.
.
Haruna Lee proudly present
Love Heals
Chapter 2
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
This fic is purely belongs to Haruna Lee
Warning : OOC (hopefully no), typo(s), drama
Kalau ada kesamaan alur, ide, tokoh, setting, dsb kami mohon maaf. Pada dasarnya semua karya memiliki hal yang menginspirasi berarti setiap karya itu mengcopy, meniru. Jadi, jangan marah kalau ada kesamaan. Karena keoriginalitasan itu tidak ada, menurut kami. Well,
Happy reading, minna~
.
.
Rumah bergaya minimalis itu tampak sepi. Rumah itu berdiri megah di pinggir sebuah jalan, jalanan sepi, tak ada bangunan di sekitarnya. Tidak. Cerita ini tidak akan berubah menjadi cerita horror kalau itu yang kalian takutkan. Aku saat ini sedang menceritakan tempat tinggal dari tokoh utama kita. Jelas bukan rumah Sakura. Kita sudah mengunjungi apartment nya kemarin. Ya, inilah tempat tinggal Uchiha Sasuke. Mari kita intip.
Rumah dua lantai ini tidak terlalu luas. Namun, cukup luas untuk ditinggali satu orang. Interior nya tidak berbeda jauh dengan penampakan bagian luar rumah tersebut. Masih di dominasi warna putih, hitam dan abu-abu. Sederhana. Sangat sederhana. Terlalu sederhana malah. Tunggu, pintu belakang terbuka. Mungkinkah Sasuke disana? Mari kita lihat.
Menginjakkan kaki keluar rumah tersebut dan menuju halaman belakang bagaikan mengunjungi dunia yang berbeda. Tidak. Bukan Narnia. Tetapi, pasir putih. Dan debur ombak. Pantai! Ya, kita berada di pantai saat ini. Tidak salah lagi. Pantai ini adalah halaman belakang rumah Sasuke. Dan dari kejauhan kita dapat melihat Uchiha Sasuke, sang tokoh utama kita.
Seperti di film-film kini Sasuke tengah berjalan di tengah hembusan kencang angin pagi yang begitu sejuk. Tetesan air masih terlihat jelas di tubuh kekar berbalut celana renang berwarna hitam tersebut. Sasuke baru saja berenang. Ah, sungguh pemandangan yang indah di pagi hari.
Sasuke kini duduk sebuah kursi santai di bawah canopy yang sepertinya sengaja disediakan untuk bersantai seperti sekarang ini. Ia memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang membelai kulitnya. Rasanya begitu tenang. Sampai sebuah sosok merah muda muncul dalam benaknya. Ini sudah sebulan sejak pertemuan terakhir di apartment Sakura. Pertemuan yang menyisakan banyak pertanyaan akan sosok merah muda yang entah mengapa begitu menarik bagi Sasuke. Dan sosok merah muda tersebut selalu muncul dalam pikirannya, secara random. Pertemuannya dengan Sakura memberi dampak besar dalam hidup Sasuke. Kini Sasuke memiliki rak buku mini di kamarnya. Tentu saja berisi buku-buku yang berkaitan dengan Sakura.
Suara getaran dari ponselnya di atas meja mengganggu lamuman Sasuke akan sang gadis merah muda.
Naruto is calling
Sasuke mengangkat sebelah alisnya sebelum mengangkat telepon tersebut. Ia bergumam malas sebagai tanda ia sudah mengangkat teleponnya dan siap mendengarkan. Sasuke terdiam cukup lama dan hanya sesekali bergumam menanggapi sampai tiba-tiba dia menyeringai.
"Terimakasih infonya, dobe. Aku pasti akan datang."
.
.
.
.
.
