Sensei! You Must be My Dad!

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Story By : Yana Kim

Rate : T semi M

Warning: Semua OOC tanpa terkecuali, abal, mainstream? Wajib. EYD? Sempurna kegagalannya.

Uchiha Itachi Yamanaka Ino

Sum:

Yamanaka Ino dan Yamanaka Hikari. Ibu dan anak yang membuat Uchiha Itachi, guru baru di Konoha Junior High School pusing setengah mati.

.

.

.

Chapter3

.

.

.

"Bukannya aku sudah bilang sensei, ayahku sudah mati." Itachi memandang Hikari yang raut wajahnya tiba-tiba berubah. Berbeda saat ia mengatakan hal yang sama kemarin.

"Maksudmu ayahmu... meninggal?"

"Aku... aku tidak tahu."

"Jangan dipaksakan kalau tidak mau."

"Ibu selalu menghindar kalau aku bertanya tentang hal itu. Tapi... tapi kakek bilang, pria itu meninggalkan ibu saat sedang mengandung aku."

Itachi memandang wajah mendung gadis itu penuh pengertian. Ia mengusap kepala Hikari.

"Aku mengerti. Sekarang kembalilah ke kelas. Nanti saat jam istirahat langsung saja ke parkiran. Tunggu aku disana."

"Hai,"

Hikari beranjak dari ruangan itu meninggalkan Itachi yang memandang kepergian siswanya itu dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.

.

.

.

Hikari duduk dibangkunya dengan tidak semangat. Ebisu-sensei mempersilahkan masuk setelah Hikari mengatakan kalau dia telah mendapat hukuman dari Itachi.

Hikari sama sekali tidak memperhatikan pelajaran sejarah yang entah kenapa terasa begitu lama itu. Ia hanya memikirkan bagaimana keadaan ibunya saat ini. Rei pun hanya bisa memandang khawatir pada sahabat pirangnya itu. Setelah tahu kalau ibu sahabatnya sedang sakit, ia hanya berharap kalau bibi Ino bisa cepat sembuh dan Hikari bisa kembali seperti semula.

Akhirnya bel tanda istirahat berbunyi. Dengan cepat Hikari membereskan segala perlengkapan belajarnya .

"Aku pergi dulu, ya."

"Ya, hati-hati. Salam untuk bibi Ino." Hikari mengangguk dan segera meninggalkan kelasnya menuju parkiran. Tak sampai dua menit menunggu, gadis pirang itu melihat gurunya muncul dari arah ruang guru sambil melambaikan tangannya. Hikari tidak bereaksi. Tak lama kemudian mobil gurunya sudah ada di depannya.

Hikari langsung menaiki mobil mewah yang tak lama kemudian bergerak meninggalkan lingkungan sekolah.

"Sudah lama menunggu tadi?" tanya Itachi membuka percakapan.

"Tidak terlalu lama, sensei," sahut Hikari.

"Apartmen Venus ke arah ini kan?" tanya Itachi lagi.

"Benar, sensei."

"Jangan khawatir. Ibumu pasti akan sembuh." Itachi mencoba menenangkan Hikari yang tampak cemas, sama seperti pagi tadi.

Mobil kembali hening sampai mereka tiba di gedung kediaman Hikari. Itachi ragu untuk kembali membuka percakapan.

"Terimakasih sudah mengantarku, sensei," ujar Hikari setelah turun dari mobil gurunya itu.

"Sama-sama, aku pergi kalau begitu." Itachi tersenyum dan melambaikan tangannya. Kali ini Hikari membalasnya dengan senyuman tipis.

Hikari langsung bergegas menuju apartment mereka.

"Tadaima...! Ibu...!" soraknya begitu masuk.

"Okaeri, Hika." Langkah Hikari terhenti mendengar sahutan degan suara bass yang sangat ia kenali itu. Kemudian ia melanjutkan langkah menuju asal suara itu itu.

"Paman Kiba? Sudah lama di sini?" sapa Hikari begitu ia sampai di dapur tempat suara itu berasal. Ia mendudukkan diri di kursi meja makan. Terlihat Kiba sedang mencicipi masakannya kemudian menutup panci tersebut dan mematikan kompor.

"Baru dua jam yang lalu. Aku menelepon ibumu, suaranya serak sekali dan ternyata dia sedang sakit. Jadi aku langsung ke mari." Kiba mengambil jus jeruk dari gelas dan menuangkannya ke dalam gelas kemudian memberikannya pada Hikari.

