Lala-chan ssu and val pururin proudly present

It's Like Beauty and the Beast: Side Story

Pair: AoAka

Rated: T aja dulu

Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada

Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK

Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi

DLDR

~~oo00oo~~

Side 6: Happy Birthday Dearest

~~oo00oo~~

Aomine terbangun dari tidurnya. Ia mengucek mata dan segera bangkit. Ia mencuci muka dan menggosok giginya. Rambutnya ia rapikan asal-asalan. Bajunya pun ia pakai berantakan.

Pantesan butek, dandannya aja begitu

Aomine mengecek ponselnya. Ia mengerjap melihat tanggal hari itu. Seringaian tipis terukir di bibirnya melihat kalender menunjukkan tanggal 31 Agustus. Hari ulang tahunnya.

Hari ini akan jadi hari istimewa baginya

~~oo00oo~~

Aomine bertandang ke rumah matenya pagi itu untuk berangkat ke sekolah seperti biasa. Aomine menekan bel dan sedikit bersiul. Moodnya sedang cerah hari ini. Ia sudah membayangkan akan bertemu matenya di pagi hari.

...namun yang membukakan pintu malah salah seorang maid keluarga Akashi.

"Ah, anda mate Seijuurou-sama." Ujar maid itu. Aomine menggaruk tengkuknya.

"Iya. Ng... Sei ada?" tanya Aomine

"Seijuurou-sama sudah berangkat tadi pagi sekali bersama Tuan Besar. Saya kira anda sudah diberitahu." Ujar maid itu. Aomine mengerjap.

"Ah? Oh, baiklah. Terima kasih."

Aomine mengernyit heran. Tak biasanya Akashi pergi bersama ayahnya dan tidak memberitahunya lebih dulu. Apakah terjadi sesuatu? Tapi Akashi pasti memberitahunya.

~~oo00oo~~

Aomine melangkah menuju sekolah. Orang-orang nampak asyik berbincang sana-sini. Aomine menguap dan mengganti sepatunya

Tak lama ia berjalan menuju kelas, ia melihat seluruh anggota Generasi Keajaiban tengah berkunpul bersama. Aomine pun langsung saja mendekati mereka.

"Yo, semua."

Semuanya langsung menoleh ke arah Aomine.

"Baiklah, sampai bertemu nanti ssu!" ujar Kise sambil berlalu menuju kelas.

"Aku lapaar..." gumam Murasakibara lalu melangkah menuju kantin.

"Hmh. Kelas sebentar lagi dimulai nodayo." Midorima membetulkan kacamatanya dan segera memasuki kelasnya.

"Ayo Kagami-kun. Kau harus siap dengan ujian sejarah nanti dengan otak bodohmu itu."

"APA KATAMU?!"

Aomine mengerjap. Kemudian semua anggota Generasi Keajaiban berlalu begitu saja. Meninggalkan Aomine di lorong sendirian.

"Mereka apa-apaan sih?!"

~~oo00oo~~

Sesampainya di kelas, Aomine mendapati Akashi hendak memasuki kelas. Aomine menyeringai dan langsung mendekatinya.

"Pagi, Sei."

Akashi hanya menoleh ke arah Aomine. Ia mengangguk pada Aomine.

"Selamat pagi."

Dan langsung memasuki kelas.

Aomine menganga. Sungguh reaksi yang dingin. Lebih dingin dari doi. Eh tapi doinya Aomine kan Akashi. Yah bodo amat lah /paansi/

Aomine keheranan. Sebenarnya ada apa ini. Semua otomatis menjauhinya. Akashi bahkan tak menyapanya. Ia bahkan memindahkan bangkunya ke sebelah Kise. Kise sendiri dengan senang hati menerima Akashi sebagai tetangga barunya, bahkan dengan semangat mengajaknya mengobrol seru. Aomine yang duduk tepat di depan mereka menekan pulpennya kesal.

Apa ada yang lebih menyebalkan lagi daripada ini?!

