Lala-chan ssu and val pururin proudly present

It's Like Beauty and the Beast: Side Story

Pair: AoAka

Rated: Kembali ke T

Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada

Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, MENGANDUNG PELAKOR ATAU PHO DLL DKK

Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi

DLDR

~~oo00oo~~

Side 11: Trouble is Part of Life

~~oo00oo~~

Festival olahraga Akademi Teikou memang selalu ramai. Berbagai macam event olahraga menarik diselenggarakan, dan tentunya para murid bahkan staff akademi pun antusias. Tentunya para anggota Generasi Keajaiban tak mau ketinggalan

"AYOOO MAJU KELAS 1-B!"

"3-D JANGAN KALAAHH!"

"AYO SEMANGAT TERUS 2-E!"

Teriakan demi teriakan bersahut-sahutan. Saling menyemangati jagoan kelas masing-masing. Sekarang diadakan cabang lomba atletik lari rintangan. Para murid semakin riuh meneriakkan dukungan mereka.

Kini, kelas 1-D memimpin di depan. Kelas 1-D menurunkan Aomine ke cabang atletik tentu karena kemampuan fisiknya yang hebat. Aomine dengan mudah melewati lawannya dan rintangan yang dibuat. Bermain basket di jalanan membuat rintangan itu seperti mainan anak TK untuknya.

"OOOHHH! AYO MAJU, AOMINEEE!" seluruh kelasnya bersorak. Kemenangan sudah di depan mata.

"Ayo, Daiki! Sedikit lagi!"

Diam-diam, semuanya melirik Akashi. Akashi yang mengenakan pakaian olahraga putih nampak begitu manis. Tatapan matanya berbinar mengikuti seluruh pergerakan Aomine.

"Semangat, Daiki!" teriaknya lagi, kali ini sambil mengepalkan tangannya ke atas. Sikapnya itu begitu imut membuat semua yang melihatnya ter-kyuuun.

YA ALLAH PENGEN CULIK

Aomine pun mencapai garis finish. Seluruh kelas bersorak dan Akashi bertepuk tangan senang. Aomine melihat ke tribun dan mengarahkan kepalan tangannya ke arah Akashi sambil menyeringai senang. Akashi berbinar melihatnya lalu tersenyum dan balik mengarahkan kepalan tangannya. Yang lain langsung pundung.

Kenapa yang manis harus udah punya pacar sih duh hamba kuatt

~~oo00oo~~

"Pertandingan yang bagus, Aomine." Midorima dan Murasakibara baru datang dari permainan kereta kuda. Aomine menoleh ke arah mereka.

"Oh! Terima kasih!" ujarnya.

"Jangan lupa kau masih harus bermain basket melawan kelasku, Ahomine!" ujar Kagami. "Aku pasti akan mengalahkanmu!"

"Butuh 1000 tahun untukmu mengalahkanku, Bakagami!"

Kini anggota Generasi Keajaiban duduk di tribun penonton dan menonton pertandingan olahraga yang lain. Sekarang sedang ada eksibisi folk dance dari murid kelas 3. Posisinya adalah Aomine dan Akashi bersebelahan, dua bangku di sebelah kiri mereka ada Kise, di belakang mereka ada Kagami dan Kuroko. Lalu satu bangku dari Kagami ada Murasakibara, sementara di sebelah kiri Kuroko ada Midorima. Aomine merangkul bahu Akashi.

"Folk dance sepertinya menarik." Komentar Akashi. Matanya terfokus pada murid kelas 3 yang tengah menari dalam lingkaran.

"Hm. Saat kelas 3 nanti kita akan melakukannya." Ujar Aomine.

"Pasti menyenangkan."

"Tapi aku hanya ingin berdansa denganmu." Aomine mengatakan itu sembari mengecup pipi Akashi. Akashi memerah seketika.

"H-hentikan ah!" Akashi mengerucutkan bibirnya.

"Heehh...ayolah anggap saja ini hadiah untukku."

"Uhh...yasudah deh."

Akashi kemudian mengecup bibir Aomine. Aomine tersenyum sebelum memperdalam ciuman mereka, membuat Akashi sedikit mendesah di antara ciumannya.

"Mmhh...Dai-"

"Mnn...tunggu."

"Hmmhh..."

Seluruh anggota Generasi Keajaiban yang berada di dekat mereka, beserta murid lain yang melihat kejadian itu hanya bertampang madesu. Sudah mah jomblo, depan mata ada pasangan serasi pula.

