Playlist 001 :
Secret Love
.
.
.
ALERT!
sangat-sangat banyak ciuman di dalam cerita ini, pembahasan yang menjurus pada hubungan seksual, dan sebuah PERSELINGKUHAN. Dan jika kalian tidak menyukai apa yang ku tulis di kalimat sebelumnya, ku mohon tunggu cerita selanjutnya yang kurasa tidak memiliki banyak ciuman, bahasan hubungan seksual, dan perselingkuhan.
.
.
[ONE SHOT STORY]
.
.
Enjoy!
.
.
We keep behind closed doors
Every time I see you, I die a little more
Stolen moments that we steal as the curtain falls
It'll never be enough
.
.
.
"Hari ini kau memakai parfum, Baekhyun?" tanya yang lebih tinggi di tengah-tengah kegiatan memeluk mereka. "Tidak, aku tidak pernah memakai parfum di jadwal kencan kita, Chanyeol. Itu pertanyaan bodoh" ia tersenyum kecil dan menyamankan diri di pelukan sang lelaki tinggi, mencium dalam-dalam wangi tubuh lelaki yang menenangkan hati itu.
"Kalau begitu, kau memiliki bau tubuh yang menyenangkan"
Si kecil tidak dapat menahan tawanya dan ia memukul dada lelaki tinggi itu dengan kepalan tangannya, "Itu konyol, Chanyeol. Aku memiliki bau busuk keringat karena bekerja keras hari ini. Berkas menumpuk itu menambah kerutan di wajahku"
"Meskipun begitu, aku tetap mencintaimu, Baekhyun" Chanyeol, lelaki tinggi itu, mengecup pucuk kepala yang lebih kecil, Baekhyun.
Baekhyun menggerakkan tubuhnya, menyamankan diri untuk bersandar pada bahu Chanyeol. Ia meraih tangan kasar itu dan mengecupnya dalam, "Kau telah bekerja keras hari ini, Chanyeol". Lelaki itu tersenyum sangat lebar dan sekali lagi mengecup pucuk kepala Baekhyun.
Beberapa kali Baekhyun harus menahan rasa sakit di pinggulnya karena menekan handbrake yang terangkat. Kedua matanya tertuju pada bintang-bintang dari balik kaca mobil Mercedes-Benz AMG G65 milik Chanyeol. Lelaki tinggi itu memarkirkan mobil mahal itu di sebuah taman Sungai Han yang sudah sangat sepi, mengingat ini adalah dini hari dan letaknya yang jauh dari jalan raya.
"Aku berharap ini akan berjalan selamanya, Chanyeol"
"Ya, aku hanya mencintaimu, Baekhyun"
"Ah, hentikan gombalan murahmu, Tuan Park"
"Kau menyukainya, Byun"
Baekhyun mengangkat kedua sisi bibirnya, "Ya, sangat menyukai semua gombalan murah yang keluar dari bibirmu, Park"
"Dan kau menyukai bibir ini"
Yang terjadi selanjutnya adalah kedua bibir itu bertemu, saling menyalurkan rasa rindu yang selalu mereka tahan selama ini. Dunia luar bukanlah milik mereka, hanya di bawah atap mobil Mercedes-Benz milik Chanyeol mereka dapat membagi dan menunjukkan kasih sayang mereka. Benar, mobil itu terlalu kecil dan sempit untuk mereka. Namun di bawah atap mobil itu mereka dapat hidup dan menjadi diri mereka dengan baik.
Salah, mereka bersalah dan semua ini adalah salah.
Tidak seharusnya mereka membuat janji dua minggu sekali untuk bertemu dengan Chanyeol yang akan menjemput Baekhyun di sebuah pertigaan yang terletak beberapa blok dari kantor Baekhyun. Mereka sepenuhnya sadar jika ini adalah sebuah kesalahan dan akan menyakiti hati pasangan masing-masing. Namun hanya dengan satu sama lain mereka dapat menjadi diri mereka sendiri.
Mereka adalah 'kekasih'.
Mereka bukanlah kekasih.
.
.
.
As you drive me to my house
I can't stop these silent tears from rolling down
You and I both have to hide on the outside
Where I can't be yours and you can't be mine
.
.
.
"Nah, kita sampai di rumahmu, Baekhyun. Sampai jumpa dua minggu lagi" Chanyeol membuat sebuah senyum dan mengusap tangan Baekhyun yang berada di genggamannya. Lelaki mungil itu menghindari pandangannya hingga tangan Chanyeol harus terulur untuk meraih dagu Baekhyun dan sedikit memaksanya untuk menatap dirinya.
Mata lelaki mungil itu berair, tidak ingin hari ini berakhir meskipun kedua matanya terasa berat. "Jangan menangis, Baekhyun. Kita telah beberapa kali membahas mengenai hal ini" dengan senyumnya Chanyeol menghapus air mata di sudut mata Baekhyun. "Tuhan pun tahu betapa besarnya aku ingin tetap tinggal, Baekhyun"
Baekhyun dengan cepat menghapus air matanya sebelum air mata itu terjatuh dan membuat sebuah senyuman, "Aku sangat menikmati kencan kita hari ini, Chanyeol. Dan terima kasih untuk tiga porsi eomuknya, dan tumpangan untuk pulang"
Chanyeol mengecup pucuk kepala itu sekali lagi dan menyisir rambut Baekhyun dengan jemarinya. "Akan ku berikan semua untukmu, bulan sekalipun" perkataan itu menghasilkan sebuah kekehan dari yang lebih kecil. "Dasar pembual licik. Jangan pamerkan hartamu padaku, Tuan. Aku tidak menyukainya"
"Aku tahu. Aku mengetahui segala sesuatu tentangmu"
"Ya, bahkan aku tidak tahu kau mengetahui betapa aku menyukai eomuk" meskipun lirih, Chanyeol dengan telinga lebarnya masih dapat mendengar hal itu. Dan jika boleh mengatakannya, ia sedikit merasa bangga pada dirinya.
"Aku sudah mengenalmu semenjak masa kuliah, Baekhyun. Kau dan aku selalu bersama hingga sekarang kau yang bekerja sebagai sekretaris dan aku sebagai seorang CEO. Kita telah melewati banyak hal bersama"
"Kau benar, aku tidak mengerti mengapa aku memilih untuk menjadi seorang sekretaris dibandingkan menjadi seorang pelayan café"
"Itu mudah, karena kau ingin sering-sering melihatku yang memakai setelan" kemudian yang lebih tinggi mencuri sebuah ciuman di bibir manis milik Baekhyun. "Kau dapat mengunjungiku di café ketika kau memiliki waktu senggang. Terlebih, aku tidak bekerja di kantormu. Aku bekerja di kantor lawanmu, Chanyeol. Milik—"
"Jangan sebut kekasih Oh milikmu ketika kita bersama, Baekhyun. Itu melanggar perjanjian kita"
Baekhyun tersenyum dan kedua tangannya terulur untuk meraih wajah Chanyeol. "Aku benar-benar mencintaimu, Chanyeol" kemudian ia menekan bibirnya di atas bibir tebal milik Chanyeol.
