Prequel : Confess


semuanya sudah selesai.

semua masalah sudah berakhir dengan damai, Itsuki merasa lega. dari hubungan darah, saudara dan hubungan pertemanannya dengan Naruto yang masih terjalin hingga sekarang.

masalah yang akhir-akhir ini menghantuinya, pergi satu-persatu meninggalkan rasa lega di hati Itsuki.

"ada apa Itsuki?" Naruto bertanya pada gadis yang sedari tadi menundukkan kepalanya dan membuntutinya.

Naruto yakin, Itsuki ingin mengatakan sesuatu tetapi dia hanya terus menerus terdiam.

Itsuki mengcengkram sweater Naruto. dia tidak punya keberanian untuk menatap matanya.

"maaf..." ucapnya pelan, sangat pelan hingga Naruto tidak bisa mendengarnya.

Naruto sedikit menundukkan tubuhnya dan memajukan kepalanya.

"katakan dengan jelas"

"maafkan aku... aku– semuanya salahku, Naruto-kun. maaf" rasanya Itsuki terlalu malu untuk mengungkapkan semuanya tapi dia tidak akan mundur. hubungannya dengan Naruto harus di perbaiki.

Naruto tersenyum, dia mengangkat tangannya dan menaruhnya di kepala Itsuki, memberikannya 'pat-pat'

"yosh, yosh, anak pintar. jangan terlalu di pikirkan"

Itsuki memberanikan dirinya menatap Naruto dan melihatnya hanya tersenyum lebar. mata Itsuki berkaca-kaca.

"huwaaa, tapi Naruto-kun, jahat. tidak membalas pesanku, aku khawatir kamu membenciku" Itsuki malah menangis.

Naruto panik, dia tidak menyangka bahwa sikapnya beberapa hari yang lalu membuat Itsuki kepikiran hingga berpikiran negatif.

"ahh– jangan menangis. maafkan aku, maafkan aku. aku sibuk"

Naruto menangkup kedua tangannya di depan dada. dia ikut merasa bersalah karena membuat Itsuki menangis.

"hiks... tapi kamu tidak membenci ku kan?" Itsuki bertanya di sela-sela tangisnya.

"tenang saja, aku bukan seperti itu" Naruto berusaha meyakinkan pujaan hatinya, dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "ini ambillah, mungkin dengan ini suasana hatimu sedikit lebih baik"

Naruto memberikan kupon pada Itsuki.

"eh, ini kupon untuk hotdog" Itsuki melihat kupon yang diberikan Naruto.

"hehehe, aku dapat dari seseorang, tapi ku rasa lebih baik itu buatmu saja" Naruto mengusap tengkuknya, dia terkekeh gugup.

benar saja, suasana hati Itsuki berubah, dia menjadi girang.

"kalau begitu, ayo, sebelum kehabisan" Itsuki menarik tangan Naruto dan membawanya ke stand makanan hotdog.

"aa–hmm" rona merah tipis menghiasi pipi Naruto, melihat senyum Itsuki membuat hatinya berdegup cepat.

"terima kasih" Itsuki menerima hotdog itu dengan senang hati, lalu membawanya pada Naruto. "ini enak sekali"

"Naruto-kun, aaa–" Itsuki menyuapkan hotdog itu pada Naruto.

"eh, kenapa aku?"

"kupon ini darimu, kurasa kita harus menikmatinya bersama" Itsuki membawa hotdog itu di depan mulut Naruto.

Naruto tak membuka mulutnya, dia menatap Itsuki yang masih sabar menyuapkannya disertai senyuman ramah. Naruto mengigit sedikit hotdog itu, rona merah itu semakin terlihat kentara di wajah Naruto.

"kenapa wajahmu memerah Naruto-kun, apa hotdog ini terasa pedas?" tanya Itsuki bingung

Naruto terkejut, dia menutup mulutnya dan membuang muka, menghindari tatapan Itsuki.

"ahh, hmm tidak apa-apa"

Itsuki heran, ingin bertanya tapi nampaknya Naruto tidak ingin mengungkitnya. jadi dia menahan diri.

ponselnya Itsuki berdering

"ahh, Naruto-kun, yang lain mencariku, aku harus pergi, apa tidak apa-apa?"

Naruto menatap Itsuki setelah berhasil mengusai dirinya.

"aku juga akan menemui Futaro" Naruto tersenyum seperti biasanya.

"jaa"

Naruto melambaikan tangannya dan tersenyum meski punggung Itsuki sudah menjauh. dia kembali menurunkan tangannya dan memasukkan ke dalam saku celananya.

