Lala-chan ssu and val pururin proudly present
It's Like Beauty and the Beast: Side Story
Pair: AoAka
Rated: T aja dulu
Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada
Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK
Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi
DLDR
~~oo00oo~~
Side 5: He Protecc but Mostly He Attacc
~~oo00oo~~
"Terima kasih kau mau mengajariku lagi, Sei."
Akashi hanya menghela napas sambil menyeruput tehnya. "Tidak apa. Daiki memang selalu begitu." Ujarnya. Aomine terkekeh canggung sambil menggaruk tengkuknya.
"Habisnya kau tahu pelajaran matematika itu merepotkan." Keluh Aomine
"Daiki. Kak Seijirou bilang kalau nilaimu tahun ini jelek dia akan menggunting lehermu."
"KENAPA?!"
Akashi menghabiskan tehnya. Ditaruhnya botol teh yang kosong itu dan mengembalikan buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Aomine meregangkan tubuhnya
"Naa, Sei. Apa kau lowong besok?" tanya Aomine. Akashi menoleh sejenak
"Maaf, aku harus menghadiri acara pertunangan kolega ayahku." Ujar Akashi. Aomine menatap Akashi
"Haahh...padahal aku ingin mengajakmu kencan besok." Keluh Aomine. Akashi menggumam sejenak
"Ah, aku ada ide." Akashi menepukkan kedua tangannya. Aomine mengangkat alisnya
"Kau bisa dampingi aku ke acara besok."
Aomine terdiam
"Hah? Apa tidak apa?" tanya Aomine
"Tentu saja. Kau mateku, kan? Tak akan ada yang menggubris kalau seorang alpha mendampingi matenya."
Aomine menggaruk rambutnya, agak tidak yakin.
"Ayolah, Daiki. Setelah itu kita bisa pergi kencan."
Aomine terdiam seribu bahasa melihat tatapan memohon Akashi. Ukh, dia memang lemah terhadap tatapan itu. Aomine menghela napas
"Baiklah, baiklah. Aku akan ikut."
Seketika mata Akashi berbinar. Ia mendaratkan kecupan singkat ke pipi Aomine membuat wajah Aomine memanas
"Aku mencintaimu, Daiki. Ayo pulang."
Aomine rasanya terbang ke surga
~~oo00oo~~
"DAI-CHAN, AYO BANGUN!"
Aomine terhempas dari mimpi indahnya oleh teriakan cempreng khas Momoi di pagi hari. Ia mengerang dan langsung menutup kepalanya dengan bantal.
"Cerewet ah, Satsuki...ini masih pagi..." keluhnya. Momoi menggembungkan pipi
"Kau mau menemani Sei-chan ke acara keluarganya, kan?! Ayo bangun! Jangan malas!" Momoi langsung membuka selimut Aomine
"Ack dingin! Satsuki, jangan rusuh ah!"
"Ayo bangun! Mandi! Siap-siap! Kau sudah siapkan bajumu?"
"Ngghh...cerewet ah, kau bukan ibuku." Aomine kembali menenggelamkan kepalanya di bantal, namun telinganya dijewer oleh Momoi
"Aduh-SAKIT TAU!"
"Yasudah kau bangun dan mandi saja! Kau mau pakai baju mana?"
"Pakai baju biasa saja..." Aomine menguap
"Jangan asal-asalan! Pakai jas!" Momoi menggeledah isi lemari Aomine
"Oy jangan seenak-"
"Nah yang ini sepertinya bagus. Kalau pakai yang ini pasti cocok."
"Satsuki-"
Momoi menoleh
"Ngapain masih duduk di kasur?! Sana mandi! Acaranya dua jam lagi!" Momoi mendorong Aomime masuk kamar mandi
"Justru karena masih dua jam lagi aku mau tidur!" Aomine sewot
"Lebih baik duluan daripada terlambat! Sudah ayo cepat!"
Aomine menggerutu lalu segera mandi
~~oo00oo~~
Akashi terduduk di depan teras rumahnya yang megah. Masih ada 15 menit sebelum waktu yang ia tentukan untuk Aomine mendatangi rumahnya. Akashi mengenakan kimono berwarna merah cerah dengan aksen bunga krisan yang sederhana namun elegan. Obinya yang berwarna emas memperindah penampilannya. Rambutnya mengenakan hiasan rambut dengan corak sakura ditambah wajah yang dipoles make up tipis. Sebuah potret omega yang sempurna
"Masih menunggu Sang Pangeran?"