'Turunkan jodoh kami dari langit, Ya Tuhaaan!' begitulah doa nelangsa para jomblo di sana

~~oo00oo~~

Kini saat yang ditunggu-tunggu, yaitu pertandingan basket antar kelas. Pertandingan pertama adalah kelas 1-D melawan kelas 1-C. Yang berarti adanya 4 bintang tim basket Teikou saling bertanding.

"KYYAAAHH! KISE-KUN SEMANGAT YAAA!"

"KISE-KUN LIHAT SINIII!"

"NOTICE ME, KISE-KUUNN!"

Kise pun langsung merasa sok kegantengan. Ia mengusap rambutnya ke belakang lalu mengedip ke arah para fansnya untuk servis tambahan. Semua fansnya pun kembali menjetit. Beberapa pingsan.

"Seperti biasa, selalu berisik." Gerutu Aomine.

"Berisik ah! Aominecchi punya mate, biarkan ada yang menyemangatiku juga dong ssu!"

"Kise-kun, bersiaplah dan berhenti jadi alay." Tegur Kuroko dari bangku lawan.

"KUROKOCCHI HIDOII!"

"BACOT LU KISE! BURUAN SIAP-SIAP! GATEL GUA PENGEN NGALAHIN LU BERDUA!" Keluh Kagami.

"Dih PEDE LU BAKAGAMI! LU GA BAKAL MENANG DARI GUA!" Aomine menunjuk-nunjukkan botolnya ke arah Kagami.

"'Kita', Aominecchi. Jangan lupakan aku ssu." Tegur Kise.

"Sapa lu? Gak kenal gua ama kuning alay kek lu."

"EMANG TEMEN BGST LO SEMUA!"

Aomine menoleh ke arah bangku penonton. Dilihatnya Akashi yang tengah duduk dan melambai padanya. Tangannya dibentuk membentuk kepalan seolah mengatakan semangat. Aomine tersenyum dan balik melambai pada Akashi. Semangat langsung membara di matanya.

"TE. FIGHT!"

"UWOOOOHHH!"

Tiba-tiba seluruh murid laki-laki berteriak semangat. Pasalnya, dari pinggir lapangan terdapat formasi cheerleaders dengan pakaian serba mini nan seksi menyemangati para pemain basket.

"Aominecchi lihat! Cheerledernya seksi sekali ssu!" Kise menepuk bahu Aomine sementara Aomine hanya mendecih.

"Giliran gua yang bilang gitu dikatain mesum gua."

"Kan Aominecchi emang mesum. Burik lagi."

"MATI LU DASAR KUNING ALAY!"

Aomine melengos dan berjalan mendekati bench. Tak sengaja, ia hampir menabrak salah satu cheerleader.

"Ups, kau baik-baik saja?" tanya Aomine. Cheerleader di hadapannya bertubuh setinggi dadanya dan tentunya dengan tubuh yang membuat siapapun tergiur. Rambut cokelat panjangnya dikuncir menambah kesan manis.

"I-iya aku tidak apa-apa." Gadis itu menunduk. Aomine mengangguk dan berlalu menuju lapangan

Akashi memperhatikan semuanya terjadi. Ada sepercik rasa cemburu melihatnya. Ditambah lagi, ia melihat gadis tadi berkumpul dengan teman-temannya dan nampak sedang girang akan sesuatu. Akashi mengernyit tak suka.

Pertandingan dimulai. Sorak sorai semakin riuh karena kedua tim saling mencuri angka. Semuanya mendukung tim kebanggaan masing-masing, dan tentunya disemarakkan dengan performa cheerleader. Akashi juga turut mendukung matenya, namun pikirannya tak bisa lepas dari kejadian tadi.

Pertandingan berakhir dengan skor tipis. Kemenangan untuk kelas 1-D. Semuanya memberi applaus untuk permainan yang seru dan adil. Setelah itu, banyak para cheerleader berebutan memberi minum kepada anggota tim, terutama pada Kise. Fansnya pun tak mau ketinggalan dan memgerubungi Kise. Akashi pun segera bangkit dan membawa handuk serta minuman untuk matenya. Buru-buru ia berlari menuju tim kelas 1-D, namun ia terhalang kerumunan

Aomine berusaha keluar dari tumpukan fans psikopat (kata Midorima) Kise. Langkahnya menuju bench terhenti karena handuk dan minuman yang disodorkan padanya.

