Ace of Diamond /ダイヤのA disclaimer byTerajima Yuuji

ENDIAFERON © Ohtani Kyko

kami mendapatkan keuntungan berupa kepuasan batin atas pembuatan fanfiksi ini

.

"Yoshiyuki, kalau boleh tahu, kapan hari ulang tahunmu?"

Yoshiyuki tampaknya agak keget mendengar pertanyaan Kazuya, tapi ia buru-buru tersenyum dan menjawab lugas. "Saya ulang tahun di bulan yang sama dengan Miyuki-san."

"November?"

"Yap. Satu November."

Sebuah bangunan berlabel harapan di dada Kazuya terasa rubuh detik itu juga. Kazuya bahkan tidak mengerti penyebabnya. Tapi mengetahui bahwa Yoshiyuki lahir di bulan November entah mengapa membuatnya merasa sesak dan hilang arah.

"Ada apa?"

Kazuya menoleh kembali, memandang mata Yoshiyuki sambil berusaha mengendalikan kemelut hatinya. "Bukan apa-apa." Ia berkata. "Boleh aku minta satu hal?"

"Uh, saya akan berusaha semampu saya."

Kazuya tersenyum samar. "Lima belas Mei nanti, tolong buatkan aku buket bunga matahari yang paling indah. Dua puluh tiga tangkai bunga matahari dalam satu buket. Kau keberatan?"

"Saya sih tidak keberatan," Yoshiyuki berbalik pada taman bunga matahari yang dia bisa lihat dari balik jendela wastafel, "cuma saya hanya bisa ambil yang kecil, untuk yang besar tidak akan cukup. Apakah tidak apa-apa?" Tanya Yoshiyuki di akhir, kembali menghadap Kazuya.

"Tak apa. Itu cukup." Kazuya tersenyum, senyum getir yang bisa salah diartikan senyum menawan.

"Tapi dua puluh tiga itu banyak sekali ya, kalau dalam bahasa mawar, jumlah ikat sebanyak itu berarti kebersamaan dan keberuntungan." Yoshiyuki menompang dagunya dan mulai bicara sendiri, "Apalagi ini bunga matahari. Pasti maknanya lebih luas. Uhmm, kekaguman? Dedikasi? Pikiran murni? Cinta yang sangat berdedikasi kuat? Kesombongan? Kepalsuan? Hmmm..." Yoshiyuki sampai memejamkan kalopak matanya dan mengerutkan alisnya.

Kazuya sangat kaget pertama kali mendengar makna bunga matahari, apalagi sampai jumlah ikatan yang mau diminta. Padahal Kazuya menginginkannya berdasarkan umur Eijun mendatang, dan bunga matahari maksudnya adalah ucapan Eijun di masa lalu. Tapi maknanya bisa seperti itu. Tapi yang paling mengusiknya—"Kepalsuan?"

"Ah, itu karena orang Perancis dulu saat pertama kali menemukan bunga matahari mengira kalau itu emas. Saat tahu kalau bukan, mereka menyebutnya kepalsuan, atau lebih tepatnya kekayaan palsu. Jadi kalau ada perayaan besar dan seseorang memberikan bunga matahari, sebenarnya itu menghina" Jelas Yoshiyuki.

"Aku baru tahu."

"Eh? Saya kira Miyuki-san memilih itu karena tahu artinya?" Yoshiyuki ikut terkaget.

Kazuya menggeleng. Mereka diam terlarut dalam kekagetan sendiri-sendiri. Dan berakhir dengan kecanggungan yang membuat kedunya bergerak gelisah menatap apa saja asal bukan seseorang yang ada di depannya.

"Yoshiyuki sendiri, suka bunga apa?" tanya Kazuya basa-basi, dia kehabisan ide dan menanyakan topik yang tidak begitu menarik sebenarnya.

"Saya suka semua."

"Yang spesial?" Kazuya melirik.

Ada jeda lama sebelum Yoshiyuki menjawab. Dia lalu berbalik menatap hamparan taman di seberang jendela, "Ini bukan bunga yang spesial, juga bukan bunga yang umum. Ini bunga yang sangat biasa tapi memiliki makna yang sangat berkesan dalam diri saya."

Senyum yang mengukir jelas itu jelas membuat Kazuya tidak bisa mengalihkan matanya barang sedetik pun. Senyum murni, ketulusan, tanpa ada tipuan sedikit pun, menghentikan napas Kazuya dan detak jantungnya. Cahaya yang perlahan ke ufuk barat menyertai paras Yoshiyuki, membuatnya seolah mendapatkan kebahagiaan lain. Kazuya merasakan sebuah kehangatan.

"Queen Anne's Lace, melambangkan surga atau tempat berlindung. Menandakan sebuah kompleksitas dan kehalusan." Jelas Yoshiyuki, "Dan menyebalkannya, bunga ini adalah wortel liar."

"Wo-Wortel liar?"

Yoshiyuki menuju ke sebuah rak dan mengambil buku dengan bahasa latin dan kertas yang tebal. Ada gambar tanaman dan bunga lain. Dia membuka daftar halaman dan mencari halaman yang dimaksud, Yoshiyuki langsung mencarinya dan menunjukkan apa yang dimaksud, "Worter liar." Ujarnya.

Kazuya mendekat dan membaca dengan seksama, dan saat itu dia bisa dengan jelas mencium harum parfum Yoshiyuki. Lembut, ringan, dan menyegarkan. Kazuya tidak bisa menggambarkan jelas racikan apa yang dipakai Yoshiyuki, yang jelas ini bukan parfum maskulin yang biasa Kazuya pakai. Ada aroma yang membuat Kazuya bernostalgia juga, masa lalu itu samar, namun terasa sangat jelas.

Kazuya menggelengkan kepalanya kuat, dia kembali fokus dan membaca halaman yang dimaksud Yoshiyuki, "Benar, wortel liar." Gumam Kazuya, "Kau punya?"

Yoshiyuki mengangguk, "Saya menanam beberapa sayur, buah, dan rempah di atas."

"Kau juga punya tanaman di atas?" kaget Kazuya lagi.

"Ya."

"Tidak repot merawatnya?"

Yoshiyuki menggeleng, "Saya tahu caranya, jadi saya tidak pernah merasa kalau ini memberatkan."

"Hebat ya, aku punya satu tanaman saja layu. Walau sebenarnya bukan aku yang merawat." Kazuya melirik ke arah lain, mengingat kembali Sawamura Eijun yang sudah tidak ada lagi.

"Teman anda?" Tanya Yoshiyuki sedikit memiringkan kepalanya penasaran.

"Tidak, pacarku. Dia sudah lama meninggal." bisiknya pelan.

Mulut Yoshiyuki terkatup, dia jadi canggung dan bergerak gelisah, "Ma-maaf, sa-saya tidak tahu. Saya, turut prihatin."

"Tak apa, toh dia sudah pergi." Kazuya kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum, sebuah senyum sendu.

"Maaf, apakah bunga matahari ini untuk kekasih anda?"

"Ya, tanggal lima belas Mei dia ulang tahun ke dua puluh tiga."

"Itu lima hari lagi." Gumam Yoshiyuki, "Anu, apakah saya juga boleh memberikan kado untuk kekasih anda?"

Kazuya langsung menatap Yoshiyuki kaget, matanya membulat sempurna di balik bingkai hitamnya, "Kado? Untuk Sawamura?" Gumam Kazuya tanpa sadar menyebutkan namanya, begitu dia sadar langsung menutup mulutnya dan salah tingkah sendiri.

"Ya," Yoshiyuki mengangguk, "Mungkin tidak sebesar bunga matahari, tapi saya rasa bunga ini akan sangat cocok. Anggap saja dari Sawamura-san untuk Miyuki-san."

"Bunga apa itu?"

"Verbana, artinya berdoalah untukku." dan saat Yoshiyuki mengatakan itu, Kazuya tanpa sadar menitikkan air matanya. Bukan kemauannya, tapi hatinya berteriak untuk mengeluarkannya.

"Mi-Miyuki-san? Kenapa menangis?" Yoshiyuki secepatnya mengluarkan sapu tangannya dan mengusap air mata Kazuya tanpa permisi, walau empunya hanya diam saja masih terjebak dalam badai emosi. Dia baru tersadar saat ujung sapu tangan itu mengusap ujung matanya, menghapus air mata yang mengalir. Menghapus kesedihan memori masa lalu yang tidak bisa dilepas.

Kazuya secepatnya mundur dan permisi ke kamar mandi. Dia melepas kacamatanya dan mencuci mukanya. Dia baru sadar akan tindakannya, menceritakan kesedihannya pada Yoshiyuki. Bahkan pemuda juga mau memberikan sebuah kado untuk Eijun.

Tangan besar Kazuya meremas dada kirinya, pada jantungnya yang berdetak cepat dan keras. Darah berdesir sangat deras di sana, Kazuya merasakannya jelas. Air mata hangat yang menghilang ditarik tetesan air dingin yang menyapu paras tampan Kazuya.

Apa yang aku lakukan? Batin Kazuya bertanya pada dirinya sendiri, kekalutan ini membuatnya tersesat lagi. Perasaan janggal yang tidak bisa Kazuya artikan. Dia hanya bisa berdiam di sana merenung atas pertanyaan dan jawaban tidak meyakinkan.

