Lala-chan ssu and val pururin proudly present
It's Like Beauty and the Beast: Side Story
Pair: AoAka
Rated: M lageeee
Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada
Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK
Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi
DLDR
~~oo00oo~~
Side 8: Holiday Yahoo!
~~oo00oo~~
"UWOOOOOHH!"
Pemuda warna-warni itu memandang kagum pada cruise pribadi keluarga Akashi. Kali ini mereka kembali menghabiskan liburan bersama si bungsu Akashi.
"Kalian boleh memakai semua fasilitas di sini. Santai saja." Ujar Akashi sambil tersenyum.
"Ini hebat sekali ssu! Terima kasih, Akashicchii!" ujar Kise.
"Apa tidak merepotkan, Akashi-kun?" tanya Kuroko. Akashi menggelengkan kepalanya.
"Tidak kok. Toh aku sudah izin pada ayah."
Yang lain kemudian berkeliling di dalam kapal mewah itu sementara Aomine hanya berjalan di sisi Akashi.
"Kau tidak ikut mereka, Daiki?" tanya Akashi. Aomine hanya mengangkat bahu.
"Aku lebih suka di sini bersamamu." Ujar Aomine.
Mendengar itu, wajah Akashi memerah. Ia menunduk dan tangannya malu-malu meraih tangan Aomine. Aomine menyadari itu dan menangkap jemari Akashi, menautkan jemari mereka dengan erat. Wajah Akashi semakin merah, membuat Aomine terkekeh geli.
Aah, matenya memang manis.
Aomine pun merangkul bahu mungil Akashi. Akashi otomatis menyenderkan kepalanya di bahu Aomine. Aomine tersenyum dan hendak menempelkan bibirnya ke bibir mungil Akashi
"Baguslah jika kalian menyukai kapal ini."
Aomine buru-buru menjauhkan wajahnya dari Akashi. Alisnya berkedut mendengar suara sosok dari belakangnya.
"Kalian boleh memakai kapal ini, asal kalian menjaga diri kalian dari tindakan yang tak menyenangkan."
Kenapa juga Seijirou harus ikut dengan mereka?! Aomine berteriak di dalam hati meratapi nasibnya. Jadilah dia akan susah bermesraan dengan Akashi karena adanya makhluk iblis brocon yang sudah teruji di ITB dan IPB.
"Aku ikut untuk menjaga Seijuurou dari kemesumanmu, Daiki." Ujar Seijirou
Keparat
~~oo00oo~~
"UWAAAHH ADA MEJA BILLIARD SSU!"
"Kau berisik Kise."
Kini mereka berada di ruang santai. Ada meja billiard di tengah ruangan, mesin pachinko mini, serta TV besar dan beberapa sofa
"Kalian mau coba main?" tantang Kagami. "Akashi, kami boleh main kan?" tanya Kagami
"Oh? Tentu. Silahkan saja." Ujar Akashi. Kagami langsung saja mengatur meja billiard. Ia mencoba memukul bola putih dan berhasil memasukkan tiga bola lainnya dengan sekali coba.
"Tak kusangka Kagami-kun bisa melakukan ini. Kupikir kau hanya bisa makan saja." Komentar Kuroko.
"KUROKO TEME!"
"Huh. Ini tidak ada gunanya nodayo." Midorima mendengus. Di tangan kirinya ada kipas kertas motif sakura.
"Nih sekarang giliranmu." Kagami menyodorkan tongkat billiard pada Midorima.
"Siapa yang bilang aku mau, nodayo?!" tapi ia menerima tongkat billiard itu
Dasar wortel tsundere
Midorima memposisikan diri. Dengan sekali gerakan ia bisa memasukkan dua bola. Yang lain bertepuk tangan.
"Lunayan juga. Ayo, siapa sekarang?"
"Aku."
Seijirou maju ke depan dan mengambil tongkat billiard dari Midorima. Ia memposisikan diri duduk di tepi meja dan mengarahkan tongkatnya ke bola putih. Ia memukul bola itu dengan tongkat menyebabkan bola saling bertabrakkan.
Satu masuk
Dua masuk
Tiga masuk
Dan seterusnya.
"WAH HEBAT!"
Seijirou tersenyum bangga. Ia berhasil memasukkan seluruh sisa bola. Kemudian bola kembali dirapikan.
"Aku juga mau coba ssu!" Kise mengangkat tangannya penuh semangat. Seijirou menyerahkan tongkat billiard pada Kise.
Kise memposisikan dirinya dan segera memukul bola putih di atas meja. Namun bukannya menabrak bola lain, bola putih itu malah menabrak tepian meja dan sukses menghantam kepala Murasakibara.
