Kriet...

Tanpa ingin membangunkan pemilik kamar, Len memasuki kamar kakak kembarnya dengan perlahan tatkala teman-temannya telah ia minta untuk pulang secara kasar. Kakinya mendekat ke arah tempat tidur berukuran singel bed berwarna orang yang menjadi tempat untuk beristirahat sang kakak saat ini hingga ia menghentikan langkah tepat di samping gadis honey blonde itu.

Mengingat perkataan teman sekelas saudarinya ini, sejujurnya pemikiran Len pun sedikit menyetujuinya namun, entah mengapa hatinya berkata lain. Apakah tak ada jalan lain? Sebenarnya bukan tanpa alasan ia menolak, hanya saja ia tidak ingin saudarinya ini semakin ketakutan dengan dunia luar hanya karena keegoisan dirinya lagi. Untuk saat ini, ia ingin hasil terbaik yang bukan dari rasa egoisnya ataupun paksaan teman-temannya.

Dengan perlahan Len menduduki tepi tempat tidur milik Rin sebelum ia mengusap pelan pipi tirus gadis itu. "Rin..." Gumamnya.

"Bersihkan aku dengan sentuhanmu."

Deg!

Tangan yang mengelus pipi tirus itu terdiam seketika tatkala mimpi bejat yang terjadi dalam kurun waktu tak sampai setengah hari itu kembali terlintas di otaknya. Sial! Kenapa harus teringat hal seperti itu di saat seperti ini?! Dengan cepat, Len menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan segala mimpi bejatnya.

"Kumohon, bersihkan aku dengan sentuhanmu seperti yang mereka lakukan padaku."

Sial! Sial! Sial!

Kenapa semakin ia mencoba mengalihkan pikirannya, mimpi itu malah semakin jelas d ingatannya. Tidak! Tidak! Ia tidak boleh mengikuti semua alur yang terjadi di mimpinya. Ingat! Mereka adalah saudara kandung terlebih anak kembar. Merasa pemikirannya yang semakin kacau, Len pun bangkit dari posisi duduknya berniat untuk keluar untuk sekedar mendinginkan kepala dari efek pengaruh mimpinya bejatnya. Ya, ia harus mendinginkan kepala.

"Len..."

Niatan Len yang tadinya ingin mendinginkan kepala kini beralih menatap sang kakak yang tengah memanggilnya. Mata terpejam sang kakak seakan mengatakan bahwa dirinya tengah memimpikan pemuda blonde itu hingga terbawa tanpa sadar ke dunia nyata. Saat melihat sang kakak yang masih terpejam seraya memanggil namanya, Len menghela nafas seraya kembali pada posisi duduknya di tepi tempat tidur Rin.

"Kau tau Rin, kau adalah orang yang begitu keras kepala." Tutur Len tanpa memperdulikan akankan perkataannya di jawab atau tidak. "Jika saja waktu itu kau mendengarkan perkataanku... Mungkin, saat ini kau tengah tertawa bahagia dengan semua koleksi manga tidak jelas yang sering kau berikan padaku." Tambahnya seraya tersenyum bodoh tatkala dirinya menyadari bahwa ia hanya berbicara sendiri.

Pemuda itu menghela nafas menyerah sebelum mendekatkan wajahnya pada telinga kakak kembarnya. "Untuk kali ini, tidurlah lebih lama lagi." Tepat setelah bisikannya itu, Len kembali menegakkan tubuhnya kembali seraya memantapkan diri meski sedikit was was dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Len melepaskan satu persatu kancing baju piyama rin dengan perlahan agar tak membangunkan sang pemilik dari tidurnya yang indah. Untuk kali ini, Len benar-benar kalah dengan nafsu bejatnya sendiri dan ia mengakui itu tapi, bukankah Rin yang meminta padanya? Meski itu hanya di dalam mimpi? Bukan salahnya bukan? Tidak, sebenarnya ini salah dan Len tahu itu namun, jika ini bisa membantu Rin... Ia akan melakukannya.

Saat seluruh kancing telah terlepas, Len menyibak pelan piyamanya dan menatap tubuh setengah telanjang itu dengan ragu. Sejujurnya ia masih sedikit ragu untuk melakukannya namun, melihat Rin yang tidak memakai bra seperti ini membuat dirinya berpikir bahwa Gumi entah sengaja atau tidak untuk tidak memakaikan bra agar mengundangnya melakukan hal bejat ini. Tidak, ini pure pemikiran mesumnya saja.

