Sensei! You Must be My Dad!
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T semi M
Warning: Semua OOC tanpa terkecuali, abal, mainstream? Wajib. EYD? Sempurna kegagalannya.
Uchiha Itachi Yamanaka Ino
Sum:
Yamanaka Ino dan Yamanaka Hikari. Ibu dan anak yang membuat Uchiha Itachi, guru baru di Konoha Junior High School pusing setengah mati.
.
.
.
Chapter4
.
.
.
Ino kembali memulai harinya seperti biasa, mengantar Hikari ke sekolah dan langsung menuju kantornya. Ino di sambut oleh tawa tertahan dari teman-temannya begitu ia mendudukkan dirinya di bangku miliknya. Ino hanya memandang heran pada ketiga rekan kerjanya yang menatapnya dengan pandangan mengejek. Ino mulai menyalakan komputer miliknya, hingga Chouji datang mendekat padanya.
"Ternyata kau sudah punya pacar ya? Kenapa tidak bilang-bilang?" ucap Chouji yang kemudian memakan sandwich besarnya.
"Jangan dengarkan apa kata Kiba. Dia mengada-ada," sahut Ino malas.
"Kalau memang ada tidak apa-apa." Kali ini Shikamaru ikut-ikutan. Ino heran karena si pemalas itu malah bergabung dengan Chouji untuk mengejeknya.
"Bukannya sebaiknya kalian bekerja? Eh Shikamaru, kenapa kau malah ikut-ikutan, giliran di suruh presentase tidak mau. Mentang-mentang perusahaan ini milik ayahmu. Lihat saja, kau akan ku adukan pada Nara-sama karena selalu tidur saat jam kerja. Dasar. Dan Kiba! Kalau kau masih menyebar gosip tidak jelas. Jangan salahkan aku kalau sebentar lagi kakimu patah ya."
Shikamaru hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Kiba malah dengan tidak tahu malunya memasang senyum yang menurut Ino tidak ada manis-manisnya sama sekali.
Ino baru saja mau memeriksa e-mail yang masuk begitu ponsel nya berdering. 'Suna Corp lagi,' batinnya. Ino menghela nafas mencoba tenang agar ia bisa menjawab telepon itu dengan baik bukannya dengan makian kesal.
"Selamat pagi, dengan Yamanaka ada yang bisa di bantu?"
"Selamat pagi, Yamanaka-san. Apakah anda ada waktu untuk bertemu dengan bos saya siang ini? Ada bagian dari desain anda yang harus di perbaiki lagi."
Ino jengah. 'Lagi? Tahan Ino, jangan sampai kau menyumpah di pagi yang indah ini.'
"Oh, benarkah? Saya pikir pihak anda sudah setuju dengan perbaikan yang kemarin."
"Maaf Yamanaka-san. Bos saya memang agak sedikit err, sensitif. Anda tahu saya hanya menjalankan perintah dari beliau."
"Aku mengerti, Baki-san. Apa kita bertemu ditempat kemarin?" tanya Ino memastikan.
"Kalau anda tidak keberatan, bisakah anda datang ke Suna Corp? Kami akan menjemput anda sehabis jam makan siang."
"Tidak perlu, Baki-san. Aku akan datang kesana sendiri."
"Terimakasih, Yamanaka-san. Selamat pagi."
"Pagi."
Ino meletakkan ponselnya dengan kasar. Tentu saja suaranya terdengar oleh Kiba yang duduk tak jaug darinya.
"Ada apa? Suna Corp lagi?"
"Tidak puaskah mereka sudah mengganggu cutiku kemarin? Kalau memang ada yang harus di perbaiki seharusnya di bicarakan kemarin kan? Dasar."
"Ini pertama kalinya desainmu sampai di protes dua kali. Biasanya klien langsung puas dengan desain buatanmu." Chouji menyahut dari meja seberang.
"Kurasa dia sudah gila. Kali ini bosnya ingin bertemu langsung. Apa perlu aku melakukan sedikit kekerasan hah? Bagaimana menurut kalian?"
"Jangan. Kalau bosnya sudah tua kan kasihan." Ino menatap Chouji. 'Benar juga,'
"Sepertinya memang sudah tua, makanya cerewet. Hahaha." Kiba malah menertawakannya.
"Perlakukan dengan baik. Bagaimanapun dia klien kita. Merupakan hak seorang klien bila merasa tidak puas dengan hasil kerja kita kan?" Shikamaru yang Ino kira sudah tidur ikut menyahut dari mejanya. Perkataanya memang benar. Mungkin memang nasib sial Ino saja yang bertemu dengan klien banyak permintaan seperti itu.
