"Aku mencintaimu, Eijun."

Ketika ketiga kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Kazuya, Eijun hanya bisa mengatupkan bibirnya sementara dadanya terasa berdesir aneh. Kazuya yang menyebutkan nama 'Eijun', nama yang mirip dengan nama panggilannya sendiri. Ucapan cinta yang mengalir layaknya sungai tenang tapi riak airnya deras, bukan sungai yang dalam tapi kilauannya indah. Senyum pilu memukau hati, banyak hal yang Eijun ingin ketahui.

Tapi semua itu teralihkan oleh air mata Kazuya yang tidak bisa dia sendiri hentikan. Kazuya yang menangis ikut membuat Eijun ingin menangis. Kesedihan itu nyata berada di depannya, Eijun ingin menghapus kesedihan itu sekarang juga.

Dia hentikan acara merekamnya dan menaruh handphone milik Kazuya di atas meja. Dia berjalan pelan mendekati Kazuya, kedua tanganya terulur untuk memeluk kepala Kazuya dan menyandarkan keningnya pada bahunya, sementara dirinya duduk di sandaran kursi yang miring. Dia biarkan air mata itu mengalir deras di sana, membiarkan Kazuya mengeluarkan semua kesedihan yang akhirnya meluap begitu saja.

"Keluarkan semuanya, Miyuki-san." Lirih Eijun mengusap rambut Kazuya, tidak mengindahkan hal lain lagi.

Kazuya melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja. Kontrol tubuhnya reflek memerintahkan kedua tangannya untuk melingkar di pinggang Eijun, menyembunyikan tangisnya di bahu pemuda yang umurnya lebih muda darinya. Isakan kecil itu teredam, Kazuya juga menggigit bibir bawahanya. Rasa sakit fiisik yang sengaja dia ciptakan tidak bisa mengalahkan rasa sakit di hatinya.

Kazuya menunjukkan sisi terlemahnya pada Yoshiyuki Eijun.

.

Ace of Diamond /ダイヤのA disclaimer by Terajima Yuuji

ENDIAFERON © Ohtani Kyko

kami mendapatkan keuntungan berupa kepuasan batin atas pembuatan fanfiksi ini

.

Sambil menutup mulutnya dengan tangan kananya, Kazuya melirik ke jalanan yang sesekali ramai oleh kendaraan. Semburat merah di pipinya sejak tadi tidak bisa disingkirkan, pupilnya juga tidak bisa menatap Yoshiyuki lurus, "Maaf, tadi aku menangis."

"Uhm, tak apa." Jawab Yoshiyuki menggeleng kecil. Baginya wajah malu-malu Kazuya itu lucu dan menggemaskan, "Miyuki-san terlihat jadi lebih lega sekarang. Kalau menurut saya sih."

"Tolong jangan dibahas, aku malu." Pinta Kazuya, dia sudah membuang muka.

Yoshiyuki tertawa kecil, "Ah iya, Miyuki-san, boleh saya bertanya sesuatu sebelum anda pulang?" Tanya Yoshiyuki, Kazuya hanya mengangguk sebagai respon dan sedikit melirik Yoshiyuki menanyakan apa itu, "Nama kekasih anda itu Sawamura Eijun kah?"

Kazuya mengangguk lagi.

"Ohh..." Yoshiyuki hanya bisa tersenyum. Nama panggilan mereka memang mirip. Dan Yoshiyuki jadi penasaran, orang seperti apa Sawamura Eijun ini sampai bisa meluluhkan hati Miyuki Kazuya. Yoshiyuki ingin mengenalnya lebih dekat.

Kazuya akhirnya menurunkan tangannya. Walau dia sudah menghadap Yoshiyuki, tapi kilat matanya masih tidak berani menatap Yoshiyuki, "Kalau dipikir aku belum tahu siapa nama panggilanmu."

"Ah, Miyuki-san belum tahu ya?" Kazuya mengangguk, "Tolong jangan kaget ya. Yaa, sebenarnya saya sendiri juga kaget sih." Balas Yoshiyuki canggung. Tapi dia mendongak pada Kazuya seraya tersenyum lembut, tidak ada cahaya sore, yang ada hanya cahaya lampu jalanan yang menghiasi senyuman kecil itu, "Eijun, Yoshiyuki Eijun desu."

Dapat dilihat jelas kalau Kazuya langsung kaget bukan main dan memfokuskan seluruh perhatiannya pada Yoshiyuki, tidak percaya seratus persen. Walau itu memang kenyataannya.

"Saya terkejut waktu tahu kalau nama panggilan saya dan kekasih anda itu mirip. Walau dari segi kanji saya tidak tahu apakah mirip atau tidak. Tapi ini kebetulan yang benar-benar mengejutkan. Saya baru pertama kali ini menemukan orang yang memiliki nama panggilan yang sama seperti saya. Rasanya, bagaimana ya? Aneh." Yoshiyuki terlihat canggung, dia sedikit takut menginjak ranjau kesedihan Kazuya lagi.

Kedua bahu Yoshiyuki mendadak ditepuk, membuat empunya langsung tersentak kaku, "Eijun." Panggil Kazuya sangat lantang.

"Hai?"

"Eijun!"

"H-hai?"

"Eijun!"

"Miyuki-san tak apa-apa?" Tanya Yoshiyuki karena mulai merasa aneh. Tapi Yoshiyuki menangkap kerlap kerlip bintang yang berpendar cerah di iris karamel itu. Senyum yang merekah lebar, menarik garis dari ujung pipi ke ujung pipi. Yoshiyuki terpana. Yoshiyuki merasa ditarik gemerlap bintang itu, mengarungi langit karamel.

"Eijun..." panggil Kazuya lagi, kali ini lebih lembut dari tadi. Dia malah tertawa kecil, "Aku rasa dua puluh tiga itu benar."

"Eh?"

Kazuya mengacak rambut ikal Yoshiyuki asal sampai berantakan. Dia baru berhenti ketika seruan protes terdengar, "Besok aku datang lagi." Ucapnya. Lalu ia merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar ribu yen dari dompet dan menyerahkannya pada Yoshiyuki. "Ini bayaran untuk bunganya."

"A-A? Ba-baik." Yoshiyuki menerimanya sambil mengangguk kecil.

Kazuya pun pergi dan melambai kecil pada Yoshiyuki. Dia menghilang di persimpangan jalan menuju penginapan.

Satu menit.

Lalu semua yang tertahan akhirnya bisa dilepas. Kepala Eijun langsung meledak dan mengeluarkan asap pink bersamaan dengan wajahnya bersemu berat. Dia berjongkok memeluk lututnya sekaligus wajahnya. Mengusap kembali ubun-ubunnya yang sudah dua kali diusap dan diacak Miyuki Kazuya.

"Gawat, aku benar-benar jatuh cinta padanya..."

Malam itu, di sisa-sisa detik tanggal lima belas Mei, Kazuya tetap terjaga. Matanya memandang kanopi kamar penginapannya, sementara pikirannya melayang ke segala penjuru. Meski demikian, secercah harapan baru telah membentuk titik di hatinya. Masih berupa titik kecil, namun Kazuya akan berusaha keras untuk merawatnya, menjaganya hingga tumbuh dengan kokoh.

Benaknya berkelana ke beragam dimensi. Mencoba menarik garis dari segala arah. Kemungkinan-kemungkinan yang ia susun bagaikan lego. Sesaat sebelum benar-benar terlelap, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Kuramochi Youichi.

"Hmm?" Gumam Kazuya begitu meletakkan ponsel di sebelah telinganya.

Ada suara hela napas lega dari seberang telepon. "Miyuki, kau masih di Nagano?" Dari suaranya Kazuya langsung tahu Youichi tengah berusaha keras untuk tidak meledak.

Kazuya tersenyum kecil, meski tahu Youichi tak bisa melihatnya. "Ya, aku akan terus di sini sampai besok. Lusa baru kembali. Ada masalah?"

"Ada masalah, MATAMU?!"

Bentakan Youichi membuat Kazuya reflek menjauhkan ponsel dari daun telinganya. Namun ia kemudian mendengus geli. "Kau khawatir padaku, Kuramochi-kun?"

"Bangsat!" Umpatan setulus hati. "Kau ini menganggapku asistenmu atau tidak sih? Sama sekali tidak memberi kabar. Pergi semaunya sendiri, mengabaikan semua pesan dan teleponku segala! Nggak usah sok penting kau, Sialan!"

