Lala-chan ssu and val pururin proudly present

It's Like Beauty and the Beast: Side Story

Pair: AoAka

Rated: Kembali ke T

Disclaimer: Mau saya nangis darah dan jadi demon slayer juga Kurobas hanya milik om Fujitada

Warning: AU, OMEGAVERSE, TWIN!BOKUSHI ORESHI, BAHASA CAMPUR ADUK BAKU-GAUL, GAJE, ABAL, OOC, NISTA, DLL DKK

Note: Disini Shiori masih hidup dan Masaomi sayang sama oreshi

DLDR

~~oo00oo~~

Chapter 15: Forever, Always

~~oo00oo~~

"Daiki. Cepat kemari."

Aomine jauh lebih suka bila ibunya teriak-teriak seperti biasa. Ia bisa menulikan telinga, tapi bila ibunya bicara dengan tenang seperti ini...

"Kenapa bengong? Ibu bilang cepat."

Antara ia akan malu setengah mati atau ia akan benar-benar mati.

Aomine berjalan menuju ruang keluarga dan dilihatnya sang ayah juga ada di sana. Aomine jarang sekali bertemu ayahnya karena pekerjaan. Kalaupun ayahnya ada waktu, Aomine yang tak ada waktu karena klub basketnya. Dan Aomine semakin merasa ia akan segera bertemu kematiannya

'Ya Gusti jangan biarkan saya mati dulu saya masih pengen liat anak saya sama Sei!' batin Aomine

Sumpah masih sempet aja mikir kesitu lho manusia ndablek satu ini

"Duduk."

Perintah ibu Aomine segera dituruti, karena dikhawatirkan apabila tak dituruti dapat menimbulkan Perang Dunia ke-3. Aomine duduk manis dan menatap kedua orang tuanya.

"Ng...ini—"

"Sebelum kau bertanya, bukan. Ini bukan soal majalah porno di bawah kasurmu." Potong ibu Aomine. Aomine terdiam seketika.

"Ehem. Daiki." Ayahnya membuka suara. Aomine semakin menelan ludah. Skenario terburuk terbayang di kepalanya

Apakah uang jajannya akan dipotong karena nilai ujiannya jelek? Apa ia akan digantung karena ia suka tidur di kelas? APA IA TIDAK DIRESTUI SAMA SEIJUUROU?!

"Besok kau ada waktu?"

"Hah?"

Aomine lola. Ya wajar lola tau-tau ditanya begitu.

"Ayah tanya, besok kau ada waktu?" ulang ayah Aomine. "Tidak ada latihan atau apapun?"

"Tidak sih..."

Aomine masih mengawang-awang. Untung apa ayahnya bertanya semua hal ini? Apakah ia akan disuruh melakukan sesuatu? Apakah ibunya mau arisan lagi? Apakah ini semua hanya mimpi?

Mulai ngawur dah gobs

"Kalau tidak ada baguslah." Ayahnya tersenyum. Ya meski wajahnya mirip, sifat ayah Aomine lebih tenang. Sifat Aomine memang lebih mirip ibunya yang kasar.

"Siapkan pakaianmu yang paling bagus. Jangan buat ibu malu!" suruh ibunya. Aomine? Masih loading. Lebih lama daripada internet Explorer.

"Tunggu. Memang ada apa? Kita mau apa?" tanya Aomine

"Ah, begini." Ayah Aomine berdehem. "Kau tahu kau dan Seijuurou adalah mate kan?"

"Iya..." Aomine menelan ludah. Jangan bilang pikirannya soal gak direstuin itu bener? NOOO

"Kalian berdua sudah jadi mate tapi keluarga jarang bertemu." Jelas ayah Aomine. "Jadi ayah mengatur jadwal agar bisa bertemu dengan keluarga Akashi."

"Ooohh..." Aomine mengangguk. Dan disambut geplakan sendal dari ibunya.

"JANGAN OH DOANG! JAGA SIKAPMU! AWAS KALAU GAK SOPAN!"

"YA SANTUY GA USAH NGEGEPLAK!"

"HEH! DURHAKA LU YA AMA EMAK!"

"KDRT INI WOY!"

Ayah Aomine tersenyum melihat kelakuan ibu dan anak itu. Ia lalu kembali bersandar dan menyesap kopinya, diiringi lemparan barang terdekat antara istri dan putranya

~~oo00oo~~

Aomine menggerutu. Pasalnya ia dibangunkan jam lima pagi demi didandani habis-habisan oleh sang ibu. Ditambah lagi ia memakai pakaian yang tak biasa ia kenakan.

