Your Choice!
by Itou kyuu-chan
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Gaje, OOC, dll.
Pairing: ItaIno
Genre: Romance, Family, hurt, dll
Enjoy it!
…
"Besok kita jalan-jalan ya, Gaara-kun!" ujar Ino. Jarinya memainkan ujung rambut pirang bagian depan yang sedikit lebih pendek. Ia menunggu jawaban dari pacarnya, Gaara, dengan gugup, berharap dengan sangat bahwa pria itu akan menerima ajakan kencannya. Hei, mereka sudah berpacaran selama 2 tahun tapi baru berkencan 3 kali! Tidakkah itu aneh? Orang pasti berpikir bahwa ia telah dicampakkan Gaara.
"Baiklah. Besok jam 11 kau datang ke Kafe Konoha. Aku tidak bisa menjemputmu, lno." Ujar Gaara dari sebrang telepon. Ino membelalakkan matanya, meloncat kegirangan sambil menahan jeritan.
"Benarkah, Gaara-kun?" tanyanya memastikan. Tentu saja ia tahu bahwa Gaara tak sedang berbohong atau bercanda, karena Gaara bukan tipe pemuda yang suka bercanda apa lagi berbohong. Sifat itulah yang menarik perhatiannya dari awal.
"Ya. Tapi aku tak punya waktu lama." Balas Gaara. Ino mengangguk-angguk meskipun pria itu tidak dapat melihatnya. Ia sangat mengerti jadwal Gaara lebih padat dari aspal.
"Baiklah Gaara-kun. Jam 11 ya!"
"Hmm."
"Ya sudah, selamat melanjutkan pekerjaanmu. Terima kasih Gaara-kun. Sampai ketemu besok."
"Hm. Byebye, Ino." Setelah mendengar jawaban Gaara, Ino menaruh ponselnya di atas meja. Mulutnya bersiap-siap membuka. Rasanya ia ingin sekali berteriak. Dan ia benar-benar melakukannya.
"Horeeeee! Akhirnya Gaara-kun mau menerima ajakan kencanku!" serunya riang . Dan tiba-tiba…
Duakk!
Sebuah buku mendarat di kepala Ino dengan cukup keras. Rasanya sangat sakit, tapi Ino memutuskan untuk merasa bersyukur karena buku itu tidak lebih tebal lagi.
"Berisik, tahu! Menggangu waktu tidur siangku saja!" ujar seorang pemuda berambut mirip nanas dengan jengkelnya. Shikamaru Nara, tetangga sekaligus teman masa kecilnya. Mereka bisa dibilang dekat, tetapi selalu berantem setiap saat. Dan sebagai informasi, Shikamaru adalah pacar pertamanya saat berumur 9 tahun. Hubungan mereka hanya berjalan 2 hari sebelum akhirnya putus.
''Iih… apaan sih, Shika?" seru Ino kesal . Tangannya mengelus-elus kepalanya yang menjadi sasaran si pria Nara. Ia berjongkong, mengambil buku itu, kemudian berjalan mendekati jendela dimana Shikamaru menunggu di seberang.
"Suaramu terlalu keras, bodoh! Terdengar sampai ke rumahku," balas Shikamaru .
Ino merengut. "Biar saja! lagipula rumah kita 'kan tepat bersebelahan, tentu saja terdengar sampai kerumahmu. Salahkan nasibmu, karena tinggal disebelah rumahku!'' meskipun berkata begitu kasar, Ino menjulurkan tangannya, berusaha mengembalikan buku Shikamaru.
"Cih, mendokusei. Kau seharusnya minta maaf." Shikamaru mengulurkan tangannya juga.
"Dalam mimpimu, Shika!" ujar Ino. Ketika akhirnya buku itu sampai di tangan Shikamaru, Ino membuat wajah konyol yang menandakan ia sebal, lalu berbalik. Shikamaru yang berdiri menghela napas.
Tapi ia tersenyum lembut. "Dasar! Sama sekali tidak berubah. Merepotkan saja!"
.
.
.
"Sakura, besok siang temani aku belanja yuk! " ujar Ino diponselnya, ia sudah membuat rencana setelah kencan singkatnya dengan Gaara. Kencannya akan benar-benar singkat.
"Hm… baiklah. Kau kenapa? Sepertinya kau senang sekali." Balas Sakura dari sana. Ino tersenyum.
"Kau tahu? Gaara mengajakku kencan besok!"
