Lala-chan ssu and val pururin proudly present

It's Like Beauty and the Beast: Side Story

Pair: AoAka

Rated: Kembali ke T

Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada

Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, MENGANDUNG PELAKOR ATAU PHO DLL DKK

Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi

DLDR

~~oo00oo~~

Chapter 12: Another Madness

~~oo00oo~~

Akashi mengenakan seragamnya dan mematut dirinya di cermin. Sempurna sudah. Ia tersenyum dan mengambil tasnya yang ia gantung di gantungan sebelah lemari. Ia membuka pintu kamarnya dan bergegas menuju ruang makan.

Sesampainya di ruang makan, ia sudah disapa oleh ibu dan ayahnya. Akashi tersenyum pada mereka sebelum menyantap sarapannya.

"Seijuurou, ayo cepat. Daiki-kun sudah menunggu di luar." Tegur ibunya.

"Baik, bu." Akashi segera menyelesaikan sarapannya dan bergegas menuju genkan.

"Ayah, ibu. Aku berangkat dulu." Pamit Akashi pada kedua orang tuanya.

"Hati-hati di jalan, sayang." Shiori mengecup dahi putranya sebelum melepasnya pergi.

Di luar, Akashi melihat Aomine bersandar pada tembok. Seragamnya yang berantakan sungguh kontras dengan penampilan Akashi yang serba rapi. Aomine menoleh dan langsung tersenyum sumringah melihat Akashi.

"Selamat pagi, Sei." Aomine menyapa mate tercintanya dan dibalas senyuman yang sama bahagianya.

"Pagi, Daiki. Ayo kita bberangkat."

Akashi meraih tangan Aomine dan disambut genggaman tangan dari alphanya. Mereka saling bergandeng tangan hingga memasuki wilayah sekolah. Terasa nyaman berada di sisi satu sama lain.

~~oo00oo~~

"Seperti biasa Aominecchi dan Akashicchi mesra sekali ya ssu."

"Berisik, Kise! Bisanya komentar doang, dasar kuning alay!"

"Yee biasa aja sih kok malah ngegas dasar burik!"

"Burik tapi gak jomblo yeeeee!"

"DIEM LU AH!"

"Sumpah lu semua bacot bat pagi-pagi!" keluh Kagami mendengar pertengkaran gak penting Aomine dan Kise. "Ributin hal yang lebih berfaedah bisa gak?"

"Kayak misalnya gimana cara agar Kagami-kun berhenti ngegayem burger terus-terusan?"

"DIEM LU, KUROKO! BIKIN KEADAAN MAKIN GAK KONDUSIF AJA LU TAU GAK?!"

"Lah itu kan berfaedah, Kagami-kun. Ingat, banyak penderita obesitas yang mati." Rupanya Kuroko bisa bijak juga.

"YA NGOMONG KE MURASAKIBARA JUGA NGAPA!"

"LU PADA TAMBAH GAK FAEDAH ASLI!" sembur Aomine.

"Sudahlah, Daiki." Tegur Akashi. "Kau selalu saja begitu pada temanmu."

"Mereka duluan, Sei!"

"Tidak boleh. Mereka sudah banyak membantumu, kan?"

"NOH DENGERIN KATA PACAR LO NOH!" Kagami ngegas

"Hiks. Kenapa malaikat ini harus terperangkap sama Aominecchi sih..." Kise mengelap air mata sok drama.

"SUMPAH MINTA DIEKSEKUSI LO BERDUA!"

Sementara Aomine dan duet Kise-Kagami baku hantam, dari jauh ada sekumpulan perempuan anggota grup cheerleader memperhatikan mereka

"Itu Aomine Daiki kan?" tanya salah satu perempuan berambut hitam bergelombang.

"Iya. Harucchan sering membicarakannya." Jawab salah seorang lagi yang berambut pirang dan berkulit agak gelap, dengan riasan tebal khas gal menghias wajahnya

"Omega di sebelahnya itu siapa sih? Menempel terus." Ujar gadis lain yang berambut merah dipotong pendek.

