Lala-chan ssu and val pururin proudly present
It's Like Beauty and the Beast: Side Story
Pair: AoAka
Rated: M lageeee
Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada
Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK
Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi
DLDR
~~oo00oo~~
Side 10: Heat
~~oo00oo~~
"Aahhh... Daikiiihh..."
"Nh...ya, sebut namaku, Sei..."
Entah sudah berapa lama mereka bergelut di atas ranjang. Omega manis berambut merah itu sudah kepayahan, namun tubuhnya masih meminta lebih. Sudah banyak bercak dan tanda di tubuhnya, namun semua itu malah membuatnya ingin lebih.
"Ngghh... Daiki...kumohon..."
Yang dipanggil hanya mengerang, memasukkan kejantanannya ke lubang yang memerah di hadapannya. Omega itu mendesah kian keras
"Hnaahh! Ha, Daiki...mmnnhh...!"
"Khh...kau masih saja sesempit ini meski kumasukkan berkali-kali."
Alpha berambut navy itu memagut bibir omeganya seiring mereka merasakan puncak kenikmatan masing-masing. Sang omega yang biasanya begitu tenang dan anggun kini memohon dan mendesah berkali-kali.
"Nhhaahh... Daiki-"
"Ngh...Sei."
Mereka mencapai klimaks bersamaan. Ruangan itu dipenuhi napas yang terengah.
Alpha bernama Aomine itu menatap omeganya, Akashi. Akashi nampak langsung terlelap setelah satu masa heatnya. Ia mengelus rambut Akashi dan ikut merebahkan diri di sebelahnya. Merasa kantuk mulai menguasainya.
Ini akan jadi seminggu yang panjang.
~~oo00oo~~
Aomine terbangun dari tidurnya dan melihat jam. Pukul setengah 12 siang. Aomine bangkit dan meregangkan tubuhnya. Dilriknya Akashi yang masih terlelap. Menurut hitungan, seharusnya heat Akashi kembali dimulai pukul 2 siang. Masih ada waktu untuk mengambil makan siang dan menyuruh Akashi mengisi tenaganya.
menuju tangga dan menuruninya. Seolah berada di rumah sendiri, Aomine melangkah menuju dapur yang letaknya sudah sangat ia hapal di luar kepala. Segera ia melangkah menuju dapur dan mendapati para maid tengah menyiapkan makanan.
"Ah, anda sudah bangun, Aomine-sama." Ujar salah satu maid. Ia segera mengambil nampan.
"Ini makan siang untuk anda dan Tuan Muda Seijuurou. Harap dihabiskan karena Tuan Muda butuh tenaga."
Aomine menerimanya dan mengangguk. Para maid di sini sudah terbiasa akan kehadiran Aomine, terutama karena memang Akashi tak rutin mengonsumsi surpressant.
Aomine segera kembali ke kamar sambil membawa nampan itu dengan hati-hati. Ada dua porsi sup dan lauk untuk Aomine dan Akashi, juga dua potong bar energi. Memang gizi Akashi selalu diperhatikan di sini.
Aomine membuka pintu perlahan dan mendapati Akashi tengah duduk di ranjang sambil mengucek matanya. Akashi yang mendengar suara pintu dibuka .
"Yo, Sei. Ini makan siang dulu." Ujar Aomine sambil menaruh nampan di atas meja nakas. Ia duduk di sebelah Akashi dan mengelus pipinya.
"Daikiii..." Akashi langsung memeluk dan menenggelamkan kepalanya di bahu Aomine. Aomine menghela napas dan mengelus rambut merah matenya.
"Ayo makan dulu. Baru kau bisa manja-manja seperti ini."
Akashi menggumam lalu bangkit. Aomine mengambilkan semangkuk sup untuk Akashi yang kemudian diterima dengan senang hati. Akashi memakan supnya perlahan sedangkan Aomine makan dengan lahap. Di saat Akashi baru menghabiskan setengah supnya, Aomine sudah menyantap bar energi yang ditaruh di atas nampan.