"Kau ini menganggapku sebagai boss-mu atau tidak sih? Bentak-bentak tengah malam lewat telepon, aku bisa membatalkan kontrak kerjamu lho~" Godanya, tak dapat menahan diri untuk tidak menyeringai geli.

"Oh, bagus kalau begitu! Aku juga capek lama-lama bekerja dengan orang sepertimu. Sudah maunya enak sendiri, absurd, licik, hidup pula."

Kazuya tertawa geli. "Duh, sanjunganmu indah sekali. Aku tersentuh."

Suara dengusan kasar. Lalu Youichi hanya diam lama, dan Kazuya tahu pemuda itu tengah berusaha berpikir untuk mengajukan pertanyaan sensitif padanya. Maka Kazuya berdeham kecil, lalu membuang napas singkat. "Apa yang datang banyak?"

Ada jeda beberapa detik, sebelum Youichi menyahut. "Ya. Selalu. Setiap tahun, hampir semua orang datang."

Kecuali aku, batin Kazuya dalam hati. "Furuya menyampaikan salam dariku?"

"Hm-mm, dia juga yang memberitahuku kalau kau mulai mencoba-coba minum teh sekarang."

Kazuya mengulas senyum. "Apa Furuya bekerja untukmu sebagai mata-mata?"

"Cih, berhentilah membual!"

"Haha, oke."

Hening lagi. hanya ada suara napas Youichi dari sebrang telpon, gaung AC samar-samar, dan detak jarum jam. Kazuya menghela napas panjang, bicara dengan perlahan.

"Aku baik-baik saja, Kuramochi." Katanya berusaha meyakinkan. "Aku sedang bersandar di atas ranjang yang empuk sekarang, diselubungi selimut, perut kenyang, dan tubuh sehat. Aku tidak sedang berdiri di tepi jurang, di atas gedung pencakar langit, atau juga di jembatan dan diguyur hujan."

Kazuya bisa mendengar Youichi menghela napas lega. Bahkan ia bisa membayangkan Youichi barusaja mengendurkan tulang punggungnya yang kaku, lalu menghempaskan tubuhnya untuk berbaring di atas kasur yang empuk.

"Syukurlah kalau kau tidak kelaparan."

Kazuya mendengus lagi. Ia tahu yang dimaksud Youichi lebih dari itu, barangkali benaknya justru mengucap—syukurlah kau tidak mencoba bunuh diri. Lalu mereka membicarakan beberapa hal, topiknya cukup beragam, mulai dari sekadar basa-basi, pertandingan Kazuya selanjutnya sampai tawaran iklan untuk Kazuya yang Youichi terima dari beberapa produk olahraga. Saat Youichi mulai sering menguap, Kazuya memutuskan untuk mengakhiri sambungan telpon. Namun sebelum itu, ia menyempatkan untuk melempar lagi satu pertanyaan.

"Kuramochi, kau percaya reinkarnasi?"

Tempat itu bernama endiaferon café. Ditulis dengan huruf kecil secara keseluruhan, dipajang pada papan nama dari potongan kayu silver maple. Huruf-hurufnya juga dibuat dari kayu, namun diplitur dengan warna yang lebih gelap sehingga mempertegas kata-katanya.

Kazuya tersenyum simpul memandangi papan nama itu. Ia baru kali ini berkesempatan memandang dan membaca nama sebenarnya dari toko milik Yoshiyuki Eijun. Selama ini rupaya ia terlalu sering menundukkan kepala ketika masuk, sama sekali melewatkan kesempatan untuk mengetahui nama tokonya.

Sekarang masih pukul satu siang, dan ia datang sendirian karena Satoru tidak kembali ke Nagano lagi. Mungkin terlalu lelah setelah acara semalam. Kazuya melongok dari pintu kaca. Ia melihat Yoshiyuki sedang mengobrol dan tersenyum ramah kepada seorang pria dari balik meja counter. Dari yang Kazuya lihat, sepertinya pemuda itu sedang merangkai sebuah buket bunga.

Satu tarikan napas panjang, dan Kazuya mendorong pintu hingga terbuka. Melahirkan suara denting lonceng keemasan yang khas di telinga. Dua orang yang berdiri berhadapan itu serentak menoleh. Yoshiyuki secara otomatis tersenyum padanya.

"Selamat datang, Miyuki-san."

Kazuya membalas sapaannya dengan senyum simpul, ia melangkah masuk. Seorang pria yang berdiri di hadapan Yoshiyuki masih memandanginya seolah berusaha memikirkan sesuatu.

"Ah! Anda Miyuki-sheishu?!" Pekiknya tak percaya, bahkan reflek menunjuk Kazuya dengan jarinya.

Kazuya memberi cengiran kecil, dan mengangguk. Ia melirik ke arah Yoshiyuki yang hanya tersenyum geli dan melanjutkan akivitasnya merangkai bunga.

"Um, yaa. Saya Miyuki." Jawab Kazuya kalem. Pria itu maju mendekat padanya, dan Kazuya baru menyadari bahwa pria itu berusia sekitar akhir dua puluhan. Tampak segar dan muda, dengan potongan rambut bergaya agak spikey.

"Astaga, bagaimana bisa orang seperti anda ada di sini?" Ia menjabat tangan Kazuya penuh semangat. "Saya selalu menonton pertandingan anda. Kadang menonton bersama Yoshi-kun juga." Katanya, melirik Yoshiyuki sekilas, yang hanya dijawab dengan anggukan geli.

"Well, terima kasih atas dukungannya." Sahut Kazuya ringkas, berusaha tampil ramah di depan penggemar.

Pria itu akhirnya melepas jabatan tangannya pada Kazuya, namun masih berdecak sesekali dan mendesah memandangi Kazuya dengan tatapan tak percaya. Seakan Kazuya baru turun dari pesawat luar angkasa.

"Kakeru-san, bunganya sudah jadi."

Suara ringan Yoshiyuki berhasil membuat pria itu membalikkan badannya ke belakang dan melepas tatapan dari Kazuya. Kazuya sedikit menghela napas, ia sendiri ikut melongok ke arah Youshiyuki yang saat ini tengah menggenggam sebuket bunga berwarna merah. Buket yang cantik dan tampak anggun itu serasi dengan senyum hangat yang terkulum di wajah Yoshiyuki.

"Ah, sudah jadi." Kata pria yang tadi dipanggil Kakeru-san. Ia lekas berjalan kembali ke hadapan Yoshiyuki, dan menerima buket bunga itu dengan tangannya. "Ini indah sekali, Yoshi-kun." Matanya kini jelas menampilkan kekaguman yang nyata pada buket bunga di tangannya.

Yoshiyuki tersenyum lebar, sebelah tangannya mengepal, dan membentuk gestur penyemangat di sisi wajahnya. "Ganbatte, Kakeru-san. Semoga berhasil!"

Kazuya mengernyitkan alis mendengarnya, sedangkan yang dipanggil Kakeru-san itu tampak menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya cepat, dan membalas senyum Yoshiyuki dengan lugas. "Doakan aku, oke?" Katanya, setengah terdengar memohon.

"Pasti!" Yoshiyuki mengacungkan jempol, mengedipkan sebelah mata dengan begitu bersahabat.

Kakeru menarik napas lagi, membuangnya cepat. "Aku benar-benar gugup, tapi karena rangkaian bunga Yoshi-kun sangat indah, aku jadi tambah percaya diri sekarang. Terima kasih. Yoshi-kun."

Yoshiyuki terkekeh semanis malaikat. "Tentu, senang bisa menolong."

Kemudian Kakeru membayar buket bunganya, mengucapkan beberapa kata lagi kepada Yoshiyuki, sebelum melangkah menuju pintu. Ketika di depan Kazuya, pria itu berhenti sebentar, melempar senyuman ramah. "Saya senang sekali bisa bertemu langsung dengan anda, Miyuki-sheishu. Semoga ini pertanda keberuntungan."

Dan sebelum Kazuya sempat memproses kata-katanya, pria itu sudah kembali berbalik menghadap Yoshiyuki lalu melambaikan tangan, kemudian menghilang dari balik pintu kaca. Menyisakan Kazuya yang berdiri sambil berkedi-kedip, dan Yoshiyuki yang cengengesan geli di meja counter.

