Lala-chan ssu and val pururin proudly present
It's Like Beauty and the Beast: Side Story
Pair: AoAka
Rated: T aja dulu
Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada
Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK
Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi
DLDR
~~oo00oo~~
Side 7: Riot
~~oo00oo~~
"Kau mau kemana setelah ini?"
Aomine dan Akashi kini tengah berjalan-jalan di sebuah spot kencan dekat Akademi Teikou. Berhubung hari itu hari minggu, ada banyak orang berlalu lalang di sana. Entah untuk kencan, atau sekadar berkumpul bersama teman-teman.
"Hmm...aku agak haus." Ujar Akashi. Aomine menatap sekeliling.
"Oh, di sana ada stand minuman. Ayo kesana." Ajak Aomine. Ia menarik lembut tangan Akashi dan menggenggamnya erat. Wajah Akashi memerah. Ia sudah sering disentuh oleh Aomine, namun bergandengan tangan di depan publik seperti ini membuat Akashi berdebar. Diliriknha sedikit wajah Aomine yang rupanya juga sedikit memerah. Akashi mengulas senyun. Aah, matenya ini kadang bisa bersikap manis juga.
"Tunggu di sini." Aomine membawa Akashi menuju sebuah kursi panjang dan segera mengantri di stand minuman. Akashi duduk dan memperhatikan matenya. Tanpa sadar Akashi tersenyum sendiri. Ia jadi melamun dan memikirkan kejadian lalu saat mereka pertama bertemu, saat mereka menjadi mate, semuanya.
Di semua kenangan itu, Aomine selalu bersikap manis padanya. Aomine tak pernah mengekang Akashi. Ia tak pernah memandang rendah Akashi. Dan ia benar-benar menghargai sikap itu.
~~oo00oo~~
Seorang pria berambut pirang berdecak kesal. Ia tak mengerti kenapa teman-temannya memilih negara seperti Jepang untuk menghabiskan liburan, terutama bila akhirnya kerjaan mereka hanya pergi clubbing tiap malam. Itu sih bisa dilakukan juga di Amerika!
Pria bernama Nash itu mengacak rambutnya. Beberapa pasang mata menatapnya tertarik. Yah jangan salahkan ia bila ia terlahir tampan.
"Tampan tapi masih jomblo gak usah bacot."
Nash menggeram kesal mengingat perkataan kawannya Silver, semalam. Ya terus kenapa?! Bagi Nash para omega dan wanita itu gak ada yang berkesan. Meski secantik apapun semuanya langsung bertekuk lutut di hadapannya. Gak seru.
Nash mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia sampai di sebuah kerumunan. Banyak pasangan yang bercengkrama di tempat itu membuat Nash keki. Udah tau jomblo.
Namun di tengah keramaian itu, Nash menemukan seorang omega berambut merah. Dan bagi Nash, omega itu nampak tak biasa.
Tubuhnya mungil dengan paras cantik seperti omega kebanyakan. Namun sorot matanya membuat Nash merasa omega ini tak akan takluk dengan mudahnya.
Namun Nash tak mau menyesal, jadi ia mencoba langkah pertama untuk mendekatinya. Ini bukan kali pertamanya ia menggoda orang Jepang, jadi ia tahu apa yang harus dibicarakan
"Hei."
Omega itu menoleh. Tatapan matanya menatap iris hijau Nash langsung. Nash menyeringai dan langsung saja duduk di sebelahnya.
"Apa aku mengizinkanmu duduk di sebelahku?" tanya Akashi. Nash mengangkat alis, lalu tertawa.
"Aku hanya sedang mencari tempat duduk dan kebetulan melihatmu di sini, Hana-chan." ujar Nash. Akashi semakin mengernyitkan alisnya.
"Tolong jangan panggil aku begitu."
"Kenapa?" Nash menarik dagu Akashi, menatapnya intens. "Kalau kau bersamaku, panggilan itu yang akan kau dengar setiap hari."
Bahu Nash ditarik ke belakang. Nash melirik dan melihat pria lain berambut biru menatapnya garang.
