Lala-chan ssu and val pururin proudly present

It's Like Beauty and the Beast: Encore

Pair: AoAka

Rated: M, lagi

Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada

Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK

Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi

DLDR

~~oo00oo~~

Side 2: Eromine Daiki

~~oo00oo~~

Liburan musim panas. Tentu saja merupakan waktu ter-asyik bagi seluruh murid di Jepang. Mereka bisa bersantai, berlibur, menikmati musim panas selama 40 hari. Banyak cara untuk mengisinya, entah pergi ke kolam renang, ke laut, atau menonton acara kembang api.

"AKHIRNYA LIBURAN MUSIM PANAS, SSU!"

"Benar! Akhirnya bisa bersantai setelah penat dari sekolah!"

"Aku ingin makan parfait..."

"Kalian jangan lupakan training camp."

Ucapan Kuroko yang tiba-tiba membuat semuanya terdiam. Benar juga, mereka masih ada training camp musim panas. Meski hanya seminggu, namun karena itulah pasti sesi training camp mereka sangat menguras tenaga.

"Jangan lupakan juga PR musim panas, nodayo."

Perkataan Midorima membuat yang lain kembali loyo, terutama Aomine dan Kagami. Akashi yang melihatnya menelengkan kepalanya

"Kalian ada training camp musim panas ya?" tanya Akashi. Aomine yang duduk di sebelahnya bangkit dari keloyoannya (?)

"Iya. Hanya seminggu, sih. Tapi jadwal latihannya tiga kali lipat dari biasanya." Ujar Aomine. Akashi menggumam sebelum menepukkan kedua telapak tangannya.

"Baiklah. Bagaimana kalau minggu terakhir liburan musim panas kita pergi bersama?"

Seluruh anggota generasi keajaiban sontak menatap Akashi. Yang tadinya loyo pun seolah menemukan secercah oasis

"Kita akan berlibur di resort keluargaku sampai liburan selesai. Bagaimana?"

"TERIMA KASIH, AKASHIIII!"

Seluruh anggota Generasi Keajaiban—kecuali Midorima karena doi jaim—hampir menerjang memeluk Akashi kalau saja ia tak dipeluk duluan oleh Aomine.

"LU PEGANG, KITA BAKU HANTAM!"

"Ih yawda sih santai dong bos"

~~oo00oo~~

Seluruh anggota Generasi Keajaiban dibuat ternganga. Bagaimana tidak, resort milik keluarga Akashi sangat megah dan berada tepat di pesisir pantai. Bangunan bergaya eropa modern tiga tingkat itu nampak sederhana namun jelas sangat mewah di saat bersamaan. Dibangun di posisi yang tepat sehingga pemandangan kamar menghadap pantai dan berada di sorot matahari hingga bangunan itu nampak cerah.

"Ayo masuk. Aku sengaja memesankan seluruh resort ini untuk kita, jadi anggap saja rumah sendiri." Ujar Akashi sambil membuka pintu utamanya. Yang lain melotot. Iya mereka tahu keluarga Akashi itu kaya. Yah toh mereka juga bukan dari kalangan biasa. Tapi entah kenapa rasanya Akashi berada di level yang berbeda.

Kami yang hanya rakjel ini bisa apa di hadapan Kanjeng Ratu Akashi

"Anu, Akashi. Apa benar tak apa seluruh resort ini kita pesan seminggu?" tanya Kagami sambil menggaruk pipinya.

"Tak masalah, aku sudah izin ayah." Ujar Akashi santai sambil menaruh barang-barangnya. "Nah, dengan begitu kalian juga bebas memilih kamar yang mana saja."

"BENAR NIH SSU?! YEAAAYY!" Kise langsung kegirangan dan berlari menuju kamar paling atas. Kagami tak mau mengalah dan langsung ikut mengejar Kise. Midorima mengangkat kacamatanya dan membawa barang-barangnya ke salah satu kamar di lantai dua. Kuroko dan Murasakibara pun mengikuti. Kini tersisa Aomine dan Akashi.

"Jadi, kau ingin kamar yang mana, Daiki?" tanya Akashi. Aomine menggumam.

"Ayo kita ke kamar di ujung." Ajak Aomine sambil mengambil barangnya.

"Eh? Yakin nih?" tanya Akashi.