"Duh Yariko gak update banget sih, itu kan yang disebut-sebut matenya Aomine." Perempuan berambut hitam memutar matanya.

"Loh, lalu Harucchan bagaimana?" gadis berambut pirang itu mengalihkan perhatian dari cermin nya.

"Entahlah. Sejak festival olahraga itu dia tidak masuk." Gadis berambut hitam itu menyeruput jusnya.

"Kok bisa gak tau? Miyuki, kau kan yang paling dekat dengan Haruna." Komentar Yuriko

"Huh! Kau tahu sendiri dia tak membalas pesan kita sama sekali kan, Kana!" keluh Miyuki. Ia menoleh dan mendapati objek perhatian mereka sudah tidak ada.

"Jika sampai hari ini tidak masuk, kita ke rumahnya saja sore ini. Toh pelatih juga menanyainya terus." Gadis berambut pirang masih nampak asyik dengan maskaranya

"Yasudah. Tapi kau yang izin pelatih ya, Ritsu!"

"Hah, kok aku?!"

Di antara adu argumen mereka, sosok berambut cokelat digerai menghampiri meja mereka.

"Teman-teman..." panggil gadis itu. Yang lain segera menoleh.

"Haruna!" pekik Miyuki. "Kau itu kemana saja sih?! Kenapa pesan kami tak dijawab?!"

Haruna tak menjawab. Ia hanya menunduk dan menahan tangisnya.

"A-Aomine-san menolakku..." ujar Haruna sebelum tangisnya pecah. Teman-temannya saling beradu pandang.

"Haruna, biasanya kau tak seperti ini karena patah hati. Apa ada hal lain?" selidik Yuriko. Haruna mengusap air matanya.

"M-mate Aomine-san... A-Akashi Seijuurou...dia menyudutkanku waktu itu..." Haruna terisak pelan. "Dia...mengancamku untuk tak mendekati Aomine-san..."

"Apa katamu?!" Ritsu yang sejak tadi sibuk dengan make-upnya menggebrak meja. "Berani sekali dia! Memang dia kira dia siapa?!"

"Dia putra bungsu pemilik Akashi Corp." Balas Yuriko kalem.

"Persetan! Apa-apaan sikapnya itu! Dia harus diberi pelajaran!"

"Aku setuju dengan ucapan Ritsu." Ujar Miyuki. "Orang sombong macam dia perlu diberi pelajaran."

"Hah! Tentu saja! Dia tak tahu sedang berhadapan dengan siapa!" Ritsu berkacak pinggang.

"Yah, terserah saja deh." Yuriko mengangkat bahu.

Sementara Haruna memperhatikan temannya. Ia melirik tempat yang biasa ditempati anggota Generasi Keajaiban dan Akashi.

'Kita lihat saja siapa yang akan tertawa di akhir, Akashi Seijuurou.'

~~oo00oo~~

Akashi berjalan menuju perpustakaan sambil membawa beberapa buku yang ia pinjam. Lorong perpustakaan cukup sepi mengingat sepertinya para murid lebih memilih menghabiskan waktu di kantin daripada di perpustakaan. Akashi sendiri hanya meminjam buku dan membawanya untuk dibaca di rumah. Ia juga senang menghabiskan waktu istirahat bersama matenya.

Akashi terlalu fokus ke depan dan tak memperhatikan empat orang gadis di sebelah kirinya. Salah seorang dari mereka mengulurkan kakinya sehingga membuat Akashi terjatuh. Bukunya pun jatuh dan mengenai tubuhnya.

"Ukh..." Akashi menoleh mendapati keempat gadis itu menatapnya bengis. Dan Akashi amat mengenali gadis berambut cokelat yang menyandungnya.

"Kau..." kalimat Akashi tergantung

"Lama tak bertemu, ya." Ujar Haruna sambil menginjak kaki Akashi dan segera berlalu. Ketiga temannya pun mengikuti membuat Akashi mengaduh kesakitan.