"Kise-chin, kau mau mati?"
"AKU GAK SENGAJA SSU!"
"BWHAHAHAH KISE KAU PAYAH."
"BERISIK AH!"
~~oo00oo~~
Mereka pun lanjut berkeliling kapal itu. Kali ini mereka berada di lorong dekat kamar-kamar. Dari sana dapat diketahui bahwa begitu membuka pintu kamar, kalian akam langsung mendapat pemandangan laut yang indah
"Uwaaahh lautnya jernih sekali ssu!" Mata Kise berbinar. Akashi mengulas senyuman tipis.
"Ini pemandangan yang jarang sekali di Tokyo lho." Ujarnya.
"Rasanya ingin menyelam!" ujar Kise. Akashi menaruh jemarinya di dagu.
"Sepertinya ada perlengkapan diving. Siapa saja yang mau?" tanya Akashi.
"Diving ya." Midorima membenarkan kacamatanya. "Boleh juga, nodayo."
"Midorima-kun ada maksud apa? Biasanya tidak langsung setuju." Komentar Kuroko
"Memang tak boleh?!"
Tak lama, Akashi dan Seijirou datang membawa berbagai perlengkapan diving.
"Ayo silahkan diambil."
Yang lain segera mengambil pakaian masing-masing. Mereka langsung saja membuka baju mereka dan mengenakan perlengkapan diving mereka, termasuk Akashi.
Wait what
Aomine melotot melihat Akashi membuka pakaiannya begitu saja. Yang lain langsung memperhatikan Akashi. Aomine segera menutup badan Akashi dan menyembunyikannya dengan bajunya. Segera ia memelototi rekannya yang lain.
Dasar posesif.
"Semuanya siap?" Seijirou sudah bersiap di pinggir kapal sambil mengenakan perlengkapannya. Yang lain mengangguk dan juga mengambil posisi.
Seijirou segera terjun diikuti oleh yang lain.
Aomine membuka matanya dan menyesuaikan keadaan dengan sekelilingnya. Ada banyak karang berwarna warni dan berbagai ikan dengan bentuk menarik. Aomine terpukau melihat pemandangan yang indah itu.
Akashi menghampiri Aomine. Mereka menatap pemandangan itu dengan bahagia.
Aomine menarik tangan Akashi dan mulai berenang mendekati permukaan. Mereka mengambil napas dan saling menatap penuh senyum.
Baru mereka menikmati suasana, seekor ikan pari berenang mendekati Akashi.
"Waaahh!"
Akashi refleks memeluk Aomine, karena gerakan ikan itu yang terlalu mendadak. Aomine juga refleks merangkul bahu Akashi mendekat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aomine. Akashi makin mengeratkan pelukannya.
"Tidak, hanya kaget." Akashi menghela napas. Namun ia enggan melepaskan pelukannya.
Di belakang sana, Seijirou tengah memelototi dua sejoli itu.
'Masih gua pantau, belum juga gua gunting anunya'
~~oo00oo~~
Setelah selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang santai. Mereka duduk di sofa dan asyik bercengkrama.
"Aku bosan ssu..." keluh Kise.
"Lalu mau apa, Kise-chin?"
Kise menyeringai. Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan botol air mineral dari tasnya.
"Ayo main Truth or Dare!"
"NGGAK!"
Kise memanyunkan bibirnya
"Kalian gak seru. Ayolaaah kapan lagi begini kan?"
Akhirnya semua dipaksa mengikuti permainan jahanam itu. Semuanya duduk membentuk lingkaran dan botol berada di tengah-tengah. Kise pun mulai memutar botolnya dan berhenti di...
Kagami
"KAGAMICCHI! TRUTH OR DARE!"
"Uhhh...truth deh!"
"NAKSIR AKASHICCHI YA?! NGAKU!"
"HAH APA SIH KAGAK!"
Yang lain tertawa melihat kelakuan Kise dan Kagami. Akhirnya semua mendapat giliran masing-masing. Murasakibara ditanya siapa cinta pertamanya, Midorima ditantang menelpon Takao dengan nomor tak dikenal, Kagami ditangang berdiri dengan satu kaki selama dua putaran, Kuroko ditanya lebih memilih vanilla shake atau pacar, sedangkan Seijirou ditanya siapa yang ia sukai.
Akhirnya, botol pun kembali diputar. Dan botol mengarah kepada...
Akashi.
"Akashicchi! Truth or Dare?" tanya Kise.
"Ng...dare."
Yang lain memutar otak sebelum Kuroko angkat bicara.
