Pintu mahoni terbuka tatkala pemiliknya terus menerus mendengar suara ketukan dan panggilan dari depan rumahnya. Dari balik pintu mahoni tersebut terlihat Kaito dan Miku yang berdiri dengan pakaian casualnya. Sebenarnya kedatangan mereka berdua hari ini karena Len meminta bantuan perihal Rin yang akhir-akhir ini mulai kembali memberontak seperti keadaan awal.
"Baguslah kalian cepat datang."
"Bagaimana keadaan Rin?" Tanya Kaito pada Len.
Len memberi akses masuk pada kedua temannya itu dengan berdiri di sisi pintu. "Dia masih belum mau makan apapun selama dua hari. Bahkan dia mengigit lenganku saat menyeretnya untuk mandi."
"Kau kasar sekali, Len," tanggap Miku saat mendengar perkataan Len.
"Saat musim panas seperti ini, Rin tidak mau mandi? Apa kau serius?" Tanya Kaito.
"Bahkan sudah tiga hari."
Entah reflek atau bagaimana yang pasti kini Kaito dan Miku saling bertukar pandang seraya memberi mimik muka kebingungan. Pasalnya suhu di jepang sangat ini meningkat cukup tinggi, bahkan awalnya mereka enggan keluar rumah karena terlalu panas, tapi mereka mencoba mengatasi hal tersebut demi Len. Namun saat ini malah ada yang dapat bertahan tanpa mandi di suhu ekstrim seperti ini. Padahal seingat mereka, Len tidak memasang AC di rumahnya.
"Dengar! Aku menghubungi kalian berdua untuk merayu Rin. Terserah kalian mau melakukan apa, tapi yang pasti jangan membuat keadaannya semakin memburuk. Mengerti?"
"Tapi apa kau yakin kalau Rin mau bertemu dengan kami terlebih laki-laki?" Tanya Miku seraya menunjuk Kaito.
Kaito menunjuk dirinya sendiri seraya berkata, "aku?"
"Tenang saja. Kaito sudah beberapa kali kemari, jadi selama dia tak melakukan hal kurang ajar pada adikku. Aku takkan menendangnya dari rumah ini."
"Oi! Oi! Aku kesini untuk membantu Rin, bukan dihina seperti ini!"
"Tapi kau pantas dihina," kata Miku yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Len.
"Hei! Memangnya aku sebodoh apa sampai pantas dihina?"
"Sangat bodoh," kata Len dan Miku dengan kompak.
Twins
Sudah hampir tiga jam berlalu saat Kaito dan Miku datang atas permintaan tolong Len pada mereka. Atas bujukan Kaito dan Miku, akhirnya Rin mulai menurut meski masih sedikit enggan berkontak terlalu banyak dengan mereka berdua, tapi setidak Rin sudah mau menurut. Yah, meski boleh diakui agak sulit membujuk Rin yang sekarang ini dibanding dulu. Kalau dulu, mungkin hanya dengan beberapa buah jeruk, Rin akan langsung menurut layaknya anak kecil yang diiming-imingi sebuah permen.
"Kurasa kedatangan kalian tidak sia-sia."
"Yah, tapi entah kenapa Rin bahkan tidak mau aku suapi."
"Mungkin Rin tidak ingin kebodohanmu menular padanya," tanggap Miku seraya menyuapi Rin.
"Kebodohan itu tidak menular!"
"Berarti kau mengakui, bahwa dirimu memang bodoh?" Kata Miku lagi.
"Bu-bukan seperti itu!"
"Kau tidak bisa membalas ejekanku, kan? Tandanya kau memang bodoh."
Gelak tawa terdengar memenuhi kamar tersebut atas aksi saling mengejek antara Kaito dan Miku. Ruangan hampa itu sedikit berwarna karena kehebohan mereka meski sang pemilik ruang tetap bungkam dan tak ingin ikut dalam tawa hangat itu.
"Aku keluar dulu sebentar."
"Memangnya kau mau pergi kemana, Len?" Tanya Kaito.
"Kau tahu, hanya panggilan alam. Jadi kalian lanjutkan saja tanpaku," kata Len seraya berjalan keluar dari kamar Rin.
