"Jangan pergi."
Len berbalik untuk sekedar menatap saudara kembarnya itu. "Tunggulah disini, aku akan kembali. Aku hanya akan menaruh ini saja."
"Jangan pergi."
Tes...
Setetes air mata kini menuruni pipi chuby Rin yang membuat Len terdiam."Kumohon, jangan pergi."
Dengan perlahan Rin bangun dari posisi tidurnya hingga membuat selimut yang menutupi tubuhnnya kini terjatuh bebas di pangkuannya. Kembali mendapati tubuh Rin yang tak terbalut apapun, membuat Len mengalihkan pandangannya pada apapun di sekitarnya.
"Pakailah pakaianmu, aku akan menunggu di luar." Len melepas genggaman Rin pada lengannya dengan lembut sebelum kembali berbalik dan berjalan keluar kamar.
Grab!
Len menghentikan langkahnya tatkala tangan mungil yang ia yakini milik sang adik, kini melingkari pinggangnya dari belakang seakan tak mengijinkannya pergi. Bahkan sekarang ia yakin bahwa punggungnya telah basah oleh air mata sang adik yang terus saja keluar meski sedang memeluknya. Mungkin benar perkataan orang- orang bahwa, punggung seorang pria adalah tempat ternyaman untuk bersandar. Dan sekarang Len mengerti maksud orang-orang tersebut.
"Bersihkan diriku
Len menyeringitkan dahinya bingung atas pernyataan Rin kali ini. Bersih? Bukankah ia baru saja di mandikan oleh Len? Jika ia ingin dimandikan lagi dengan tegas Len harus menolak! Karena resiko gadis itu masuk angin pun bisa terjadi."Jika kau tak puas dengan bantuanku membersihkanmu, maka mandilah sendiri." Dengan perlahan Len mencoba melepaskan pelukan Rin namun, gadis itu malah mempereratnya yang membuat Len menghela nafas. "Apa maumu sebena-"
"Bersihkan aku dengan sentuhanmu." Len terdiam tatkala gadis di belakangnya ini mengatakan keinginannya dengan suara serak. "Kumohon, bersihkan aku dengan sentuhanmu seperti yang mereka lakukan padaku." sambungnya.
Len menundukkan kepalanya mendengar permohonan Rin yang jelas tidak mungkin ia lakukan. "Maaf. Aku tidak bimph!"
Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Rin melepaskan pelukannya lalu memutar pemuda itu sebelum mencium Len begitu dalam. Perlahan waktu terkejutan Len pun memudar hingga menyadari kesalahan yang di buat Rin padanya. Len memegang kedua bahu kecil Rin dan mendorongnya untuk menjauhkan pagutan mereka. Apa yang di pikirkan gadis Honey Blonde di hadapannya ini?
"Sadarlah, Rin! Kita tidak bisa melakukan hal ini!" Tegas Len pada Rin. Pemuda Blonde itu harus memberikan nasehat pada gadis di hadapannya walau ia tahu dirinya pun menginginkan Rin lebih dari siapapun.
Uraian air mata yang masih mengalir di pipi Rin sama sekali tak membuat gadis itu menghentikan dari segala yang ia mulai. Entah keberanian dari mana yang membuat Rin seperti sekarang. Lihatlah, gadis yang beberapa hari itu nampak ketakutan dan meraung untuk menjauhi Len, kini malah mengalungkan kedua lengannya pada leher pemuda yang masih memiliki status saudara dengannya.
"Sadarlah, Rin."
"Aku ingin kau yang mengambilnya untuk pertama kali, Onii-chan."
"Kau benar-benar sudah gila, Rin! Aku ini sauda-"
Bibir Len kembali terbungkam oleh ciuman Rin padanya. Tidak! Sekarang bukan hanya sekedar ciuman, tapi pagutan mereka kali ini cukup panas dan semuanya Rin yang memulai. Kali ini Len di buat terdiam dan bahkan sepertinya pemuda itu mulai terbawa akan arus mereka.
