"Merepotkan."

"Sekarang, siapa yang akan mengurus anak- anak mereka?"

"Mengapa tidak kau saja yang mengurusnya?"

"Huh? Kau pikir rumahku tempat penampungan anak- anak?! Kalau begitu kenapa tidak di tampung di rumahmu saja!"

"Keluargaku saja sudah susah. Jika di tambah mereka-..."

Genggaman tangan dari sepasang anak kembar yang tengah terdiam di pojok ruangan kian mengerat tatkala perdebatan demi perdebatan antar saudara- saudara mereka semakin menyayat hati. Padahal jasad kedua orang tua mereka baru saja di kebumikan tapi mulai ada perselisihan. Apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya anak kecil yang baru menginjak 12 tahun. Tak adakah yang memperdulikan kehidupan mereka? Bukankah hampir seluruh orang- orang yang ada di ruangan ini pernah di bantu oleh kedua orang tuanya meski pernah di sakiti juga. Dimana rasa belas kasihan mereka?.

Bocah laki- laki itu kini melirik ke arah saudarinya yang mulai gemetar menahan tangis. Mungkin gadis itu sudah tak kuat mendengar ocehan mereka yang semakin menjadi saat harta warisan kedua orang tuanya di pertanyakan. Kejam, mereka hanya memikirkan harta di banding orang- orang yang di butuhkan. Benar- benar kejam hingga membuat anak kecil itu menangis. Cukup! Bocah laki- laki itu sudah tak tahan. Jika memang keluarga besarnya tak menginginkan mereka, hanya ada satu pilihan.

"Aku yang akan mengurus Rin."

Semua orang kini memandang kedua bocah itu dalam diam. "Apa yang kau katakan? Kalian itu masih kec-..."

"Aku yang akan mengurus Rin. Aku takkan membiarkan Rin bersama dengan orang egois seperti kalian!" Kata bocah itu yang membuat gadis di sampingnya menatap dengan pandangan terkejut.

"Aku akan bersama dengan Rin apa pun yang terjadi."

.

.

.

Rated: M

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Vocaloid © Yamaha Corp and Crypton Future Media.

Pair: Len x Rin (slight Len x Miku and Kaito x Rin)

Warning: Typo, EYD yang buruk, Ide pasaran, Incest, Lime or Lemon (Jika memadai dan kalau bisa) dll

By © Go Minami Asuka Bi

RnR Please...

.

.

.

"Sudah larut, sebaiknya aku pulang."

Len masih terdiam pada posisinya yang terduduk di kursi seraya menggenggam tangan kiri Rin. Sudah seharian gadis honey blonde itu terbaring lelap di atas tempat tidurnya setelah di ijinkan keluar dari rumah sakit atas permintaan Len yang menginginkan Rin di rawat di rumah saja. Dokter memang mengatakan gadis itu shock dengan kejadian yang menimpanya, jadi ia perlu beristirahat. Memang ini tidak terlalu parah tapi rasa khawatir terus saja menyerang hati pemuda blonde itu tanpa menyadari teman birunya berpamitan untuk kembali ke rumahnya.

Tap.

Tepukan pada pundak Len membuat pemuda blonde itu tersadar bahwa temannya masih ada di rumahnya. "Ah. Maaf, aku terlalu khawatir pada Rin hingga melupakan kau masih ada disini." Kata Len.

"Tak apa, aku mengerti ke khawatiranmu. Aku juga khawatir padanya tapi, sepertinya ini sudah terlalu malam jadi aku akan pulang."

Len mengangguk menanggapi perkataan Kaito. "Trima kasih kau sudah membantuku."

"Umm." Kaito bergumam seakan berkata 'ya'. "Aku akan membuatkan surat untuk kalian berdua besok. Jadi, kalian tak perlu khawatir dengan keabsenan kalian."

"Sekali lagi Trima kasih. Kau benar- benar membantu."

"Sudah menjadi tugas kita untuk saling membantu sesama bukan-?" Kaito mengambil tasnya dan menentengnya. "Baiklah aku pulang dulu. Salam untuk Rin." sambungnya sebelum ia keluar dari kamar itu meninggalkan kedua anak kembar itu.

Len mengeratkan genggamannya pada Rin. "Maaf."

"Aku tak bisa melindungimu."

.

