My Youth
Chapter 2
Desclaimer : Naruto by Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
.
.
If all it is is eight letters
Why is it so hard to say?
~
Why don't we~ 8 letters
.
.
Ino mendesah ketika merasakan nyeri di kakinya dua kali lebih terasa ketimbang saat pelajaran olahraga raga tadi. Inilah kenapa momen pelajaran yang melibatkan aktivitas fisik itu tak pernah membuatnya tertarik.
"Jadi Kiba itu serius naksir padamu atau nggak sih?"
"Eh?" Matanya megerling Sakura yang berjalan di sampingnya, dan menunjuk Kiba yang berdiri di ujung lapangan bersama Hinata. Sepertinya Hinata baru saja memberikan cowok Inuzuka itu minuman dingin, keduanya saling tertawa dan wajah mereka sama-sama sumringah. Jujur, ada selip nyeri dalam dadanya. Tapi memangnya Kiba siapanya? Bukankah cowok itu baginya juga cuma sekedar teman? "Apaan sih?"
"Dasar cowok play boy, kemarin deketin kamu sekarang ganti mangsa."
"Sudahlah Sakura, lupakan. Kita harus segera ganti baju dan mengikuti kelas Bu Guru Kurenai." Yeah, mungkin benar. Kemarin Kiba tertarik padanya tapi sekarang tidak lagi.
"Hei, bukankah kalian sempat berkencan beberapa hari lalu?"
"Aku tidak menyebut nya begitu, lagi pula kami cuma jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan pergi ke perpustakaan, itu tidak seperti yang kau bayangkan." Ino mengibaskan tangan menyuruh Sakura diam, dan pura-pura tak melihat Kiba ketika melewatinya.
"Nggak tahu ah, dia melihatmu terus tuh."
"Biarkan saja, oke." Ino malah bingung, sebenarnya ia uring-uringan ke Kiba atau Sakura sih?
.
.
Hujan sudah nyaris reda, menyisakan gerimis dan semilir angin yang terasa menggigit kulit. Hampir pukul lima sore ketika Kiba dan kawan-kawannya menepi dan benar-benar menyudahi acara latihan sepak bola sore itu. Ketika kerlingan matanya mengarah ke lorong yang menghubungkan ke gedung sebelah barat, Kiba melihat Ino berdiri disana, cewek itu sendirian dan sesekali mengerling ke arah langit yang kelam.
Kiba menghela napas, mengabaikan tepukan bersahabat beberapa kawan yang mulai menuju ruang ganti. Ia pikir setelah insiden kencan dadakan itu hubungannya dan si cewek Yamanaka bakal lebih dekat, ternyata sama saja. Apa iya, ia harus mengeluarkan jurus andalan para cowok semacam 'pepet terus sampai dapat' untuk menakhlukkan hati si pirang cantik itu.
.
.
Ino masih ada disana ketika Kiba telah rapi dengan seragam sekolahnya, sebenarnya apa yang ditunggu cewek itu? Apa benar-benar menunggu hujan sampai reda? Tapi apa lagi? Jangan terlalu percaya diri jika cewek itu sedang menunggumu Kiba, batinnya. Lagipula waktu istirahat tadi, Ino bahkan tak meliriknya sedikitpun, padahal ia sempat melihat si Yamanaka menatapnya sekilas sebelum melewatinya.
"Menunggu apa?"
"Eh, Inuzuka?" Jantung Ino nyaris melewatkan satu degupan, sejujurnya ia sempat melihat Kiba memasuki ruang ganti, tapi ia tidak menyangka cowok itu bakal menyapanya.
Melihat ekspresi terkejut cewek itu membuat Kiba berpikir, memang bukan dia yang sedang ditunggu. "Well, mau pulang bareng?" Shit, kenapa ia jadi canggung begini? Padahal beberapa hari yang lalu ia seolah memiliki keberanian yang luar biasa.
"Tapi masih hujan."