"Terima kasih untuk kencan kali ini dan selamat beristirahat"
"Sampai jumpa dua minggu lagi, Chanyeol"
.
.
.
But I know this
We got a love that is homeless
.
.
.
Mereka telah melewati jalanan yang panjang. Dan untuk melihat di mana awal dari semua ini terjadi kita perlu menarik mundur beberapa tahun yang lalu. Baekhyun dan Chanyeol memang benar merupakan sahabat kampus. Kehidupan kampus mereka hanya diisi dengan canda, tawa, dan sedikit tekanan karena tugas serta ujian. Namun itu semua berubah ketika Baekhyun menyatakan perasaannya pada Chanyeol saat ia mabuk di suatu malam.
Hari-hari berwarna mereka menjadi kelam dan abu-abu ketika baik Baekhyun dan Chanyeol saling menarik diri dan menghindari satu sama lain. Bahkan di pesta kelulusan Chanyeol pun ia tidak dapat melihat batang hidung sahabat baiknya itu.
Delapan belas bulan kemudian Chanyeol menggantikan posisi Ayahnya menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan. Menjadi kekasih dari seseorang yang tampan, tinggi, kaya, dan pintar adalah keinginan semua orang. Dan seorang lelaki mungil bernama Do Kyungsoo mendapatkan kesempatan itu dengan menjadi kekasih bagi Chanyeol.
Do Kyungsoo adalah anak dari rekan Ayah Chanyeol yang juga sangat terkenal dan tengah membuka cabangnya di Changsa.
Sikap Kyungsoo yang sangat terbuka dan peduli mengisi kekosongan di hati Chanyeol yang bahkan ia sendiri tidak menyadarinya. Chanyeol tidak menyadari betapa hatinya kosong setelah secara terpaksa berpisah dengan Baekhyun.
Mereka melewati berpuluh-puluh jadwal kencan dan menghabiskan waktu bersama. Waktu itu mereka memilih untuk menghabiskan waktu di sebuah café di mana ia dan Baekhyun sering menghabiskan waktu bersama di dalamnya, dulu. Kyungsoo memilih meja dan Chanyeol yang memesankan makanan mereka.
Di sanalah ia bertemu dengan Baekhyun lagi.
Lelaki mungil dengan wajah menyenangkan itu mengantri bersamanya. Awalnya terasa canggung, hingga Chanyeol pada akhirnya bergabung dengan Baekhyun karena sudah tidak ada lagi meja yang tersisa. Baekhyun tidaklah seorang diri, ia bersama dengan seorang pria yang dengan tanpa malunya mencium bibir Baekhyun di hadapan Chanyeol.
Posisi Baekhyun dan Chanyeol berhadapan dan membuat Kyungsoo dan Sehun, kekasih Baekhyun, berhadapan. Chanyeol membuat sebuah gerakan kepala yang menunjukkan pada Baekhyun jika ia ingin berbicara empat mata dengan Baekhyun ketika Sehun bercerita bagaimana dunia begitu sempit karena ia dan Kyungsoo mengenal seorang teman bernama Jongin.
Kedua lelaki berbeda tinggi itu memasuki salah satu bilik kamar mandi. Bilik itu terlalu kecil untuk tubuh besar dan kekar milik Chanyeol dan itu sedikit mengintimidasi bagi Baekhyun. Mereka memulai pembicaraan empat mata mereka, dimulai dari mengapa mereka saling menjauhi dan betapa mereka saling merindukan satu sama lain.
Tidak ada yang tahu siapa yang memulainya, namun setelah perbincangan singkat itu kaki Baekhyun sudah melingkar di pinggang Chanyeol dengan bibirnya yang berada di atas bibir Chanyeol. Saling menekan dan melumat.
Merasakan bagaimana mereka merindukan waktu mereka dan merindukan satu sama lain.
Setelah kejadian itu, mereka mulai sering bertemu dan membuat janji di balik punggung masing-masing kekasih mereka. Mereka membuat janji untuk berkencan setiap dua minggu sekali dengan ketentuan Chanyeol akan menjemput Baekhyun pada saat dini hari hingga waktu di mana mereka merasa cukup untuk membagi kasih mereka di dalam mobil Chanyeol.
Mereka menjadi sepasang 'kekasih' untuk satu setengah tahun.
Dan mereka merasa cukup akan hal itu.
Mereka tahu jika perbuatan mereka salah.
Mereka tahu jika mereka berselingkuh di belakang punggung kekasih mereka.
Namun Chanyeol dan Baekhyun hanya membutuhkan satu sama lain.
Dan tidak dapat meninggalkan kekasih mereka.
Berkali-kali Baekhyun ataupun Chanyeol mencari alasan untuk meninggalkan kekasih mereka tanpa meninggalkan rasa sakit. Tentu saja mereka tidak akan menemukannya. Tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan.
.
.
.
Why can't I hold you in the street?
Why can't I kiss you on the dance floor?
I wish that it could be like that
Why can't it be like that?
Cause I'm yours
.
.
.
Chanyeol berkali-kali menarik air hidungnya dan itu menggerakkan diri Baekhyun untuk menepuk ringan kepala Chanyeol yang bersandar di bahunya. "Sesuatu terjadi padamu, hn?" yang lebih kecil memulai perbincangan mereka setelah Chanyeol memarkirkan mobilnya. "Satu-satunya hal yang terjadi adalah aku merindukanmu, Baekhyun"
Lelaki itu tertawa dengan gombal murahan yang dilontarkan oleh 'kekasih'nya. Tangan itu terulur untuk menyentuh kening Chanyeol yang terasa hangat, "Beberapa bulan yang lalu kita telah membuat sebuah kesepakatan untuk tidak berkencan ketika salah satu dari kita jatuh sakit. Kau sendiri yang membuatnya, Chanyeol" Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu dan menatap lelaki tinggi yang kini telah bersandar pada kursinya.
"Kau benar, aku yang membuat kesepakatan itu. Tapi aku terlalu merindukanmu hingga kurasa ini dapat membunuhku"
Baekhyun menghela nafasnya kemudian mengecup bibir Chanyeol, "Kalau begitu berikan padaku penyakitmu. Maka ini akan menjadi adil" sekali lagi ia mengecup bibir Chanyeol. Chanyeol tersenyum kecil kemudian menempelkan bibirnya di atas bibir Baekhyun, "Itu adalah ide bodoh yang menyenangkan"
Lelaki mungil itu menahan kepala Chanyeol untuk menghentikan kecupan-kecupan mereka, "Berjanjilah untuk beristirahat ketika kau sedang tidak baik. Seberapa besar rasa rindumu padaku, jika kau sedang sakit itu akan sangat menyakitiku"
"Aku akan pergi untuk membeli sesuatu yang hangatdan obat" lanjut Baekhyun kemudian ia pergi meninggalkan mobil Chanyeol untuk membeli obat dan coklat hangat di sebuah toko serba ada.
.
.
.
Why can't I say that I'm in love?