Ruangan pertemuan tersebut tampak di penuhi oleh orang. Mereka semua duduk di kursi-kursi di seluruh ruangan bernuansa merah tersebut. Di bagian depannya terdapat sebuah panggung dengan dua buah kursi berwarna putih yang diletakkan serong di sebelah kanan dan kiri dari sebuah meja setinggi dada. Di sekitar ruangan terdapat banyak kamera yang siap merekam segala sesuatunya. Suasana mendadak hening ketika seorang wanita cantik berambut dark blue yang mengenakan wrap dress berwarna senada dengan rambutnya berjalan anggun menuju tengah panggung. Aura high class menguar dari seluruh tubuhnya. Ia sedikit menunduk membuat anak rambut yang tidak tersanggul dari rambutnya ikut bergoyang.
"Selamat pagi!" sapanya dengan suara lembut yang langsung membuat beberapa audience pria tersadar dari lamunannya.
"Pagi!" jawab kompak seluruh audience membuat wanita tersebut tersenyum puas.
"Baiklah, saya ucapkan selamat datang untuk seluruh audience. Saya Hyuga Hinata yang akan memandu acara hari ini." Hinata sedikit membungkukkan badannya sekali lagi. "Sekarang, kita panggilkan saja yang sudah ditunggu-tunggu oleh semuanya, Haruno Sakura Sang Novelis Romantis." Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan saat sosok yang ditunggu-tunggu muncul dengan dress 7/8 berbahan kaus dan berwarna senada dengan leather ankle boots kesayangannya, dilengkapi dengan outer berbahan satin berwarna merah. Rambutnya yang bermodel shaggy belah tengah di biarkan terurai. Wajah cantik itu dipoles sedikit make up natural. Sungguh elegan dan cantik. Sakura tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya, berusaha menyapa semuanya.
"Halo semuanya. Aku Haruno Sakura. Terimakasih telah datang." Sakura menundukkan setengah badannya lalu tersenyum manis sambil melambai-lambaikan tangannya kembali.
"Halo, Sakura. Aku Hinata. Hyuga Hinata. Kau tampak luar biasa." Hinata mengulurkan tangannya yang langsung disambut antusias oleh Sakura. Sakura tersenyum malu sebelum menjawab,
"Benarkah? Terimakasih."
"Lebih baik kita duduk, Sakura." Semua audience bertepuk tangan dengan antusias.
"Sebelumnya, aku mohon berbicaralah dengan santai ya, Hinata dan para audience saat Question & Answer nanti. Berbicaralah dengan nyaman." Sakura tersenyum sambil menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
"Baiklah, Sakura. Ini adalah pertama kalinya kau menampakkan dirimu sebagai Haruno Sakura Sang Novelis Romantis. Jadi, apa alasan yang membuat dirimu akhirnya memutuskan untuk go public?" Sakura mengangguk-angguk memperhatikan Hinata lalu tersenyum sebelum menjawab,
"Well, pertama, aku sedikit malu di sebut Sang Novelis Romantis, julukan itu seperti sebuah beban untukku dan pada awalnya aku ingin menyembunyikan diriku sebisa mungkin." Audience tertawa mendengar jawaban Sakura. "Aku terdengar seperti pecundang, kan? Aku tidak terlalu menyukai hidup di bawah sorotan, kau tahu, aku mencintai privasi. Akan tetapi, setelah itu ternyata mulai ada beberapa orang yang mengaku sebagai Haruno Sakura. Dan, atas saran Ino, sahabatku, sebelum mereka merusak nama baikku, lebih baik aku lebih dulu menampilkan diriku yang sesungguhnya." Sakura menatap Ino yang berdiri di belakang sana dengan senyuman menggoda yang dibalas dengan juluran lidah dari Ino.
"Jadi, kau telah menulis 5 buku sampai saat ini, dan kelima-limanya bisa dikatakan ber-genre romance. Apa rahasianya sehingga cerita-ceritamu bisa begitu romantis dan memikat para pembacamu?" Sakura berpikir sejenak.
