Lala-chan ssu and val pururin proudly present
It's Like Beauty and the Beast: Side Story
Pair: AoAka
Rated: Kembali ke T
Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada
Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, MENGANDUNG PELAKOR ATAU PHO DLL DKK
Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi
DLDR
~~oo00oo~~
Chapter 13: I Love You to the Moon and Back
~~oo00oo~~
Senyuman
Senandungan
Langkah kaki yang agak berjingkrak
Seijirou memicingkan matanya. Meski dari luar Akasih bersikap biasa saja, mereka tetap anak kembar. Seijirou tau ada setitik perubahan dari sikap adik tercintanya.
"Sepertinya moodmu sedang baik, Seijuurou." Tegur Seijirou. Seijuurou yang tengah menyiapkan teh pun terkekeh.
"Begitukah? Aku merasa biasa saja." Elak Akashi
"Benarkah? Tampangmu bahagia sekali. Tak mau berbagi dengan kakakmu?"
Akashi semakin memperlebar senyum. Ia mendekatkan wajahnya pada Seijirou dan menaruh telunjuknya di bibir
"Ra~ ha~ si~ a~. Kakak tidak boleh tahu."
Seijirou mengerucutkan bibirnya
"Ayolah, kau tega pada kembaran mu sendiri."
"Biarin. Pokoknya ini rahasia!"
Seijirou semakin curiga
~~oo00oo~~
"...mine..."
"...mine."
"Aomine."
"WOY AHOMINE!"
"APAAN SI KOK SITU NGEGAS?!"
"LAGIAN LU DIPANGGILIN KAGAK NENGOK. LU CONGEAN?!"
"ENAK AJE LU!"
"KALEM NGAPA WOY"
Teguran Midorima membuat pasangan aho-baka yang bertengkar terus itu kembali bersungut. Yang lain hanya menghela napas
Kapan kebegoan ini akan berakhir
"Lagipula, Aomine. Kau harusnya berkonsentrasi. Kenapa kau malah bengong?" tanya Midorima
"Dih gua yang mo bengong kok situ yang protes."
"Minta digebuk sia."
"Tapi emang sih. Lu ngapa si bengong mulu?"
"Dih lu pada kepo amat sih ama hidup gua. Yah gini nih resiko jadi orang terkenal."
"BANYAK BACOT LU!"
Tak lama kemudian, Aomine kembali melamun. Yang lain saling menatap bingung sampai merasa ponsel mereka bergetar. Dan saat dibuka ternyata
From: Seijirou
To: Kisesai
Text: Besok kumpul di majiba jam 10. Jangan telat.
Seketika seluruh anggota Generasi Keajaiban merinding disko
Nih titisan iblis dapet nomor kita darimana coba?!
~~oo00oo~~
Festival musim gugur kota Teikou sebenarnya tak ada bedanya dengan festival biasa. Namun selalu ada saja yang tertarik berkunjung untuk sekedar menghabiskan waktu. Tak terkecuali dua insan manusia ini
"Daiki!" Akashi berlarian menghampiri Aomine. Tubuh mungilnya terbalut kemeja informal berwarna merah marun dan kaus hitam di dalamnya. Celana ¾ berwarna cokelat terang turut menambah manis penampilannya.
Aomine sendiri mengenakan jaket berwarna biru tua dipadukan kaus putih. Celana Jeansnya yang berwarna hitam menambah kesan jantan.
"Maaf, apa kau lama menunggu?" tanya Akashi
"Tidak. Aku juga baru datang." Ujar Aomine. Akashi mengulas senyum tipis.
"Kalau begitu, ayo kita jalan."
"Ung. Ayo."
Kedua kekasih itu kini menyatu di keramaian. Namun sayangnya pemirsa, ada saja halangan bagi mereka untuk memiliki kencan yang damai.
"Psstt. Dengan Maung Sinting, mereka mulai masuk festival—NAMA GUA NGAPA JADI MAUNG SINTING DAH?!" protes si Maung Sinting yang ternyata adalah Kagami.
"Tau nih ssu. Masa namaku Kuning Alay Ngeselin." Keluh Kise
"Saya memberi nama sesuatu ciri-ciri orangnya." Ujar seseorang yang rupanya adalah Michael Jackson—salah itu mah anime sebelah. Maksudnya Seijirou
"Guys. Mereka dah masuk." Ujar Midorima
Rupanya para Kisedai plus Seijirou buntutin AoAka. Dasar pelangi tukang lambe
"Tapi kaget gak sih tau-tau ditanyain Akashicchi mau kemana?" bisik Kise
"Gak tau ah. Raurus." Ujar Murasakibara
So, gimana lanjutannya? Cekidot.
~~oo00oo~~
"Brr...dingin."
Aomine melirik Akashi. Dilihatnya sang omega tengah mengusap-ngusap kedua telapak tangannya. Sesekali ia meniup-niupkannya dan kembali mengusapnya.
"Kau kedinginan?" tanya Aomine
YA MENURUT LO?!