"Temanmu?" Tanya Kazuya spontan. Lantas ia tersadar dan mengigit lidahnya, pertanyaan barusan terdengar terlalu gamblang.

Yoshiyuki berkedip. "Eh?" Lalu ia mengangguk kecil. "Bisa dibilang begitu. Rumahnya tidak jauh dari rumah keluarga saya. Tapi kerjanya agak jauh, jadi kami jarang bertemu."

Kazuya mengangguk kecil, lalu berjalan mendekat hingga berhadapan dengan Yoshiyuki, terpisah counter. Begitu berdiri berhadapan, semua memori kejadian semalam secara serentak menyerbu kepalanya. Membuat pipinya menghangat karena rasa malu dan sedikit canggung. Kazuya meringis kecil, lalu membuang muka ke arah lain sambil mengusap tengkuknya.

"Well, soal yang semalam…"

Kazuya yakin ia sempat mendengar Yoshiyuki sedikit berseru kata, 'Ah,' sebelum pemuda itu ikutan menunduk menatap ujung sepatunya. Tertular gestur salah tingkah. Menyadari momen absurd ini Kazuya berdeham keras, lalu memaksakan diri untuk memandang pemuda di hadapannya. "Terima kasih banyak."

Yoshiyuki akhirnya menatap Kazuya. Mata pemuda itu tampak berbinar kaget sekaligus senang. "Ah, tidak perlu seperti itu, Miyuki-san."

Kazuya tersenyum simpul. "Pria yang tadi itu hendak melamar kekasihnya?" Kazuya mencoba mencari topik, sementara Yoshiyuki mulai membersekan sisa-sisa kelopak, daun, dan tangkai bunga yang berserakan di atas counter.

"Yep," Ia mengangguk. "Hebat juga Miyuki-san bisa menebak."

"Kelihatan sih, dandananya terlihat lumayan tak biasa, dia memakai parfum sedikit lebih banyak, dan bahkan membeli bunga, lalu percakapannya denganmu. Yah, aku hanya menebak."

Yoshiyuki tersenyum lagi. "Insting anda kuat sekali. Pantas saja Miyuki-san bisa jadi catcher yang hebat, pitch calling anda selalu memukau dan tampak luar biasa."

"Kau sering menonton?"

Pemuda itu mengangguk agak malu-malu. "Yah, sebenarnya saya suka sekali battery anda dengan Furuya-san."

Kazuya terkekeh kecil. "Aku lebih suka Eijun."

Yoshiyuki membeliak, dan Kazuya tersadar cepat dengan ucapannya. "Maksudku Sawamura Eijun." Kazuya cepat mengonfirmasi. "Dia dulunya juga seorang pitcher. Kami sempat jadi battery bersama sebelum dia stop bisbol."

"Sou desu kaPitcher, ya?" Yoshiyuki bergumam, seperti bicara kepada dirinya sendiri.

Melihatnya membuat Kazuya mengerutkan alis, "Kau merasa tidak nyaman? Maksudku dengan hubunganku dan kekasihku. Kami… sesama jenis."

Yoshiyuki menatapnya dan buru-buru menggeleng heboh. "Ah! Tidak, tidak, bukan begitu. Saya sama sekali tidak merasa itu menganggu." Ia menjawab nyaris seolah-olah panik. Kemudian Yoshiyuki meringis kecil mengigit bibir bawahnya dan berdeham. "Saya tidak punya banyak pengalaman soal hubungan asmara, jadi saya tidak berhak menilai orang lain."

Kazuya balas tersenyum. "Kau tidak akan menjual informasi ini kepada para paparazzi, kan?"

"Ha? Aduh, saya tidak sejahat itu."

Kazuya tertawa kecil. "Dijual juga tak apa, aku sama sekali tidak masalah. Selama ini aku merahasiakannya karena permintaan Eijun. Dia beralibi hubungan kami harus tetap jadi rahasia untuk menjaga reputasiku."

Yoshiyuki mengangguk seolah paham. "Sawamura-san sangat peduli pada anda."

Kazuya hanya angkat bahu. "Yah, meski caranya kadang aneh dan nggak normal."

Yoshiyuki hanya balas tersenyum, ia mengumpulkan semua sampah di tangannya lalu membuangnya ke bak sampah di dekat kakinya. Kemudian kembali berdiri dan tersenyum ramah. "Mau pesan apa, Miyuki-san?"

"Flavored tea." Jawab Kazuya seraya tersenyum. "Ku rasa rekomendasimu yang kemarin itu cocok."

Yoshiyuki memasang wajah bahagia. "Syukurlah…" Ia berkata, "Mau dibuatkan sekarang?"

Kazuya diam sebentar, menilik wajah Yoshiyuki. "Kau sibuk?"

"Eh, etto.. saya tadinya hendak mengurus beberapa tanaman sih. Sejak pagi toko lumayan ramai, banyak yang meminta buket bunga. Jadi saya belum benar-benar mengurus tanaman hari ini."

Kazuya menyunggingkan senyum samar. "Kalau begitu santai saja. Aku juga penasaran ingin melihatmu merawat tanaman, kalau kau tidak keberatan tentunya."

Yoshiyuki menggeleng dan terkekeh kecil. "Tentu saja tidak."

Yoshiyuki meraih sesuatu dari laci, sebuah gunting untuk tanaman, kemudian ia membuka rak bawah, mengeluarkan sekeranjang peralatan merawat bunga. Botol-botol penyemprot yang entah berisi apa, beberapa bungkusan pupuk, dan benda-benda lain yang tak terlalu dipahami Kazuya.

"Ayo," Ajaknnya ringan, dan Kazuya mengikuti tepat di samping pemuda itu menghampiri salah satu spot yang rimbun dengan bebungaan cantik.

"Hyacinth." Ujar Kazuya spontan begitu mereka berdua berjongkok di depan salah satu jenis bunga.

"Eh?" Yoshiyuki berkedip. Lalu cepat-cepat mengangguk. "Ah, iya. Anda benar, ini bunga hyacinth."

"Aku sering melihatnya kalau pembukaan turnamen atau musim pertandingan." Kazuya memberi tahu.

"Hmm, wajar sih. Bunga hyacinth memang melambangkan sporifitas dalam olahraga."

"Kok bisa?" Tanya Kazuya heran. Ia sering melihat hyacinth tapi tidak mengerti hubungannya dengan dunia olahraga.

Yoshiyuki tersenyum lugu. "Itu dari mitologi Yunani." Ia memulai. "Dulunya ada seseorang bernama Hyacinthus yang merupakan pahlawan Yunani. Hyacinthus ini digambarkan sebagai seorang pemuda yang tampan dan penuh pesona, bahkan ia tidak sekadar menarik minat para manusia, tapi juga para Dewa, salah satunya Apollo."

"Dewa Matahari."

"Benar," Kata Yoshiyuki. "Mereka bersahabat dekat, dan lama-lama, anu, tumbuh rasa yang lebih dalam di antara mereka."

Kazuya membeliak. "Seorang dewa juga punya hubungan seperti itu?" Ia bertanya tak percaya, tapi kemudian tersadar akan situasainya yang tak jauh berbeda.

"Ya, beberapa dewa memang punya kekasih laki-laki sih. Apollo, Eros, Dionysus dan mungkin beberapa yang lain. Singkatnya, bukan hanya Apollo yang menaruh hati pada Hyacinthus, melainkan juga Dewa Angin Barat bernama Zephyrus. Akan tetapi, Hyacinthus lebih memilih Apollo."

Kazuya diam dan menyimak tiap kata yang meluncur lihai dari bibir Yoshiyuki sementara pemuda itu bercerita sambil bekerja menyingkirkan daun-daun kering.

"Suatu hari, Apollo dan Hyacinthus sedang bermain lempar cakram bersama. Hyacinthus tentu saja berusaha keras membuat Apollo terkesan. Sayangnya, kecemburuan di hati Zephyrus telah membutakan matanya. Ia menggerakkan angin sehingga cakram yang dilempar Apollo menghantam kepada Hyachinthus."

"Ouh," Kazuya meringis keki.

"Darah mengucur dari kepala pemuda itu, ia akhirnya tidak tertolong. Apollo memeluk jasadnya sambil menangis penuh penyesalan."

"Itu… cerita yang menyedihkan." Kazuya berkomentar, miris.