Dengan gerakan cepat Kiba melepas jaketnya, kemudian membentangkannya di atas kepala, "kurasa perjalanan sampai ke halte terdekat nggak akan membuat kita basah jika pakai ini."
Terpukau dengan senyum cowok itu membuat Yamanaka nyaris tak berkedip, siapa yang tidak meleleh dengan sikap cowok yang semanis ini.
"Tunggu apalagi, ayo. Ini sudah hampir malam."
Seolah tak memiliki pilihan lain, Ino hanya mengangguk dan mengikuti arahan Kiba. Meski jantungnya hampir meledak disana.
.
.
"Aku nggak nyangka, tipe mu itu ternyata sekelas Kiba."
Ino mendelik ke arah Naruto yang baru datang dan memajukan wajah ke arahnya. Please, ini masih pagi dan bocah itu sudah ingin mengajaknya ribut. Berusaha abai, Ino pura-pura fokus memasukkan buku ke dalam laci, lagipula tingkah Naruto memang tidak perlu dihiraukan.
"Tapi jangan harap kau bisa mendapatkannya."
Kalimat singkat itu membuat jantungnya seolah berhenti, dan reflek kerlingan matanya mengarah pada si Uzumaki. Well, apa maksudnya itu?
"Sorry to say Yamanaka, tipe Kiba bukan cewek sepertimu. Yang benar saja deh, dia lebih suka cewek tenang dan kalem daripada cewek cerewet, banyak omong, dan suka menang sendiri sepertimu." Ekspresi Naruto dengan senyum miring dan wajah tak ramah membuat Ino ingin menjambaknya.
Benar-benar ingin mengumpat disana, "astaga Naruto, sepertinya kau salah orang. Siapa yang naksir Inuzuka?"
"Kau, memangnya aku berbicara pada siapa?"
Menarik napas dalam-dalam, Ino berusaha merilekskan paru-parunya yang sesak akibat ulah bocah ini. Lagipula kenapa Naruto selalu mengajaknya ribut ketika ada banyak orang disana. Nyaris ia menyemprot bocah itu dengan serentetan kalimat menjengkelkan, andai saja Sakura tak datang dan langsung menjewer telinga Uzumaki.
"Minggir anak sialan, kau membuat moodku memburuk."
"Aduh, bisa tidak sih nggak menyakiti fisik?"
"Aku nggak peduli, siapa suruh bikin ribut disini? Kembali ke bangkumu atau ku tendang bokong mu." Sakura melotot, sudah bersiap-siap mengangkat kaki.
"Iya, aku pergi. Kalian berdua sama saja, judesnya minta ampun," gumamannya belum juga berhenti sampai ia duduk di bangkunya.
"Ngapain lagi si idiot itu?" Sembari duduk di sebelah Ino, matanya masih lekat pada Naruto yang beberapa kali mencibirnya lewat ekspresi wajah.
"Biasa cari ribut, masih pagi pula. Bikin suasana hati jadi buruk saja." Lagipula kenapa sih keributan kali ini menyangkut Kiba, kan jadi was-was sendiri. Memangnya Kiba berusaha dekat dengannya untuk apa? Cuma penasaran? Atau cowok itu memang cowok baik yang tidak tegaan? Tapi kenapa Kiba mengantarnya sampai rumah kemarin? Dari cara cowok itu memperlakukannya juga lebih spesial? Ahhh...
"Kau melamun?"
Ino mendengus, geragapan sembari pura-pura fokus pada ponselnya. "Nggak, cuma kesalnya belum hilang."
"Yeah, lain kali tendang saja bokongnya kalau masih suka menjahilimu."
"Akan aku ingat baik-baik."
.
.
Gaara terkekeh di sebelah Kiba, menghentikan acara makan keripik hanya karena postingan di sosial media, "kurasa orang ini mulai konyol."