"Kau tidak lihat dia tak suka bicara denganmu? Minggir."
Nash mendecih. "Dasar pengganggu."
"Kau yang pengganggu."
"Apa katamu?"
Nash sudah menyiapkan tinjunya, namun Akashi menarik pria berambut biru itu.
"Sudahlah, Daiki. Aku baik-baik saja." Ujar Akashi. Nash mengangkat sebelah alisnya sebelum raut wajahnya berubah menyadari sesuatu.
"Heehh...dia sudah jadi milikmu ya." Nash menyeringai. "Kasihan sekali dia terperangkap bersamamu."
"Jaga bicaramu!"
"Daiki, hentikan!" Akashi menegur Aomine, lalu berbalik pada Nash. "Dan kau, aku tak tahu kau siapa tapi tolong jangan dekati kami."
"Habisnha sayang sekali omega secantik dirimu malah bersama dengannya." Nash memamerkan seringaian meremehkannya.
"OY! Apa maksudmu itu, hah?!" Aomine langsung ngegas.
"Kalau begitu ayo taruhan." Nash mendekati Akashi dan merangkul pundaknya. "Kau memakai jaket jersey basket, jadi sepertinya kau pemain basket." Ujar Nash. Memang hari itu Aomine memakai jaket Teikounya karena udara yang mulai mendingin.
"Lalu?" Aomine mengangkat alis.
"Timku dan timmu akan bertanding. Tim yang menang," Nash menggantungkan kalimatnya lalu melirik Akashi. "Akan mendapatkan Hana-chan sebagai hadiahnya."
"Apa?!" Akashi langsung menyentakkan tangan Nash. "Jaga bicaramu! Aku bukan barang!"
"Kalau menolak, kau otomatis jadi milikku." Akashi menutup mulutnya. Nash menyeringai dan menatap Aomine. "Bagaimana?"
"Baiklah." Ujar Aomine. "Aku tak akan kalah!"
"Bagus. Sabtu depan, di lapangan basket di sudut jalan depan. Jabberwock. Ingat nama tim yang akan mengalahkanmu." Ujar Nash sambil mendekati Akashi. Ia mengelus pipi Akashi sambil menyeringai. "Sampai jumpa, Hana-chan."
"Menyingkirlah!" Akashi menjauhkan tangan Nash yang disambut tawa meremehkan. Nash pun berlalu meninggalkan Aomine dan Akashi.
"Daiki, apa tak apa?" tanya Akashi. Aomine hanya melirik.
"Tidak apa. Akan kubuat dia menyesal mengganggumu." Tekad Aomine
~~oo00oo~~
"Begitulah ceritanya. Jadi, kalian mau bantu kan?"
Seluruh anggota Generasi Keajaiban menganga mendengar cerita Aomine. Ini bukan kali pertama Aomine terlibat perkelahian karena Akashi, tapi...
"KALAU MAU GELUD GAK USAH NGAJAK KITA, UASU!" Kagami emosi. "TERUS APA KATA LU TADI?! JABBERWOCK? LU TAU GAK ITU TIM APAAN?!"
"Hah? Gak tau. Kumpulan bocah alay yang maen tok tik, kan?" tanya Aomine. Kagami mengerang.
"Jabberwock itu tim basket jalanan Amerika yang kuat banget, tolol! Lu bisa-bisanya nantangin mereka, mikir pake otak! Jangan pake dengkul!" sembur Kagami.
"Ya wajar Aomine-kun mikir pakai dengkul, Kagami-kun. Kan memang otaknya di dengkul." Ucapan Kuroko sama sekali tak membantu, malah memperkeruh suasana.
"Tetsu-"
"Sudahlah, nodayo." Midorima membetulkan kacamatanya. "Sekarang kita sudah ditangang kita tak akan bisa mundur lagi, nodayo."
"Itu benar ssu!" ujar Kise. "Lagipula, dia juga tak bersikap baik pada Akashicchi. Kita harus memberi mereka pelajaran"
"Merepotkan..." Murasakibara menguap. "Tapi karena untuk Aka-chin, boleh deh."
