Prang!
Suara dari piring yang pecah menimbulkan perhatian lebih bagi dua bocah berambut blonde yang kini mengendap- endap menuruni tangga rumahnya. 11.00, seharusnya mereka sudah terlelap dalam tidurnya, namun suara pecahan dan teriakan yang mereka dengar sejak tadi malah membuat kedua bocah itu tidak bisa terlelap dan berakhir mengintai keadaan seperti sekarang. Di balik sebuah ruangan minimalis berisikan peralatan memasak, kedua bocah itu dapat melihat orang tuanya mengutarakan kemarahannya satu sama lain. Seharusnya hal seperti ini tidak boleh di lihat anak- anak karna dapat mempengaruhi mentalnya namun apa yang harus di lakukan jika sudah terjadi? Menyedihkan.
"Len-chan, Kenapa Chichi dan Haha selalu bertengkar? Chichi dan Haha Gumi-chan tidak pernah bertengkar." Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir polos Rin.
Len mengarahkan pandangannya pada kakak kembarnya yang sejak tadi tak pernah melepaskan matanya dari pertengkaran orang tua mereka. "Kalau begitu, kenapa Rin-chan tidak pergi dan tinggal di rumah Gumi-chan saja?" jawab Len sekenanya. Namun tak di sangka, gadis kecil itu menggeleng atas pertanyaan yang Len berikan.
"Meski Chichi dan Haha Gumi-chan baik, aku tak mau." Ucap Rin.
"Ekh? Nande?"
Rin kini mengarahkan pandangannya pada dua manik Aquamarine yang persis sama dengannya itu "Karna disana tidak ada Len-chan." Katanya yang membuat bocah laki- laki itu menatap Rin dengan pandangan bingung. "Len-chan sudah berjanji akan tetap bersama Rin-chan bukan? Jadi, Rin-chan takkan pergi kemana pun tanpa Len-chan." Sambungnya.
"Aku memang berjanji akan tetap bersama Rin-chan tapi, aku tak mau bersamamu masuk ke kamar mandi dengan gadis yang tak suka mandi sepertimu." Ujar Len seraya menjulurkan lidahnya dan berlari menaiki tangga untuk kabur dari kemarahan Rin.
"Mou! Baka no Len-chan! Awas kau!" Ucap Rin seraya berlari mengejar Len.
.
Rated: M
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Vocaloid © Yamaha Corp and Crypton Future Media.
Pair: Len x Rin (slight Len x Miku and Kaito x Rin)
Warning: Typo, EYD yang buruk, Ide pasaran, Incest, Lime or Lemon (Jika memadai dan kalau bisa) dll
By © Go Minami Asuka Bi
RnR Please...
.
Rintik Air yang berasal dari shower yang tengah di pakai itu, sama sekali tak mendinginkan kepala pemuda blonde di bawahnya. Sudah sekitar 20 menit ia berada di bawah guyuran air tersebut tapi kepalanya tak mau lepas dari bayang- bayang masa lalunya bersama sang kakak kembar. Begitu sulitnya kah bagi hati dan pemikirannya untuk sedikit saja melupakan kedekatan pemuda itu dengan sang kakak. Apa yang membuatnya seperti ini? Apakah perasaannya atau rasa bersalah atas kejadian waktu itu? Entahlah, ia pun tak mengerti.
Bugh!
Pemuda itu menghantam dinding berlapis keramik putih di depannya, giginya mengerat menahan emosi yang tak bisa di jelaskan dalam dirinya. Apa yang terjadi belakangan ini adalah penyebabnya, meski pikirannya menganggap itu hanya pertengkaran kecil antar saudara namun, hatinya berkata lain.
"Apa yang harus ku lakukan?
.
Minum susu setelah berendam di air hangat itu benar- benar nikmat bukan? Ya, Len tau itu. Tapi sekarang ia tidak habis berendam bahkan ia hanya mandi dengan air biasa saja, rasanya kurang pas jika ia harus meminum susu. Pandangannya terus menelusuri rak- rak dalam kulkas sambil sesekali mengusap rambut blondenya yang basah dengan handuk kecil di leher pemuda pecinta pisang itu. Setelah cukup lama memilih, kini pilihannya jatuh pada sebuah kaleng minuman bersoda yang entah dia tak tahu siapa pemiliknya, toh ia tak merasa membeli minuman itu. Len kembali menutup pintu kulkas dan membuka penutup minuman kaleng tadi.
"Itu milikku."