...

Eijun menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan semburat merah yang bergerumul di sekitar pipi sampai telinganya. Menyesali tindakannya yang seenak jidat masuk zona privasi orang lain, apalagi malah memberikan sesuatu yang tidak seharusnya. Eijun sangat menyesal, dia ingin menghilang sekarang juga. Tapi apalah daya dirinya yang hanya bisa berdiri diam di sini.

Eijun bodoh, bodoh bodoh bodoh. Batin Eijun menghina dirinya sendiri. Dia ingin menutup toko lebih awal dan bersembunyi di balik kasurnya saja sekarang.

Eijun tidak menghitung, tapi rasanya lama sekali sampai ia melihat pintu kamar mandi terbuka dan sosok Miyuki Kazuya muncul dari balik pintu. Mendadak Eijun lupa caranya bernapas. Debar-debar tak nyaman bersemayam di dadanya, kecanggungan yang aneh dan desiran tak biasa menyapu seluruh pembuluh darahnya.

Kazuya menoleh padanya. Mata mereka bertemu di antara udara kosong. Eijun mulai salah tingkah. Bingung harus bagaimana. Jadi, ia hanya berdiri kaku, sementara Kazuya mengulas senyum kecil ke arahnya.

"Maaf, aku agak emosional tadi."

Eijun mengerjap. Mundur tanpa sadar begitu tahu-tahu Kazuya sudah berada tepat di hadapannya. Ia menelan ludah, gugup tanpa alasan yang pasti. "Ah, saya juga minta maaf karena telah bersikap lancang." Eijun buru-buru membungkuk sopan. Tak langusng menegakkan badan dan memilih untuk menatap ujung sepatunya sambil mengigit bibir dengan gelisah.

"Ah, tolong jangan begini."

Suara Kazuya terdengar bagai campuran rasa bersalah dan tak nyaman. Saat catcher andalan SoftBank itu menyentuh sebelah bahunya dengan gestur ringan. Lugas, tetapi tak memaksa. Hangat, namun juga santai. Eijun merasa iganya disengat listrik. "Yoshiyuki, kau boleh berdiri."

Eijun berdiri nyaris terlalu cepat, hampir saja kepalanya membentur dagu Kazuya jika Kazuya tak sigap melangkah mundur sedikit.

"Saya akan buatkan pesanan Miyuki-san. Saya… akan berusaha sebaik mungkin." Ia berhasil bicara, lalu menghembusakan napas, dan tersenyum kepada Kazuya.

"Terima kasih." Tangan Kazuya beranjak dari bahunya. Dan Eijun merasa bodoh atas rasa kehilangan yang tanpa sadar mampir di relung hatinya. "Dia pasti akan suka."

Pahit. Eijun tersenyum, mengangguk. Pahit. Jalur rasa pahit itu entah muncul darimana. Tapi cara bagaimana Kazuya mengucapkan kata 'dia' ketika membahas kekasihnya yang telah tiada, sangat jelas menyiratkan betapa pemuda itu masih sangat mencintainya.

Malam hari, tanggal tiga belas Mei.

Kazuya berdiri seorang diri di balkon apartemennya. Menatap bentang kota Tokyo di malam hari. Membiarkan angin membelai rambutnya. Dan sengatan hawa dingin menusuk paru-parunya. Kazuya benci udara dingin. Selalu. Tubuhnya tak pernah akur dengan suhu udara yang rendah.

Dulu, Kazuya akan dengan sengaja mendekap Eijun dalam pelukannya, menjadikannya sebagai tameng pelindung dari sengatan udara dingin yang menusuk. Eijun selalu terasa hangat. Mereka akan bergelung di sofa dengan Kazuya yang menempel erat. Sesekali Eijun mengajukan protes karena ruang geraknya menjadi terbatas. Namun pada akhirnya Eijun hanya membiarkan Kazuya bertindak sesukanya.

Sekarang, ia berdiri dengan kaus tipis di tengah malam. Di luar kamar apartemennya yang terletak di lantai tujuh belas. Kedinginan dan hampir beku. Tanpa ada Sawamura Eijun yang bisa ia peluk. Bahkan jejak kehangatan Eijun yang selalu lekat di dalam hatinya kini perlahan mulai berubah dingin. Mengganti siklus hidup Kazuya menjadi musim dingin panjang nan abadi.

Kazuya bernapas dengan berat. Besok sore ia akan berangkat lagi ke Nagano. Menghabiskan waktu di kota kecil itu sampai lewat dari hari ulang tahun Eijun. Lima belas Mei, dan ia akan melewati dua puluh empat jam penuh untuk terjebak bersama benang-benang kusut tentang beragam pemikiran, asa, rasa, juga rahasia yang terbungkus gelap dan tenggelam dalam air mata.

Verbana, artinya berdoalah untukku.

Suara Yoshiyuki muncul dalam benaknya. Kalimat yang dicapkan pemuda itu beberapa hari yang lalu membuat Kazuya kembali merasakan kepahitan dan sebuah batu besar menindih dadanya.

Berdoalah untukku... Kazuya menggeleng. Ia tak bisa berdoa untuk Eijun. Tidak akan pernah. Segala doa yang sela ini ia panjatkan bukan untuk kedamaian Eijun dalam tidur panjangnya. Doanya bukan tentang Eijun dan surga di bawah kaki Tuhan. Semua doa yang Kazuya panjatkan hanya berisi betapa ia memelas dan memohon agar Eijun bisa kembali dalam pelukannya.

Kau egois, Kazuya!

Sebuah suara dalam kepalanya berteriak memaki. Menodongnya dengan berjuta-juta umpatan keji bahwa selama ini Kazuya bahkan tak mampu berdamai dengan kenyataan. Hatinya belum siap. Tidak akan pernah siap. Dan bahwa mungkin saja perasaannya ini hanya akan menjadi beban yang menghalangi langkah kaki Eijun menuju alam baka.

"Aku bahkan tidak pernah mengunjungi makamnya." Kazuya berbisik parau, mengeritkan suara tawa pilu. Ia tidak pernah datang ke makam Eijun. Sama sekali. Bahkan di hari pemakaman ketika semua orang memenuhi pusara itu dengan tangisan dan ratapan duka, Kazuya lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Tertunduk di di lantai yang dingin.

Karena bagi Kazuya peti mati itu tidak nyata. Itu semua tipuan. Kebohongan tak akan bisa membayar rasa sakitnya. Peti mati yang kosong tak kan bisa membuatnya lega dan ikhlas menerima takdir. Dan sampai kapanpun Kazuya tidak akan sudi menangis di hadapan sebuah makam yang hampa.

Kazuya menarik napas. Debu sesak, abu beracun, puing-puing memori, bercampur di dadanya. Kazuya mendongak, menatap langit malam. Titik-titik bintang yang pudar. Serpihan yang telah meredup. Lalu ia membayangkan Eijun di suatu tempat yang jauh, tengah memandang langit yang sama dengannya.

"Eijun…" Kazuya berbisik pelan. Mencoba tersenyum sebaik mungkin.

"Kau ingat? Kita pernah membahas tentang kematian." Kazuya menarik napas panjang. Menguatkan hatinya. "Satu kali. Hanya satu kali. Sebelum semua ini terjadi."

"Kau mengatakan, kau berniat untuk mati lebih dulu sebelum aku. Karena kau tak ingin melihatku meregang nyawa di hadapanmu. Kau berkata tak ingin melewati satu detikpun hidup tanpaku. Kau bilang, itu mimpi buruk. Sebuah gambaran mengerikan yang bahkan tak ingin kau bayangkan."

"Saat itu, kau, dengan mata yang berkaca-kaca. Menggenggam tanganku. Bergetar. Berkata bahwa kau ingin tubuhmu dibakar menjadi abu. Dan kau memintaku menyebar abu itu ke banyak tempat. Di Nagano, di Seido, di tempat-tempat yang pernah kita kunjungi bersama. Kau ingin tidur abadi bersama kenangan yang pernah kita ukir berdua."

Kazuya bernapas. Melawan sesak di dadanya. Membiarkan setetes air mata bergulir ke pipinya.

"Tapi aku berkata tidak akan pernah bisa memenuhinya. Dan kau terus memaksaku berjanji, kau mendesakku, kebiasaan jelekmu yang tak pernah hilang samapi aku berkata sepakat."

Dada Kazuya bergetar, ia mulai terisak. Mengigit bibir bawahanya dan menunduk. Membiarkan lelehan air matanya berjatuhan ke lantai.

"Maafkan aku Eijun… Aku melanggar janjiku… Aku tidak menepati permintaanmu…. Maafkan aku…. "

Kazuya berjongkok ke lantai, menggerit dengan tangan meremas dadanya. Menekan jantungnya.

"Aku pantas dihukum Eijun. Kau boleh marah padaku. Kau boleh memukulku. Meneriakiku. Apapun. Aku akan mengijinkanmu melakukan segalanya… Jadi aku mohon…. Aku ingin kau hidup kembali…."

.

Eijun sering bersepeda mengelilingi kota dengan seekor kucing belang yang seenaknya sendiri melompat ke keranjang sepedanya, padahal mau Eijun isi beberapa hal. Tapi sudah keduluan kucing. Jadi dia membawa tas keranjang kecil yang nantinya akan disampirkan di ganggang sepeda.