Decapan demi decapan mulai terdengar dari pagutan mereka berdua yang kini tak hanya bibir namun lidah mereka ikut andil untuk memeriahkan suasana. Len yang awalnya hanya mengikuti arus dan mencoba untuk membiar Rin bereksplore kini malah memulai langkahnya untuk menang. Kedua tangan Len yang sejak tadi berada di samping tubuhnya kini berpindah pada pinggang rampinh Rin untuk membawa tubuh polos itu semakin dekat padanya.
Namun, pasokan udara pada paru-paru mereka mulai menipis hingga membuat keduanya memutuskan untuk memisahkan diri. Benang tipis yang tercipta di antara mereka seakan mengatakan betapa mereka menginginkan satu sama lain. Len menatap Rin yang masih terus meraup oksigen sebanyak-banyaknya dengan wajah nakal-menurutnya-. Kali ini pemuda itu benar-benar di ijinkan untuk menyentuhnyakan?
"Rin, Aku..-"
"Aku ingin kau yang jadi pertama untukku."
Sepertinya Len sudah mendapat lampu hijau dari Rin. "Jangan memintaku untuk berhenti setelah ini, mengerti?"
Sebuah anggukan kecil dari Rin membuat Len memberikan sebuah kecupan kecil pada bibir manis gadis itu sebelum mengangkat dan membawanya lembali pada tempat tidur lalu membaringkannya disana. Perlahan Len mulai ikut naik ke atas tempat tidur dan mengungkung tubuh kecil Rin di bawahnya. Dari segala hal yang indah, menurut Len tubuh polos Rin inilah yang paling indah dan memukaunya.
"Jangan menatapku terus, baka." Len menatap wajah cemberut Rin yang memerah. Len tak pernah tahu bahwa gadisnya ini benar-benar imut saat merajuk dan membuatnya semakin gemas saja.
Tanpa banyak bicara, Len mulai menyerang leher putih Rin dengan jilatan yang membuat gadis itu mendesah perlahan. "Katakan padaku, dimana mereka menyentuhmu?" kata Len seraya memberikan kissmark di leher Rin.
"Ummhh... Sshh..."
Jilatan Len mulai turun melewati tulang selangka dan berhenti tepat saat lidahnya menyentuh bagian yang menonjol pada payudara kiri Rin. Len tersenyum mendapati benda tersebut mulai mengeras hanya karna sentuhannya.
Lidah yang sedari menelusuri tubuh Rin kini bertukar kegiatan dengan gigi Len. Len menggigit pelan puting pink itu perlahan dan menghisapnya dengan intens seakan payudara itu bisa saja mengeluarkan susu kapanpun, walau dia tau itu tidak mungkin. Tak hanya mulut, kini tangan Len pun ikut andil untuk memainkan puting sebelah kanan Rin.
"Ahhnn... Aahh... Disana, mereka melakukannya disanahh..."
Jari-jari Len yang sedari tdi bermain pada puting Rin kini berubah menjadi remasan lembut. Lengan Len yang menganggur kini mulai menelusuri tubuh Rin kembali dengan perlahan dari perut hingga titik ternikmat yang berada di antara selangkangan Rin. Rambut-rambut halus yang mengelilinginya seakan mengatakan betapa Rin merawat tempat itu.
Len menghentikan lumatannya pada payudara Rin hanya untuk sekedar menatap wajah terangsang gadis tersebut. Dengan wajah memerah yang menahan nikmat seperti ini, benar- benar membuat Rin terlihat begitu seksi di mata Len terlebih saat jarinya menggesek bagian genetikal sebesar biji kacang milik gadis itu. Benar- benar menggairahkan.
Dengan lembut, kini Len mencoba memasukan jari tengahnya ke dalam lubang ketat milik Rin dan melakukan gerakan in-out disana. Len benar- benar menikmati pemandangan di hadapannya ini. Melihat Rin yang menggelinjang kenikmatan seperti ini adalah sebuah prestasi bagi dirinya jika mengingat seberapa menolaknya Rin bertemu ddngan dia akhir- akhir ini.
"Ouhh... Nnhh... Ahhh..."
"Nikmat, hmm?" Bisik Len seraya melumat cuping telinga Rin.