"Hm.. Entahlah. Sebetulnya cerita-ceritaku lebih seperti berisi mengenai harapan-harapanku. Dan juga ketika kau menulis, jangan ambil opsi yang akan mudah di tebak oleh pembaca. Sebisa mungkin, ambil opsi yang paling tidak mungkin. Aku juga masih terus belajar dan mencoba-coba hal baru. Seperti novelku yang akan kurilis pada hari ini yang berjudul 'The Rose'. Untuk pertama kalinya, aku mencoba membuat novel ini atas sudut pandang si pria. Seorang pria yang mencintai seorang wanita, wanita tersebut dilambangkan sebagai bunga mawar." Sakura tersenyum pada seorang staff yang baru saja mengantarkan buku novel yang Sakura bicarakan. "Inilah novelnya. Dan hari ini aku akan memberikannya pada kalian secara gratis." Sakura mengangguk pada para staff yang ternyata telah berdiri di sisi-sisi audience, bersiap membagikan novel tersebut.
"Wah, beruntung sekali bagi para audience yang hadir hari ini. Kalian juga diizinkan untuk meminta tanda tangan langsung di akhir acara dengan Sakura. Kuharapkan kalian membawa koleksi karya Sakura ya pada hari ini." Hinata tertawa kecil melihat reaksi para audience yang tampak bersemangat. Ia mengambil novel yang berjudul 'The Rose' yang diletakkan di atas meja dan melihat-lihat sedikit isinya. "Apakah si tokoh perempuan melambangkan pepatah lama 'every rose has it's thorns'?"
"Yah, kalau kau bertanya seperti itu, jawabannya adalah iya. Namun, bukan berarti wanita ini cantik diluar dan jahat di dalam. Bukan seperti itu. Maksudnya adalah, wanita ini juga menyimpan sebuah luka di hatinya dan jika seorang pria mencintainya maka pria itupun akan ikut merasakan lukanya. Juga, selain itu seperti yang kita tahu bunga mawar merah melambangkan pengungkapan cinta, cinta yang dalam dan juga penuh gairah. Astaga, sepertinya aku berucap terlalu banyak ya. Ini sudah seperti spoiler saja. Ini pengalaman baru bagiku menjelaskan mengenai novel yang kutulis kepada para pembacaku dan ternyata rasanya sangat menyenangkan." Sakura tersenyum malu menatap Hinata yang terus saja menatapnya sambil tersenyum anggun.
"Tidak apa-apa, Sakura. Aku yakin para audience juga senang mendengarkanmu. Baiklah, novel ini juga baru saja di distribusikan ke toko-toko di Kota Konoha dan kalian, lagi-lagi aku harus mengatakannya, kalian sangat beruntung karena mendapatkan buku ini secara gratis dan berkesempatan berinteraksi langsung dengan seorang Haruno Sakura. Dia sangat cantik, bukan?" Para audience kompak meneriakan 'YA!' dan bahkan ada beberapa yang bersiul, suasana begitu riuh. Sakura sendiri tertawa dan menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya menyipit lucu dan pipinya bersemu merah tampak manis sekali.
Acara berlanjut ke kegiatan Q&A yang sangat seru. Sakura terus tersenyum sepanjang acara, ia bahkan sesekali tertawa keras. Menawan para pria muda yang memandang kagum ke arahnya. Pertanyaan-pertanyaannya hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana dan ringan, rasanya seperti sedang mengobrol dengan teman bagi Sakura. Namun ada pula pertanyaan-pertanyaan pribadi yang kadang membuat Sakura malu sendiri karena bingung bagaimana menjawabnya.
Terakhir adalah kegiatan fans signing seperti yang telah dijanjikan. Satu persatu audience naik keatas panggung sambil membawa novel untuk ditandatangani. Sedangkan yang lainnya berdiri di sekitar panggung sambil mengobrol dengan yang lainnya. Ada seorang pria paruh baya yang membawa novel Sakura yang berjudul 'My King' yang bercerita mengenai cinta seorang gadis kepada ayahnya. Sakura senang sekali dan memeluk pria tersebut. Mereka mengobrol sejenak lalu berfoto. Tak terasa sudah hampir 2 jam Sakura berinteraksi dengan para pembacanya. Ada yang minta berfoto bersama, berpelukan. Sakura merasa seperti seorang selebriti saja. Dan inilah yang terakhir.
