Lala-chan ssu and val pururin proudly present

It's Like Beauty and the Beast: Side Story

Pair: AoAka

Rated: M lageeee

Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada

Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK

Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi

DLDR

~~oo00oo~~

Side 9: Sick? Noooo!

~~oo00oo~~

Lagi-lagi hujan

Awan mendung yang menggantung di langit seolah sedang mengerjai para murid yang baru pulang sekolah dan tak membawa payung. Banyak yang segera berteduh ada juga yang nekad menerobos derasnya hujan. Yang membawa payung berjalan dengan santainya di tengah hujan.

Aomine berdecak kesal. Bisa-bisanya ia lupa membawa payung. Ya ini faktor tadi pagi ia datang terlambat sehingga ia melupakan payung yang sudah disiapkan.

"Daiki."

Aomine menoleh, mendapati Akashi berdiri di belakangnya sambil menenteng payung.

"Ayo pulang sama-sama." Ajak Akashi. Aomine mengusap rambutnya.

"Kau duluan saja. Aku tak bawa payung."

"Ah, kalau begitu kita bareng saja." Ujar Akashi. Aomine melotot

Sepayung berdua dengan Akashi, di bawah rintik hujan, berdua saja.

'Daiki, rasanya agak dingin'

'Hn. Merapatlah kemari.'

'Eh tapi-'

'Sshh...ayo mendekat sini. Nanti kau kehujanan.'

'Daiki...'

'Sei...'

Kemudian ost drama korea pun terdengar

Apa banget bayanganmu, Ahomine

"Daiki." Suara Akashi mengembalikan Aomine ke kenyataan. Akashi melipat tangannya di depan dada. "Kau mau atau tidak? Kalau tidak silahkan bermalam di sini."

"Iya iya. Aku mau. Duh, sejak kapan mateku jadi judes begini sih?" Aomine segera menghampiri Akashi dan mencubit pipinya. Akashi langsung menggumam protes

"Habis Daiki selalu begitu." Akashi menggembungkan pipinya, membuat Aomine semakin senang menguleni pipinya.

"EHEM! Maaf kalau mau mesra-mesraan jangan di jalan ya. Yang jomblo mah mau pulang kerjain PR yang rajin." Kagami langsung lewat di tengah-tengah mereka diikuti Kuroko dan Kise.

"Kagami-kun lagaknya kayak yang bikin PR aja." Komentar Kuroko dengan datar

"BACOT! GUA NGERJAIN PR YA!"

Lalu mereka beranjak dari sana.

Akashi menyodorkan payungnya ke Aomine. Aomine menerimanya dengan bingung.

"Kau yang bawa payungnya." Ujar Akashi. Aomine pun mengangguk. Dibukanya payung itu dan segera ia tarik Akashi ke sisinya.

"Daiki..."

"Nanti kalah jauh kau kehujanan."

Mereka pun berjalan berdampingan di bawah payung, bersama melewati hujan rintik-rintik dalam diam

...maunya sih begitu.

Kenyataannya, hujan turun deras. Rintik air pun membasahi tubuh mereka meski sudah memakai payung.

"Daiki...bagaimana ini?" tanya Akashi.

"Tenang, Sei! Kita terobos!"

"Ap-"

Belum sempat Akashi menjawab, Aomine sudah menarik tangannya. Mereka berdua mengarungi derasnya hujan hanya bermodalkan sebuah payung. Angin semakin berhembus kencang dan hujan semakin deras

SRAAKK!

Yak, Akashi pun dengan sukses terpeleset air hujan dan jatuh. Hujan deras langsung saja menimpa tubuhnya tanpa ampun.

"SEI! ASTAGA." Aomine buru-buru mengangkat tubuh Akashi dan memayunginya. Ia segera menyampirkan jaketnya yang tidak basah pada Akashi.

"D-dingin..." keluh Akashi.

"Tenang, sebentar lagi sampai! Ayo semangat!"

Aomine dan Akashi pun kembali menerobos hujan.

Mereka pun sampai di kediaman Akashi. Para maid langsung tergopoh-gopoh melihat Tuan Mudanya basah kuyup.

"Daiki langsung pulang saja ya setelah hujannya mereda." Ujar Akashi. Aomine mendongak.

"Kau bagaimana?" tanya Aomine. Akashi tertawa kecil.

"Aku kan sudah sampai rumah. Aku akan baik-baik saja kok." Akashi mengelus rambut biru Aomine. "Kau masih harus mengerjakan PR tambahan, jadi lebih baik segera pulang."