Aomine menyeringai senang.
"Baiklah! Kita hajar si Jabberwock itu!"
"OOOUU!"
"Tapi rasanya ada yang ganjal." Ujar Kuroko.
"Hm? Kenapa, Kurokocchi?"
"Kalau masalah Akashi-kun, kenapa gak one-on-one aja?"
Hening.
"Dasar Ahomine-kun beraninya keroyokan."
"Makanya dia minta tolong kita."
"Cemen ih.."
"BUKAN GUA YANG NANTANGIN, GOBLOOOKKK!"
Dan Aomine kembali ngegas.
~~oo00oo~~
"SATU PUTARAN LAGI!"
Seluruh first string Teikou sudah kehabisan napas, namun Aomine masih lanjut berlatih. Nijimura sendiri juga kelelahan dibuatnya. Ia duduk di bench dan menganbil minuman di sebelah Momoi.
"Naa, Momoi. Si Aomine kenapa?" tanya Nijimura. Momoi menoleh ke arah kapten Teikou tersebut.
"Ah...ceritanya panjang." Ujar Momoi. "Sepertinya ia ditantang oleh tim basket jalanan Amerika-"
"AMERIKA?!" Nijumura terkejut
"Iya. Mereka bertemu di jalan kemarin dan sepertinya bertengkar. Makanya mereka membuat taruhan dan pertandingan." Jelas Momoi.
"Pertaruhan? Tunggu, bertengkar?"
"Memperebutkan Sei-chan."
"..."
Nijimura menghela napas, tak habis pikir. Kenapa kouhainya itu bisa begitu bucin. Ditambah semua anggota inti SMA Teikou yang dinamai Vorpal Swords itu juga nampak bersemangat.
"Aku jadi ingin punya mate."
"Hm? Senpai bicara sesuatu?"
"Ah, tidak. Kembalilah bekerja."
~~oo00oo~~
Hari pertandingan pun tiba. Vorpal Swords ditambah Akashi dan Momoi sudah menunggu di lapangan basket untuk bertanding dengan tim Jabberwock yang dikabarkan sangat handal itu
Tak lama, datanglah Nash diikuti oleh rekan setimnya. Nash memasang seingaian seperti biasa.
"Siap untuk kalah?" tantang Nash yang disambut decihan Aomine.
"Dalam mimpimu!"
"Kita lihat saja." Nash melirik ke arah Akashi dan memyeringai, membuat Akashi memalingkan wajah. Mereka pun bersiap untuk memulai pertandingan.
Saat Aomine hendak memasuki lapangan, Akashi menarik lengan bajunya.
"Jangan kalah, Daiki."
Aomine mengerjap dan mengecup dahi Akashi. Merah dan biru saling menatap.
"Aku tak akan kalah." Aomine mengelus wajah Akashi. "Aku akan menang untukmu."
Pertandingannya cukup singkat. Hanya dibatasi selama 20 menit. Tip off dimulai. Murasakibara dengan mudah mengambil bola. Ia segera mendribble bola itu menuju gawang dan hendak melalukan dunk
Tepat disaat ia melompat, salah satu anggota tim lawan juga melompat, menyebabkan mereka bertabrakkan. Bola pun terhempas dan diambil oleh tim lawan. Skor pertama pun direbut oleh jabberwock.
"Cih. Mereka main keroyokan." Keluh Murasakibara.
"Ini basket jalanan, jadi hal itu wajar dilakukan." Jelas Kagami.
"Apa ini? Hanya segini saja kemampuan sekumpulan monyet ini?" ejek salah satu annggota Jabberwock mengundang tawa yang lainnya.
"Ayo mulai lagi nodayo."
Midorima hendak melempar three point namun berhasil digagalkan. Tak hanya itu, seluruh serangan Vorpal Swords berhasil dihalangi.
"Sial! Jabberwock memang kuat seperti yang dirumorkan." Kagami mengelap keringafnya. Skor saat ini terpaut 25-0.
