya mulai seratus yen sampai dua ribu yen. Bahkan Satoru melihat ada beberapa bunga yang sengaja dikeringkan dan digantung di dinding.

"Secret Garden." gumam Satoru tanpa sadar.

Kazuya duduk memperhatikan bunga yang mekar dengan indah. Sementara gendang telinganya samar-samar terfokus pada berita yang tersiar, sebuah spot destinasi di Okinawa.

Jadi teringat, dulu Eijun sering mengajaknya liburan jika off season. Seperti ke Nagano—ini destinasi wajib, Hokkaido, Minami, Akibahara, atau Okinawa. Tapi apalah Kazuya yang lebih suka berdiam di kasur kalau hari libur daripada berjalan jauh hanya untuk menikmati pamandangan. Hasilnya Eijun ngambek dan tak mengacuhkan Kazuya selama dua puluh empat jam. Untung mudah diluluhkan dengan masakan buatan Kazuya.

"Miyuki-senpai, kita besok ke sini lagi ya." Pinta Satoru yang sudah duduk anteng kembali.

"Huh? Serius?"

Satoru mengangguk berkali-kali, "Tempat ini cocok untuk melepas penat."

Ucapan Satoru rasanya membuat perasaan Kazuya ada yang janggal. Seperti sebuah batu besar menghalang aliran sungai kecil. Tapi memang tempat ini sangat menangkan. Dari aromanya, suasananya, bahkan pemandangannya, siapa saja pasti betah seharian berada di sini. Kazuya jadi penasaran, apakah di dalam dapur juga ada tanamannya? Dari mana ide seperti ini didapat? Rasanya tidak di Jepang saja.

Kazuya jadi gatal, dia mengambil gitarnya dan memainkannya. Alunan yang dia mainkan menenangkan, tidak menyedihkan seperti biasa. Satoru yang mendengarkan itu membeliak tak percaya. Terdengar jelas kalau suasana hati seorang Miyuki Kazuya berubah drastis, walau ada samar rasa sedih, tapi ketenangan ini benar-benar tergambar jelas.

Satoru tersenyum simpul. Dia duduk bersandar dan memejamkan matanya. Membiarkan alunan gawai Kazuya memenuhi ruangan.

Dari dapur, Eijun mengintip, dia mendengar suara petikan gitar, padahal televisi sedang menayangkan berita.

"Yoshi-nii." panggil Ryouta, dan langsung jadi pusat perhatian Eijun, "Tolong jangan lupa sama stok bahan lagi. Kasihan pelanggannya."

"Ukh, maaf." Eijun merengut menyesal.

"Dan lagi," Ryouta menuangkan air panas pada salah satu teko yang di dalamnya ada sekitar empat dandelion kering, "Aku lapar."

Perut Eijun berbunyi mendadak. Wajahnya langsung memerah malu, "A-A-A, o-o-oke, ka-kau mau pesan apa? A-Aku belikan di kedai depan." Seru Eijun yang wajahnya sudah memerah semua. Dia melepas celemeknya dan digantungan di belakang pintu.

"Gyudon set sama acar mentimun. Minumnya akan aku buatkan. Yoshi-nii mau apa?" Ryouta beralih menuangkan air panasnya ke teko yang lain.

"Teh hijau seperti biasa. Yang hangat." balas Eijun. Dia langsung pergi meninggalkan toko. Tapi baru mau membuka pintu, salah satu siswi teman Ryouta berseru bertanya, ke mana Eijun akan pergi? Dan dijawab kalau dia mau cari makan siang di kedai depan. Walau kelihatan ramai. Tapi demi rasa lapar, Eijun akan menerjangnya.

Pergilah Eijun dan menghilang di balik pintu kedai seberang.

"Yoshi-nii manis yaa.." seru salah satu siswi yang duduk di sebelah kiri.

