"Yoshiyuki, Yoshiyuki Eijun."

Gerak tubuh Satoru mendadak terhenti. Dia mendongak pada Eijun yang sudah tidak sabar menunggu tanda tangannya, "Eijun?"

"Hai, Eijun desu. Uh, apakah ada yang salah?" tanya Eijun agak heran mendapati sirat keterkejutan dari mata gelap Satoru.

Ada gelengan singkat di sana, "Tidak." Jawab Satoru. Dia menulis nama penggemarnya sambil membatin, Mungkin hanya kebetulan sama.

Setelah yakin, Satoru mengembalikan kertas yang sudah ditandatangani dan bulpoinnya, "Arigatou gozaimasu. Anu, teruslah menang sampai akhir musim. Saya mendukung anda sepenuhnya."

Satoru mengangguk mantap, "Itu pasti."

"Saya permisi." Eijun pun bukannya ke dapur, malah keluar café dan pergi ke lantai dua. Tapi kemudian kembali karena lupa mengambil kunci rumahnya.

Satoru meminum teh dandelionnya. Mengulang lagi detik di mana Eijun menyebutkan nama lengkapnya. Nama pemberian yang sama dengan orang itu, tapi marga yang berbeda. Sifat mereka juga berbeda. Perawakan juga berbeda. Dan yang satu ini memakai kacamata, pasti rabun jauh sama seperti Miyuki Kazuya. Sementara orang itu tidak. Jadi ia menyimpulkan kalau mereka kebetulan mirip.

Namun untuk jaga-jaga, lebih baik Satoru tidak memberitahukan hal ini pada catchernya, khawatir kalau pasangan batterynya itu malah larut pada kesedihan yang sangat dalam dan malah melukai dirinya sendiri.

o…

.

Ace of Diamond /ダイヤのA disclaimer by Terajima Yuuji

ENDIAFERON © Ohtani Kyko

kami mendapatkan keuntungan berupa kepuasan batin atas pembuatan fanfiksi ini

.

o…

Eijun sering bermimpi. Dirinya memakai kemeja putih dengan dasi dan celana abu-abu, sepatu pantofel yang mengkilat juga. Tidak ada kacamata yang bertengger di matanya. Sekelilingnya berupa tanah lapang dengan pohon sakura yang kelopaknya sudah berguguran, melukis tanah dengan seni abstrak yang indah.

Dan dia, berdiri di tengah-tengah tanah lapang. Tangan kirinya digenggam erat sementara pinggulnya dirangkul oleh tangan besar yang dengan mudah melingkari pinggangnya. Ada sosok yang lebih tinggi darinya di depannya. Mengajaknya berdansa pelan memutari tanah lapang yang sudah hujan deras dengan kelopak sakura. Anginnya yang menemani mereka, menyapu helaian rambut mereka sekaligus membimbing mereka mengikuti irama.

Senyum sosok itu bagaikan kupu-kupu yang senantiasa menemani setiap langkah Eijun menapak tanah. Indah, memabukkan, membuatnya sangat senang, level puncak kebahagiaan. Bibir ranum itu ingin Eijun sentuh, tapi apalah daya ini cuma mimpi. Tapi mimpi yang terus berulang kali datang.

Sosok itu memakai baju yang sama seperti Eijun. Dia menggiring Eijun pada kebahagiaan yang Eijun sendiri tidak bisa gambarkan. Alunan melodi dari gesekan ranting dan pohon membuat suasana menjadi lebih berwarna.

Eijun memejamkan matanya dan membiarkan dirinya bersandar pada bahu lebar sosok itu. Sosok yang kata Eijun adalah malaikat pelindungnya. Mimpi indah yang mengusir mimpi-mimpi buruknya. Mengusir wajah-wajah hitam yang meneriakinya kalimat-kalimat abstrak yang tidak bisa didengar.

Hanya sosok ini yang melindungi mimpinya. Dengan sayap sakura yang membentang, membawa Eijun pada pelukannya yang hangat. Di dekat sosok ini Eijun merasa aman.

Apakah ini orang di masa lalu atau hanya imajinasi yang Eijun ciptakan semata?

Sebenarnya, Eijun tidak memikirkan jawabannya. Dia hanya menikmati mimpi ini tanpa peduli apa yang sudah terjadi di masa lalu.

"Eijun..." Panggil sosok itu, suaranya samar. Eijun tidak tahu apakah itu berat atau ringan, serak atau lancar, cempreng atau baritone, tapi suara itu menyejukkan hatinya.

"Hai?" sambil berdansa pelan, sosok itu memeluk Eijun lebih erat dan membiarkan sayap sakuranya merangkul tubuh kecil Eijun.

"Selamat pagi."

Kelopak mata Eijun terbuka perlahan, langit-langit kamar dengan warna krem menyambutnya. cahaya matahari yang masuk dari sela-sela gordennya menyambut Eijun pada pagi hari jumat yang cerah. Membawa kesadaran yang perlahan memeluknya dan membangunkannya.

Eijun mendudukkan diri. Terdiam lama lalu tersenyum simpul, "Selamat pagi." Sapanya balik pada mimpi yang jelas sudah berakhir. Tapi seperti ada keyakinan kalau akan bertemu lagi di lain malam. Mimpi yang menunjukkan kalau hari ini adalah hari yang indah berwarna dan menenangkan.

Eijun turun dari kasurnya, dia merapikan selimutnya dan memulai rutinitas paginya.

Hari ini setelah menyiram tanaman, dia akan pergi ke rumah orang tuanya dan menghabiskan waktunya di sana.

Family time lah istilahnya.

Menemani ibunya memasak kue, mengobrol dengan ayahnya dan membahas soal apa saja yang memungkinkan. Kemudian saat hampir jam pulang sekolah, dia akan pergi menjemput Naomi dan mengajaknya jalan-jalan sampai waktunya makan malam. Berkumpul di ruang keluarga bersama dan menonton film sampai larut malam. Eijun akan tidur di sebelah Naomi dan memeluknya erat.

Walau dirinya juga akan dimanja ibunya. Rambut ikalnya akan dibelai lembut dan mendengarkan ibunya yang curhat tentang bagaimana ayah yang terlalu santai dan suka meremehkan banyak hal. Tapi ada senyuman di sana, bahkan menceritakan langsung di depan sang ayah. Seperti tidak ada privasi, tapi juga tidak ada pertengkaran. Yang ada hanya sahutan protes kecil dan akan ditengahi oleh Eijun.