"Ahhhnn.. Mmhhh..."
Tanpa perlu jawaban pasti pun, Len mengerti bahwa Rin benar-benar merasa nikmat di buatnya. Dan jari telunjuk pun kini menyusul masuk ke dalam lubang yang mulai becek akibat ulahnya itu. Kali ini Len tidak hanya melakukan gerakan in-out disana, tapi dia juga meregangkan lubang Rin dengan cara melakukan gerakan menggunting yang di lakukan bersamaan dengan in-out untuk meregangkan otot-otot pada dinding lubang tersebut. Peregangan itu sangat di perlukan jika mengingat yang akan masuk nanti ukurannya akan berkali-kali lipat besarnya dari ukuran jari Len.
Len menyeringai tatkala dirinya menyadari salah satu yang bisa membuatnya menang dari pria lain. Yah, memang tubuhnya mungil tapi untuk keperkasaan, ukuran Len cukup di atas rata- rata. Sepertinya nutrisi Len selama ini turunnya ke bagian rudal kebanggaannya.
"Unnhh... Lennnhhh... Aku menginginkanmu aahhh..."
Desahan nikmat dari Rin membuat Len tersadar akan pikirannya yang kemana-mana tadi. "Kau ingin aku melakukan apa, Rin?" Kata Len yang masih terus melakukan gerakan in-out di lubang Rin.
"Mmhhh.. Ngghh... Ahh Lennn... Aku ingin Penismu ahhhnnn.. Di dalamku sekarang."
Mendengar permintaan Rin, Len pun mengecup dahi gadis itu dan mencabut jarinya dari lubang nikmat milik Rin. Kini dirinya mulai bangkit dari posisi sebelumnya untuk melepaskan sesuatu yang terus berontak sejak tadi di celananya. Dan sesuatu itu kini mengacung keras di hadapan Rin yang menatap benda itu dengan wajah memerah. Melihat wajah Rin yang memerah ketika menatap 'kebanggaannya' yang cukup besar dan berurat ini, Len malah tersenyum. Setidaknya dari tubuh mungil dan wajah shotanya, ia masih bisa terlihat sebagai seorang pria dengan 'keperkasaannya' ini.
"Jika kau benar- benar menginginkannya maka memohonlah, Rin." Rin membuang wajahnya saat menyadari dirinya kedapatan tengah memperhatikan penis milik sang kakak.
"Katakanlah."
"Aku ... Aku ingin Len."
"Kau ingin aku melakukan apa?" Sepertinya bermain- main seperti ini lumayan menyenangkan bagi Rin.
"Pe-Penis..."
"Hmm?"
"Aku ingin Penismu di dalam Vaginaku!" Ucap Rin sedikit meninggikan suaranya untuk menahan malu.
Len tersenyum atas permintaan Rin. "Apapun untukmu."
Pemuda blonde itu mengarahkan penisnya pada lubang Vagina Rin. Dengan perlahan Len menekan masuk Penisnya kedalam lubang kecil itu yang membuat Rin meringis pelan. Sial! Padahal baru kepalanya saja tapi rasanya begitu nikmat. Len mengambil nafas perlahan mencoba menenangkan diri, sebelum ia membawa bibirnya mencium bibir Rin untuk meredam suara gadis itu nanti. Len memasukan seluruh penisnya dengan sekali hentakan ke dalam Vagina Rin.
"Hmmppphhh!"
Len menghentikan gerakannya untuk menunggu Rin terbiasa dengan penisnya. Ia harus benar- benar membuat Rin nyaman, dia tak bisa berlaku egois karna ini saat pertama gadis- Ralat! Wanita itu. Yah, tapi sepertinya gadis itu menginginkan ia melanjutkannya. Buktinya, pinggul gadis itu kini mulai bergerak meminta kelanjutan. Apapun untuk Rin jadi, Len pun akan mulai bergerak dari sekarang.
Dengan perlahan Len mulai menggerakan pinggulnya In-out dari lubang Rin. Bagi Len, ini adalah sesuatu yang cukup sulit. Yah, di saat kau tidak ingin wanitamu kesakitan, kau harus mencoba menahan nafsumu. Len melepaskan ciumannya pada Rin tatkala ia mulai mendengar desahan dari wanita blonde tersebut.