I wanna shout it from the rooftops
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
Cause I'm yours
.
.
.
Baekhyun memeluk tubuhnya sendiri mencari kehangatan di antara salju yang mulai turun, menanti hingga kedatangan Chanyeol dengan mobilnya di sebuah pertigaan di dekat kantornya yang mana dekat dengan rumah susunnya. Setelah mengganti pakaian kerjanya, Baekhyun dengan cepat memperbaiki penampilan diri dan memilih baju kasual untuk berkencan dengan Chanyeol. Sebuah sweater biru dengan celana jeans hitam menjadi pilihannya.
Ia membuat sebuah senyuman kecil ketika melihat sebuah mobil Mercedes Benz yang terlihat familiar di matanya, itu Chanyeolnya.
Dengan cepat ia melompat masuk dan mengecup pipi lelaki itu. "Sesuatu yang menyenangkan terjadi?" Chanyeol yang berada di balik kemudi tersenyum kecil dan mengusap kepala Baekhyun. "Ya! Bertemu denganmu adalah hal yang menyenangkan"
Chanyeol menginjak gasnya dan menjalankan mobilnya, menuju taman Sungai Han yang sudah berkali-kali mereka kunjungi. "Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu di pesta, Baekhyun"
"Kita akan bertemu?"
"Ya, kekasihmu tidak mengatakannya padamu? Anak perempuan dari Tuan Kim mengadakan pesta pernikahannya dan ia mengundang seluruh rekan bisnis. Kau tahu, kurasa kekasihmu dan kekasihku adalah teman dari anak laki-laki milik Tuan Kim. Dan ku yakin sepenuhnya kita akan bertemu"
"Jika benar kita akan bertemu, maka itu berarti kita akan bertemu sebagai rekan, Chanyeol. Tidak ada ciuman ataupun pelukan" Baekhyun mengerucutkan bibirnya sedih. Pemikiran untuk bertemu dengan Chanyeol di tempat lain membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Namun ketika ia menyadari ia tidak bisa membagi kasih sayang dengan Chanyeol, itu menjatuhkan hatinya.
Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun, "Kita memiliki semua itu di dunia ini, Baekhyun. Hanya di sini"
"Aku tahu, dan aku sudah merasa puas akan hal itu. Di mana pun itu dan kapan pun itu, jika itu adalah kau, Chanyeol, aku akan merasa baik-baik saja"
.
.
.
It's obvious you're meant for me
Every piece of you, it just fits perfectly
Every second, every thought, I'm in so deep
But I'll never show it on my face
.
.
.
"Senang melihatmu lagi, Chanyeol"
"Kesenangan adalah milikku untuk bertemu denganmu, Sehun"
Kedua lelaki itu tinggi itu saling menjabat tangan satu sama lain. Sungguh, kedua lelaki itu terlihat tampan dengan pakaian terbalut setelan hitam. "Tidak ada persaingan di gedung ini, benar?"
"Ya, tentu. Tidak ada persaingan saat ini, Tuan Oh"
Chanyeol menjabat tangan Baekhyun yang lentik dengan sebuah senyuman kecil. Tatapan itu selalu tertuju pada Baekhyun yang menurunkan pandangannya. "Aku bertanya karena rasa penasaran dapat membunuh, tapi mengapa kekasih Tuan Oh ini menurunkan pandangannya?" Chanyeol terkekeh kemudian dan Baekhyun menatapnya.
"Benarkah? Ayolah, sayang. Kau berada di sini sebagai kekasihku dan bukan sekretaris pribadiku" Sehun berbisik di telinga Baekhyun, namun Chanyeol dapat mendengarnya dengan baik.
"Ya Tuhan, Sehun! Kyungsoo!" pandangan mereka tertuju pada seorang pria berkulit gelap di dalam setelan hitam. Itu adalah Jongin, adik dari pemilik acara ini. "Kalian saling mengenal?" tanya anak itu dengan kedua tangannya berada di punggung Kyungsoo dan Sehun.
"Haruskah kita pergi?" Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun ketika perhatian Sehun dan Kyungsoo tertuju pada Jongin. "Aku sangat merindukanmu" sekali lagi Chanyeol berbisik dengan nada rendah.
Baekhyun tersenyum kecil dan mengangguk. "Well, ku rasa kalian dapat menikmati waktu kalian. Aku dan Baekhyun akan menikmati waktu kami dengan baik" Chanyeol tiba-tiba menyela dan kemudian pergi.
Baik Sehun dan Kyungsoo tidak sempat untuk menjawab namun keduanya telah berlalu. Sehun maupun Kyungsoo tidak menemukan hal yang aneh dari sikap Chanyeol dan Baekhyun. Mereka mengetahui fakta bahwa Chanyeol dan Baekhyun adalah teman sangat baik saat berada di kampus. Jadi mereka membiarkan ini berlalu.
Setelah menghilang dari hadapan Sehun dan Kyungsoo, Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Setelah membanting pintu kamar mandi, mereka memasuki salah satu bilik dengan tidak sabaran. Dengan tidak sabaran pula Baekhyun melompat ke arah Chanyeol dan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Chanyeol. Tanpa sabar Chanyeol dan Baekhyun saling melumat bibir lawan mereka.
"Aku sangat-sangat merindukanmu"
.
.
.
But we know this
We got a love that is homeless
.
.
.
"Soo, aku akan pergi mengunjungi beberapa teman lama dengan Baekhyun di Busan. Apa kau menginginkan sesuatu?"
"Kembalilah dengan selamat. Berapa lama kau akan membiarkanku mati bosan, hn?"
Chanyeol tertawa dan menyisir rambut hitam kekasihnya dengan jemari-jemari besarnya. "Kau akan merasakan surga setelah aku dan Baekhyun melewati pintu keberangkatan bandara, Soo" sekali lagi kekasih tinggi itu tertawa. "Tidak, aku harus meminta bantuan pada Jongin untuk pergi ke mana-mana. Kau baik-baik saja akan hal itu?"
"Kau tidak mempermasalahkan hubunganku dengan Baekhyun. Aku tidak melihat alasan aku harus melarangmu bertemu dengan temanmu, Soo"
"Wah! Kekasihku sangat perhatian rupanya. Terima kasih untuk tidak mengekangku, Chanyeol"
"Terima kasih untuk tidak mengekangku juga, Kyungsoo"
"Pertemananmu dengan Baekhyun adalah yang terbaik. Aku tidak memiliki seorang pun seperti Baekhyun, Chanyeol. Kau sangat beruntung memiliki seorang teman seperti Baekhyun"
"Ya, sangat beruntung"
Sehun dan Kyungsoo mengantarkan kekasih mereka untuk pergi ke Busan. Sungguh, perbincangan malam itu di toilet sungguh membutakan akal pikiran mereka. Mereka membutuhkan waktu untuk keduanya bersama. Di mana mereka dapat menjadi diri mereka dan saling membagi kasih sayang untuk waktu yang lama.