Aomine menggerutu mendengarnya. Ya, karena lagi-lagi nilai Aomine kurang dia harus mengerjakan PR tambahan.

"Tapi benar nih kau tak apa-apa?" tanya Aomine. Tiba-tiba hatinya terasa janggal.

"Ya aku tak apa-apa" ujar Akashi sambil tersenyum.

"Yasudah aku pulang sekarang. Aku bisa lari pulang kok." Ujar Aomine.

"Tak apa nih? Pinjam payungku saja."

"Ah, terima kasih."

"Ung. Sampai jumpa besok, Daiki."

~~oo00oo~~

"Akashi Seijuurou tidak masuk. Sakit flu."

Aomine bagai tersambar petir di siang bolong. Padahal Akashi sudah berkata ia akan baik-baik saja, namun nyatanya?

Teringat lagi tubuhnya yang basah kuyup kemarin. Ini salahnya yang nekat menerobos hujan. Padahal bisa saja mereka menunggu hujan agak mereda. Sial betapa bodohnya aku, gumam Aomine dalam hati

LAH SADAR JUGA KALO DIA BODOH.

Aomine melamun seharian. Ia menatap nanar bangku kosong di sebelahnya. Padahal biasanya Akashi mengisi tempat itu. Biasanya ia tersenyum hangat padanya. Dan bila Aomine bosan ia segera menghampiri Akashi dan tidur di mejanya sambil membiarkan Akashi mengelus rambutnya.

"Cieee galau."

Aomine refleks melempar buku pada Kise yang berbisik di telinganya. Kise otomatis terbahak-bahak membuat Aomine menggerutu. Sial, punya temen kayak bgst semua.

"Itu karma ssu." Tukas Kise. "Kau kan pernah diskors. Akashicchi juga begini ssu."

"Waktu aku diskors?" ah ya. Pikiran Aomine kembali ke sana.

"Dia benar-benar khawatir loh ssu. Padahal itu kan salah Aominecchi."

Ya. Akashi tetap berada di sisinya meski Aomine tak bisa pergi ke sekolah. Ia ingat Akashi tiba-tiba datang membawa tas besar dan menginap di rumahnya.

"ITU DIA!"

Kise tersedak teh yang ia minum ketika Aomine mendadak bangkit dan berteriak.

"DIH ITEM RUSUH BANGET SIH!"

~~oo00oo~~

Aomine menunggu di hadapan pintu besar kediaman keluarga Akashi dengan tak sabar. Tas biru besar berisi pakaiannya sudah menempel di punggung.

Ya, Aomine berniat menginap dan merawat Akashi

Sebenarnya tak perlu karena dokter pribadi keluarga Akashi sudah sangat berkompeten, namun Aomine ingin bertanggung jawab dan merawat Akashi sendiri.

Halah kayak ngehamilin aja kamu Ahomine

Pintu pun terbuka. Aomine menegakkan tubuh, berharap bahwa salah satu maid yang membukakan pintu.

"Sedang apa kau?"

Nyawa Aomine serasa dibawa melayang. Bukan, lebih tepatnya dihisap oleh makhluk yang membukakan pintu.

"Seijirou, bukannya kau di Kyoto?"

Seijirou mengangkat alis. Ia bersandar di kusen pintu dan menyilangkan tangannya di dada.

"Ya memang. Tapi kemudian aku mendapat kabar bahwa adikKU sakit karena ulah SESEORANG." Ujar Seijirou penuh penekanan. Aomine meringis.

"Y-ya...aku kemari ingin merawat Sei."

"Tidak boleh."

"KENAPA"

"Karena kau hanya mengganggu. Sudah ya selamat siang."

Baru Seijirou buru-buru hendak menutup pintu, Aomine sudah menahannya. Kini mereka saling bertatapan dingin.

"Biarkan aku masuk."

"Tidak."

"Aku akan menerobos."

"Coba saja atau kuhantam kepalamu."

"Kau-"

"Anu..." seorang maid datang dari belakang Seijirou.

"Seijuurou-sama bilang dia ingin bertemu dengan Aomine-sama."

Aomine menyeringai penuh kemenangan.

~~oo00oo~~

"Maaf, Sei. Ini salahku."

"Tidak kok. Aku baik-baik saja."