Ia mengenakan kimono berwarna biru tua dan hakama hitam menghiasi penampilannya. Rambut pendeknya lagi-lagi ditata supaya lebih rapi dan tidak asal-asalan. Untunglah karena itu Aomine terlihat seperti seorang bangsawan bermartabat. Coba kalau rambutnya di biarin. Kayak mantan samurai kehilangan jati diri pasti /PLAK/

Ibu Aomine mencubit pinggangnya membuat Aomine mengaduh. Ibunya sendiri memakai kimono berwarna biru laut dengan motif yang seperti kipas. Rambut panjangnya disanggul dan dihias menggunakan hiasan berbentuk bunga sakura. Ayah Aomine sendiri penampilannya hampir tak jauh berbeda dari Aomine, namun ia mengenakan kimono abu-abu gelap dan motif kotak. Mereka sampai di kediaman Akashi dan segera disambut oleh salah seorang maid

"Selamat datang, Aomine-sama. Akashi-sama sudah menunggu di dalam."

Mereka pun dipandu untuk memasuki rumah keluarga Akashi. Mereka pun sampai di sebuah pintu bergaya Jepang yang Aomine sendiri tidak tahu kenapa bisa ada di sana. Rumah Akashi terlalu luas.

Pintu pun digeser. Di dalam ruangan sudah ada seluruh keluarga Akashi menempati satu sisi meja. Setelah membungkuk memberi salam, Aomine dan kedua orang tuanya duduk di sisi lainnya.

"Lama tidak bertemu, Masaomi-sama." Ujar ayah Aomine.

"Ya. Senang akhirnya bisa bertemu lagi." Ujar Masaomi.

"Ini karena kita semua sama-sama sibuk." Ujar Shiori. "Ah, sebelumnya terima kasih karena sudah menjaga Seijuurou."

"Ah, harusnya kami yang berterima kasih. Daiki pasti sering merepotkan." Sanggah ibu Aomine

"Ah tidak juga kok. Daiki-kun sangat membantu dan baik."

"Ah, jangan terlalu memuji nya. Sifat aslinya jauh dari kata itu."

"Ibu!" Aomine protes dan hanya dihadiahi lirikan.

"Ah, Seijuurou juga pasti manja sekali pada Daiki-kun kok. Jadi tenang saja."

"Ibu, astaga." Akashi menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya.

Aomine kemudian melirik sedikit ke arah Seijirou. Seijirou balik menatapnya dengan tatapan super membunuh. Buru-buru Aomine mengalihkan pandangannya.

Kadang heran kok bisa tunangannya yang manis unyu-unyu punya kakak brocon yang kayak penguasa neraka begini

"Sebetulnya saya membuat pertemuan ini ingin membicarakan sesuatu." Ujar Masaomi. "Kalian tahu bahwa hubungan Seijuurou dan Daiki belum diketahui banyak orang."

"He? Begitukah?" Aomine tercengang. Dan kemudian dihadiahi geplakan di kepala

"Aduh maaf ya. Daiki emang suka gak fokus, ohoho~" ujar ibu Aomine, mengabaikan putra semata wayangnya sedang gegulingan di lantai dengan benjol di kepala.

"YA GA USAH JITAK KALI!" Aomine sewot

"Sssht diem! Ini di rumah orang!" tegur ibu Aomine. Aomine makin keki.

"Maafkan Daiki ya." Ayah Aomine terkekeh. "Ia begitu hanya karena ingin membuat sikap yang ramah dan bisa dijangkau orang kok."

"Halah bilang aja bego." Ibu Aomine langsung blak-blakan.

"IBU MACEM APA LU NGATAIN ANAKNYA BEGO?!" Aomine protes.

"LAH LU SENDIRI ANAK MACEM APA NGOMONG GITU KE EMAKNYA?!" EMAKNYA AOMINE BALIK SEWOT

EH MAAP CAPSLOCKNYA LUPA DIMATIIN—nah udah.

Shiori terkekeh kecil melihat keluarga kecil Aomine begitu akrab (atau berisik) sedangkan Akashi tersenyum maklum. Lalu dua orang sisanya? Hanya memasang wajah datar

"Tentu saja tak banyak yang tahu. Hubungan kalian hanya diumumkan kepada mereka yang memiliki hubungan terdekat pada perusahaan Akashi karena Seijuurou masih sekolah." Jelas Masaomi. Aomine melongo. Karena semua temannya, bahkan mungkin satu sekolah sudah mengetahui hubungannya dengan Akashi, ia mengira sudah tak ada lagi yang tidak tahu.

"Kalau begitu berarti anda ingin membicarakan..." ayah Aomine menggantungkan kalimatnya.

"Ya. Benar." Masaomi melipat kedua tangannya. "Kalian akan segera melakukan prosesi pertunangan. Dan pertunangan kalian akan diumumkan."

Wajah Aomine semakin Pongo. Semua orang menatapnya, menunggu reaksi.