Jujur, Eijun sangat bersyukur dia diselamatkan oleh keluarga Yoshiyuki. Dirinya yang orang luar diangkat sebagai anak dan dibiarkan tinggal terpisah membuka café dan toko. Memberinya tempat tinggal sementara dirinya tersesat dengan masa lalu yang tidak pernah jelas. Yang diingat hanya sebatas nama pemberiannya, Eijun. Tapi dia tidak ingat dengan marga keluarganya.

Jadi Eijun berpikir, mungkin masa lalunya itu memang seharusnya dilupakan jika diingat hanya membawa rasa sakit. Toh, kehidupannya yang sekarang sudah sangat baik. Ada ayah dan ibu yang selalu mempedulikannya, Naomi yang mengulurkan tangan kecilnya dan menyelamatkannya dari kegelapan tanpa arah. Keluarga ini adalah cahaya terang yang menghangatkan hati Eijun. Dia ingin berada di sini selamanya. Dalam lindungan mereka dan membalas kebahagiaan mereka.

Terima kasih, batin Eijun pada kedua orang tuanya dan Naomi. Memejamkan matanya dan membiarkan kantuk menguasainya. Tidur dalam pelukan keluarga hangat, sang penyelamat dan pelindung yang nyata.

...

Kazuya dan Satoru esoknya kembali ke café unik itu. Tapi hari itu tutup, tidak ada tanda-tanda kalau ada orang di sana. Lampu yang menyala hanya lampu luar. Tanda kalau pemiliknya pergi jauh entah ke mana.

"Kita cari tempat lain saja." Ujar Kazuya sekenanya, dia berbalik dan mencari café lain yang sekiranya nyaman. Satoru hanya mengikuti sambil sesekali menoleh ke belakang, pada café yang di halaman kanannya terdapat taman kecil untuk membudidayakan bunga atau tanaman lain.

Iya, cuma kebetulan. Batin Satoru mantap dan agak berlari kecil mengejar langkah lebar Kazuya.

Panas.

Dan Youichi benar-benar butuh menyiram diri di bawah shower saat ini juga.

Membiarkan air dingin meyusup dalam tiap pori-pori kulitnya―

BRAK!

"―Hei!" Youichi terlonjak kaget. Dia hampir telanjang sepenuhnya ketika pintu kamarnya dibuka―dibanting―secara tiba-tiba.

"Menyebalkan." Si pelaku memasang wajah ditekuk dalam, bibir mengerucut runcing, dan jalan gaya dihentak-hentakkan.

"Kora, Sawamura!" Youichi menggeram tertahan. "Kau tidak bisa masuk kamarku begitu saja!"

Eijun merotasikan bola matanya malas, melempar tasnya asal ke atas ranjang single milik Youichi lalu membanting tubuhnya sendiri di sana. "Peduli amat."

Youichi membuang napas gusar. "Bagus," Ia menatap Eijun lurus-lurus, kedua tangan mulai terlipat defensif di depan dada. "sekarang kau bahkan naik ke ranjangku. Kau makin kurang ajar ya, Bocah."

Eijun balas memandang sang pemuda berparas Asia itu dengan mata menyipit jengkel. "Apa sih masalahmu, Kuramochi-senpai?"

"Setidaknya pakai otakmu, Bakamura. Seorang kohai tak seharusnya masuk kamar senpainya begitu saja."

Bola mata kembali berotasi malas. Pemuda yang dipanggil Sawamura itu justru merebahkan dirinya di atas ranjang, jelas sama sekali tak mengacuhkan kalimat Youichi sebelumnya. Kedua tangan dibuka lebar, dan pandangan mata menyenter lurus langit-langit kamar. "Aku datang bukan sebagai seorang kohai yang masuk kamar senpainya. Aku datang sebagai sahabatmu yang butuh tempat untuk mengeluarkan segala keluh kesah tentang pacarya yang―"

"Yang sepertinya lebih peduli pada rekan timnya ketimbang kau sebagai pacarnya." Youichi melanjutkan. Sudah kelewat hapal dengan topik ini.

Eijun menjentikkan jari. "Exactly." Kepalanya dimiringkan sedikit hingga kini bisa bertatap langsung dengan pemuda berambut hijau gelap yang sedang berdiri di depan lemari. Tubuh muskular terlihat berkeringat, dan hanya celana pendek hitam yang menamengi. Eijun mengerutkan alis. "Kenapa Senpai tidak pakai baju?"

Youichi mendengus. "Aku mau mandi, sampai kau dengan kurang ajar menerobos pintu kamarku tanpa permisi, Sawamura." Ia berkata lambat-lambat dan penuh penekanan, sindiran, dan nada tak suka yang tak mau repot-repot disembunyikan.

Eijun membentuk vokal O sekilas dengan mulutnya, lalu pemuda itu menghela napas panjang. "Dia jadi semakin menyebalkan."

Youichi tidak menyahut, ia hanya memandang Eijun cukup lama, lalu memutuskan untuk ikut mengambil duduk di tepi ranjangnya. Hingga ranjang itu bergoyang singkat akibat dua bobot tubuh yang mesti ditanggung.

Lalu disusul hening melingkupi keduanya. Hanya deru samar pendingin ruangan yang menemani. Saat ini, Youichi sudah siap memasang telinga untuk mendengar segala curahan hati pemuda berambut coklat gelap yang sudah lama eksis sebagai adik kelasnya itu. Lama Eijun tak membuka mulutnya, ekspresi di wajahnya kusut, dan pemuda itu hanya memainkan ujung rambutnya dengan jemarinya secara asal-asalan.

"Hm?" Tagih Youichi akhirnya, menyerah untuk menunggu lebih lama lagi.

Eijun balas menatpnya, cemberut. "Dia semakin sering mengabaikanku. Dia jarang membalas pesanku, menjawab telponku, dan menghabiskan waktu denganku. Dan alasannya selalu sama, sibuk kegiatan latihan bersama Furuya, Furuya dan Furuya."

Miyuki lagi, batin Youichi jemu.

"Mereka battery soalnya." Sahut Youichi, mencoba tenang. Jika keadaannya masih seperti saat di SMA dulu, mungkin ia sudah memelintir Eijun sekarang. Tapi semenjak Eijun dan Kazuya resmi berpacaran, nasibnya mulai berubah. Youichi tahu makna mengerikan yang tersirat dari senyum dan mata Kazuya andai Youichi terlalu sering memelinting atau menyentuh tubuh Eijun. Catcher mata empat itu cemburuannya tidak main-main. Mungkin ia tidak akan menyerang Youichi, tapi Eijun yang akan jadi korban sepanjang malam, hingga esoknya mantan pitcher kidal itu bahkan tidak bisa berjalan dengan benar. Youichi masih punya hati, ia tidak tega.