"Wow, terimakasih karena mengoleksi seluruh bukuku." Sakura menerima tumpukan buku tersebut dari seorang lelaki bertopi yang terus menunduk menutupi wajahnya. "Tapi, ini tampak masih baru. Sudahkah kau membacanya?" Sakura mencoba berbincang sambil menandatangani buku-buku tersebut.
"Sudah." Jawab lelaki tersebut singkat. Sakura menghentikan gerakan tangannya dan mendongak mencoba menatap lelaki tersebut yang kembali menunduk. "Aku membacanya sehari semalam. Kau benar-benar penulis yang luar biasa." Sakura tersenyum dan kembali menandatangani buku-buku tersebut sambil sesekali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Bahkan, 'The Rose' sudah selesai kau baca?" Sakura bertanya tanpa memandang lawan bicaranya yang kini tengah tersenyum memandangnya, bahkan topinya telah terlepas entah sejak kapan. Sakura hanya mendengar lelaki tersebut menggumam sebagai jawaban. Mengingatkannya pada sosok seorang lelaki yang beberapa waktu lalu mendatangi apartment-nya. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha fokus dengan kembali mengajak lelaki misterius di depannya berbicara. "Wah, kau pasti sangat bosan menanti giliranmu sampai bisa beres membaca novelku. Jadi, siapa namamu? Apa ada pesan yang kau ingin aku tuliskan?"
"Uchiha Sasuke."
"Baiklah, U-chi-ha. Uchiha? Sa-sasuke? Astaga.." Sakura berdiri menatap sesosok di depannya yang sedang tersenyum manis padanya. Sosok Uchiha Sasuke dengan balutan leather jacket yang membungkus tubuhnya dengan pas tampak bagai mimpi bagi Sakura. Bagaimana laki-laki yang baru saja dipikirkannya benar-benar berada di depannya.
"Ini aku. Sasuke. Uchiha Sasuke. Dan ya aku sangat bosan menanti giliranku. Boleh aku memelukmu? Karena kau tadi juga memeluk beberapa penggemarmu." Sakura tertawa mendengar pertanyaan Sasuke, Sasuke benar-benar terlihat lelah. Wajahnya yang pura-pura cemberut sambil merentangkan kedua tangannya tampak begitu menggemaskan. Mengingatkan Sakura pada sosok Sasuke yang bersemangat memakan steak buatan Sakura malam itu. Melihat gelagat Sakura yang diam saja, Sasuke menghampiri Sakura dan memeluknya cukup erat.
"Oh, ya Tuhan. Kau pasti lelah, Sasu-chan." Sakura tertawa kecil sambil mengusap kepala Sasuke yang bersandar di bahunya dan tangan yang sebelahnya menepuk-nepuk punggung Sasuke. Sasuke mendengus dan melepaskan pelukannya lalu menatap Sakura tajam. Sakura tertawa semakin kencang dan menepuk-nepuk lengan Sasuke. "Baiklah, baiklah. Maafkan aku. Aku akan menuliskan sebuah pesan untukmu. Dan, eits! Jangan mengintip." Sasuke terkekeh melihat Sakura yang kini sedang menulis sambil mencoba menutupi tulisannya seperti murid sekolah yang sedang ulangan dan tidak ingin temannya mencontek.
"Kau benar-benar penulis yang luar biasa, Sakura. Aku tidak bisa berhenti saat membaca bukumu." Ucap Sasuke kembali memulai percakapan sambil memandangi para staff yang terlihat sedang merapikan ruangan.
"Jadi, buku-buku ku lah yang membawamu mulai mencintai buku? Wah, aku tersanjung." Sakura menumpuk buku-buku yang dibawa Sasuke. "Dan dari mana kau mengetahui acara hari ini?" Sakura duduk di meja dan memandangi Sasuke yang masih memperhatikan para staff yang sedang membereskan ruangan.