"Gaara yang mengajakkmu, atau kau yang mengajaknya?"
"Aku…" jawab Ino lesu.
"Haha.. sudah kuduga. Jam berapa kalian kencan?"
"Jam 11."
"Jam 11?! Lalu kenapa kau mengajakku jalan-jalan besok siang?! Apa kau berencana sok-sokan meninggalkannya di tengah kencan kalian supaya dia lebih peduli?!"
"Tidak! Bukannya begitu sakura! Tapi ide bagus juga, sih."
"Jadi kenapa, pig? Dan jangan mencoba, mengetahui Gaara, dia pasti tidak mau ambil pusing."
Ino menghela napas. "Benar juga."
Ino menyandarkan tubuhnya ke bantalan sofa. "Gaara tidak memiliki waktu banyak, forehead. Jadi daripada aku kecewa, lebih baik aku mengatur jadwal denganmu…"
"…" Sakura terdiam sejenak. "Ino?" panggil Sakura.
"Hm?" Sahut Ino.
"Bagaimana kalau kau ikut makan siang dengan kami?"
"Makan siang?"
"Ya. Yang seperti kau bilang tadi. Pertama, kau kencan jam sebelas, setelah itu kau dan aku pergi belanja, lalu kita pergi kerumah Naruto. Kushina-baa san mengajakku makan siang bersama. Kau ikut saja."
"Serius? Tapi 'kan, hanya kau yang diajak."
"Tenang saja… Kushina-baa san orang yang baik, kok! Dia pasti mau menerimamu dengan senang. Kalau Naruto tidak setuju, bilang padaku atau kushina-baa san, oke?"
"Umm… baiklah. Terima kasih, Sakura!"
"Sama-sama… oh iya, selanjutnya…" dan mereka membuat jadwal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan dalam sehari.
.
.
.
Di sebuah restoran bintang lima, Uchiha restaurant, terlihat seorang pria dan seorang wanita yang sedang duduk dalam keheningan. Sang wanita, dengan rambut ungu, tampak gelisah, ia meremas-remas ujung bajunya. Sedangkan sang pria, yang memiliki rambut hitam agak panjang, tampak tenang. Bahkan sesekali ia mengambil cangkir berisi black coffee-nya di meja dengan tangan kiri, lalu menyesapnya perlahan.
"Jadi apa alasannya?" Tanya sang Pria dengan tenangnya. Pemuda berambut hitam panjang yang mempunyai nama Uchiha Itachi itu baru saja diberitahu oleh wanita di depannya, Konan, bahwa mereka tidak bisa melanjutkan hubungan mereka lagi. Konan tampak amat gelisah, ia bahkan menggigit bibir bawahnya dengan keras.
"Y-Yahiko.. dia alasanku, Itachi." Ujar Konan lirih. Itachi terdiam sejenak. Ia sedikit terkejut mendengar Yahiko, cinta pertama Konan—atau mungkin masih—telah kembali dari Amerika.
"Kau masih menyukainya?" Tanya Itachi dingin. Seolah-olah ia tak pernah sekali pun menjalin kasih dengan Konan.
Konan menatap ke mata Itachi dengan ragu, namun pasti. "Tidak. Aku tidak menyukainya. Aku mencintainya!"
"Terserah apa maumu." Itachi berdiri, melangkah pergi, meninggalkan Konan yang mulai meneteskan air mata.
Dari awal, Itachi memang tidak mengharapkan Konan akan berada di sisinya sampai akhir. Ia tidak berpikir akan ada orang gila yang berani melakukan hal itu. Tapi memutuskan hubungan dengan Konan membuat hatinya merasa sedikit sesak. Perasaan ketika dirinya ditinggalkan, perasaan yang telah dirasakannya berulang kali, rasanya sakit sekali.
Itachi kembali ke ruang kantornya yang letaknya tidak begitu jauh dari restoran. Ia duduk di belakang meja kerjanya, memandang kosong ke arah tumpukan file yang terbengkalai. Ia mengangkat tangan kanannya dan ingatan buruk langsung melintas di pikirannya.
Jika saja, kejadian itu tidak pernah terjadi, Ia pasti akan menjadi pria normal yang hidup dengan normal. Dan mungkin Konan tidak akan meninggalkannya.
Tangan terkutuk.
Haruskah ia memotongnya?
Tok tok.