"Sampai jumpa dua minggu ke depan, Baek" Sehun mencium kekasihnya sebelum si mungil itu melewati pintu keberangkatan. "Aku akan sangat merindukanmu" lanjut Sehun. "Bersabarlah, dua minggu bukanlah waktu yang lama, Sehun"
"Kau tidak ingin menciumku juga?" pandangan Chanyeol teralihkan, dari pasangan yang saling mencium itu kepada kekasih kecil di hadapannya. "Haruskah?" tanya Chanyeol berusaha membuat Kyungsoo kesal. Ketika lelaki mungil itu mengerucutkan bibirnya, Chanyeol dengan segera mengecup bibir kekasihnya. "Jangan marah, Soo"
"Cepatlah kembali, Chanyeol. Jangan macam-macam dengan wanita dan pria Busan" kemudian Kyungsoo tertawa kecil.
Setelah Chanyeol dan Baekhyun melewati pintu keberangkatan, mereka saling menukar pandangan dan tersenyum. Mereka saling menggenggam tangan satu sama lain dan Baekhyun berjinjit untuk memberikan sebuah kecupan di bibir Chanyeol. "Aku sangat merindukanmu" bisik yang lebih kecil di hadapan bibir kekasihnya.
Mereka menghabiskan waktu dua minggu di Busan dengan baik. Mereka tidak sepenuhnya berbohong dengan 'mengunjungi teman lama' karena mereka benar-benar mengunjungi Jimin dan Wooyoung, keduanya adalah teman lama yang melanjutkan karirnya di kampung halamannya. Meskipun Jimin sedikit terkejut dengan kunjungan tiba-tiba dari kedua teman lamanya. Terlebih lagi dengan Wooyoung.
Beberapa kali mereka keluar untuk berkencan dini hari, dan beberapa kali mereka menghabiskan waktu di hotel mereka dan membagi kasih. Baekhyun tidak menyesal merasakan rasa sakit di pinggangnya pada suatu pagi setelah mereka habis-habisan bercinta pada malam sebelumnya.
Hingga beberapa hari pun Baekhyun harus merasakan nyeri di area bawahnya dan itu membuat Chanyeol harus melayani Baekhyun karena rasa penyesalannya. Tidak sepenuhnya menyesal sebenarnya.
"Pelayan Park, bisakah kau mengambilkan sebotol air untukku?" Baekhyun tertawa setelah mengatakannya. Chanyeol yang berbaring di sampingnya hanya menghela nafas dan melompat keluar dari balik selimut putih. Menunjukkan tubuh jantan dan berotot miliknya pada Baekhyun, ia tidak memakai atasan omong-omong.
Baekhyun terkekeh ketika menerima sebotol air itu. "Terima kasih, Chanyeol"
"Jadi apa hadiahku?"
"Hadiah?"
"Oh ayolah, aku sudah membawa pantat malasku keluar dari selimut hanya untuk mengambilkan sebotol air untukmu" Chanyeol membanting tubuhnya ke atas ranjang empuk hotel itu dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Baekhyun. "Aku tidak menjanjikan hadiah apapun"
"Aku akan mengambilnya sendiri" kemudian Chanyeol bangkit dan mencium bibir Baekhyun untuk beberapa saat lalu turun untuk mencium tanda memar yang ia buat pada malam itu di leher Baekhyun. "Chanyeol, cukup. Aku masih terlalu lelah untuk melakukannya denganmu"
"Apakah aku seliar itu?"
"Ya! Dasar otak udang!"
"Melebihi kekasihmu?"
"Aku tidak ingin membahas urusan ranjangku dengan kekasihku"
"Kyungsoo tidak pernah berkomentar apapun mengenai—"
"Aku juga tidak ingin mendengar urusan ranjangmu dengan kekasihmu" kemudian Baekhyun mengalihkan pandangannya dari Chanyeol. "Baek, kau marah?"
Tiba-tiba saja Baekhyun bangkit dan berjalan dengan kesulitan menuju kamar mandi. "Baek, tunggu. Kau benar-benar marah padaku?" dengan segera Chanyeol bangkit dari ranjangnya dan menyusul Baekhyun. "Ada apa, Baek?" Baekhyun mengunci pintu kamar mandi ketika Chanyeol hendak membuka pintu itu.
"Jangan membahas urusan ranjang dengan kekasih kita, Chanyeol. Kau bukan milikku sepenuhnya" Baekhyun berucap dari balik pintu, menyandarkan tubuhnya pada pintu dan memastikan Chanyeol mendengar ucapannya. "Jika kau ingin mengetahuinya, aku merasa sakit ketika membayangkanmu melakukan itu pada Kyungsoo, Chanyeol. Apakah itu egois?"
Chanyeol menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya pada pintu kayu itu. "Itu menyakitimu? Maafkan aku, aku tidak akan membahas hal itu lagi, sungguh"
"Aku merasa sakit hati, Chanyeol. Apa yang akan kau lakukan dengan itu?"
"Hn, apa yang harus ku lakukan jika Baekhyunku sedang sakit hati?" Chanyeol membuat sebuah senyuman setelah mengatakan itu. "Bisakah kau membuka pintu ini? Setidaknya, aku harus melihat wajahmu. Aku sudah sangat merindukanmu"
"Itu tidak membantu menghilangkan sakit hatiku sama sekali, otak udang"
Chanyeol tertawa, namun kemudian Baekhyun membuka pintu kamar mandi itu. Mata itu berair dan bibirnya mengerucut lucu. Dengan segera Chanyeol membawa lelaki itu dalam sebuah pelukan dan beberapa kali ia mengecup pucuk kepala Baekhyun.
"Maafkan aku, aku tidak akan melakukan itu lagi"
.
.
.
Why can't you hold me in the street?
Why can't I kiss you on the dance floor?
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
Cause I'm yours
.
.
.
Malam itu adalah malam terakhir mereka berada di Busan sebelum kembali ke Seoul dan kembali ke pelukan kekasih mereka masing-masing. Baekhyun menatap layar televisi yang tengah memutarkan sebuah film animasi yang menarik perhatiannya. Dan itu membuat Chanyeol merasa sebal. Ia tidak menyukai Baekhyun yang mengabaikannya. "Baekhyun"
"Sshh… jangan menggangguku"
"Baekhyun! apakah film itu lebih penting melebihi kekasihmu?"
Baekhyun mendecak sebal dan menatap Chanyeol yang mengerucutkan bibirnya dengan tubuh atas telanjangnya, "Ya!" setelah itu ia kembali menatap pada layar televisi yang sangat besar itu.
"Berani-beraninya kau!" kemudian Chanyeol melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Baekhyun dan menyembunyikannya wajahnya pada satu sisi pinggang Baekhyun. "Kau berhutang maaf padaku. Sekarang sampaikan hutangmu padaku"
"Tidak akan, kau yang menggangguku menonton film"
"Katakan maaf padaku, Baek. Atau kau akan mendapatkan hukuman"
"Bisakah kau diam? Aku tidak akan meminta maaf padamu dan kau tak mungkin menghukumku"
Chanyeol mengangkat kepalanya untuk menatap Baekhyun, "Kau menyakiti hatiku! Aku akan menghukummu" kemudian Chanyeol menggerakkan kedua tangannya untuk menggelitik Baekhyun di titik sensitifnya. "Chanyeol! Jangan menggelitikku!"