~~oo00oo~~

Aomine melangkah menuju gym dengan gusar. Ia terpaksa tinggal di kelas karena tugas piket. Ya sebenernya dia asal-asalan sih piketnya, tapi tetap saja ia harus mengerjakan tugasnya. Setidaknya ia masih ada waktu 20 menit untuk latihan sendirian sebelum latihan basket dimulai. Ia sampai di ruang klub dan mengganti bajunya. Langkah kakinya ia arahkan menuju gym yang kosong itu.

"AOMINE, KAU TERLAMBAT!"

Aomine mengerjap.

Kini di hadapannya adalah seluruh anggota tim basket akademi Teikou tengah berlatih. Bahkan beberapa sudah mengeluarkan keringat. Nijimura menyilangkan tangannya di depan dada.

"Bisa-bisanya kau terlambat berlatih! Mau jadi apa tim kita jika acenya saja tidak becus membagi waktu hah?!"

Aomine menganga. Padahal biasanya ia masih punya waktu 20 menit sebelum latihan dimulai, tapi kenapa sekarang latihan sudah dimulai?! Bahkan mungkin lebih lama dari yang Aomine duga. Apa mereka langsung mulai setelah sekolah berakhir?!

"Tung-senpai, kenapa-"

Nijimura memelototi Aomine membuat Aomine melangkah mundur. Aura membunuh yang dikeluarkan Nijimura begitu kuat.

"Lari keliling lapangan 20 kali."

"Hah?! Ta-"

"SEKARANG!"

Aomine mengerang dan segera melaksanakan hukumannya. Kenapa pula hari ini ia sial sekali? Apa karena ia menginjak bunga liar di pinggir jalan tadi pagi? Apa ini karma? Yang jelas Aomine jengkel seharian ini. Di hari ulang tahunnya sendiri.

Semoga tidak jadi lebih buruk

"Oh, dan tambahannya kau harus bersihkan gym begitu selesai latihan."

Mampus kualat lu Ahomine

~~oo00oo~~

Akashi memainkan ponselnya di ruang loker gym SMA Teikou. Ia menggumamkan sedikit lagu yang terputar dari headsetnya. Tak lama, pintu ruang loker terbuka menampilkan sosok familiar

"Bagaimana rencananya, Kagami-kun?"

Kagami yang baru saja selesai latihan menyeringai dan mengacungkan jempolnya.

"Sempurna! Kami sudah memastikan si Ahomine itu akan telat pulang untuk membersihkan gym. Yang lain juga sudah siap!" ujar Kagami

"Bagus!" Akashi tersenyum menelengkan kepala

"Apa benar tak apa kau begini pada Aomine?" tanya Kagami. Akashi terkekeh.

"Tak apa. Biar hari ini tak ia lupakan selamanya. Aku memikirkannya sejak berbulan-bulan lalu lho." Ujar Akashi. Kagami sontak terbahak.

"Kau bisa iseng juga ya. Tak kusangka." Ujar Kagami. Akashi memasang senyuman misterius.

"Sudah, ayo kita siapkan kejutannya."

"Oh! Tentu!"

Kagami membongkar lemarinya untuk mengambil barang-barang yang diperlukan. Namun ia malah tak sengaja mengusap bagian yang berdebu hingga mengenai wajahnya.

"Ach-sial."

Akashi menoleh melihat Kagami berkeliling dengan panik mencari handuknya. Akashi langsung mendekati Kagami.

"Kagami-kun, tenanglah. Sini biar kulihat."

"Aahh...debunya masuk mata."

"Sini sebentar."

Akashi mendekatkan wajahnya dan meniup mata Kagami, membuatnya otomatis meringis. Namun pandangan matanya menjelas. Dilihatnya wajah manis Akashi begitu dekat dengan wajahnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Akashi.

"Ah...ya. Terima kasih." Jawab Kagami.

Dalam hati Kagami: 'KENAPA PACAR TEMEN HARUS CANTIK YA ALLAH INGIN JADI PHO RASANYA DIRIKU INI'

Pintu ruang klub membuka. Aomine yang hendak mengambil alat kebersihan yang ditinggalkan di ruang klib terdiam melihat posisi Akashi dan Kagami. Akashi mendekatkan wajahnya ke Kagami dan Akashi membelakangi pintu. Dilihat dari depan, terlihat bahwa Akashi mencium Kagami.