Aomine berkali-kali meminta maaf sambil mengompres dahi Akashi. Seijirou? Ia memperhatikan dari jauh dengan aura membunuhnya.

"Harusnya aku yang minta maaf karena kau jadi harus menemaniku..." ujar Akashi. Wajahnya memerah dan berkeringat.

"Aku melakukan ini karena keinginanku sendiri." Ujar Aomine sambil menaruh kompres di dahi Akashi.

"Ah-kompresnya masih basah, Daiki."

"Ah, maaf."

Aomine mengambil lagi kompresnya, dan mencoba memerasnya. Namun tetap saja kompresnya basah.

"Sini!"

Seijirou menyambar kompres di tangan Aomine. Ia memeras kompres itu dengan telaten dan menaruhnya di dahi Akashi. Akashi pun segera menggeliat nyaman.

"Terima kasih, kak..."

"Ayo cepat sembuh ya."

Seijirou mengelus rambut adik kecilnya itu, kemudian menatap Aomime dengan seringaian merendahkan. Perempatan imajiner muncul di dahinya

~~oo00oo~~

"Seijuurou, ayo minum obat."

Akashi menatap beberapa obat-obatan di pangkuannya. Alisnya mengernyit

"Tidak mau..."

"Kalau tidak minum obat bagaimana bisa sembuh." Seijirou menghela napas.. Kebiasaan adiknya ini tak pernah hilang sejak dulu.

"Aku tidak mau , kak. Obatnya banyak sekali."

"Itu supaya kau cepat sembuh. Ayo diminum."

Akashi menggeleng kuat membuat Seijirou habis akal. Ingin ia mencekoki paksa adiknya itu.

Aomine melangkah mendekati Akashi dan mengambil sebuah obat. Ia menaruh obat itu ke mulutnya dan menahan air di mulutnya. Seijirou mengernyit heran.

"Oy, apa yang-"

Kemudian Aomine mencium bibir Akashi. Bukan, lebih tepatnya memindahkan obat tadi kepada Akashi sehingga ia mau tak mau menelannya.

"Daiki, kalau begitu nanti kau juga sakit." Keluh Akashi.

"Tapi kau bisa cepat sembuh kan?" Aomine mengelus wajahnya. "Sudah, ayo istirahat."

Akashi mengangguk patuh dan segera meringkuk dalam selimut. Aomine melirik ke arah Seijirou dan menyeringai iseng membuat Seijirou mengepalkan tangan

'Belom aja gua sleding anunya'

~~oo00oo~~

Esoknya hari Sabtu. Aomine tengah mengecek ponselnya sementara Akashi tertidur. Ia baru saja minum obat sehingga ia dibiarkan istirahat sebentar. Kondisinya sudah membaik dibandingkan kemarin. Aomine memainkan ponselnya hingga ia tertidur di sisi ranjang Akashi.

Rasanya Aomine baru tertidur sebentar saat ia mendengar suara ribut yang amat ia kenal. Ia bangun dan mengucek matanya. Dilihatnya Akashi masih terlelap

Pintu pun menjeblak terbuka. Seolah tak memperhatikan etika bertamu, Kise masuk begitu saja

"AOMINECCHI~~ KITA DATANG MENJENGUK~~"

Kise datang diikuti anggota Generasi Keajaiban lainnya. Masing-masing menenteng plastik berisi makanan dan buah-buahan. Khusus Midorima ia membawa jam antik.

"Kalian berisik! Sei sedang tidur!" tegur Aomine kesal.

"Ah maaf ssu." Kise mengintip dan untunglah Akashi masih terlelap. Sepertinya pengaruh obatnya lumayan berat.

"Hm. Ini ada buah tangan nodayo."

Midorima dan Murasakibara sigap membereskan berbagai kantung plastik. Isinya ada buah, makanan ringan, dan lainnya. Setelah itu mereka asyik bercengkeama.

"Daiki?"

Aomine menoleh. Akashi baru saja terbangun.

"Sei? Sudah bangun. Makan du-"

"AKASHICCHIII!"

Yang lain langsung menyela Aomine dan mengajak Akashi mengobrol. Aomine hendak protes, namun melihat Akashi nampak senang ia menghela napas. Wajahnya nampak begitu senang.

Syukurlah

~~~TO BE CONTINUED~~~

ANJAY KETIDURAN GEGARA MINUM OBAT

Oke balas review dulu

Heavenazure Oh iya doonnggs hshshs

val pururin oh ya pasti sih itu awokwoko

So RnR?