"Kau makan terlalu cepat, Daiki." Akashi menghela napas. Aomine hanya menoleh sambil terus mengunyah.
"Khhau shahahah hhyangh mhahan hellalu lhamfhat."
"Telan dulu makananmu baru bicara, Daiki." Akashi meminum supnya sementara Aomine menelan kunyahannya.
"Kau saja yang makan terlalu lambat." Ulang Aomine lalu meminum air mineral di atas meja. Akashi menaruh mangkuknya di meja nakas lalu hendak bangkit.
"Mau ke mana?"
"Toilet." Akashi menghampiri Aomine. "Bantu aku."
Aomine tanggap dan bangkit. Ia menuntun Akashi ke toilet yang sebenarnya hanya berjarak beberapa langkah dari tempat tidur mereka, namun Aomine tak ambil pusing. Ia sudah janji akan merawat Akashi, bukan?
~~oo00oo~~
"Nnhhh..."
Aomine yang baru saja kembali dari menaruh nampan ke dapur segera mengunci pintu begitu mencium feromon Akashi yang kembali menguat. Dihampirinya ranjang Akashi dan ia elus pipi omeganya itu.
"Sei..."
Akashi membuka matanya perlahan. Tangannya meraih-raih figur Aomine dan langsung saja Aomine menangkap tangannya.
"Ngh...Daiki...sentuh aku.."
Aomine tak berpikir panjang. Langsung saja ia melepas semua pakaiannya dan mengangkat Akashi ke pangkuannya.
"Kau lelah tiduran terus kan?" tanya Aomine seiring jarinya menelisik masuk ke lubang Akashi yang kembali mengeluarkan cairan pelumas alami. Akashi mendesah, membuat Aomine semakin semamgat memainkan lubangnya. Tidak puas sampai di situ, Aomine meraup puting Akashi dan menghisapnya, membuat tubuh Akashi menggelinjang
"Ah...aaahh Daikkihh...!"
Aomine semakin cepat menghisap puting yang mengeras itu. Desahan dan jeritan Akashi sudah terdengar layaknya musik di telinganya. Puas bermain dengan jarinya, Aomine mengeluarkan tangannya yang sudah dipenuhi cairan putih dari lubang Akashi. Ia mengarahkan penisnya ke lubang Akashi dan memasukkannya dalam sekali hentakkan.
"Hnnaaahhnn!"
Akashi yang sejak tadi gatal ingin merasakan penis Aomine di lubangnya segera bergerak tanpa diperintah. Ia menaik-turunkan pinggulnya demi merasakan kejantanan alphanya di dalam lubangnya.
"Mmhh... Sei, kau nakal." Goda Aomine sambil mencium telinganya, membuat Akashi semakin merasa terangsang.
"Mmhh...hanya untukmu, Daiki..." Akashi balas berbisik seduktif seiring berakannya.
Aomine mengerang merasakan lubang Akashi menyempit. Ia memegang pinggul Akashi, seolah memberi tanda ia hampir keluar. Begitu hangatnya cairan mani Aomine di dalam rahimnya, ia juga mencapai klimaks.
"Hah. Keluar begitu merasakan cairanku di rahimmu? Kau benar-benar nakal, Sei." Goda Aomine sambil mengecup pipi omeganya. Akashi hanya terkekeh sebelum matanya kembali berkedip, hendak berlayar ke alam mimpi.
"Istirahatlah., Sei." Aomine mengecup dahi Akashi sebelum ia sendiri melaju ke alam mimpi
~~oo00oo~~
Suara bel yang ditekan beberapa kali itu membuat maid keluarga Akashi tergopoh-gopoh membukakan pintu depan. Ini baru pukul 4 sore, tak biasanya Tuan Besar Masaomi pulang secepat ini. Dan seingatnya Nyonya Shiori juga baru saja keluar dengan asisten pribadinya untuk berbelanja kebutuhan Akashi dan Aomine.