"OY!"

Kagami sontak menjauhkan diri dari Akashi sementara Akashi menoleh, terkejut dengan suara Aomine.

"D-Daiki? Kenapa-" Akashi terbata. Aomine mengepalkan tangannya.

"Kagami...brengsek kau!"

Aomine langsung saja melangkah maju dan mendekati Kagami. Tinjunya lolos mengenai wajah Kagami, membuat suara yang tidak mengenakkan.

"HAH?! Beraninya kau memukulku, bajingan!" Kagami balas memukul wajah Aomine, membuat bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.

"Teman macam apa kau merebut mate temanmu sendiri hah?!" Aomine balas memukul perut Kagami membuatnya berteriak dan membungkukkan badan.

"Daiki, hentikan!" Akashi menahan tangan Aomine. "Kau keterlaluan, sudahlah! Kau bisa terkena masalah lagi!"

"Hah?! Kau membelanya?! Kenapa kau lebih membela dia daripada matemu sendiri Seijuurou?!" hardik Aomine membuat Akashi berhenti. Tubuhnya gemetar, merasakan aura alpha dari tubuh Aomine. Titik air mata mulai terbentuk di matanya.

"M-maaf... Daiki..."

"Ada ribut-ribut di ruang loker." Suara lain datang dan mendekati gym. Rupanya Kise, Kuroko, Midorima dan Murasakibara. Mereka kaget melihat ruang loker yang berantakan, Kagami yang terduduk, serta Akashi yang menangis.

"Apa yang terjadi ssu?!" Kise menjerit shock. "Akashicchi kenapa menangis? Kau baik-baik saja? Aominecchi, apa yang kau lakukan?!"

"Hah?" Suara Aomine terdengar sangat rendah. "Kalau kau tidak tahu apa-apa jangan ikut campur, brengsek."

"Aomine, tenanglah." Midorima maju sementara Murasakibara dan Kise mengantar Akashi keluar. "Kau tidak mau diskors lagi bukan?"

"Persetan!" Aomine menghardik. "Kau menyuruhku tenang saat aku melihat mateku berciuman dengan temanku dengan mata kepalaku sendiri, begitu maksudmu?! Coba kau bayangkan aku mencium si Takao itu, Midorima!"

"Apa hubungannya dengan Takao, nodayo?!" dapat dilihat wajah Midorima agak memerah. "Dan lagi bisa saja kau salah lihat. Tidak mungkin Akashi bersikap seperti itu, nodayo."

"Hah! Tahu apa kau?"

"Tentu aku tahu. Karena aku mengikuti semua rencana ini." Midorima membetulkan kacamatanya.

"Rencana?"

Letusan konfetti pun datang dari arah pintu. Aomine mengerjap kaget.

"HAPPY BIRTHDAY!"

Dari arah pintu, datang seluruh anggota Generasi Keajaiban, first string Teikou, Nijimura, dan Momoi membawa konfetti. Kise dan Kagami yang sudah bangkit menyiram air botolan ke arah Aomine.

"Oy, hentikan-"

Aomine terhenti begitu melihat Akashi berdiri di tengah, membawa kue bertuliskan 'Happy Birthday Daiki' berwarna biru. Akashi tersenyum lembut, membuat hati Aomine serasa berhenti.

"Selamat ulang tahun, Daiki. Ayo tiup lilinnya."

Yang lain pun bersorak dan menyuruh Aomine meniup lilinnya. Aomine terdiam sejenak sebelum meniup lilinnya. Suara riuh tepuk tangan pun terdengar. Aomine memotong sedikit kie itu.

"Ehem! Aominecchi, kue pertama kasih ke siapa nih?" goda Kise.

"Bukannya sudah jelas?" tanya Kuroko. Ia melirik ke arah Akashi dan tersenyum pada Aomine. Aomine menggeram dengan wajah memerah. Ini bukan kali pertama ia memberi suapan kue pertama pada Akashi, namun Aomine tak pernah melakukannya di hadapan semua teman-temannya.