"Uhm, aku jatuh cinta pada senyumnya. Setiap kali aku melihatnya, rasanya aku melihat bulan purnama yang sangat indah." Balas yang di sisi kanan. Jujur, Kazuya dan Satoru dapat mendengarnya dengan jelas. Suara tv dan gawai Kazuya kalah dengan sekumpulan siswi SMA yang histeris kesenangan.

"Apalagi jago masak kue. Idaman semua wanita deh." Yang di tengah sudah menangkup pipinya dan bersemu malu.

"Sou ne, idaman banget." yang di kanan menyetujui.

"Seandainya Yoshi-nii membuka kelas memasak, pasti ramai."

"Usulin, yuk!"

Mereka bertiga diam sejenak. Lalu tersenyum penuh kebahagiaan dan ada kerlap-kerlip harapan yang jelas terukir.

Ryouta yang mendegar cuma bisa merinding. Dia berdoa kalau Eijun akan menolak usulan para gadis itu. Dia tidak mau jadi asisten orang yang membuka kelas masak yang sebenarnya dicari adalah kesan cari-cari perhatian.

Ryouta menaruh kedua teko kecil dan gelas di nampan, kemudian membawakannya pada Kazuya dan Satoru. Dia menyajikannya dengan hati-hati.

"Terima kasih." ucap Kazuya.

"Sama-sama, dan kami minta maaf karena kehabisan stok. Kalau anda berkenan, kapan-kapan anda bisa kembali dan kami akan menyajikan pesanan yang anda mau tadi." ucap Ryouta tersenyum kecil.

"Pasti." yang menyahut Satoru.

Ryouta membungkuk kecil dan pergi ke dapur.

Ada yang aneh, benak Kazuya terus merasakan sensasi asing yang tak dapat diterjemahkan. Ia tidak tahu apa yang salah dengan tempat ini, tapi rasanya ada suatu hal yang ia lewatkan. Sesuatu yang mungkin penting. Ia melirik ke arah Satoru, dan mulai mencoba menganalisa.

"Furuya, coba cek ponselmu."

"Kenapa?"

"Cepat cek saja." Kata Kazuya tidak sabar, Satoru hanya menurut. Kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

"Ada kabar dari pelatih atau yang lainnya? Yang meminta kita datang ke Tokyo sekarang juga?"

"Nihil." Jawab Satoru singkat. "Hanya notifikasi grup para anggota tim SoftBank, percakapannya juga tidak penting."

Kazuya membuang napas berat, ia sendiri lalu mengeluarkan ponselnya dan mengecek. Hanya notifikasi grup, dan beberapa notifikasi lain dari instagramnya. Sama sekali tidak ada yang penting atau darurat. Mata Kazuya kembali bergulir ke sekeliling, suasana masih sama, tiga gadis remaja yang berceloteh ceria di depan jendela, seorang pemuda yang berdiri di balik counter, bunga-bunga yang mekar dengan indah, juga Furuya Satoru yang duduk di dekatnya sambil memakan macaron terakhir.

Apa yang salah? Batin Kazuya bertanya. Ia lalu meraba kantung celananya, kunci mobilnya ada di kantung sebelah kiri. Ia meraba lagi pada bagian belakang, merasakan dompetnya juga masih tersimpan di sana. Lalu mengapa hatinya terus merasa gelisah? Ada ganjalan tak kasat mata yang terasa begitu sulit diabaikan.

"Miyuki-senpai?"

Kazuya bahkan nyaris terlonjak mendengar suara Satoru. Ia menoleh cepat menatap pemuda itu.

"Aku lapar." Kata Satoru kalem.

Kazuya mengernyit. "Kau baru saja menghabiskan semua pesananmu."

"Ya, tapi ini bukan makanan berat. Ayo pesan sandwich, sekalian saja makan siang di sini."