Kiba melirik Gaara sekilas sebelum kembali menatap Naruto yang masih sibuk menggiring bola ke arah gawang, sementara anak-anak lain sudah menepi dari lapangan. "Siapa yang konyol?"
"Pein."
"Ada apa dengan Pein?" Lee yang duduk di sebelah Gaara mengerling ke arah ponsel bocah itu, "dia memposting foto Yamanaka? Aku bahkan nggak tahu dia naksir Yamanaka, astaga."
Mendengar nama Yamanaka disebut fokus Kiba teralih pada ponsel Gaara, sejujurnya ini mengejutkannya dan tanpa peduli sekitar ia mengecek ponselnya sendiri. Menscroll media sosialnya hanya untuk menemukan postingan Pein, yang ternyata isinya hanyalah sebuah foto setengah badan tanpa wajah. Kalau diperhatikan secara seksama itu tidak seperti Yamanaka, bukankah cewek berambut pirang bukan Ino saja? "bagaimana kau tahu ini Yamanaka?"
Gaara mengangkat wajah, menemukan Kiba yang tengah menatapnya serius. "Yamanaka pernah memposting foto ini di instagramnya, sudah lama, dan sepertinya juga sudah dihapus."
"Menurutmu bagaimana Kib?" Neji yang mendadak nimbrung di sebelah Kiba bertanya dengan ekspresi datar.
"Aku?"
Nyaris seluruh pasang mata di situ menatap ke arahnya, Kiba mengerjap, salah tingkah. Ish, jadi sekarang ia punya saingan untuk mendapatkan Yamanaka?
"Pepet terus Kib sampai dapat." Sasori berujar diselingi tawa, membuat yang lain bersorak. "Lagi pula kapten sepak bola lebih keren kok dari anak band."
"Kau bercanda?" Pekikan Naruto yang mendadak mengalihkan atensi yang lain, "anak band jelas lebih keren lah, lagipula aku sudah bilang pada Ino kalau tipemu nggak sepertinya."
Mulut Kiba ternganga, astaga Naruto ini tolol atau bagaimana?
.
.
"Kau jadian sama Pein ya?"
Ino mengerjap bingung menanggapi pertanyaan Hinata, untuk kesekian kali pertanyaan itu dilontarkan padanya. Kemarin Sakura, tadi Karin, Mei, Konan, dan sekarang Hinata. Well, ia tidak tahu pasti alasan Pein memposting fotonya--ia bahkan tak tahu jika bukan Sakura yang memberi tahu. Lagi pula, mungkin saja Pein salah memposting lalu menghapusnya lagi dalam beberapa menit kemudian. Tapi astaga, untuk alasan apa juga si gitaris band sekolah itu menyimpan fotonya?
"Aku nggak jadian sama Pein." Yamanaka menghela napas, agak jengkel dan merasa tak nyaman, "aku bahkan nggak dekat sama dia."
Hinata mengangguk, namun menatap matanya cukup lama seolah sedang menggali sebuah kebenaran yang benar-benar meyakinkan. "Oke, sampai jumpa Yamanaka."
Huh dasar cewek tak jelas. Ino mengabaikan si Hyuuga yang sudah berlalu, dan kembali fokus pada buku bacaannya. Perpustakaan memang tempat paling nyaman untuk menghindari kebisingan. Namun ia tak bisa benar-benar fokus sekarang, pikiran tentang Pein yang memposting fotonya sangat mengganggunya.
"Boleh duduk di sini?"
Suara berat yang familiar itu membuat jantung Ino seolah meletupkan perasaan yang tak bisa didefinisikan, "oh, Inuzuka? Tentu boleh."
"Kenapa kaget begitu? Apa mengganggumu?" Kiba mulai duduk dan meletakkan buku biologi di atas meja. "Mengerjakan matematika, huh?"