Naruto memandang langit sore, senyum tipis terukir di bibirnya.

"hari ini yah?"

Naruto kembali menatap lurus tempat Itsuki pergi.

"apa aku juga bisa mengatakannya?"

Naruto harus berbicara dengan Futaro.

~~~

malam telah tiba, pesta penutupan festival SMA Asahi telah berakhir. hari ini juga merupakan penentuan. penentuan pilihan diantara kembar lima.

mereka memilih tempat yang berbeda dan menunggu.

namun, disaat yang sama...

"akhirnya kau datang"

Naruto menunggu Futaro di dekat pintu masuk sekolahnya. tubuhnya bersandar di dinding, tangannya bersedekap.

"Naruto, kau masih disini?"

"aku harus memastikan sesuatu"

Futaro mendekati Naruto yang masih setia berdiri di dekat pintu masuk. Futaro terkekeh.

"kurasa keputusanku juga membuatmu gelisah"

Futaro tidak salah, Naruto menunggu keputusan laki-laki yang lebih dulu di temui kembar lima. selain itu, salah satu alasan dia menunggu agar mengetahui perasaan seseorang.

"kau benar, sepertinya kau sudah memantapkan pilihanmu" Naruto menurunkan tangannya dan mendekati Futaro.

"aku sudah memutuskan. dan apa ini sama denganmu?"

Naruto mengalihkan pandangannya, dia mengusap tengkuknya.

"pilihanku hanya satu, kurasa kau sudah tau. apa itu sama?"

Futaro sangat paham apa yang dimaksud dengan Naruto. dia juga sudah tau, pada siapa hati Naruto berlabuh, si bungsu Nakano, Itsuki.

"tidak, meski kita mereka semua bersamaku, tapi aku juga hanya punya satu pilihan dan kita tidak sama" Futaro tersenyum tipis.

Naruto sedikit bernafas lega, dia sudah tau perasaan Futaro tetapi tidak dengan Itsuki.

"ini sudah waktunya, temui dia"

Naruto menepuk pundak Futaro.

"kurasa kata-kata itu juga berlaku untukmu"

keduanya tertawa pelan.

Naruto menjulurkan kepalan tangannya di depan Futaro, "kuharap semuanya berjalan seperti yang kau mau"

Futaro menyeringai, lalu menerima brofist dari Naruto, "itu juga untukmu"

Futaro meninggalkan Naruto sendirian dan pergi ke suatu tempat dimana tujuannya berada.

Naruto memandangi Futaro yang pergi, "aku akan menunggu sebentar lagi"

Naruto belum bisa memastikan perasaan Itsuki, dia ingin menyatakannya di waktu yang tepat.

bagaimanapun perasaan Itsuki, Naruto tidak berhak memaksanya. semua orang punya pilihan, termasuk dia.

"aku penasaran dengan perasaan Itsuki"

Naruto harus siap patah hati malam ini, perasaan seseorang tidak mudah di ketahui.

--

--

--

Itsuki sudah mengetahui siapa yang telah di pilih oleh Uesugi Futaro, guru les sekaligus teman sekelasnya. ada sesuatu yang membuat Itsuki gelisah.

Itsuki melihat Yotsuba berlari, dia menuruni tangga dan melihat Futaro. dia membuat keputusan.

"Uesugi-kun..."

Futaro menatap Itsuki.

"Itsuki? bagaimana dengan yang lain.."

"kalau kamu mencari Yotsuba, dia berlari kesana" Itsuki menunjuk kearah samping, matanya menatap serius pada Futaro. "sikap plin-plan hanya memperburuk keadaan" Itsuki berkata dengan tegas.

Futaro tersentak dan berbalik kearah Itsuki tunjuk. dia melirik Itsuki sejenak.

"benar, dan itu juga berlaku untukmu" Futaro bisa melihat Itsuki terkejut, "kau juga yang menentukan perasaanmu"

Itsuki termenung, memikirkan maksud dari Futaro.

"maaf" ucap Futaro sebelum meninggalkan Itsuki mengejar Yotsuba.

Itsuki melangkah mendekati jendela, melihat keduanya dari atas.

"Futaro sudah memilih, yah?"

Itsuki terkejut mendengar suara seseorang dari belakangnya.

"Na-Naruto-kun?"

"hai" Naruto memberikan lambaian tangan pada Itsuki, lalu mendekatinya, dia ikut melihat keluar jendela. "kamu baik-baik saja?"

"apa maksudmu? tentu, aku baik-baik saja" Itsuki berusaha menutupi kegelisahan hatinya. dia tidak tau, apa yang sebenarnya terjadi.