"Ini belum apa-apa, Akashi Seijuurou!"

Keempat gadis itu pun pergi. Akashi memegangi kakinya sambil menatap mereka.

~~oo00oo~~

"Oh, Sei. Kau meminjam buku di perpustakaan lagi?"

Akashi mendongak dan tersenyum melihat matenya. Dilihatnya Aomine tengah duduk di meja Kise sementara Kise nangis Bombay sambil memeluk Kuroko yang sedang main ke kelas mereka. Yang dipeluk sibuk memukuli kepala sang kuning alay.

"Ya, seperti biasa." Ujar Akashi. Ia melangkah perlahan dan duduk di tempatnya. Aomine menyadari itu dan menarik kursi untuk duduk di sebelah omega tercintanya.

"Jalanmu agak aneh. Kakimu kenapa?"

Hati Akashi seolah lepas dari tempatnya. Ia terkekeh canggung dan mengusap tengkuknya.

"Ini...tidak apa kok. Hanya pegal karena pelajaran olahraga kemarin." Akashi membuat alasan. Untungnya Aomine hanya ber-ooh ria.

"Kenapa tidak bilang? Aku kan bisa ke perpustakaan untukmum"

"Kau tidak tahu buku mana yang mau ku pinjam kan?"

Ya, Aomine tak perlu tahu soal ini.

~~oo00oo~~

Akashi berjalan dari ruang klub menuju toilet. Karena toilet dekat gym sedang dalam perbaikan, mau tak mau Akashi harus memasuki gedung sekolah. Suasana lorong begitu sepi. Hanya ada suara langkahnya menggema.

Akashi segera memasuki salah satu bilik toilet dan mengunci pintunya. Tak lama, sayup-sayup terdengar suara orang masuk. Akashi tak menggubrisnya mengira ada murid lain yang ingin menggunakan toilet dan segera ia hendak membuka celananya.

Akashi nyaris berteriak merasakan air dingin tersiram dari atas kepalanya. Yang ia rasakan adalah basah kuyup di sekujur tubuhnya. Akashi segera membuka pintu dan mendapati keempat gadis cheerleader yang kemarin ditemuinya.

"Apa mau kalian?" selidik Akashi. "Ini toilet laki-laki. Jika tidak ada keperluan, pergilah."

"Kau itu keperluan kami." Balas Miyuki dingin. Ia menarik tubuh Akashi dan melemparnya ke tembok. Belum sempat Akashi bangkit, ketiga gadis lainnya menendang tubuhnya sambil tertawa. Haruna bahkan memukulkan gagang pel ke pinggang Akasih membuatnya menjerit kesakitan.

Mereka melakukan itu cukup lama. Setelah bosan, mereka meninggalkan Akashi yang kedinginan dan kesakitan di lantai toilet

~~oo00oo~~

Aomine merasa sikap Akashi berubah.

Akashi jadi semakin waspada pada sekelilingnya. Ia sempat berpikir Akashi akan memasuki masa heat lagi, namun tak ada perubahan signifikan dari aroma tubuhnya. Aomine malah menemukan rasa Takut dari aroma yang dikeluarkan tubuh Akashi, seolah ia merasa terancam.

Yang lebih aneh lagi, adalah hari ini

Aomine yang baru saja berganti pakaian menuju pakaian olahraga kini tengah duduk di atas mejanya sambil menguap. Namun ia masih sempat memelototi para alpha yang dengan lancangnya memperhatikan Akashi berganti pakaian.

Aomine melirik Akashi. Iris birunya sedikit membulat melihat bekas luka kebiruan dan lecet di tubuh Akashi. Ia tak ingat Akashi memiliki luka seperti itu.

"Sei, ini kenapa?"

Aomine menyentuh luka memar di lengan Akashi membuatnya berjengit dan refleks menjauh dari Aomine.

"Ah...tidak apa. Hanya...terjatuh."

Aomine mengangkat alis. Akashi tak seceroboh itu. Ia membuka mulut, hendak menginterogasi lebih jauh.