Baru beberapa tegukan yang Len rasakan, kini ia harus menghentikan acara minumnya itu dan beralih pada suara di depan pintu dapur rumahnya. Tepat disana, seorang gadis berambut blonde yang begitu identik dengan dirinya tengah berdiri seraya menatap pemuda itu. Ia menaruh botol minuman yang ia pegang ke atas meja di dekatnya. Suasana terasa canggung bagi mereka berdua, ya sangat terasa terlebih sekarang mereka hanya terdiam seakan ada yang membungkam mulut anak kembar itu.
"Aku lapar." Lagi- lagi gadis itu yang bersuara. Aneh, padahal sejak tadi Len merasa baik- baik saja tapi sekarang? Entah, rasanya suaranya tercekat di tenggorokan dan tak mau lepas.
Len hanya bergeser sedikit untuk memberikan akses Rin lewat tanpa bersuara sedikit pun. Tidak hanya Len namun Rin pun sama, ia berjalan melewati pemuda blonde disana dalam diam walau sebenarnya pikiran mereka berdua tengah berbicara satu sama lain seakan tengah bertelepati namun nyatanya itu hanya sekedar pemikiran biasa saja. Rin mengambil beberapa sayuran yang telah tersedia dalam bowl besar, jika kalian bertanya mengapa tidak taruh di kulkas? Sebenarnya buah dan sayur yang masih segar lebih terasa manis jika langsung di masak dari pada di taruh di kulkas terlebih Len baru membelinya setelah pulang sekolah tadi.
Pemuda blonde itu memperhatikan Rin dari sudut matanya, di dalam pikirannya ia menimang- nimang apakah Rin bisa memasak atau tidak. Bukan apa- apa tapi yang pemuda itu tau kembarannya itu sama sekali tak bisa di andalkan dalam urusan rumah tangga termasuk memasak, lagi pula selama ini Len yang memasak setelah orang tua mereka telah meninggal dunia. Benar- benar payah, gadis itu malah mencincang tidak jelas semua sayuran di hadapannya. Memangnya masakan jenis apa yang akan di buat oleh Rin? Itu pemikiran Len saat ini.
Seakan tau isi otak Len, Rin pun berkata, "Miso soup-" seraya mencacah sayuran tak berdosa di hadapannya.
Sudah cukup bagi Len melihat perlakuan rin pada sayuran tak berdosa itu, rasanya itu bagaikan penghinaan baginya. Ia pun beranjak dari tempatnya berdiri dan mendekati Rin lalu memegang tangan kecil yang tengah mencacah hingga pergerakannya berhenti. Rin menengadah keatas menatap Len dengan pandangan kesal. Apa maumu? Kira- kira itulah pandangan Rin saat ini.
"Biar aku yang memasakkannya untukmu, kau duduk saja di me-.."
Rin menarik pergelangan tangannya kasar. "Aku bisa melakukannya sendiri!" Ucapnya yang membuat Len mengangkat sebelah alisnya bingung dengan sikap Rin. Sepertinya ia melupakan pertengkaran mereka saat ini.
"Aku hanya ingin memban-.." Lagi- lagi perkataan Len terpotong.
"Kau pikir aku hanya anak kecil yang perlu kau urus, huh?"
"..."
"Kau mau aku menurutimu seperti dulu layaknya anak kecil yang tak mengerti apa pun?"
"..."
"Kau mengatur hidupku seperti sebelumnya?"
"Rin.."
"Cukup! Jangan pernah memanggil namaku dengan nada menjijikan seperti itu lagi!"
"Aku hanya berusaha untuk membantu, itu saja. Jika kau tak mau aku memban-..."
"Kalau begitu jangan pernah berusaha untuk membantuku!"
Tepat setelah perkataan terakhirnya, Rin pun berbalik memunggungi Len dan pergi menjauh dari dapur rumahnya. Len terdiam atas perkataan penolakan gadis itu tadi, kuku- kuku jarinya kini mengepal kuat menahan perasaanya. Sungguh, ia tak tahu jika inilah rasanya saat saudara sekaligus orang yang pemuda itu cintai harus meninggalkannya dengan alasan tidak jelas. Sakit, apakah ini yang di rasakan Rin waktu ia mengatakan hal yang menyakitkan padanya?
"Argh!"
Bugh!
Darah yang mengalir dari sela- sela tangannya yang memukul tembok adalah bukti bahwa ia memahami letak kesalahannya. Ya, kesalahan yang ia perbuat hingga menyakiti gadisnya.
.
.
.