Naruto melirik ke bawah.

"Futaro memilih salah satu saudaramu, jadi bagaimana perasaanmu soal itu?"

Itsuki terdiam, dia terlihat bingung menjawabnya, dia juga tidak mengerti.

"ah, maaf, sepertinya aku terlalu ikut campur"

Itsuki menatap Naruto, "bukan begitu, Naruto-kun. aku juga bingung, seharusnya aku senang, Uesugi-kun sudah menentukan dan mereka juga saling mencintai, aku harusnya senang. tapi... disisi lain aku merasa gelisah"

Naruto tersenyum.

"apa mungkin..." Naruto memandang Itsuki cukup lama yang gugup karena ditatap begitu intens.

"mungkin apa?"

"kamu menyukai Futaro"

Itsuki tersentak.

"itu tidak mungkin" elak Itsuki cepat. dia memikirkan lagi dan lagi, tidak mungkin karena dia merasa begitu pada Futaro, "aku tidak mungkin... apalagi Yotsuba telah..."

Itsuki mengigit bibir bawahnya, dia mengcengkram roknya kuat. dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.

"Itsuki..."

Itsuki menatap Naruto yang kini tersenyum teduh padanya.

"perasaan seseorang memang sulit di tebak, tapi aku yakin kamu merasakannya juga. rasa gelisah, sakit dan cemburu ketika melihat orang kita sukai, memilih yang lain. aku mengerti perasaan itu" Naruto menaruh tangannya di dada. dia tersenyum tipis.

senyuman yang jarang Itsuki lihat dari seseorang yang begitu hangat.

"aku tidak bisa langsung menghakimi perasaanmu, yang punya itu kamu sendiri. kamu harus jujur pada hatimu dan kamu yang menentukan pilihanmu"

Itsuki terdiam, dia tau, semua keputusan ada di tangannya sendiri. tentang bagaimana perasaannya.

"apa maksudmu dengan sikap cemburu"

"meskipun aku mengatakannya padamu, akan terasa berbeda jika kamu merasakan langsung" Naruto memejamkan matanya sejenak, sebelum menundukkan pandangannya, "sebagai contoh, kamu tidak melihat orang kamu suka bersama dengan orang lain dan dia memperlakukan orang lain sama sepertimu, itu terasa aneh, disini" Naruto menunjukkan dadanya.

Itsuki ikut memegang dadanya dan merasakan apa yang Naruto maksudkan.

Naruto memandang langit dari balik jendela.

"sepertinya sudah malam, mau ku antar pulang?" Naruto menjulurkan tangannya pada Itsuki.

Itsuki menerimanya dan mengangguk.

.

.

"Naruto-kun"

Naruto berhenti melangkah, dia baru saja mengantar Itsuki pulang dan dia hendak pamit pulang tapi sepertinya gadis itu masih membutuhkannya.

"iya, kamu masih membutuhkan sesuatu?"

"boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"

"tentu"

Itsuki menatap mata Naruto.

"kenapa kamu begitu baik padaku, kenapa kamu melakukan semuanya, untukku?" Itsuki bertanya.

jika mendengar dari pertanyaannya, Itsuki merasa orang percaya diri, dia merasa seolah-olah Naruto hanya memperlakukannya secara istimewa.

mulut Naruto terbuka, matanya membesar sebelum tersenyum.

"aku tidak tau" balas Naruto seadaanya tapi Itsuki merasa tidak puas.

"kamu tidak berusaha menghindari pertanyaanku, kan?" Itsuki mendesak Naruto. dia seolah tahu, bahwa Naruto berbohong.

"kenapa kamu ingin tau?"

"tentu saja aku harus tau, kamu sudah melakukan sejauh ini untukku, bagaimana mungkin aku menutup mata pada setiap pertolonganmu" Itsuki mulai berteriak, mengejutkan Naruto karena responnya.

Naruto mendekati Itsuki, tangannya terulur menuju pipinya dan mengusapnya pelan. sebuah senyuman lagi-lagi tersemat di bibirnya.

"sepertinya aku harus mengatakan padamu"

Itsuki terpaku dengan tatapan Naruto.

"apa maksudmu?" Itsuki terbata-bata.

Naruto mendekatkan wajahnya pada Itsuki

"aku tidak punya alasan melakukan itu semua, selain..." Naruto semakin mendekatkan wajahnya. deru nafas Itsuki menerpa wajahnya.

Itsuki menunggu, meski pipinya di penuhi rasa panas, dan jantungnya terus berdegub kencang.