Harumnya masakan dari dalam panci membuat Len tersenyum tipis. Entah kenapa ia yakin jika bubur putih yang tengah dirinya masak ini akan membuat Rin lebih baik. Terlalu percaya diri? Mungkin, tapi hanya ini yang bisa Len lakukan untuk saudarinya itu. Len berjalan ke arah lemari es lalu membuka pintunya. Matanya kini menelusuri isi di dalam lemari es tersebut untuk mencari pendamping makanan dari bubur putihnya. Gatcha! Len menemukan sebutir terlur ayam di dalam kulkasnya, ini pasti akan semakin nikmat.

PRANG!

Suara benda-benda yang pecah membuat Len terkejut hingga ia menatap langit- langit di dapurnya. Tidak, lebih tepatnya pada kamar di atas dapurnya, kamar saudarinya. Pasti ada sesuatu yang terjadi di atas sana, atau mungkin Rin sudah bangun?. Len menutup pintu lemari es di hadapannya dan dengan terburu- buru ia melepaskan celemek yang ia kenakan lalu berlari ke arah suara tadi berasal. Sungguh, ia khawatir terjadi sesuatu pada saudarinya.

Brak! Pluk! Pluk!

"Tidak! Menjauh...! Menjauh dariku!"

Baru ia membuka pintu kamar saudarinya tapi dia sudah mendapatkan hadiah dari sang adik. Rin berteriak ketakutan seraya melemparkan boneka- boneka yang berada tak jauh dari gadis itu kepada Len. Secara spontan setelah serangan awal di berikan oleh Rin, Len menyilang kedua tangan di depan wajahnya yang sedikit menunduk untuk menghalau boneka- boneka itu. Ia mengerti bahwa gadis itu masih ketakutan dengan tindakan pelecahan yang dirinya alami dan hanya ini yang bisa Len lakukan. Pemuda itu hanya bisa menunggu hingga kemarahan Rin sedikit mereda atau ia kehabisan 'amunisi' seraya berjalan pelan ke arah gadis yang tengah mengamuk ini.

"Tenanglah, Rin! Hentikan lemparanmu!"

"Tidak! Tidak! Pergi! Pergi dariku!"

"Kubilang-." Len menggapai tangan Rin yang tak jauh darinya lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Hentikan, Rin."

Hanya dengan sebuah pelukan dari Len bukan berarti Rin segera berhenti meronta bukan? Ya, gadis itu masih saja terus meronta di dalam pelukan Len bahkan ia memukul- mukul pemuda blonde itu sekuat tenaganya. Len tahu saudarinya ini masih belum bisa mempercayai siapapun, dan ia tahu rasa sakit dari pukulan Rin saat ini masih jauh di banding rasa sakit atas mental gadis itu yang hancur. Ia mengerti, dan sangat mengerti dengan tindakan Rin saat ini menyadarkannya akan sesuatu tentang kegagalan. Sekali lagi, ya, sekali lagi ia telah gagal melindungi Rin.

Len mengeratkan pelukannya pada Rin. "Kumohon, Rin. Tenanglah, aku akan menjagamu mulai sekarang. Jadi, kumohon tenanglah." Pemuda blonde itu memejamkan matanya erat saat kembali perkataannya tak di dengar oleh sang adik. Gadis itu masih berteriak histeris.

Kasih sayang dan perhatian dari orang terdekat maupun yang di sayang adalah sebuah obat berharga di dunia, di banding obat- obat di rumah sakit ternama manapun. Biasanya orang- orang mengatakan seperti itu. Dan mungkin, obat itu juga yang membuat Rin berangsur- angsur tenang dari amukannya. Ya, Gadis itu perlahan mulai tenang dan menyisakan sebuah isakan pilu di dalam pelukan hangat saudaranya. Mungkin ia lelah dengan amukan panjangnya atau bisa juga ia sudah mulai sadar siapa pemuda yang mendekapnya saat ini. Tapi apapun itu yang jelas gadis itu sudah mulai tenang.

"Len..." Panggil Rin lirih.

"Hmm?"

"Mengapa selalu seperti ini?"

"..."

"Semua-..." Rin meremas pakaian Len yang mendekapnya. "Ayah, Ibu, Paman, Bibi, orang- orang itu, bahkan dirimu."

"Mengapa semua orang menyakitiku? Mengapa?! Apa salahku pada kalian?" Isakan pilu kembali terdengar yang membuat sayatan kecil di hati Len.