"Daiki!" Akashi berteriak dari pinggir lapangan
"Kau bilang akan menang demi diriku kan?!"
Aomine membelalak. Tanpa sadar seringaian terbentuk di bibirnya. Ia tersenyum ke arah Akashi sebelum melanjutkan pertandingan.
Aomine mendribble bola dengan cepat. Disaat ada lawan yang menghalangi, Aomine melakukan formless shootnya dan berhasil mencetak skor. Seluruh anggota Vorpal Swords berteriak senang.
"Aku gak bisa membiarkan Aominecchi saja yang pamer ssu!" seru Kise. Ia menerima lemparan bola dan segera mendribble. Ia lalu melakukan perfect copy pada gerakan Midorima dan mencetak tiga poin.
"Kise, itu gerakanku. Bayar royaltinya." Tuntut Midorima
"KOK GITU SIH SSU?!"
Kali ini giliran combo Kagami dan Kuroko yang bergerak. Mereka mencetak empat poin berturut-turut.
Pertandingan berlangsung sengit. Skor menunjukkan 30 lawan 30 dan waktu tersisa 5 detik. Putaran ini menentukan pemenangnya.
Kali ini Aomine dan Nash berhadapan. Aomine hendak melewati Nash, namun Nash berhasil memprediksi gerakannya.
Aomine lebih cepat. Ia mengoper bola pada Kuroko dan melewati Nash. Kuroko pun melakukan back pass pada Aomine yang kemudian melalukan dunk
Pertandingan selesai dengan kemenangan Vorpal Swords membuat mereka bersorak girang. Akashi segera mendekati Aomine dan mencium pipinya, membuat Aomine memerah.
"Yeuh langsung pacaran. Makasih dulu kek!" protes Kagami.
"Terima kasih sudah membantu Daiki." Ujar Akashi sambil tersenyum. Yang lain langsung kyuun seketika.
Nash mendekati anggota Vorpal Swords yang tengah dimabuk kemenangan. Bukan, lebih tepatnya mendekati Akashi. Ia segera menarik lengan Akashi dan menciumnya tepat di bibir.
Mata Akashi membulat. Seluruh anggota Vorpal Swords kaget bukan kepalang. Aomine sendiri langsung terbakar emosinya. Ia langsung memisahkan Nash dan Akashi lalu menghajar wajah Nash
"Kau sudah kalah!" Teriak Aomine. "Tinggalkan dia sendiri!"
"Hah. Kami hanya main-main saja, bodoh." Nash mengelap bibirnya. "Sudah kubilang kan kau itu tak pantas mendapatkannya."
"Brengsek!" Aomine langsung melayangkan tinjunya yang dihindari dengan mudah. Nash menendang perut Aomine membuatnya hampir tersungkur.
"Daiki!" Akashi mendekati Aomine dan berdiri di tengah Nash dan Aomine. Namun naas, Nash hendak melayangkan pukulannya pada Aomine dan malah mengenai Akashi, membuat Akashi terbanting dan membentur bench di pinggir lapangan.
"ASTAGA, SEI-CHAN!"
Momoi yang berada di bench segera mendekati Akashi. Perlahan ia menggerakkan tubuhnya dan terlihat kepala Akashi yang berdarah cukup banyak.
Iris biru Aomine membulat melihat itu. Midorima yang pertama kali menysdari aura Aomine langsung berubah.
Yang dilihat Aomine saat itu hanyalah merah. Tubuhnya otomatis bergerak untuk menghajar Nash. Insting alphanya berteriak menyuruhnya menghabisi siapapun yang melukai matenya. Namun tubuhnya berhasil ditahan oleh Midorima, Murasakibara, Kagami dan Kise.
"Aomine, tenanglah!" bujuk Kagami. Namun seolah mengabaikan si pemuda macan, Aomine tetap berontak ingin menghajar Nash. Namun Nash segera Aomine mengamuk.
"JANGAN KABUR, BAJINGAN!" raung Aomine.
"Midorin, ambulansnya sudah datang." Ujar Momoi.