Len membungkukkan tubuhnya kembali mendekat ke wajah Rin. "Maaf." Ucapnya seraya mengecup bibir pucat Rin sebelum beralih menjilati leher putih Rin.

Tak hanya sampai disitu tangan Len yang sejak tadi berada di samping tubuhnya kini mulai merayap untuk mengusap perut datar Rin dan perlahan naik hingga mencapai salah satu bukit kembar sang kakak yang tak terlalu besar. Dengan lembut, Len meremas benda lembut nan kenyal itu seraya menimang-nimang ukuran yang cukup pas di tangannya itu. Memang tak tidak cukup besar jika di bandingkan milik Miku bahkan ini jauh lebih kecil tapi, entah mengapa rasanya begitu pas seakan memang di ciptakan untuk dirinya seorang.

Sekarang, Len tak hanya membiarkan lidahnya bermain pada leher Rin, kini benda tak bertulang itu mulai menelusuri jalannya melewati tulang selangka milik Rin dan berhenti pada pucuk merah muda yang mulai menonjol keluar akibat ransangan tangan Len pada satunya. Len memainkan lidahnya pada sekitar puting kiri dan tangan kanannya yang ia gunakan untuk meremas kini beganti untuk memilin pelan puting kanan Rin hingga kedua benda itu mengeras keluar.

"Ngghh..."

Len terdiam tatkala lenguhan dari orang yang tengah ia mainkan ini terdengar. Namun, cukup lama Len menunggu tanpa berani melihat wajah sang putri tidur ini, dan saat pemuda itu yakin bahwa Rin hanya mengigau dalam tidurnya, ia pun mulai kembali melanjutkan aktifitasnya. Len ingin membantu Rin tapi, bukan berarti Rin harus mengetahui aktifitasnya saat ini bahkan ia tak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya ketahuan nanti. Masa bodo dengan segala hal! Nanti ya nanti, sekarang ya sekarang.

Sepertinya sudah cukup Len bermain dengan bukit Rin. Bukannya ia tak ingin bermain lebih lama lagi namun, kemungkinan akan bangun jika mengingat sudah hampir waktunya matahari keluar, Len mencari strategi aman meski sedikit terburu-buru. Len kembali menegakkan tubuhnya dan melepaskan kungkungannya tubuh kecil itu. Tangannya kini berganti melakukan aktifitas membuka celana piyama dan celana dalam yang Rin kenakan lalu meleparnya ke sembarang arah. Ia tak perduli meski nanti dirinya harus mencari pakaian Rin dengan ekstra karena lupa posisi mana tempat dirinya melempar tadi. Setelah seluruh kain yang membungkus Rin sekarang tangan Len membuka kedua kaki gadis itu perlahan dan memposisikannya sedikit mengangkang tepat di hadapannya.

Vagina merah muda dengan sedikit cairan yang mulai mengalir perlahan dari dalamnya membuat Len meneguk ludah menahan perasaan kuat untuk mengagahi Rin sekarang juga. Tidak! Dia tidak boleh melanggar batasannya. Bukankah Yuuma dan teman-temannya belum sampai lebih jauh lagi? Berarti ia hanya perlu membersihkannya dari luar. Kali ini Len benar-benar berusaha untuk meyakinkan dirinya agar tidak lebih dalam mengikuti nafsu bejatnya meski sesuatu di bawah sana sudah terasa begitu sesak dan semakin sesak.

Len melebarkan bibir vagina Rin dengan kedua ibu jarinya dan kembali meneguk ludahnya antara was-was gadis itu terbangun juga menahan nafsu yang bisa meledak kapan saja. Pemuda itu tahu meskipun begitu banyak wanita telanjang di hadapan tapi, hanya ada satu wanita di dunia ini yang dapat membuatnya hilang kendali dan wanita-tidak! Len yakin bahwa Rinnya ini masih seorang gadis dan gadisnya inilah yang selalu menjadi target dikala mimpi basahnya datang. Menjijikkan? Memang tapi, apa perdulinya? Toh, tak ada peraturan yang melarangnya berhubungan dengan saudara kandung di dalam mimpi. Jadi, Ia bebas melakukan apapun.