"Paman tidak bekerja?" tanya Hikari setelah meneguk jusnya.

"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Besok aku ada presentase jadi aku libur hari ini untuk pesiapan besok." Hikari mengangguk.

"Untung paman datang. Aku cemas sekali ibu sendirian di rumah. Bagaimana keadaannya?"

"Panasnya sudah turun, dia sedang istirahat."

"Terimakasih, paman." Kiba tersenyum sambil mengacak rambut Hikari.

"Kau sendiri kenapa sudah pulang ? Ini masih jam sekolah." Kiba bertanya pada Hikari.

"Wali kelasku memberikan izin karena aku mengatakan kalau ibu sedang sakit." Kiba mengangguk.

"Sekarang ganti bajumu, lalu makan. Paman baru selesai masak."

Hikari beranjak dari kursi menuju kamarnya. Untung saja Kiba datang untuk menemani ibunya. Sebagai rekan kerja ibunya, paman tampan bernama lengkap Izunuka Kiba itu cukup sering datang ke apartmen mereka. Kadang sendirian, kadang bersama rekan kerja Ino lainnya. Tapi lebih sering sendirian. Karena itulah Hikari cukup dekat dengannya.

Selesai berganti baju, Hikari menuju kamar Ino untuk melihat kondisi ibunya itu. Kiba ada disana membantu Ino untuk duduk dan memberikan segelas air putih untuk Ino.

"Sudah lebih baik, Ibu?"

"Umm" Ino mengangguk sambil tersenyum.

"Aku tidak pernah lihat ibu selemah ini. Aku jadi sangat khawatir." Hikari mengambil tempat di samping ibunya.

"Aku juga tidak menyangka bisa tumbang hanya karena terkena hujan semalam."

"Bagaimana bisa kau terkena hujan? Kau kan naik mobil, Ino." Kiba bertanya. Otomatis Ino teringat dengan kejadian semalam. Saat ia bertemu dengan guru putrinya, Uchiha Itachi.

Kalau saja dia tidak berhenti mungkin dia tidak akan sakit. Tapi, membiarkan orang kesusahan bukan gayanya. Walaupun menjadi siswi tomboy dan nakal sewaktu sekolah, ia akan selalu menolong orang jika memang diperlukan.

Ah, biarlah. Yang lalu biarkan saja berlalu. Toh kejadian semalam tidak bisa diulang.

"Kau sudah bisa berdiri?" tanya Kiba. Sebaiknya kita makan di meja makan.

"Sudah, aku sudah tidak apa-apa. Jangan terlalu sering kesini. Kekasihmu bisa salah paham." Ino berjalan menuju meja makan bersama Kiba.

"Shionku bukan tipe orang yang pencemburu. Dia sudah tahu hubungan kita seperti apa. Kau sebaiknya mencari pacar secepatnya, supaya aku tidak sering-sering kemari. Kau masih muda dan cantik, masih banyak laki-laki yang tertarik denganmu. Kurasa Hikari juga ingin mempunyai ayah. Bukan begitu, Hika?" ujar Kiba sambil menuangkan air hangat ke gelas di depan Ino.

"Kurasa aku dan ibu sudah cukup. Kami bahagia." Hikari mendudukkan dirinya di depan Ino. Sementara Kiba duduk di samping Ino.

"Benar. Kami bahagia." Ino membalas ucapan Hikari, namun dengan nada yang sarat keraguan.

Kiba hanya bisa menghela nafas. Sebagai sahabat sekaligus tetangga Ino sejak masih kecil, Kiba sudah mengetahui apa yang terjadi pada Ino dan pemuda brengsek yang tidak mau bertanggung jawab itu. Kiba yang sudah mengangga Ino sebagai adiknya itu pun tak tinggal diam, ia menghajar pemuda yang kemudian pindah keluar negeri itu. Begitu juga Ino yang pindah ke Kyoto bersama ayahnya. Kiba sendiri tidak menyangka akan kembali bertemu Ino di Universitas Konoha ketika Ino menjadi mahasiswa baru disana. Ternyata setelah melahirkan Hikari, Ino melanjutkan sekolahnya di Kyoto dan memutuskan mengambil jurusan arsitektur di kampus yang sama dengannya.

.

.

.