Jam lima yang masih pagi buta, jelas tidak banyak orang-orang yang akan melakukan aktivitas pagi, semua orang lebih suka memulai harinya pada jam tujuh atau delapan. Sementara Eijun di sini mengayuh pedalnya menaiki jalan menanjak menuju hutan yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari tempatnya. Lampu jalanan yang masih menyala dan perpaduan bau kabut dan debu menyeruak memenuhi pernapasannya.

Memarkirkan sepedanya pada bawah pohon besar dekat persimpangan jalanan setapak yang berupa lintasan rumput terbelah dua, Eijun mengambil keranjang rotannya dan berjalan menyusuri semak-semak.

"Tunggu di sini ya." katanya pada kucing belang itu, menggaruk ujung kepalanya kemudian pergi. Dibalas suara eongan yang seperti suara bebek.

Eijun tertawa kecil. Dia menyusuri jalan setapak mencari tanaman herbal. Ada sabit kecil yang sebenarnya tajam juga di keranjangnya, tapi terlindungi oleh sarung kulit, jadi tidak akan melukai kalau tidak sengaja terjatuh.

Tujuan pertama berupa strawberry liar yang tumbuh di sela-sela rumput atau sela-sela akar pohon. Bentuknya memang jelek, kecil, warnanya pucat, dominan warna putih, dan terlihat seperti tidak layak makan. Tapi ini adalah bahan terbaik untuk pendamping strawberry hasil panen, biasa Eijun pakai untuk membuat selai atau es krim.

Blueberry liar, blackberry liar, jamur yang tumbuh subur, jelas yang tidak beracun. Eijun menaruh secukupnya di dalam keranjang. Memetik dan memotong sesuai keperluan. Terkadang juga mengulik tanah berlumut demi menemukan jamur shitake yang bersembunyi. Dia tidak takut akan serangga yang muncul, karena ini masih pagi dan mereka cenderung akan bangun di siang hari.

Di sela-sela akar pohon, ada tanaman herbal liar yang biasa Eijun panen sendiri. Seperti Allium Voctorialis, aspragaus liar, Polygonatum, Allium Japonicurn Regel, bawang liar, Houttuynia Cordata Thunb, dan masih banyak lagi.

Kalau Ryouta lihat, dia pasti tidak akan percaya kalau Eijun bilang semua tanaman liar ini bisa dimakan.

Ketika sudah pernuh, Eijun akan kembali ke sepedanya dan mengangkat kucing belangnya, menggisinya dengan sekerangjang penuh tanaman liar. Sementara kucingnya dia taruh di pundaknya. Eijun yakin kucing satu ini tidak akn kabur. Sejak pertama kali bertemu saja sudah mengerkori Eijun ke mana saja. Tapi karena Eijun khawatir kalau kucing ini akan merusak tanaman di dalam toko, Eijun jadi membuatkan rumahnya di luar toko, lebih tepatnya di taman belakang bersama beberapa kucing liar lain yang entah datangnya dari mana. Eijun rutin memberi mereka makan.

"Kita pulang yuk." ajak Eijun, dia membiarkan sedalnya dan rodanya meluncur begitu saja menuruni jalanan bukit.

Embun pagi perlahan menghilang, namun sisa-sisa jejaknya aromanya masih melekat. Daun-daun masih basah, dan dahan pohon masih lembab. Hanya orang beruntung saja yang tidak menyia-nyiakan hidup damai di pinggiran kota, rela bangun pagi dan melakukan rutinitas tidak seperti orang pada umumnya.

Hari ini tanggal lima belas Mei, hari di mana Eijun akan memberikan pesanan Miyuki Kazuya berupa dua puluh tiga tangkai bunga matahari dan sebuket kecil bunga Verdana. Awalnya Eijun berpikir untuk membuatkan kue, tapi ini adalah ulang tahun orang yang sudah mati, jadi Eijun pikir untuk memberi hadiah yang lain. Bukan sesajen atau apa. Tapi sebuah doa.

Berbelok sejenak pada kuil inari yang ukurannya kecil, tapi kalau sudah liburan musim panas apalagi pesta kembang api akan sangat ramai, Eijun memarkir sepedanya lagi dan pergi menapaki setiap tangga pda kuil.

Si Belang tidak mau ikut. Dia langsung melompat pada sadel sepeda Eijun dan memposisikan diri menghangatkan diri di sana, memejamkan mata dan ekornya melingkari tubuhnya. Kelihatan seperti kucing gemuk.

Sebelum masuk, Eijun akan mencuci tangan dan wajahnya, kemudian mengambil koin lima ratus yen dan dilemparkan pada kotak amal besar. Dia menggoyangkan tali loncengnya dan menepuk tangannya tiga kali berdoa, "Tempatkan Sawamura-san di sisimu yang paling nyaman, Kami-sama." kemudian berdoa hal lain berupa kafenya yang menjadi lebih sukses.

Lega, Eijun pun pulang dan menyiapkan bunga pesanan Kazuya setelah menata tanaman herbal yang dipetiknya pada tupperware dan disimpan di lemari es rumahnya.

Eijun memilah bunga matahari yang cocok. Dengan gunting tamannya, dia memotong tangkainya dan menaruhnya di keranjang. Sesekali dia iseng mengusap daunnya yang lebar dan menghapuskan sisa embun yang tertinggal. Membasahi tangannya sendiri dan malah menepukkan tangannya, merasakan betapa dinginnya air embun.

Eijun juga memetik beberapa Verbana, setidaknya hanya sampai satu genggaman tangan saja. Bunga ini kecil, Eijun tidak mau ambil banyak-banyak dan merusak. Bukan maksudnya pelit, hanya saja harus dibatasi dan menyayangi alam.

Keranjang rotan yang sudah dihiasi dengan warna ungu violet dan kuning jingga pun sudah dianggap cukup. Eijun menuju rumahnya di lantai dua dan menatanya sambil mendengarkan Lofi, alunan musik ringan dengan beat pelan, menenangkan jiwa dan pikiran Eijun. Mengundang senyum di wajahnya.

Hari ini dia bermimpi bertemu Tuan Sakura, panggilan Eijun untuk pria misterius yang mengajaknya berdansa dan memiliki sayap kelopak sakura yang tak terhitung berapa jumlahnya. Padahal hari ini adalah memperingati hari ulang tahun orang yang sudah tidak ada, tapi dirinya entah kenapa merasa senang.

Ketika buket besar mengikat kedua puluh tiga bunga matahari dan buket kecil mengikat sejumput Verbana selesai dihiasi dengan masing-masing pita berwarna orange dan violet, Eijun membawanya ke café dan bersiap membuka cafénya.

...

Hari ini Kazuya datang bersama Furuya sekitar pukul tiga sore, bertepatan dengan Ryouta yang baru saja datang. Saat masuk, mereka mendapati kalau semua kursi penuh dan diisi pelanggan setia yang sudah lama tidak datang berkunjung. Bahkan terlihat Yoshiyuki yang mengobrol dengan seorang perempuan berbaju formal. Entah mereka membahas apa, tapi kelihatan menyenangkan.

Kazuya melihatnya merasa damai mendadak.

"Konnichiwa, Yoshi-nii, Miyako-nee juga." Sapa Ryouta.

"Konnichiwa." Balas Eijun.

"Konnichiwa, Take-kun. Bagaimana sekolah? Sudah punya pacar?" Tanya gadis bernama Miyako itu yang disambut dengan kecueken tulen Takeuchi Ryouta, "Bosenin, gak disahut." keluh Miyako akhirnya.

"Konnichiwa, Miyuki-san, Furuya-san." Sapa Eijun berjalan mendekati kedua pemain baseball andalan tim Softbank.

"Konnichiwa." balas Furuya dan Miyuki yang tumben bebarengan.

"Maaf hari ini kursinya penuh semua. Dan lagi untuk kali ini biasanya mereka akan lama sampai sore." ucap Eijun menunduk meminta maaf.

"Di counter tak apa." Ucap Furuya, dia ingin cepat-cepat makan manisannya soalnya.

"Benar tak apa? Lalu, Miyuki-san sendiri?"

"Aku tak masalah."

Eijun mengangguk menyetujui. Dia mengambil dua kursi dan diletakkan dibalik counter. Kemudian menyerahkan buku menunya.

"Kalau gitu aku duluan ya Ei-chan, doakan aku ya." Seru Miyako menyanggul tas bermereknya. Dia juga memakai topi bundarnya dan kacamata hitamnya.

"Pasti, semoga berhasil." Eijun melambaikan tangannya pada Miyako yang pergi. Meninggalkan café yang memang ramai tapi masih terkesan nyaman dan damai.

Begitu Miyako lenyap dari pandangan Eijun segera berbalik dan berjalan ke arah counter dengan senyum terkulum lebar dan caria. "Selamat siang—Ah, kurasa yang paling tepat selamat sore, Miyuki-san, Furuya-san." Ia langsung mengoreksi kalimat sapaannya begitu menyadari saat ini sudah lebih dari pukul tiga sore.