"Dia." Sakura mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Sasuke dan melihat lelaki berambut pirang model spike yang sedang melambai pada Sasuke dan sebelah tangannya menggenggam Hinata.
"Halo, teme, Sakura-chan. Perkenalkan, aku kekasih Hinata dan sahabat Sasuke." Naruto mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar. Sakura balas tersenyum dan menjabat tangan Naruto. Kesan pertamanya, lelaki ini begitu ramah dan bersemangat.
"Sakura, tadi Ino bilang dia menunggumu di tempat biasa bersama Sai." Ucap Hinata masih sambil tersenyum anggun, seperti biasa. Sakura kagum pada sosok Hinata yang begitu anggun. Sosok itu membuatnya merasa gagal sebagai perempuan.
"Ah, itu adalah tempat makan yang selalu kami datangi untuk merayakan sesuatu. Bagaimana dengan kalian? Apakah ada acara sesudah ini?" Naruto menggeleng antusias sambil menyengir dan Hinata hanya tersenyum seperti biasa. Sakura lalu memandang Sasuke yang juga sedang menatapnya dan tersenyum menggoda. "Kalau begitu, ayo kita kesana bersama-sama. Semakin ramai pasti semakin menyenangkan."
"Ayo!" Jawab Naruto bersemangat.
.
.
.
.
.
"Sakura! Disini." Ino yang sedang bersandar pada kekasihnya melambai pada Sakura yang tampak mencari-carinya. Sakura tersenyum dan balas melambai. Dibelakangnya tampak Hinata, Naruto kekasihnya, dan.. Astaga, Ino tidak menyangka ada seorang Uchiha Sasuke.
"Hai, Ino. Aku mengajak Hinata, Naruto dan Sasuke. Tidak apa-apa kan?" Sakura mengambil tempat duduk di seberang Ino dan Sasuke di sebelahnya lalu Hinata dan Naruto berdampingan di sebelah kanan meja. Ino memberikan kode bertanya pada Sakura mengenai lelaki 'asing' di sebelahnya. Hanya mereka yang mengerti percakapan tersebut. "Ah, iya. Ini Sasuke. Dan Sasuke, kenalkan, ini Ino seorang stylish dan Sai kekasihnya, ia juga seorang pelukis."
"Halo, Uchiha-san. Kita pernah bertemu beberapa kali." Ucap lelaki yang mirip dengan Sasuke hanya saja kulitnya lebih pucat.
"Ah, Shimura Sai, kan?" Sasuke tersenyum dan berjabat tangan dengan Sai lalu Ino.
"Jadi, Sakura dan Ino senang makan pizza?" Tanya Naruto dan disambut tawa oleh dua sahabat tersebut. Ya, ternyata tempat makan yang dimaksud adalah Konoha Pizza.
"Oh, ayolah. Siapa orang yang membenci pizza?" Pertanyaan Ino disambut tawa oleh semuanya. Lalu pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Ekstra keju?" Tanya Sakura saat melihat pizza yang di antarkan oleh pelayan.
"Tentu saja, sayang. Hari ini kan kita merayakan perilisan bukumu, jadi aku memesan kesukaanmu." Sasuke sedari tadi tidak bisa melepaskan perhatiannya dari Sakura. Di jalan tadi mereka tidak mengobrol karena perjalanan tidak terlalu jauh dan Sakura tertidur, mungkin dia kelelahan.
"Aww, terimakasih, pig. Kau memang yang terbaik." Sakura bertepuk tangan kecil lalu membuka tasnya. Ternyata ia mengambil ikat rambut. Ia kini hanya mengenakan dress hitam, outer-nya ia tinggalkan di mobil Sasuke. Sakura tampak akan mengikat rambutnya, membuat messy bun seperti biasa. Sasuke memperhatikan semuanya. Dan Sakura tidak menyadarinya, tapi Ino menyadarinya.
"Lihat, lihat, Sakura. Kau membuat Sasuke terheran-heran melihat sanggul anehmu." Sakura menatap Sasuke yang juga sedang menatapnya.