Kiba sudah pulang beberapa saat yang lalu. Kini hanya tinggal Ino dan Hikari yang duduk santai di ruang nonton. Ino terlihat menggulung dirinya dengan selimut tebal. Mereka menikmati sajian infotaimen yang memperlihatkan kisah cinta seorang penyanyi yang sedang naik daun.

"Seharusnya kau tidak perlu sampai permisi segala, Hikari. Kau jadi ketinggalan pelajaran." Ino berbicara dengan suaranya yang masih serak.

"Aku khawatir, Ibu. Lagian Itachi-sensei memberikan ijin dengan senang hari, kok."

"Itachi-sensei? Bukannya wali kelasmu Ebisu-sensei ya?" Ino menngerutkan alisnya heran.

"Sekarang Itachi-sensei. Senin kemarin baru saja diumumkan." Ino mengangguk mengerti.

'Itachi.' Ino membatin.

"Ibu." Hikari memanggil Ibunya setelah beberapa saat hening mendominasi.

"Hm?" Ino hanya bergumam dengan mata yang masih setia menatap televisi.

"Aku bahagia bersama Ibu."

Ino tersenyum menatap buah hatinya itu. "Ibu juga bahagia bersamamu, sayang. Sangat bahagia."

Namun senyum di wajah Ino menghilang melihat wajah anaknya yang datar. Tidak ada sedikitpun senyum menghiasi wajah yang serupa dengannya itu. Malah terlihat sedikit memerah karena menahan air mata.

"H-hikari? Kau kenapa?"

Air mata malah kian menetes di pipi anak itu. Ini adalah pertama kalinya Ino melihat Hikari menangis setelah sekian lama. Putrinya adalah anak yang kuat. Tapi kenapa?

"T-tapi... hiks... tapi... ibu... kesepian kan?"

"Apa maksudmu, Hikari?" tanya Ino semakin bingung dengan tingkah anaknya.

"Sebenarnya ayahku dimana? Apa ibu tidak pernah merindukannya?"

Hati Ino langsung mencelos mendengar perkataan putrinya itu. Bayangan pria berambut merah dan bermata jade itu langsung muncul di benaknya. Selama ini ia selalu menghindar tiap kali Hikari menanyakan tentang ayahnya. Namun sekarang Hikari sudah besar, sudah mengerti tentang sosok dan peran ayah dalam hidup seorang anak. Pastinya ia sering melihat teman-temannya yang sedang bersama ayah mereka.

"Ibu tidak tahu nak. Ibu tidak pernah bertemu dengannya sejak kau lahir." Ino menguatkan diri.

"Kalau kau bertanya apa ibu pernah merindukannya atau tidak, jawabannya adalah tidak. Dia memilih meninggalkan ibu. Itu sudah cukup untuk ibu membencinya. Ibu sudah melupakannya. Ada kau disini itu sudah cukup untuk ibu." Ino memeluk Hikari erat.

"Maafkan aku ibu. Seharusnya aku tidak... "

"Tidak sayang. Kau tidak salah."

"Tapi aku ingin menemuinya setidaknya sekali saja ibu."

Ino melepaskan pelukannya. "Kau ingin menemuinya?" Hikari mengangguk.

"Tapi itu tidak mungkin, ibu saja tidak tau di—"

Hikari tersenyum. "Kalau Kami-sama mengijinkan apa yang akan pikirkan ini, pasti kami akan di pertemukan."

Ino hanya menggeleng.

"Sudah malam. Bukannya kau harus tidur?"

"Aku tidur bersama ibu ya."

Keduanya tersenyum.

.

.

.

Ino sudah merasa baikan keesokan harinya. Ia bangun seperti biasa dan menyiapkan sarapan. Hikari juga sudah bangun dan bersiap. Anak itu sedang mengikat dasinya sambil berjalan menuju ruang makan. Ino memasak nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi di atasnya. Keduanya sarapan seperti biasa. Ino kemudian mengambil cardigan dan kunci mobilnya. Ia memang sedang cuti. Tapi tentu saja ia harus tetap mengantar putri kesayangannya ini ke sekolah.

Mobil Ino berhenti di depan sekolah karena untuk pagi ini, Hikari datang tepat waktu. Mungkin karena Ino cuti jadi tidak perlu waktu banyak untuk bersiap dan membuat sarapan.

"Nanti ibu jemput ya."

"Oke bu. Hati-hati," Hikari melambaikan tangannya pada Ino setelah turun dari mobil.