Kazuya melirik kertas menu, dan melihat memang ada sandwich dengan varian isi sayuran, dan bisa memilih isian utama, daging sapi, ayam, atau telur. Kazuya berpikir sejenak, merasa masih ada yang aneh dari tempat ini. Tapi kemudian ia melihat Satoru mulai mengeluh kelaparan, maka Kazuya menghela napas berat dan mengangguk. "Ya sudah, pesan saja."

Satoru langung mengangkat satu tangannya, dan Takeuchi sigap menghampiri. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Aku ingin dua sandwich isi daging sapi. Miyuki-senpai mau apa?"

"Satu sandwich daging ayam, jangan diberi mayones ya."

"Oh, baiklah. Dua sandwich isi daging sapi dan satu sandwich isi daging ayam tanpa mayones, begitu?"

"Ah, dan air putih." Tambah Satoru.

"Tentu, itu sudah pasti kami berikan jika anda memesan sandwich dan makan di sini."

"Oh, terima kasih."

"Kalau begitu silahkan ditunggu sebentar, saya akan siapkan pesanan anda. Permisi." Takeuchi kembali berlalu pergi dan masuk ke dapur.

Kazuya melirik ke arah Satoru dan mengangkat satu alisnya tinggi. "Tumben kau banyak makan."

"Di sini nyaman." Satoru mendelikkan bahu.

Kazuya ingin menepis, tapi ia tak punya alasan yang logis. Secara logikanya berjalan saat pertama masuk tempat ini memang sangat nyaman, namun beberapa menit belakangan Kazuya justru mulai merasa resah. Ia merasa ada yang kurang. Ah tidak, mungkin sebaliknya. Daripada sesuatu yang kurang, ia justru merasa ada sesuatu yang lebih di tempat ini. Sesuatu yang penting, namun tidak ia sadari. Tapi apa?

Kazuya mencoba menarik napas perlahan, lalu membuangnya dengan hati-hati. Ia meneguk habis kopinya yang sudah mulai dingin. Lalu membuang napas panjang, dan mencoba menenangkan hatinya. Kazuya bersandar ke kursi, sebelah tanggannya kini hanya mengelus-elus senar-senar gitarnya dalam gerak lambat tanpa berniat memetik nada. Menciptakan getar lalu melahirkan resonansi bunyi yang terasa merambat sampai ke jantungnya.

Matanya kini lurus ke arah pintu yang tertutup, memperhatikan lonceng kecil yang menggantung di atas pintu. Otomatis akan berdenting tiap kali pintu dibuka. Pemuda berkacamata bernama Yoshiyuki tadi baru saja keluar dari pintu itu. Kazuya sempat melihat langkahnya yang agak terburu, tapi masih menyempatkan diri untuk menoleh dan menjawab dengan senyum tulus ketika seorang gadis yang duduk di sana bertanya padanya.

Kazuya memejamkan mata, mencoba mengingat. Yoshiyuki punya gaya modis yang tak biasa ia temui di kesehariannya. Dia sangat stylish dan trendy, namun dengan perpaduan busana yang tidak berlebihan. Yang sejauh ini Kazuya rasa paling familiar hanyalah warna rambut coklat gelapnya. Namun berkat style curly dan agak gondrong juga mullet, tetap saja rasanya tak wajar bagi keseharian Kazuya. Ia juga lumayan tinggi, pakaiannya cukup sederhana namun tetap menarik berkat perpaduan warna dan gaya yang serasi. Kazuya mencoba mengingat lebih jauh, apa yang aneh? Apa kacamata Yoshiyuki miring? Rasanya tidak, kacamata itu bertengger sempurna di tulang hidungnya. Apa ada sesuatu di wajahnya? Di rambutnya? Kazuya menggeleng, Yoshiyuki tampak rapi dan bersih.

Lalu perasaan apa ini?