Yoshiyuki tersenyum kecil seolah sepakat. "Apollo berusaha keras menggunakan semua kemampuan Dewatanya untuk menyelamatkan nyawa Hyacinthus, namun ia gagal. Sang Dewa hanya meratap dan berkata; Seandainya saja aku bisa memberikan hidupku untukmu, atau aku ikut mati bersamamu.. Lalu air mata Apollo yang jauh bercampur dengan darah Hyacinthus yang membanjiri tanah, dan perlahan-lahan mulai tumbuh menjadi bunga yang cantik. Apollo menamainya hyacinth untuk menengang sang kekasih." Yoshiyuki tersenyum pada Kazuya. "Dan hubungannya dengan sportifitas—"

"Kecurangan yang dilakukan Zephyrus." Tegas Kazuya, ia mulai paham. "Lempar cakram menjadi olahraga, kecurangan Zephyrus untuk menjatuhkan lawannya. Hyacinthus yang menjadi korban, lalu bunga hyacinth yang mekar dengan indah setelah semua kepedihan." Kazuya mengangguk tipis dan tersenyum. "Ku rasa, aku paham."

Yoshiyuki memberinya cengiran lugas. "Begitulah." Kemudian ia berdiri, dan bergeser ke spot yang lain, ke rimbun jenis-jenis mawar yang mengeluarkan wangi semerbak.

"Mawar. Paling umum." Komentar Kazuya.

"Mm-hmm, sampai sekarang masih jadi salah satu yang paling favorit."

"Mawar merah biasanya dipakai untuk mengungkapkan cinta yang dalam, kan?" Tanya Kazuya, Yoshiyuki hanya mengangguk kecil. "Lalu kenapa kau tadi memberikan rangkaian bunga yang lain pada Kakeru-san yang mau melamar kekasihnya?"

Yoshiyuki terkekeh ringan, ia memandang lurus ke mata Kazuya. "Yang tadi itu bunga Amaryllis."

"Oh, sama-sama merah."

"Iya, amaryllis biasanya dikenal juga dengan Belladonna Liliy, Ester Lily, atau March Lily. Melambangkan bentuk kebanggan, tekad kuat, kecantikan luar biasa, dan cinta yang dalam." Kata Yoshiyuki menjelaskan. "Nah, ada mitologinya juga."

Kazuya mendenguskan tawa geli. "Kau suka sekali mitologi, ya?"

Pemuda itu cengengesan geli. "Saya suka mencari tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan tanaman sih."

Senyum Kazuya mengembang. "Jadi, cerita apa dibalik amaryllis ini?"

Yoshiyuki mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. "Amaryllis adalah nama seorang gadis yang mendambakan cinta seorang pria bernama Alteo. Sayangnya Alteo tidak menanggapi perasaan Amarylis. Putus asa karena cinta yang tidak terbalas, Amaryllis menusuk dadanya dengan panah emas, kemudian dengan hati yang terluka mengunjungi pondok Alteo setiap hari dan menumpahkan darahnya di sepanjang jalan yang ia lewati."

"Ugh, kedengarannya mengerikan. Kenapa kau pakai bunga itu untuk lamaran?"

Yoshiyuki hanya tersenyum, meminta Kazuya bersabar. "Pada hari ketiga puluh, bunga berwarna merah mulai bermekaran di bercak darah dan sepanjang jalan yang Amaryllis lewati. Menandakan betapa indah dan murni cinta Amaryllis kepada Alteo. Karena itulah Alteo kemudian tersentuh, dan balas mencintai Amaryllis. Alteo juga berusaha keras menyembuhkan jantung Amaryllis yang terluka."

Kazuya tertegun lama. Sebelum akhirnya membuang napas panjang. Rasanya bunga-bunga punya cerita yang pilu di balik keindahanya.

"Itulah mengapa saya memberikan rangkaian bunga Amaryllis. Cinta, perjuangan, dan tekad Amaryllis sangat kuat, dan dengan itu saya berharap Kakeru-san punya kekuatan yang sama untuk memperjuangkan cintanya."

Kazuya akhirnya mengulas senyum, menari sudut-sudut bibirnya membentuk kurva yang tulus. "Kau pencerita yang hebat, Yoshiyuki."

Yoshiyuki terkekeh seraya mengibaskan sebelah tanganya. "Jangan terlalu memuji, saya hanya tahu sedikit."

"Boleh aku minta satu hal?" Tanya Kazuya, suaranya tegas dan mantap.

"Uh, apa itu?"

"Berhenti bicara formal padaku."

"Eh? Ettoo.." Pupil Yoshiyuki bergerak ke segala arah asal bukan pada Kazuya.

"Kita hanya berbeda satu tahun kan? Anggap saja aku temanmu." Balas Kazuya, "Dan aku memaksa."

Yoshiyuki diam. Dia tidak menjawab dan malah sok sibuk dengan bunga-bunganya.

"Yoshiyuki." Panggil Kazuya, dia diabaikan sepenuhnya. Menunggu lima menit untuk sebuah konfirmasi. Tapi yang didapat telinga Yoshiyuki yang memerah, "Kau malu ya?" Tanya Kazuya telak, membuat pemuda itu tersentak.

"Sa-saya ti—"

"Aku." Potong Kazuya cepat.

Yoshiyuki melirik sekilas. Dia memunggungi Kazuya dan memupuki salah satu tanaman.

"Ayolah, itu tidak susah. Anggap saja kalau aku Takeuchi." Bujuk Kazuya sedikit gemas.

"Ryou-kun dan Miyuki-san berbeda. Mana bisa saya melakukannya."

Kazuya mendengus. Dia berpikir sejenak untuk membuat Yoshiyuki berbicara. Begitu mendapat ide, Kazuya mendekati pemuda itu dan berbisik di telinganya, "Ei-jun."

"HWAA!" Yang dibisiki langsung reflek mundur dan hampir menjatuhkan pot bunga, untung ditarik Kazuya, mengalangi insiden kecil yang hampir terjadi.

Wajah Yoshiyuki memerah berat. Dia secepatnya membuang muka, "Tolong jangan lakukan itu lagi." Ia memohon, yang barusan sangat buruk untuk jantungnya.

"Maaf, aku gemas soalnya." Balas Kazuya, dia melepas Yoshiyuki. Membiarkan sang pemilik toko menggerutu kesal.

"Tapi aku akan melakukan hal barusan lagi kalau kau menggunakan bahasa formal lagi padaku."

"Saya tidak biasa!" Seru Yoshiyuki meninggi. Saat sadar, dia menunduk malu dan bergumam maaf.

"Biasakan, dimulai dengan panggil aku Miyuki. Bagaimana?"

"Ini terlalu mendadak, saya mana bisa."

"Aku bantu deh. Mi—"

"Tolong jangan paksa saya."

"Yoshiyuki-kun?"

Mulut Yoshiyuki terkatup rapat. Dia hampir menangis tapi ditahan. Baru tahu kalau catcher andalan SoftBank ini jail dan liciknya bukan main.

"Mulai dari awal." Miyuki mengulang, dia tidak menyerah.

Kedua tangan Yoshiyuki meremas apronnya menahan perasaannya, jantungnya berdegup sangat kencang sampai terasa di gendang telinganya. Darahnya mengalir deras berpusat pada pipi sampai telinganya, menciptakan gelombang panas yang membanjiri pelupuk mata. Yoshiyuki menunduk, bibirnya sedikit mengerucut dan berbisik, "Miyuki..." sangat pelan.

"Apa? Aku tidak dengar?" Kazuya mendekatkan diri dan memfokuskan pendengarannya.

"Mi-Miyuki..." bisiknya lagi, lebih menunduk malu.

"Aku tidak dengar." Goda Kazuya semakin membuat kesal.

"Mi—"

"Hmm?"

"MIYUKI KAZUYA!" Teriak Yoshiyuki melepas semua rasa malunya. Dia langsung keluar toko dan berlari ke rumahnya yang ada di lantai dua. Menyembunyikan diri dibalik pintu.

Kazuya syok sejenak. Sudah lama tidak mendengar seseorang memanggil nama lengkapnya. Dan itu mengingatkannya pada Sawamura Eijun. Sangat mirip sampai senyum Kazuya terukir jelas.