"Mmmpph... Ahhh... Aahhh..."
Sepertinya Rin sudah mulai merasakan Nikmat hingga membuat Len sedikit mempercepat genjotannya pada lubang Rin. Kali ini Len pun mengikut sertakan kedua tangannya untuk ikut andil dalam permainan. Len meremas-remas dada Rin dengan gemas. Melihat dada Rin yang melompat- lompat kecil setiap kali sentakan mengundangnya untuk di remas.
"Uhhh... Aaahhh... Ahhh.. Le-lebih cepat..."
Mengikuti kemuan Rin, Len pun menggenjot penisnya semakin cepat. Dia tak pernah mengira bahwa Rin bisa senafsu ini akan sex. "Nikmat, hmm?"
"Ouhhh... Yeahh... Nikmat... Ahhh... Ahhh..."
Ini benar- benar luar biasa. Rin yang berhari- hari mendiaminya kini bisa berada di dalam kungkungannya seraya mendesah merasakan kenikmatan atas apa yang ia lakukan. Ini sesuatu yang patut di banggakan! Dan sesuatu yang benar- benar membuat wanita di bawahnya ini telah resmi menjadi miliknya seorang.
"Aahhh... Ahhh.. Len... Aku... Unghhhh..."
Len mengerti, wanita di bawahnya ini sepertinya sudah hampir mencapai batasnya. Maka dari itu Len mempercepat gerakannya, dia tidak mau gadis itu hanya keluar sendiri di saat pertamanya. Setidaknya mereka harus keluar bersamaan.
"Nnhh... Tahan sedikit lebih lama, Rin."
Rin mengalungkan kedua tangan dan kakinya pada Len dengan erat. Mendapat respon seperti ini dari Rin, itu malah mempermudah Len menggenjot tubuh dengan leluasa. Rin benar- benar tau keinginannya, memang gadis yang hebat.
"Aahh... Ahhh... Len... Aku sudah tidak tahan... Oughh."
"Sedikit lagi..."
Kali ini tidak hanya Rin, Len pun merasakan hal yang sama. Pemuda itu pun akan segera memuntahkan isi dari penisnya. Dan Rin akan benar- benar menjadi miliknya.
Ting Tong!
Suara bel pintu yang menandakan kedatangan seorang tamu sama sekali tak membuat Len berhenti memompa dirinya dalam Rin. Sebentar lagi dia akan mencapai klimaksnya jadi, tamu bisa menunggu sebentar bukan? Lagi pula jika tidak sabaran, maka bisa pulang dan kembali lagi nanti.
Ting Tong! Ting Tong!
"Ahhh Lenn... Aku Keluar Aahhhhnnn..."
Tubuh Rin mengejan tatkala ia berhasil mengeluarkan apa yang ia tahan sejak tadi. Merasakan tubuh Rin yang mengejan klimaks, Len pun terus memompa dirinya untuk menyusul Rin mengambil kenikmatan penuh yang akan ia rasakan juga. Tak lama memompa beberapa kali, Len merasakan klimaksnya sudah di ujung. Dan dengan sekali Hentakan terakhir Len pun menyemburkan spermanya ke dalam Rin
"Ughh!"
Ting Tong!
"Buka Pintunya bodoh!"
_
~Twins~
_
Ting Tong! Ting Tong!
"Hoi! Len!"
Pemuda blonde yang tengah tertidur lelap di salah satu sofa dekat tempat tidur kembarannya itu tersentak bangun dari mimpinya tatkala suara bel pintu dan teriakan orang di luar mengganggunya. Dan dengan spontan, pemuda itu pun segera bangkit dari posisinya menuju ke ruang depan, tepatnya pada pintu utama rumahnya. Sungguh, ia benar- benar ingin tahu siapa yang datang sepagi ini untuk mengganggu acara tidurnya.
"Baiklah- Baiklah! Aku datang!"
Ceklek! Kriet!