Baekhyun tidak dapat menghentikan suara tawa yang mengalir begitu saja dari mulutnya, "Hentikan Chanyeol! Hentikan!"
Chanyeol tersenyum mendengar suara tawa Baekhyun yang menyenangkan dan tidak memiliki niatan untuk menghentikan gerakan tangannya yang menggelitik tubuh Baekhyun. "Katakan maaf padaku karena kau telah menyakiti hatiku" ucap Chanyeol dengan sebuah senyum terukir di bibirnya.
"Iya, maafkan aku. Sekarang hentikan"
"erm… tidak!"
Kemudian Chanyeol semakin menggelitik tubuh Baekhyun hingga Baekhyun tertawa dan menendang-nendang tubuh Chanyeol. Mata Baekhyun berair karena terlalu banyak tertawa. Dan ia memilih untuk menendang Chanyeol dengan sangat kuat hingga Chanyeol terjatuh dari kasur.
"Oh! Astaga, aku tidak mengira kau akan terjatuh, Chanyeol!" ucap Baekhyun ketika membantu Chanyeol untuk berdiri. "Kau menendangku sangat kuat, Baek"
"Aku tahu. Maafkan aku, hn?"
"Oke, sekarang berikan aku ciuman penyembuhan yang kuat agar aku tak merasa sakit"
"Tentu!"
Sebelum kedua bibir itu bertemu, ponsel Baekhyun berdering. Sebuah panggilan memasuki ponselnya. Baekhyun dengan segera meraih ponselnya hanya untuk memeriksa siapa yang menelfonnya malam-malam seperti ini.
"Erm, apakah Tuan Chanyeol dapat menahan ciuman kuat untuk beberapa menit? Kekasihku menghubungiku"
"Tentu, aku akan merokok di balkon"
"Erm, aku akan merokok bersamamu kalau begitu" kemudian Baekhyun mengecup bibir Chanyeol sebelum mengangkat panggilan dari Sehun. "Hallo Sehun? Aku sedang berada di hotel bersama Chanyeol. Aku merindukanmu juga"
Ketika Baekhyun sudah berada di balkon, Chanyeol mengambil bungkus rokok dan koreknya yang tergeletak di meja, di samping sekotak kondom yang terbuka. Ia tersenyum kecil ketika mengingat perbuatan mereka beberapa malam yang lalu. Sungguh menyenangkan.
Ia merasa dingin ketika ia berada di balkon. Tubuh atasnya yang terekspos membuatnya merasa dingin dengan angin laut malam hari ini.
Setelah itu Chanyeol menyelipkan rokok di antara bibirnya dan menyalakan rokoknya. "Milikku juga, Chanyeol, tolong" ucap Baekhyun disela-sela perbincangannya. Chanyeol tidak menggunakan korek untuk menyalakan korek Baekhyun, melainkan menggunakan rokoknya yang telah menyala. Sehingga wajah mereka berdekatan. Oh Tuhan, jantung Baekhyun tetap berdetak dengan sangat gila meskipun ini bukan pertama kalinya mereka sedekat ini.
"Ah tidak, aku tengah merokok bersama Chanyeol"
Chanyeol hanya menyesap dan mengeluarkan asap sembari menemani Baekhyun yang berada dalam sambungan. "Apa maksudmu 'hanya dengan Chanyeol'? Tentu saja hanya dengan Chanyeol, Sehun"
Yang lebih tinggi menatap pada yang lebih mungil yang masih sibuk dengan panggilan dan rokoknya. Tiba-tiba saja ia meraih rokok Baekhyun dan mengecup bibir Baekhyun dengan cepat. Baekhyun membelalakkan matanya dan segera memukul lengan Chanyeol. Sedangkan sang pelaku hanya tertawa senang berhasil menggoda kekasihnya.
"Mendecak? Ya, aku mendecak. Chanyeol membuang rokokku dan menjadi menyebalkan. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Sehun. Chanyeol menjagaku dengan sangat baik"
"Dengan sangat baik" bisik Chanyeol dengan suara rendahnya tepat di telinga Baekhyun lainnya. "Hentikan Chanyeol, berhenti menjadi menyebalkan"
Sedangkan Chanyeol hanya tertawa senang dan meraih ponselnya yang berdering. Sebuah panggilan dari sang kekasih yang merasa kesepian. "Eo, Kyungsoo"
Keduanya mulai sibuk berbincang dengan kekasih mereka dan mereka memberi jarak agar suara mereka tidak mengganggu satu sama lain. Ketika Chanyeol tengah mendengarkan Kyungsoo bercerita, Baekhyun yang telah selesai dengan panggilannya mendatanginya.
Dengan sebuah senyuman menggoda, Baekhyun menarik rokok Chanyeol dan membuangnya. Kemudian ia mencium bibir Chanyeol dengan penuh semangat. "Mmm" lenguhan Chanyeol yang terdengar seperti sebuah respon singkat bagi Kyungsoo dan ia terlalu polos untuk merasa curiga.
"Ah, hentikan Baekhyun" Chanyeol berusaha menghentikan Baekhyun yang kini menciumi dada telanjangnya. "Tidak Kyungsoo, Baekhyun hanya menjadi sangat menyebalkan. Kau dapat melanjutkan ceritamu"
Namun Baekhyun bukanlah 'kekasih' yang benar-benar menurut. Ia dengan sengaja mengulum puting Chanyeol dan menggigitnya. Chanyeol mendengus dan menjauhkan ponselnya dari dirinya.
"Setelah ini aku akan menghukummu, anak nakal"
"Hukum aku kalau begitu" kemudian Baekhyun menjulurkan lidahnya dan memasuki kamar milik mereka.
.
.
.
Why can't I say that I'm in love?
I wanna shout it from the rooftops
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
Cause I'm yours
.
.
.
Ini adalah surga terakhir mereka. Berada di pesawat dengan pelayanan terbaik dan hanya ada mereka yang saling menggenggam menuju Seoul. Tidak memiliki keinginan untuk melepas satu sama lain. Oh Tuhan, Chanyeol benar-benar ingin membawa Baekhyun pergi. Ingin sekali ia mendatangi ruang pilot dan mengemudikan pesawat ini untuk pergi menjauh, ke antah berantah bila perlu.
"Chanyeol, setelah ini apa yang akan kita lakukan?"
"Apa lagi? Aku akan menjemputmu dua minggu sekali seperti apa yang sering kita lakukan"
Baekhyun menghela nafasnya, "Terkadang pikiran mengenai Sehun dan Kyungsoo menggangguku. Aku tidak dapat menahannya karena mereka muncul secara tiba-tiba ketika aku bersamamu"
"Kita telah membahas ini, Baek. Kau tahu mengapa kita tidak dapat berpaling dari Sehun ataupun Kyungsoo" setelah itu Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun.