"Yakin. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersamamu." Ujar Aomine. Akashi mengerjap. Ia lalu tersenyum dan mempercepat langkahnya mendekati Aomine. Didaratkannya kecupan singkat di bibir sang alpha, membuatnya memerah. Namun Aomine makin menariknya ke dalam ciuman panas. Akashi mengerang dan mulai mencengkram bahu Aomine.

"AYO KITA KE LAUT SSU!"

Akashi berusaha menahan Aomine yang hampir melempar kursi ke wajah Kise.

~~oo00oo~~

Suasana pantai terasa begitu sejuk meski suhu sangat panas. Kagami langsung pergi berenang dengan penuh semangat. Midorima memilih berteduh di samping patung tanuki raksasanya. Kuroko entah kenapa mengikuti Kagami, namun ia berhenti di pinggir pantai untuk bermain pasir. Murasakibara sibuk dengan alat serutan es dan menuangkan sirup berbagai rasa ke es hasil serutannya. Kise sendiri masih sibuk mengoleskan sunblock membuat Aomine keki.

"Heh, banci alay! Bisa gercep kagak sih?!" Aomine sewot.

"Iiih, sabar Aominecchi! Nanti kalau kena matahari kulitku jadi gosong. Nanti jadi butek kayak Aominecchi gimana? Ih, gak level." Kata Kise sambil mengoleskan sunblock ke seluruh tubuhnya.

"GUA DOAIN ANYUT KE SEGITIGA BERMUDA LU, NYED!"

"DIH KOK NGEGAS SITU"

"Kalian berisik, nodayo." Midorima menghela napas. "Aomine, kau tidak bersama Akashi?" tanya Midorima.

"Sei? Dia bilang—"

"Semuanya, maaf menunggu lama."

Sontak, semua kepala berwarna-warni itu menoleh pada Akashi, termasuk Kagami yang baru berenang satu putaran. Semuanya menganga.

Akashi berdiri di sana mengenakan satu set bikini berwarna merah dengan garis-garis vertikal putih. Bagian celananya memiliki pita yang diikatkan di kedua sisi pinggangnya sementara bagian dadanya memiliki ornamen renda yang manis. Dan jujur saja, bikini itu menampakkan jelas tulang bahu Akashi yang nampak seksi.

Seluruh anggota Generasi Keajaiban ngeces seketika.

"Anu...apa dandananku aneh?"

Pertanyaan Akashi mengembalikan mereka ke kenyataan. Aomine langsung menarik Akashi ke pelukannya dan memelototi rekan timnya.

"Ga usah liat-liat lu, badzenk!" seru Aomine.

"Ya kita kan punya mata, bangzad!" Midorima langsung OOC. Akhirnya ia bangkit dan menjauh. Murasakibara sendiri juga mendekati Kuroko yang bermain pasir sambil membawa gunung es serutnya. Kini tersisa Aomine dan Akashi di bawah payung besar.

"Kau tidak berenang, Daiki?" tanya Akashi. Aomine menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.

"Tidak, ah. Malas. Kau sendiri? Padahal bajumu sudah seperti itu."

"Ah...soal baju ini. Momoi-san membantuku memilihnya." Akashi mengusap lengannya. "Tadinya aku hanya ingin mengejutkanmu."

Aomine mendengus. Ia merangkul Akashi ke dalam pelukannya. Aroma strawberry yang wangi menguar dari tubuh Akashi.

"Jangan pakai itu lagi."

"Eh?!" Akashi bangkit dan menatap Aomine. Kemudian raut kecewa terlihat dari matanya. "Ah... Daiki tak suka ya..."

"Bukan begitu." Aomine mendekatkan tubuhnya pada Akashi, lalu mencium bibirnya. "Jika di hadapanku saja tidak apa-apa. Aku tak suka alpha lain melihatmu begini."

Wajah Akashi memerah. Namun senyuman tipis terlukis di wajahnya. Ia merapatkan tubuhnya lagi ke dada bidang Aomine. Aroma manis segera memenuhi indera penciuman Aomine.

Aomine mendekatkan wajahnya ke perpotongan leher Akashi dan menghirupnya lebih dalam. Akashi mengerang geli. Mendengar itu, Aomine makin bersemangat. Ia mulai mencium dan menjilati leher putih Akashi. Akashi menoleh, lalu memagut bibir Aomine. Ciuman mereka semakin memanas, terutama karena tangan Aomine yang mulai menggerayangi tubuh ramping Akashi.