Itachi tersadar dari lamunannya, mengizinkan siapapun yang mengetuk itu masuk. Sai Uchiha, adik keduanya. "Ada apa, Sai?" tanyanya sambil berpura-pura membaca sesuatu
Sai dengan ragu mendekat, memberikan selebaran kertas tebal. Itachi melihat gelagat adiknya dengan tidak nyaman. Ia tahu ia bukanlah seorang kakak yang baik selama ini dan ia memiliki kesalahan besar di masa lalu, tapi tidak seharusnya Sai menjadi setakut itu padanya. Seharusnya Sai menjadi lebih seperti Sasuke, yang membencinya dengan sepenuh hati, dengan begitu, ia akan merasa jauh lebih baik.
"Aku mengadakan pameran lukisan di galeri seniku. Besok siang jam 12, Itachi-nii."
Itachi mengangguk. Ia melihat ke selebaran itu dengan seksama. Sai, adalah pelukis yang berbakat dan cukup terkenal, ia memulai semuanya dari nol dengan usahanya sendiri. Itachi sejujurnya merasa bangga padanya, tapi ia merasa tidak pantas mengungkapkan hal itu.
Itachi melihat kea rah Sai yang masih berdiri di hadapannya. "Ingin mengatakan sesuatu?"
Sai tersenyum kecil. "Tidak."
Ia berdiri lebih lama sebelum akhirnya mengangkat kepalanya menatap ke arah Itachi. "Aku melihat Konan-nee bersama seorang pria," katanya dengan cepat.
Itachi membatu selama beberapa detik, tidak menyangka akan secepat itu orang lain mengetahui tentang hubungannya dengan Konan, namun ia berhasil mengendalikan diri, menatap balik Sai seolah tidak ada hal besar yang terjadi. "Hm. Kami telah membicarakannya. Kami tidak begitu cocok."
"Tapi Konan-nee dan Itachi-nii sudah 2 tahun bersama," ucap Sai lirih. Itachi tahu adiknya berharap ia akan menikahi Konan segera, tidak, semua orang beranggapan ia akan menikahi Konan.
"Waktu tidak ada hubungannya, Sai."
"Iya, tapi—,"
"Apa hanya itu yang ingin kau bicarakan?" Itachi memotong ucapan Sai membuat adiknya menatapnya dengan cemas. Tapi Sai mengangguk, menurut, sebelum kemudian berpamitan dan keluar dari ruangannya.
Itachi meremas kertas selebaran itu dengan tangan kirinya, melemparnya dengan keras bak orang gila. Ia memejamkan mata dan menarik napasnya perlahan, mencoba mengontrol amarahnya.
Ia seharusnya mati saja.
…
Hari libur merupakan hari paling mengasyikan bagi Ino. Pekerjaannya sebagai seorang desainer di butik milik Tsunade bisa dibilang cukup berat karena toko itu lumayan terkenal, itulah mengapa hari libur sangat berharga. Dan hari liburnya menjadi lebih sempurna ketika perempuan berusia 22 tahun itu akan berkencan dengan pacar super sibuknya, Gaara.
Harusnya hari ini sempurna.
Jika saja ayahnya tidak menyuruhnya berjaga di toko bunga.
"Dia bilang hanya pergi sebentar, tahu begini aku tidak akan mau berjaga," kata Ino murung. Ia melirik ke arah jam tangannya, melotot ketika ternyata jarum jam sudah berada di angka 11. Menolak untuk panik, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam totebagnya, menelepon ayahnya.
Di dering ke 4, akhirnya panggilannya tersambung.
"Tou-chan, aku tidak peduli lagi. Aku sudah ada janji dengan Gaara-kun, jadi bye-bye," ucapnya, kemudian langsung menekan tombol end.
Berlari secepat yang ia bisa, Ino bahkan tidak peduli ia mengenakan high heels. Beruntung, bus yang hendak ia naiki belum jalan dari halte. Setelah memasukkan uang, ia tidak duduk meskipun ada kursi yang kosong. Pemberhentianya dekat, jadi kalau ia berdiri di dekat pintu keluar, ia bisa sampai lebih cepat. Ia buru-buru turun setelah bus itu berhenti di halte seberang Kafe Konoha. Melihat lampu merah hendak berubah menjadi hijau, Ino langsung berlari menyeberang jalan.
Itulah saat dimana sebuah mobil dengan cepat melaju ke arahnya. Ino tidak bisa berpikir di detik-detik itu, hanya pasrah memejamkan mata dengan pose tangan di depan kepalanya sebagai perlindungan. Ketika beberapa detik berlalu, dan suara berisik mulai terdengar di sekelilingnya, Ino akhirnya membuka mata.
