Lala-chan ssu and val pururin proudly present
It's Like Beauty and the Beast: Encore
Pair: AoAka
Rated: M, lagi
Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada
Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK
Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi
DLDR
~~oo00oo~~
Side 3: Kiss Me
~~oo00oo~~
"Aku tidak mengerti..."
Akashi mendongak dan melihat Aomine menundukkan wajahnya ke meja. Di hadapan mereka terdapat segunung PR matematika musim panas menunggu untuk diselesaikan. Akashi menghela napas melihat lembaran yang masih kosong.
"Ini salahmu karena tak mengerjakan PR sejak awal, Daiki." Tegur Akashi membuat Aomine semakin loyo.
"Mine-chin masih ngerjain PR? Payah aahh..." ujar Murasakibara sambil mengunyah keripik kentangnya.
"Murasakibara-kun juga belum mengerjakan kan?" tanya Kuroko membuat Murasakibara memicing.
"Sei...aku menyeraahh..." ujar Aomine. Akashi memijit pelipisnya.
"Setidaknya selesaikan halaman terakhir ini, Daiki."
Aomine mengerang dan mengerjakan semua soal asal-asalan. Melihat itu, Akashi istighfar dalam hati.
Akashi bantu merapikan PR Aomine sementara Aomine tepar di atas meja dengan kepala berasap. Maklum namanya juga Ahomine, sekali otaknya dipake langsung blank.
"Aominecchi sudah selesai ssu?" tanya Kise sambil meminum soda dinginnya. Aomine hanya menggumam tak jelas.
"Ini malam terakhir kita di resort, kan? Enaknya ngapain ya?" tanya Kagami.
Yang lain bergumam, mencoba memutar otak.
"Akashi-kun, apakah di dekat sini ada yang mengadakan festival kembang api?"
Mendengar itu, Akashi menoleh pada Kuroko.
"Ah, di kota sana akan ada festival kembang api malam ini. Mungkin kita bisa ke sana?" tawar Akashi. Yang lain langsung mengangguk setuju.
"Baiklah! Nanti jam 6 kita ke festival kembang api!"
~~oo00oo~~
Suasana di festival sangat ramai. Banyak orang berlalu-lalang di sekitar stand, ada yang mengambil foto, ada yang mencari spot terbaik untuk menonton kembang api, dan lain sebagainya.
"Nah, sekarang kita mau ke mana?" tanya Midorima.
"Aku ingin coba main stand tembak ssu!"
"Ke mana Murasakibara?"
"Mungkin membeli permen apel?"
"Dasar. Oi, Aomine—"
Saat yang lain menoleh, mereka melihat Akashi dan Aomine berdiri berdekatan. Akashi memegang sekotak takoyaki.
"Panas..." gumam Akashi. Saus takoyaki menempel di pinggir bibirnya.
"Dasar. Hati-hati makannya, Sei." Tegur Aomine sambil mengusap bibir Akashi dengan ibu jarinya. Akashi mengerucutkan bibirnya karena diperlakukan seperti anak kecil.
"Mau main tangkap ikan?" tawar Akashi.
"Oh! Tentu saja!" Aomine segera membayar 200 yen kepada penjaga stand dan dengan lihai mendapatkan sepasang ikan mas, membuat anak-anak kecil di sekitarnya tercengang. Aomine pun mengangkat plastik berisi ikan mas itu.
"Nanti kuberikan satu padamu." Ujarnya. Akashi tertawa.
"Jangan sampai punyamu mati duluan, ya."
"Nggak bakal!"
"Mau lihat topeng yang di sana?"
Dan mereka pun berkeliling stand bersama. Para anggota Generasi Keajaiban mingkem, termasuk Murasakibara dan Kagami yang baru selesai hunting makanan.
Sakitnya tuh di sini liat kalian mesra-mesraan tau, sat!
"Sekarang kalian mau ke mana?"
Seluruh anggota Generasi Keajaiban menatap Akashi yang kini menghadap mereka. Semuanya saling berkomunikasi lewat mata.
'Kalo si Ahomine, itu aja kan?'
'Iya, itu cara paling efektif, ssu!'
'Mau bagaimana lagi, nodayo.'
'Kalau begitu, segera laksanakan!'
"Oy, lama lu pada!"
Yang lain berhenti bertelepati (?) dan segera mengahadap Aomine dan Akashi.
"Bagaimana kalau ke rumah hantu?" saran Kuroko.
Wajah Aomine langsung pucat pasi sedangkan mata Akashi membulat mendengar kata rumah hantu. Dalam hati, seluruh anggota Generasi Keajaiban ngakak.
"Nah, jadi silahkan kalian berdua maju duluan." Kagami menyeringai. "Wahai pasangan terhormat kita."