"Ini namanya messy bun, Ino. Tidak, dia sudah pernah melihat ini sebelumnya. Dia pernah ke apartment ku." Sakura bersidekap dan menatap Ino lalu menjulurkan lidahnya.
"Ngomong-ngomong, kapan kita bisa memakan pizza besar nan menggoda ini? Aku lapar. Hehehe" sela Naruto yang lengannya langsung dipukul oleh Hinata.
"Semuanya, maafkan Naruto-kun." Ucap Hinata sambil tersenyum manis.
"Tuh, Jidat. Jadi perempuan itu anggun seperti Hinata." Celetuk Ino balas menjulurkan lidah pada Sakura, balas dendam. Ino menjerit kesakitan dan memandang Sakura marah. Entah apa yang Sakura lakukan di bawah meja.
"Sudah, sudah. Kalian ini. Maafkan mereka ya, Sasuke, Hinata dan Naruto." Ucap Sai sambil merangkul Ino yang memandang tajam Sakura yang memasang senyum kemenangannya.
"Baiklah, selamat makan!" Teriak Sakura semangat dan mengambil potongan pizza pertama diikuti yang lainnya.
.
.
.
.
.
Acara makan siang terasa begitu menyenangkan. Siapa sangka bahwa kekasih Hinata yang merupakan teman SMA Ino dan Sakura adalah Naruto yang merupakan sahabat Sasuke sedari kecil dan ternyata Sasuke saling mengenal dengan Sai sebagai sesame pelukis? Betapa sempitnya dunia.
"Dunia sempit ya, Sakura?" Sakura tersenyum. Sasuke beru saja menyuarakan pemikirannya. Kini mereka dalam perjalanan pulang setelah acara makan pizza sudah berakhir. Sakura yang sedang duduk di kursi penumpang di sebelah Sasuke tampak memejamkan matanya. Sebelah tangannya menopang kepalanya.
"Kadangkala." Jawab Sakura masih tetap pada posisinya. Sasuke tersenyum mendengar jawaban Sakura dengan suara malasnya.
"Aku tak menyangka seorang Sakura begitu ganas dan banyak energi ya. Kau terus menerus bertengkar dengan Ino. Kau juga tampaknya sangat mencintai pizza." Sasuke sedikit melirik pada Sakura dan tersenyum jahil.
"Dan kau tampaknya banyak berbicara saat bersamaku. Padahal kau banyak diam tadi." Sasuke terkekeh dan kembali melirik Sakura yang ternyata masih belum merubah posisinya.
"Apa kau lelah?" Tanya Sasuke yang mengandung nada khawatir. Sakura menggeram.
"Aku kekenyangan." Sasuke tertawa melihat Sakura yang kini bersandar rendah pada kursi sambil mengusap-usap perutnya. Ia membuka matanya dan menatap jalanan sekitar. "Tunggu, ini bukan jalan ke rumahku."
"Memang bukan." Sakura menoleh cepat pada Sasuke. "Relax. Kita ke rumahku." Sasuke menyeringai pada Sakura yang melotot padanya.
"Rumahmu? Kenapa ke rumahmu?" Sakura kini duduk dengan santai dan menatap jalan yang tampak asing di sekitarnya.
"Kau pasti akan menyukainya." Sakura menghela napas lelah melihat Sasuke yang tersenyum misterius.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mereka sampai di sebuah rumah minimalis tepat di pinggir jalan yang sepi. Sakura melihat-lihat sekitarnya. Tidak ada bangunan lain disini.
"Kau tidak punya tetangga, Sasuke?" Sakura tampak sedang mengenakan outer-nya dan memasang tas ransel hitam kesayangannya. Sasuke yang baru saja keluar dari mobil menghampiri Sakura dan menyeretnya untuk masuk.
"Ttunggu. Kau tidak berniat jahat padaku kan?" Sakura melepaskan dirinya dan sedikit mendorong Sasuke.
"Kau tidak percaya padaku?" Sasuke menatap Sakura tajam. Sakura balas menatapnya. Mencari kebohongan disana.