Aomine berbinar dan hendak memanggil nama matenya, namun terhenti begitu melihat bahwa gadis cheerleader tadi yang tadi hampir ia tabrak.

"A-Aomine-san sangat keren tadi." Ujar gadis tadi.

"Oh, terima kasih." Aomine pun menerima handuk dan minuman itu.

"A-aku Mochiyama Haruna dari kelas 1-A!"

"Oh, senang mengenalmu."

Akashi akhirnya keluar dari kerumunan fans berisik Kise. Langkahnya terhenti melihat Aomine menerima handuk dan minuman dari gadis cheerleader yang ia lihat tadi. Dadanya sesak seketika. Digenggamnya handuk dan minuman yang ia pegang dan segera berbalik pergi. Kembali ke kerumunan dan menghilang.

Akashi hanya berharap tak ada yang melihat matanya yang berkaca-kaca.

~~oo00oo~~

Aomine menoleh ke kanan dan kiri saat ia duduk di bench. Ia kemudian melihat ke arah tribun penonton namun ia tak melihat sosok yang ia cari.

"Mencari apa, Aomine?" tanya Kagami yang kebetulan duduk di sebelahnya.

"Aku tidak melihat Sei. Kemana dia." Gumam Aomine. Kagami mengernyit, mencoba mengingat.

"Aku sepertinya tadi melihatnya berjalan kemari. Kukira dia menghampirimu." Ujar Kagami. Aomine menggeleng.

"Dia tak menghampiriku." Ujar Aomine. Ia lalu melihat jadwal di ponselnya.

"Oh! Sepertinya dia ke lapangan atletik lagi. Aku ingat salah satu temannya berlomba lari maraton 100 meter." Aomine pun bangkit dan tanpa basa-basi menuju ke lapangan atletik.

Sesampainya di lapangan atletik, ia segera mencari sosok Akashi. Jackpot, ia menemukan Akashi sedang mencari tempat duduk.

"Sei!"

Akashi terhenti mendengar suara Aomine dan langkahnya yang mendekat. Refleks, Akashi berjalan asal menuju salah seorang kakak kelas mereka dan duduk di sebelahnya. Kalau tidak salah namanya Hanamiya Makoto. Awalnya omega yang lebih tua itu nampak terganggu kesendiriannya, namun begitu Aomine memasang wajah shock, segera ia ajak Akashi bicara.

Ada apa dengan Sei...?

~~oo00oo~~

Aomine berjalan dengan gusar menuju ruang loker gym. Entah kenapa Akashi menghindarinya seharian tanpa alasan. Setiap ingin didekati, ia selalu menghindar. Dipanggil pun ia pura-pura tak mendengar. Bahkan tadi Kuroko bilang ia mendengar Akashi menelpon supirnya untuk dijemput, menandakan ia tak akan pulang bersama Aomine

Padahal seingatnya Aomine tak membuat kesalahan

Asyik dengan pemikirannya sendiri, Aomine tak menyadari ada gadis yang berdiri di hadapannya. Sedetik sebelum mereka bertabrakan, barulah Aomine menghentikan langkahnya.

"Waah, bahaya." Aomine menghela napas. "Sedang apa kau di tengah jalan?"

"A-Aomine-san..." gadis itu, Mochiyama, menarik napas. "Apa benar Aomine-san sudah memiliki mate?"

"Huh?" Aomine mengangkat alis. Ia pikir seluruh sekolah sudah tahu.

"Aku menyukai Aomine-san." Gadis itu melangkah semakin dekat, menempelkan tubuh langsingnya ke tubuh Aomine. "Aomine-san, kumohon jadianlah denganku."

"HAH?!" Aomine merasa dunia ini sedang jungkir balik. Belum masalah Akashi selesai, sekarang ini?!

"Hei, dengar." Aomine mencoba menjauhkan diri dari gadis itu, namun ia malah makin mendekat. "Aku sudah punya mate, jadi cari orang lain saja."

"Aku hanya ingin Aomine-san!" ujar gadis itu tegas. "Apa yang bisa diberikan omega itu padamu yang aku tak bisa?!"

"Oi—"

Mata Aomine membelalak melihat Akashi yang ternyata berada di lorong, tepatnya di belakang Mochiyama. Lama mereka saling bertatapan.