"Ah, guru sudah memanggil. Ayo cepat."

Akashi pun buru-buru meninggalkan kelas

~~oo00oo~~

"Sei, ayo pulang sama-sama."

Aomine sudah memanggul tasnya. Akashi menoleh dan mengambil tasnya.

"Bisa tunggu sebentar? Rosho-sensei memintaku mengambil barang di gudang." Ujar Akashi. "Kau tunggu di dekat loker sepatu saja. Jadi nanti kita bisa langsung pulang."

"Baiklah." Aomine mendekati Akashi dan mengecup dahinya. "Hati-hati ya."

"Aku hanya ke gudang, Daiki. Astaga..." Akashi terkekeh dan berlalu. Aomine pun berjalan menuju arah yang berlawanan dengan Akashi.

Akashi pun sampai di gudang. Ia memasuki salah satu bagian gudang dan mencari peta dunia lama yang merupakan peta persebaran rute penjajahan eropa dahulu. Akashi menemukannya dan untungnya tak banyak debu menempel. Sepertinya ada guru yang salah meletakkannya di sana.

Baru Akashi keluar dari bagian gudang tersebut, ada beberapa orang yang menariknya untuk masuk ke gudang lain dan melemparkannya ke dalam. Akashi terbatuk dan dilihatnya Haruna yang mendorongnya masuk. Akashi buru-buru bangkit namun Haruna terlanjur membanting pintu gudang dan menguncinya dari luar.

"Apa yang kau lakukan?! Keluarkan aku!" Akashi berteriak sambil menggedor pintu gudang. Didengarnya tawa empat orang dari luar.

"Nikmatilah waktumu di dalam ya~"

"Jangan bercanda! Keluarkan aku dari sini!" Akashi berkali-kali menggedor dan mencoba mendobrak pintu itu

"Wah, wah, wah. Lihat apa ini."

Akashi berhenti seketika. Ia menoleh perlahan dan mendapati empat...bukan, sekitar enam orang alpha yang nampak kelaparan. Beberapa ia kenali sebagai senior. Mereka menyeringai menatap Akashi. Wajah Akashi pucat pasi seketika.

"Kenapa buru-buru ingin keluar begitu, hm?" salah satu di antara mereka merangkul Akashi. "Bukannya kau baru datang?"

"Lepas!" Akashi mencoba melepaskan rangkulan alpha itu namun malah dibanting menuju lantai yang keras. Alpha lain tertawa dan mengerumuni Akashi. Salah seorang dari mereka dengan wajah paling menyeramkan menyeringai dan berjongkok di depan Akashi.

"Heh. Ada gunanya juga menolong wanita-wanita jalang itu. Omega ini benar-benar cantik."

Akashi bergidik seketika. Rasa takut semakin menguasai tubuhnya di kala para alpha itu mulai mengerumuninya dan pemimpin mereka membuka resleting celananya.

"Aku jadi ingin tahu bayi macam apa yang bisa dihasilkan omega sepertimu."

~~oo00oo~~

Aomine mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Sudah hampir 30 menit namun Akashi tak kunjung kembali. Padahal mungkin hanya membutuhkan 10 menit dari gudang menuju ruang guru dan loker sepatu.

Aomine mengacak rambut pendeknya dan berjalan menuju gudang. Ditambah lagi firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. Buru-buru ia berjalan ke arah gudang.

"Sei?" Aomine sampai di daerah gudang namun suasana nampak begitu sepi.

Tapi sepertinya tidak terlalu sepi karena Aomine mendengar suara ribut dari gudang penyimpanan alat olahraga.

"HENTIKAN! LEPAS!"

"DIAMLAH OMEGA SIAL!"

"TOLONG! LEPASKAN AKU!"

Aomine membelalak menyadari suara itu sangat dikenalinya. Segera Aomine mencoba membuka paksa pintu tersebut dan menggedornya.

"SEI! KAU DI DALAM?!" teriak Aomine.

"DAIKI—AAKKHH!"