"Sore, Yoshi-kun." Satoru balik menyapa. Matanya kemudian langsung serius menekuri buku menu dan berpikir keras hendak memesan apa.

Kazuya hanya membalas sapaan itu dengan anggukan kecil dan senyum agak terpaksa. Tapi Eijun tetap menyembut dengan hangat dan sopan. Hari ini ia akan mengesampingkan segala hal, dan tampil seramah juga sebaik mungkin di depan semua orang, terutama Kazuya. Lima belas Mei, seperti yang telah pemuda itu katakan padanya. Hari ulang tahun kekasih Kazuya yang telah tiada. Sebagai seseorang yang memiliki pekerjaan membuat pengunjung senang, Eijun akan berusaha keras menghibur suasana hati Kazuya. Membantu menghapus titik-titik kelabu yang membentenginya dari sinar kebahagiaan.

"Sudah putuskan hendak memesan apa?" Eijun bertanya dengan ramah, menampilkan senyum penuh ketulusan dan berdiri berhadapan dengan pasangan battery favoritnya itu dengan jarak terpisah counter. Kalau begini, rasanya justru ia yang menjadi pelanggan. Kazuya dan Satoru berada di bagian dalam counter, sedangkan ia berdiri di bagian luar.

Satoru menggeleng tipis, tampaknya belum bisa memutuskan hendak memesan apa. Eijun beralih pada Kazuya. pemuda itu hanya mendangi kertas menu sekilas, wajahnya kelihatan sedikit pucat dari biasa. Ada lingkaran hitam samar-samar di bawah kedua matanya. Eijun mulai bertanya-tanya, apakah Kazuya habis menangis? Tidak tidur sepanjang malam? Atau semata-mata kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Tokyo?

Kazuya lalu menghela napas singkat, ia menatap Eijun tepat ke mata. Tatapan mata yang tanpa canggung dan amat lugas. "Aku tidak begitu paham tentang teh. Jadi, bisa kau pilihkan saja untukku?"

Eijun tersenyum lebar. "Tentu."

Kazuya membuang napas. "Kali ini tidak perlu satu teko. Pilihkan saja satu sampai tiga jenis teh yang berbeda, dan masing-masing cukup satu cangkir."

Eijun mengangguk lugas. "Dimengerti." Katanya, lalu berpikir sebentar. "Miyuki-san suka rasa pahit, ya?"

Kazuya hanya menjawabnya dengan anggukan.

"Baik, saya kira saya punya beberapa jenis teh yang cocok untuk Miyuki-san." Eijun berujar kalem, lalu kembali mengalihkan pandangan pada Satoru. "Bagaimana, Furuya-san? Sudah memutuskan?"

Satoru mendongak padanya, menutup buku menu, kemudian menganggukkan kepala. "Kali ini aku ingin teh oolong dan—uh, maaf." Ponsel Satoru berdering nyaring dan terpaksa memutus kalimatnya. Pitcher SoftBank itu merogoh benda metalik berbentuk persegi panjang dari saku celananya, lalu menggeser layar dan menempelkannya ke sebelah telinga.

"Moshi-moshi, Haruichi?"

Haruichi? Eijun mengernyit mendengar nama itu. sebuah nama yang tidak umum, tapi entah mengapa rasanya ia sering mendengar. Terasa cukup familiar di benaknya. Eijun buru-buru menggeleng. Tidak seharusnya ia menguping.

"Ah, sou desu ka…" Satoru melirik singkat ke arah Kazuya, tapi Kazuya tampaknya tidak peduli. "Sepertinya tidak bisa." Suara Satoru terdengar menyesal. "Tapi aku mungkin bisa. Sudah terlambat?... Ah, kalau begitu aku datang…. Yah, yah, tenang saja…. Aku mengerti…. Sampai ketemu."

Satoru menutup telpon. Meletakkan ponsel di atas meja. Lalu membuang napas panjang, dan melirik hati-hati ke arah Kazuya. "Miyuki-senpai, aku—"

"Silakan." Potong Kazuya lugas dan bulat. Balik memandang Satoru dan tersenyum lemah. "Aku mengerti. Mereka melakukannya lagi, kan? Membakar dupa untuk menghormatinya?"

Satoru meneguk ludah, mengangguk kecil. "Ya, kali ini di tempat Chris-senpai."

Kazuya mengangguk, ekespresinya sangat datar dan terkontrol terlalu rapi sampai-sampai sangat sulit memastikan kondisinya yang sebenarnya. "Kuramochi sudah bilang padaku. Kau, pergilah. Sampaikan salamku untuk yang lain."

"Miyuki-senpai tidak ikut?" Tanya Satoru, nadanya hati-hati, tapi Eijun bisa merasakan setitik pengharapan yang ia selipkan di sana.

Kazuya menggeleng. "Kau tahu aku, Furuya. Aku tidak bisa." Ia mengulas senyum amat samar di bibirnya.

Rahang Satoru langsung terkatup sangat rapat. Pemuda itu menangguk kepada Kazuya, dengan kepala sedikit tertunduk muram. Kentara sekali sedang merasa tak enak hati.

"Kau mau pakai mobilku?" Tawar Kazuya ringan. "Pakai saja, aku bisa naik taksi."

Satoru menggeleng. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja." Ia bekata, lantas berpaling pada Eijun yang sejak tadi setia menjadi penonton. "Maaf, Yoshi-kun, aku harus pergi. Tapi kapan-kapan aku pasti mampir lagi."

Eijun menggeleng buru-buru. "Aa, tidak apa-apa. Jangan sungkan begitu, Furuya-san. Jika memang ada keperluan lain, Anda bebas memilih."

Satoru tersenyum singkat, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu bangkit dari kursinya. "Ya, hari ini aku dan teman-teman SMA-ku akan mengadakan penghormatan kepada seorang teman baik kami yang telah tiada."

Eijun mengangguk kecil, membatin dalam hati bahwa sepertinya kekasih Kazuya adalah teman yang dimaksud. Ini sekaligus menjelaskan bahwa Kazuya dan mendiang kekasihnya dulunya bersekolah di tempat yang sama.

"Aa, sou ka… Teman anda pasti senang melihat teman-temannya masih peduli."

Satoru membuang napas kecil, matanya tampak menerawang singkat, berkilat penuh rindu dan nostalgia. "Dia seorang teman, sekaligus sahabat yang luar biasa. Kami tidak mungkin bisa melupakannya."

Hati Eijun entah mengapa terasa hangat ketika mendengar perkataan Satoru. Rasanya ketulusan dan afeksi yang Satoru berikan begitu kuat hingga berhasil menembus hatinya.

"Kalau begitu aku permisi dulu, Yoshi-kun." Satoru kembali berujar, sedikit menunduk pada Eijun, dan beralih pada Kazuya. "Miyuki-senpai, aku duluan."

"Hati-hati di jalan, Furuya-san." Eijun berkata ramah, tersenyum sehangat yang ia mampu. Sementara Kazuya hanya menganggukkan kepala ketika Satoru akhirnya berbalik dan melangkah ke luar toko.

Eijun kembali menatap Kazuya, wajahnya masih muram. Tapi Eijun tersenyum cerah. "Kalau begitu, biar saya siapkan pesanan Miyuki-san. Mohon ditunggu."

"Ya, terima kasih."

.

Sepuluh menit kemudian, Eijun kembali dan membawa pesanan Kazuya. Tiga cangkir teh, dengan jenis yang berbeda-beda. Eijun menyusunnya di atas meja counter tepat di hadapan Kazuya. Masing-masing diberi tatakan kecil berbahan keramik dengan corak yang kalem. Eijun juga meletakkan madu dan lemon secara terpisah, beberapa kubik gula, dan bunga melati.

"Ini apa saja?"

Eijun tersenyum mendengar pertanyaan yang Kazuya ajukan. Ia meletakkan nampan di atas meja counter, lalu menegakkan posisi berdirinya, berdeham kecil dan mulai bicara seolah sedang mempresentasikan hal penting.

"Yang paling kiri ini adalah black tea. Berasal dari tanaman Camellia sistesis yang digulung, difermentasi, kemudian dikeringkan dan sedikit dihancurkan. Warnanya lebih pekat atau kehitaman karena mengalami proses oksidasi lebih lama. Kadar kafeinnya juga lebih tinggi, sekitar 40 miligram kafein per cangkir. Rasanya juga agak lebih pahit. Karena Miyuki-san sangat suka kopi, saya rasa black tea adalah salah satu jenis teh yang hampir mirip dan bisa digunakan untuk menggantikan kopi." Jelas Eijun panjang lebar.

Kazuya kali ini mengulas senyum padanya. Tulus, meski begitu tipis. "Ku rasa, aku akan suka yang ini." Perkataan itu membuat Eijun menjadi bertambah optimis.

"Selanjutnya yang di tengah ini adalah teh Chamomile, seperti namanya teh ini memang dibuat dari bunga chamomile. Berkhasiat untuk pengobatan insomnia, karena mengandung senyawa yang bisa membantu tidur lebih cepat dan nyanyak. Tapi di samping itu, masih banyak lagi manfaat lainnya, termasuk membantu radang pada sistem pencernaan. Kandungan antioksidannya pun tinggi."