"Padahal si Furuya itu, dia tidak hebat-hebat amat. Hanya karena dia masih main bisbol, tinggi, sedikit loyo, dan berwajah datar semua orang membicarakan dan memujinya setinggi langit. Furuya begini, Furuya begitu, sudah begini Furuya juga begitu." Eijun meraih salah satu guling yang sejak tadi membisu, meremasnya gemas kelewat sebal, dengan gigi deret atas dan bawah yang beradu emosi. "Argh! Menyebalkan!" Guling berpindah eksistensi. Dilempar jauh penuh emosi hingga berakhir dengan tergeletak tak berdaya di atas dinginnya lantai.

Youichi mengerutkan kening. "Kau membicarakan Furuya seolah-olah kau tidak mengenalnya. Seolah-olah dia orang asing yang tahu-tahu masuk ke tengah-tengah kalian, dan menghancurkan segalanya."

"Cih, dari dulu juga begitu. Furuya selalu berhasil merebut perhatian."

"Jadi benar, cemburu itu membutakan hati." Gumam Youichi.

"Dan saat aku mengeluh, Kazuya-sialan itu hanya tertawa geli, dan berkata bahwa kemarahanku tidak masuk akal. Dia bilang aku seharusnya tahu bahwa Furuya adalah pasangan batterynya yang menjadi tanggung jawabnya sekarang. Lalu dia akan bilang, salah sendiri kau berhenti bisbol. Dasar Megane Bodoh, aku berhenti bisbol demi dia!"

Youichi membuang napas panjang. "Kau sudah menceritakannya padaku sekurang-kurangnya empat belas kali dalam satu minggu ini."

Pipi digelembungkan, bibir mengecil kerucut maju ke depan, mata mendelik jengkel. "Senpai sama sekali tidak membantu."

Youichi mengangkat kedua bahunya tak acuh, pandangannya kini berpindah pada figura foto di atas meja belajarnya. Momen yang ditangkap dalam potret itu adalah dirinya dengan wajah tanpa ekspresi bersama Eijun merangkulnya lengkap dengan senyum lebar dikulum manis menyilaukan. Di samping Eijun, ada Kazuya yang tersenyum penuh pesona ke arah kemera, Sebelah tangan Kazuya melingkar manis di pingang Eijun. Youichi sering menjadi orang ketiga yang dipaksa ikut kencan oleh pasangan absurd ini, teman-teman tidak peka yang membuatnya berkali-kali terdampar sebagi obat nyamuk. Terpaksa harus mendengarkan segala perdebatan mereka yang pada akhirnya ditutup dengan beberepa gombalan norak atau kecupan-kecupan kasmaran.

"Aku sangat mencintainya..." Suara Eijun menyapa tiba-tiba. Datar, namun bernapaskan kesan mendalam dan sebongkah kekecewaan. Mau tak mau, Youichi kembali memfokuskan diri pada pemuda itu. "Aku tidak pernah jatuh cinta sampai seperti ini..."

Youichi duduk diam di tempatnya, mengamati wajah Eijun, mata emasnya yang menerawang jauh menuju suatu tempat suci bernama ruang hati dan cinta yang tak pernah Youichi mengerti sepenuhnya.

"Sejak aku bertemu dengannya, dialah yang paling membuatku merasa sesakit ini. Dia begitu penting untukku. Tapi sepertinya aku tak sepenting itu untuknya."

Youiuhi baru membuka mulutnya bermaksud untuk menjawab, samapi sebuah suara tak asing tahu-tahu muncul.

"Dasar Drama King."

Baik Eijun maupun Youichi sama-sama meboleh ke arah suara itu berasal. Di tepi pintu kamar, Miyuki Kazuya berdiri dengan gaya berkecak pinggang dan bibir menukik geli membentuk sebuah seringai menjengkelkan. Ia lalu mengangkat satu tangan, melambai ringan. "Halo, Eijun Sayang. Sedang curhat seru, ya?"

Eijun bangkit, duduk tegak, melempar satu bantal tepat ke wajah tampan Kazuya. "Fuck you! Sejak kapan kau berdiri di situ?!"

Kazuya terkekeh geli, balik melempar bantalnya kepada Eijun asal. "Yeah, yeah, aku juga mencintaimu. Aku berdiri di sini cukup lama untuk mendengar semua keluh kesahmu. Aku mengikutimu dari tadi, dan kau bahkan tidak sadar?"

Bantal kembali dilempar jengkel, namun Kazuya berhasil menangkapnya tanpa kesusahan. "Bangsat!"

"Bahasa dramatisnya, kau merasa seperti kekasih yang tak dianggap. Begitu?"

Wajah Eijun merah padam, sedang Kazuya mulai tertawa geli, Youichi lagi-lagi terjebak dalam drama sepasang sejoli ini.

"Terus saja tertawa! Dasar menyebalkan. Kau sama sekali tidak memahami perasaanku. Egois!" Eijun berkelekar sewot, tapi hal itu justru membuat Kazuya makin merasa geli.

"Kau harus lihat wajah merajukmu itu." Kazuya memegangi perutnya geli, matanya kian menyipit kecil seperti busur panah mini. Tonjolan khas oriental di bawah mata menggenapkan garis-garis tawanya.

"Ha-ha-ha. Lucu sekali. Kau memang selalu seperti ini, menganggapku hanya lelucon." Eijun membuang napas berat. "Kau jahat, Kazuya."

Kazuya langsung berhenti tertawa dan mengatur napasnya, memutuskan untuk berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang dan menatap sepasang manik emas Eijun penuh keseriusan. "Eijun…"

Pipi Eijun diusap pelan, sentuhan tangan kasar Kazuya pada kulit wajahnya yang selalu berhasil membuatnya luluh-lantak. Eijun menunduk, enggan bertemu dengan mata Kazuya. Ia masih marah, tadi secara bersamaan ia merasa begitu sedih dan tak berdaya, di sisi yang lain ia bahkan hanya ingin memeluk Kazuya.