"Siapa?"
Maid itu membukakan pintu dan matanya langsung membelalak melihat sosok yang familiar. Pemuda bertubuh tegap dengan rambut berwarna merah yang identik dengan Tuan Muda Seijuurou namun dengan mata heterokrom merah dan emas.
"Seijirou-sama."
Seijirou tersenyum dan maid itu segera membukakan pintu untuk Seijirou.
"Tumben sekali anda pulang di pertengahan minggu, Seijirou-sama." Ujar maid itu. "Tuan Besar belum pulang, dan Nyonya Besar sedang berbelanja."
"Begitu ya. Aku pulang karena mendengar kabar Seijuurou sedang mengalami heat." Jelas Seijirou.
"Ah, ya itu memang benar. Seijuurou-sama mengalami heat sejak kemarin. Ia diantar oleh Aomine-sama."
"Aomine..."
Seijirou mengernyitkan alisnya. Begitu memasuki rumahnya, Seijirou menatap tangga yang menuju kamarnya dan kamar Seijuurou.
"Sepertinya heat Seijuurou-sama sudah dimulai lagi. Anda baru bisa mengunjunginya 6 hari lagi." Jelas maid itu
"Tentu. Kau boleh pergi."
Maid itu pun pamit dan segera kembali pada pekerjaannya. Seijirou menancapkan guntingnya ke pegangan tangga, membuat maid dan butler yang kebetulan lewat bergidik ngeri.
"Awas saja kau menyakiti adikku, Aomine Daiki."
~~oo00oo~~
Akashi mengerjapkan matanya dan duduk di ranjang. Ia melirik jendela dan menyadari hari sudah sore. Ia terduduk dan menyadari Aomine tak ada di sampingnya.
Entah kenapa ia tak merasa lemas lagi. Padahal rasanya ini baru hari kedua heatnya, tapi rasanya tenaganya sudah pulih sementara biasanya di hari kedua, ia masih tak dari tempat tidur.
Akashi pun memutuskan untuk mencari keberadaan matenya. Sebelum itu, ia mengenakan pakaian yang nyaman namun pantas. Ia segera membuka pintu kamar yang syukurlah tak terkunci dan mulai menelusuri kediamannya.
"Seijuurou-sama?!" Salah seorang maid tergopoh-gopoh menghampirinya. "Apa yang anda lakukan?! Berbahaya sendirian di masa heat anda!"
"Aku baik-baik saja kok. Mungkin malah heatku sudah berhenti." Akashi meyakinkan maid itu sambil tersenyum.
"T-tapi-"
"Aku tak apa. Kembalilah bekerja." Akashi tersenyum dan meninggalkan maid itu yang terbata dan mencoba mencegah Akashi pergi terlalu jauh. Akashi berjalan menelusuri tangga menuju lantai satu, namun nihil. Ia tak menemukan Aomine.
"Ke mana sih dia..." Akashi menggumam. Apa mungkin ia ada di dapur? Ya, mungkin saja mengingat Aomine yang membawakan makan siang dan makan malamnya sejak kemarin. Akashi pun berbalik menuju dapur.
Di tengah perjalanan menuju dapur, rasa panas menguasai tubuh Akashi. Akashi menghentikan langkahnya dan menumpukan diri ke tembok. Salah seorang butler yang baru saja keluar dari dapur menemukan Akashi tengah bersandar.
"Seijuurou-sama? Anda baik-baik saja?" tanya butler itu. Akashi menarik napas dan melihat butler itu yang menatapnya dengan tatapan heran dan khawatir.
"A-aku tak apa. Dai-"
Belum sempat Akashi menyelesaikan ucapannya, Akashi kembali jatuh terduduk. Mata butler itu membulat dan dengan segera menghampiri Akashi.
"Seijuurou-sama?!"
Aroma menguar ke seluruh ruangan, membuat para maid yang bekerja dan kebetulan lewat pusing seketika dengan feromon yang begitu kuat.