Kazuya merasa kosong. Tapi ia bahkan tidak tahu bagian mana tepatnya yang kosong. Ada sepasukan sel dalam hatinya yang terus menyerukan, 'Sadarlah! Sadarlah!' tapi otaknya memblokade semua jalur untuk berpikir atau mencari kepingan informasi. Instingnya bekerja keras tapi sekaligus juga mogok. Membuatnya terus berpikir tanpa tahu apa yang mesti dipikirkan. Saat itulah pesanan mereka datang.

Dua sandwich daging sapi untuk Satoru, dan satu sandwich daging ayam untuknya. Juga satu teko besar air putih dan dua gelas bersih. Takeuchi Ryouta mengucapkan beberapa kata selamat menikmati hidangan kemudian mohon diri untuk mengambil piring dan cangkir teh yang sudah kosong, Kazuya hanya balas mengangguk, sedang Satoru sudah mulai memakan sandwichnya.

"Anno, boleh aku pinjam toilet?" Tanya Kazuya tepat sebelum Takeuchi beranjak pergi.

"Hai, tentu." Ia tersenyum lugas dan mengangguk. "Anda bisa masuk ke bagian dapur dulu, toiletnya ada di sana." Katanya memberi informasi. Kazuya mengumamkan kata terima kasih sekenanya lalu berdiri dari kursi dan berjalan menuju dapur.

Bahkan di area dapur pun masih terdapat beberapa jenis tanaman yang sengaja disimpan untuk mempercantik suasana. Tapi Kazuya tak punya waktu untuk mengamat-amati lebih jauh, ia segera melesat ke kamar mandi ia butuh air untuk mencuci wajah atau menyiram kepalanya.

Kamar mandi itu bisa dibilang cukup luas untuk ukuran sebuah toko kecil, bahkan ada wastafel dan juga cermin berukuran medium di dekat pintu. Kazuya berdiri menghadap watafel, jari-jarinya mencengram bagian keramik yang terasa dingin itu, lalu ia tersadar ada termor kecil di sana. Ia gemetar.

'Aku hanya minum secangkir kopi, kenapa bisa seperti ini?'

Ia manatap pantulan wajahnya di cermin. Ia merasa jantungnya berdekat tak wajar, dan jari-jarinya gemetar sedikit, rasa resah dan gelisah menyelubungi hatinya. Ia merasa seperti kelebihan kopi, seolah efek kafeinnya mulai menyebar ke seluruh pembuluh darahnya dan membuatnya merasakan sensasi tak wajar. Tapi Kazuya tahu ini bukan karena kopi. Perasaan ini lain. Bukan akibat makan atau minuman, tapi sesuatu yang tersimpan di dalam ingatannya, relung hatinya.

Kazuya mengembuskan napas perlahan dan menyalakan kran, ia melepas kacamata dan menyimpannya sejenak, lalu menunduk untuk membasuh wajahnya. Beberapa bahkan ia biarkan ikut membasahi rambut dan kulit kepalanya. Rasa dingin dan sejuknya air itu membuat syaraf-syaraf kaku di wajahnya sedikit mengendur, namun resahnya tak serta merta hilang. Kazuya mengangkat wajahnya kembali, melihat tetes-tetas air mengalir dari dagunya. Ia mematikan kran, lalu menepuk sebelah pipinya cukup keras, memaksa perasaannya menetap di pijakan yang kuat.

'Sadarlah, Miyuki Kazuya.'

Kazuya lalu menghela napas, mengambil sapu tangan dari sakunya dan mulai mengelap jejak-jejak air di wajahnya, poninya yang kini basah ia sigar ke belakang. Membiarkan keningnya terekspos cukup jelas. Kazuya lantas memakai kembali kacamatanya.

Saat membuka pintu, pemandangan yang Kazuya lihat kembali membuat jantungnya berhenti berdetak.

"Jadi Yoshi-nii sudah makan?"

"Yep, pesananku cepat datang. Jadi aku memutuskan untuk makan sambil mengunggu pesananmu. Nah, cepat kau makanlah."