Naruto tidak bisa mundur, tatapan terkunci pada bibir merah milik Itsuki. merasa tidak ads perlawanan, Naruto menempelkan bibirnya pada bibir Itsuki dan menciumnya perlahan.

waktu terasa berhenti, pikiran Itsuki terasa kosong, dia tidak tau berkata apa dan melakukan apa. hingga Naruto menjauhkan wajahnya, Itsuki masih mencerna apa yang baru saja terjadi.

"kurasa kamu sudah mengerti"

Naruto melepaskan dirinya dari Itsuki, dia tersenyum.

"aku pulang, sampai ketemu besok, Itsuki"

Itsuki tidak membalas, pikirannya masih melayang, otaknya masih memproses.

"e-eh"

wajah Itsuki memerah sepenuhnya.

"EE-EEEHHHHH!"

--

--

--

Itsuki tidak bisa fokus, kejadian semalam begitu membekas dalam pikirannya. dia hampir tidak bisa tertidur karena memikirkannya.

'apa maksud Naruto-kun tadi malam? dan kenapa dia menciumku?'

pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.

"Itsuki!"

"Aaah"

Itsuki terkejut mendengar seseorang memanggilnya.

"Miku?" Itsuki melotot horor.

"ada apa denganmu, tadi malam hingga hari ini kamu terus melamun, wajahmu juga memerah, kamu tidak demam kan?" tanya Miku khawatir.

tadi malam setelah dari festival, Itsuki tampak tidam fokus bahkan ketika sampai pulang kerumah. Miku tampak khawatir dengan Itsuki, tidak biasanya dia bertingkah seperti itu.

pikiran Itsuki terlintas dengan kejadian semalam.

"apa maksudmu, aku baik-baik saja" elak Itsuki cepat, dia pura-pura melirik jam untuk menghindari, Miku. "ah, kita harus pergi sekolah, sudah terlambat" Itsuki mengambil tas nya dan segera keluar dari apartemennya.

Miku memandang Itsuki curiga.

"hmm, aneh"

.

.

sekarang, perasaan Itsuki campur aduk. dia merasa gelisah, tentang perasaannya pada Futaro dan pernyataan mendadak yang tidak jelas dari Naruto.

semua itu menganggu fokus Itsuki. selama dua hari, hubungannya dengan Naruto terbilang canggung karena kejadian malam lalu di depan apartemennya.

Itsuki bertanya-tanya, ada apa dengan hatinya.

dia memirkan perkataan Shimoda –mantan murid ibunya–

["bukannya dia cemburu karena dia menyukai si cowok?"]

dan perkataan Naruto.

["...rasa gelisah, sakit dan cemburu ketika melihat orang kita sukai, memilih yang lain..."]

Itsuki bertanya-tanya sebenarnya dari mana asal kegelisahan itu.

"tidak mungkin, kan. tidak mungkin"

Itsuki berusaha menyangkal bahwa dia cemburu karena Futaro. tapi semakin dia menyangkalnya, rasa gelisah itu tidak pernah menghilang, ditambah lagi dengan kejadian malam yang lalu begitu menganggunya.

"Itsuki?"

"Uesugi-kun?"

"apa yang kau lakukan disini?"

Itsuki memalingkan wajahnya, "aku mencari Nino" Itsuki hendak mencari saudaranya lagi tetapi berhenti ketika mendengar suara dari kelas kosong di sebelahnya.

Itsuki menggeser pintunya, "Nino"

"dia tidak mungkin disini" celetuk Futaro yang mengikuti Itsuki.

"tapi aku mendengar suara" Itsuki memasuki kelas yang kosong itu, "suaranya di sekitar sini"

nyit!

Itsuki melirik kebawah dan menemukan tikus disana, dia terkejut.

"aaa"

karena tidak hati-hati, Itsuki tidak memperhatikan kakinya berpijak, hingga dia hampir terjatuh. Futaro hendak menolong Itsuki tetapi dia ikut terjatuh.

Itsuki jatuh diatas tubuh Futaro. jaraknya dekat. wajah Itsuki memerah.

"maafkan aku"

['bukannya dia cemburu karena dia menyukai si cowok']

rasa gelisah Itsuki kembali menguasai hatinya.

"sepertinya ruangan ini kosong"

mata Itsuki terbelalak, dia memperbaiki posisinya dan sembunyi, suara ini milik Nino. sepertinya dia bersama Yotsuba.

perdebatan Nino dan Yotsuba terdengar hingga kepersembunyiannya.

perlahan-lahan Itsuki memikirkan segala kegelisahannya.