Ino mengangguk, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Aroma parfum Kiba samar-samar tercium inderanya, dan membuat jantungnya berdetak makin kencang, "kau sendiri? Ada tugas biologi? "
"Yeah, setelah istirahat ada ulangan harian." Matanya seolah tak mampu lepas dari paras cantik di depannya, tidak heran jika Pein naksir juga dengan Ino. Bisa jadi bukan cuma Pein, "Yamanaka."
"Ya?" Ino menghentikan jemarinya yang semula sibuk menulis angka.
"Nanti malam ada acara?"
Wow, apa ini? Apa Kiba mau mengajaknya kencan? Eh? "Nggak."
"Aku mau minta tolong, temani aku mencari kado ya." Demi Tuhan, bicara begitu saja susahnya minta ampun. Kenapa ia jadi gugup begini? Bilang saja mengajak kencan. Lagipula kemungkinan besar Ino bakal menerima. Toh yang kapan hari juga diterima ajakannya.
Ada semu tipis di pipi putih Ino, namun ia berusaha keras tampak baik-baik saja. "Um yeah, tentu. Jam berapa?"
"Jam 6, nanti ku jemput ya."
Hatinya menjerit keras, lupakan soal Pein karena cowok yang benar-benar ia taksir tengah mengajaknya kencan tipis-tpis. Ugh, bahagianya tak bisa diungkapkan lewat kata-kata.
Ada binar bahagia yang selintas tampak di kubangan biru jernih si lawan bicara, yas... ini selangkah lebih dekat dibanding si Pein.
.
.
Ini sama saja bunuh diri. Ino mendengus pelan ketika Kiba sibuk memilih arloji yang bagus untuk Hinata. Ya Tuhan, yang benar saja, ternyata Inuzuka mengajaknya jalan bukan untuk hal yang menyenangkan. Rasanya ingin berteriak di sana, namun tak mampu. Bagaimana mungkin ia menyukai seseorang yang tengah menyukai orang lain, sial.
"Menurutmu bagus yang mana?"
Ino mengerjap, berusaha tampak sebiasa mungkin, "kurasa Hinata bakal cocok dengan yang warna biru."
Kiba mengangguk, "baiklah, akan ku beli yang ini." Sesaat ia memperhatikan Ino yang matanya lekat pada gelang jam ungu mungil yang elegan, mungkinkah cewek itu menginginkannya?
Belum pernah ia merasa cemburu parah begini, kenapa Kiba suka Hinata? Apa menariknya Hinata? Kenapa harus Hinata? Ugh, ini mengesalkan.
"Mau makan sesuatu?"
"Hm?"
"Mungkin kau ingin makan di suatu tempat? Ku traktir, sebagai ucapan Terima kasih karena sudah ditemani." Usai membayar gelang jam barusan, Kiba mendekati Ino yang setengah melamun di dekat jajaran arloji perak yang kilaunya menyilaukan mata.
"Kan kau yang traktir, aku ikut saja." Bibirnya berusaha menyunggingkan senyum meski rasanya berat sekali. Jadi benar ya kata si berengsek Naruto, tipe ideal Kiba adalah cewek lembut, tidak cerewet, dan kalem seperti Hinata. Apa ia harus berubah jadi kalem agar Kiba meliriknya? Ah... Itu tidak mungkin, mana bisa ia tenang begitu. "Inuzuka."
"Kiba."
"Eh?"
"Panggil aku Kiba saja, begitu lebih kelihatan akrab," dengan sedikit keberanian yang tersisa ia menggandeng tangan Ino, merasakan jemari lentiknya yang sedikit dingin, "baiklah Ino, mari kita cari tempat makan yang enak, boleh ku panggil begitu?"
Telapak tangan Kiba seolah menyalurkan kehangatan hingga hatinya, demi Tuhan jantungnya berdetak tak terkendali. Dasar buaya, jangan salahkan aku jika jatuh cinta padamu, batinnya tak berhenti berteriak.