"Eijun…" Panggil Kazuya lagi, suaranya melembut, tangan tangannya perlahan mengangkat wajah Eijun untuk mendongak dan bertatapan dengannya. "Inilah kenapa ku bilang kau sebaiknya tinggal bersamaku. Kau adalah pacarku, dan sudah menjadi asisten pribadiku sekarang, apa salahnya tinggal bersama?"

Eijun balik menatap penuh keseriusan. Hingga jarum detik terus berotasi, menggerogoti setiap sekon yang dihabiskan emas dan kamamel itu hanya untuk saling bertemu, menatap.

"Ku pikir kau mengajakku tinggal bersama hanya agar kau bisa meniduriku setiap malam." Bisik Eijun akhirnya suaranya serak.

Kazuya berdeham kecil. "Yah, itu salah satu alasannya sih."

Dada bidang Kazuya didorong keras. "Bajingan! Mesum!"

Kazuya terkekeh geli, lalu menggenggam balik kedua tangan Eijun. "Aku serius, Sawamura Eijun. Tinggallah bersamaku, aku selalu ingin dekat denganmu. Melihatmu saat pertama membuka mata, dan melihatmu saat terakhir kali sebelum tidur. Aku akan memasak untukmu jika ada waktu luang. Berbelanja ke supermarkat bersamamu untuk membeli kebutuhan, dan lain-lain. Terima saja tawaran ini, kumohon?"

Dan interaksi hening itu pecah ketika Youichi menghela napas panjang kemudian berkata, "You were so gay."

Dan seperti biasa, ia diabaikan.

Dan tak butuh waktu lama, sampai Eijun akhirnya mengangguk, lalu Kazuya tersenyum puas, meraih tengkuk kekasihnya dan membawanya pada ciuman mesra di bibir, yang berlanjut pada ciuman-ciuman panas lainnya.

Youichi memutar mata muak. Dua orang ini semakin terang-terangan dan tak tahu malu di hadapannya. Maka ia berinisiatif untuk berdiri, meraih segelas air dari mejanya lalu menyiram Eijun dan Kazuya yang sudah mulai make out di atas ranjangnya.

"Jangan lakukan itu di kamarku! Dasar pasangan tidak waras!"

Suara petir membuat Kazuya bangkit dari nostalgia yang hampir menelannya. Kazuya menarik napas, mendongak untuk menatap langit kelabu. Ia berdiri bersandar pada mobilnya di tepi jalan yang sepi. Mengabaikan lalu-lalang segelincir orang yang berbisik-bisik ketika melihatnya. Sesak, Kazuya merasakan sesak menghimpit dadanya tanpa bisa dicegah. Bagaimana bisa kenangan yang dulunya indah kini terasa sangat menyakitkan saat diingat kembali?

Kazuya mengigit bibir bawahnya. Rasa getir merambat dari ulu hati sampai ke tenggorokan. Ia muak dengan rasa pahit. Kepahitan akan realita ini seribu kali lebih pekat daripada kopi favoritnya. Kerinduan yang mengendap dan menumpuk dalam hatinya. Memenuhi semua jalur kebahagiaan yang ada.

Eijun tidak lagi ada di sini. Tidak peduli hari ini ataupun nanti. Eijun tak pernah kembali ke pelukannya. Berapa kalipun Kazuya meratap dan memohon, berdoa kepada segala jenis Dewa atau Dewi, tak satupun dari mereka mengulurkan tangan dan membawa Eijun kembali ke pelukannya.

Tak ada lagi Eijun dan mulut berisiknya yang sering Kazuya keluhkan. Tak ada lagi Eijun yang setiap pagi menguncang tubuhnya, membangunkannya dengan kasar, lalu menyerukan serentetan permintaan untuk dipenuhi. Tak ada lagi Eijun yang begitu sering Kazuya peluk dalam tidurnya, yang berbaring di sisinya dengan wajah lucu dan menggemaskan. Tak ada lagi Eijun dan keluhan pasrahnya saat Kazuya seharian menempel padanya. Tak ada lagi Eijun yang dengan wajah tersipu-sipu membalas kalimat cintanya. Menuntut ciuman atau memeluknya erat di malam-malam yang dingin menggigit.

Sawamura Eijun sudah tiada.

Senyumnya, derai tawanya, wajah merajuknya, wajah bodohnya, desah napas beratnya, semua itu hanya hidup dalam memori Kazuya dan mengikis hatinya dari hari ke hari.

Kazuya selalu berpikir bahwa Eijun adalah sumber semua kebahagiaannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa kepergian Eijun akan menjadi sumber semua kepedihannya.

Kazuya berusaha menarik napas, merasakan jantungnya seperti ditikam besi panas. Kenyataan itu menjelma seperti mimpi buruk tiada akhir. Kazuya berharap ia akan segera terbangun dari mimpi ini, ia berharap esok ia akan membuka mata dan mendapati Eijun berbaring di sampingnya, wajahnya yang terlipat cetakan bantal, dan rambutnya yang berantakan, Kazuya akan memeluknya erat-erat. Menjaganya sepenuh hati, dan tak akan membiarkan Eijun pergi.

Tapi itu tidak mungkin.

Inilah kenyataannya yang harus Kazuya hadapi. Dunia tanpa Sawamura Eijun di sisinya. Seindah apapun kisah yang Kazuya lalui bersamanya, Eijun akan selamanya menjadi pemilik masa lalu Kazuya. Dan waktu tak mungkin berputar mundur. Eijunlah masa remajanya, perjalanan menuju dewasa, rentetan kisah-kisah manis beraroma lugu dibalut nuansa penuh warna. Nama Eijun akan tetap lekat dalam ingatannya. Hatinya. Menjadi racun mematikan yang terus Kazuya minum sambil menunggu ajal menjemputnya, untuk bisa bersama Eijun kembali.

"Miyuki?"

Suara yang familiar menarik atensi Kazuya. Titik hujan yang sudah tidak menyerangnya secara keroyokan, terlindungi oleh payung yang diisodorkan pada sosok yang ada di depannya. Menatapnya penuh kekhawatiran dan mendongak,

"Apa yang kau lakukan basah kuyup di sini?"

"Nabe?"

Semangkuk teh hijau hangat dan semangkuk bubur yang asapnya mengepul disajikan pada meja kecil dengan alas duduk hanya sebuah bantal. Apartemen berukuran enam tatami yang sudah merangkup kamar sekaligus ruang tamu, sementara genkanya merangkap dapur, menjadi tempat berteduh Kazuya sejenak. Bajunya yang sangat basah sedang dicuci, jadi dirinya sementara meminjam baju milik Nabe yang paling besar.