"Tidak bisakah, kita menjadi egois dan melarikan diri dari dunia? Aku akan pergi ke manapun kau mau, Chanyeol. Meskipun kau dan aku menjadi kehilangan segalanya, aku akan tetap bersamamu. Asalkan aku tidak kehilangan dirimu. A-ayo… bangun sebuah gubuk di sudut desa dan menanam padi untuk bertahan hidup. A-aku… dapat memasak. K-kau—"
Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan menciumnya lembut. Kemudian ia menatap tepat di mata Baekhyun dan mengusap kepalanya lembut. "Itu bukan pemikiran bodoh, aku benar-benar menyukai idemu itu. Kita dapat menjadi petani di sebuah desa di pucuk gunung dimana hanya ada kau dan aku. Aku akan mengorbankan segalanya untukmu, perusahaan sekalipun"
"Benarkan? Kau menyukai pemikiran itu, bukan? Kau akan melakukan itu, bukan?" mata Baekhyun berkaca penuh harap. Benar-benar merasa putus asa dengan hidupnya.
Tangan Chanyeol bergerak untuk membelai pipi Baekhyun, "Hingga saat itu tiba, tunggu aku. Tunggu aku dan aku akan membawamu pergi. Kau… akan menungguku, bukan?" kemudian ia menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata Baekhyun.
"Aku akan selalu menunggumu, Chanyeol"
"Bagus"
Baekhyun menurunkan pandangannya, "Chanyeol, pernahkah kau berpikiran untuk memiliki seorang anak?"
"Anak? Tiba-tiba kau tertarik pada anak kecil?" Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan lembut dan baik. "Beom hyung mendapatkan seorang anak laki-laki yang menggemaskan. Ia memberikan nama anak itu sebuah penggabungan dari namanya dan istrinya"
"Jika kau menyukai pemikiran untuk mengurus anak, aku tidak keberatan untuk mengadopsi beberapa. Dan apa kau sudah memikirkan sebuah nama?"
Baekhyun menatap Chanyeol dan tersenyum, "Secara aneh, aku telah memikirkan sebuah nama"
"Secepat itu? Nama apa yang akan kau berikan pada si kecil kita?"
"Soohyun, Park Soohyun. Aku memikirkan untuk memiliki anak perempuan kecil dan menggemaskan"
Chanyeol tergerak untuk mengusap kepala Baekhyun lagi, "Sempurna. Kau, aku, dan Soohyun kita dapat hidup bahagia di sebuah gubuk di puncak gunung. Aku akan membawa seluruh harta milikku hingga kita tidak akan kehabisan makanan"
"Itu sempurna, Chanyeol" Chanyeol masih saja mengusap kepala Baekhyun dengan penuh kasih.
"Chanyeol?"
"Hn?"
"Apakah kau memikirkan sebuah nama?"
"Tiba-tiba sebuah nama memasuki pikiranku"
"Apa itu?"
"Soohyun, aku tahu dari mana kau mengambilnya. Soo dari Kyungsoo dan Hyun dari Baekhyun"
"Kau benar-benar cerdas, Chanyeol"
"Aku memikirkan untuk memiliki seorang anak laki-laki. Dan aku akan memberinya Seyeol, Park Seyeol. Namun aku akan lebih menyukai Chanhyun"
"Nama apapun itu akan terdengar menyenangkan ketika mereka adalah anak kita"
"Kau benar, Baek"
.
.
.
I don't wanna live love this way
I don't wanna hide us away
I wonder if it ever will change
I'm living for that day
Someday
.
.
.
"Kau terlihat tidak bersemangat, Baek. Ada apa?" tanya Chanyeol sembari mengusap kepala Baekhyun setelah ia memarkirkan mobilnya di taman Sungai Han. "Chanyeol" panggil yang lebih kecil.
"Hn?" lelaki tinggi itu membuat sebuah senyuman dan memainkan rambut gelap milik Baekhyun.
"Kurasa… ini harus berakhir" seketika tangan Chanyeol berhenti memainkan rambut Baekhyun dan menatap Baekhyun yang masih enggan menatapnya. "Tunggu, kurasa aku kehilangan arah. A-apa yang harus berakhir?"
Baekhyun menghela nafasnya dan menatap Chanyeol. Mata berair itu bertemu dengan mata lebar milik Chanyeol. "Kita. Kita harus berakhir, Chanyeol"
"Tidak! Tidak ada yang harus berakhir. Kau mencintaiku, Baekhyun, dan aku sangat mencintaimu. Tidak ada yang harus berakhir" Chanyeol mengusap air mata Baekhyun dengan tangan bergetar.
"S-sehun… mengetahuinya. S-sehun… mengetahui perselingkuhan ini, Cha—" Chanyeol segera memotong permbicaraan itu dengan mencium bibir Baekhyun. Baekhyun menangis di antaranya, dan membuat ciuman kali ini terasa asin.
Ya, Sehun mengetahuinya. Pada suatu saat ketika secara tidak sengaja Sehun melihat tanda di leher Baekhyun yang selalu memakai baju turtleneck. Lelaki itu memarahinya habis-habisan hingga Baekhyun menangis di buatnya. Ketika mendengar isakan Baekhyun, Sehun berhenti membentak dan ia mulai menghapus air mata Baekhyun.
"Maafkan aku karena tidak dapat membuatmu bahagia, Baekhyun. Ini salahku. Berhentilah menangis" itulah yang terucap selanjutnya. Sungguh, Baekhyun merasa sangat bersalah mendengar Sehun menyalahkan dirinya atas perselingkuhannya dengan Chanyeol. Baekhyun berkali-kali menggelengkan kepalanya dan menggumamkan kata maaf pada Sehun.
Baekhyun menarik dirinya setelah mendapatkan kesadarannya lagi. "Cukup, Chanyeol. Hentikan semua ini. Ku mohon. Aku benar-benar mencintaimu, Chanyeol"
"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Baekhyun"
"Kau tidak harus membiarkanku pergi, aku yang akan pergi. Selamat tinggal, Chanyeol" dan kemudian Baekhyun melompat keluar dari mobil Chanyeol dan segera menghentikan sebuah taksi yang secara kebetulan melewatinya.
Chanyeol masih berusaha memahami situasi dan tersadarkan ketika taksi itu telah membawa Baekhyun pergi. Ia mengusak rambutnya frustasi dan memukul langit-langit mobil Mercedes-Benz miliknya. Chanyeol mengeraskan rahangnya dan segera meraih ponselnya, menghubungi Baekhyun yang hanya terdengar sampai nada sambung.
Baekhyun tidak mengangkat panggilan darinya.
Di dalam taksi, Baekhyun menangis dalam diam. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menghindari suara isakan yang meminta keluar dari mulutnya. Tidak pernah dalam hidupnya berpikiran untuk mengakhiri semua ini dengan Chanyeol. Bahkan, ia lebih memilih untuk tinggal di desa dibandingkan berada di kota asalkan bersama Chanyeol.