sebenarnya apa yang dia harapkan, kenapa hatinya begitu setelah Futaro memberikan pernyataan pada saudaranya. dan apa maksud dari sikap Naruto semalam.

semuanya menjadi satu.

apa benar dia menyukai Futaro setelah laki-laki itu setelah dia lebih memilih saudaranya yang lain?

dan bagaimana perasaannya pada Naruto?

menghabiskan waktu lama dengan Futaro sebagai guru les mereka, Itsuki tidak bisa mengabaikan kenangannya bersama dengan saudara kembarnya.

persaingan yang tercipta karena ingin memiliki hal yang sama membuat Itsuki bertanya, apa dia termasuk? tapi jika itu memang benar, bagaimana dengan Naruto?

bukankah juga dia seorang laki-laki yang menghabiskan waktu bersamanya akhir-akhir ini.

"'sikap plin-plan hanya bisa memperburuk keadaan' itu yang kamu katakan padaku dua hari yang lalu" ucap Futaro pada Itsuki. dia bisa membaca raut kegelisahan terpampang jelas dari wajah Itsuki.

mereka akhirnya ketahuan mengintip pembicaraan Nino dan Yotsuba.

"apa maksudmu?" Nino bertanya maksud Futaro, mereka semua menatap Itsuki.

"tanyakan pada Itsuki"

Itsuki mendadak gugup karena perhatian semua orang kearahnya.

"Itsuki, ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Yotsuba setelah melihat gelagat Itsuki.

Itsuki tersentak, "tidak ada, aku harus pergi" dia tidak ingin lama-lama disana, membuat semua orang akan curiga padanya.

Nino memandang Itsuki yang kini telah pergi.

"sepertinya aku harus melakukan sesuatu"

--

--

--

"Itsuki"

Itsuki terkejut melihat Naruto berdiri di depan gerbang. tiba-tiba dia teringat dengan kejadian dua hari yang lalu. wajahnya kembali memerah.

"Na-Naruto-kun?"

"ada yang ingin ku katakan padamu, bisakah kamu ikut denganku?"

"e-eh?"

Naruto menggaruk pipinya, dia merasa gugup.

"kalau tidak mau, tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa"

Itsuki menundukkan kepalanya.

"bo-boleh, kemana?"

Itsuki tidak memperhatikan wajah senang Naruto.

"ikut denganku" Naruto menjulurkan tangannya pada Itsuki. gadis itu lebih memilih mengikutinya tanpa mengatakan apapun.

–Café–

suasana cafe cukup sepi, Naruto memilih ruangan VIP agar bisa leluasa berbicara berdua dengan Itsuki.

rasa canggung menyebar di ruangan itu, mereka masih sama-sama bungkam apalagi jika mengingat kemarin malam.

"ngomong-ngomong apa yang ingin kamu katakan padaku, Naruto-kun" Itsuki berusaha menghilangan rasa canggung itu.

"ah benar"

Naruto berdiri dari duduknya, Itsuki bingung tapi tetap diam. sampai akhirnya, Naruto melakukan seiza di sampingnya.

"Itsuki, maafkan aku. aku telah melakukan hal tidak senonoh padamu. apapun yang ingin kamu lakukan padaku, aku terima. maafkan aku"

"eehhh, Naruto-kun, aku- tunggu. itu-"

"aku bersalah, aku terbawa suasana. maafkan aku"

"tunggu, Naruto-kun. tolong berdiri dulu"

"tidak! sebelum kamu memaafkanku, aku tidak akan bangkit dari posisiku"

"baiklah-baiklah, aku memaafkanmu" Itsuki ingin melupakan kejadian itu tetapi semakin dia berusaha. pipinya malah terasa panas dan dia merasa jantungnya berdetak cepat.

Naruto bangakit dari posisinya dan berlutut di depan Itsuki.

"kenapa kamu-"

"Itsuki, dengarkan aku" Naruto berubah menjadi serius, dia berusaha bersikap tenang, mengusir rasa resah di hatinya. dia tidak boleh mundur.

"kamu pasti merasa bingung dengan sikap ku dua hari yang lalu. aku tidak tau kamu sudah mengerti atau tidak tapi aku akan mengatakannya secara jelas padamu"

Naruto menarik nafas dan menghembuskannya agar menjaganya tetap tenang.

"Nakano Itsuki, aku mencintaimu"

Itsuki terdiam, pupil matanya melebar. mulutnya sedikit terbuka.

dia mendapat pengkuan.

Itsuki merasa... bimbang?