"Arigatou." Ucap Kazuya, Nabe duduk di sisi kanannya dan tersenyum.

"Sama-sama." Balas Nabe.

Kazuya yang memang sebenarnya menghormati siapa saja yang baik padanya pun meminum teh hijau hangat yang membuat tenggorokan dan jantungnya mulai bisa merasakan hawa lain. Kehangatannya merilekskan perutnya juga, "Maaf ya, aku jadi merepotkanmu begini." Ucap Kazuya begitu selesai minum, pembuka untuk memulai percakapan.

"Iie, aku tak masalah. Tapi apa yang kau lakukan tadi hujan-hujanan? Tidak khawatir dengan bahumu? Sekarang masih musim pertandingan, kan?" Nabe mencecarnya dengan segudang pertanyaan yang hanya dibalas dengan sebuah senyuman kecil. Mata karamelnya hanya tertuju pada bubur yang harus secepatnya Kazuya makan.

"Jaga kesehatanmu, Miyuki. Akan banyak yang khawatir." Ucap Nabe lagi, menarik kesadaran Kazuya pada lamunan sepersekian detik.

Kazuya mengangguk, "Aku usahakan." Balasnya singkat. Dia lalu meraih sendok dan semangkuk bubur, rasanya ingin mengisi tubuhnya dengan makanan apa saja.

Walau hanya diam tanpa mengutarakan sepatah kata, Watanabe bisa menangkap kalau Kazuya masih terbayang-bayang Sawamura Eijun yang kini telah dinyatakan meninggal oleh semua orang. Emosi yang merantai hatinya itu tidak ada satu orang pun yang bisa menghancurkannya.

Tapi bukan berarti tidak mungkin, semua hanya sedang berusaha. Mencoba membuat Kazuya terlepas dari kekangan masa lalu Sawamura Eijun. Semua itu berat, mereka tahu. Eijun sangat berharga dalam kehidupan semua yang mengenalnya. Sosok Ace yang menarik Seido menuju Koushien, sosok Ace yang membawa semangat, sosok Ace yang selalu menciptakan senyuman di setiap insan yang melihatnya.

Sangat sulit menghancurkan ingatan itu, yang ada malah semakin terkekang dan semakin larut.

Nabe menggigit bibir bawahnya, menyadari tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menolong Kazuya. Walau di waktu luang baseball mereka kadang berdua bersama seangkatan yang lain, tapi rasa mengganjal yang menyakitkan di lorong hati Kazuya tidak bisa Nabe angkat.

Walau begitu, Nabe ingin mengikis batu besar itu, membebaskan Kazuya dan menariknya pada masa depan yang memiliki banyak sekali persimpangan kebahagiaan.

Tangan Nabe terulur, menggenggam erat tangan Kazuya. Meremasnya kaku dan menyalurkan kehangatannya pada buku-buku jari Kazuya. Senyum yang terukir dengan alis terangkat. Atensi pupil hanya tertuju pada catcher berkacamata andalan SoftBank dan Seidou dulu ini. Seorang kapten yang tidak mau menunjukkan kelemahannya pada semua orang.

Watanabe tidak bisa menahan perasaannya. Seakan dari tangannya yang terulur, dia sudah mengutarakan apa saja yang ingin dia ucapkan. Semua emosi yang meluap memenuhi kamar, menyesakkan paru-paru Watanabe sendiri.

Tapi yang didapat adalah sebuah senyuman kecil. Dengan lembut Miyuki melepas genggaman tangan Watanabe secara pelan,

"Maaf, Nabe. Aku masih mencintainya."

—dan itulah blokade terkuat yang tidak bisa dihancurkan.

Ketika Ryouta memasuki café, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Eijun yang kelihatan rambutnya berantakan dan duduk di lantai mensejajarkan satu tangkap bunga di samping kiri, dedaunan di samping kanan, dan sebuah teko vas bening di hadapannya.

"Yoshi-nii, apa yang kau lakukan?" tanya Ryouta berjalan mendekati Eijun. Dia berjongkok di belakang Eijun.

Eijun menggerutu, dia melipat kedua tangannya di depan dada dan bergumam, "Aku ingin menata bunga."

"Ya, lalu?"

"Tapi rasanya ada yang kurang."

"Mau aku bantu?"

Eijun menggelengkan kepalanya. Dari gestur tangannya malah mengusir Ryouta dan mengisyaratkan kalau sedang ingin melakukannya sendiri. Jadi Ryouta memilih pergi ke dapur dan berganti baju sekaligus memakai celemeknya. Dia mendapati kue yang masih utuh di lemari pendingin dan macaron yang masih penuh di dalam toples.

Ryouta tahu perasaan yang kurang dalam diri Eijun sekarang. Café ini sampai sekarang belum kedatangan satu pun pelanggan.

Hari-hari seperti ini jarang terjadi sih. Cuma kalau begini terus, besoknya bisa-bisa bossnya itu malah malas buka toko. Ryouta bisa langsung pulang sih dan berkutat dengan buku pelajarannya. Tapi dia khawatir juga kalau malah tutupnya nanti keterusan.

Ryouta menghela napas. Dia terpaksa menelpon temannya untuk datang dan jadi pelanggan. Setidaknya walau hanya anak sekolah, hal itu akan cukup membuat mood Eijun naik drastis.

"Selesai!" seru Eijun menarik perhatian Ryouta, dia jadi keluar dapur dan melihat Eijun yang sudah selesai merangkai bunga.

"Angelica, Astilbe, Balloon Flower, Bergenia, Catmint, dan Crocus. Lihat kan? Kombinasi warna violet dan biru sangatlah indah." Seru Eijun sangat bangga dan sombong, tangannya sudah berkacak pinggang dan dadanya membusung bangga.

"Hai. Otsukare." Balas Ryouta, karangan itu benar-benar menunjukkan kalau Eijun sangat galau. Semoga datang pelanggan.

Harapan Ryouta terkabul.

Suara bel berdenting, pintu kaca terbuka dan masuklah dua orang pelanggan yang langsung disambut oleh Eijun dengan ceria.

"Furuya-san, Miyuki-san, konnichiwa." Sapa Yoshiyuki ramah dengan senyuman kalemnya.

"Konnichiwa." Sapa Satoru, Kazuya di belakang hanya tersenyum dan mengangguk singkat menyapa Yoshiyuki dan Ryota.

