Lala-chan ssu and val pururin proudly present

It's Like Beauty and the Beast: Side Story

Pair: AoAka

Rated: T aja dulu

Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada

Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK

Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi

DLDR

~~oo00oo~~

Side 4: A Kiss of True Love

~~oo00oo~~

Entah apa yang seluruh anggota Generasi Keajaiban pikirkan ketika mereka menyetujui ide Kise untuk mendatangi sebuah kuil yang tak jauh dari Akademi Teikou. Kuil itu tak terlihat istimewa. Tempatnya kecil dan memiliki tangga yang menjulang tinggi untuk memisahkan sebuah kuil lain

Lantas kenapa pengunjungnya membludak sekali?!

"Tempat ini ramainya tak masuk di akal, nodayo." Midorima memijit pelipisnya.

"Kise-kun, sebenarnya ini kuil apa? Kenapa ramai sekali?" Tanya Kuroko

"Nggg...temanku di agensi model bilang kalau kuil ini istinewa. Meski aku tak tahu istimeeanya di mana." Kise memperhatikan sekeliling. Ada banyak pasangan berlalu-lalang dan brrdoa. Aomine mendengus. Di sampingnya, Akashi duduk di sebuah kursi panjang

"Haahh?! Jadi gak ada manfaatnya kau mengajak kita ke sini?!" Kagami sewot

"Ya santai sih siapa tau dapet pacar kan." Timpal Murasakinara padahsl dia yang paling cuek soal pacar.

"Jadi kita mau lanjut jalan?" Tanya Akashi. Yang lain pun saling memandang

"Yasudah deh, ayo kita jalan. Daripada bengong di sini." Ajak Kagami. Yang lain pun bangkit dan melanjutkan perjalanan

Tak diduga, suasana malah semakin ramai

"Aduh, jangan injak kakiku!"

"Maaf, numpang lewat."

GEDEBUUKK

"GYAAA KUROKOCCHIIII!"

PRAAKK

"KEROSUKEEE!"

"SIAPA KEROSUKE?!"

Akhirnya seluruh anggota Generasi Keajaiban berhasil keluar dari kerumunan tanpa kekurangan suatu apapun. Kecuali kewarasan karena mereka emang gak punya kewarasan

"Haaahh... Aominecchi tadi juga menginjak-"

Kise menoleh, namun tak melihat sosok Aomine

"Aominecchi mana ssu?" Tanya Kise. Yang lain juga turut mencari sosok itu

"Akashi-kun juga tak ada." Ujar Kuroko

Hening

~~oo00oo~~

"Daiki, kita kemana sekarang?"

"Sial aku juga tak tahu jalan."

Aomine dan Akashi menoleh ke kanan dan kiri. Mencari rekan setim Aomine. Ke kanan, ke kiri, ke kanan, ke kiri

Putar ke kiri eee~~ nona manis putarlah ke kiri, ke kiri dan ke kiri ke kiri

Uhuk maaf

"Jadi kita ke mana sekarang?" Tanya Akashi.

Aomine memperhatikan sekeliling. Semuanya entah kenapa berpasang-pasangan. Aomine menoleh sedikit dan melihat sebuah tangga yang cukup jauh, namun sepi sekali. Tak ada yang menaiki atau menuruni tangga itu

"Kau mau lihat kuil yang di atas? Sepertinya sepi." Tawar Aomine. Akashi menggumam

"Apa aku boleh berjalan sejauh itu?" Tanya Akashi.

"Tidak."

"Lalu ba-"

Kata-kata Akashi terhenti ketika Aomine mengangkatnya dengan gaya tuan putri dan mulai menaiki tangga. Wajah Akashi sontak memerah

"D-Daiki, hentikan. Aku merepotkanmu." Tegur Akashi

"Aku tak akan kerepotan bila demi Putri Manisku "

Wajah Akashi semakin memerah. Akhirnya ia menenggelamkan wajahnya di bahu Aomine

Sesampainya di puncak, mereka melihat kuil yang sedikit mirip dengan yang di bawah sana, hanya saja bentuknya lebih kecil dan hening

"Kenapa di sini sepi sekali?" Aomine celingukan

"Sepertinya pemilik kuil ini memelihara burung dara. Lihat, banyak sekali." Ujar Akashi sambil menghitung berapa banyak burung yang hinggap. Aomine mendudukkan Akashi ke bangku panjang dan sementara Aomine mencari petunjuk mengenai tempat itu

"Aizaka...apaan tuh?" Tanya Aomine

"Nama kuil ini, Daiki." Jawab Akashi. Aomine menggumam

"Tapi pemandangan di sini bagus juga. Terutana saat menjelang sore." Ujar Akashi

"Tunggu, sekarang jam berapa?!" Aomine terkejut karena mereka sudah pergi sejak pagi

"Pukul setengah 6."

"Sudah sesore itu?"

"Tidak apa kan?" Akashi menarik tangan Aomine dan mengajaknya duduk di sampingnya. "Pemandangannya indah lho."

Mereka pun diam menikmati semilir angin. Ada sebuah jam di samping mereka yang mulai berdentang. Matahari kian turun menuju peraduannya, membuat langit menjadi lebih berwarna

"Pemandangannya cantik." Ujar Akashi. "Kenapa tak ada yang kemari ya?"

"Tangganya cukup panjang, jadi mungkin mereka tak mau capek-capek kemari." Ujar Aomine. Akashi mengerucutkan bibirnya

"Jadi kau capek kemari?"