Aomine langsung saja mendobrak pintu itu dengan seluruh tubuhnya. Tiga kali dobrakan akhirnya pintu terbuka. Yang dilihatnya pertama kali adalah enam orang alpha mengerumuni Akashi yang sudah hampir telanjang

Yang dilihat Aomine hanya merah. Langsung saja ia menghajar keenam alpha itu dengan membabi buta. Beberapa ada yang hendak memukuli Aomine dari belakang, namun dibalas dengan mudah. Saat salah satu hendak memukul Aomine dengan gagang pel, Aomine menarik gagangnya dan menjedukkan kepala orang itu ke tembok hingga pingsan. Yang lain menerjangnya namun Aomine menarik kerah salah satu dari mereka dan membanting mereka ke arah kotak penyimpanan bola basket.

Semua alpha itu tumbang seketika dengan kondisi yang tak terbilang baik. Aomine mengontrol napasnya yang terengah dan dilihatnya Akashi yang masih menangis. Aomine menghampiri matenya perlahan.

"Sei...?"

Akashi mendongak. Langsung saja ia memeluk alphanya dan menangis sesengukan. Mendengar tangis Akashi, hati Aomine serasa hancur. Namun Aomine sudah tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa balik memeluk Akashi.

"Sshh... Tak apa, Sei. Sudah aman...aku di sini..."

Gudang itu hanya diisi isak tangis selama beberapa menit

~~oo00oo~~

"Mochiyama Haruna, Umekawa Miyuki, Kazama Ritsu, dan Yaezaki Yuriko. Kalian dalam masalah besar."

Setelah salah satu korban baku hantam Aomine mengaku mereka disuruh salah satu anggota klub cheers, ditambah keterangan dari Akashi, mereka berempat dikumpulkan di ruang kepala sekolah. Seluruh keluarga Akashi bahkan Seijirou mendatangi kepala sekolah Akademi Teikou. Akashi sendiri hanya bungkam dan memeluk Aomine, masih ketakutan. Aomine juga terus mengelus bahu Akashi, memberinya kekuatan.

"Pak, saya mohon dengarkan penjelasan kami!" pinta Haruna.

"Apalagi yang mau dijelaskan?" Masaomi memotong perkataan Haruna, membuat gadis itu bergidik. "Kau sadar kau bisa saja membunuh seseorang, nona? Dan kau masih menuntut kami mendengar penjelasan yang bisa saja tak masuk akal darimu."

"Akashi Seijuurou memulainya lebih dulu!" seru Ritsu. "Kalau saja ia tak memojokkan Haruna—"

"Kapan Sei memohonkannya?" ganti Aomine yang memotong pembicaraan. Keempat gadis itu terdiam.

"Kalian tuli?" Seijirou ikut bertanya. "KALAU DITANYA ITU DIJAWAB!"

Keempat gadis itu menunduk. Kepala sekolah mereka berdehem.

"Kami sudah memberikan skorsing selama 10 hari kepada para alpha yang menyerang Akashi Seijuurou. Dan untuk kalian bertiga, Umekawa, Kazama, dan Yaezaki." Kepala sekolah menoleh pada mereka. "Skorsing 10 hari dan kalian tak berhak mengikuti kompetisi selama satu tahun."

Ritsu, Miyuki, dan Yuriko mengeluarkan protes. Mendengar itu, mata Haruna bersinar.

"J-jadi saya bebas hukuman?" tanya Haruna.

"Untuk anda, nona Mochiyama." Ujar kepala sekolah. "Anda akan kami keluarkan dari sekolah ini."

Haruna menjerit dan menangis. Ketiga sahabatnya juga ikut menangis dan mengatakan kepala sekolah mereka tidak adil. Mereka pun digiring keluar karena takut akan menimbulkan keributan. Seijirou menghela napas dan menatap Aomine. Baru ia membuka suara, pintu ruang kepala sekolah diketuk.

"Aominecchi? Akashicchi?" Kise muncul dari balik pintu. "Ada yang mencari Akashicchi."