"Sei..." suara Aomine terdengar rendah di telinganya, membuat Akashi semakin merinding. "Mau dilanjutkan di dalam?"

Akashi mengerjap. Ia pun tersenyum. "Kau sudah tahu jawabanku, Daiki."

Aomine tersenyum. Segera ia menggendong Akashi dan meninggalkan rekannya yang kini asyik bermain bola pantai.

~~oo00oo~~

Begitu sampai di kamar mereka, mereka segera saling menghempaskan diri ke atas ranjang. Pagutan mereka semakin memanas, seiring tangan mereka saling melepaskan pakaian masing-masing. Baik Aomine maupun Akashi tak ada yang bergerak pelan. Mereka seolah tak sabar ingin merasakan satu sama lain. Setelah seluruh pakaian mereka tertanggal, Aomine bangkit dari posisinya. Ia menyodorkan penisnya pada Akashi.

"Jadilah anak baik dan hisap milikku."

Akashi menggumam. Ia pun menurut dan mulai mengemut kejantanan Aomine. Aomine mengerang penuh kenikmatan, merasakan kehangatan mulut Akashi di penisnya. Akashi sendiri menggerakkan tangannya ke lubangnya dan mempersiapkan dirinya sendiri.

"Hmnnh... ngghh..." Akashi mengeluarkan desahan seiring mulutnya mengulum penis Aomine dan jarinya memasuki lubangnya sendiri. Aomine menatap Akashi yang kini berada di bawahnya. Pemandangan dari atas terasa begitu indah, terutama melihat Akashi memejamkan mata dengan wajah memerah. Menikmati setiap inchi kejantanannya.

Aomine merasakan kejantanannya semakin mengeras. Akashi sendiri makin bersemangat menjilatinya.

"Nnhh... Daikhi..."

Aomine mengerang. Tangannya mengelus rambut merah Akashi.

"Jika kau berhasil membuatku keluar, akan kuberikan apa yang kau inginkan."

Akashi menatap Aomine, lantas semakin memperdalam kulumannya membuat Aomine semakin mengerang. Gerakan lidah Akashi kian cepat, membuat Aomine merasa ia berada di ujung klimaksnya.

Segera saja cairan mani keluar begitu saja ke dalam mulut Akashi. Akashi otomatis terbatuk dari reaksi yang tiba-tiba itu. Aomine duduk dan memposisikan dirinya di hadapan Akashi.

"Berbaliklah."

Akashi menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan merasakan Aomine mengangkat pinggulnya.

"Anak baik. Ini hadiahmu."

Aomine langsung memasukkan penisnya ke lubang Akashi, membuat Akashi mendesah senang. Untung ia sudah mempersiapkan dirinya lebih dulu.

"Mmmhh... Daikhiihh... lebih..." pinta Akashi. Aomine terkekeh geli. Padahal ia tak melihat wajah Akashi langsung, namun membayangkan wajahnya yang memerah dan memohon saja sudah cukup membuat Aomine kembali terangsang.

Gerakan Aomine pun semakin cepat. Akashi semakin menggelinjang. Kedua tangannya ia gunakan untuk meremas sprei, seiring dengan desahannya yang makin tak beraturan.

"Ah...ah ah haannhh... Daiki—AAAHHH IYAAHH DISITUU..."

Akashi semakin mengeratkan pegangannya pada kain sprei begitu merasa Aomine menekan titik kenikmatannya. Aomine menyeringai dan ia makin bersemangat menghujam bagian tersebut. Akashi pun makin mendesah penuh kenikmatan.

"Ah ahh... Daiki...aku..." napas Akashi semakin tak beraturan. Gerakan Aomine yang piawai membuat seluruh tubuhnya bergetar dengan rasa nikmat. Tak dirasa, rasa birahinya sudah mencapai puncak. Aomine mengecup bibir tipis milik matenya itu.

"Ayo keluar bersama, Sei..." bisik Aomine. Akashi mengangguk lemah.

Aomine makin mempercepat gerakannya. Akashi sendiri langsung melengkungkan punggungnya begitu dirasakan bagain bawah perutnya semakin panas.

"Hmhh... Daiki—NNHHAANNHH!"

"Nggghh...Sei!"