Takeuchi mengangguk lalu meraih bungkusan plastik yang disodorkan, pemuda itu kemudian menarik satu kursi ke dekat meja dapur, lalu mulai duduk menghadap meja sambil mengeluarkan makanannya.

Kazuya masih berdiri di tepi pintu, ia tidak tahu mengapa, tapi rasanya ada sesuatu menahan kakinya untuk tetap di tempat. Terutama mengamati bagaimana ketika Yoshiyuki menarik lepas kacamatanya singkat, lalu membersihkan lensanya dengan sehelai kain kecil khusus.

Napas Kazuya tercekat, ia bisa melihat sekilas warna mata asli Yoshiyuki sekarang. Coklat, berpendar keemasan.

"Ah," Yoshiyuki tersadar akan keberadaan Kazuya, ia buru-buru tersenyum dan berdiri tegak. "Anda sudah selesai? Maaf kamar mandinya kecil."

Kazuya tidak bisa menjawab sampai selang beberapa detik, lalu ia hanya merespon dengan anggukan samar. Yoshhiyuki tersenyum padanya. Ada tinju menghantam dadanya. Menyekat udara ke paru-parunya.

Kazuya mengambil satu langkah, matanya tak lepas dari sosok Yoshiyuki yang kini sedang memakai celemek, lalu menunjuk mug berwarna hijau pastel dan menoleh pada Takeuchi yang kini sedang makan. "Ini untukku?"

Takeuchi mendongak kecil dan mengangguk. "Cepat minum, mulai agak dingin."

Yoshiyuki mengangguk. Meraih mug, dengan tangan kiri.

Ia minum dengan tangan kiri.

Kazuya berpegang pada dinding. Ada denging aneh merambat di telinganya. Keringat meluncur turun dari balik punggungnya. Kazuya masih diam di tempat sampai pemuda itu selesai minum, mengusap bibir dengan punggung tangan, dan mendesah lega karena kerongkongannya terasa jernih kembali.

Kazuya mencoba bernapas. Ada yang salah. Cara Yoshikuki minum. Caranya mengusap bibir, caranya menggenggam, bahkan caranya menyeringai geli ke arah Takeuchi…

Kazuya merasa semua ini lekat dan begitu dekat dengannya. Sedekat nadi, namun sulit digapai.

Yoshiyuki kemudian menoleh padanya, mengerjap. Bahkan caranya mengerjapkan mata...

"Eh, anda baik-baik saja?" Pemuda itu maju mendekat, tapi Kazuya justru mulai merasa tubuhnya berubah dingin.

"Anda sakit?"

Bahkan sirat khawatir yang terpancar samar dari matanya kini membuat Kazuya bertambah resah.

Kazuya menarik napas, menegakkan posisi, lalu mengumpulkan semua sisa tenaganya untuk menggeleng lugas. "Saya baik-baik saja. Maaf, permisi."

Lalu ia melangkah lebar-lebar menuju tempat dimana Satoru sudah menghabiskan satu porsi sandwich. Kazuya menuang air ke gelas dengan terburu-buru, dan meminumnya hanya dalam waktu tak lebih dari tiga detik. Ia sama sekali tidak menarik napas, dan baru bernapas kembali begitu gelasnya kosong.

Satoru memandanginya dengan bingung.

"Miyuki-senpai, ada apa?" Tanya sang pitcher. "Kau pucat seperti baru melihat hantu."

Kazuya memijat keningnya dan mengatur napasnya, mengendalikan emosinya yang tiba-tiba kacau seperti dihantam tsunami. Menstabilkan detak jantungnya sekaligus mendamaikan perasaan dan pikirannya, "Kau makan saja bagianku, aku duluan ke penginapan. Titip bawakan gitarku." Kazuya meninggalkan pesan pada Satoru dengan seenak jidat.