Dua minggu kemudian, Baekhyun tidak muncul di pertigaan tempat biasa mereka bertemu.
Chanyeol yang frustasi pergi ke rumah susun Baekhyun hanya untuk mendapatkan informasi bahwa Baekhyun telah pindah beberapa hari yang lalu.
Bahkan mereka tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dengan benar.
.
.
.
When you hold me in the street
And you kiss me on the dance floor
I wish that we could be like that
Why can't we be like that?
Cause I'm yours
I'm yours
.
.
.
Sebelas bulan kemudian Baekhyun mendapatkan kabar dari Sehun bahwa Chanyeol dan Kyungsoo akan mengadakan upacara pernikahan. Sehun beberapa kali menimbang-nimbang untuk mengatakan kabar ini atau tidak. Namun pada akhirnya ia memilih untuk mengatakannya, lebih baik dari pada Baekhyun tidak mengetahui apapun.
"Kita tidak harus datang, Baek" Sehun menatap Baekhyun yang terlihat murung setelah mendengar kabar itu. "Tidak, secara teknis Kyungsoo adalah temanmu. Kau harus datang" Baekhyun membuat sebuah senyuman kecil kepada Sehun.
"Kalau begitu, kau harus datang bersamaku, Baekhyun"
Baekhyun menutup matanya dan menghela nafasnya, "Baiklah, aku akan datang"
Baekhyun terlihat seperti mayat hidup ketika menghadiri pernikahan itu. Lelaki itu tanpa hentinya menatap Chanyeol yang kini menggenggam tangan Kyungsoo di altar. Ia membuat sebuah senyuman kecil ketika prianya mencium pengantinnya.
Sebuah air mata bodoh mengalir dari sudut matanya tanpa ia sadari ketika seluruh tamu undangan bertepuk tangan berbahagia kepada kedua mempelai. Tiba-tiba saja seluruh potongan memori Baekhyun mengenai Chanyeol memasuki ingatannya. Ia sudah memastikan untuk melupakan dan mengunci memori itu agar tidak secara tiba-tiba muncul di ingatannya, seperti saat ini.
Kurasa ia tidak menguncinya dengan rapat, hingga ingatan mengenai romansa miliknya dan Chanyeol berputar di kepalanya.
Ketika ia memeluk tubuh tingginya.
Ketika ia mencium bibir tebal itu.
Ketika lelaki itu mengabaikan kesehatannya hanya untuk bertemu dengannya.
Ketika lelaki itu datang membawa eomuk favoritnya.
Ketika lelaki itu menjanjikan untuk hidup di sebuah pedesaan hanya bersama dirinya.
Dan seluruh memori itu tiba-tiba memasuki ingatannya.
"Dasar pembual licik… Gombal murahan… Kau sialan…" Baekhyun bergumam dengan air mata yang kembali terkumpul di ujung matanya "Aku berharap kau hidup dengan bahagia"
Kini Chanyeol menarik tangan Baekhyun untuk mengikutinya. Mereka pergi menuju salah satu bilik kamar mandi dan dengan segera Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun. "Aku merindukanmu, Baek. Benar-benar merindukanmu hingga ini membunuhku"
Ini semua terjadi ketika Sehun dan Baekhyun menghampiri Chanyeol dan Kyungsoo dan menyampaikan ucapan selamat mereka. Tiba-tiba saja Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan Sehun tidak menghentikan mereka. Ia tahu apa yang akan terjadi dan ia tidak menghentikan itu.
"Ini… telah berakhir, Chanyeol"
"Aku tidak menyetujuinya!"
"Tapi ini benar-benar telah berakhir"
"Bagaimana denganku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi ? Mengapa kau meninggalkanku?!" Chanyeol membentak Baekhyun di hadapannya. Sebuah air mata bodoh lainnya mengalir dari sudut mata Baekhyun.
"Aku masih mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu! Aku terluka sama sepertimu, Chanyeol. Namun ini telah berakhir. Maafkan aku karena mencintaimu. Kita bertemu di saat yang tepat dan jatuh cinta di saat yang salah, Chanyeol. Maafkan aku"
Chanyeol pada akhirnya mengeluarkan air mata miliknya. Dengan tangan bergetar Baekhyun menghapus air mata Chanyeol dan membuat sebuah senyuman, "Kau telah menikah, Chanyeol. Beberapa saat yang lalu kau mengucapkan janji suci sehidup semati dengan Kyungsoo. Maka dari itu, lupakanlah aku dan berbahagialah dengan Kyungsoo"
Baekhyun menaruh bibirnya pada bibir Chanyeol untuk beberapa saat.
"Aku… sangat mengharapkan kebahagiaanmu" setelah itu Baekhyun meninggalkan bilik kamar mandi tersebut.
"J-jangan menangis… Tuan Pengantin. A-aku… Aku mencintaimu" ucap Baekhyun sebelum meninggalkan kamar mandi itu dan meninggalkan Chanyeol yang menangis seperti anak kecil.
.
.
.
Oh, why can't you hold me in the street?
Why can't I kiss you on the dance floor?
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
Cause I'm yours
.
.
.
"Chanyeol, kau tidak ingin masuk? Ini sudah malam, angin malam tidak terlalu baik" Kyungsoo menatap punggung Chanyeol yang berada di balkon rumahnya dari balik pintu. Chanyeol menoleh, namun tidak menatap tepat di mata Kyungsoo. "Nanti aku akan menyusul, kau dapat menidurkan Soohyun kita terlebih dahulu"
"Eung, aku akan menunggumu di dalam"
Park Soohyun, seorang anak –perempuan– angkat yang Chanyeol dan Kyungsoo bawa satu tahun yang lalu. Kyungsoo tidak memiliki ide untuk memberikan nama baru untuk anak itu dan Chanyeol tiba-tiba saja menyebut nama 'Soohyun' seperti apa yang Baekhyun sukai.
"Kau… meninggalkanku, Baek" ditangan Chanyeol terdapat sebuah sobekan kertas dari surat kabar mengenai pernikahan Baekhyun dan Sehun. Chanyeol segera merobek dan menyimpan wajah Baekhyun yang berada di sana.
Baekhyun dan Sehun tidak melanjutkan bisnis mereka di Seoul. Baekhyun dan Sehun meninggalkan Korea dan menetap di sebuah desa kecil di Barcelona. Tidak, Baekhyun tidak mengatakannya langsung pada Chanyeol. Surat kabar yang mengatakannya.
Kedua lututnya menabrak ubin dengan keras, "Kau sialan" dan kemudian Chanyeol menangis. Ia menumpu kedua tangannya dan menangis di sana. Oh Tuhan, dua tahun telah berjalan dan ia masih merindukan miliknya. Ia merasa kehilangan yang teramat sangat.
Sebuah tangan kecil menyentuh bahunya, "Daddy? Daddy menangis?" itu adalah suara Soohyun kecilnya.
"Tidak, baby. Daddy tidak menangis"
"Daddy berbohong, Hyunnie melihat daddy menangis"
Chanyeol terhenti untuk beberapa saat dan kemudian ia mengusap kepala Soohyun, "Hyunnie? Itu menggemaskan. Daddy hanya merindukan seseorang"
"Rindu? Seperti Hyunnie merindukan paman Baekhyun?"