Angin berhembus menerpa wajah pemuda shota yang kini tengah berdiri di dekat pagar pembatas atap sekolah. Matanya tak pernah lepas pada gadis honey blonde kini terlihat mengangkat sebuah tong sampah hijau untuk di bawa ke halaman belakang, tepatnya pada pembakaran di halaman belakang. Sudah satu minggu sejak acara memasak tidak jelas yang berujung pertengkaran dan kini hubungan mereka terasa semakin memudar, bahkan mereka seakan tak pernah mengenal satu sama lain.
"Kalian masih belum berbaikan?"
Suara lembut dari seorang gadis berambut teal sama sekali tak membuat Len melepaskan pandangnya dari gadis di bawah sana. Gadis itu menghela nafas atas kelakuan kurang baik Len padanya, toh sudah biasa ia seperti ini karena pada dasarnya pemuda itu hanya menganggap dirinya cuma sekedar pelampiasaan belaka. Sakit memang, tapi apa yang bisa ia lakukan?
"Bukankah sudah ku katakan untuk menjauh dariku, Miku." Kata Len tanpa memalingkan sedikitpun wajahnya pada gadis teal di sampingnya.
"Apa salah jika aku ingin mengobrol denganmu seperti biasa?"
"Kau mengganggu ketenanganku-." Benar, Len memang merasa terusik oleh gadis di hadapannya bahkan ia kini melepaskan pandangannya dan berbalik lalu berjalan menjauhi Miku. "Tak ada yang perlu kita bicarakan, jadi jangan menemuiku lagi."
Grab.
"Aku mohon dengarkan aku kali ini saja-." Miku memeluk Len dari belakang dengan erat yang membuat pemuda itu berhenti berjalan, sebenarnya jika ia mau bertindak kasar sekalipun pada gadis teal itu, ia bisa melakukannya sekarang tapi ia mencoba mendengarkan permintaan Miku padanya dahulu. "Aku tahu pertengkaranmu dengan Rin adalah kesalahanku, tapi itu semua karna kau menginginkannya bukan?. Lalu apa salahku? Apa salahku jika menuruti keinginan orang yang ku cintai? Apa salahku melakukan yang ku bisa demi orang yang kucintai? Aku hanya ingin kau melihatku. Aku hanya ingin kau melihatku seperti pandanganmu pada Rin. Apa aku salah?"
Tidak, gadis itu sama sekali tidak salah dan Len tau benar akan itu karena pada dasarnya dialah kesalahan itu sendiri. Tapi karna kesalahan adalah dirinya maka seseorang harus menerima kesalahan tersebut dan gadis teal inilah yang Len pilih untuk semua itu. Seharusnya ia yang memohon pengampunan, seharusnya ia meminta maaf atas terlibatnya Miku atas kejadian ini. Gadis itu hanya mencintai seseorang sebagaimana wanita seharusnya namun cintanya salah memilih orang.
Dalam diam, Len melepas pelukan Miku dan berlalu pergi meninggalkan gadis teal disana yang menunduk seraya menahan tangis dengan mengigit bibirnya sendiri. Len memang tau dirinya adalah kesalahan dalam scenario hidupnya saat ini tapi ia hanya ingin menyangkal itu. Sebanyak apa pun ia mengeluh, sebanyak apa pun ia merasa dirinya tidak berarti tapi ada seorang gadis yang dapat menepis segala hal tentang itu. Ya, biasanya gadis itu yang meyakinkannya dengan perkataan penyemangat meski dia sendiri sedang menangis. Bodoh memang, tapi hanya gadis itu yang Len cintai, dan gadis itulah yang kini telah lepas dari genggamannya.
Kaki jenjang miliki Len terus melangkah di dalam koridor hingga sudut matanya melihat sesuatu yang membuat pemuda blonde itu berhenti. Pandangan Len kini beralih pada sosok gadis honey blonde yang tengah berdiri berhadapan dengan seorang pemuda ocean blue yang ia kenal. Bagaimana mungkin ia tidak kenal, jika pemuda itu adalah teman sekelasnya atau bisa di bilang sahabat bagi Len. Ada urusan apa pemuda itu dengan adiknya? Tanpa sadar Len mengepal erat dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
TBC
Balasan Review Bagi yang tidak Login. Yang Login silahkan cek PM. Bagi Readers silahkan skip kalau mau bagian ini. Dibawah ada sedikit lanjutan cerita, jangan lupa di baca ya.
Ayane Hika-Hikari: Trima kasih udah di koreksi. Jujur aku gag tau nama akunmu berubah jadi siapa jadi aku masih pakai nama akun lamamu aja. Dan maaf baru balas curhatanmu sekarang XD. Yang pasti sekarang udah gag gajekan dirimu? Trima kasih udah Review.