Dia keluar toko dan menaiki tangga menuju rumah Yoshiyuki. Mengetuk pintunya pelan sambil memanggil marga sang pemilik rumah. Tapi yang punya rumah tidak menyahut panggilan Kazuya. Sampai ada rayuan kalau Kazuya akan memakan kudapan buatannya, Kazuya terpaksa karena hampir setengah jam dibujuk tidak ada sahutan, akhirnya Yoshiyuki membuka pintu sedikit.

"Sungguh?" Tanya Yoshiyuki yang bersembunyi malu-malu.

Kazuya mengangguk, "Aku tidak mungkin mengingkari kata-kataku."

"Walau Mi-Miyuki tidak suka manis?"

"Iya."

Si pemilik toko diam lama berpikir. Akhirnya dia mau keluar dan menarik tangan kanan Kazuya kembali ke toko.

Sambil duduk menunggu seraya berdoa kalau kudapan yang disajikan Yoshiyuki nanti tidak begitu manis, Kazuya juga sudah ditemani kopi tanpa gula. Nyatanya Kazuya menyesal mengajukan penawaran ini. Tapi dia tidak bisa mundur. Kalau mundur, Yoshiyuki pasti marah dan ngambek. Itu di bayangan Kazuya.

Tapi terkutuklah dewa dewi yang tidak mengabulkan doa Kazuya. Yoshiyuki membawa semua menunya hari ini, walau hanya potongan. Blueberry pudding, apple cheesecake, macaron, red velvet, dan chocolate shouffle. Kazuya dipastikan hari ini mati keracunan gula.

"Saa, Miyuki. Sesuai janji habiskan semuanya ya." Seru Yoshiyuki tersenyum sangat ramah. Tapi di mata Kazuya itu senyum yang paling mengerikan yang pernah ia tunjukkan.

Kazuya kapok menjahili Yoshiyuki Eijun.

...

Ryouta menemukan Kazuya yang tidur terkulai di counter dengan segelas kopi yang habis. Terlihat seperti mayat yang siap kapan saja dibuang.

"Miyuki-san?" Panggil Ryouta, mencoba mencari tanda kehidupan.

Tidak ada sahutan.

"Miyuki-san?" Panggil Ryouta lagi.

Berpikir kalau Kazuya mungkin saja tidur, Ryouta pun memutuskan untuk ganti baju dan mulai bekerja. Dari pengelihatannya penuh, dia mendapati kalau bossnya terlihat sangat cerah. Senyumannya itu mengalahkan matahari yang bersinar terik di luar sana.

"Yoshi-nii kelihatan senang sekali. Terjadi sesuatu?" Tanya Ryouta yang memakai apronnya.

"Hehe, hari ini Miyuki memakan semua kue buatanku." Serunya bahagia.

"Eh?" Ryouta mematung. Bukannya Miyuki Kazuya dikenal dengan kebenciannya terhadap makanan manis. Lalu kok bisa makan kue buatan Eijun? Padahal kue buatan bossnya ini terkenal dengan rasa manis dan creamynya.

"Kok bisa?" Ryouta penasan.

"Dia yang mengajukan diri."

"Serius?"

"Ya."

"Tidak Yoshi-nii paksa?"

"Tidak kok. Sungguh. Bahkan Miyuki menghabiskan semuanya. Walau sepotong-sepotong sih."

Ryouta menganga tidak percaya. Sihir macam apa yang digunakan bossnya sampai Kazuya memakan semuanya?

Keajaiban. Ini perlu diabadikan.

Eijun membawakan mug berisi kopi pada Kazuya. Menaruhnya di sebelah Kazuya dan mengambil mug sisa kopi yang kosong, "Ini kopi keempatmu, Miyuki." Ucap Eijun tersenyum.

KEEMPAT?!

Kazuya menegakkan diri lesu. Dia meraih ganggangnya dan menyesapnya pelan, "Rasa manisnya tidak hilang-hilang."

"Tapi enak, kan?"

Kazuya menaruh mugnya kembali. Dia mendongak pada Eijun yang masih setia tersenyum ramah, "Kau tega padaku."

"Kau yang tega duluan padaku."

"Aku hanya meminta kau tidak formal lagi."

"Tapi caramu itu lo, gak tahu diri!"

"Bagian mana? Kau juga tidak keberatan kan sebenarnya."

"M-maa, i-itu..." Eijun mendadak panik. Dia salah tingkah lagi dan perlahan mundur.

"Kora kora, jangan kabur." Seru Kazuya memperingatkan, kedua tangannya ditaruh di kedua saku sementara Eijun menatap Ryouta meminta tolong.

"La-lagipula, k-kau..." kalimat Eijun terputus, dia tidak tahu cara membuat Kazuya terpojok.

"Aku apa?"

Eijun berpikir, mencari diksi yang tepat. Begitu dapat, dia menatap Kazuya tajam dengan pipi memerah, "Kau jelek kaya Tanuki."

"Semua sudah bilang begitu."

Eijun kalah langsungan. Tidak tegoyahkan sosok di depannya ini. Eijun ingin kabur lagi dan bersembunyi.

"Ah- A-Aku ingat aku harus beli bahan-bahan." Seru Eijun secepatnya melepas celemeknya dan meletakkannya di counter, "Ryou-kun, jaga tokonya ya. Bye!"

Eijun main kabur saja keluar toko, menuju entah ke mana dengan sepedanya.

Kazuya mendengus, "Kabur dia."

"Anu..." Ryouta akhirnya berani mendekati Kazuya setelah tadi hanya jadi penonton, "Sebenarnya apa yang terjadi?"

Kazuya diam. Lalu tersenyum kecil, "Iie." Balasnya tidak jelas. Membuat Ryouta hanya diam penuh tanya.

...

Eijun menggerutu kesal selama mengayuh sepedanya. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada orang semenyebalkan Kazuya? Dan bagaimana bisa seorang Sawamura Eijun tahan dengan kejahilan Miyuki Kazuya? Apa karena mereka sudah kenal sejak lama?

Huh, tapi tetap saja kejahilannya tidak bisa ditorerir!

Eijun menggerutu, dia tidak ingin kembali ke toko rasanya. Ingin tetap bersepeda menetralkan perasaannya dan bisa kembali melayani pelanggan. Sekalian beli bahan-bahan. Jadi dia pergi ke pasar dan memarkirkan sepedanya. Saat sudah tahu mau beli apa dan merogoh saku, dia baru sadar kalau tidak bawah dompet.

"AAAAA! BODOHNYA AKU!" Pekik Eijun mengacak rambutnya frustasi. Dia jadi fokus semua orang sekarang.

Setelah meminta maaf dan terpaksa keluar tanpa membawa apa-apa, Eijun akhirnya memutuskan pergi ke bukit dan memanen beberapa jeruk liar di hutan. Biar pulang tidak malu karena tak membawa apa-apa.

Eijun hanya bisa membeku ketika melihat Kazuya membawa tas dan gitarnya, duduk di kursi pelanggan seraya berkata, "Malam ini biarkan aku menginap di sini."

Eijun ingin membantah dan mengusirnya. Tapi sebelum suaranya keluar, Kazuya sudah memasang mata memelas dan berujar, "Apa kau tega melihat seorang pro player tidur di luar? Kau tidak kasihan? Kalau seumpama tim favoritmu, battery favoritmu, kalah karena dia sakit, apa kau tidak kasihan?"

Eijun ingin berteriak kalau lebih baik catcher egois seenak sendiri satu ini jatuh sakit dan tidur di luar. Tapi karena mata itu yang jelas-jelas menipu dan suara memelasnya, Eijun terpaksa mengangguk kecil, bentuk reflek, mempersilahkan Kazuya menginap di tempatnya.

"Yeay, makasih. Makan malamnya biar aku yang masak." Ucapnya senang.

'Kuh, aku tidak tega mengusirnya.'

"Wah, hujan." Eijun berkata reflek saat melihat berkubik-kubik air langit turun menyapa bumi. Suara menjadi agak teredam, dan rintikan itu mengetuk kaca toko dengan suara-suara yang khas.

"Bagaimana cara kita ke atas? Tanggamu di luar, kan?" Eijun nyaris melompat. Kazuya tahu-tahu sudah berdiri sangat dekat di sisinya, bakan lengan atas pemuda itu menyentuh bahunya. Demi kesehatan jantungnya, Eijun mengambil dua langkah menjauh.

"Aku ada payung."