"Apa kau baik-baik saja?" seorang wanita paruh baya bertanya padanya. Ino tidak bisa menjawab, seluruh tubuhnya gemetaran. Matanya kemudian tertuju pada sebuah mobil yang tadi hendak menabraknya, terhenti di sisi jalan dengan bagian depan yang hancur parah.
Hari itu merupakan titik balik dari hidup 22 tahunnya.
…
Masih dengan tubuh yang gemetar, Ino menunggu dengan sabar di depan ruang operasi. Ia tidak bisa berkata apapun ketika 2 orang pria yang kemungkinan merupakan kerabat pria yang dicelakainya datang. Salah satu dari mereka bertubuh besar dengan wajah yang menyeramkan, dan yang lainnya terlihat masih muda dan sangat khawatir. Ino tahu seharusnya ia langsung berdiri dan meminta maaf, tapi ia hanya duduk dan menunduk.
"Perempuan ini yang hampir ditabrak Ita-nii?" Tanya pria yang lebih muda.
"Kurasa begitu, Sai," jawab si pria seram.
Pria yang lebih muda, Sai, duduk di sebelah Ino. Ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, "Bukan salahmu, tidak apa. Dia akan baik-baik saja."
Ino juga berharap demikian. Meskipun ia bukan orang yang religius, tapi ketika itu ia berdoa tanpa henti.
Langit sudah menjadi gelap ketika pria bernama Itachi Uchiha itu terbangun dari obat bius. Ino berdiri dari posisi duduknya, mengepalkan tangan dengan sangat kuat hingga ujung jarinya memutih.
"Itachi, kau sudah bangun?" Tanya si pria berwajah seram, Kisame.
Pria bernama Sai yang mirip dengan Itachi Uchiha, mendekat. Melarang pria itu untuk duduk. Tapi Itachi tetap memaksakan diri untuk duduk. Ketika merasakan ada hal yang tidak beres, ia melotot ke arah adiknya. Ekspresi mengerikan yang membuat Ino mundur selangkah.
"Apa yang terjadi?" suara itu dingin seperti hewan buas yang hendak menerkam siapa saja.
Kisame berpandangan dengan Sai, memegang pundak Itachi dengan lembut, sebelum akhirnya menjawab, "Tangan kananmu… lumpuh."
Itachi terdiam menatap ke arah tangan kanannya. Tubuh atasnya mulai gemetar, dan jika saja ia tidak dalam kondisi lemah, ia mungkin sudah dengan brutal mengacak-acak ruangan. Kaki Ino melemah ketika tiba-tiba tatapan tajam dengan aura membunuh itu tertuju padanya. Ia sadar, pria itu mengenalinya seketika. Tapi di luar dugaan Ino, pria itu tidak menyerangnya, malah , menolak bertatap muka dengan Ino dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Keluarkan dia dari ruangan ini, Sai," katanya pelan. Tapi hanya dengan kata-kata itu, tubuh Ino merinding hebat.
Sai memandang Ino dengan tidak nyaman, kemudian menuntun Ino dengan sopan keluar dari ruangan. Ino menggeleng saat pria itu menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Ia berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, duduk di kursi kosong di dekat sana.
Ino mencoba menghubungi Gaara berulang kali. Tapi tidak ada respon.
Akhirnya, ia memanggil satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya. Shikamaru Nara. Pria itu langsung muncul dalam beberapa menit. Shikamaru berjongkok di hadapannya, menghela napas seperti biasa dan menatap ke arahnya. Ino tidak bisa menahan tangisannya, ia memeluk Shikamaru dengan sangat erat sampai air matanya mengering.
"A-a-ku sangat bersyukur dia tidak m-mati, Shika," katanya dengan suara serak.
Shikamaru menepuk-nepuk punggung Ino dengan lembut. "Sst. Tidak apa, Ino. Tidak apa."
…
Author's Note:
Jadi, ini adalah remake dari Your Choice! yang kubuat bertahun-tahun yang lalu. Memang kebetulan aku mau publish ulang cerita ini, tapi berkat reviews di My Princess Serenity dengan nama Inochan req minta bikin ItaIno, akhirnya remakenya terealisasi:v
Jadi makasih yaa buat Inochan, aku harap kalian suka cerita ini dan memberikan dukungan.
Karena review kalian sangat berharga