Hari ini tidak ada pelajaran Bahasa Inggris, sehingga Itachi tidak masuk ke kelas delapan A. Setelah selesai mengajar di kelas sembilan B, Itachi memasuki ruangannya untuk memakan bekalnya. Dia boleh saja sudah dewasa, tapi ibunya selalu menyiapkan bekal untuknya dan ayahnya. Tentu saja Itachi tidak keberatan. Ia bersyukur masih bisa mendapatkan perhatian dari ibunya meski umurnya sudah tidak muda lagi. Namun ia harus tahan setiap hari mendengar ocehan wanita tersayangnya itu setiap pagi perihal mencari istri. Apa salahnya di umur segini belum menikah? Memang dasar Sasuke saja yang kebelet menikah muda.

Itachi memakan bekalnya dengan tenang. Tiba-tiba ia teringat dengan Hikari... dan juga ibunya tentu saja. Secara tak langsung, Itachi lah penyebab wanita itu jatuh sakit kan? Apakah dia sudah sembuh? Apa ia harus memastikannya pada Hikari? Tapi ia tidak ada jadwal di kelas delapan hari ini. Mungkin kalau sempat ia harus menemui Hikari sepulang sekolah nanti.

Sepulang sekolah Itachi melihat Hikari duduk di pos satpam. Untung sekali, karena tadinya Itachi hampir lupa untuk mencari gadis itu. Sekolah sudah sepi karena memang Itachi sempat memeriksa beberapa tugas hingga ia melewatkan jam pulang. Ia kemudian menghentikan mobilnya di depan Hikari dan turun. Gadis itu membungkukkan badannya melihat sang guru turun dari mobilnya.

"Kenapa belum pulang?" tanya Itachi.

"Sedang menunggu Ibu, sensei."

"Ibumu sudah sehat?"

"Untungnya sudah sensei." Hikari tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

Itachi balas tersenyum, lega karena wanita itu sudah sembuh sehingga ia tidak perlu lagi merasa bersalah.

"Sudah lama menunggu? Apa kau tidak menelepon ibumu?"

"Aku tidak punya ponsel sensei. Aku juga tidak tahu kenapa ibu lama sekali. Biasanya kalau sedang cuti begini, ibu tidak akan pernah terlambat."

Itachi mengambil ponsel dari saku celananya.

"Kau boleh pakai ponselku. Kau tau nomor ibumu kan?"

Hikari mengangguk. "Terimakasih, sensei."

Hikari mencoba menghubungi nomor ibunya, namun tidak diangkat. Begitu juga dengan nomor Paman Kiba.

"Tidak diangkat sensei."

"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang." Itachi menerima ponselnya.

"Tapi kalau nanti ibu datang bagaimana?"

"Benar juga. Baiklah, aku akan menemanimu menunggu disini." Itachi kemudian mendudukkan dirinya disamping Hikari,

"Sensei pulang saja. Aku tidak apa-apa."

"Kau tahu kan, Hideki-san tidak masuk hari ini. Kau tidak mungkin menunggu sendirian." Hideki yang di maksud adalah satpam penjaga sekolah.

"Aku ini cukup jago berkelahi loh sensei. Aku sudah sabuk hitam judo asal sensei tahu. Jadi tidak usah khawatir." Hikari mencoba meyakinkan.

Itachi terkekeh. Kemudian mengacak rambut pirang Hikari. "Tapi tetap saja kau ini anak perempuan. Tidak baik menunggu sendirian di tempat sepi. Apalagi sudah mau sore seperti ini."

Hikari merasa hangat dihatinya mendengar nada khawatir dari sensei di sampingnya ini. Sejak insiden ibunya sakit dan Itachi mengantarnya pulang. Niat perang yang sebelumnya di lontarkannya menjadi hilang. Padahal sebelumnya ia sudah berniat ingin bermusuhan dengan guru tampan di sampingnya ini. Seperti yang biasa ia lakukan pada guru-guru di sekolah yang membencinya.

Waktu berlalu dengan keduanya menunggu di pos satpam. Itachi sempat meninggalkannya selama lima menit untuk membeli beberapa snack dan minuman dari mini market yang ada di seberang sekolah. Keduanya menunggu sambil bercerita.