Len membuka pintu rumah itu setengah dengan wajah yang malas seraya menggaruk rambut blondenya yang acak- acakan. Len pikir siapa yang datang ke rumahnya, ternyata pemuda pecinta es krim yang menyebalkan-menurutnya- inilah yang datang ke rumahnya di pagi buta seperti ini. Dia pikir ini jam berapa?
"Yo, Len."
Len menghela nafas malas. "Ada apa kau datang sepagi ini?"
"Aku kesini untuk membantumu. Kurasa kau butuh bantuan untuk merawat Rin jadi, aku membawa Megpoid-san untuk memban... Err... Len..."
Perkataan Kaito tiba-tiba saja berhenti dan berganti dengan isyarat mata yang membuat Len bingung. "Apa?" Tanya Len yang tidak mengerti maksud Kaito.
"Ehem."
Kaito berdehem pelan seraya menunjuk pada celana training yang Len kenakan. Len mengerutkan dahinya bingung atas tingkah Kaito hingga dirinya mengikuti arah tunjukan pemuda Ocean blue itu padanya.
"Shit!"
Len menutup pintu rumahnya dengan cukup keras karena terburu- buru. Dirinya baru menyadari apa yang terjadi sejak tadi, dan sepertinya hari ini adalah hari paling memalukan dalam hidupnya. Sial! Dia baru ingat bahwa ia tadi tengah mimpi basah dan sekarang celananya telah basah dengan spermanya sendiri. Untung saja baru Kaito yang menyadarinya, coba bayangkan bagaimana jika Gumi menyadarinya juga, dimana ia harus menaruh mukanya nanti? Dia harus berganti baju secepatnya.
"Ada apa, Shion-san? Kagamine-kun tidak mengijinkan kita masuk ke dalam rumahnya?"
Gumi, gadis berambut hijau itu kebingungan saat melihat percakapan singkat antara Kaito dan Len yang berakhir dengan bantingan pintu cukup keras. Apakah mereka tidak di terima dalam rumah ini?
Kaito berbalik dan menatap Gumi dengan senyum canggung. "Tenang saja. Len hanya lupa untuk menyisir rambutnya yang berantakan saat ku bilang ada seorang wanita yang ikut denganku." Yahh, sedikit berbohong demi kawan, tidak apakan.
"Aku tidak pernah tahu, jika Kagamine-san memperhatikan penampilannya."
"Yah... Begitulahh..."
~Twins~
"Hahahaha... Aku tak menyangka Pangeran Ice di sekolah bisa berlaku konyol seperti tadi."
"Diam kau."
Kaito benar- benar tak bisa menghentikan tawanya jika mengingat hal yang terjadi saat ia sampai ke rumah ini. Untung saja Gumi sudah berada di kamar Rin, jika tidak mana mungkin Kaito bisa tertawa sepuas ini. Pemuda Ocean Blue ini sama sekali tak mengerti jalan pikiran temannya yang satu ini. Bisa- bisanya teman blondenya itu membuka pintu dengan kondisi yang tak memungkinkan seperti tadi.
"Lain kali sebelum membukakan pintu rumahmu. Ceklah pakaianmu, jangan sampai sisa mimpi basahmu masih menempel seperti tadi. Hahahaha..."
"Ya... Ya... Ya... Tertawalah sepuasmu. Kau sama sekali tak membantuku saat ini. "
"Maaf-maaf." Kaito mencoba menghentikan tawanya meski agak sulit karna baginya itu benar- benar konyol. "Jadi siapa yang menjadi korbanmu kali ini? Miku? Megurine-sensei? Atau Mayu tetanggamu itu?" Yah, meski Kaito sudah berhenti tertawa tapi bukan berarti dia berhenti untuk meledek Len yang alhasil mendapat delikan tajam.
"Bagaimana dengan Yuuma?"
Kaito mengambil segelas jus yang berada di atas meja di depannya lalu meneguknya perlahan sebelum membalas pertanyaan Len. "Mereka mendapatkan skorsing selama 2 minggu dari sekolah."
"Cih!"
"Ada apa?"