"Ok."
{ALERT: Bagi yang 21 kebawah, silahkan skip ke bagian mode aman, atau dosa tanggung sendiri! }
Biasanya Len tidak terlalu suka dengan keramaian, tapi hari ini ia begitu bahagia melihat teman-temannya bisa berkumpul dan membantu dirinya di saat kesusahan seperti sekarang. Sebenarnya ia sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah semuanya terjadi. Ia benar-benar hampir frustasi jika mengingat saat ia ketahuan tengah melakukan hal terburuk pada tubuh adiknya sendiri. Beruntung Rin tak mempermasalahkan hal itu dan mungkin sekarang sudah tak mengingatnya lagi.
"Aku merasa kau semakin tertekan akhir-akhir ini."
Suara feminim seorang gadis membuat kepala blonde Len reflek menengok ke arah belakang. Saat matanya menangkap siapa orang yang tengah berbicara di lingkungan privasinya, Len pun kembali fokus pada apa yang ia lakukan, namun kegiatannya berbeda. Dengan terburu-buru Len menyudahi sesi pembuangan urinnya dan hendak memasukan kembali bendanya, namun harus terhenti tatkala tangan lentik gadis di belakangnya menggenggam batang layu tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan ta-Akh!" Len meringis kesakitan tatkala saat tangannya mencoba melepaskan tangan Miku, ia malah mendapat remasan kencang dari gadis tersebut.
"Aku akan membantumu melepaskan stress."
Perlahan jemari lentik itu meremas batang layu Len dengan lembut. Tubuh mungilnya semakin rapat pada punggung tegap Len hingga dua buah aset berharga Miku menekan disana. Kedua rangsangan yang Len dapatkan saat ini membuat benda kembanggaannya itu mulai mengeras. Sebenarnya Len tidak ingin hal ini, tapi dia hanya seorang pria, jadi wajar kalau dirinya terangsang akan hal seperti ini.
"Hentikan, Miku!" Meski ia berkata demikian, namun tubuhnya menikmati perlakuan Miku. Terlebih jika ia mencoba melepaskan gengaman Miku lagi, rasa sakit tadi pasti akan kembali.
"Sssttt ... suaramu terlalu keras, Len. Kau ingin Rin menemukan kita di posisi seperti ini?"
Jangankan menemukan mereka di posisi seperti ini, berada di dalam kamar mandi berdua saja pun tidak ingin. Inginnya ia memberontak dan memaki Miku, tapi kocokan pada batangnya dan kondisi mereka saat ini membuat Len berpikir dua kali. Kali ini ia harus mengikuti permainan Miku jika tidak ingin adiknya kembali membencinya seperti dulu.
"Ba-baik. Tapi lakukan dengan cepat. Aku tidak ingin Rin mencurigai kita yang terlalu lama."
Miku tersenyum saat mendapat akses lebih. "Aku akan melakukan yang terbaik."
Tangan kiri Miku yang menganggur sejak tadi, kini masuk kedalam kaos kuning yang Len kenakan. Tangan menelusuri dari perut dan merambat perlahan keatas hingga benda kecil yang menegang disana menyentuh jarinya. Saat mendapatkan apa yang ia cari, jemari Miku mulai memilin pelan puting Len yang membuat bendanya berdenyut merasakan nikmat.
Saat tangan kanan Miku berpindah pada kepala penisnya dan bermain-main di atas sana, Len reflek menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang menekan pada dinding di belakang kloset. Entah kenapa rasanya begitu nikmat. Apa mungkin karena ia sudah terlalu lama tak melakukan hal seperti ini, namun yang pasti jemari Miku begitu mahir memainkan dirinya, terlebih saat cairan pre-cum Len mulai keluar.
"S*t! Jangan bermain-main seperti itu! Aku harus cepat-cepat keluar!"
Bohong jika Len tidak ingin bermain lama seperti ini. Tapi saat pikirannya terbayang akan wajah Rin, ia ingin menyudahi semuanya dengan cepat. Maka dari itu tangan kanan Len yang menumpu tubuh pada tembok, kini mulai mengarahkan tangannya pada batang berurat itu, namun tangannya ditepis kencang oleh Miku seakan tidak memperbolehkannya ikut andil.