"S-Sei..." mendengar penuturan Aomine, Mochiyama menoleh. Mochiyama dan Akashi pun saling bertatapan. Namun Akashi segera menatap balik Aomine.

"S-Sei, begini—"

Iris biru Aomine membulat melihat setetes air mata jatuh dari mata merah Akashi. Tanpa basa-basi, Akashi pun lari dari hadapan mereka.

"Tung—Sei!"

Aomine buru-buru menyusul Akashi, namun terlambat. Begitu Aomine sampai di halaman, Akashi sudah memasuki mobil dan menjauh dari SMA Teikou.

"SEI!"

Aomine pun mati-matian mengejar mobil itu, namun tampaknya kecepatannya ditambah membuat Aomine tertinggal. Aomine langsung berhenti dengan napas terengah, merutuki nasibnya.

"Tch, sialan!"

~~oo00oo~~

Masaomi dan Shiori tengah menikmati sore mereka yang tak sibuk sampai mendengar suara pintu depan dibuka. Shiori segera menoleh, menyadari bahwa putra bungsunya telah pulang.

"Seijuurou, selamat da—"

Kalimat Shiori terhenti begitu melihat mata Akashi yang sembab. Masaomi langsung menutup korannya dan mendekati Akashi. Shiori segera menarik putranya untuk duduk di sisinya.

"Seijuurou, siapa yang melakukan ini?" suara Masaomi terdengar mengancam.

"Tenang dulu, sayang." Shiori menenangkan suaminya dan beralih pada Akashi. "Seijuurou, nak, apa yang terjadi?"

Mendengar suara lembut ibunya malah membuat Akashi semakin sesengukan. Shiori pun segera mendekap Akashi dan mengelus rambutnya. Masaomi mendengus dan membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Setelah beberapa saat, ia duduk di sebelah Akashi.

"Aku sudah menghubungi Seijirou. Ia akan datang satu jam lagi." Ujarnya. Ia menyamankan diri di sebelah Akashi sementara Akashi masih terisak.

Setidaknya dikelilingi keluarganya membuat Akashi merasa lebih baik

~~oo00oo~~

Aomine melangkah terburu-buru menuju kediaman Akashi. Begitu sampai di pagar besar rumah Akashi dan memencet bel berkali-kali. Ia ingin buru-buru meluruskan kesalah pahaman ini. Semoga Akashi masih sudi mendengarkannya.

Tak lama, pintu pun terbuka. Menampakkan sosok salah satu maid yang sudah cukup berumur. Dan Aomine tak tahu apakah matanya memicing karena tak dapat melihat Aomine dengan jelas di kegelapan malam atau karena sepertinya ia menatap Aomine penuh benci.

"Ehmm...apa Sei ada di dalam?"

Maid itu menatap Aomine sebelum mempersilahkannya masuk.

"Seijuurou-sama ada di dalam." Ujar maid itu singkat sebelum kembali pada pekerjaannya. Selama Aomine berjalan pun ia mendapat berbagai tatapan tajam dari para maid dan butler di sana.

Aomine serasa jadi narapidana tingkat satu.

Aomine menarik napas begitu sampai di depan pintu rumah Akashi. Ia mengatur napasnya sebelum mengetuk. Begitu mendapat perintah masuk, Aomine membuka pintunya perlahan.

"Selamat ma—"

SYUUUTT JLEB!

Aomine merasa nyawanya hampir saja keluar dari ubun-ubun. Sebuah gunting nyaris saja menusuknya tepat di mata kanan kalau ia tak menghindar. Namun apa yang ada di hadapannya jauh lebih menyeramkan hingga ia berharap gunting tadi pas mengenai matanya. Kalau perlu dua-duanya sekalian.

Karena di hadapannya kini ada Seijirou dan Masaomi yang berdiri dengan tangan disilangkan di depan dada.

"Apa yang kau lakukan pada Seijuurou?" Masaomi langsung bertanya.

"T-tidak ada pak.'

"Lalu kenapa dia menangis?" kali ini Seijirou yang mendesak.

"Ukh...itu kesalah pahaman!"

"Kesalah pahaman macam apa sampai dia menangis hah?"

"Makanya aku kemari—Seijirou, jauhkan gunting itu dariku!"

"Aku mempercayakan putraku padamu bukan untuk kau mainkan hatinya, Aomine Daiki."

"Kumohon izinkan aku bicara pada Sei!"