Awalnya Hikari enggan untuk bercerita. Mungkin masih canggung dengan Itachi. Namun Itachi memulainya dengan menceritakan tentang dirinya, adiknya, keponakannya. Serta Daichi yang tak lain adalah keponakannya secara tak langsung. Entah kenapa Hikari menjadi terbuka dengan Itachi. Ia merasa nyaman mengeluarkan apa yang ada di pikirannya pada Itachi.

"Karena aku berlatih di dojo milik keluarganya. Jadinya kami sering bertemu. Dan setiap sparing, dia sering kalah loh sensei. Walaupun sering menang juga sih. Dasar Hyuuga." Hikari melipat tangannya sebal mengingat Hyuuga Daichi yang sering membuatnya sebal.

"Jadi kau berlatih judo di dojo Hyuuga ya. Apa aku harus kesana sekali-sekali melihat kalian berlatih?"

"Besok kami ada ujian kenaikan tingkat. Aku dan Daichi tidak ikut lagi, tapi pasti dia akan menantangku untuk bertanding. Soalnya minggu lalu dia kalah waktu sparing denganku."

Itachi tersenyum, tidak meyangka gadis yang semula ia kira dingin ini bisa secerewet ini.

"Aku akan datang. Jam 3 sore kan? Kalahkan dia, oke?"

Hikari tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Ia mengangguk dengan wajah berseri.

"Tentu saja."

Itachi kembali mengacak rambutnya. Hikari tersadar, Ia sudah banyak membuka mulutnya. Namun rasanya menyenangkan. Rasanya berbeda saat ia bercerita dengan ibunya. Hangat, seperti sedang bercerita dengan seorang... ayah. Matanya tiba-tiba menghangat. Namun dia tepis dengan cepat.

"Hikari!"

"Ibu!" Hikari berdiri, begitu juga dengan Itachi.

Ino turun dari mobil dan terburu menghampiri putrinya.

"Maafkan ibu, sayang. Tiba-tiba ada panggilan mendesak dari kantor." Hikari tersenyum maklum. Melihat dari pakaian ibunya, sepertinya ibunya baru saja menemui kliennya.

"Tidak apa-apa, Ibu. Aku mengerti."

"Kau pasti lama sekali menunggu Ibu ya?" Ino merasa bersalah. Salahkan klien sialannya yang banyak permintaan itu. Padahal desainnya sudah sangan sempurna. Tapi masih saja ada yang di bilang cacat.

"Tidak apa-apa, ada Itachi-sensei menemaniku. Walaupun tidak di temani juga tidak apa-apa sih. Terimakasih, sensei."

Itachi menatap ibu dan anak itu dalam diam. Untuk kali ini, Yamanaka Ino benar-benar terlihat seperti seorang ibu. Cantik, batinnya.

"Oh, aku tidak melihat anda, Itachi-san. Terimakasih banyak sudah menemani Hikari. Maaf merepotkan anda."

"Tidak apa-apa, Yamanaka-san. Sudah tugas saya."

"Kalau tidak keberatan, saya ingin mentraktir makan malam. Toh sebentar lagi sudah jam makan malam."

"Tidak perlu, Yamanaka-san. Terimakasih." Itachi menolak secara halus.

"Saya akan merasa bersalah bila anda menolaknya, Itachi-san. Anda sudah menemani Hikari hampir empat jam."

"Err... baiklah." Tidak ada yang bisa menolak tatapan memohon wanita cantik di depannya ini kan?

Ketiganya berakhir di sebuah restoran Cina yang cukup terkenal di daerah itu. Ino dan Hikari sudah cukup sering ke sana. Karena Hikari sangat menyukai mi kacang hitam restoran itu.

"Ibu rasa, ibu harus membelikanmu ponsel. Supaya ibu bisa memberikan kabar dengan cepat. Maaf ya, ibu bahkan sudah merepotkan gurumu," ujar Ino begitu mereka selesai memesan makanan. Hikari hanya mengangguk tanda setuju.

"Tidak apa-apa Yamanaka-san. Saya tidak merasa di repotkan."

"Tapi tetap saja..."

"Memangnya tadi ada masalah apa, bu? Tidak biasanya cuti ibu terganggu seperti hari ini," tanya Hikari.

"Seorang klien protes tentang desain yang ibu persentasekan kemarin. Dia yang tidak hadir ke pertemuan kemarin tapi malah protes sana sini. Sudah begitu, bukannya bertemu langsung supaya jelas, malah protes lewat sekretarisnya. Menyebalkan sekali."