"Ssstt... Tenanglah dan dengarkan aku." Len melepaskan dekapannya pada Rin lalu memegang kedua pundak gadis itu sebelum menjauhkannya perlahan agar ia bisa menatapnya. "Mulai saat ini, aku berjanji akan takkan membiarkanmu di sakiti oleh siapa pun lagi."

"Pembohong..."

Len menatap Rin dengan pedih. Ia memanglah pembohong besar tapi demi orang yang ia cintai... "Aku minta maaf dengan kejadian waktu itu. Tapi, mulai sekarang aku berjanji takkan membuatmu tersakiti oleh siapapun termasuk diriku sendiri." Apapun akan ia lakukan.

"..."

"Aku tau kau masih belum bisa mempercayaiku tapi, aku akan berusaha agar mendapatkan kembali kepercayaanmu seperti dulu."

"Aku mau istirahat-," Rin menengadah menatap Len dengan pandangan kosong. "Tolong, keluarlah dari kamarku."

Tak semudah itu mendapat kepercayaan dari orang yang telah tersakiti, Len tahu itu. Len menghela nafas paham, Rin perlu waktu untuk mempercayainya jadi hanya ini yang bisa ia lakukan.

"Baiklah." Len bangun dari posisi duduknya dan menepuk kepala Rin. "Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil namaku."

"Aku akan datang untuk menolongmu."

.

.

.

Tuk!

"Ah, maaf. Apa aku membangunkanmu?"

"..."

Sepertinya Len memang mengganggu Rin yang tengah tertidur sejak beberapa jam lalu dengan suara baskom yang ia taruh di meja dekat tempat tidur gadis blonde disana. Sudah tiga hari Rin terbaring di tempat tidur dengan pandangan kosong seperti sekarang. Tidak, tidak hanya seperti ini. Terkadang gadis itu kembali mengamuk seperti sebelumnya saat tiba- tiba saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Memang mimipi buruk itu telah usai di kenyataannya tapi di dalam mimpi dan ingatannya, sungguh itu terasa jelas bagi Rin. Sentuhan mereka, perlakuan mereka, rasanya seperti melekat pada Rin dan tak mau pergi dari tubuhnya. Tuhan, hentikanlah siksaan ini pada gadis malang itu.

"Sudah tiga hari kau belum membersihkan tubuhmu. Aku sudah membawakan air dan handuk, aku juga sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu. Aku akan menunggu di luar, jika sudah selesai kau bisa memanggilku."

"..."

Len menatap Rin yang masih terdiam dengan pandangan kosong. Pemuda blonde itu menghela nafas tatkala tak ada perubahan dari sang adik. Selalu seperti ini, Len tahu memang susah untuk menghilangkan trauma tapi ia juga tidak bisa melihat sang adik seperti ini terus. Rin terus saja memberikan pandangan kosong seperti ini, tak ada gerakan yang berarti dari sang adik jika sudah seperti ini bahkan sampai gadis itu tidur kembali. Dia hanya bergerak ketika mengamuk, bahkan jika tanpa bantuan Len, ia takkan pernah makan apa pun lagi. Sepertinya sudah menjadi aktifitas baru bagi Len untuk menyuapi sang adik meski tak terlalu di tanggapi oleh Rin sendiri. Sekarang, gadis itu harus membasuh tubuhnya. Jujur Len agak ragu, apakah Rin akan membasuh tubuhnya atau tetap terdiam seperti sekarang.

"Baiklah, aku akan menunggumu."

Tap!

Baru dua langkah Len memijakkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu, kini sebuah tangan mencegahnya berjalan lebih lanjut. Len berbalik dan menatap sang adik yang kini melihat ke arahnya.

"Ada apa? Kau memerlukan sesuatu?"

"..."

"Jika kau tak mengatakan apapun seperti ini, bagaimana aku bisa tahu yang kau mau?"

"..."

Dalam diam Rin mulai mendudukan dirinya perlahan di atas tempat tidur yang ia tiduri. Tangannya menggapai kancing piyama yang ia kenakan dan melepaskannya satu persatu. Setelah seluruh kancing terbuka, gadis itu melepaskan piyamanya dan menarik selimut untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Lalu kembali gadis itu terdiam di tempatnya

Deg!

Len terdiam tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Sejak tadi ia terus memperhatikan Rin yang membuka pakaiannya hingga terdiam kembali seperti sekarang. Jantungnya berdebar dengan cepat saat punggung halus sang adik terpampang di hadapannya. Sial, pemandangan ini bergitu menggoda imannya. Jangan bilang Rin memintanya untuk membasuh tubuh putih itu.