Guest: Yah,,, gimana bilangnya ya. Mungkin memang agak plin plan tapi dia punya alasan tersendiri untuk itu. Nanti akan di tampilin kenapa dia terkesan seperti itu kok. Trima kasih udah Review
.
Yo, Minna.
Ada yang masih ingat ff ini? Atau mungkin sudah di lupakan? Aku yakin sih lupa. Maaf banget baru bisa update, alasannya? Hummm.. sudah saya beritahu di ff Shinigami Lolita. Untuk ff lain akan saya update dalam jangka waktu agak lama, dan kayanya Police in academy bakal lanjut. Mungkin saya akan lanjutkan Shinigami Lolita dulu karna gag ada yang minat baca jadi saya slesaikan biar lanjut ke sequelnya aja.
Untuk ff ini, kemungkinan bakal beda slide setiap chapternya tergantung mood dan permintaan para readers juga sih. Tapi yang pasti Cuma ada slide Rin dan Len.
OK kita lanjut dulu sedikit ffnya ya.
.
.
.
"Jadi apa kau bisa datang, Rin?" tanya Kaito pada Rin yang kini tampaknya tidak terpaku pada perkataannya. "Hei, apa kau mendengarku?" ucap Kaito menjentrikan jadinya beberapa kali di depan wajah Rin.
"A-ahh... Gomen... Tadi kau mengatakan apa?" gadis itu agak sedikit tersentak kaget.
Kaito menatap Rin dengan bingung. "Apa yang kau perhatikan sampai tidak merespon seperti itu?" Kaito berbalik dan mengikuti arah pandang Rin namun yang ia lihat hanya jajaran jendela koridor saja dan itu membuatnya semakin bingung.
"A-ah... Sudah jangan di pikirkan, aku tadi hanya merasa ada temanku yang lewat dan aku ada perlu dengannya."
Sejujurnya Kaito masih bingung dengan tinggkah gadis di depannya ini tapi siapa yang perduli?. "Ahh, ya. Jadi bagaimana dengan pembahasan kita tadi? Apa kau bisa datang ke pertandingan basketku minggu depan? Onegai~" Tanya Kaito kembali untuk mendapatkan konfrimasi dari gadis di depannya seraya menyatukan kedua tangannya dan memberikan wajah memelas.
"E-etto... A-akan ku pikirkan lagi."
Pemuda Ocean Blue itu menghela nafas mendengar jawaban gadis di depannya, sepertinya ia memang harus menunggu. "Baiklah, tapi kalau kau ingin datang berilah kabar terlebih dahulu agar aku bisa memberikan tiket masuk untukmu."
"U-umm." Jawab Rin seraya mengangguk.
"Aku akan menunggu jawabanmu. Jaa." Kaito berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Rin yang tengah menatapnya dengan senyum canggung.
Merasa pemuda ocean blue itu telah jauh, kini pandangan Rin beralih pada deretan jendela di lantai tiga. Memang benar kata Kaito tadi, disana tak ada apa pun bahkan tak ada murid yang melintas disana tapi ia merasakan sesuatu. Entah mengapa tadi ia sangat yakin jika ada yang memperhatikannya disana, ia sangat yakin terlebih perasaannya memberikan gambaran tentang orang yang menatapnya. Ya, seorang pemuda yang sejak dulu selalu bersamanya dan pemuda yang sangat ia kenal betul sosoknya.
"Len."
.
.
Trima kasih sudah mau membaca cerita abal saya. Untuk chapter berikutnya saya tidak bisa menjanjikan dengan cepat tapi setelah update Police in Academy dan Shinigami Lolita, saya usahakan akan melanjutkan ini.
Adakah yang bertanya kenapa saya selalu berpatokan pada Shinigami Lolita, padahal yang review cerita itu dikit banget.
Jujur disini saya cuma mau bilang kalau Shinigami Lolita adalah sosok fantasi liar saya jika saya terlahir kembali dan beberapa cerita nyelip tentang kehidupan saya yang saya rombak sendiri ke dalam alur yang fantasi. Untuk crita Shinigami Lolita sendiri, entah kenapa saya dengaja tidak mengeditnya karna suatu hal. Memang awal- awal ancur banget, tapi sudah mulai terkontrol seiring penulisan saya yang membaik.
Karna dari itu, saya mohon untuk para readers yang menunggu crita ini atau crita yang lainnya di mohon untuk bersabar. Karna saya lebih memprioritaskan Shinigami Lolita untuk cepat tamat dulu. Tapi saya berusaha juga agar cerita lain rampung, tenang saja.
Sekali lagi trimakasih bagi yang sudah menunggu crita saya. Nantikan chapter selanjutnya.
Salam Hangat,
Go Minami Asuka Bi