"Mmhh..."

Sebuah desahan mulai terdengar tatkala Len menjilati klitoris Rin yang membuat gadis itu semakin banyak memproduksi cairan pre organismenya. Tak hanya itu, kini telunjuk kiri Len mengelus lubang vagina Rin untuk memberikan gadis itu rangsangan tambahan yang membuatnya sedikit menggeliat tak karuan. Sepertinya gadis itu sudah benar-benar terangsang dalam tidurnya. Apakah ini yang di namakan Sleeping Sex?

"Ummhh... nnhh..."

Desahan Rin benar-benar membuat Len tidak tahan. Baginya, itu terdengar begitu merdu dan mengundang seakan memintanya lebih jauh lagi melakukannya. "Shit!" Geram Len pelan tatkala menyadari juniornya terasa sakit hanya karena suara desahan Rin.

Tahu kondisi junior yang perlu di tidurkan kembali, tanpa mengubah posisinya yang membungkuk, kedua tangan Len kini ganti pekerjaan dengan membuka kancing zipper dan resleting celananya untuk membebaskan Len junior dari himpitan celana jeans yang ia kenakan saat tadi mengganti celana. Setelah terasa cukup bebas dari kungkungan Len kembali melanjutkan aktifitasnya tadi yang sempat terhambat seraya berusaha menidurkan juniornya kembali dengan tangan kanannya.

Rasanya sudah begitu lama saat terakhir kali ia menidurkan juniornya sendiri. Beberapa waktu lalu, juniornya akan di bantu tidur oleh jepitan dari dinding nikmat dari wanita teal yang menjadi sahabat Rin di saat dirinya butuh pelampiasan. Abaikan itu karena yang terpenting sekarang adalah gadisnya, ia harus membantu gadisnya dan juga dirinya tentu saja.

Lidah lunak Len yang sejak tadi bermain di sekitar klitoris Rin kini berpindah tempat pada lubang rapat yang menjadi jalan terjadinya pembuahan. Di dalam sana, lidahnya berkelana perlahan pada dinding di dalam. Meliak-liuk seakan mencari mencari tetesan air yang begitu langka di dalam sebuah botol kosong tapi, ini bukanlah botol sebuah kosong melainkan botol yang terisi penuh cairan dan hal yang perlu kita lakukan untuk mendapatkannya adalah berusaha menarik keluar cairan tersebut.

"Aahh... nnghh..."

Desahan Rin yang sejak tadi seakan tertahan oleh mulutnya sekarang mulai terasa begitu berbeda tatkala bibirnya kini terbuka. Merasakan perubahan desahan Rin, Len tersenyum tatkala dirinya menyadari bahwa lidahnya menemukan titik nikmat Rin terlebih cairan yang semakin banyak ini membuatnya semakin gencar untuk mempermainkan gadis itu.

Len menarik keluar Lidahnya dan menggantikan posisi itu dengan jari tengah lengan kirinya yang langsung mendapat tanggapan sebuah jepitan penolakan dari pemiliknya. Ini hal yang baru bagi tubuh Rin jadi, cukup wajar meski hanya dengan 1 jari tubuhnya agak berontak karena terasa ngilu dan sedikit sakit. Tak perduli dengan penolakan dari tubuh Rin, Len mulai mengocok tangannya pada vagina gadis itu sedikit cepat. Tak hanya vagina Rin yang mendapat perlakuan seperti itu tapi, juniornya pun perlakuan yang pantas dengan lengan kanannya.

"Unngghh... nnnhh..."

Cepat dan semakin cepat Len memainkan jarinya di dalam Rin hingga dalam kurun waktu yang tak begitu lama cairan kental menyembur keluar mengenai wajah Len. Pada semburan pertama memang mengenai wajah Len namun dengan sigap pemuda itu menghisap bibir pink tersebut dan menerima sisanya dengan sukarela. Ini yang pertama bagi Rin mendapat oral meski dalam tidurnya maka dari itu ia begitu cepat keluar karena tak terbiasa. Memang sebagian gadis ada yang jauh lebih susah untuk keluar di saat pertama namun, dalam kasus Rin dia adalah salah satu orang yang sebaliknya.