Mereka menghabiskan sisa malam dengan banyak cerita, soal pelajaran yang sulit, beberapa guru menyebalkan yang suka memberi tugas tanpa ampun, dan sebagiannya soal gosip yang beredar di sekolah. Yeah, ternyata Kiba teman ngobrol yang asyik. Sejauh ini menurut Ino begitu, tapi sayang sekali ia pasti dianggap cuma teman.
.
.
"Eh tahu nggak, cewek yang kau taksir itu--si Yamanaka, sudah jadian sama Pein." Gaara berbisik di telinga Kiba ketika si cowok Inuzuka sibuk dengan lokernya.
Jantung Kiba seolah meletupkan perasaan tak nyaman yang tak bisa dia jelasakan, "kau serius?"
"Hm, beritanya sudah menyebar."
"Sejak kapan?" Tak lagi fokus dengan buku paketnya, ia lebih serius mendengar penjelasan dari Gaara.
"Sepertinya dari kemarin."
Ino jadian dengan Pein? Yang benar saja? Kenapa Ino seolah menaruh rasa padanya kalau begitu? Kalau jatuhnya Ino naksir Pein juga, kenapa cewek itu mau jalan dengannya?
"Patah hati?" Gaara menepuk bahu si sahabat. "Rasanya bukan Kiba sekali, nanti Naruto meledekmu."
Yeah bagaimana tak patah hati kalau cewek pujaanmu ternyata jadian sama cowok lain. "Diam saja kalau begitu, jangan ungkit-ungkit soal Yamanaka di hadapanku."
Sembari mengambil buku paket biologi dan mengunci pintu loker kembali, Gaara mengedikkan bahu, "tapi nggak apa-apa, pepet terus saja si Yamanaka bisa jadi dia cuma tak ingin menyakiti perasaan Pein. Siapa tahu Yamanaka kasihan makanya menerima Pein." Setelah berucap demikian Sabaku muda itu berjalan menjauh, "aku duluan ya, mau mampir ke kelasnya Sai dulu, ibunya tadi titip bekal."
Tak terlalu peduli dengan kalimat Gaara yang terakhir, Kiba sibuk melamun. Apa benar Ino cuma kasihan pada Pein? Duh, tetap saja ini mengesalkan.
.
.
"Makanya kalau suka tuh bilang, repot kalau begini," Neji menepuk punggungnya ketika latihan sepak bola nyaris selesai, dan Kiba terdiam sebentar saat menangkap Pein dan Ino berjalan bersama di koridor yang menghubungkan kelas sebelas dan dua belas. Ino tak sadar jika ia tengah memperhatikannya. Astaga, padahal cewek itu hampir ia dapatkan setelah mencoba mengencaninya untuk yang kedua kali beberapa waktu lalu. Tapi ternyata seleranya sekelas Pein ya? Susah kalau sudah begini.
"Yeah, aku bisa bersaing dengan cowok-cowok yang menyukainya, tapi rasanya aku nggak bakal menang kalau bersaing dengan cowok yang dia sukai." Kiba menghela napas, menatap ke arah sepatunya sebelum kembali mengedarkan pandangan ke tengah lapangan.
"Memang Yamanaka pernah bilang kalau dia suka Pein?"
"Mana aku tahu, aku juga nggak dekat-dekat amat dengannya. Teman dekatnya kan cuma si Haruno itu." Seolah baru sadar sesuatu, mata Kiba mendadak berbinar. Benar juga, Sakura pasti tahu sesuatu.
"Tanya saja padanya kalau begitu." Tak terlalu peduli lagi, Neji berlari menuju Naruto yang melambai padanya dan merebut satu botol air mineral yang di bawanya.
Kiba masih mematung di tepi lapangan, berpikir mengenai waktu yang tepat untuk menemui Sakura.
.
.
Ino canggung, lebih ke arah tidak tahu apa yang harus dilakukan karena ia jengah. Sementara itu Pein berbicara panjang kali lebar tentang teman-teman band nya. Astaga, berpura-pura tertarik ternyata lebih membebani ketimbang suka tapi pura-pura tak suka.