"Berapa?"

"Eh?" Eijun berkedip, lalu tersadar dan menoleh ke box payung yang tersimpan di pojokan counter. "Ah, cuma satu." Ia mendesah kecewa, lalu meratap memelas ke arah Kazuya.

Kazuya tersenyum simpul. "Sepayung berdua."

"Mana bisa!" Suara Eijun naik tanpa sadar, wajahnya menghangat dan demi apapun ia memohon kepada Tuhan agar pipinya tidak merona. "Ma-maksudku payungnya kecil, tidak mungkin muat sepayung berdua. Yang ada kita justru tetap basah."

"Tidak akan basah jika kita berjalan berdekatan."

Eijun menghela napas berat. "Tetap saja tidak mungkin. Lihat bahumu itu, lebar banget."

"Wah, jadi selama ini kau memerhatikan bahuku, ya?"

Sialan! Eijun ingin mengumpat, namun rasa sopan santun yang diajarkan keluarganya menjadi pengingat dan menahan dirinya. "Pokoknya tetap tidak bisa meskipun kita jalan berdekatan. Payungnya sangat kecil."

"Kalau begitu sambil berpelukan?"

"Tolong jangan menggodaku." Eijun membuang muka dengan segera. Ia menyerah, wajahnya pasti semerah cherry sekarang.

Kazuya terkekeh geli, lalu memandang ke luar jendela. Eijun sudah malas menebak-nebak apa lagi yang ada di balik pikiran manusia di depannya ini. Sejak siang tadi semua tingkah dan ucapannya sukses membuat perasaannya bagai diombang-ambing di atas roller coaster.

"Hujannya deras, dan kelihatannya bakal lama reda." Kata Kazuya, kembali menatapnya. "Kita tidak mungkin menunggu di sini terus, kan?"

Eijun angkat bahu. "Aku tidak masalah. Aku bisa buat teh sambil menunggu hujan reda."

Satu alis Kazuya terangkat tinggi. "Memangnya kau tidak lapar?"

"Tidak." Kemudian perutnya berbunyi.

Berkebalikan dengan wajah Eijun yang merah padam, Kazuya justru terpingkal geli. "Aku tahu tubuhmu memang kecil, tapi kau tetap butuh makan."

"Kecil?" Pekik Eijun tidak terima. "Tinggiku seratus tujuh puluh lima!"

"Nah, bahkan saat SMA tinggiku sudah seratus tujuh puluh sembilan. Sekarang mungkin seratus delapan puluh lima."

Eijun mendengus, menyilang tangan di depan dada. "Aku tinggi. Kau saja yang tidak normal, gigantis mungkin."

"Intinya sama saja, kau lebih pendek." Sahut Kazuya telak. "Dan kecil. Kurus."

"Aku tidak kurus!"

"Memang berapa beratmu?"

"Enam puluh lima!"

"Lingkar pinggang?"

"Lima puluh satu!" Sahut Eijun lantang, kemudian ia berkedip dan tersadar. "Tunggu, kenapa pula aku harus menyebutkan data fisikku padamu?"

Kazuya hanya mengangguk-angguk sambil mengusap dagunya. "Kalau begitu biar ganti kuberi tahu data fisikku, supaya impas."

Eijun mengeryit dalam. "Tidak mau dengar." Tolaknya. "Lagi pula aku sudah tahu semuanya."

"Huh? Kau tahu?"

Aduh, mati aku. Eijun mengigit lidahnya, baru sadar ia tengah menggali makamnya sendiri. Ia berdeham keras dan cepat-cepat menggeleng. "Maksudku, kau pemain Liga Jepang, profilmu tersebar di semua media, dan aku tidak buta."

"Jadi kau memelototi profilku yang tercantum di media lalu menghapalnya?"

"Argh! Bukan begitu!" Eijun mulai frustasi dan mengacak-ngacak rambutnya hingga menjadi lebih berantakan. Ia mendesah berat, menunduk lesu dan memelas. "Ku mohon, pikirkan saja solusi supaya kita bisa ke atas."

Kazuya masih memandanginya dengan senyum geli nan jail. Lalu pemuda atletis itu berpikir sebentar, dan melangkah mendekat. "Janken."

"Hah?" Eijun menyahut, tidak mengerti. "Janken?"

"Ya, ayo kita pakai janken, yang kalah harus menggendong yang menang. Cuma dengan cara itu kita bisa naik ke atas dengan satu payung tanpa kehujanan."

"Tunggu, tunggu, tunggu." Eijun membuka telapak tangannya di depan dada Kazuya. "Siapa bilang aku setuju kita gendongan?"

"Kau suruh aku mikir solusi tadi."

"Ya bukan berarti gendongan juga, Miyuki."

"Lalu bagaimana? Dipeluk tidak mau, digendong tidak mau, kehujanan juga tidak mau. Kau maunya apa, sih?"

Eijun menyerah. Kami-sama, tolong teleporatasikan Eijun sekarang juga. Kemana saja. Terserah. Asal tidak dekat-dekat dengan makhluk bernama Miyuki Kazuya.

"Jadi?"

Eijun mengeluh dalam hati, lalu mengangguk muram. "Oke, janken."

Mereka berdiri berhadapan dengan satu tangan mengepal bersiap untuk melakukan janken. Eijun mengambil napas dalam-dalam, membuangnya cepat dan menatap lurus ke mata Kazuya lalu mengangguk. Satu, dua, tiga. Dan dalam gerak bersamaan mereka mengeluarkan jari tangan masing-masing.

Kertas dan gunting.

Eijun menang. Pemuda itu menghela napas kecil, setidaknya kali ini ia menang dari Kazuya, meski hanya dalam hal kecil seperti suit.

"Nah, sudah diputuskan kalau begitu." Kata Kazuya ringas. "Kau pegangi payungnya, bawa tas juga gitarku, dan aku yang mengendongmu."

Lalu Eijun tersadar dan membelalakkan mata. "Tunggu, jadi kau akan menggendongku?"

Kazuya sudah berjalan untuk mengambil payung, pemuda itu menoleh. "Kau menang tadi."

Ini buruk, batin Eijun. Kenapa otaknya lambat sekali bekerja? Bagaimana bisa ia tahan digendong Kazuya selama perjalanan ke atas? Bisa-bisa jantungnya lompat sampai ke langit. "Tidak-tidak, aku tidak terima." Eijun menggeleng dengan tegas, sementara Kazuya yang sudah memegang payung memandanginya heran.

"Jadi kau mau menggendongku?" Tanya Kazuya. "Memangnya kau kuat? Aku berat lho, ototku penuh."

"Sombongnya." Eijun mencibir. Tapi ia diam-diam mulai mengamati tubuh kekar Kazuya lalu meneguk ludah, sudah pasti Eijun tidak akan sanggup mengangkat pemuda itu, apalagi menaiki tangga dalam kondisi hujan dan licin. Kazuya bisa jadi sepuluh kilogram lebih berat darinya, atau mungkin juga lebih. Otot bahu, lengan, dada, perut bahkan pahanya masih bisa terlihat meski ia memakai baju yang tidak ketat.

"Matamu sedang menelanjangiku, Yoshiyuki Eijun."

Sialan, sialan, sialan. Eijun menggerutu dalam hati. Ini sudah petang, perutnya lapar, dan sejak tadi Eijun terlalu banyak merona. Saat ini tubuhnya lelah luar biasa. Ia hanya ingin cepat-cepat bisa pergi ke kamarnya, mandi air hangat, makan malam dengan tenang lalu menyembunyikan diri dan bergelung di balik selimut. Membiarkan alam mimpi menyambutnya, hingga ia bisa menapaki setidaknya satu ruang tanpa Miyuki Kazuya.

Eijun menghela napas letih. "Ya sudah, biar aku pegang payungnya, sekalian bawa barang-barangmu." Menyerah pada akhirnya. Ia berjalan mendekat ke arah Kazuya dan mengambil alih payung bening dari tangan sang Catcher. "Aku matikan lampu dulu." Kata Eijun, lalu ia berbalik ke sekeliling ruangan dan mematikan semua lampu kecuali teras. Setelahnya ia berjalan bersama Kazuya menuju pintu kaca. Berdiri menempel pada pintu begitu menyadari hujannya benar-benar deras. Eijun lekas membuka payung.