"Eh, tunggu, hah?"

Aomine mengerjap, seolah sejak tadi otaknya mati listrik. Ibu Aomine menghela napas dan kembali menjitak putranya.

"ADUH! HARUS DIJITAK APA YA?!"

"YA MAKANYA DIKASIH OTAK DIPAKE BUAT MIKIR!"

"YA JUSTRU INI LAGI MIKIR!"

"TELAT LU MIKIRNYA!"

Seluruh keluarga Akashi memperhatikan pertengkaran ibu dan anak itu dengan tatapan sulit diartikan. Sementara ayah Aomine? Hanya tersenyum kalem

Dalam hati melantunkan 'wake me up waKE ME UP INSIIDEE'

~~oo00oo~~

"DAIKI! INGAT YA APA AJA YANG HARUS DISIAPKAN! KAU CUKUP BERSIKAP YANG BAIK SAJA! SOAL SESERAHAN BIAR AYAH DAN IBU YANG URUS!"

"IYA TAU IH UDAH DIOMONGIN TUJUH KALI DARITADI!"

"HEH ITU KAN BIAR KAMU INGET!"

Ayah Aomine menaruh hakama yang dikenakannya ke gantungan. Sudah biasa dengan suara ribut dari putra dan istrinya. Yah bukan mereka kalau gak ngegas.

"Sudahlah." Ayah Aomine tersenyum. Daiki, bagaimana kalau kau membantu membuat daftar barang? Sisanya biar kami yang sediakan."

Aomine mendecak. Ayahnya memberikan buku yang akan digunakan untuk daftar barang pada putranya. Aomine pun segera memasuki kamar untuk melakukan suruhan ayahnya.

~~oo00oo~~

Aomine menguap. Buku daftar barang ia taruh di atas mejanya. Aomine segera menaiki kasurnya dan hendak tidur

TOK TOK TOK

KAMPRET SIAPA SIH?!

Aomine mengerang. Jika sampai ini ibunya dan mengomelinya lagi, ia akan langsung mengunci kamarnya.

Tak diduga ayah Aomine yang datang. Ia hanya tersenyum kepada putranya

"Kau akan diam menatap ayah saja atau mempersilahkanku masuk?"

"Ha? Oh. Masuk saja."

Ayah Aomine memperlebar senyumannya dan memasuki kamar putranya. Kamarnya sudah dapat diduga amat sangat berantakan dan penuh dengan poster basket, piagam penghargaan, dan baju kotor yang bertebaran. Ayah Aomine entah kenapa tak merasa terganggu dan segera menyamankan diri di ranjang Aomine. Aomine sendiri bingung dan memutuskan untuk duduk di sebelah ayahnya.

"Kau akan bertunangan." Ayah Aomine menghela napas. "Cepat sekali ya."

"Kalian yang menyetujuiku menjadi mate-nya Sei. Harusnya kalian sudah menduga ini akan terjadi dong." Aomine mendengus membuahkan tawa dari ayahnya.

"Kau tahu, mengingat kau lebih mirip ibumu kukira kau akan menentang habis perjodohanmu." Ayah Aomine masih tertawa sedikit. "Entah sudah berapa calon yang ia tolak mentah-mentah, dan ia mendekatiku yang notabene adalah musuh keluarganya." Lanjutnya. Aomine mengangkat alis.

"Karena itu, kupikir kau akan menolak Seijuurou juga." Ayah Aomine menghela napas. "Tapi rupanya kau dan ibumu memang mirip. Jika sudah mencintai seseorang, kau akan mencintai dan melindunginya sampai kapanpun. Dulu saat ayah hampir bangkrut, ibumu yang pertama kali mengulurkan tangannya. Ia yang menguatkan ku hingga sekarang."

Ayah Aomine menepuk bahu putranya. "Aku yakin kau bersikap begitu juga pada Seijuurou."

Aomine terdiam. Ayahnya hanya tersenyum dan melanjutkan.

"Kau sudah dewasa." Gumamnya. "Rasanya baru kemarin aku menggendongmu yang baru lahir. Dan sekarang kau akan menjadi tunangan orang lain."

"Oke, sebelumnya aku bukan gadis perawan." Aomine menyela perkataan ayahnya yang oh-sangat-mengharukan itu. "Lalu, kau kemari hanya untuk nostalgia?"

"Ayolah putraku akan menjadi alpha bagi seorang omega. Putraku yang masih selalu bertengkar dengan ibunya dan bahkan tak bisa bangun pagi sendiri. Aku tak akan mengomeli seperti ibumu, tapi ingatlah kau akan menjadi kepala keluarga dan penopang bagi keluargamu."

"Iya iya aku tahu! Astagaa!"

Aomine tak habis pikir. Bisa-bisanya mereka tak mempercayai Aomine. Apa tampang Aomine memang seperti tak bisa diharapkan apa?!