Sialnya bagi Akashi, butler di hadapannya adalah seorang alpha.
Hanya dengan sekali hirup, feromon Akashi langsung membuat butler itu bereaksi. Ia segera merapatkan Akashi ke tembok dan membuka paksa pakaian yang dikenakan Akashi.
"A-apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!"
Perintah itu tak didengar. Tangan butler itu menelisik ke dalam celana Akashi dan mulai memasukkan jarinya ke lubang yang berkedut itu.
"Aahhnn! Mmhh...leepaass...!"
Butler itu balas menatapnya dengan tatapan kosong. Ia pun dengan lancang mencium dan menambahkan tanda di leher Akashi. Ditambah stimulasi di lubangnya membuat Akashi bergidik ngeri.
"T-tidak...tidak mau..."
Butler itu pun membuka resleting celananya. Ditampakkannya penisnya yang sudah berdiri tegak. Iris Akashi membulat dan berkaca-kaca, ditambah butler itu melepas celananya paksa.
"Tidak...tidak! DAIKI!"
Suara tinju yang menghantam dagu seseorang menggema di lorong menuju dapur tersebut.. Akashi hanya bisa terdiam dengan napas memburu ketika dilihatnya butler itu sudah terkapar sejauh lima meter darinya. Kemudian yang ia lihat adalah Aomine dan lain yang bersembunyi karena ketakutan.
Aomjne mendekati butler itu dan segera menghajar wajahnya. Tak peduli celana butler itu merosot karena tak dikancingkan dengan benar.
"A-ampun, Aomine-sama-"
"Untuk apa aku mendengarmu?"
Aomine kembali ke kegiatannya menghajar butler itu hingga puas. Ia meninju wajah dan perut butler itu hingga ia tak bisa berdiri lagi. Tak lama, Masaomi datang karena seorang maid datang melapor padanya, diikuti oleh Shiori. Masaomi memandang butler yang sudah babak belur itu dengan tatapan merendahkan.
"Kau butler yang baru. Kijima Aritsugu." Ujar Masaomi. "Berani sekali kau menyentuh putraku. Terutama di saat matenya berada di sini."
"M-mohon ampuni saya, Tuan." Butler itu gemetar dan bersujud di hadapan Masaomi, namun Masaomi hanya menatapnya datar.
"Kau dipecat."
Wajah butler itu langsung memucat. Ia menatap Shiori, namun Shiori sendiri segera menghampiri Akashi.
"Seijuurou..." Shiori memanggil nama putranya, namun ia menelungkupkan diri di lututnya.
"Sei." Aomine memanggil Akashi dan menyentuh pundaknya.
"Tidak...aku tidak mau...lepaskan aku..."
Akashi terus menerus meracau. Aomine berjongkok di hadapannya dan mencoba memeluknya.
"Tidak! Minggir!" Akashi semakin menangis histeris dan mendorong Aomine. Shiori menatap Aomine khawatir, namun Aomine malah mengangkat tubuh Akashi meski ia memberontak.
"Tak apa. Biar aku yang tangani." Ujar Aomine. Segera ia bawa Akashi kembali dan tentu saja Akashi berontak
"Lepas! Lepaskan aku! Hiks...tidak...jangan..."
Aomine susah payah membuka pintu dan menguncinya lagi. Direbahkannya Akashi ke ranjang, namun malah membuatnya semakin sesengukan. Ditambah lagi heatnya yang kembali terasa.
"Sei..." Aomine mendekati Akashi, namun menangis.
"Ssst... Sei, ini aku. Daiki."
"D-Daiki...mmhh..."
Aroma Akashi semakin menguat. Aomine menindih tubuh Akashi, namun Akashi kembali meracau tak jelas.
"Aku tak akan menyakitimu..." bisik Aomine. "Aku janji."
Aomine mengelus tubuh mungil Akashi. Dapat dirasakan tubuhnya merinding karena sentuhan Aomine. Aomine mencium kembali bekas tanda mereka. Melumat dan memgecupnya. Perlahan agar Akashi tak ketakutan.