"Ayo." Ajakan ringan, dan Kazuya sudah sedikit membungkuk di depannya. Punggung kekar pemuda itu, kedua bahunya yang lebar dan tegak. Eijun iri. Ia selalu ingin punya tubuh maskular seperti itu, tapi usahanya tidak pernah membuahkan hasil. Ototnya memang terbentuk, namun enggan membesar.

"Hei, nanti saja kalu mau mengangumi tubuhku." Kata Kazuya, sedikit menoleh padanya. "Kalau kau mau, aku bisa kasih fans service dengan tampil topless di hadapanmu. Tapi nanti. Setelah kita di atas."

Eijun sudah lelah menghadapi jantungnya yang jumpalitan ataupun pipinya yang memanas. Maka ia membuang napas singkat, lalu menggeleng kuat-kuat dan mencoba mengenyahkan semua pemikiran tak waras yang berseliwengan di kepalanya. Ia maju mendekat dan mengalungkan satu tangannya di sekitar leher dan bahu Kazuya. Sementara tangan lain memayungi mereka.

Kazuya berdiri tegak tanpa kesulitan. Seolah-olah bobot tubuh Eijun bukanlah beban berat yang bisa menggoyahkan langkahnya.

"Turunkan payungnya. Kalau kau memegangnya setinggi itu kita bisa basah. Hujannya deras." Kata Kazuya seperti memerintah. Eijun menarik gagang payung, dan membuat payung itu berada sejengkal di atas kepalanya. Selanjutnya ia hanya bisa menunduk, berdoa semoga Kazuya tidak dapat merasakan detum jantungnya yang bertalu-talu.

Begitu menaiki tiga anak tangga pertama, gerakan menanjak yang tercipta membuat tubuh Eijun harus terguncang dan wajahnya menjadi kian dekat dengan tengkuk Kazuya, dalam jarak sedekat ini, Eijun bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Kazuya. Entah aftershave jenis apa yang dipakainya, tapi aromanya sungguh membuat Eijun terlena. Ditambah dengan samar aroma keringat, dan aroma tubuh alami Kazuya, rasanya benar-benar jauh lebih memikat.

"Kau sedang menciumiku, ya?"

Eijun sontak membuka mata, menegang kaku. Mereka hampir mencapai anak tangga terakhir. Darahnya mendidih selagi Kazuya terkekeh lucu. "Kau pikir aku tidak sadar?" Kata Kazuya ringan. "Aku juga bisa merasakan napasmu di kulitku."

Pegangan Eijun pada gagang payung mengerat tanpa sadar, giginya bergematuk menahan umpatan. Eijun bahkan tidak yakin siapa yang lebih pantas ia marahi, Kazuya atau justru dirinya sendiri. "Bukan salahku kalau posisi kita sedekat ini."

"Hmm, jadi menurutmu ini salahku?"

"Ini idemu."

"Oh, kalau kau tidak setuju dengan piggy back, seherusnya kau tadi bilang. Aku tidak keberatan mengendongmu dengan gaya bridal."

"Aaaarrgh! Bukan begitu! Sudah cepat jalan saja!"

.

Kazuya memasak hotpot. Eijun tidak tahu kelezatan yang ia rasakan di lidahnya itu karena faktor perutnya yang lapar berat, keadaan di luar yang hujan deras, atau memang sejatinya Kazuya pandai memasak. Yang jelas itu merupakan hotpot terlezat yang—seingatnya—pernah ia makan. Sampai-sampai ia juga merasakan sepenggal jejak perasaan hangat kenangan indah dan samar nostalgia yang entah berasal darimana.

Selesai makan, ia mandi lebih dulu dan memilih mengenakan celana training juga kaus abu-abu addidas pemberian sang ibu bulan lalu. Kazuya mandi setelahnya. Eijun tadinya berniat langsung naik ke kasurnya saja, menyelimuti sekujur tubuh, dan tidur. Tapi ia pikir tidak sopan meninggalkan Kazuya begitu saja, setidaknya ia perlu menunggu pemuda itu selesai mandi, memberinya futon, dan menemaninya sebentar sebagai bentuk terima kasih karena sudah membuatkannya makan malam.

Kazuya kemudian keluar kamar Eijun. Handuk tersampir di sebelah bahu dan pemuda itu menampilkan gerakan menggosok rambutnya dengan ujung handuk. Ia memakai terusan training santai berwarna biru gelap. Mata mereka bertemu saat Kazuya menoleh padanya. Tanpa kacamata, rambut masih basah, poni yang jatuh tanggung di sekitar kening, wajah bersih dan tampilan segar sehabis mandi. Pemuda itu jadi berkali lipat terlihat lebih tampan. Kemudian Eijun tersadar dan buru-buru membuang muka ke arah lain begitu melihat Kazuya tengah menyeringai padanya.

Sementara Kazuya berdiri dan memakai kacamata, Eijun meraih remot dan menyalakan televisi untuk mengusir kecanggungan. Kali ini ia menambatkan pilihan pada berita malam. Tak lama berselang, Kazuya duduk di sebelahnya sambil membuang napas panjang.

"Kau selalu tinggal di sini?" Tanya Kazuya, memulai percakapan dengan normal.

Eijun menggeleng. "Aku pulang kalau Kamis sore, Jum'at tokonya tutup. Dan aku kembali lagi ke sini malam Sabtu, atau Sabtu dini hari." Ia menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi. Menolak untuk menatap Kazuya.

Acara di televisi menampilkan berita seorang aktris ternama yang baru saja menikah dengan seorang sutradara terkenal. Eijun merasa berita ini tak terlalu penting.

"Rumah orang tuamu jauh dari sini?"

"Tidak juga, mungkin hanya sepuluh sampai lima belas menit jalan kaki."

Hening. Hanya ada suara si pembawa berita di televisi. Kemudian Kazuya menghela napas panjang. "Hei, kau marah padaku?"

"Tidak." Eijun menyahut singkat, rahangnya terkatup keras.

"Ayolah.." Mohon Kazuya. "Aku hanya bercanda tadi."

"Kau mempermainkanku." Sahut Eijun final, masih tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kazuya.

"Aku tidak bermaksud begitu, sungguh." Kazuya terdengar berusaha meyakinkan. "Sifat asliku memang begini, oke? Dan aku tidak tahan karena kau ternyata menggemaskan juga."

Eijun menoleh, melotot.

"W-waa…" Kazuya buru-buru angkat tangan tanda menyerah. "Oke, oke, ku ralat. Kau tidak suka dibilang menggemaskan." Katanya berusaha menenengkan. "Tapi itu memang kenyataannya. Aku tidak tahu kalau telingamu sensitif dan kau cepat sekali merona bahkan hanya dengan—Aaw!" Kazuya tiba-tiba terlonjak. Ia otomatis mengambil jarak dari Eijun dan buru-buru mengusap pinggangnya yang terasa tersengat. "Apaan kau ini? Kenapa mencubit?"

"Janji dulu kau tidak akan mengulanginya!" Eijun maju dan mendesaknya, mencondongkan tubuh di depannya dengan mata berkilat sekuat besi.

Kazuya meringis. "Aku tidak bisa janji." Ucapnya jujur, "Tapi akan aku usahakan supaya tidak terlalu sering menggodamu… Ahahaha… hei!" Kazuya reflek menyingkirkan tangan Eijun dari pinggangnya. "Jangan menggelitikku!"

Eijun justru menyeringai penuh kemenangan. "Jadi kau sensitif juga yaa, Miyuki Kazuya?" Katanya, dengan binar mata jail. Kazuya meneguk ludah, mundur perlahan.

"Menjauh dariku."

Tapi Eijun justru memasang cengiran lebar dan mengangkat kedua tangannya dengan pose cakar harimau. Seketika Kazuya lupa caranya bernapas. Punggungnya berubah dingin. Sirine bahaya meraung-raung di kepalanya.

"M-mau apa kau?" Kazuya bertanya tergagap.

"Ohohoho… benar, kau memang sensitif di area itu."

Kazuya segera melindungi area pinggangnya dengan kedua lengan. Ia berusaha mundur sejauh mungkin, tapi Eijun mendadak berubah menjadi lebih besemangat memojokkannya.

"Jangan berani-berani kau mendekat. Ku peringatkan."

"Janji dulu!"

"Aku usahakan. Tapi aku tidak bisa… hei!" Kazuya bangkit secepat kilat dan melompat dari sofa begitu Eijun meluncurkan serangan sepuluh jarinya.