"Bukankah sudah ku bilang akan melakukan yang terbaik? Jadi kau diam dan nikmati saja."
Tangan kanan Miku kembali mengocok penis Len dengan perlahan. Tangan kirinya yang ia gunakan untuk memilin puting kemerahan Len, kini beralih pada celana training Len yang langsung ia tarik kebawah. Di bawah batang beruat itu terlihat benda yang menggantung seperti buah, dan benda itulah sasaran tangan kiri Miku selanjutnya.
Len menggeram nikmat tatkala kedua tangan lentik itu bermain pada area sensitifnya. Terlebih tangan kiri Miku yang bermain pada buah zakarnya itu pun mulai menggoda bagian lain dengan mengusapnya pelan. Di bagian bawah, tepatnya pada bagian antara buah zakar dan asshole, itu lah salah satu area sensitif Len yang Miku dapatkan dulu. Buktinya, hanya dengan ia mengelus titik tersebut, pre-cum Len keluar semakin banyak.
"Jangan menggodaku, Miku! Sshh ... percepat jarimu."
Dari suara desahan Len, Miku dapat menyimpulkan bahwa pria itu benar-benar berada di kenikmatan tertingginya. Gadis itu yakin, bahwa Len tengah mengumpulkan benih-benihnya sebanyak mungkin untuk dilepaskan secara bersama. Miku melepaskan kedua genggamannya dan sedikit menjauh dari Len.
"Berbaliklah! Aku akan menyelesaikannya dengan mulutku."
Mendapat perintah dari Miku, tanpa berpikir panjang Len pun berbalik menghadap gadis itu. Namun tepat saat ia berbalik, Miku mendorong Len hingga jatuh terduduk di atas kloset. Belum sempat Len sadar dari keterkejutannya, Miku duduk di atas pangkuan Len. Paha telanjang Len yang menyentuh kulit tertutup dress itu menyadari satu hal. Len yakin bahwa Miku tak memakai celana dalam.
"Jangan bilang kau memang telah mengatur semua ini sejak awal."
"Tidak," Miku memegang penis tegang Len dengan kedua tangannya, lalu ia menaikan sedikit bokongnya sebelum ia lebih mendekat pada Len. "Tapi kau memberikan sedikit celah untukku melakukan apa yang ku mau."
Len memang tak bisa melihat apa tengah dilakukan Miku pada benda kebanggannya di balik dress milik gadis itu. Tapi saat gadis itu menurunkan bokongnya, ia yakin bahwa bendanya telah menerobos masuk kedalam gadis itu. Otot-otot kewanitaan Miku begitu menjepit dan merangsangnya untuk kembali mengumpulkan benih. Len kembali menggeram nikmat tatkala pinggul Miku mulai bergerak naik-turun dengan cepat.
"Tu-tunggu! Jangan cepat-cepat! Kau akan membuatku keluar!"
Miku tersenyum saat mendengar permintaan egois Len lainnya. Padahal pria itu yang memintanya untuk cepat-cepat, tapi sekarang ia memintanya untuk perlahan. Tapi untuk kali ini Miku akan mengikuti apa yang Len mau. Maka dari itu Miku pun mulai memperlambat tempo genjotannya pada penis Len.
Tak hanya itu, kedua tangan Miku pun menurunkan zipper dressnya sampai pertengahan hingga bagian atas dress itu melorot hingga pinggang. Saat Miku hendak melepaskan branya, tangan Len segera melepaskan pengait bra tersebut yang berada di bagian depan sehingga payudara Miku lolos sempurna.
"Aahnn.. ahh ... ahh ..."
Bagaikan bayi, Len melahap rakus salah satu payudara Miku yang bergoyang karena hentakkannya dan memainkan satunya dengan tangan. Miku memejamkan matanya merasakan nikmat tatkala permainan seperti ini kembali ia rasakan setelah sekian lama. Terlebih bersama dengan orang yang dicintai, hal ini terasa begitu nikmat dan candu baginya.
"Ssshh aahh ... Len ..."