"Pertandingan kemarin sangat menegangkan. Tapi selamat sudah memenangkannya." Ucap Yoshiyuki, sementara Ryouta di belakang memberi isyarat berupa permohonan untuk memesan kudapan sebanyak-banyaknya. Mood sang boss sedang jelek soalnya.

"Terima kasih." Balas Satoru, tapi yang menangkap sinyal Ryouta hanyalah Kazuya. Jadi catcher SoftBank itu bertanya-tanya dalam hati, apa ada hal buruk yang terjadi dengan sang pemilik café?

Satoru seperti biasa langsung duduk di kursi spotnya, berada paling dekat dengan meja kasir, Kazuya akan duduk seberangnya dan menaruh gitarnya. Yoshiyuki membawakan buku menunya dan memberikannya pada mereka berdua. Setelah mencatat pesanan mereka berdua, —untuk kali ini Miyuki memesan teh—ia pun pergi ke dapur.

"Takeuchi, Yoshiyuki hari ini kenapa?" Tanya Kazuya agak berbisik, dia seperti sudah jadi pelanggan tetap bersama Satoru sekarang.

"Sepertinya dari tadi pagi sampai sekarang Yoshi-nii tidak kedatangan pelanggan sama sekali."

"Ohh, itu buruk?"

"Bukan buruk sih, cuma auranya jadi gak enak. Lihat," Ryouta menunjuk rangkaian bunga di vas yang baru saja ditata Yoshiyuki, "itu berantakan, tanda kalau Yoshi-nii sangat kesal."

"Hee, jadi begitu ya."

"Tenang saja, ada kami." Seru Satoru mengacungkan jempolnya.

"Terima kasih, tapi jujur itu hanya membantu sedikit."

"Ohh..."

"Kalau Yoshi-nii tidak puas, bisa-bisa dia ngambek dan besok gak akan buka."

Satoru langsung berdiri, "Itu buruk, kita harus membantunya. Miyuki-senpai, ayo."

"Ke mana?"

"Cari pelanggan."

"Kita ini pelanggan, bukan karyawan."

"Tapi kalau besok café ini tutup, bagaimana dengan kue manis dan tehnya?"

"Yaa..."

"Ayo, cepat." Satoru memaksanya, auranya sudah membakar tubuhnya dan membuat Ryouta heran.

Terbatuk kecil, Satoru dan Kazuya menatap Ryouta, "Saya sudah mengundang teman-teman saya untuk datang kok, jadi tidak perlu khawatir."

Dan dengan sepenggal kalimat itu, Kazuya menghela napas kecil, menarik tangannya dari jeratan Satoru, lalu duduk dengan tenang dan bersandar ke kursinya. "Sudah tidak masalah."

Satoru bergumam kecil dan mengangguk, kembali duduk dengan tenang.

Kazuya menelusiri permukaan meja dengan ujung jarinya sambil berusaha menghitung mundur. Ia menemukan kenyataan bahwa sudah terhitung nyaris dua bulan dirinya dan Satoru rutin berkunjung ke tempat ini. Selalu menjadikan kota bernama Nagano dan toko kecil ini sebagai destinasi utama ketika ada waktu luang.

Sudah hampir dua bulan. Lima puluh hari, seribu dua ratus jam, tujuh puluh dua ribu menit, empat juta tiga ratus dua puluh ribu detik, adalah kalkulasi waktunya semenjak kali pertama mendorong pintu kaca dan mendengar denting lonceng di tempat ini. Empat juta dua ratus tiga puluh ribu detik, dan satu detikpun, Kazuya tak pernah mampu menerjemahkan arti di balik perasaan asing dan kegundahan di dalam hatinya.

Dan kali ini keresahannya seolah bertambah menjadi barisan penuh tanya ketika melihat wajah sang pemilik toko tampak mendung seperti mega yang mengusir mentari. Yoshiyuki tidak pernah kelihatan muram selama ini. Senyumnya selalu terkulum hangat, meski tidak terlalu lebar namun mendetangkan kesan menyejukkan bagi mereka yang haus, juga menghangatkan bagi mereka yang nyaris membeku. Yoshiyuki selalu melayani setiap orang dengan baik dan ramah. Tak memandang derajat sosial, jenis kelamin, usia, dan lain sebagainya.

Pemuda itu selalu terlihat positif, tenang, namun penuh energi. Ia kelihatan siap mengulurkan tangannya kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan. Dan sekarang, saat Kazuya dengan jelas melihat sepasang mata itu terselubungi oleh awan kelabu, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa tak satupun mampu berbuat lebih untuk membantu Yoshiyuki. Lagi-lagi sebuah ironi dalam kehidupan, bagaimana seseorang yang selalu mampu menyemangati orang lain, menjadi sosok yang tak akan bisa didekati saat dirinya sendiri yang terpuruk.

"Pesanan datang."

Kazuya tersentak kecil, mendongak dan mendapati sosok Yoshiyuki tengah berdiri di hadapannya, bersama seulas senyum yang terlihat berbeda. Ia menyusun semua pesanan di atas meja dengan sangat hati-hati, sebelum kembali berdiri tegak dengan mendekap nampan di dadanya. "Selamat menikmati, Miyuki-san, Furuya-san. Semoga hari kalian menyenangkan." Satu senyum terakhir, lalu ia membungkuk sopan dan mundur menjauh tanpa memberi Kazuya kesempatan untuk membalas ucapannya.

"Apa Yoshi-kun baik-baik saja?" Satoru setengah berbisik padanya, yang aneh Kazuya masih saja kerap meresa ganjil karena pitchernya itu memakai suffiks –kun untuk Yoshiyuki, padahal mereka seumuran. Satoru beralibi, Yoshiyuki terlihat jauh lebih muda darinya.

Kazuya menghela napas, meraih tekonya dan menuang teh ke dalam cangkir. Membiarkan asap panas itu mengepul tertiup udara. "Entahlah," Kazuya angkat bahu. "Lagi pula tidak ada yang bisa kita lakukan. Jangan terlalu ikut campur. Kita hanya pelanggan di sini."

"Tapi aku menganggapnya temanku."

"Jangan main mengaku secara sepihak. Belum tentu Yoshiyuki berpikiran begitu, mungkin dia hanya berusaha sopan padamu."

"Yoshi-kun bukan orang yang seperti itu."

Kazuya hanya sanggup menghela napas berat, memilih untuk tidak melanjutkan percakapan dengan Satoru. Saat mata Kazuya sedang bergulir menikmati keindahan bunga yang bermekaran di sekelilingnya, pintu kaca terbuka dan lonceng berdenting cukup nyaring.