Kazuya memandangi cangkir teh kedua, kemudian mendengus geli, cengiran di bibirnya sekarang tampak kian berseri dan lebih hidup. Terusama saat Kazuya dengan sengaja mengerling menatap Eijun bersama sebuah senyum miring penuh tantangan. "Apa kau dukun? Bagaimana kau tahu aku belakangan ini sulit tidur?"

Eijun tertawa kecil menanggapinya. "Kalau-kalau Miyuki-san lupa, pekerjaan saya ini basicnya social service. Saya melayani banyak orang, bertemu banyak orang, dan tentu saja, lama kelamaan, saya juga bisa membaca sekilas apa yang diarasakan seseorang ketika menatap wajahnya. Bisa menyenangkan dan memahami pelanggan adalah seni yang wajib dikuasai bagi orang seperti saya."

Satu alis Kazuya terangkat naik bersamaan dengan sudut bibirnya. "Kau membacaku? Menebak isi kepalaku?"

"A-aa, itu…" Eijun menggaruk belakang kepalanya canggung. "Saya tidak bermaksud lancang. Hanya saja, terjadang ekspresi seseorang bisa terlihat begitu jelas. Maaf, Miyuki-san." Eijun bergumam gugup, mendadak merasa bersalah.

Tapi Kazuya justru mendengus geli, menahan tawa. "Kenapa minta maaf?" Ia bertanya dengan santai. "Itu memang pekerjaanmu, Youshiyuki. Tidak perlu meminta maaf."

Eijun meringis kecil, dan mengangguk pada Kazuya.

"Lalu, bagaimana dengan cangkir ketiga? Teh apa lagi ini?" Tanya Kazuya, jarinya menunjuk cangkir terakhir yang berada di paling kanan.

Eijun tersenyum bangga. "Flavored tea." Ia menyebutkan nama itu dengan senyum di ujung kalimat.

"Flavored?" Ulang Kazuya, nadanya penasaran bercampur mencoba menebak-nebak.

Eijun mengangguk mantap. "Yep. Teh ini punya aroma yang lebih harum kerena dibuat dengan menambahkan rempah-rempah, bunga, dan aroma. Bisa dibilang teh yang dibumbui. Banyak tersedia dalam berbagai variasi, termasuk blueberry, kayu manis, kulit jeruk, dan lavender."

Kazuya mengernyitkan hidung ketika mendengar penjelasan itu. "Ini teh atau lotion anti nyamuk?"

Eijun tertawa renyah, sangat renyah. Kehangatan menyusup relung hatinya seiring ia tertawa geli atas pertanyaan lugu Kazuya. "Memang yang dicari adalah bahan yang punya aroma cukup kuat, Miyuki-san. Tehnya sendiri bisa memakai daun teh hijau, teh hitam, atau teh putih. Untuk kali ini saya memakai teh hijau."

"Dipasangkan dengan apa?"

Eijun mengulas senyum lagi, mengangkat dagunya sedikit lalu memberi Kazuya secuil tatapan menantang. "Coba Miyuki-san tebak sendiri. Dari aromanya."

Pelipis Kazuya berkerut. Pemuda itu lama memandangi Eijun seolah berusaha mengatakan 'Apa kau serius?' tapi Eijun terus menjawab dengan senyum dan tatapan mata hangat namun tak gentar. Sampai akhirnya perlahan Kazuya mengangkat cangkir teh itu dan mulai menghirup hati-hati aromanya.

Eijun mengamati bagaimana Kazuya dengan ragu-ragu mengendus aroma dari cairan itu. kemudian keningnya berkerut, alisnya bergelombang, dan wajahnya tampak berpikir. Eijun tersenyum memandanginya. Kazuya kemudian mendekatkan lagi cangkir ke hidungnya, kali ini ia memjamkan mata seolah berusaha memaksimalkan indra penciumannya.

Kazuya membuka mata, melirik ke arahnya. "Blueberry?" Ia menebak. Meletakkan kembali cangkir di atas meja. "Aku rasa aku mencium aroma blueberry, tapi aromanya sedikit berbeda. Terasa lebih lembut dan… alami? Seolah ada wangi belukar ikut masuk ke dalamnya."

"Apa itu buruk?" Eijun justru bertanya balik.

"Oh, tidak." Sahut Kazuya. "Sebenarnya aromanya justru jadi samgat enak dan membuat rileks. Jadi, itu benar blueberry, atau aku salah menebak?"

Eijun menggeleng dan tersenyum memuji. "Anda benar, kok. Itu memang blueberry. Hanya saja saya memetiknya langsung dari kebun pribadi. Saya merawatnya sendiri, dan berusaha membuatnya tumbuh dengan alami."

Mata Kazuya membeliak. "Kau menanam blueberry juga?"

"Yap, di atas." Eijun menunjuk ke langit-langit, maksudnya ke lantai dua. "Beberapa jenis berry sebenarnya, strawberry, blueberry, rasberry, juga blackberry."

"Wow. Kau benar-benar suka tanaman, ya?"

"Mungkin saya diberi restu oleh Dementer?" Tanya Eijun retorik. Kazuya hanya mendengus geli, dan tersenyum.

"Aku jadi penasaran ingin melihatmu memakai mahkota daun dafnah dan kemuning, dan berlarian di bukit berbunga."

Eijun terkikik geli. "Miyuki-san, itu konyol. Saya bisa disangka orang gila."

"Yah, tapi setidaknya coba sesekali pakai mahkota dari bunga dan tunjukkan padaku. Kau pasti akan mirip Idol Korea yang sering tampil dengan gaya Flower Boy."

"Well, kapan-kapan kalau begitu. Miyuki-san yang tanggug biaya pembelian bunganya, ya?"

"Wah, perhitungan sekali."

"Saya ini pebisnis."

Kazuya mendengus. Tapi bibirnya menukik simpul senyum yang tampak nyata.

"Kalau begitu selamat menikmati tehnya Miyuki-san. Saya permisi dulu untuk mengurus yang lain." Pamit Eijun ramah, mengambil nampannya lalu berbaik dan melangkah menuju dapur.

"Yoshiyuki,"

Baru satu langkah, dan panggilan itu membuatnya kembali membalikkan badan. Kazuya menatanya tepat ke matam senyumnya dikulum tipis. "Pukul berapa toko ini tutup?"

"Umm, jam enam sore."

"Boleh aku di sini sampai tutup?" Pinta Kazuya. "Kau ingat pesananku, kan?"

Eijun mengangguk kuat. "Ya, saya ingat. Saya sudah siapkan buketnya. Mau saya ambilkan sekarang?"

"Simpan dulu saja, aku akan ambil setelah toko tutup. Dan, aku ingin berada di sini dulu selama beberapa saat setelah kau tutup. Kau keberatan?"

Lengkung pelangi terbalik telukis indah di bibir Eijun. "Tidak sama sekali."

Eijun berbalik, berjalan santai ke dapur.

Sementara Kazuya menggenggam ganggang cangkir bening yang berisi teh hitam. Harum daun tehnya sangat khas, Kazuya baru memperhatikannya sekarang. Dia menyesapnya dan membiarkan rasa pahit khas teh yang bercampur dengan kesegaran tersendiri menyelumi bagian belakang lidahnya sampai kerongkongannya. Teh hitam yang termasuk teh murni ini memberi kesan tersendiri untuk Kazuya.

Berbeda dengan kopi favoritnya yang rasa pahitnya bisa membuat siapa saja langsung membuka mata, atau bahkan terbatuk saking tidak kuat dengan pahitnya, rasa pahit teh ini bagaikan Kazuya berada di hamparan perbukitan kebun teh yang sangat luas ditemani langit biru luas berhias arum manis putih berjalan pelan ditarik awan. Kazuya dibawa ke sisi lain dunia.

Kazuya baru tahu kalau teh bisa meninggalkan kesan spesial, padahal dia kira teh itu hanya untuk orang yang kebetulan ingin meroyalkan diri. Tapi dirinya salah mungin, teh itu seperti pendamai hati yang tertelan badai kuat. Menunjukkan oasis indah di tengah gurun pasir yang panas.

Senyum Kazuya terukir, senyum murni tanpa paksaan, lebih tepatnya Kazuya tidak bisa menahannya. Dia membiarkan relung hatinya menguasai raganya, mengambil alih kontrol saraf dan menggerakkan setiap ototnya untuk merilekskan diri.

Kazuya menikmati perkenalan sesungguhnya pada teh.

Dan karena teh ini masih hangat, Kazuya meraskan kalau dirinya berkeringat, walau hanya di area punggung sih. Semoga tidak bau dan menganggu yang lain. Walau sebenarna keringat karena teh dan karena olahraga baunya akan berbeda.

Kazuya berhasil menghabislkan gelas pertama. Dia kemudian memilah antara chamomile atau flavored. Antara bunga dan buah.

Blueberry adalah rasa yang bersahabat untuk segala jenis makhluk, sementara bunga memiliki rasa yang sangat pahit sambil membekas selama satu jam bisa-bisa. Kazuya belum pernah merasakan memakan bunga asli sih, temannya yang pernah. Dan kata mereka tidak enak. Ya jelas sih, untuk apa memakan sesuatu yang sejatinya untuk dinikmati keindahannya. Beda dengan blueberry gunanya memuaskan lidah dan lambung.