Len melipat tanganya di depan dada dan mengalihkan pandangannya keluar jendela untuk meredam sedikit kekesalan dalan hatinya. "Mereka hanya terkena skorsing sedangkan Rin menjadi seperti ini. Kau pikir itu sepadan?" Kata Len.
"Yah, meski ku tahu itu terkesan tidak adil, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita bukanlah seorang jaksa, kita hanya seorang pelajar. Ku harap kau bisa memakluminya."
"Bagaimana pun juga ini tetap tidak adil! Kau pikir aku akan menerimanya begitu saja setelah mereka membuat adikku seperti itu?!"
"Ada apa ini?"
Dua pemuda yang tengah beragumen disana kini teralihkan pada suara feminim seorang gadis berambut hijau yang tengah berjalan menuruni tangga. Melihat gadis itu yang tiba- tiba datang, Len pun memalingkan wajahnya kembali dengan malas.
"Sudah selesai, Megpoid-san?"
"Ya, aku sudah membersihkan tubuhnya dan memakaikan pakaian meski sedikit kesulitan." Gumi menatap Kaito dan Len secara bergantian. "Boleh aku berpendapat sedikit?" tanya Gumi.
"Silahkan, tidak ada yang melarangmu untuk berpendapat."
Gumi mengangguk kecil saat mendapat tanggapan dari Kaito. "Kurasa Rin perlu menjalani aktifitas seperti biasanya. Di banding harus terkurung di da-"
"Kau pikir siapa kau hingga mencoba memberikan nasehat padaku?! Aku lebih mengenal Rin di bandingkan dirimu! Rin tidak butuh lingkungan munafiknya! Yang ia butuhkan hanya diriku!" Sela Len dengan penuh emosi saat mendapat pendapat dari Gumi.
"Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada dia terkurung dan tak bisa apapun. Jika seperti ini terus maka dia tidak akan bisa seperti dulu la-"
"Hentikan cara bicaramu yang seakan kau lebih mengerti Rin di bandingkan dengan diriku! Jika kau masih mau merusak suasana, lebih baik pergi sekarang juga!"
"Hoi, Len! Jangan terlalu kasar seperti i-"
"Keluar!"
Sepertinya kali ini Kaito benar- benar tidak bisa menenangkan Len. Pemuda blonde itu begitu protektif jika menyangkut saudara kembarnya. Kaito hanya bisa menghela nafas pasrah hingga akhirnya ia pun bangkit berdiri dan mengisyaratkan pada Gumi untuk keluar dari rumah pemuda itu. Yah, setidaknya mereka sudah mencoba untuk membantu Len.
"Baiklah, kami akan segera pergi dari sini. Tapi, kupikir ada benarnya perkataan Megpoid-san tadi dan ku harap kau memikirkannya lagi."
Bruk.
Suara pintu yang tertutup itu kembali menghantarkan keheningan dalam rumah Len. Len tahu bahwa dia memang keras kepala tapi baginya Rin adalah yang terpenting untuk sekarang. Dia tidak mau mengajak Rin keluar dan tiba-tiba membuat gadis itu semakin histeris sendiri. Len benar- benar ingin melindunginya, tapi...
"Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada dia terkurung dan tak bisa apapun. Jika seperti ini terus maka dia tidak akan bisa seperti dulu la-"
"Cih!"
_
TBC
_
HALLO ALL, Maaf banget. Aku ga Update- Update crita, alasanya aku beneran drop saat lihat review d wattpad Aku juga kena WB. Tapi sekarang aku usahain deh mumpung libur ku Up ff ku yang terbengkalai. salah satunya Twins ini, kuharap masih ada yang ingat.
Dan aku minta maaf banget karena malah Up Lemon pas bulan puasa,maaf ya.
Dan sekali lagi saya berterima kasih pada "Yuichi Jin" yang sebrnarnya dari beberapa bulan lalu minta aku buat UP ff ini.
tpi aku ga bisa.karna ga tahan buat bikin crita Lemon, ekh tapi skarang ntah kenapa lancar jaya... Hehehe...
Jadi Chapter kali.ini ku persembahkan untuk Yuichi Jin.