"Yo! Take!"

Ada empat remaja laki-laki menyembul dari balik pintu. Pakaian mareka kasual dan santai. Ryouta yang selama ini sedang mengelap gelas di balik meja counter langsung mendongak dan mengangkat satu tangannya sebagai sapaan balik.

"Datang juga kalian." Balas Ryouta sementara empat temannya itu sudah masuk ke dalam toko. Mereka kemudian saling mengajukan hi five atau jabatan-jabatan khas anak muda pada umumnya, sebelum Ryouta membimbing teman-temannya untuk duduk menempati meja panjang yang menghadap ke jendela.

"Ah, temen-temannya Ryou-kun datang lagi?" Yoshiyuki muncul dari pintu dapur, tersenyum ramah dan penuh penerimaan kepada empat pelanggan yang barusaja masuk ke tokonya.

"Apa kabar, Yoshi-nii?"

"Wah, seperti biasa. Yoshi-nIii selalu kelihatan modis yaa, haha!"

"Mohon terima kami dengan baik, Yoshi-nii!"

"Yoshi-nii santai saja sebagai Boss, biar Take yang melayani kami!"

Sapaan beruntun itu berhasil membuat Yoshiyuki tertawa kecil. "Aku bukan Boss, tolong jangan panggil aku begitu." Tukasnya ringan, namun sama sekali tak terasa sebagai peringatan keras.

Teman-teman Ryota hanya tertawa menanggapinya. Yoshiyuki kemudian berjalan mendekat kepada remaja-remaja itu, mereka saling berkelakar ceria, bahkan sesekali Kazuya bisa melihat Yoshiyuki tertawa geli dan mengusap kepala salah satu di antara teman-teman Ryouta. Interaksi mereka sangat dekat dan terasa hangat, seolah Yoshiyuki telah menanggap mereka adik-adiknya atau kohainya sendiri.

"Hey, kalian ke sini mau pesan atau hanya ingin bercanda tawa dengan Yoshi-nii?" Tanya Ryota, terdengar menyindir, namun berkat senyum jail di bibirnya, ia kelihatannya tidak marah.

Temannya yang berbaju merah, melayangkan tinju main-main ke dada Ryouta. "Ah, Take! Kau ini kaku sekali. Yoshi-nii saja tidak masalah."

"Aku digaji pakai uang soalnya, bukan dengan gelak tawa."

"Huuuu, Takeuchi-kun seram."

Yoshiyuki tertawa renyah. "Sudah-sudah, jangan ribut. Kalau Ryou-kun marah, dia bisa berubah jadi harimau, lho." Katanya mencoba bercanda, teman-teman Ryouta justru tampak mengangguk sepakat. Sedangkan Ryouta sendiri hanya memutar mata.

"Kalau begitu kami pesan jus. Seperti biasa."

Yoshiyuki mangut-mangut. "Mangga, jeruk, melon, dan nanas." Ia menyebutkan masing-masing jus sambil menujuk satu persatu teman Ryouta, layaknya sudah hapal siapa ingin memesan apa.

"Sugoii ne, Yoshi-nii! Bisa hapal pesanan kami!"

"Akan aku buatkan," Ryouta berinisiatif menjawab. "Yoshi-nii mengurus kudapannya saja." Dan dengan itu Takeuchi Ryouta sudah meluncur ke dapur.

"Hei, tebak. Aku baru membuat es krim, kalian mau coba?"

"Serius? Tentu saja! Kalau begitu kami pesan dua mangkuk besar es krim!"

"Hai, hai, pesanan diterima, selamat menunggu tuan-tuan." Kata Yoshiyuki sebelum tersenyum sekali lalgi, dan menunjukkan gestur mundur terhormat lalu menghilang di balik pintu dapur.

Tak butuh waktu terlalu lama sampai masing-masing dari Ryouta dan Yoshiyuki keluar membawa pesanan empat remaja laki-laki itu lalu menghidangkannya di atas meja. Kazuya sempat mendengar bahwa Yoshiyuki memperbolehkan Ryouta duduk bergabung dengan teman-temannya sambil menunggu pelanggan lain jika memang ada yang datang. Sementara pemuda berkacamata itu sendiri pergi ke dapur dengan dalih ada beberapa hal yang perlu ia kerjakan.

Lima belas menit setelah Yoshiyuki menghilang dari balik pintu dapur, Kazuya membuang napas berat. Ia melirik jam di tangannya, ini masih pukul setengah dua siang. Sementara seperti biasa, Satoru larut sendiri menikmati cangkir-cangkir teh dan kudapan favoritnya. Lima remaja di kursi panjang dekat jendela yang berceloteh riang dan tertawa renyah membahas bermacam-macam hal, dan Kazuya yang pada akhirnya memutuskan untuk bangkit dari kursinya.

"Aku ke toilet sebentar," Pamit Kazuya sekenanya sambil berlalu pergi.

Saat masuk ke pintu dapur, Kazuya mendapati Yoshiyuki tengah berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada meja dapur. Wajahnya menunduk, Kazuya tidak bisa melihat ekspresinya karena wajah pemuda itu sebagian besar tertutup rambut keritingnya yang lumayan panjang. Kazuya menahan napas, menyadari bahwa Yoshiyuki benar-benar tidak sedang baik-baik saja.

Kazuya mengambil satu langkah maju lalu sengaja berdeham. Yoshiyuki tersentak kecil dan langsung menoleh padanya, senyumnya terkulum seperti mesin otomatis.

"Miyuki-san, ada yang bisa dibantu?"

Kazuya menggeleng kecil dan berjalan mendekat. "Boleh aku mengobrol denganmu?" Ia balik bertanya, sedikit memohon, banyak berharap.

"Eh?" Yoshiyuki mengerjap. "Di sini? Di dapur?"

Kazuya tersenyum kecil. "Ya, kau keberatan?"

Pemuda itu menggeleng cepat-cepat. "Ah, bukan begitu. Hanya saja, apa Anda nyaman di dapur?"

Kazuya menggeleng samar, tersenyum ringkas. "Aku lumayan sering di dapur sebenarnya."

Mata Yoshiyuki berkilat singkat. "Benarkah? Anda suka memasak?"

Kazuya mengangguk tipis. "Lumayan. Dulu aku cukup sering memasak, sekarang sudah jarang sih." Jawab Kazuya, ia sedikit bersandar ke meja dapur, dan berdiri tepat di sebelah Yoshiyuki.