Kazuya jadi parno sendirian membayangkan rasa pahit chamomile, jadi dia memilih flavored saja.

Dalam ekspetasi Kazuya, rasa pekat buahnya akan sangat dominan sampai membuatnya tidak memiliki selera. Karena orang-orang pasti menyampurkan gula dengan blueberry, entah itu dihancurkan atau bagaimana. Kazuya secara teknis tidak tahu bagaimana, tapi dia membayangkan prosesnya dari merasakannya. Jadi Kazuya tidak berharap untuk yang satu ini, walau senang juga ditawarkan.

Tegukan pertama, Kazuya terpukau.

Tegukan kedua, Kazuya masih tidak percaya.

Tegukan ketiga, Kazuya jatuh cinta pada teh ini.

Dia merasakan rasa asam blueberry, tapi juga merasakan pahit segarnya teh. Dia sama sekali tidak merasakan ada unsur gula sama sekali. Murni hanya teh dan blueberry. Bagaimana cara Yoshiyuki membuatnya? Direndam lama? Dihancurkan? direbus? Kazuya tidak bisa membayangkan. Tapi dia juga samar-samar mencium bau khas sesuatu yang... dipanggang? dijemur? Kazuya bingung. Dia berpikir keras sampai melipat tangannya dan memejamkan mata mengerutkan alis.

Menyerah, Kazuya mengambil hpnya dan mencari tahu cara pembuatannya. Yang dia dapat hanyalah pencarian berupa coktail. Padahal yang Kazuya cari bukan ini. Sepertinya Yoshiyuki punya cara tersendiri. Nanti dia tanya langsung saja.

Terlalu menikmati tehnya sambil menonton ketiga gadis yang duduk dekat jendela sedang berfoto dengan Yoshiyuki, Kazuya tidak sadar kalau flavored teanya sudah habis. Begitu meyadari kalau dirinya hanya menyesap angin, Kazuya malu sendiri dan besikap sok keren dengan sok sibuk dengan hpnya yang nyatanya masih menunjukkan sandi nomornya.

Tapi Kazuya senang, dua dari ketiga teh yang disajikan Yoshiyuki berkesan sangatlah dalam. Seperti mengkikis kesedihannya perlahan, membuat cahaya menerobos dari sela-sela lubang yang sejak dulu tidak bisa ditutupi. Bau khas mataharinya, kehangatannya, terangnya, dan auranyanya. Tangan Kazuya seperti ditarik keluar dari kubang gelap yang menelannya perlahan, memaksanya berlari mengarungi hamparan kebun menuju bukit di depan.

Kazuya tertawa kecil, perumpamaan macam apa ini?

Kiasan aneh, berbeda dengan kopi. Dua makna yang berebeda arti walau satu kata yang sama. Rasa pahit. Kopi yang menarik Kazuya lebih dalam ke bingkai lalu kelam, teh yang menarik Kazuya ke masa depan bercabang. Kalau Kazuya jatuh cinta pada kedua rasa ini, bisa-bisa dia ditarik ulur perasaananya sendiri.

Kelopak mata Kazuya terpajam. Dia menumpu lengannya pada kounter dan menunduk. Membiarkan teh terakhirnya sejenak dan meresapi apa yang sudah terjadi selama ini.

Menarik siapa saja pada lingkar hidupnya, menemaninya yang selama ini sendirian. Walau bukan keinginan Kazuya, tapi tarikan itu seperti magnet kuat, walau tidak bisa mempersatukan. Ada pembatas beton kasat mata di sana. Siapa saja bisa masuk, tapi tidak bisa menghancurkan. Sementara di sana, Sawamura Eijun, membawa palu yang sangat kuat dan menghancurkannya. Membuat Kazuya terpaksa mau tidak mau menerima perasaannya yang melenceng dari jalurnya. Dirinya yang harusny hanya terfokus pada baseball kesukaannya, malah ada jalan bercabang berupa mencintai sosok pitcher kidal super berisik.

Pertemuan menggelikan, pengalaman unik, dan saling melindungi dengan caranya sendiri.

Kazuya ingat, saat dirinya ketahuan cedera, semua menatap Kazuya dengan rasa prihatin. Sirat mata mereka mengutarakan jelas, "Kenapa kau menyembunyikannya? Kau gila apa? Mau nekat tidak bisa main baseball lagi?" dan Kazuya hanya tersenyum seraya peluh keringat membanjiri kulitnya.

Tapi di sana Eijun, tersenyum padanya mengatakan, "Miyuki-senpai itu kuat, aku percaya dia bisa mengatasinya." Tanpa mempedulikan kalau dirinya cedera. Satu-satunya orang yang melenceng di situasi yang seharusnya semua prihatin.

Hanya Sawamura Eijun.

Gara-gara itu, semenjak Eijun pergi dari hidupnya selamanya, Kazuya tidak bisa tenang. Entah karena ketergantungan atas Eijun atau bagaimana, Kazuya selalu menyeret seseorang memasuki area nyamannya dan memaksa mereka menemani dirinya larut dalam kesedihan samar-samar. Memaksanya menemani Kazuya tidur walau hanya menginap biasa atau terpisah ranjang berbeda.

Kalau sendirian, Kazuya hanya akan teringat Eijun. Bermimpi kepingan masa lalu mereka. Isi pikirannya, gendang telinganya, matanya, indranya, semuanya akan otomatis teringat pada Eijun.

Sakit, tapi tidak berdarah. Kazuya ingin menghilangkannya tapi tidak bisa. Mereka berdua terlanjur dililit rantai kuat tak terpatahkan. Tangan mereka masih saling bertautan tanpa ada niat melepasnya. Kazuya merasa, benang merah mengikat kedua jari manis mereka. Bahkan sampai saat ini.

Kazuya yang diselimuti kain hitam dengan sayap yang bulunya mulai berguguran, dan Eijun yang diselimut kain putih dengan sayap utuh siap kapan saja dikepakkan.

Haruskah dunia sekejam ini?

...

Jam sudah menunjukkan pukul enam kurang seperempat. Semua pelanggan sudah pulang dan Ryouta berpamitan, tentu dengan mengingatkan Yoshiyuki lebih dahulu soal bahan hari ini yang sudah habis lalu pulang berjalan kaki, menyematkan earphone di lubang telinganya.

Kata Yoshiyuki, lagu yang selalu didengarkan Ryouta kebanyakan lagu galau. Padahal Ryouta tidak punya pacar, tapi modelnya seperti selalu tertuju pada satu orang di luar sana.

Kazuya hanya tersenyum.

Dia lalu teringat kalau malam ini akan tidur di penginapan sendirian. Tidak ada Furuya, hanya ditemani gitar bolong yang sengaja ditinggalkan. Kemudian tanpa diundang, mimpi kelam masa lalu akan berputar acak, menarik Kazuya pada arus deras kepahitan hidup.

Seandainya ada Furuya, Kazuya pasti hanya mimpi berupa hitam kelam. Dan ketika dia bangun, tiba-tiba pagi sudah datang dan Kazuya akan memulai harinya dan berjalan mengarungi kota bersama Furuya mencari tempat bersantai.

Kazuya tidak ingin tidur sendirian untuk malam ini. Ini hari ulang tahun Eijun, setidaknya dia ingin tidur ditemani seseorang walau hanya berbeda ranjang. Bukan maksud Kazuya tidak mau mengenang kekasihnya, hanya masa lalu membahagiakan itu tidak bisa diulangi lagi. Kazuya lelah melihatnya.

Kazuya mendongak pada Yoshiyuki yang baru saja kembali menyirami tanaman. Dia membalik papan dari bertuliskan 'buka', digantikan ke 'tutup'. Jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan lembayung sore sudah memenuhi ruangan yang didominasi tanaman ini.

"Miyuki-san, bunganya saya serahkan sekarang?" Tanya Yoshiyuki.

"Ya." Jawab Kazuya mengangguk.

Yoshiyuki mengambil dua buket bunga matahari dan sebuket kecil Verbana. Dia menyerahkan keduanya pada Kazuya dengan senyum manis dan kilat mata selembut sutra.

Kazuya menerimanya, meneliti kedua bunga dengan seksama, "Cantik." Pujinya.

"Terima kasih, saya baru memetiknya tadi pagi." Balas Yoshiyuki, "Maaf kalau saya lancang, saya boleh bertanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kedua bunga ini akan anda apakan? Anda rawat? Kalau iya, saya sarankan ganti airnya setiap dua hari sekali dan letakkan di dekat kaca. Dua bunga ini tipe yang sangat membutuhkan cahaya matahari." Saran Yoshiyuk sangat antusias menjelaskan keistimewaan kedua bunga.

Kazuya masih setia tersenyum. Dia meneliti kedua bunga, lalu kembali mengembalikannya pada Yoshiyuki, "Untukmu."

Terdiam, senyum Yoshiyuki menjadi kaku. Atensi pupilnya bergantian antara senyum Kazuya dan kedua buket bunga yang dikembaliken ke dirinya. Yoshiyuki meminta penjelasan dari sirat matanya.

"Walau ini ulang tahunnya, aku sebenarnya tidak tahu harus memberikan bunga ini pada siapa. Aku tidak mau pergi ke yang kata mereka adalah tempat peristirahatannya. Aku tidak pandai merawat tanaman. Aku juga tidak punya kenalan yang tahu cara merawat bunga selain dia."