"Bantu Akashi ke ambulans. Kami akan mengurus Aomine untuk sementara."
Mereka masih kewalahan menahan Aomine yang hendak mengejar Nash. Bahkan Midorima terpaksa harus menyeret Aomine ke tanah.
"Tenangkan dirimu, bodoh!" Midorima mendecih gusar. "Daripada menghajarnya lebih baik kau khawatirkan Akashi!"
Aomine terdiam. Ia melirik ke arah ambulans di mana Akashi dimasukkan ke dalam mobil menggunakan ranjang beroda. Tatapannya seketika kosong
~~oo00oo~~
Aomine tak bergeming dari tempat duduknya, membuat rekan setimnya khawatir. Momoi sudah memanggil keluarga Akashi dan mereka akan segera datang, namun tak merespon apapun. Seolah nyawanya tak berada di sana.
"Aominecchi, minum dulu yuk."
Kise menawarkan sebotol minuman dingin, namun diacuhkan. Semuanya jadi semakin khawatir.
Suara langkah kaki pun terdengar. Yang lain menoleh dan mendapati keluarga Akashi yang datang. Masaomi nampak gusar sementara Shiori dan Seijirou mengikuti di belakang.
Masaomi berhenti tepat di depan Aomine. Ia meraih kerah bajunya dan segera menghantamkan tinjunya ke wajah Aomine. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Yang lain terkejut bukan main.
"Masaomi, hentikan!" tegur Shiori, namun Masaomi lanjut menghajar Aomine. Aomine sendiri hanya menerima semua tinjuan ke wajahnya.
"Kau bilang kau akan melindunginya." Masaomi menggeram. "Ini yang kau sebut melindungi?!"
Aomine tak menjawab. Masaomi melepaskan Aomine dan mendecakkan lidahnya. Tak lama, seorang dokter keluar dari ruang UGD.
"Saya ingin bicara dengan keluarga pasien Akashi Seijuurou." Ujarnya. Masaomi mengkomandokan istri dan putra sulungnya untuk memasuki ruangan. Setelah mereka masuk, yang lain segera mendekati Aomine.
"Oy, kau baik-baik saja?" tanya Kagami yang tak digubris. Aomine hanya kembali duduk ke tempatnya semula.
Sekitar beberapa menit, Shiori muncul dari balik pintu.
"Daiki-kun, bisa bicara sebentar?"
Aomine mengangguk lalu bangkit perlahan. Aomine pun menghadap Masaomi dan Seijirou yang menatapnya garang.
"Daiki-kun, apa yang terjadi?" tanya Shiori.
Aomine menghela napas. Ia mengusap rambutnya ke belakang.
"Lawan main kami hari ini...seminggu sebelumnya meminta Sei menjadi miliknya."
Shiori mengangguk paham sementara Masaomi mengangkat alis.
"Perjanjiannya ia menang ia bisa memiliki Sei, namun ia kalah. Tapi dia malah mencium Sei begitu saja."
Shiori menggumam sementara Seijirou nampak sudah siap membunuh.
"Kami berselisih dan Sei berusaha melerai, tetapi orang itu hendak menghajarku dan malah mengenai Sei."
"Begitu ya..." ujar Shiori. "Terima kasih. Kau dan teman-temanmu boleh mengunjungi Seijuurou."
Aomine hanya mengangguk patuh.
~~oo00oo~~
Suasana ruangan begitu hening. Aomine hanya duduk di sisi ranjang Akashi tanpa berbicara. Tak ada yang membuka percakapan bahkan Kise yang biasanya paling berisik sekalipun. Semua nampak larut dalam pikiran masing-masing
"Nghh..."
Suara lenguhan terdengar. Akashi membuka matanya perlahan dan mengerjap. Ia menatap sekeliling dan menyadari ia berada di tempat yang asing, namun dikelilingi oleh orang terdekatnya.
"Ini di mana...?"
"Rumah sakit." Jawab Seijirou. "Kau pingsan ingat?"
Akashi menggumam. Ia menatap Aomine yang sedaritadi menggenggam tangannya erat. Meski samar, Akashi dapat nelihat air mata menumpuk di pelupuk matanya.