Akashi menoleh pada orang tuanya. Shiori tersenyum dan mengatakan ia dan Masaomi akan mengurus sisanya. Aomine pun menggandeng Akashi keluar.

Rupanya sudah ada seluruh anggota generasi keajaiban, Momoi, serta Takao dan Furihata.

"Akashicchi harus tegar ssu!" ujar Kise. "Akashicchi benar-benar hebat! Tak semuanya berani mengatakan pelaku pembullyan loh!"

"Itu benar, Akashi!" timpal Kagami. "Lagipula apa-apaan sih cewek-cewek itu. Menyebalkan."

"Bukannya aku peduli, nodayo. Tapi keberadaan gadis-gadis itu bisa merusak citra sekolah nantinya." Midorima menaikkan letak kacamatanya.

"Aka-chin. Ini Pocky rasa strawberry untukmu." Murasakibara memberikan pockynya.

"Akashi-kun hebat." Kuroko tersenyum. "Lagipula, kau tak sendirian. Ada kami untukmu, jadi sekarang kau bisa menumpahkan emosimu."

"SEI-CHAAAN!" Takao menghambur ke pelukan Akashi, disusul Momoi, kemudian Furihata. Ketiga omega itu menangis dan mengatakan betapa khawatirnya mereka begitu mendengar insiden tersebut. Tak lama, Masaomi keluar ruangan diikuti Shiori dan Seijirou.

"Kami sudah mengurus semuanya." Ujar Masaomi. Ia menghampiri putranya dan mengelus rambutnya. "Terima kasih kau mau memberitahu yang sebenarnya meski hampir saja terlambat. Jangan diulangi lain kali."

Akashi mengangguk dan membalas dengan lirih. Shiori mendekati Akashi dan memeluknya erat.

"Putraku yang manis...kau pasti ketakutan ya..." ujar Shiori sambil mengecup dahinya. Akashi hanya terdiam dan menunduk. Ia baru mendongak saat merasakan sentuhan kakak kembarnya di kepalanya. Seijirou tersenyum dan memeluk adik kembarnya itu. Ia melepas pelukannya dan menatap Aomine. Aomien seolah paham dan kembali merangkul Akashi. Shiori tersenyum dan mengajak Masaomi serta Seijirou kembali pulang. Setelah mereka menjauh, Aomine memeluk Akashi dan mengecup bibirnya.

"Daiki...?" Akashi berbisik lirih. Aomine menyapu bibir Akashi dengan ibu jarinya.

"Katakan padaku bila ada yang mengganggu mu." Ujar Aomine. "Aku ingin kau merasa aman bersamaku."

Akashi mengangguk. Ia memeluk Aomine semakin erat. Dirasakannya tubuh kecil Akashi bergetar. Aomine mengelus surai merahnya perlahan.

"Tak apa. Mereka tak akan mengganggu mu lagi." Aomine mengecup puncak kepala Akashi. "Kau aman sekarang. Aku ada di sini."

"J-jangan...pergi..." pinta Akashi.

"Tak akan." Ujar Aomine tegas. "Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Meski maut merenggutku, aku akan kembali padamu. Lagi dan lagi."

Akashi semakin sesengukan. Digenggamnya erat baju Aomine di bagian punggung dan kembali menangis. Yang lain menatapnya sambil tersenyum. Tak ada godaan, tak ada saling ribut dan cerca

Karena di saat sedih, mereka yang mencintaimu akan membahagiakanmu dua kali lipat

~~~TO BE CONTINUED~~~

KERJA LEMBUR BAGAI QUDA /dibuang/

HALO READERS YANG BUDIMAN KANGEN SAMA KITA GAAAKK? (readers: g)

Maaf lama banget updatenya. Maklum ya namanya juga maba. Apalagi Lala baru selesai osjur. Dan yah kita berdua sama-sama kecapekan dan saling tumbang hahahahahaha (ketawa garing)

Makasih buat yang udah setia nungguin. Akhir kata,

RnR?