"Baiklah, aku akan keluar sekarang. Jika kau perlu sesuatu, panggil aku."

Tap!

Lagi- lagi lengan mungil itu menghentikannya dalam diam. "Rin?"

"..."

Len menggaruk kepalanya bingung dengan tindakan diam adiknya saat ini. Sungguh, ia tak tahu harus apa tapi melihat Rin saat ini sepertinya ia ingin Len yang membasuh tubuh sang adik.

"Ada apa?"

"..."

"Kau ingin aku membasuh tubuhmu?"

"..."

"Jika kau tidak mengatakan apapun, bagaimana aku mengetahui yang kau inginkan?"

"..."

Entah sudah sekian kali Len menghela nafas dalam waktu dekat ini tapi hanya itu yang bisa Len lakukan untuk memaklumi kelakuan sang adik. "Begini saja, jika kau memang ingin membasuh tubuhmu maka lepaskan tanganmu, tapi jika kau ingin aku keluar maka pukul aku." Kata Len memberikan jalan keluar.

"..."

Hening...

Tak ada respon. Sungguh, tak ada respon. Rin masih saja memegang tangan Len. Sebenarnya ia tak ingin memerahi Rin, tapi jika seperti ini terus takkan ada perubahan. Sepertinya ia harus memberikan pengertian kepada Rin.

Baru saja Len akan membuka mulutnya untuk memberikan pengertian Rin. Sekarang, Len mulai merasa genggaman di tangannya terlepas perlahan. Len menatap Rin dalam diam, sepertinya gadis itu bukannya tidak mau mendengarkan perkataan Len tapi ia butuh waktu untuk memahami dan menenangkan diri. Buktinya sekarang dia kembali terdiam saat ia melepas genggamannya pada Len. Gadis itu memang meminta perhatian.

Len tersenyum menanggapi jawaban Rin. "Baiklah, jika ini permintaan kakakku maka aku akan mengabulkannya tapi-," Len mengambil handuk kecil di dekat baskom lalu memasukannya ke dalam air sebelum ia memerasnya. "Kau harus membasuh tubuhmu yang lain, tubuhmu yang tak boleh ku jangkau, mengerti?."

Len mendudukan dirinya di atas tempat tidur berukuran singel bed milik Rin, tepatnya di belakang sang kakak kembar. Ia menatap punggung putih itu sesaat sebelum akhirnya ia menempelkan handuk basah itu pada permukaan punggung sang adik. Tangan Len mulai mengusap perlahan, keatas, dan kebawah hingga seluruh punggung itu terbasuh oleh handuknya. Ia kembali memasukan handuk kecil itu ke dalam air dan memerasnya. Ia memegang tangan kiri Rin dan kembali mengusapkan handuk kecil itu pada tangan kiri dan pundaknya berulang. Tak hanya tangan kiri, perlakuan lembut itu pun ia lakukan pada tangan kanan Rin.

Setelah seluruh punggung Rin terbasuh, Len pun berdiri dari posisi duduknya lalu kembali memasukan handuk ke dalam air dan memerasnya sebelum ia duduk di hadapan Rin. Len menyibakkan selimut bagian kaki Rin sedikit ke atas. Tak hanya selimut, Len pun menaikkan celana piyama yang Rin kenakan hingga ke lutut lalu tangannya mulai kembali bergerak untuk membasuh kedua kaki Rin secara bergantian dengan perlahan. Setelah merasa selesai, Len pun menyodorkan handuk basah itu pada Rin.

"Sisanya kau lakukan sendiri."

"..."

Rin tetap saja terdiam seperti sebelumnya, ia juga tak menanggapi sodoran handuk basah Len tapi ia menanggapi perkataan pemuda itu. Dengan perlahan, Rin kembali menidurkan dirinya di atas tempat tidur lalu memejamkan matanya. Tidurkah? Len tak tahu. Jangan bilang jika gadis itu juga ingin Len menuntaskan basuhan pada tubuhnya.

"Jangan katakan bahwa kau menginginkanku untuk membasuhmu lebih lanjut."

"..."

"Sungguh, aku tak mengerti yang kau mau jika kau hanya terdiam seperti ini, Rin."

"..."