Kali ini tak hanya pinggul Miku saja yang bergerak, namun pinggul Len pun bergerak cepat menghentak kedalam seluruh bagian penisnya untuk mendapatkan kenikmatan lebih. Dan Miku yang merasakan hentakan cepat Len pun mulai mengimbangi genjotannya dengan tempo yang Len berikan.
"Bangunlah! Aku akan keluar!"
Miku menggeleng cepat menjawab perintah Len. "Nnnhh ... keluarkan di dalam!"
"Apa kau sudah memasangkan pengaman?" Pertanyaan Len kali ini tidak dijawab oleh Miku. Gadis itu terdiam seraya memejamkan mata menahan nikmat atas hentakannya. "Ck! Cepat katakanlah! Ini akan segera keluar!"
"Ummhh ... Yeahh ... lebih cepat ... aahh ... ahhh .. "
Mendengar desahan Miku, Len menganggap bahwa gadis itu sudah mempersiapkan dirinya di balik dress tersebut sehingga ia pun dapat bebas melakukan yang ia mau. Sejujurnya, keluar di dalam memang lebih nikmat menurut Len, maka dari itu ia harus mencapai keinginannya.
"Aku akan keluar!"
Hentakkan Len pada tubuh Miku semakin kencang yang disambut baik dengan desahan tak terkontrol gadis teal tersebut. Tak berselang lama otot-otot kewanitaan Miku pun meremat kencang penis Len yang membuatnya sampai pada puncaknya. Tubuh mereka berdua pun bergetar menyalurkan hasrat terpendamnya saat Len menekan kencang pinggul Miku hingga terduduk di pangkuanagar penisnya terbenam sempurna. Kepala kuning Len kini tengah tenggelam pada payudara Miku seraya meluncurkan berjuta-juta sel di dalam sana. Bahkan saat tubuh Miku sudah behenti gemetar tanda seluruh cairannya telah terkuras, Len masih menyemburkan cairannya hingga empat sampai lima kali sebelum terkulai lemas di atas kloset.
Nafas mereka berdua tak beraturan, keringat membanjiri rambut hingga ujung kaki, dan tanpa terasa sudah satu jam mereka berada di kamar mandi setelah Len mengecek jam tangannya. Sebenarnya ia masih lemas, dan ia yakin Miku masih belum sanggup untuk berdiri, tapi ini sudah terlalu lama dan ia harus kembali.
"Bangun dan istirahatlah sebentar sampai kau benar-benar sanggup untuk berjalan, mengerti?"
Miku mengangguk mendengar perkataan Len. Gadis itu mengangkat bokongnya sedikit hingga penis Len meluncur keluar dengan mudah dari dalam vagina Miku. Tepat saat Miku bangun dan menjauh sedikit, gadis itu langsung jatuh lemas ke atas lantai. Saat Miku telah menjauh, Len hendak melepaskan pengaman yang berisi sperma miliknya hingga menyadari, bahwa penisnya tak memakai pengaman dan cairannya meluber di sekitar penisnya. Len menarik nafas sejenak sebelum berpikir. Mungkin pengaman itu masih tersangkut di dalam lubang Miku. Len mengambil tisu toilet di sebelahnya dan menyeka seluruh sperma yang menempel sebelum memakai celananya kembali.
"Buka kakimu, biar aku melepaskan pengamannya," kata Len saat disini berjongkok di hadapan Miku.
Mendengar perkataan Len, Miku malah merapatkan kedua kakinya. "Ti-tidak perlu. Biar aku yang membuangnya."
"Tidak. Biarkan aku membantumu. Lagipula kau pasti lelah." Len membuka kedua kaki Miku dengan paksa hingga menampilan vagina Miku yang masih terbuka dengan lelehan sperma Len. Melihat lubang tanpa pengaman itu menganga dengan sperma, mata Len membulat. "Kau berbohong!"
"Le-len, ma-maaf a-"
"Kau gila! Bagaimana jika kau hamil!" Len mengacak-acar rambutnya hingga ponytailnya rusak seraya menggeram frustasi.