"Cium Aomine-kun. Dengan lidah."
Yang lain langsung bersorak sementara wajah Akashi memerah. Mereka riuh menyemangati hingga Akashi mendekati Aomine. Akashi duduk di pangkuan sang alpha dan mulai memagut bibirnya. Aomine membuka mulut, mempermudah jalan Akashi. Akashi tanpa diduga berciuman dengan lihai. Lidahnya seolah sudah mengetahui apa dan dimana ia harus menyentuh. Pergulatan lidah pun tak terelakkan. Akashi refleks menaruh tangannya di bahu Aomine, sementara Aomine menarik pinggang Akashi mendekat padanya. Desahan demi desahan yang tertahan meluncur dari bibir mereka.
"Oke cukup." Seijirou berusaha mengembalikan kesadarannya. Akashi patuh dan menghentikan ciumannya.
"O-oke, kuputar lagi ya ssu."
Kise segera memutar botol, namun ia malah mengenai dirinya sendiri. Riuh tawa kembali terdengar.
Tanpa menyadari dua insan menghilang dari sana
~~oo00oo~~
Akashi dan Aomime saling bercumbu. Aomine meremas bokong Akashi sementara Akashi sibuk menanggalkan pakaian yang dikenakan Aomine
Setelah selesai, Akashi cepat tanggap. Ia memaknkan kejantanan Aomine dengan jari jemarinya.
"Mmhhnn Sei..."
Aomine berbisik, ia memangku Akashi dan memasukkan dua jarinya ke lubang Akashi. Dirasakan tubuh Akashi merinding karena sentuhan kecilnya.
"Begini saja kau sudah bereaksj. Kau nakal, Sei." Aomjne menyeringai dan menambah tempo gerakannya.
"Mmhh...hanya untukmu, Daiki. Nngghh..."
Sementara tangan Aomine mempersiapkan lubangnya, tangan Akashi memainkan penis Aomine supaya benda itu menegang. Dan terbukti, kini penis Aomine sudah hampir berdiri.
"Ngghh...tanganmu itu genit." Ujar Aomine sambil menggigit leher putih Akashi, membuat Akashi mengerang.
"Mmhh...kau menyukainya...nnhhaaahh!"
Desahan Akashi semakin hebat ketika Aomine memasukkan keempat jarinya di lubang sempit itu. Menggerakkan tangannha untuk memperlebar jalan masuknya.
"Mmhh... Daiki...lakukan."
"Dengan senang hati."
Aomine memposisikan tubuh mungil Akashi di atas pangkuannya. Ia menghentakkan pinggulnya dan memasukkan penisnya ke dalam lubang Akashi dengan sekali gerakan.
"Aaahh! Mmmhhh..." Akashi merasakan kenikmatan di sekujur tubuhnya. Tubuh mungil itu bergetar, menginginkan sensasi lebih.
"Ssshh...bergeraklah, Sei."
Akashi menurut dan mulai menggerakkan tubuhnya sehingga penis Aomine menggesek lubangnya. Aomine mengerang.
"Ya...bagus. Anak baik." Puji Aomine membuat Akashi semakin bersemangaf menggerakkan pinggulnya.
Gerakkan Akashi membuat rasa panas menjalari bagian bawah tubuh Aomine, membuatnya kembali mengerang.
"Ngghh... Sei..." Aomine menyentuh pinggang Akashi. Akashi memahaminya dan tersenyum.
"Keluarlah untukku, Daikj."
"Mh-!"
Aomine mengeluarkan semua cairannya ke dalam tubuh Akashi, membuat Akashi juga mendesah nikmat. Aomine melepaskan Akashi dan membaringkannya ke ranjang.
"Baiklah, ini hadiah karena sudah membuatku keluar."
Aomime memasukkan penisnya ke lubang Akashi yang baru saja beristirahat, membuat tubuhnya kembali menggelinjang.
"Nnhhaaaahh!"
Tubuh Akashi gemetar mengikuti irama tubuh Aomine. Tubuh Akashi sendiri juga merespon positif. Lubangnya langsung menyempit di sekitar penis Aomine, memberikan sensasi pijatan.
"Nnhh...mnnn... Daikk..." Akashi menatap Aomine. Aomine makim mempercepat gerakannya.
"Ayo keluar Sei."
"Ah ah...aaannnhhh!"
Akhirnya Akashi mencapai klimaks. Ia sudah terbaring di kasur dan rasanya benar-benar lelah, namun Aomine tak langsung merebahkan dirinya
"Daiki...?"
Aomine menoleh ke arah Akashi.