"Maaf, Sei..." ujarnya. "Aku gagal melindungimu."
Akashi menghela napas. Ia angkat tangannya perlahan untuk mengelus rambut Aomine. Aomine mendongak dan disapa senyuman hangat Akashi
"Itu bukan salahmu, Daiki." Akashi mengelus rambut Aomine pelan. Aomine menunduk dan membiarkan Akashi mengelusnya.
Suara deheman Masaomi menggema. Semua orang menoleh kepada kepala keluarga Akashi itu.
"Pertama, aku ingin minta maaf pada Daiki karena sudah menghajarmu." Ujar Masaomi. "Tapi anggaplah itu hukuman setimpal karena gagal melindungi Seijuurou."
Aomine meringis dan mengusap tengkuknya. Shiori menghela napas.
"Jangan bicara begitu. Tapi intinya kami mimta maaf atas kesalah pahaman kami." Ujar Shiori. "Kalau begitu kami akan keluar. Kalian bisa brrbicara."
Masaomi dan Shiori keluar dari ruangan, diikuti oleh seluruh anggota Vorpal Swords menyisakan Aomine, Akashi, dan Seijirou. Seijirou memelototi Aomine.
"Kau benar-benar bodoh." Ujar Seijirou.
"OY-"
"Jangan sampai hal ini terulang lagi." Seijirou bangkit dan mengeluarkan guntignya. "Mengerti, Daiki?"
Aomine menelan ludah. "M-mengerti."
Setelah Seijirou pergi, suasana kembali hening.
"Daiki." Akashi membuka suara. "Terima kasih sudah melindungiku."
"Jika aku melindungimu kau tak akan berbaring di ranjang itu."
"Ini hanya kecelakaan."
"Ya ya. Kau mau kupotongkan buah?"
"Tidak usah. Potonganmu berantakan."
"Oi-"
~~oo00oo~~
"Oi, dokter bilang Akashi sudah bisa keluar hari ini, nodayo."
"Waaah! Baguslah, Akashicchi."
Hari itu kebetulan seluruh Generasi Keajaiban mengunjungi Akashi. Akashi mengulas senyuman tipis. Akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit.
"Pulang nanti kau akan diantar olehku." Ujar Aomine. Akashi mengangguk.
"Ung. Tolong ya, Daiki."
Suara ketukan terdengar.
"Biar aku yang buka." Ujar Kuroko. Kuroko segera membukakan pintu namun mematung melihat siapa tamu mereka
Nash
"Apa maumu?" tanya Aomine garang. Nash hanya diam dan melangkah mendekati Akashi.
"Maaf aku membuatmu masuk rumah sakit."
Akashi menganga sebelum kembali ke kenyataan. Ia berdeham dan menatap Nash.
"Kuterima permintaan maafmu. Tapi kuharap kau berhenti mendekatiku."
"Terserah." Nash mengangkat bahu. "Meski aku menolak menyerah, Hana-chan."
"Enyahlah." Ujar Akashi. Nash terkekeh.
"Ayolah, hanya bercanda."
"Bercandamu tidak lucu!" Seru Aomine
"Apa? Mau protes?"
"Jangan bertengkar di rumah sakit, nodayo!"
"Midorima-kun, jangan berteriak di rumah sakit."
"Uwaaahh jadi ramai ssu!"
"Huh, kenapa Jabberwock ada di sini?!"
"Kaga-chin, kau lama sekali di toilet."
Angin berhembus menerbangkan daun, sekaligus menerbangkan suara di ruang rumah sakit itu
~~~TO BE CONTINUED~~~
Duh banyak bat nyamuk /plak/
Udah berapa kali ya Aomine baku nantam di FF ini. Wkwkwk
Bales review dulu laahh
LenkaAllenka maaf tapi FF ini sudah kebanyakan drama awokwowko /plak
val pururin Iyakah? Bagian mananya? Ini juga uwu kaann
Ya segitu dulu karena besok bangun oagi...again
RnR?