Len benar- benar bingung dengan Rin. "Baiklah. Aku sudah menyelesaikan tugasku jadi aku akan keluar. Jika kau membutuhkan sesuatu a-..."

Len sungguh terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Pemuda itu membelakkan mata tatkala dengan perlahan tangan mungil Rin menyibakkan selimut yang ia kenakan hingga tubuh bagian depannya terlihat jelas di mata Len. Sungguh, ini benar- benar gila! Len menatap tak percaya ke arah Rin.

"Tu- Tunggu! Kau yakin dengan ini?"

"..."

Ini sama sekali tidak lucu. Tak tahukah Rin bahwa ia akan membangunkan sesuatu yang berbahaya jika terus seperti ini. Tapi jika melihat Rin saat ini bisakah ia melakukan aktivitasnya sendiri. Tidak, pasti bisa! Tapi mungkin ia hanya butuh perhatian. Len yakin Rin pasti tak bermaksud menggodanya, pasti. Len memejamkan mata untuk menenangkan dirinya lalu kembali menatap Rin.

"Baiklah. Tapi hanya untuk kali ini saja aku melakukannya."

Len bangkit dari posisi duduknya lalu kembali menyeolupkan handuk kecil itu ke dalam air dan memerasnya, tak hanya itu ia pun mencoba menenangkan dirinya. Setelah cukup tenang, Len mulai membasuh tubuh bagian depan Rin. Dengan perlahan Len membasuh tubuh Rin dari pundaknya, secara berulang ia mengusapkan handuk itu pada pundak dan tulang selangka Rin. Len menelan ludahnya sesaat tangannya yang mulai turun itu mengelus permukaan kenyal tubuh Rin. Kenyal dan lembut itu yang Len rasakan, bagian pucuknya yang berwarna merah muda itu begitu mengundang Len untuk di kulum dalam mulutnya, rasanya ia menjahili kedua puting itu. Sial! Ini benar- benar gawat baginya. Dengan segala yang Rin punya saat ini malah membuat sesuatu di balik celananya membesar dan mengeras. Ia harus menuntaskannya segera.

Setelah tubuh bagian depan Rin terbasuh, Len kembali melanjutkan tugasnya dengan menurunkan celana dan celana dalam Rin perlahan. Jantung Len terus saja berdebar semakin kencang tatkala bagian kewanitaan Rin terpampang jelas di depan mata. Vagina berwarna merah muda dengan bulu- bulu halus yang tercukur rapih benar- benar menggoda Len untuk melahapnya. Len memejamkan mata tatkala pikirannya mulai tidak fokus lalu kembali membukanya setelah merasa cukup tenang. Ia mulai menaruh handuk kecil itu pada paha kenyal Rin dan mengusapnya perlahan. Sungguh, 'adik' kecil Len mulai terasa sakit sejak tadi, 'ia' terus saja meminta untuk di keluarkan. Cukup! Jika lebih dari ini mungkin ia takkan bisa menahannya lagi, Len pun menarik selimut Rin untuk menutupi tubuh sang adik. Lalu ia berjalan ke arah meja kecil dan menaruh handuk kecil itu pada baskom dan hendak pergi sebelum sebuah tangan kembali menahannya.

"Jangan pergi."

Len berbalik untuk menatap yang kini tengah menatapnya. "Tunggulah disini, aku akan kembali. Aku hanya akan menaruh ini saja."

"Jangan pergi."

Tes..

Setetes air mata kini menuruni pipi chuby Rin yang membuat Len terdiam.

"Kumohon, jangan pergi."

TBC

Huaaa! Apaan ini! Ya Tuhan. Maaf kalau jelek, sungguh saya juga mikir ini jelek bgt. Maaf kalau ga memuaskan. Oh ya, untuk chapter depan, jujur saya bingung banget. Mau langsung lemon atau ga, soalnya ada dua pilihan di otak saya. Sungguh, saya bingung.

Hmm, kalau gitu saya serahkan pada readers sajalah. Jadi saya akan membuat Lemon jika ada yang minta walau 1 orang. Tpi jika tak ada yang minta atau review, ya kagak jadi ya XD. Ok segitu dulu, sekarang balas Review yang gag on.

Guest: Thank's buat reviewnya. Hahaha,, aku seneng di bilang gitu. Makasih banget ya, tetap baca ff saya . Trima kasih

Segitu dulu chapter kali ini. Trima kasih dan sampai jumpa di chapter depan.

Salam,

Go Minami Asuka Bi