"Iya, agak dingin." Jawab Akashi sambil tersenyum. Ia kembali menggosok kedua tangannya.
Tanpa banyak bicara, Aomine menarik tangan Akashi dan menggenggamnya. Yang lebih mengejutkan lagi, tangannya dimasukkan ke dalam kantung jaket Aomine.
"Sekarang sudah hangat kan?" tanya Aomine. Akashi merasakan wajahnya memerah namun ia hanya mengangguk pelan. Mereka pun perjalan beriringan dengan tangan saling bertaut di dalam kantung jaket Aomine.
"Seijirou-cchi! Kalem euy!" Kise menahan Seijirou yang sudah siap gunting ditambah Kagami dan Murasakibara.
"Minggir lo semua! Enak aja dia modus ke adek gua, emang dia sapa?!" Seijirou auto ngegas
'Ya mate adek lo lah!' pengen bilang gitu tapi nanti dihajar gunting.
~~oo00oo~~
Sayangnya kencan masih berlanjut.
Akashi melihat-lihat stand makanan penuh ketertarikan. Dirasakannya perutnya sedikit lapar. Ya jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Aomine menyadari Akashi mulai memperhatikan stand makanan. Ia kemudian melepaskan genggamannya pada Akashi. Akashi menelengkan kepalanya bingung namun hanya disambut tepukan di kepala.
"Tunggu."
Aomine berjalan menuju stand makanan dan tak lama kemudian kembali membawa sekotak takoyaki. Iris merah Akashi berbinar layaknya anak kecil.
"Ayo makan, Daiki."
Akashi meraih kotak takoyaki itu dan menusukkan satu bola takoyaki. Ia mengarahkan takoyaki itu pada Aomine yang disambut dengan baik. Aomine pun ganti menyiapkan takoyaki pada Akashi.
"Hmmhh...enhak..." ujar Akashi sambil mengunyah.
"Kalau makan jangan sambil bicara." Aomine menghapus sisa saus di ujung bibir Akashi.
"Iya, iya."
Di sisi lain, seluruh anggota Generasi Keajaiban hanya bisa gigit botol minum
"YA ALLAH PENGEN JADI PELAKOR AJA"
~~oo00oo~~
Hari sudah menjelang sore. Suasana festival semakin ramai karena puncak acaranya di malam hari, yaitu penampilan kembang api. Suasana di tempat festival kian ramai saja.
"Seijirou-cchi, kita mau buntuti mereka sampai selesai ssu?" tanya Kise.
"Iyalah. Ngapa? Ga mau lu? Yaudah sono balik mangkal lagi lu di Taman Lawang." Usir Seijirou.
"SEIJIROU-CCHI JAHAT SSU!"
"DIEM GOBLOK! NTAR KETAHUAN!"
"Kagami-kun sendiri ngegas."
Untungnya keberadaan mereka belum disadari oleh kedua insan yang sedang dibuntuti tersebut. Nampaknya mereka terlalu asyik dengan dunia sendiri hingga tak menyadari sekeliling.
Seijirou berkacak pinggang. Matanya menangkap sosok seseorang mengenakan topi dan tengah menunduk. Meski posisinya menunduk menutupi wajah, jelas sekali ia mengincar Akashi. Ah bukan, lebih tepatnya tas yang ia kenakan.
Sosok itu mendekati Akashi dan hendak meraih tas di pundaknya. Iris heterokrom Seijirou membulat. Ia hendak berteriak supaya adiknya menyadari hal itu.
"Oy, apa yang kau lakukan?"
Sosok itu bergidik begitu matanya bertemu pandang dengan mata biru Aomine. Sebetulnya Aomine hanya bertanya namun orang itu terlanjur ketakutan karena nada suara serta wajah Aomine. Ia gemetar sebelum berteriak.
"HUWAAAA! MAAFKAN AKUUUU!"
Seluruh pengunjung terheran-heran, terutama Aomine. Akashi yang baru sadar segera memeluk tasnya.
"Astaga bahaya sekali jambret tadi." Ujar Akashi. "Terima kasih, Daiki."
"Ou, sama-sa—LAAHH JADI TADI ITU JAMBRET?!"
Kisedai dan Seijirou face palm berjamaah.
~~oo00oo~~
"Kita mau apa lagi, Sei?"
Akashi menatap sekeliling. Rasanya ia sudah berkeliling festival, makan siang, dan tinggal menunggu penampilan kembang api. Lantas apa yang bisa ia lakukan selama menunggu?
"Oh! Ada banyak games festival." Ujar Akashi
"Kau mau main?" tanya Aomine.
"Ung! Ayo!"
"Oke. Bagaimana kalau tangkap ikan mas?"
"Ayo saja."
"Asal kau tahu, aku berbakat loh."
"Pfftt kita lihat saja, Daiki."
Mereka pun segera bermain di stand permainan tangkap ikan
...masih belum menyadari keberadaan stalker.