"Uhm, baiklah." balas Satoru singkat. Kazuya pun pergi, mengambil arah kanan jalan tempat dia menginap. Jaraknya tidak begitu jauh, tapi untuk kondisi Kazuya sekarang, jaraknya sangat sangat jauh.

Tanpa mengindahkan kondisi Kazuya, Satoru mengambil sandwich bagian Kazuya dan memakannya dengan lahap. Kemudian teringat kalau semua yang membayar ini adalah dirinya. Satoru merutuki tindakannya membiarkan Kazuya pergi begitu saja.

"Anu, teman anda tadi apa baik-baik saja?" Tanya Eijun dari seberang counter, dia menaruh mugnya dan duduk di kursinya, arah matanya terfokus pada Satoru yang masih asik makan.

"Dia sedikit pucat."

"Oh, sakit?" tanya Eijun lagi.

Satoru menggeleng tidak tahu, "Mungkin Miyuki-senpai hanya kecapekan sehabis mengemudi dari Tokyo ke sini." Jawab Satoru sekenanya.

Mendengar itu, Eijun diam selama beberapa detik. Miyuki? Miyuki Kazuya? Miyuki-sheishu? Catcher dari SoftBank? Eijun diam lama. Memproses mulai dari awalnya Catcher itu datang sampai barusan pergi. Bagimana dirinya bicara dan malah menyia-nyiakan waktunya?

"Anu, barusan itu Miyuki Kazuya? Catcher dari SoftBank?" tanya Eijun memastikan.

Satoru mengangguk lagi.

"Dan, anda..." Eijun sengaja menggantung kalimatnya. Dia antara tidak yakin dan yakin melanjutkanya.

"Furuya Satoru, calon Ace SoftBank." jawab Satoru bangga, ada imajiner kilatan bintang berkedip yang menunjukkan seberapa pedenya dia.

Eijun langsung mengambil bulpoin dan secarik kertas. Dia berdiri dan berjalan agak tergesa-gesa mendekati Satoru, menyodorkan kertas dan bulpoin langsung dengan senyum layaknya anak kecil melihat idola favoritnya, "Saya boleh minta tanda tangan? Saya fans anda."

Satoru terdiam. Dia lalu tersenyum dan menerima kertas sekaligus bolpoin, menandatanginya dengan beralaskan meja kayu café, "Untuk?" Tanya Satoru meminta nama.

Pemuda itu tersenyum ramah, binar matanya menghangat.

"Yoshiyuki, Yoshiyuki Eijun."

.

.

.

Bersambung

.

V: Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih pada kalian yang sudah favo, follow, dan review fanfic ini. Terima kasih Ai Haruka, Baby'Alien Kim Taehyung, dan StarTsuki sudah follow dan favo. Sekarang waktunya balas review.

A: Yep, thanks semua. Dyulia971, well, kami akan up setiap Kamis siang, doakan saja semoga bisa konsisten yaa, trims udah baca, rewiew terus yaaw

V: thanks juga Ai Haruka, ini update kok.

A: Isana Misaki, hehe iya semoga bisa lancar up seminggu sekali.

V: Guestnya ada dua nih, jadi makasih banget ya. And we stand for RYOU-KUN!

A: Yup, dan untuk Isana, terima kasih sudah bersabar, ini up chapter 2, selamat menikmati~

V: ada yang ingin disampaikan, Aiko-san?

A: pesannya, jangan buang sampah sembarangan/nggak gitu

V: hanya itu?

A: apa ya? Nanya aja deh, Valky-san, ini rencananya mau dibuat berapa chapter?

V: entah, kita ikuti alur saja

A: oiya, Reader-sama, kalian boleh kok nanya kalau misal ada yang kurang jelas, nanti Valky-san yang jawab

V: maa, saya yang sering buka akunnya sih, Aiko-san sibuk kuliah

A: yaudah deh gitu aja, see you next chapy!

V: Ditunggu eksistensi kalian di kolom review, see ya next week