Dari belakang, Seijirou muncul dengan senyuman tenang yang biasa ia tunjukkan pada keluarganya. Seijirou sendiri mengenakan kimono berwarna abu-abu ditambah ikatan tali berwarna putih. Penampilannya dilengkapi dengan haori berwarna hitam. Penampilan yang sederhana, namun Seijirou mampu membuatnya terlihat layaknya pakaian mewah seorang bangsawan
"Kakak, berhenti menggodaku." Akashi menggembungkan pipi dan kembali asyik pada dunianya, menunggu Aomine datang.
"Kalau kau mau menunggunya bisa di dalam. Kau tak perlu duduk di teras dengan tatapan nanar begitu. Seperti gadis perawan saja." Seijirou terkekeh dan dihadiahi pukulan di kakinya, membuat Seijirou mengaduh. Kekuatan adiknya itu memang bukan main.
"Kakak diam dan kembali ke ayah sana. Aku akan menunggu Daiki di sini." Akashi mengukuhkan pendiriannya. Seijirou meringis
"Apa sih yang kau sukai darinya..." Seijirou menggumam dan dihadiahi cubitan di kaki. Rupanya Akashi masih mendengarnya
"Sei."
Belum sempat Seijirou pergi, suara yang tak asing terdengar. Dari arah jalan setapak, datanglah Aomine mengenakan jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja biru gelap. Dasi warna putih membuat nada pakaiannya serasi. Rambut pendeknya kembali digel. Penampilan Aomine terlalu rapi. Bahkan saat festival dan menjadi butler, penampilan Aomine tak senecis ini.
"Apa ada yang salah?" Aomine mengangkat alis melihat kedua kakak beradik kembar itu menganga. Akashi mengerjap mengembalikan kesadarannya.
"Tidak. Kau terlihat tampan hari ini, Daiki." Akashi tersenyum lembut membuat hati Aomine berdesir. Namun ia menyeringaikan bibirnya
"Hari ini saja? Aomine bertanya dengan nada menggoda. Wajah Akashi kini berbalik memerah
"B-biasanya juga tampan kok..." Akashi memalingkan wajahnya. "Tapi sekarang lebih tampan lagi."
"EHEM!" deheman Seijirou mengembalikan kedua sejoli itu ke kenyataan. Akashi bangkit dan sediki merapikan rambutnya sementara Aomine mendecih. Ganggu suasana aja
"Karena kau sudah datang, sebaiknya kita segera berangkat. Ayah dan Ibu sudah menunggumu di dalam."
Aomine pun mengikuti Akashi dan Seijirou menuju ruang keluarga Akashi. Di sana, Shiori dan Masaomi sudah siap berangkat. Shiori nampak sangat cantik mengenakan kimono berwarna merah dengan hiasan bunga sakura berwarna emas. Obinya berwarna putih dengan tali emas yang mengikatnya. Rambut merah panjangnya disanggul dan dihias dengan tusukan rambut berbentuk bunga krisan. Polesan make upnya yang natural menambah cantik wanita itu. Masaomi sendiri mengenakan hakama berwarna hiyam dengan atasan abu-abu. Sama seperti Seijirou, ia juga mengenakan haori hitam. Rambutnya digel ke belakang menampakkan wajahnya yang tegas.
Jujur ini keluarga paling indah yang pernah Aomine lihat.
"Baiklah, kita semua sudah di sini. Mari kita berangkat." Ujar Masaomi. "Dan tentunya aku berharap kalian bersikap sopan dan tak mengecewakanku."
Mata merah itu melotot pada Aomine. Aomine meringis dalam hati
'Ngomong ke anak sulung lu sana!' kutuk Aomine dalam hati
Mereka pun berjalan menuju kediaman kolega ayah Akashi. Mereka mengendarai salah satu mobil pribadi milik keluarga Akashi. Sopir pun dengan sigap mengantarkan mereka sampai ke tujuan. Perjalanan diisi dengan keheningan
...keheningan yang cukup menegangkan. Karena semuanya nampak memelototi satu sama lain, kecuali Shiori.
"Kami senang hubungan Seijuurou dengan Daiki-kun baik-baik saja." Ujar Shiori. Aomine dan Akashi sama-sama merespon dengan gugup. Dalam hati Akashi bersyukur ibunya berinisiatif mengajak bicara.
"Jadi, kalian sudah melakukan apa saja selama Seijuurou heat?"