"Ino, menurutmu apa aku seharusnya ikut les bahasa Inggris sesuai permintaan ibuku?"
"Eh?" Ino menghela napas pelan, ya Tuhan mana peduli ia Pein mau ikut les bahasa Inggris atau tidak, bukan urusannya juga. "Yeah, kurasa nggak apa-apa dicoba, lagipula maksud ibumu juga baik."
"Oke, kalau kau yang bilang begitu, itu memang pasti yang terbaik."
Si pirang mengedikkan bahu pelan, menatap sepatunya yang menepak di paving jalanan. Dalam hati, ia berharap cepat sampai rumah.
"Rumahmu sudah kelihatan--"
"Oh iya," Kelegaan tipis memenuhi dadanya, Ino tersenyum, "Sampai disini saja Pein, terima kasih sudah diantarkan. Bye." Ia tak terlalu peduli dengan ekpresi si lawan bicara. Sebab, detik berikutnya ia sudah melesat memasuki gerbang rumah.
Benar-benar menyebalkan hari ini.
.
.
"Huh, aku harus kasih alasan apa buat nolak?" Ino menatap bingung Sakura yang tengah merebah di tempat tidurnya, melirik nya sedikit sebelum kembali fokus pada komik.
"Kenapa sih?"
"Si Pein, ngajak keluar besok."
Haruno muda itu menghela napas, "lagian kalau nggak suka kenapa diterima sih?"
Setengah frustasi si pirang menelungkupkan wajah di meja belajar, "aku harus bagaimana ini?"
"Bilang saja kau sudah punya pacar."
"Hah?"
"Lagipula kau kan dekat sama Inuzuka, harusnya kau minta bantuan saja sama dia buat jadi pacar palsumu." Tak terlalu menanggapi, Sakura menganggap Ino tak akan memikirkan ini terlalu dalam.
"Ya itu nggak mungkin Sakura, Kiba sepertinya suka sama Hinata."
Haruno muda memutar bola mata, bangun dari posisi tidurnya, "bilang padanya ada janji sama Sakura. Besok ayo ikut aku ke rumah nenek."
"Kau serius ke rumah nenekmu?"
"Ya, mau ikut nggak? Lagipula dengan cara apalagi kau bisa menghindari Pein?" Sudut bibirnya sedikit terangkat, "dia nggak bakalan ngotot ikut."
.
.
Melihat Sasuke yang memasuki perpustakaan membuat Sakura mengerutkan alis heran, tidak biasanya, namun sepercik bahagia berpendar dalam hatinya. Paling tidak, ia bisa duduk di dekat meja Sasuke. Tidak ada percakapan pun tidak apa-apa, sebab bisa melihatnya dari jarak sedekat yang belum pernah dibayangkan nya saja sudah mampu membuat hatinya jumpalitan.
"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?"
Gadis Haruno itu mengerjap, menoleh ke asal suara dan mendapati Inuzuka Kiba tengah menyilangkan tangan dan bersandar di salah satu rak buku. Tatapannya tak pasti, namun manik coklat itu jelas memancarkan rasa heran.
"Kau ngapain disini? Bikin kaget saja." Seketika itu senyum bahagia dan ekpsektasinya lenyap mendadak.
Kiba menghela napas pelan, "ada yang mau ku bicarakan denganmu."
"Soal apa?"
"Perasaan."
Sakura terksiap, perasaan? Apa coba maksud cowok itu?
.
.
"Sesuatu untukmu."
Ino mengerjap ketika Sakura mengulurkan sebuah kotak kecil padanya, "apa ini?"
"Mana aku tahu." Dia berjalan pelan di samping Ino, melewati gerbang sekolah dan tak terlalu memedulikan lalu-lalang siswa lain. "Dari Kiba."