Itachi mendapati dirinya menyukai ocehan wanita di depannya ini. Terdengar alami untuk wanita cantik itu.

"Kalau saja dia yang datang langsung sudah pasti tinjuku ini mendarat di wajahnya. Para pengusaha sialan itu memang selalu seenaknya." Ino melanjutkan omongannya.

"Orang seperti itu memang membutuhkan satu bantingan judo untuk mematahkan punggungnya," sambung Hikari.

Itachi terkejut. Kedua ibu dan anak ini memang tidak bisa lepas dari kekerasan. Tanpa sadar ia tertawa kecil.

"Anda kenapa Itachi-san. Ada yang lucu?" tanya Ino.

"Kalian berdua sangat lucu."

"Apanya yang lucu, sensei?"

"Itu.."

Itachi di selamatkan oleh pelayan yang mengantarkan makanan. Itachi memesan mi seafood pedas sedangkan pasangan ibu dan anak di depannya memesan mi kacang hitam.

"Ittadakimasu."

Ketiganya makan dengan di temani ocehan Hikari tentang harinya pada sang ibu. Itachi yang memang biasanya makan dengan tenang hanya diam mendengarkan. Sampai seorang pria berambut coklat dan seorang wanita berambut pirang menghampiri mereka.

"Oh lihat siapa ini?" sapa pria itu.

"Paman Kiba!" sorak Hikari ceria.

"Hai sayang!" Kiba melambai pada Hikari. Kemudian beralih pada Ino.

"Oh Ino... Baru kemarin kubilang untuk cari pacar. Kau langsung mendapatkannya ya."

Itachi dan Ino tersedak minuman mereka bersamaan.

"Kiba-kun, kau mengagetkan mereka." Kekasihnya, Shion menegur Kiba.

"Tidak perlu kaget begitu. Tidak apa-apa kok. Hahaha.."

"Brengsek kau Inuzuka!"

Itachi otomatis berdiri, "Perkenalkan, saya Uchiha Itachi. Saya wali kelas Hikari."

Kiba menjabat tangan Itachi dengan antusias, pandangannya beralih ke arah Ino.

"Wow. Nice catch, sissy! Dengan berpacaran dengan wali kelasnya, kau bisa mengawasi Hikari secara tidak langsung bukan?"

Walaupun dengan keadaan duduk. Bukan hal yang sulit bagi Ino untuk menendang tulang kering pria Inuzuka itu.

"Akh! Ino, sakit!"

"Pergilah sebelum Shion melihat wajah babak belurmu sebentar lagi."

"Maafkan Kiba, Ino. Kami akan segera pergi. Semoga kencan kalian sukses ya," Shion menarik Kiba beranjak dari sana sambil tersenyum jahil pada Ino.

"Senang bertemu denganmu Uchiha-san. Namamu kok tidak asing ya? Haha. Sampai bertemu lagi."

'Sepasang kekasih gila itu sama saja,' batin Ino dalam hati.

"Teman-temanmu lucu," sahut Itachi melihat Ino yang memandang sepasang kekasih itu dengan deathglarenya yang andai saja bisa membunuh.

"Mereka gila."

"Tapi..."

Pandangan keduanya berlaih pada Hikari yang sedari tadi diam. Gadis itu memandang bergantian pada Ibu dan senseinya.

"Makan bertiga seperti ini, benar-benar terlihat seperti keluarga ya." Hikari tersenyum, tapi tidak sampai ke mata. Itachi bisa menangkap raut sendu di wajah gadis itu.

.

.

.

Itachi memarkirkan mobilnya di garasi, tepat di samping mobil ayahnya. Ia disambut leh tatapan mematikan ibunya di ruang tamu.

"Makan malam di luar tanpa ada kabar, huh?"

Itachi hanya tersenyum kemudian ikut bergabung ke sofa dan memeluk ibunya dari samping.

"Maaf, Nyonya."

"Akan ibu maafkan kalau kau makan malam dengan seorang wanita yang akan jadi menantu ibu." Itachi kaget. Namun ia terkekeh.

"Sayangnya aku makan malam dengan dua orang wanita malam ini."

Uchiha Mikoto menghela nafas.

"Cepatlah cari istri dan menikah. Kau sudah terlalu tua untuk bermanja-manja pada ibu. Bermanjalah dengan istrimu nanti." Itachi mengeratkan pelukannya pada sang ibu.