Mereka pun mengalami klimaks bersamaan. Napas mereka saling memburu di ruangan kamar mereka. Tak ada satupun dari mereka yang saling melepaskan diri. Mereka masih berada di dalam tubuh satu sama lain. Akashi terkekeh dan melonggarkan cengkramannya pada sprei.

BRAAKK!

"Aominecchii? Akashicchi? Kalian di dalam ssu? Ayo main bola!" Kise langsung saja memasuki kamar diikuti anggota Generasi Keajaiban yang lain. Namun mereka mematung begitu melihat Aomine masih menyatukan penisnya ke dalam lubang Akashi.

Mereka semua saling menatap.

Midorima memukul kepala Kise dan menaikkan kacamatanya.

"Maaf mengganggu. Silahkan lanjutkan."

Kemudian seluruh anggota Generasi Keajaiban berbalik pergi dan menutup pintu. Akashi dan Aomine saling menatap, lalu tertawa. Aomine pun melepaskan dirinya dan berbaring di sebelah Akashi.

"Kenapa mereka selalu datang di saat begini..." gumam Aomine.

"Entahlah. Tapi, Daiki..." Akashi langsung berbaring di atas tubuh Aomine. Telunjuknya ia tempelkan di bibir Aomine. Melihat ekspresi Akashi, Aomine menyeringai. Seolah sudah tahu apa yang diinginkan oleh sang omega merah itu.

"Bagaimana kalau satu kali lagi?"

~~oo00oo~~

"AOMINECCHI JAHAT! GOBLOK! BEGO! MESUM! OTAK CUMA SETENGAH! KAU GAK KASIHAN SAMA KITA APA SSU?!"

"LAH KOK JADI GUA?! YANG NGELOYOR KAN KALIAN!"

"LAH ELU JUGA TOLOL, EROMINE! KALO MAU BEGITUAN KAMAR DIKONCI KEK!"

"Itu benar, nodayo. Setidaknya kau harus punya etika juga."

"Mine-chin mesum, kuhancurkan kau."

"HALAH LU SEMUA NGOMONG GITU KAYAK GAK PERNAH LIAT AJA!"

"Gua gak mau denger itu dari makhluk yang masih nyimpen majalah Mai-chan di bawah kasur."

"TETSU, LU TAU DARI MANA—"

Akashi hanya meminum tehnya dengan tenang. Yah, semua anggota Generasi Keajaiban sudah seperti itu sejak pagi. Tak lama, Aomine duduk di sebelahnya sambil mendecih.

"Kau tak apa, Daiki?" tanya Akashi. Dilihatnya setelah lelah beradu argumen, semua sibuk dengan sarapan masing-masing.

"Mereka itu selalu saja mengganggu." Gerutu Aomine. Akashi tertawa dan mengelus rambut Aomine.

"Meski begitu, mereka temanmu kan?"

"Teman bangsat." Akashi tertawa semakin keras.

Aomine terdiam, kemudian ia kembali mencium Akashi. Akashi tersenyum di antara ciuman mereka sebelum membalas pagutan bibir Aomine.

"Oh iya, Aomine-kun. Nanti malam datang ke pantai, ya." Ujar Kuroko.

"Mnn...ngapain?" tanya Aomine malas setelah melepas ciumannya.

"Kita mau ngorbanin elu ke iblis."

"EMANG BENERAN TEMEN BANGSAT LO SEMUA!"

~~~TO BE CONTINUED~~~

Author kembali encok. Apakah ini karma ngatain Jakurai-nya hypmic suka encok jadi saya juga encok? *La*

Okhok halo readerss~~ hehehe ketemu lagi sama saya karena hari ini Cuma satu kelas. Besok baru deh. Sampe sore AHAHAHAHA MANA IKUT PERTEMUAN UKM LAGI AHAHAHAHAHA

Dapat salam dari empunya ide FF ini, yaitu val pururin gaeesss~ katanya sekarang udah ada yaa side storynya It's Like Beauty and the Beast. Ini bukan sequel, hanya cerita yang belum diceritakan. Semoga suka dengan ide-ide saya~~

Iyap betul sekali pemirsa, untuk kalian yang ngikutin FF ukeshi saya semenjak 2016 berterima kasihlah pada val pururin karena idenya muncul dari dia semua. Emang sumbernya ide dia tuh hahahah *digebuk buku sejarah segede gaban*

So, segitu aja gaes untuk chapter ini. Ditambah saya besok harus bangun pagi demi ngejar travel uhuk

So RnR?