Yamanaka mengernyitkan kening, dari Kiba? Karena dorongan hati yang tak sabar untuk tahu isinya, Ino membukanya, dan menemukan gelang jam ungu menawan yang ia lihat ketika menemani Kiba membeli hadiah untuk Hinata tempo hari.
"Kenapa kau buka disini? Seharusnya kau membukanya di rumah."
Mengabaikan kalimat Sakura, ia melontarkan pertanyaan lain. "Kiba bilang apa waktu memberikan ini?"
"Cuma titip ini buat Ino."
Masih tidak paham dengan situasi yang terjadi, Ino malah mencari hal lain yang mungkin terselip diantara gelang jam itu. Barangkali surat singkat yang bisa menjelaskan segalanya. Tapi ia tak menemukannya.
"Ku bilang apa, Kiba naksir padamu. Bukan Hinata. Putuskan Pein, lalu jadian dengan Kiba. Lagi pula, kau kan juga punya perasaan yang sama."
Ino diam beberapa saat, belum menemukan kesadarannya. Dan ketika ia menatap Sakura sekali lagi, ia mengulas senyum tipis. "Aku pulang duluan ya, sampai jumpa Sakura. Telfon aku jika kau jadi ke rumah nenekmu besok."
"Hei, kenapa kau buru-buru sekali?"
Tapi Yamanaka Sudah jauh meninggalkannya.
.
.
Disinilah Ino berada, di halte bus untuk menunggu Sakura yang entah kenapa enggan ditunggu di rumahnya. Sejujurnya ia agak merasa bersalah pada Pein karena menolak ajakan itu, tapi... yeah, sepertinya terlalu memaksakan perasaan bukanlah hal baik.
Beberapa kali ia menatap jam tangan, untuk memastikan waktu, sekaligus merasa sedikit bangga melihat gelang jam pemberian Kiba itu. Lagipula, ia memang menginginkan gelang jam ini beberapa waktu lalu.
"Sudah lama ya?"
Ino terkejut ketika menoleh, dan mendapati Kiba berdiri disebelahnya dengan jaket denim dan jelana jeans menawan. Mau kemana bocah itu? "Kiba?"
"Ya?"
"Ngapain disini?"
Inuzuka muda itu menggaruk tengkuknya, dan tersenyum tipis."Untuk menemuimu, apalagi memangnya?"
Keningnya mengernyit, ada urusan apa memang? "Aku? Kenapa?" Ino merasa jantungnya bertalu-talu tak terkendali tiap kali cowok di hadapannya itu menyunggingkan senyuman.
"Ya," Ia menghela napas pelan, "cocok kalau kau yang pakai."
Reflek ia mengikuti arah pandangan Kiba pada jam tangan yang ia kenakan, "oh ya, terima kasih untuk gelang jam nya. Ini cantik sekali."
"Tapi masih lebih cantik yang pakai."
"Eh apa?"
"Lupakan." Kiba bingung harus mencari topik apa untuk memperpanjang percakapan, ia merasa kikuk, canggung, padahal ia biasanya begitu percaya diri di hadapan para cewek.
Sejujurnya ia dengar kalimat Kiba, tapi ketimbang memuji, rasanya Kiba cuma bercanda. Candaan yang tak aman buat jantungnya. Sekali lagi Ino menatap gelang jamnya, sudah setengah jam ia menunggu, namun si cewek pinky itu belum juga terlihat.
"Omong-omong, Sakura sudah berangkat ke rumah neneknya."
" Hah?"
"Aku yang memintanya." Jelas bukan hal bagus ketika melihat ekspresi terkejut Ino, namun ia tetap meneruskan. "Ada yang mau ku bicarakan denganmu."
"S-soal apa?" Gelenyar hangat merambat sepanjang urat nadinya, tatapan serius Kiba mendadak tak mampu ia tatap lebih lama lagi.
Kiba mengalihkan tatapan ke langit sore yang agak menguning akibat sinar matahari yang membias, dia menghela napas dalam sebelum berucap, "maaf ya, membuatmu bingung selama ini. Aku nggak bermaksud begitu, aku cuma ragu saja."