Miku menatap Len dengan iba. Ia tak berpikir, bahwa pria yang dicintainya akan begitu frustasi dengan kebohongan yang dirinya buat. "Len, aku-"
"Aku harus mengeluarkannya!"
"He?"
"Aku harus mengeluarkan semuanya!"
Tanpa aba-aba, Len memasukan dua jarinya ke dalam lubang Miku lalu menggerakannya seperti mengorek. Miku yang tak siap pun meringis kesakitan tatkala kuku-kuku Len menggores dinding vaginanya. Spontan, Miku pun menahan tangan Len agar menghentikan perbuatannya. Namun apa daya, tenaga Len lebih besar darinya hingga ia tak bisa melepaskan lengan besar itu meski Miku mulai melihat sperma yang keluar kini bercampur dengan darah
"Sakit! Hentikan!" Teriakan kesakitan yang disertai air mata, tak membuat Len berhenti melakukan kegiatannya dan malah membuatnya semakin gencar tatlala semakin banyak cairan yang keluar.
{mode aman}
Suara pintu kamar mandi yang terbuka dengan cara kasar, kini menampilkan Kaito yang terlihat tergesa-gesa disana. "Ada a-," perkataannya terhenti tatkala ia melihat kedua temannya yang masih dengan pakaian minim dan dalam posisi kurang berkenan.
Awalnya Kaito hendak menutup kembali pintu tersebut tatkala dirinya telah mengganggu privasi temannya, tapi saat matanya melihat sperma bercampur darah yang keluar tatkala Len memompa jarinya dan isak tangis Miku, Kaito pun langsung mendekati mereka berdua. Kaito menggenggam tangan Len agar berhenti melakukan kegiatan tersebut.
"Hentikan, Len! Sepertinya kau terlalu kasar," kata Kaito.
"Lepaskan!" Len menatap Kaito nyalang. "Wanita pelacur ini telah membohongiku! Aku hanya membantunya menyapu semua kotoran yang ia buat padaku!"
Kaito melepaskan tangan Len, lalu melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh bagian atas Miku yang terekspose sempurna. "Kau baik-baik saja?" Tanya Kaito pada Miku.
"Ck! Apa yang kau lakukan? Pergilah! Biar aku yang mengurus wanita pelacur berengsek ini!"
Tanpa memperdulikan protesan Len, Kaito menggendong Miku yang tengah meringis dengan air mata itu di depan dadanya. "Tidak! Dia butuh perawatan. Kurasa kau telah melukainya," Kaito menunduk untuk sekedar melihat Miku dalam gendongannya yang terbalut jaket. "Aku akan membawanya ke rumah sakit."
"Tidak! Aku tidak mengijinkan kau membawa pelacur itu kemana pun! Ia harus kuberi pelajaran!"
"Aku tetap akan membawanya ke rumah sakit." Dengan menggunakan kaki kanannya, Kaito membuka pintu kamar mandi agar terbuka lebih lebar dan segera membawa Miku pergi.
"Tunggu!" Len berdiri dari posisinya yang berjongkok seraya merapihkan pakaiannya sebelum mengikuti Kaito keluar. "Kau tidak membawanya begitu sa-" perkataan Len terpotong tatkala baru beberapa langkah kakinya keluar dari kamar mandi, sudut matanya menangkap siluet seorang gadis yang berdiri di pinggir dinding dekat kamar mandi.
Langkah kaki Len berhenti seketika tatkala menyadari siapa yang ia lihat. Tubuhnya berbalik untuk sekedar menatap gadis yang tengah bersandar seraya menundukkan kepala pada dinding di belakangnya. Entah mengapa rasa bersalah kini mulai hinggap di hatinya yang tadi memanas. Rasanya ia ingin memukul dirinya sendiri atas kebodohan yang terulang kembali.
"Rin,"
"Jangan mendekat!"
Langkah Len kembali terhenti tatkala dirinya ia mencoba mendekati saudara kembarnya itu. "I-ini bukan seperti yang kau pikirkan."
"Aku tak pernah berpikir kau benar-benar mencintai Miku," cengkraman tangan kanan Rin pada lengan kirinya menguat. "Pergilah dan jangan perdulikanku!"
"Rin,"
"Pergi!"
To be Continue