Setelah merasa seluruh cairan Rin telah habis, Len melepaskan bibir vagina itu dan menatapnya sebentar sebelum menegakkan tubuhnya dan memperhatikan cairan di sekitar selangkangan Rin yang menempel. "Belum." Ya, benar. Bagi Rin memang sudah selesai tapi, bagi dirinya ini sama sekali belum selesai. Dia belum keluar sama sekali.

Kali ini Len merapatkan kedua paha Rin dan mengangkat pinggang gadis itu agar sedikit lebih tinggi untuk memudahkan aksesnya nanti. Len akan memasukannya? Tidak, dia masih tahu diri untuk tak terlalu mengikuti segala nafsu bejatnya lebih lanjut tapi, sebagai gantinya ia harus menuntaskan ini dengan cara lain. Len menggesekkan penisnya pada vagina Rin yang masih sedikit basah seraya menahan dirinya untuk tidak menancapkan sang junior pada lubang gadis itu yang cukup menggoda. Setelah merasa cukup, Len mengarahkan penisnya pada paha Rin yang terapit rapat karena Len yang menahannya sejak tadi.

"Kumohon, tetaplah tidur."

Tepat setelah menggumamkan permintaannya, Len menancapkan juniornya di antara kedua paha Rin. Len terdiam tatkala dirinya berhasil menancapkan juniornya pada paha Rin untuk melihat reaksi gadis itu. Rin sedikit bergerak dalam tidurnya, sepertinya ia sedikit tak nyaman dengan posisi itu tapi, jika gadis itu tak terbangun berarti ini adalah lampu hijau bagi Len bukan?

Len menarik pinggangnya perlahan hingga ujung penisnya lalu menghentak sedikit hingga kepala penisnya terlihat menyembul keluar dari ujung himpitan paha Rin. Kali ini Len tak mau terburu-buru, Rin tidak boleh terbangun cepat maka dari itu ia hanya menghentakkan sesekali penisnya lalu melihat reaksi gadis itu dan terus berulang. Cukup lama ia melakukannya hingga dirinya benar-benar sudah sangat yakin bahwa Rin takkan terbangun, Len mulai menggenjot penisnya sedikit lebih cepat.

"Sshh..."

Padahal hanya seperti ini saja tapi, rasanya nikmat. Entah apa yang Rin perbuat hingga dirinya benar-benar kecanduan gadis itu. Setiap hari, tidak! Bahkan hampir setiap dia bersama Rin membuat juniornya mulai terbangun perlahan. Biasanya ia hanya bisa melepaskan sensasi seperti hanya dari permainan solo, mimpi basah atau pelampiasannya pada Miku tapi, kali ini ia bermain sendiri dengan tubuh gadis dambaannya. Padahal awalnya ia hanya ingin membantu Rin tapi, mengapa sekarang ia yang perlu di bantu?

"Unngghh..."

Begitu nikmat dan lebih nikmat lagi tatkala dirinya mempercepat gerakan pinggulnya. Saat pertama berada dalam jepitan paha Rin memang terasa agak susah karena cairan yang terolesi pada penisnya masih kurang namun, sekarang sudah lebih licin akibat cairan pre-cumnya sendiri yang telah keluar. Dengan akses yang licin ini membuatnya lebih mudah menggenjot sesuka hati bahkan suara benturan antara kulit paha Rin dan kulit sekitar pinggangnya terdengar begitu intens.

Len kembali menaikan temponya, rasanya dia telah kehilangan kewarasannya sekarang bahkan biasanya ia bisa menahan diri agar dapat bermain lebih lama tapi, kali ini ia mendedikasikan dirinya agar cepat keluar. Masalahnya, ia harus menyelesaikan semua ini sebelum mata shappire yang begitu mirip dengannya itu terbuka dan memandangnya dengan tatapan jijik. Tidak! Dia takkan sanggup jika itu benar-benar terjadi.

"Ugh! Rin... Sedikit ssshh..."

Pria itu benar-benar mengejar klimaksnya hingga tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya yang terpejam membuktikan bahwa dirinya telah jatuh ke dalam pikirannya sendiri. Bahkan, mungkin dia tak sadar ketakutannya sejak tadi bisa saja terjadi dalam kurun waktu tak sampai ia merasakan klimaks.

"Len..."

Deg!