"Percuma." Seijirou bersandar di tembok. "Dia tak mau menemuimu."

Aomine menatap Seijirou tak percaya. Ia menunduk dan mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya.

"Aku ingin bicara padanya."

"Untuk apa la—"

"Kumohon, aku hanya ingin bicara! Demi Tuhan, apa aku harus bersujud?! Akan kulakukan!"

"Daiki."

Aomine tersentak dan melihat Akashi didampingi Shiori. Ia sudah berganti pakaian, namun matanya masih sembab.

"Seijuurou, pergi ke kamarmu." Perintah Masaomi, namun Aomine memberontak dan mendekati Akashi.

"Sei! Dengarkan aku!"

Akashi memalingkan wajahnya, enggan menatap wajah Aomine.

"Sei, kumohon...bicaralah padaku..."

Akashi menggigit bibirnya. Ia ingin mengabaikan Aomine. Hatinya terlampau sakit.

"Berhenti." Masaomi menarik Aomine menjauh dan dengan mudah menjatuhkannya ke lantai. "Aku tidak mentolerir pembuat onar di rumah ini."

"Aku hanya ingin bicara pada Seijuurou." Akashi melirik Aomine yang masih menunduk. Aomine mengubah posisi duduknya menjadi posisi bersujud.

"Saya mohon! Dengarkan perkataan saya lebih dulu!"

Akashi menggigit bibirnya, menahan air mata yang rasanya ingin kembali keluar. Kedua tangannya mengepal dan melangkah mendekati Aomine.

"Kau bisa saja pergi dengan gadis itu." Akashi membuka suara. "Untuk apa kau repot-repot kemari untukku?"

"Karena kau mateku, Sei..." Aomine membalas, masih dengan posisi bersujud. "Aku tak mungkin meninggalkanmu dengan orang lain. Dia hanya menggodaku, itu saja."

"Lalu kau tergoda?"

"MANA MUNGKIN!" nada Aomine yang meninggi membuat Akashi tersentak. "Mana mungkin aku tergoda dengan orang lain sementara di kepalaku hanya ada dirimu!"

Akashi diam seribu bahasa. Ia duduk di hadapan Aomine dan menarik dagunya hingga kedua mata mereka bertemu.

"Padahal apa gunanya mempertahankanku..." Akashi menghela napas. "Gadis tadi...tubuhnya bagus. Bukannya kau suka yang seperti itu."

"Hah. Yang benar saja." Aomine mendengus. "Tidak ada yang bisa menggantikanmu di mataku."

Akashi membiarkan air mata kembali mengalir. Ia menunduk dan membiarkan tangisannya membuncah. Aomine tak berkata apapun dan mengusap air mata Akashi. Shiori menghela napas dan tersenyum melihat tingkah putra dan matenya. Masaomi dan Seijirou hanya menatap mereka datar, namun dalam hati sedikit lega.

Setelah tangisan Akashi mereda, Aomine membantunya bangkit dan mengusap sisa air matanya kembali. Mereka saling menukar senyum. Yah, mereka baik-baik saja kini

Bahu Aomine kemudian ditepuk dari belakang. Aomine menoleh dan mendapati Seijirou dan Masaomi menatapnya dengan tatapan membunuh.

"Jangan kira masalahmu dengan kami selesai begitu saja."

Ah, semoga Aomine masih bisa melihat matahari terbit besok

~~~TO BE CONTINUED~~~

Apalah itu osjur /digeplak/

Halo readers! Ketemu lagi sama Lala dan val di sini karena val masih libur sedangkan Lala udah mulai jadi budak IP dan organisasi HAHAHAHA KATANYA GA MAU IKUT HIMA AUTO KEBRAINWASH PAS OSJUR GEBLE GAK /apasi/

Oke udahan curhatnya. Bales review dulu

SesilliaS sayang ff ini masih bergenre vanilla. Tapi bisa lah untuk lain hari (KULIAH GBLK) Makasih reviewnyaaa~~

Orang Lewat Hmmm...untuk tema itu kayaknya terlalu berat karena mereka masih sekolah. Jadi sayang sekali idenya tidak bisa dipakai untuk FF ini karena ini FF santuy sesantuy Lala pas tugas osjur pertamanya gak selesai /woi/ Tapi saya bilang untuk FF ini lho ya—/WOI/

YAK segitu dulu untuk chap kali ini. Akhir kata,

RnR?