"Aku belum lelah."
Akashi menaikkan alis. Dilihatnya jam menunjukkan pukul setengah 12 malam. Akashi beringsut mendekati Aomine dan menyentuh penisnya.
"Ngh... Sei. Kenapa-"
Akashi hanha tersenyum misterius. Segera ia kulum penis Aomine layaknya mengulum permen manis. Aomine mengerang merasakan hangatnya mulut Akashi di penisnya.
"Baru begini sudah berdiri lagi? Daiki nakal." Goda Akashi. Dilanjutkannya mengulum dan menjilat penis Aomine. Aomine mengerang dan menutup wajahnya.
"Sei, astaga...'
"Ssstt..." Akashi memberi perintah untuk Aomine diam. Seiring dengan ia mengulum penis alphanya, jarinya ia masukkan ke lubangnya sendiri.
"Ngh...Sei..." Aomine menggumam sementara Akashi menaikkan tempo gerakannya. Penis Aomine memanas, menandakan klimaks yang mendekat. Karena itu Akashi semakin memaju mundurkan jarinya supaya ia juga mencapai klimaks.
"Mnnhh...ngh... keluarlah, Daiki..."
Akashi semakin lihai melumat penis Aomine. Tak lama, cairan putih kental memenuhu mulut Akashi. Bersamaan dengan itu, Akashi juga mencapai klimaksnya. Aomine menatap Akashi yang kini melepaskan penisnya dan merebahkan diri di ranjang. Aomine menghela napas dan berbaring di sisi Akashi. Akashi tak banyak bicara, hanya segera menggelungkan diri di pelukan Aomine. Aomine sendiri hanya bisa memeluk tubuh Akashi setelah malam yang panjang itu.
~~oo00oo~~
Paginya, mereka segera sarapan di restoran yang dimiliki kapal tersebut. Mereka sedang dalam perjalanan kembali menuju pantai dan memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Suasana ribut karena Kise terus-terusan merajuk karena hal kecil.
Aomine sendiri duduk di samping Akashi dan sesekali mengganggu Kise. Akashi hanya memakan sarapannya dengan tenang. Aomine menyadari tingkah Akashi dan merangkulnya.
"Kenapa, Sei?" tanya Aomine. Akashi hanya menggeleng.
"Tidak. Cuma lelah."
Aomine mengangguk dan mengelus rambut merah Akashi. Akashi mendekatkan tubuhnya dan mencium bibir Aomine sekilas. Aomine memgerjap dan menyeringai. Ia makin merapatkan tubuh Akashi, hendak menciumnya balik.
JLEB!
Sebuah gunting menggagalkan niatnya.
Aomine menoleh perlahan, mendapati Seijirou dengan aura iblis menguar sambil membawa sebuah gunting lagi. Yang lain sampai ikut menelan ludah.
"Aomine Daiki. Jelaskan apa yang kau lakukan semalam dengan adikku." Perintah Seijirou.
"Semalam? Apa?" Aomine melirik ke arah lain.
"Jangan pura-pura bodoh. Kamar kita bersebelahan."
JLEB. Ya memang benar. Seijirou mendapat kamar pribadi, Aomine dan Akashi tidur berdua di kamar sebelah Seijirou, dan yang lain tidur bersama di ranjang susun di ruangan yang agak jauh.
"H-hei! Kita mate kan? Wajar dong melakukan itu!" Aomine membela diri.
"Bukan berarti kau bebas menyentuhnya semaumu, dasar makhluk dakian mesum!"
Seijirou kembali menancapkan guntingnya. Untung Aomine menghindar hingga gunting itu kayu. Kalau tidak, katakan selamat tinggal pada dunia.
"Tunggu, Seijirou. Dengar. Aku-GYYAAAA!"
Aomine pun berkejaran dengan Seijirou-yang-bergunting. Sementara Akashi hanya kebingungan melihat tingkah kakak dan matenya
~~~TO BE CONTINUED~~~
ASTAGA APA SIH INI WKWKWK
Bales review dulu guys
Orang Lewat Iya betul. Kalo ada Seijirou Nash udah tinggal nama
val pururin Oh ya tentu saja dongs
SesilliaS AOMINE PROTEKTIF ADALAH JALAN NINJAKU /La/ Makanya masi untung ini cuma Aomine. Coba sekeluarga Akashi. Bisa ancur badan Nash ampe ga ada yang ngenalin /SEREM/
Yak segitu dulu guys. Besok authornya kudu kuliah lagi huhu jadi maafkan typo karena mata udah 3 watt
Akhir kata, RnR?