"Aku tak bilang begitu."

Aomine dalam hati tertawa melihat wajah Akashi. Bibirnya yang mengerucut nampak sangat manis. Ditanbah wajahnya yang terlihat memerah

"Sei..."

"Ya?"

~~oo00oo~~

"Aduuhh mereka kemana sih?"

Entah sudah berapa lama seluruh anggota Generasi Keajaiban mencari-cari Aomine dan kekasih merahnya namun tak kunjung menemukan

"Semakin sore tempat ini semakin ramai." Komentar Murasakibara sambil memakan pocky. "Ditambah banyak yang ciuman."

"Tentu saja bukan?" Sebuah suara asing membuat anggita Generasi Keajaiban menoleh. Rupanya seorang kakek tua mengenakan kimono gelap sederhana

"Kakek mengagetkan kita." Ujar Kuroko dengan datar

"ELU JUGA SERING NGAGETIN!" Kagami ngegas dan langsung menjitak Kuroko. Kakek itu hanya tersenyum

"Banyak pasangan yang datang kemari demi mempersatukan cinta mereka." Ujar kakek itu. Ia menunjuk sebuah papan dekat gerbang.

"Matahari yang pulang adalah tanda kembalinya cinta. Burung yang berterbangan memberi pesan perpisahan namun dipertemukan kembali. Cinta yang murni itu ada. Tak akan sirna selamanya. Jagalah cinta itu. Tak ada panah apapun yang menembus cinta sejati." Seluruh anggota Generasi Keajaiban menelengkan kepalanya bingung

"Dahulu kala, ada pasangan kekasih yang saling mencintai." Terang kakek itu. "Kerajaan mereka bermusuhan dan selalu berperang, karena itu hubungan mereka ditentang. Sang putri dijodohkan paksa dengan pria yang tak ia cintai dan ia pun kabur, menemui cinta sejatinya."

"Itu adalah pertemuan yang sangat indah." Kakek itu masih tersenyum. "Di bawah langit sore, burunb dara yang berterbangan di sekeliling mereka, mereka saling menyatukan cinta mereka."

"Namun sayang sekali..." kakek itu menerawang jauh ke langit. "Panah menembus dada putri itu. Sang pangeran pun mengamuk dan menghabisi pasukan sang putri dengan membabi buta."

Seluruh anggota Generasi Keajaiban bergidik. Mereka terlalu larut dalam cerita itu

"Tapi cinta sang pangeran tak pernah padam. Ia membangun kuil ini dan mendoakan Sang Putri hingga akhir hayatnya." Ujar sang kakek.

"Berarti orang kemari karena tak ingin berdoa, tapj ingin mendapat cinta yang sejati ssu?" Tanya Kise

"Begitulah. Nah, kejadian aslinya ada di kuil atas. Bila berkenan, ayo ke sana bersama."

Yang lain saling bertukar pandang. Mereka harus mencari Aomine, tapi siapa tahu mereka bertemu di jalan

"Baiklah, kami ikut!"

Karena jalan yang menanjak dan jauh, butuh waktu lama untuk sampai ke puncak. Kise pun dengan lebaynya bilang dia tak akan bertahan. Namun yang lain masih penasaran akan keberadaan kuil legendaris itu

Waktu sudah sangat sore. Midorima mengecek jam, pukul 6 kurang 5 menit.

"Apa masih jauh?" Tanyanya. Kakek itu menggumam

"Tinggal sedikit lagi."

Mereka pun sampai di puncak. Bersamaan dengan burung dara yang berterbangan dan jam berdentang keras

Kakek itu terbelalak. Akashi dan Aomine tengah bercumbu di hadapan pohon besar. Bulu-bulu burung dara berjatuhan membuat mereka terlihat seperti berada dalam lukisan. Jam berdentang sangat keras

"Kalian ke mana saja ssu?!" Protes Kise yang tak digubris Aomine

"Bukan urusanmu."

"Hidoii-"

"Kalian..." kakek itu mendekati Akashi dan Aomine "Siapa nama kalian?"

Akashi dan Aomine saling berpandangan bingung

"Ah, aku Akashi Seijuurou. Ini Aomine Daiki" ujar Akashi

"Aku tak pernah melihat pemandangan seindah itu. Pemandangan paling sempurna." Ujar si kakek. "Hanya kalian yang dapat melakukan semua itu secara tepat.

"Ah itu hanya kebetulan beasiswa

Si kakek tersenyum "Kalian tahu? Bila ada pasangan yang berciuman di bawah pohon inj pukul 6 sore tepat, saat burung dara banyak di sini, jika pasangan berviuman, cinta mereka suci. Tak ada satupun yang dapat mebghancurkannya."

Wajah Akashi memerah sedangakn Aomine menatap kosong. Ia tai mengerti selain kalimat cinta mereka suci

Aomine tersenyum tipis diam-diam. Cinta yang murni...cintanya pada Akashi sangat murni

Dan Aomine bahagia akan hal itu

~~~TO BE CONTINUED~~~

Ketika gak encok tapi ngantuk. Tcih

Halooo semuaaa eheheh maaf ya ga bisa ngomong banyak. Takut ngaco

Bales review dulu gaeess

SesilliaS: Duh manis sekaliiii kaaann tapi saya tidak menerima rikues untuk sekarang

val pururin GIMANA KABAR KE-UWUAN KITA GAEESS WKWK

Okeh segitu dulu karena dah ngantuk

RnR?