Kalau ada geng pelanginya di sini, mereka pasti kompak menjawab 'Ya emang!'

Tak lama, ayahnya bangkit dan mengambil buku daftar barang dari meja Aomine. Ia hendak melangkah keluar dan Aomine langsung saja berbaring di ranjangnya

"Kehidupanmu baru dimulai, Daiki." Ujar ayahnya sambil tersenyum.

Dan pintu pun tertutup

~~oo00oo~~

Inilah harinya.

Keluarga Aomine dan Akashi kembali saling bertemu. Kini Aomine dan Akashi duduk berhadapan dihimpit kedua orang tua mereka. Seserahan diletakkan di atas meja.

Di atas meja sudah terbentang buku daftar barang, kerang abalone, kumparan benang rami, konbu, surume, kipas lipat, katsuobushi, dan tempat sake.

"Daiki, masih ada yang kau lupakan." Tegur ibunya. Aomine entah kenapa hari itu cukup tanggap dan mengeluarkan barang dari sakunya.

Dikeluarkannya sebuah buku rekening. Masaomi menerimanya dan memberikannya pada Akashi.

"Aku sudah mentransfer satu setengah milyar yen ke akun itu. Setelah lulus dan resmi menikah nanti akan kutambahkan lagi."

Masaomi mengangguk. Seorang perantara yang dibawa oleh keluarga Aomine—Aomine tercengang karena perantara segera datang meski sangat mendadak—datang dan mengambil seserahan.

"Minggu depan pertunangan Aomine Daiki dengan putra kami, Akashi Seijuurou akan diumumkan secara resmi." Ujar Masaomi. Ayah Aomine membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Shiori dan ibu Aomine tersenyum sumringah. Aomine menghela napas lalu menatap Akashi

Aomine tak tahu itu benar baju milik Akashi atau ia memakai baju milik ibunya dahulu, yang jelas Akashi terlihat begitu anggun. Kimononya yang berwarna merah bertabur hiasan berbentuk bunga sakura serta aksen dedaunan nampak begitu cantik ditambah obi berwarna putih. Hiasan emas menambah mewah penampilannya. Begitu cantik. Wajahnya juga kembali dipoles make up tipis membuat Aomine tak kuasa mengalihkan pandangannya.

Aomine sendiri mengenakan jas rapi dengan kemeja biru tua serta dasi berwarna hitam. Terlihat biasa saja, namun di mata Akashi, Aomine terlihat begitu tampan.

Mereka saling menatap di antara perbincangan kedua orang tua mereka. Akashi menaruh tangannya di meja, dan Aomine refleks menyentuh tangan Akashi. Tangan mereka pun saling bertaut. Senyuman bahagia merekah di wajah mereka. Mereka selangkah lebih dekat lagi. Lebih dekat lagi sampai mereka menyatu dan tak akan terpisahkan selamanya.

Aomine seketika merasa seluruh tubuhnya mendingin. Ia menoleh sedikit kepada Seijirou. Dan benar saja ia sedang dipelototi oleh iris heterokromatik itu.

'Iya ya. Gua bakal makin sering ketemu keturunan lucifer ini.'

"Hm? Kau baru saja memikirkan sesuatu, Daiki?" Seijirou melotot sambil memasang seringainya, membuat Daiki bergidik.

"T-tidak, kok..."

"Kakak, jangan begitu." Tegur Akashi.

"Huh." Seijirou hanya memalingkan wajahnya.

Pagi hari itu dilanjutkan dengan sarapan bersama dan diisi perbincangan mengenai pengumuman pertunangan Aomine dan Akashi. Kedua insan itu hanya tersenyum satu sama lain

Dengan ini, ikatan mereka akan semakin kuat

~~~TO BE CONTINUED~~~

Ehe...hehehe...EHEHEHEHEHEHEHEH /digebuk/

HAI READEERRSS hehehe akhirnya bisa update lagi

Yak, tabok aja authornya karena malah bikin ginian bukannya belajar buat UTS. Makanya tadi ekonomi mikronya ancur ya maap yak author mah emang ga jago itungan /PLAK/

Okeh daripada ngurusin UTS author mending bales surat cinta (?) dulu

SesilliaS Aduh makasiiihh iya gak papa biarin lah si Ahomine. Mesra-mesraan mulu bikin author—eh Kisedai cemburu aja /apaan/ Hehehe makasih udah ngikutin cerita ini yaaa dan makasih juga udah nampang terus di kotak review~~

Dan yah dunia kuliah bikin author dan Val lelach jadi update agak mandeg gak kayak dulu. Jadi makasih buat kalian yang masih rajin baca~ ingat literasi itu penting /bukan/

Akhir kata, RnR~?