Kazuya diam sejenak, netra karamelnya memikat netra emas Yoshiyuki, "Jadi aku putuskan berikan kepadamu. Anggap saja rasa terima kasihku telah memenuhi permintaan aneh tak masuk akal."

Jujur, Yoshiyuki merasa senang bukan main. Dia menerima kedua buket itu dan menatapnya lama. Padahal bunga-bunga ini seharusnya ditunjukkan pada Sawamura, kekasih Kazuya yang sudah lama pergi. Tapi malah dikembalikan, tidak, yang benar diberikan secara cuma-cuma.

Makna yang dalam itu, secara cuma-cuma...

"Tapi kenapa? Saya hanya orang luar." Tanya Yoshiyuki masih tidak percaya.

Kazuya menyandarkan dirinya pada meja counter sambil menerawang pada lantai keramik bercorak, "Aku sendiri juga tidak tahu alasannya." Jawab Kazuya, "Tapi untuk pertama kali aku merasa tenang di sini. Berkat teh yang kau berikan juga. Terima kasih. Dan tenang saja, aku akan tetap bayar kok."

"Tidak, bukan itu maksud saya..." Yoshiyuki tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika melihat senyum Kazuya. Dirinya sendiri malah yang malu. Menawan tapi bercaun. Dia jadi melirik ke arah lain, pada hamparan bunga yang tertata rapi di tokonya seraya bersemu malu, "Saya menyerah."

Tangan kanan Kazuya terangkat, mengusap rambut ikal Yoshiyuki, terasa lembut dan lebat di tangan besar Kazuya.

.

Eijun mengerjapkan mata. Mendongak tipis dan memandang tercengang ke arah Kazuya. Sentuhan dari telapak tangan Kazuya pada helaian rambutnya itu diluar dugaan. Ia tak tahu harus bereaksi apa ketika rasa hangat merembat perlahan seperti kupu-kupu susu yang berterbangan gemulai di sepanjang aliran darahnya.

Tapi Kazuya hanya mengulas senyum, kali ini senyum itu bahkan sampai menyentuh ke kedua mata coklat karamelnya. Eijun merasakan ketulusan di senyum itu. Tidak pamer atau berusaha berlebihan, namun mampu menjerat hati dengan cara-cara yang manis sekaligus maskulin.

Eijun berkedip dan berdeham kecil untuk mengusir tatapan melongo dari wajahnya. Dan Kazuya pun menarik tangannya kembali. "Trims, Yoshiyuki." Kazuya berkata ringan, lugas, dan manis.

Eijun mengusap belakang telinganya dan memberi cengiran agak salah tingkah. "Terima kasih kembali. Saya merasa terhormat kalau Miyuki-san puas." Ujarnya. Lalu menghela napas kecil dan mulai berpikir. Ini aneh. Eijun terbiasa dengan kontak fisik lebih dari sekadar mengusap rambut, ia terbiasa bahakn dengan rangkulan bersahabat dan pelukan hangat. Lalu mengapa setiap kontak fisik sederhana yang Kazuya berikan untuknya berhasil membuat jantungnya berdetak anomali dan mendesir aneh?

"Aa, Miyuki-san mau pindah tempat duduk? Toko sudah kosong sekarang, mungkin lebih baik kalau pindah ke kursi yang biasanya."

Kazuya diam sebentar, melirik bergantian ke meja bundar dan dua kursi yang berdiri di dekatnya, saling berhadapan. Kemudian Kazuya melirik Eijun lagi, memberi anggukan persetujuan.

Mereka akhirnya sama-sama berjalan menuju meja bundar yang biasa Kazuya tempati bersama Furuya Satoru. Lampu di dalam toko ketika malam tidak terlalu menyilaukan, sedikit terasa remang namun masih mampu dipakai melihat dengan baik. Dinding kaca membiaskan pemandangan kota pada malam hari. Lampu-lampu yang berkerlip di luar sana nyaris tampak seperti hamparan bintang dengan beragam warna.

Eijun membawa serta dua buket bunga itu lalu meletakkannya hati-hati di atas meja. Buket bunga mataharinya cukup besar, sementara verbana itu cukup mungil dan pas digenggam. Eijun berpikir betapa seseorang bernama Sawamura itu akan senang seandainya menerima bunga secantik ini dari orang yang dicintainya.

Mereka berdua duduk saling berhadapan. Dengan buket bunga di tengah-tengah menjadi pemisah sekaligus penghias dan penyegar situasi. Sebenarnya, Eijun ingin mengetahui lebih banyak tentang mendiang kekasih Kazuya itu. Ia ingin tahu sudah berapa lama mereka menjalin hubungan. Bagaimana kisah cinta mereka berjalan. Apa yang membuat seorang Miyuki Kazuya begitu mencintainya. Bahkan juga bagaimana keseharian yang dahulu mereka lalui bersama sebagai sepasang kekasih. Orang seperti apa Sawamura di mata Kazuya? Sehebat apa dia sampai bisa menjerat hati laki-laki seperti Miyuki Kazuya selama bertahun-tahun bahkan setelah kematiannya.

Eijun penasaran. Namun ia tak mampu menggerakkan lidahnya untuk bertanya. Saat ini—dan entah sampai kapan—masih ada kabut yang menyelubungi dirinya dan Kazuya. Sebuah dinding yang mewujud dari tumpukan bata beresensi formalitas dan hubungan yang asing.

Sementara itu ekor matanya sesekali melirik ke arah Kazuya yang masih duduk dengan tenang. Memandangi bunga-bunga matahari dengan mata berkilat penuh nostalgia. Eijun bisa membayangkan kenangan-kenangan bersama Sawamura itu saat ini tengah berkelana dan memenuhi kepala juga hati Kazuya. Tapi setidaknya, kali ini Kazuya sudah bisa menata perasaannya ke arah yang lebih baik. Tetap merindu. Dan ditengah rindu itu ia memutar roll film kisah-kisah manis antara dirinya dan Sawamura.

Eijun kemudian berdeham kecil. Berhasil mengambil perhatian Kazuya hingga menoleh padanya. Eijun memasang senyum. "Miyuki-san mau merayakannya?"

"Merayakan apa?"

"Ulang tahun Sawamura-san." Jawab Eijun lugas, tersenyum berusaha terdengar dan terlihat tulus.

Kazuya mengerutkan alis. "Di sini? Sekarang?"

Eijun mengangguk. "Yep. Ini belum terlambat, kan? Sekarang masih tanggal lima belas."

"Bagaimana caranya?"

"Ah, etto…" Eijun berpikir, kemudian merutuki dirinya sendiri. Semua cake atau pudding telah ludes karena hari ini ia kedatangan banyak pengunjung. "Anu, saya memang sudah tidak punya cake atau makanan manis lainnya, sih. Tapi mungkin kita bisa pakai alternatif lain untuk menggantikan kue ulang tahun. Kalau Miyuki-san setuju."

Kazuya diam menatapnya, lurus ke mata, berpikir, dan menimang-nimang. Eijun menanti dengan gelisah. Bertanya-tanya apa ajakannya terlalu berlebihan dan memaksa. Bagaimana jika Kazuya justru merasa tersinggung, bertambah sedih, atau sakit hati?

"Baiklah."

Eijun membeliak tak percaya. Kazuya baru saja berkata dengan suara amat lugas. Terlebih lagi melempar senyuman padanya.

"Mari kira rayakan ulang tahunnya bersama, Yoshiyuki."

Eijun berusaha mengekang kebahagiaan di hatinya ketika mendengar ajakan sekaligus kalimat persetujuan yang meluncur ringan dari belah bibir Kazuya. Ia tersenyum lebar, mengangguk, lalu bangkit dari kursinya. "Kalau begitu Miyuki-san silakan tunggu sebentar, saya akan ambilkan kue ulang tahunnya."

Kazuya mengangguk. Dan Eijun pun meluncur secepatnya menuju dapur.

Sampai dapur. Ia merasa sedang tersesat. Matanya melirik ke segala penjuru. Mencari bahan yang bisa ia gunakan untuk kue ulang tahun. Berpikir, berpikir, berpikir, Eijun memaksa otaknya bekerja keras dan menemukan secercah cahaya ide. Kemudian ia melonjak kecil dan melompat seperti bocah ketika satu ide melesat seperti bintang jatuh di kepalanya.

Ia buru-buru menuju satu spot di dapurnya. Tesenyum saat melihat kilau cantik suatu benda. Eijun memilih satu yang terbaik, meletakkannya dengan hati-hati di atas sebuah piring berbentuk lingkaran datar. Eijun membuka rak atas, lalu mengeluarkan sebotol saus karemel, dan menghias pinggiran piringnya dengan cairan kental itu. Membentuk pola gelombang yang melingkar. Kemudian Eijun membuka laci, beruntung, ia menemukan dua buah lilin kecil di sana. Bersama senyum senang, Eijun mengambil pisau kecil, pematik gas, lalu segera berjalan ke tempat Kazuya sudah menanti.