"Baiklah, awas kau kalau macam-macam." Sakura akhirnya masuk sendiri tanpa di dorong. Ia memperhatikan interior ruangan yang di dominasi warna hitam, putih dan abu.
"Duduklah. Dan anggaplah rumah sendiri." Sakura duduk di sofa berwarna hitam di depan TV yang tampak begitu nyaman. "Sakura, kau bawa kaus, kan?" Sakura menoleh bingung.
"Bagaimana kau tahu?" Sasuke tersenyum menghentikan kegiatannya yang tampak sedang mencari-cari sesuatu.
"Hanya menebak sebetulnya. Apa kau ingin berenang?" Sakura matanya langsung berbinar.
"Kau punya kolam renang? Dimana?" Sasuke menunjuk ke bagian belakang rumahnya.
"Sakura, kau mau kemana?" Sasuke menghentikan Sakura dengan menarik tas ranselnya Sakura yang sangat bersemangat ingin ke halaman belakang.
"Melihat kolam renangnya." Sasuke menggelengkan kepalanya. Dan menarik Sakura kembali dan memberikan benda yang sedari tadi di carinya.
"Ia takkan kemana-mana. Sekarang ganti bajumu, lalu kenakan sunblock-nya." Sakura menatap Sasuke bingung. Sasuke memandangnya datar dan menunjuk kamar mandi dengan dagu. "Aku menunggumu, di sana."
.
.
.
.
.
Sakura keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa yang tadi. Ia meletakkan tas diatas meja dan menyampirkan bajunya di lengan sofa. Lalu ia memakai sunblock pada tangan dan kakinya. Setelah selesai ia melepas ikat rambutnya dan sedikit menyisir rambutnya mengenakan jari. Sakura berjalan dengan riang, ia bahkan sedikit bersenandung. Sakura tampak seksi padahal ia hanya mengenakan kaos putih sepanjang paha serta celana boy short. Ia membuka pintu belakang dan tertegun. Angin berhembus cukup kencang, memgibarkan rambut Sakura dan juga kaus longgarnya tampak mencetak tubuh rampingnya.
"Astaga, pantai!" Sakura menjerit senang dan berlari ke tengah hamparan pasir putih yang luas. Dan berlari berputar-putar sambil merentangkan tangannya. Lalu ia bergerak memutar sambil sesekali bergoyang-goyang senang.
"Kau akan kehabisan tenaga untuk berenang kalau terus-terusan menari disini." Sasuke datang entah dari mana dan memeluknya dari belakang lalu memanggul tubuh Sakura bagai memanggul karung. Sasuke hanya mengenakan celana renang hitamnya dan bertelanjang dada.
"Sasuke! Bagaimana kau bisa memiliki pantai di halaman belakang rumahmu?" Sakura yang terlalu senang bahkan tidak memprotes sama sekali. Ia malah menggerak-gerakkan kakinya senang dan berjerit-jerit kegirangan.
"Luar biasa bukan?" Sasuke tersenyum senang mengetahui antusiasme Sakura.
"Astaga. Ini Surga!" Sakura menampar pantat Sasuke kencang. Sasuke sempat terdiam lalu tertawa dan membalas memukul pantat Sakura. Mereka tertawa bersama.
"Kau siap?"
"Untuk apa? Kyaaaaa~" Sasuke baru saja melempar tubuh Sakura ke air dari tempat kapal-kapal kecil berlabuh, juga tempat Sasuke 'memarkir' jet ski miliknya. Sakura yang telah muncul dari air kini tertawa riang dan langsung berenang di sekitar. Sasuke pun langsung menyebur menyusulnya. Mereka berenang bersama dan bermain air bagai anak kecil.
Kini matahari sudah hampir terbenam. Sakura sedang duduk di dermaga kecil milik Sasuke memandang matahari yang mulai beranjak menuju singgasananya. Udara dingin tidak dihiraukan oleh gadis yang sedang duduk sambil memeluk lututnya sendiri. Sasuke datang dengan dua gelas dan sebuah selimut. Ia menyelimuti Sakura.