"Uukkhh...mereka kelihatan asik sekali ssu." Gumam Kise.
"Aku tak tahu kenapa aku setuju dengan ini nodayo." Midorima menghela napas.
"Tapi tadi Midorima-kun paling ssemangat"
"KUROKO—"
"Aku lapaaarr..."
"Kenapa si Ahomine mesra banget sih?!"
Seijirou memijit pelipis. Kenapa kelakuan Generasi Keajaiban kayak begini. Tau gitu dia jalan sendirian aja.
Tak lama, Aomine berhasil menangkap sepasang ikan mas. Diperlihatkannya hasil tangkappannya itu pada Akashi.
"Lihat aku dapat!" ujar Aomine. Akashi menepuk tangannya pelan.
"Daiki hebat. Selanjutnya main itu yuk."
Akashi menunjuk stand tembak tak jauh dari sana. Aomine pun mengiyakan.
Mereka membeli dua giliran, masing-masing giliran mendapat 10 peluru.
Akashi dengan mudah mengambil salah satu hadiah berupa gantungan kunci kecil berbentuk pikachu. Akashi terkekeh melihatnya.
"Kalau begitu ini untuk Daiki." Ujar Akashi. Aomine mendengus.
"Maksudmu aku tak bisa mendapat lebih?"
"Oh? Coba saja."
Aomine pun mulai fokus. Tujuannya adalah boneka berbentuk singa yang paling besar. Ia memposisikannya dengan baik karena itu adalah peluru terakhirnya.
TAARR!
Satu kali tembakan, dan Aomine berhasil mendapatkan boneka itu
Semua orang yang ada di stand tembak terpukau. Penjaga kios pun memberikan boneka itu pada Aomine yang kemudian memberikannya pada Akashi.
"Kenang-kenangan untukmu." Ujar Aomine sambil menyeringai. Wajah Akashi merah padam namun ia tersenyum sambil memeluk bonekanya.
"Terima kasih. Nee, Daiki."
"Ya?"
Wajah mereka pun mulai berdekatan. Aomine sendiri terdiam, membiarkan mereka mendekat perlahan dengan sendirinya.
Sementara itu Kisedai...
"Mereka lagi ngapain?"
"Tau tuh dempetan gitu."
"Hah ngapain dah orang tempatnya luas malah dempetan."
"Hylyh jomblo mana paham."
"Lu juga jomblo, Kise!"
"Duh mereka mau ngapain siiihh."
"HEH ITU DIA MO CIPOK ADEK GUA!"
"Seijirou kalem!"
"Woy jangan dorong-do—"
Belum sempat Midorima menyelesaikan kalimatnya, para anggota Generasi Keajaiban serta Seijirou terjatuh tepat di sebelah Aomine dan Akashi. Mereka berdua jelas saja kaget.
"K-kalian?!"
"Uhhh...heeeii Akashicchi, Aominecchi. Eheheh." Kise tertawa sok watados. Akashi mengernyit dan melihat sang kakak.
"Kakak ngapain sih di sini." Akashi mengembungkan pipinya membuat Seijirou panik.
"Seijuurou, jangan marah. Kakak hanya khawatir!"
Sementara Seijirou meyakinkan sang adik, Aomine menatap rekan-rekan sekaligus kawan jahanamnya itu tajam.
"Ngapain sih lu semua ngintilin, dasar jones." Sungut Aomine.
"Hilih bacot sok-sokan abis menangin game minta cium." Sungut Kise balik.
"NGAPE LO NGIRI?!"
"DIH KOK NGEGAS SIH?!"
Dan keributan pun berlanjut membuat pengunjung lain memelototi mereka.
Bacot asli
~~oo00oo~~
Setelah berhasil mendapatkan spot terbaik untuk menikmati kembang api, akhirnya seluruh anggota generasi keajaiban beserta Seijirou duduk bersama Akashi dan Aomine. Kuroko dan Seijirou saling berbincang, Kagami dan Aomine yang ribut seperti biasa, Akashi dan Midorima yang mengobrol, serta Murasakibara yang asik makan.
Tak lama situasi hening. Terdengar sedikit suara 'psiiuuu' dari salah satu sisi sampai kembang api mulai menghiasi langit. Seluruh pengunjung bertepuk tangan melihat kembang api dalam berbagai bentuk. Beberapa bahkan ada yang mengabadikan momen tersebut.
"Indah ya..." Akashi berdecak kagum. Aomine sendiri hanya memperhatikan Akashi.
"Hm? Ada apa?"
Aomine langsung mengecup bibir Akashi membuat wajah omeganya memerah
"Bagiku kau tetap yang paling indah." Ujar Aomine. Wajah Akashi makin memerah dan langsung saja ia memukul bahu Aomine membuatnya mengaduh.
"Dasar tukang gombal!"
Akashi bersungut. Aomine terkekeh dan merangkul pundak Akashi. Akashi balas menyenderkan kepalanya ke bahu Aomine.
Kembang api malam itu terasa lebih indah