Heat Akashi semakin intens. Aomine memasukkan jarinya dan sukses membuat Akashi berteriak ketakutan.
"Tidak... tidak mau!"
"Ssshh...tenanglah...aku tak akan menyakitimu, ingat?"
Aomine mempercepat gerakannya, namun memastikan ia tak terlalu menuntut. Akashi yang tadinya begitu tegang kini lebih rileks. Seolah tubuhnya mengenali sentuhan Aomine.
Tak butuh waktu lama hingga lubang Akashi siap. Aomine memposisikan kejantanannya tepat di depan lubang Akashi. Merasakan benda asing itu di depan lubangnya, Akashi kembali menegang. Di tatapnya Aomine dengan mata berkaca-kaca.
"Kau akan baik-baik saja Sei." Ujar Daiki.
"Hiks...janji..?"
"Iya. Janji."
Aomine pun memasukkan penisnya perlahan membuat Akashi mendesah tertahan. Begitu seluruhnya masuk, Aomine mulai memaju mundurkan gerakan tubuhnya.
"Aannhh... Daikiii..."
Aomine merasa lega diam-diam karena Akashi kembali memanggil namanya. Dengan itu pun, Aomine leluasa bergerak. Ia menaikkan temponya, sehingga Akashi kembali mendesah.
"Ah, aannhh...mmhh..." Akashi mencengkram erat sprei yang menutupi ranjangnya, masih ketakutan namum sentuhan itu tak asing
Begitu hangat
Begitu nyaman
Tanpa sadar, Akashi mendekati klimaksnya. Ia segera menekukkan kakinya dan menekannya ke ranjang. Aomine menyadari itu dan mempercepat gerakannya.
"Gh...aannhh... Daiki...lagiiiihh..."
"Mmhh. Sesuai keinginanmu."
Aomine menghentakkan pinggulnya sekaligus memgeluarkan cairannya. Sensasi itu membuat Akashi juga turut mencapai klimaks. Aomine mengatur napasnya dan dilihatnya Akashi yanb langsung tertidur.
~~oo00oo~~
Aomine terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa Akashi tertidur memeluknya. Aomime memgelus rambut merahnya dan rambut itu makin menenggelamkan diri.
"Pagi, Sei."
Tak ada jawaban. Namun Aomine dapat merasakan anggukan dari rambut-rambut di hadapannya. Aomine memgelus rambut merah itu.
"Kau takut?"
Akashi terdiam seribu bahasa. Ia tahu yang Aomine maksud adalah kemarin. Akashi makin mengeratkan pelukannya dan mengangguk. Aomine mengangkat wajah Akashi dan mencium lembut pipinya.
"Tak apa. Aku janji akan melindungimu. Aku janji akan selalu ada untukmu."
Akashi merasa ia hampir menangis. Ia selalu bertanya apa yang sudah ia perbuat di masa lalu hingga pantas mendapatkan mate sebaik Aomine. Akashi mendekati Aomine perlahan dan mengecup bibirnya. Aomine membentuk seringai tipis.
Aah, memang bagi Aomine matenya itu paling manis
"Aku mencintai Daiki..." ujar Akashi
"Aku juga mencintai Sei." Balas Aomine.
Akashi semakin mengeratkan pelukannya, sementara Aomine kembali memeluk Akashi.
"Aku bersumpah aku akan selalu ada di sisimu."
~~~TO BE CONTINUED~~~
GILIRAN NAENA CEPET LO LA /ditabok/
Yah itu faktor authornya udah cukup tidur karena kelas kosong pagi ini whuahahahha /digebuk/
Ya tapi gitu deh. Besok baik author maupun pemberi idenya sibuk seharian. Malah author masih ospek sampe Sabtu lagi HAHAHA INDAHNYA KULIAH /La tobat/
So segitu aja dari kita. RnR kudasai~?