Len membuka mata tatkala suara serak khas orang baru bangun tidur memanggil namanya dan langsung menatap mata shappire yang terbuka sayu itu dengan pandangan terkejut. "Ri-Rin... Ugh!"

"Ngh!"

Klimaks yang di tunggu-tunggu pun akhirnya terjadi. Sperma yang sejak tadi di tunggu ke hadirannya kini terlepas begitu saja hingga beberapa semprotan sempat mengenai wajah Rin yang membuat gadis itu mengeluh kaget. Menyadari semprotan spermanya mengenai wajah Rin, Len pun mencabut penisnya lalu menurunkan tubuh Rin dengan terburu-buru sebelum kembali mengocok batang keras itu untuk mengeluarkan sisa spermanya yang kali ini menyembur di tubuh polos Rin.

Setelah yakin bahwa spermanya takkan keluar lagi, Len kembali memberanikan dirinya untuk menatap wajah Rin yang masih memalingkan wajah seraya memejamkan mata sejak pertama spermanya mengenai wajah gadis itu seraya mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan.

Sekitar 30 detik segalanya terasa membeku di antara mereka, tak ada satu pun yang memulai pergerakan hingga Rin membuka kedua bola matanya dengan kesadaran yang penuh. Lengan kurus itu kini bergerak perlahan ke arah wajahnya sendiri untuk menyentuh cairan yang sempat mengenai dirinya tadi. Menyadari apa yang Rin sentuh, fokus Len yang sejak tadi menatap Rin kini beralih pada celananya yang masih menggantung di pertengahan paha. Dengan terburu-buru, Len turun dari tempat tidur milik kakaknya lalu membelakangi Rin untuk merapihkan celananya seperti semula seraya menyusun kata-kata yang akan dia gunakan sebagai alasan nantinya.

Ia tak boleh lari dengan apa yang telah di mulainya sejak tadi, maka dari itu hal utama yang harus ia lakukan adalah meminta maaf. Len berbalik menghadap Rin tatkala dirinya telah cukup rapih berhadapan dengan gadis itu. Namun, niatannya yang ingin meminta maaf malah jadi kembali terdiam tatkala melihat gadis itu tengah memainkan cairan lengket miliknya dengan jari telunjuk dan ibu jari lentik itu.

"Ri-Rin! Kau tak boleh memainkannya seperti itu!"

Len pikir gadis itu akan marah atau yang lainnya namun apa yang di pikirannya berbeda jauh saat melihat gadis itu memainkan sperma di jarinya dengan polos. Dengan cepat Len mengambil handuk kecil di dalam wadah air yang Gumi tadi pakai untuk membersihkan tubuh Rin lalu menarik lengan gadis itu untuk di bersihkan.

"Len."

Len tak memperdulikan panggilan Rin dan fokus pada wajah gadis itu yang tengah ia bersihkan dari cairan sperma. Namun, aktifitasnya terhenti tatkala tangan mungil sang kakak menggenggam jemarinya yang tengah membersihkan. Len memperhatikan lengannya yang di genggam Rin sebelum beralih menatap gadis blonde itu. Ah, sepertinya sudah waktunya Rin melepaskan kemarahannya atas perlakuan kurang ajar Len pada tubuhnya tapi, pemuda itu telah siap mendapatkan setidaknya sebuah tamparan pada pipinya.

"Lakukan saja. Pukul aku sepuasmu."

Mendengar jawaban Len, Rin hanya memberikan respon dengan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. "Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Tapi...-" Lengan Rin yang menggenggam Len kini meremat kencang telapak tangan pemuda itu. "Tubuhku... Tubuhku tidak merespon seperti sebelumnya. Aku sama sekali tidak merasa takut ataupun jijik saat kau menyentuhku kali ini."

"Hu-Huh?"

To be Continue

Yo! bertemu lagi bersama saya si author ngaret yang kali ini malah d tambah dengan otak mesumnya #plak.

Maaf, jika aku slalu Update terlalu lama d setiap ffku. Dan maaf kalau kali ini jadi chapter yang full mesum dan sebenernya saya mau masukin adegan Lemon tapi berhubung kemarin sudah ada Lemonnya, Kali ini saya buat lime saja. Dan juga sepertinya akan lebih banyak adegan Lime atau Lemon kedepannya