Ketimbang menyahut, Ino cuma mencermati kalimat si lelaki. Dan jujur ia terpesona melihat rahang Kiba, serta jakunnya yang naik turun ketika bicara.
"Aku paham sih, cewek memang takut kalau mengambil inisiatif duluan. Harusnya aku mendengar nasehat Gaara waktu itu soal mengambil inisiatif lebih dulu, tapi sudah ku coba. Kamu nya mungkin yang nggak peka." Ekor matanya mengerling si gadis yang menengadah menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Jadi intinya apa sih Kib?"
Astaga, demi Tuhan. Apa nggak se-peka itu? "Aku tuh cinta sama kamu, kurang jelas?"
Ino ternganga mendengarnya, hingga tak mampu berkedip. Well, Kiba barusan menyatakan perasaannya? Benar-benar di luar dugaan.
"Nggak bermaksud merebut kamu kok, tenang saja soal hubunganmu sama Pein."
"Aku sama Pein nggak ada apa-apa. Kamu kira kami ada apa?"
Dengan ekspresi kaget, cowok itu benar-benar menatap lekat si gadis demi mendapatkan ekspresi yang pasti. "Loh, bukannya kalian jadian ya?"
"Siapa sih yang menyebarkan hoax macam itu?" Diantara hatinya yang berbunga-bunga, ia agak dongkol dengan anggapan Kiba soal ia dan Pein. "Ya memang dia nembak aku, tapi aku belum ngasih jawaban. Karena yang ku tunggu bukan dia, tapi..."
Hening, semilir angin melewati celah keduanya. Namun tak satu pun dari mereka peduli hanya untuk sekedar mengalihkan tatapan ke arah lain, seolah yang paling membuat candu hanyalah saling menatap mata satu sama lain.
"Kamu."
Kelegaan luar biasa membanjiri hati Kiba, ribuan kupu-kupu tengah menari di perutnya. "Yang benar saja." Dia tertawa sembari menggaruk tengkuk, "tahu begini, harusnya aku nembak kamu dari awal."
"Kamu ngasih kodenya itu ambigu Kib, lagipula ngapain coba ngajak jalan tapi ternyata beli hadiah buat Hinata. Kan aku jadi mikir kalau kamu sebenarnya suka sama Hinata."
Merasa pernyataan itu lucu, Kiba justru tertawa. Mengabaikan lalu-lalang orang disekitar mereka. "Astaga, Ino. Hinata itu sudah seperti saudara buatku, lagipula dia naksir Naruto."
"Naruto? Yang benar saja. Bocah senewen macam Naruto jadi tipe nya Hinata? Di luar dugaan."
"Kenyataannya begitu."
"Jadi?"
"Jadi? Apa?"
Ino menggigit bibir, ragu untuk meminta kejelasan status pada Kiba. "Yeah, kan aku jadi nggak repot-repot nolak Pein kalau kamu uhmm... ya itu."
"Oh," Senyum tipis melengkung di bibirnya, "Yamanaka Ino, mau jadi pacarku?"
Ino tertawa, terlalu lepas hingga rasanya semua tekanan di dadanya menghilang. "Yeah, of course."
"Ya sudah, ku antar pulang atau mau kencan dadakan?"
"Sudah dandan cantik begini masa mau diantar pulang, ke bioskop atau sekedar jalan-jalan ke taman ku pikir lebih baik." Dengan penuh semangat ia menarik tangan Kiba, membuat cowok itu mau tak mau mengikuti arahannya.
"Oke,oke. Kemana pun kamu mau, terserah."
Duh, rasanya tidak sabar memberi tahu Sakura kalau Kiba akhirnya menyatakan rasa. Lagipula, mungkin Sakura juga ikut merencakan semua ini, meski tidak secara langsung terlibat.
tbc
~Lin
11 April