"Paman Baekhyun? Hyunnie mengenal paman Baekhyun?"
Soohyun mengangguk semangat, "Terkadang ketika daddy berada di kantor, Paman Baekhyun akan datang. Paman Baekhyun selalu mencari daddy, namun hanya ada ayah dan Hyunnie di rumah. Meskipun begitu, paman Baekhyun selalu bermain dengan Hyunnie dan berkata Hyunnie memiliki mata yang sama indahnya dengan paman Baekhyun"
Chanyeol kembali terhenti dan memperhatikan Soohyun dengan baik, "Paman Baekhyun benar, kau memiliki mata yang indah sepertinya"
"Dan Paman Baekhyun menyuruhku untuk menyampaikan ini pada daddy. Tunggu sebentar…" Soohyun meraih sebuah sobekan kertas dari sakunya. "Hyunnie menulis ini dengan Paman Baekhyun" ia tersenyum dan menyerahkan robekan kertas itu pada ayahnya.
"Oh, terima kasih, Hyunnie"
"Hyunnie akan masuk dan mendengarkan ayah bercerita. Selamat malam daddy" kemudian ia mengecup pipi Chanyeol. "Selamat malam, Hyunnie"
Chanyeol membaca surat itu dan tersenyum kecil, "Kau benar-benar menyebalkan sampai akhir, Baek. Kau benar, aku menyesal"
.
.
.
Why can't I say that I'm in love?
I wanna shout it from the rooftops
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
Cause I'm yours
.
.
.
Sebuah kecupan di pipi secara tiba-tiba mengejutkan Baekhyun. "Kau melamun, lagi. Apa yang kau pikirkan, hn?" itu adalah kekasihnya, atau secara resmi sudah menjadi suaminya. "Sehun, berhenti mengejutkanku"
"Kau selalu saja melamun sebelum kita tidur. Apa yang kau pikirkan? Sesuatu mengusikmu? Atau… kau tidak menyukai Barcelona?"
"Tidak ada, semua berjalan dengan baik. Barcelona menyenangkan, sangat menyenangkan sebenarnya. Aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan Oh Seyeol kita. Hanya saja… aku tidak bisa berhenti memikirkan hal lainnya"
"Apa itu?"
"Kau tahu apa itu, dan kau tak akan menyukainya. Kau-tahu-siapa selalu memasuki pikiranku"
Sehun menghela nafasnya dan mengambil duduk di bangku samping Baekhyun berada. "Aku tidak tahu sebodoh apa kalian ini sebenarnya. Kau seharusnya tidak diam saja jika kau mencintai Chanyeol"
"Sehun, jangan sebut nama kau-tahu-siapa semudah itu. Itu tidak membantuku untuk melupakannya"
"Melupakannya? Kau mampu melupakannya?"
"Aku… tidak tahu"
"Kau tidak akan mampu, Baekhyun. Kau tidak akan melupakan Chanyeol, Baekhyun. Aku tidak sebodoh itu"
"Jangan sebut kau-tahu—"
"Sampai kapan kau akan beranggapan bahwa dengan menyebut Chanyeol sebagai kau-tahu-siapa akan membuatmu melupakannya lebih cepat? Itu benar-benar bodoh, Baekhyun. Maafkan aku, namun aku mencintaimu. Tapi kau benar-benar bodoh"
Baekhyun menghela nafasnya dan membuat sebuah senyuman kecil, "Aku tahu aku sangat bodoh. Sangat-sangat bodoh. Tapi kau tahu, aku dan kau-tahu—maksudku Chanyeol tidak dapat meninggalkanmu ataupun Kyungsoo"
"Kalian adalah manusia paling bodoh yang pernah ku temukan. Kau tidak perlu menghabiskan sisa hidupmu dengan terjebak bersamaku di sini, bodoh. Kau dapat saja keluar dan menikmati hidupmu bersama Chanyeol" Sehun membuang nafasnya kasar. Kesal terhadap sikap keras kepala Baekhyun yang tak pernah hilang bahkan setelah selama ini.
Sehun mengusap wajahnya, "Pernahkah kau menyatakan perasaanmu dengan sungguh-sungguh? Maksudku sebelum kau menjadi milikku ataupun Chanyeol memiliki kekasih"
"Pernah, saat aku dan Chanyeol masih kuliah dan juga saat itu aku mabuk"
"Dan apa yang ia katakan? Apa Chanyeol menolakmu?"
Baekhyun terhenti untuk beberapa saat, "Aku… tidak ingat"
.
.
.
Why can't we be like that?
Wish we could be like that
.
.
.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Chanyeol"
"Tidak akan"
"Aku akan menendang pantatmu dengan keras jika kau meninggalkanku"
"Untuk apa aku meninggalkanmu? Kau adalah yang terbaik, Baekhyun"
"Kau bersungguh-sungguh tidak akan meninggalkanku?"
"Ya, sekarang berhentilah meneguk alkohol ini"
"Kenapa? Aku sudah berumur lebih dari 21 tahun! Kalau begitu dengarkan aku dengan baik"
"Baek, haruskah kedua tanganmu menekan pipiku?"
"Sshh… diamlah, Park Chanyeol. Dengarkan aku dengan baik, mengerti?"
"Y-ya"
"Aku menyukaimu, Chanyeol. Benar-benar menyukaimu"
"Kau mabuk, Baekhyun. Hentikan"
"Benar aku mabuk. Aku mabuk untuk mengatakan ini karena aku tidak sanggup lagi menahannya lebih lama lagi, Chanyeol"
"Lihat? Sekarang kau tidak sadarkan diri setelah menyatakan perasaanmu padaku. Aku juga mencintaimu, Byun. Tapi kau tidak bersungguh-sungguh untuk mengatakan itu padaku. Nyatakan perasaanmu ketika kau sudah sadar. Ja, ayo kita pulang"
"Haaaa… Apa yang harus kulakukan padamu, Baekhyun? Aku benar-benar mencintaimu"
.
.
.
.
.
.
.
NEXT SONG :
EXO - Wait
.
.
.
.
Note :
Dalam tulisan Playlist 001 ini aku tidak menjanjikan banyak happy ending. Karena pada opening, sudah ku tulis "Baekhyun adalah seorang penulis. Seorang penulis cerita sedih lebih tepatnya. Tanpa sadar semua yang ia tulis merupakan cerita dengan akhir yang tidak bahagia atau menyedihkan". Dalam cerita ini, aku memosisikan Baekhyun sebagai penulis dan Chanyeol sebagai kekasih supportif yang selalu mendukung tulisan Baekhyun.
Aku tidak menjanjikan kapan cerita selanjutnya akan ku update karena jujur saja cerita itu belum selesai sepenuhnya. Kumohon bersabarlah, kkkk.
Dan aku memohon untuk meninggalkan jejak, saran, atau apapun karena itu benar-benar membantuku. ^^