"Pelukan ibu yang terbaik."

"Ckckck. Sudah tidak mau mengambil alih perusahaan, mengambil alih yayasan juga masih berpikir. Setidaknya menikahlah. Apa kau benar-benar tidak memikirkan masa depanmu? Sasuke saja sudah on the way anak kedua."

"Dianya saja yang takut Hinata di ambil orang."

"Makanya, cepat cari istri dan menikah. Dengan begitu ibu bisa tenang."

"Semua ada waktunya ibu. Tenang saja." Itachi mendaratkan sebuah kecupan di pipi Mikoto sebelum bmengucapkan selamat malam dan beranjak menuju kamarnya.

Selesai mandi Itachi membaringkan tubuhnya di kasur. Pikirannya melayang pada kejadian tadi. Yamanak Ino memang langsung mengalihkan pembicaraan dengan memanggil pelayan untuk meimta bill. Namun Itachi bisa melihat raut sedih di wajah wanita itu. Ucapan Hikari mungkin terdengar seperti bercanda karena senyuman gadis itu. Namun Itachi tidak melewatkan perubahan ekspresi dari Ino ketika mereka berpisah untuk masuk ke mobil masing-masing dan pulang.

Ia memang tidak begitu dekat dengan ayahnya. Ayahnya bukanlah orang yang dengan santai menunjukkan kasih sayangnya untuk anak-anaknya. Dan itu terwaris pada adiknya, Sasuke. Namun ia tidak mungkin lupa bagaimana ayahnya tersenyum bangga tiap ia atau pun adiknya berhasil membawa piala ataupun piagam penghargaan dari berbagai olimpiade yang mereka ikuti. Dan bagaimana ayahnya serius mendengarkan bahkan mengijinkan ketika ia memilih mengambil jurusan sastra Inggris langsung di London dari pda mengambil jurusan bisnis seperti yang ayahnya minta sebelumnya.

Peran seorang Ibu memang sangat penting. Namun bukan berarti peran Ayah tidak penting. Memang pada dasarnya orang tua ada sepasang ayah dan ibu, bukan hanya ibu saja atau hanya ayah saja. Pasti ada yang kurang bila salah satu posisi itu kosong.

Itachi menghela nafas. Mungkin itulah yang membuat Hikari sering berbuat ulah di sekolah. Apa sebaiknya ia bersikap baik pada anak itu?

Sementara itu, Ino yang duduk di depan meja rias di kamarnya juga tengah merenungi apa yang tadi di suarakan oleh putrinya. Mau bagaimanapun juga, sekuat apapun dirinya, Ia tentu tidak bisa menjalankan peran ibu dan ayah sekaligus. Dan Hikari membutuhkannya. Air matanya menetes tanpa diminta.

"Gaara brengsek!" desisnya.

.

.

"Ini adalah hasil perbaikan dari desain yang anda minta untuk di perbaiki." Seorang pria sedang memandang ke luar jendela besar ruangannya saat sang sekretaris datang dan membawa sebuah kanvas yang cukup besar dan kemudian membentangkannya di meja bosnya.

"Lumayan. Tapi bukannya menurutmu, desain tempat parkir ini terlalu kecil, Baki-san?"

"Tapi saya rasa, itu sudah sukup untuk ukuran mall kita."

"Benarkah? Bukankah akan sangat memalukan kalau mall besar kita kekurangan tempat parkir saat pengunjung ramai? Hari libur misalnya."

"Akan segera saya infokan pada pihak Yamanaka-san."

"Tidak. Biar aku sendiri yang menemuinya. Atur lagi jadwal pertemuan denganya, Baki-san. Secepatnya."

Baki hanya bisa mengangguk mendengar perintah bosnya itu.

"Baik, Gaara-sama."

Pria bernama Gaara itu kembali menatap pada lembar desain bangunan mall yang akan didirikannya dalam waktu dekat ini. Matanya memandang lurus pada sudut kanan bawah desain itu. Tertulis dengan jelas disana, Nara's Construction, Design by Yamanaka Ino.

"Sudah tiga belas tahun berlalu... Ino."

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

Halooo guys...!

Silahkan maki saya gpp koq.

Setelah sekian lama akhirnya saya bisa kembali ke dunia per ff an.

Banyak hal yang udah terjadi.

Yang pasti saya berusaha untuk kembali menulis lagi.

Terimakasih buat teman-teman semua.

Yana Kim