"Lho, kenapa?" Ia bertanya, lalu mendesah kecil seolah tersadar akan sesuatu. "Ah, pasti karena Miyuki-san semakin sibuk, ya?"

Kazuya lagi-lagi menggeleng. "Dulu aku memasak untuk seseorang, sekarang sudah tidak lagi."

Pemuda itu kelihatan agak bingung, tapi ia mengangguk saja. "Kau sendiri? Kau sangat mahir membuat dessert, kau juga jago masak, Yoshiyuki?"

Yoshiyuki tertawa kecil, "Iie, iie." Gelengan kepala. "Saya hanya bisa memasak hidangan sederhana, dan Ryou-kun bilang rasanya standar. Tidak bisa dibilang enak, meski masih bisa dimakan."

"Mungkin Takeuchi saja yang punya selera tinggi?"

Yoshiyuki tertawa lagi. "Nah, saya harap juga begitu. Tapi masalahnya adik saya sendiri juga bilang masakan saya terlalu biasa. Dia baru berusia delapan tahun omong-omong, dia jujur luar biasa."

Kazuya menangkat satu alisnya. "Kau punya adik?"

Yoshiyuki mengangguk mantap, tersenyum tulus. "Namanya Naomi. Dia sering ke mari sebenanrnya, hanya saja tak pernah berbarengan dengan kedatangan Miyuki-san."

Kazuya hanya balas mengangguk kecil. Mereka berdua kemudian terdiam cukup lama, hanya membiarkan keheningan melingkupi dengan cara yang terasa ganjil di hati Kazuya. Sampai Kazuya mulai menjelajah sekitar dapur dengan kedua matanya. Mengangumi bagaimana Yoshiyuki mampu mengatur beberapa tanaman tetap tumbuh subur di dapur tanpa meninggalkan kesan kotor atau usang. Ia melihat peralatan masak yang tesusun rapi dan bersih, rak-rak yang mengkilap tanda tak berdebu, juga beberapa bahan makanan yang terlihat dalam kualitas baik. Lalu matanya bergulir hingga sampai pada kalender harian yang menempel di dekat pintu.

Sepuluh Mei.

Napas Kazuya tercekat.

Lima hari lagi kalender akan sampai pada hari ulang tahun Eijun. Ulang tahun yang ke dua puluh tiga. Atau begitulah seharusnya jika Eijun masih ada di sini. Dua puluh tiga tahun, Kazuya penasaran seperti apa wajah kekasihnya itu pada usia dua puluh tiga? Apa Eijun terlihat semakin dewasa? Mungkinkah pada akhirnya ia punya kumis tipis di bawah hidungnya? Apakah tubuhnya bertambah tinggi? Menggemuk? Atau apakah pipinya akan berubah tirus? Kazuya sungguh rela membayar apa saja demi melihat itu semua.

"Ah, maaf. Saya benar-benar tidak sopan."

Seruan Yoshiyuki yang tiba-tiba itu membuat Kazuya tertarik kembali dan tertambat ke dunia nyata.

"Harusnya saya membuatkan Miyuki-san minuman."

"Tidak perlu. Aku hanya ingin mengobrol sedikit."

"Serius?"

Kazuya mengangguk lugas. Ia mengamati wajah Yoshiyuki, berpikir, sebelum memutuskan untuk bertanya.

"Yoshiyuki, kalau boleh tahu, kapan hari ulang tahunmu?"
.

.

.

Bersambung

.

A: Hai, bales review dulu?

V: BU LURAH! MAKASIH DAH REVIEW YA! MUACH MUAH AKU CINTA PADAMU!

A: Isana Misaki, Furuya suka manis kok. Dia baik baik aja sama semua makanan.

V: iya, bahkan dia pernah terang-terang minta es krim vanilla padahal ditawarinya minuman, kurang ajar dia.

A: Next

V: hi Ai Haruka. Tunggu aja updatenya setiap kamis siang, dan masalah endingnya gomen. Ehehehehe...

A: Isana, hehehe sebenarnya mukanya sih sama. Cuma stylenya beda banget. Yoshiyuki itu pake kacamata, rambutnya lebih panjang, Curly, dan modis. Cara bicaranya juga sopan banget, dan kalem. Jadi susah membayangkan kalau mereka orang yang sama

V: Sebenarnya aku udah coba gambar sih penggambarnya. Udah jadi juga, cuma karena aku orangnya lebih pede update tulisan daripada gambar, jadi aku simpen di folder. Aiko-san udah aku tunjukin gambarannya. Saya kesusahan sama gambar alisnya Eijun, mengingat dia alisnya teges tapi tipis. Sama dia ekspresif banget. Begitu dibuat kalem, agak kesusahan.

A: Yep, kalo kalian baca terus chapter selanjutnya. Kalian akan bisa tau kenapa gak ada yg sadar.

V: Selanjutnya untuk guest, ryou-kun juga udah ada gambarannya.

A: Reader-sama, kalau kalian mau tau gambarnya. Kuy kita serang Valky-san bareng-bareng. Bujuk dia posting gambar di twitter atau instagram

V: saya gak mungkin update di IG, twitter pasti

A: Halo, Dyulia971 yosha, semoga kami berdua bisa terus mempertahankan kepastian update di hari kamis yaa. Thanks for waiting and reading.

V: jangan lupa reviewnya juga ya

A: Lanjut weh, giliranmu

V: hai, halo kim, tunggu aja kapastian kapan Miyuki sadarnya

A: Terima kasih untuk semua yang telah membaca dan mengikuti endiaferon sampai chapter 3 ini.

V: kalau review chapter ini mencapai 15 buah, Valky akan upload gimana rupa Yoshiyuki Eijun di twitter dan Takeuchi Ryouta

A: Eh, bisaan dia wkwk. Ah iya, sebenarnya setiap kali kami ngomongin MiSawa saya selalu bilang "mereka pasangan gak guna"

V: kami sering ketawa sendiri pas ngobrol bahas alurnya Endia

A: Sampe-sampe aku saranin ubah aja genrenya jadi komedi, tehe :'D. Jaa, Reader-sama maaf kalau a/n kami kebanyakan gak guna. Dan kalo selera humor kami aneh, kami akan tetep begini

V: saya pengen masukin NTR

A: Kuubah jadi SawaMi mau?

V: ck

A: Dah ah, berantemnya di tempat lain aja

V: oke oke, sampai ketemu minggu depan ya