Tidak sampai sepuluh menit, jika perhitungan Kazuya tidak meleset, dan Yoshiyuki sudah kembali. Membawa sepiring kecil yang belum bisa Kazuya tebak isinya. Begitu pemuda itu sampai di hadapan Kazuya, Kazuya membelalakkan mata. Sedikit tidak percaya dengan alternatif kue ulang tahun yang dipakai Yoshiyuki.

Yoshiyuki mengulas senyuman, lalu duduk di hadapannya. Kue ulang tahun tak biasa itu diletakkan di tengah-tengah meja, setelah sebelumnya Yoshiyuki menggeser sedikit posisi dua buket bunga.

"Itu kuenya?" Kazuya menunjuk piring di tengah-tengah mereka dengan jari telunjuknya. Mata menyipit agak bingung.

Yoshiyuki tertawa canggung. "Maaf, benar-benar tidak ada kudapan lain yang tersisa." Ia berkata, lalu nyengir melankolis.

Kazuya memandangi apa yang tersaji di piring dengan perasaan tak bisa dijelaskan. Geli, kaget, dan terpukau, mungkin? Ia mendengus. Sebutir apel merah berukuran cukup besar, dengan kulit mengilap tertimpa cahaya lampu, adalah kue ulang tahun alternatif yang digunakan Yoshiyuki. "Apel."

"Yep. Apel merah."

Lalu Yoshiyuki mengeluarkan pisau kecil dan memangkas bagian pangkal apel dengan begitu lihai, menyisakan bentuk permukaan datar dan daging buah apel putih kekuningan yang membentuk pola hati. Kazuya memandangi apel itu, dan hidungnya langsung dapat mencium aroma apel yang khas, perpaduan asam dan manis yang tertakar sempurna. Alami dan natural. Yoshiyuki kemudian menusukkan dua batang lilin mungil di atas permukaan apelnya. Lalu ia menyalakan pematik, dan membiarkan sumbu lilin itu terbakar api.

Kazuya terpaku.

Sebutir apel merah, terpotong membentuk pola hati, dan dua lilin yang menyala dengan api bergerak hidup di atasnya. Apel merah bisa melambangkan cinta—you are the apple of my eyes—kau adalah segalanya di mataku. Otak dan hatinya merepresentasikan lingkaran apel itu sebagai bentuk hati. Ruang cinta yang mengikatnya. Dua lilin yang menyala berdampingan sebagai dirinya dan Eijun. Berdiri berhadapan dengan api kehidupan yang menyala dan menerangi satu sama lain. Jantung Kazuya berdetak melambat, lalu berhenti, dan berdetak lebih cepat.

"Miyuki-san,"

Suara Yoshiyuki berhasil menarik kesadarannya. Kazuya menoleh. Wajah manis Yoshiyuki membayang jingga di balik nyala api. Membuat sirat keemasan di matanya makin berkilau. Mendatangkan desir-desir kerindungan di hati Kazuya. Yoshiyuki tersenyum hangat padanya.

"Silakan dirayakan, hari ulang tahun Sawamura-san." Ujar Yoshiyuki. Nadanya tulus dan terasa lembut membuai.

Kazuya kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu harus bagaimana. Haruskah ia meniup lilinya?

"Ah, boleh pinjam ponselnya Miyuki-san?"

Kazuya menoleh lagi. "Untuk apa?"

"Saya akan merekamnya. Miyuki-san duduk di sana, bersama kue ulang tahun dan buket bunga untuk Sawamura-san. Ucapkan selamat ulang tahun dan isi hati Miyuki-san padanya. Dan saya akan merekamnya dari sini."

"Rekamannya mau diapakan?"

Yoshiyuki tersenyum lugas. "Dikirim ke Sawamura-san tentu saja."

Kazuya nyaris melongo. "Bagaimana bisa?"

Yoshiyuki memberinya senyuman maklum. "Sawamura-san pasti punya alamat e-mail, kan? Kita bisa mengirimkan videonya ke e-mail Sawamura-san. Personal. Khusus. Dan hanya untuk Sawamura-san."

Kazuya ingin memprotes. Memangnya alam baka menyediakan ponsel dan wifi? Tapi ia kelewat terpukau dengan ide tak biasa yang dianjurkan Yoshiyuki hingga hanya mampu terdiam.

"Miyuki-san tahu? Orang zaman dahulu biasanya menulis surat kepada seseorang yang telah tiada. Mengungkapkan isi hatinya, serta apapun yang hendak dikatakan namun tak sempat. Lalu, mereka akan membakar surat itu. Membiarkan asapnya mencapai langit. Mereka percaya bahwa kata-kata yang terbakar itu akan mencapai tempat orang-orang yang telah tiada."

Yoshiyuki mengulas senyum lagi, giginya yang rapi dan putih cemerlang menyembul dari balik bibirnya.

"Berhubung sekarang zaman sudah maju. Kita gunakan saja e-mail. Saya rasa itu sama saja."

Kazuya memandanginya tanpa bersuara.

"Karena yang paling tulus, akan selalu bisa menggapai jarak sejauh apapun."

Kazuya menunduk, meletakkan satu tangan untuk menutup sekitar matanya. Berkedip menghalau setitik air mata yang entah bagaimana bisa muncul. Ia lantas buru-buru kembali mendongak, melempar senyum balasan kepada Yoshiyuki yang masih setia menanti. Kazuya memberi anggukan kepala, dan merogoh sakunya untuk mengulurkan ponsel kepada Yoshiyuki.

Yoshiyuki menerima ponselnya, lalu langsung memposisikan kamera perekam. "Kita mulai sekarang?"

Kazuya berdeham. Salah tingkah tanpa alasan. Kegugupan merayap dan membuat buku-buku jarinya terasa dingin. Dengan kamera yang mengarah langkung padanya. Merekam wajahnya, juga sebutir apel dengan dua lilin menyala dan buket bunga cantik. Kazuya merasa sedang berhadapan dengan Eijun, dan bersiap mengajukan lamaran.

"Miyuki-san?"

Kazuya berdeham agak keras, menegakkan posisi duduknya, merapikan rambut depannya sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua tekad dan keberanian, juga sisa-sisa kekuatannya. Ia menatap ke kamera ponsel dan mengangguk. "Kau boleh merekamnya."

Tangan kanan Yoshiyuki kemudian terbuka lima jari, berubah empat, tiga, dua, satu, dan mengepal. Waktunya untuk bicara.

"Hai…?"

Sapaan pertamanya terdengar agak serak dan keki, Kazuya berdeham kecil. Lalu mencoba tersenyum sebaik-baiknya. Ia membayangkan Sawamura Eijun, di suatu tempat yang jauh, akan melihat ini.

"Well, selamat ulang tahun." Kazuya mencoba menekan getir yang mendadak muncul memenuhi jalur napasnya. Ia harus tersenyum.

"Kau dua puluh tiga tahun sekarang, huh? Kau sudah dewasa, yaa. Aku penasaran seperti apa kau sekarang. Apakah sifat kenakakan dan hobi ngambekmu itu sudah hilang?"

Kazuya tersenyum mengenang, membasahi bibir bawahnya singkat. Lalu tangannya mengangkat piring berisi apel berlilin. "Ini kue ulang tahunmu. Jangan protes, tidak ada kue di sini. Jadi terima saja. Ah, lalu ini," Tangannya meraih buket bunga matahari. "Ini juga untukmu. Kau suka, kan? Jumlahnya dua puluh tiga, sesuai usiamu hari ini. Dan ini," Ia meraih buket yang lebih kecil. "Kau dapat hadiah tambahan dari seseorang."

Kazuya membuang napas perlahan, memejamkan mata singkat lalu menatap lurus ke kamera ponsel. "Aku sangat merindukanmu…" Ia berbisik di balik api yang menari. Matanya berkaca terpantul jingga oleh nyala api. "Ada banyak hal ingin kubicarakan denganmu. Banyak yang ingin kuberikan padamu. Banyak tempat yang ingin aku kunjungi bersamamu. Banyak. Sangat banyak…" Suaranya mengabur, pandangannya juga. Kazuya berkedip, mengapa setelah dua tahun, hatinya tetap terasa sepilu ini?

Tarik napas dan memaksa tersenyum, "Kamu di mana sekarang, Sayang?" Napasnya tercekat kecil. "Apa tempat itu lebih baik? Apa kamu kesepian? Apa kamu juga merindukanku?"

Pandangan Kazuya mulai memburam karena tumpukan air mata yang tak bisa lagi ia tahan. Napasnya bergetar, sesak dan rindu. Hatinya runtuh, retakan demi retakan tercipta akibat dihempas badai rasa kehilangan yang mendalam.

"Rasanya aku masih menolak percaya kalau kamu pergi secepat ini. Hatiku belum ikhlas, bahkan hingga detik ini. Beri aku waktu, yaa. Biarkan aku seperti ini dulu untuk beberapa saat, aku janji padamu aku akan bangkit. Nanti."

Satu tarikan napas panjang, dan Kazuya tersenyum sebaik mungkin ke arah kamera selagi bibirnya berujar.

"Aku mencintaimu, Eijun."

.

.

.

Bersambung
.

.

A/N: maafkan kami update lama, laptop valky mendadak tidak mau nyala dan malah terselimut kegiatan lain. Valky juga minta maaf sama Aiko-san. Mohon maaf sebanyak-banyaknya.