"ASTAGA, IBU!"
~~oo00oo~~
Mereka pun sampai di kediaman mewah lainnya. Suasana sangat ramai dan semarak. Setelah memberi selamat kepada pemilik rumah, mereka duduk di salah satu meja. Beberapa rekan kerja Masaomi menghampiri dan mengajak mengobrol. Membicarakan hal yang bagi Aomine membosankan
"Selamat siang, Akashi-sama."
Muncul seorang pria paruh baya. Beberapa helai rambutnya agak memutih. Masaomi langsung saja menjabag tangan pria itu.
"Senang bertemu dengan anda di sini, Mizaki-san."
Pria yang dipanggil Mizaki itu tersenyum. Matanga menatap ke belakang Masaomi, di mana Seijirou, Akashi, dan Aomine berdiri. Aomine mengangkat alis.
"Sei, orang itu siapa?" tanya Aomine. Akashi menoleh
"Tumben kau bertanya. Dia Mizaki Kochou. Perusahaan kami sudah lama bermitra dengannya." Jelas Akashi. Aomine menggumam
"Aku merasakan firasat buruk..."
"Eh?"
"Ahh, ini putra-putramu ya?" Mizaki melangkah mendekati mereka. Mata Mizaki kemudian mendarat pada Aomine
"Aku belum pernah melihatnya bersama kalian. Siapa orang ini?"
"Ah, dia mate Seijuurou." Ujar Masaomi. "Daiki. Perkenalkan dirimu."
Aomine membungkuk sejenak. "Saya Aomine Daiki."
"Hoo..." ia menatap Aomine atas sampai ke bawah, lalu berbalik menatap Akashi datar. Akashi yang ditatap merasa serba salah.
"Apa ada sesuatu?" tanya Masaomi. Mizaki menggeleng
"Seijirou adalah anak yang membanggakan ya. Dia bisa diandalkan, cerdas, dia bahkan menjalankan perusahaan cabang. Ditambah ia juga seorang alpha."
Akashi menarik napasnya. Ah, pembicaraan ini lagi
"Tapi Seijuurou...kembarannya...sangat disayangkan ya. Padahal mereka kembar, tapi kenaoa Seijuurou malah seorang omega? Omega hanya harus tunduk pada alpha. Mereka semua hanya sampah-"
Suara daging bertabrakan pun membuat seluruh tanu undangan kaget bukan main. Aomine langsung saja meninju wajah Mizaki sementara Seijirou mena capkan guntingnya ke meja
"Bocah sial!" gumam Mizaki
"Apa? Ga berani membalas?" adik kelasnya pun semakin menantang. Pukulan Mizaki pun telak mencapai pipi Aomine, namun Aomine segera membalasnya lagi. Setiap pukulan menghasilkan memar baruh di wajahnya
"Cukup sampai di situ Mizaki-san." Ujar Masaomi. "Aku tidak bisa menerima kau menghina putraku."
Masaomi mengangkat kertas kontrak Akashi dan Mizaki tinggi-tinggi
"Mulai sekarang, Perusahaan Akashi dan Mixaki berhenti berhubungan."
Kertas kontak mereka dirobek
~~oo00oo~~
Akashi dengan telaten membersihkan wajab Aomine. Terdapat luka memar di pipi dan matanya agak sedikit mengekuarjan darah.
"Aku baik-baik saja kok."
"Kau tidak baik-baik saja."
Akashi menghela napas. Lagi-lagi seperti ini. Aomine melindunginya hingga terluka
"Kenapa, Sei?" tanya Aomine
"Aku...merepotkanmu ya?"
"Tidak, tidak sama sekali. Kenapa?'
Minami menggeleng dan terkekeh "agak enak diajak bicara deoprrssed))
"Aku akan melindungimu selamanya Sei..." bisik Aomine sambil mencium bibir Akashi. Akashi menghela napas dan menikmati ciuman nereka.
Karena tak peduli apapun yang terjadi, mereka akan tetap bersama
"Jangan ciuman di kamar orang."
Akashi buru-buru melepaskan ciumannya sementara Aomine mendecih. Seijirou balas memelototi mereka berdua
Pengganggu suasana
~~~TO BE CONTINUED~~~
NGANTUUKK /plak/
Uhuk jadi bales review dulu yaa
Aiihh makasih uwu /FFnya La bukan elu/
Jadi maafkan typo yang bertebaran karrna authornya dah ngantuk huhuh
So RnR?