"Cepat janji padaku. Atau aku tidak akan berhenti."

"Kau mengancamku?"

"Janji! Cepat!"

"Ti—hei! Hahaha…"

Eijun menangkap pinggang Kazuya dan mulai menggelitiknya tanpa ampun. Tubuh Kazuya seketika menjadi terlalu lemas untuk melawan, hanya sanggup meronta-ronta dan menggeliat.

"Ahaha… lepas…. hahahaha… lepaskan!"

"Berjanjilah kau tidak akan mengodaku lagi!"

"Tidak—ahahahaha! Yoshiyuki, stop—hahahaha… geli!"

Kazuya tertawa sambil berusaha keras menyingkirkan tangan Eijun dari pinggangnya. Tapi Eijun tak gentar dan terus memburu Kazuya. Tanpa ampun. Kesepuluh jarinya bermain di pinggang Kazuya, menggelitik hingga wajah Kazuya berubah merah karena menahan geli di perutnya.

"Ahahaha… sudah—hahahaha, aduh…. berhenti…!"

Kazuya berusaha menghindar dari serangan Eijun tapi kemudian menyerah dan hanya membiarkan rasa geli di pinggangnya menguasainya. Memohon di tengah-tengah tawa tanpa perlawanan. Sampai akhirnya ia hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai dengan Eijun tepat di atasnya. Menduduki perutnya yang berotot. Kazuya hanya bisa berbaring, berusaha meredakan tawa selagi Eijun memandanginya dengan sirat mata geli dan penuh canda.

Eijun memandangi wajah Kazuya yang kali ini tampak begitu hidup, dan berpendar cerah. Ia mengingat kembali wajah Kazuya yang sendu kemarin malam saat merayakan ulang tahun Sawamura. Kemudian Eijun mulai bertanya-tanya, sudah berapa lama Kazuya tidak tertawa selepas ini? Sudah berapa lama pemuda itu mengurung diri dan kesepian bersama rasa kehilangan dan patah hati mendalam akibat kepergian kekasih hatinya? Sepasang mata coklat karamel itu kini berbinar dan berkilauan hidup. Bibirnya mengeringai, menampilkan senyum sarkastik iseng dan licik juga penuh motif.

Kami-sama, bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta pada pemuda ini?

Kemudian ia mengerjap, tersadar buru-buru dengan posisi mereka yang bisa membuat salah paham. Eijun berdeham dan cepat-cepat menyingkir. Tapi kedua tangan kekar itu lebih dulu melingkar pada pinggang Eijun. Mempertipis jarak di antara mereka. Membuat Eijun terpaksa tengkurap di atas Kazuya, memaksa mereka bisa merasakan detak jantung satu sama lain.

Senyum Kazuya yang merekah itu membuat Eijun hanya bisa malu sampai ubun-ubun, "Kau gugup?" tanya Kazuya.

Tidak bisa menjawab, Eijun memilih buang muka. Kolong sofa lebih menarik daripada tampang rupawan Kazuya.

"Naa, mulai sekarang boleh aku memanggilmu Eijun seterusnya?" Pinta Kazuya mendadak.

"Uhh, kenapa?"

"Sebagai balasannya, kau boleh memanggilku Kazuya juga."

.

.

.

Bersambung…

.

.

Hai, sebelumnya pengen ngasih tau gimana prosedur kami collab bikin cerita ini, boleh?

Bukannua kita harusnya minta maaf dulu dan ngasih tahu kendala kali ini ya? Bentar, A/N kali ini bakal sangat panjang rasanya.

Oh iya, salah ya kita? Harus minta maaf dulu yaa? Oke.

Gak sih, cuma biar readernya kicep aja.

Reader-sama, mohon maaf dan terima kasih sudah bersabar. Sebenarnya chapter 5 sudah siap tapi karena beberapa kendala, kami jadi harus "menunda" jadwal updatenya.

Gantain sibuknya, kemarin Valky masalah pribadi sama kerjaannya (TOLONG BIKININ BG VECTOR GEDUNG KEPRESIDENAN!), dan Aiko-san dengan kuliah. Dan juga halangan lain yang gak mungkin kami ceritakan. Intinya begitu. Hai, selanjutnya Aiko-san...

Aku mau bilang. Valky-san, aku ga gigit.

Bagi saya, anda menggigit.

Saa, lanjut aja soal prosedur bikin cerita ini. Jadi yaa, dalam masing-masing chapter, ga ada yg "bertanggung jawab secara penuh" terhadap cerita. Dalam setiap satu chapter, ada tulisan kami berdua, karena sitemnya seperti berantai. Valky-san ngetik dan kirim beberapa paragraf, saya balas juga, lalu dilanjut Valky-san lagi, dst.

Kendala dari sistem ini adalah perubahan plot yang sangat tiba-tiba. Menjadikan kedua penulis syok. Kalau saya sih langsung nangid kering.

Eh, emang pernah?

Saya nak pamit undur diri saja/AliasKabur

Well, mungkin itu untuk cerita-cerita yang lain. Kalo di Endiaferon, aku merasa kita "masih" akur dam sejalan sejauh ini. Entah kalo Valky-san mulai kesel wkwk. Okey, bales review aja yaa.

Yosh, balas review.

First, untuk kuroshironekore hehe, syukurlah kalo penjelasan latarnya bisa dimengerti. Ini rasa drama ya? Nah, kalo soal akhir tiap chapter. Sengaja dong, kami suka bikin orang gemes.

Dan untuk rupa Eijun di Endiaferon, saya sudah bikin sih. Cuma ya itu, WIP terus. Saya kepincut gambar Boi seme terus sih. Kimochi gambar seme satu itu.

Gak mau komentar, saya juga lagi diem diem selingkuh. Next!

Selanjutnya dari Mimin2. Ya mo bijimana lagi, masa saya harus masuk ke Endia terus nabok Miyuki sambil teriak, "INI EIJUN!" Bukan drama lagi tapi lawak jadinya nanti.

ratusan971, ada kok lanjutannya tenang aja. Makasih udah setia menanti.

Isana, uwuwuwu kalo kamu mau jawab gitu ke Kazuya, saya justru pengen bilang depan komuknya "makan tu cinta, dasar bucin!" *ketawa jahat

Guest-san, tenang saja, Ryou-kun akan kami usahakan muncul sesering mungkin.

Allen491, SAYA YANG NARUH! NIH SAYA BAGI LEBIH!

Selanjutnya, Rin-san... Eh, Valky-san mau kasih hadiah ke Rin-san mungkin? Karena dari empat orang yg berusaha kita racunin, Rin-san yang pertama ke sini?

Buatkan saya BoiFang.

...

Kalau gitu, Aiko-san sama saya bakal buatkan cerita MiSawa selawak mungkin nanti.

Intinya, Terima kasih sudah mampir yaa. Sebenarnya saya ngakak baca analisanya Rin-san hehe. But, enjoy!

Kokonoka, wah, kalo dari manga sih emang udah "jauh" banget kode antar MiSawa.

Nezukirei, ini dia kelanjutannya, semoga menikmati.

ichi, itu dia reaksi Eijun, bagaimana menurut anda?

Ai Haruka, ini udah lanjut. Makasih udah sabar.

Kenma, ugh makasih hehe.

dan terima kasih sama yang udah baca, review, sama favorit cerita ini. oh ya, untuk yang penasaran sama twitter saya, yang entah kapan akan saya up rupa Eijun di Endiaferon, namanya sama kok kaya akun saya, baik username atau nama akun.

Go follow! Ah, hampir lupa. Untuk dareka-san, ini sudah kami upload yaa. Makasih sudah , mohon maaf kalo chapter ini jadi kebanyakan bahas mitologi Yunani. Saya khilaf :')

Dan kami tidak tahu kapan bisa up untuk chap selanjutnya, kami sama-sama sibuk banget. Berdoa saja ya.

Yea, ada lagi?

Kalau akun saya isinya BBB, maafkan. Saya ngebucin fandom anak-anak.

Jaa, see you next chappy!

See yaaa!

(P.S Valky: saya akan buatkan denah rumah Yoshiyuki Eijun, saya pertimbangkan akan upload di Instagram juga, tapi lebih utama di twitter. Nama akun keduanya sama, Valkyrie Ai)