"Sei..." panggil Aomine.

"Ya?"

Aomine menyendokkan kuenya dan menyodorkannya pada Akashi. "Ini...untukmu."

Akashi tersenyum. Ia membuka mulut dan menyantap kue yang diserahkan oleh Aomine. Riuh tepuk tangan pun kembali terdengar.

"Ayo kita mulai pestanyaa!"

"Setelah selesai dirapikan, ya!" Ah, Nijimura kembali bersikap layaknya bapak kost.

Diam-diam, senyuman bahagia terpancar di wajah Aomine. Setelah itu Kagami balas menyikut perutnya.

"Balasan untuk yang tadi."

"Sialan kau Bakagami."

Pesta pun berlanjut hingga hari hampir larut

~~oo00oo~~

Aomine melangkahkan kakinya menuju kamar sambil membawa dua gelas air. Dalam rangka ulang tahunnya, Akashi meminta untuk menginap di rumah Aomine. Toh besok juga hari libur. Aomine membuka pintu kamar dan menyadari semilir angin dingin memenuhi kamarnya.

Dilihatnya Akashi tengah berdiri di balkon. Ia nampak asyik menyaksikan langit malam tak berbintang hingga tak menyadari kehadiran Aomine. Aomine menaruh gelas di meja dan meraih jaket hitam yang biasa ia gunakan. Ia mendekati Akashi perlahan dan menyampirkan jaketnya di bahu Akashi, membuatnya refleks menoleh pada Aomine.

"Daiki. Aku tak dengar kau masuk." Ujar Akashi. Aomine mengangkat bahu.

"Kau terlalu asik melamun. Kenapa juga kau di sini? Di sini dingin. Nanti kau sakit." Tutur Aomine. Akashi tersenyum lembut

"Kau ada di sini, jadi rasanya sudah tak terlalu dingin."

Aomine menyeringai dan mendekap tubuh mungil Akashi. Ditaruhnya dagunya di bahu milik mate tercintanya.

"Maaf aku membentakmu tadi." Gumam Aomine. Akashi mengelus rambut Aomine.

"Tak apa. Aku senang kau menikmati kejutannya."

Aomine menatap Akashi lalu mencium bibirnya lembut. Lama bibir mereka saling bertaut sebelum akhirnya ciumannya semakin menuntut. Lidahnya menggerayangi seluruh mulut Akashi, membuatnya mendesah tertahan. Tangannya menyusup masuk ke kaus putih yang dikenakan Akashi. Jaket yang tadi disampirkan di bahu Akashi terjatuh ke lantai, namun mereka memghiraukannya. Tangan Aomine semakin nakal mengusap puting Akashi membuat gumaman dan desahan Akashi makin keras.

"Nah Sei." Aomine menyeringai. "Karena ini ulang tahunku, bagaimana kalau kita lanjut di dalam?"

Iris merah Akashi membulat sempurna. Namun kemudian, senyuman seduktif terpancar di wajahnya. Ia usap bibir Aomine menggunakan ibu jarinya dan berbisik di telinga sang alpha.

"As you wish, my dearest alpha."

~~TO BE CONTINUED~~

Akh tanganku pegel /plak/

HAY READERS kembali sama saya Lala yang lagi sakit huehue jadinya gak ikut osjur. Terkutuklah /heh bilang aja seneng/

Mari bales review sebelum saya bacot

SesilliaS AOMINE NGEGAS ADALAH JALAN NINJAKU /La/ bukan gak suka mereka cuma overprotective sama Akachi. Makasih sudah review~~

val pururin Maafkan typo :"( ini pasti karena Haji Lulung-eh karena ngantuk. Bagaimana Aomine ngegasnya genks?

LenkaAllenka aku juga suka ohoho /geble/ makasih reviewnya~~

Jadi guys authornya lagi kena flu parah dan udah kurang tidur seminggu ehehehe yah namanya juga maba. Ntar udah jadi mahasiswa lama tambah parah /HEH/

Akhir kata, maafkan typo yang bertebaran dan silahkan RnR~