"Coklat?" tawar Sasuke sambil mengangkat sebuah gelas untuk Sakura. Sakura menerima gelas tersebut dan sedikit meniup sebelum meminumnya. Sakura tersenyum dan kembali memandang lukisan Yang Maha Kuasa di depan matanya. Sasuke memperhatikan Sakura, hal-hal kecil tentangnya, seperti bagaimana ia meniup lalu meminum coklat buatannya, bagaimana matanya mengedip, binar di matanya, bulu mata lentiknya, lengkung senyum di bibirnya yang entah kenapa selalu menulari Sasuke untuk ikut tersenyum.
"Ini pertama kalinya aku melihat sunset." Ucap Sakura sambil memandang sekitarnya. Langit berwarna jingga tampak begitu indah, angin yang berhembus pelan, debur ombak serta aroma pantai yang menyenangkan.
"Tunggu sebentar lagi. Langit akan berubah warna dengan begitu cepat hanya dalam hitungan menit. Dari jingga menjadi keunguan. Sangat indah." Ucap Sasuke sambil ikut memandang sekitar dan menyesap coklatnya.
"Akhirnya aku berada di pantai, tempat favoritku dari seluruh dunia. Oh, Tuhan, ini luar biasa." Sakura tersenyum semakin lebar menatap perubahan langit yang begitu indahnya. Ia bahkan terbengong-bengong.
"Kau menyukainya?" tanya Sasuke menatap sosok gadis yang tampak begitu mungil di balik selimut itu. Hanya kepalanya yang keluar. Gadis unik yang begitu menarik perhatiannya. Ia menyukai gadis ini. Sangat menyukainya.
"Oh, astaga, aku mencintainya!" Sakura menatap Sasuke. "Aku mencintaimu, Sasuke." Sakura terkejut dengan kalimatnya sendiri. Sasuke yang entah sejak kapan duduk begitu dekat dengan dirinya menarik wajahnya dan Sasuke menempelkan bibirnya pada bibir Sakura dan sedikit melumatnya. Sakura yang terkejut memundurkan wajahnya dan menatap Sasuke bingung.
"Aku menyukaimu, Sakura."
To be continued…
Balasan review
DaunIlalangKuning : Halo! Salam kenal juga ya^^ aku harus memanggilmu siapa? Aku bingung hehehe wah iya, perasaan aku sudah tag pairing tapi ternyata ga muncul, sudah diperbaiki ya, makasih loh:) wahahaha sabar ya, pertanyaanmu akan terjawab di chapter-chapter berikutnya, makanya baca terus ya hihihi #modus sekali lagi terimakasih ya. Rnr lagi, ok? *wink*
unknown : jangan mati dulu dong, baca sampai selesai ya^^ hihihi terimakasih unknown-san! Rnr lagi yaa xD
Nurulita as Lita-san : iyaps, mereka ditinggal orang yang sangat mereka kasihi :) terimakasih sudah review, jangan lupa rnr lagi^^
Author Note : Akhirnya update! aku masih nge fly abis nonton eps 479 kemarin! forehead poke nya akhirnya muncul dan papiSasu makin ganteng aja yaaaa*^.^* ok, maafkan jiwa fangirlku.
Sorry baru update yaa :( sebetulnya ini mau di update dari sabtu kemarin, tapi dikarenakan kesibukan real life daaaaan kehabisan kuota u.u memalukan ya? jadi baru bisa update sekarang deh hehe Gimana? Penasaran ga? Chapter depan udah masuk konflik yaaaa XD ?Ini aku terinspirasi juga dari drama korea loh, ada yang bisa tebak? Oh iya, aku sedang mempertimbangkan untuk naik rating dan menambahkan lemon atau engga nih wkwk menurut kalian gimana? Tuliskan pendapatmu di review ya^^
Special thanks to you all who have fave, follow and review :
DaunIlalangKuning, Kise sakura, Nurulita as Lita-san, DarkBluepink and unknown