Aomine memelototi Kagami sementara yang dipelototi hanya nyengir setan.
Setelah menerima tiket, seluruh anggota Generasi Keajaiban memasuki rumah hantu. Aomine dan Akashi berada di depan. Begitu masuk, suasana pengap langsung menyapa mereka.
"T-tenang saja. Ini kan buatan. Tidak seram." Ujar Aomine sok berani. Akashi mengangguk namun kedua tangannya ia kaitkan di lengan kiri Aomine.
Baru beberapa langkah, mendadak sosok wanita yang didandani layaknya kuchisake onna muncul.
"Apakah aku cantik...?"
"KYAAAA!" Akashi langsung memeluk Aomine. Sedangkan Aomine?
Nyaris hilang kesadaran.
"Sudah, dia tak akan mengganggumu." Ujar Aomine sambil menepuk rambut Akashi. Akashi hanya mengangguk dan mengikuti Aomine meneruskan perjalanan.
Seluruh anggota Generasi Keajaiban melihat ke arah kaki Aomine dan dilihatnya langkah alpha itu gemetaran.
Hylyh sok jaim lu, bungkus sukro!
~~oo00oo~~
Setelah menikmati rumah hantu, seluruh anggota Generasi Keajaiban segera menempati spot melihat kembang api. Mereka menonton dari jembatan besar. Orang bilang pemandangan kembang api di sana sangat indah dan jelas. Tak heran cukup banyak orang yang memilih menonton dari sana meski harus berdiri.
"Uwaaa, sebentar lagi dimulai ssu! Aku sudah tak sabaaar!" Kise berjingkat senang.
"Dih, apaan sih lu. Alay tau gak." Kagami mendengus.
"Aku mau makan gulali..." lagi-lagi Murasakibara tidak nyambung.
"Ah, lihat. Sudah hampir dimulai."
Seluruh penonton segera memusatkan perhatian ke arah langit malam. Suasana hening untuk beberapa saat, sebelum akhirnya suara letusan kembang api terdengar. Suara terkagum-kagum menyemarakkan suasana. Pemandangan langit yang tadinya hitam polos menjadi berwarna-warni, dihiasi oleh kembang api berbagai ukuran dan bentuk. Bahkan air sungai turut memantulkan cahaya kembang api di langit.
"Benar-benar indah kalau dilihat dari sini." Ujar Akashi.
"Ya. Kau cepat juga memilih tempat ini." Komentar Aomine. Akashi tersenyum dan melihat Aomine serta rekan-rekannya.
"Aku hanya ingin membuat kenangan musim panas yang tak akan terlupakan." Ujar Akashi. "Aku senang kalian menikmatinya."
"Yah. Ini liburan musim panas terbaik."
Mereka saling tersenyum. Suasana semakin riuh. Namun mereka sudah tak memperhatikan kembang api. Mereka kini terfokus pada pantulan diri masing-masing di mata pasangannya.
Jarak mereka perlahan mendekat. Akashi dan Aomine sama-sama memejamkan matanya. Seiring kembang api yang besar mulai ditembakkan ke langit.
Bibir mereka bertaut bersamaan dengan meletusnya kembang api terbesar. Ciuman kali ini bukan ciuman panas yang Aomine selalu lakukan, namun cinta yang suci. Cinta yang murni mereka rasakan di hati. Biru dan merah bertemu pandang. Senyuman kembali terlukis di wajah mereka.
Di sebelah mereka, seluruh anggota Generasi Keajaiban menatap mereka penuh nafsu.
Iya, nafsu. Nafsu untuk anyutin mereka ke sungai di bawah.
Acara kembang api pun selesai. Seluruh warga sekitar mulai meninggalkan taman dan kuil, lalu bersiap menyambut kegiatan esok hari. Seluruh anggota Generasi Keajaiban juga berjalan menuju resort mereka dan bersiap pulang esok hari.
Di belakang mereka yang asyik bercengkrama, Aomine dan Akashi berjalan dalam diam. Mereka menatap langit sambil tersenyum tipis.
Perlahan namun pasti, tangan mereka saling bertaut
~~~TO BE CONTINUED~~~
AAAHH AKU KUDU MINUM ANLENE INI /plak/
Haloooww readers. Update lagi nih demi kalean semwa padahal mata tinggal 3 watt
Btw author dengerin ini sambil dengerin Epic Rap Battle of Precidency ohok
Bales surat cinta dulu laah
SesilliaS Whahahahh makanya jadi manusia jangan mechum ahomine *dibuang* Ini syudah lanjut~~
val pururin Emang gemesin mereka tuuu gimana makin gemes gaa?
Okeh segitu aja karena mata kembali beler. So, RnR?