.
.
.
Jam istirahat seperti biasa dihabiskan Hikari dan Rei di kanton sekolah. Keduanya memakan paket bento yang di jual di kantin dengan diam. Di meja seberang, terlihat Hyuuga Daichi sedang memakan bekalnya. Anak itu memang selalu membawa bekal. Daichi selalu terlihat tenang dalam keadaan apapun. Sama seperti ayahnya yang merupakan sensei di dojo Hyugga tempatnya berlatih.
"Kau hari ini ada latihan kan? Maaf aku tidak bisa menemanimu. Aku dan ayahku berencana untuk membeli perlengkapan untuk membangun kandang anjing baru ku. Kami akan menyelesaikannya sore ini." Hikari teringat tentang cerita Rei tentang anak anjing baru yang di beli paman Nagato kemarin.
"Tidak apa-apa. Dari awal kan aku tidak mita di temani. Bukannya ikut latihan malah melihat saja." Rei terkekeh.
"Aku memang tidak berniat berlatih judo. Aku lebih suka sesuatu yang tidak melibatkan kekerasan. Memancing dan berkebun, misalnya. Hahaha. Oh iya. Minggu ini ayahku mengajakku memancing. Kau mau ikut?"
"Tidak, terimakasih. Aku tidak cukup sabar untuk menunggu ikan memakan umpanku. Bisa-bisa jorannya patah karena aku tidak sabar menunggu."
Rei terlihat sangat antusias bila bercerita tentang ayahnya. Hikari dapat melihatnya dengan jelas. Kalau ayah Daichi cenderung pendiam dan terkesan tidak peduli, ayah Rei tidak segan menunjukkan kasih sayangnya pada Rei. Terkadang mereka berkebun bersama di belakang rumah. Kalau berkebun, Hikari terkadang ikut dengan mereka.
Hikari jadi penasaran, kira-kira ayahnya akan bersikap seperti apa? Seperi Neji-sensei kah? Atau seperti paman Nagato? Apakah ia nantinya akan merasakan kasih sayang seorang ayah? Ayahnya memang sudah meninggalkan dia dan ibunya, dan jujur saja Hikari membencinya. Namun dia juga penasaran, kira-kira bagaimana rupa sang ayah?
Bel tanda masuk menghentikan kegiatan makan mereka. Keduanya beranjak dari meja kantin menuju kelas. Daichi juga terlihat membereskan tempat bekalnya.
Pelajaran biologi yang cukup membosankan berakhir dengan begitu lama. Akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi juga. Sebagian besar temannya bersorak senang mendengarnya. Hikari membereskan buku dan peralatannya, begitu juga dengan Rei di sampingnya. Keduanya berjalan menuju halte bus depan sekolah tempat mereka biasa menunggu bus. Menaiki bus yang berbeda, Hikari duluan meninggalkan sahabatnya. Sesampainya ia di rumah gadis itu segera mengganti baju dan memasak makan siangnya. Setelah makan, ia pun membereskan segala perlengkapan latihan ke dalam tas yang memang dibawanya khusus untuk latihan. Tak butuh waktu lama untuk Hikari sampai ke dojo Hyuuga. Tempat itu tidak terlalu jauh dari apartmen mereka. Hanya perlu menaiki bus sepuluh menit. Namun sore harinya, Hikari lebih memilih berjalan kaki meskipun harus memakan waktu setengah jam. Selain untuk berolahraga, ia bisa melihat segala sesuatu yang hanya bisa dilihat sekilas dari dalam mobil ataupun angkutan umum.
Gadis itu disambut oleh kakek Daichi yang suka bersantai di teras depan kediaman Hyuuga. Dojo tersebut memang berada di komplek kediaman Hyuuga. Hikari memberi salam seperti biasa yang dibalas dengan senyuman tipis pria tua itu. Hikari langsung berjalan menuju ruang ganti sekaligus loker. Setelah berganti, ia berbagung bersama beberapa teman latihannya yang sudah datang. Daichi juga sudah ada di sana. Mereka melakukan pemanasan seperti biasa sambil menunggu pelatih datang.
Hari ini adalah ujian kenaikan tingkat untuk para peserta didik. Meskipun beberapa diantara peserta ada yang sudah SMA, namun hanya Hikari dan Daichi lah yang memegang sabuk hitam Dan 3, sehingga mereka berdua tidak perlu mengikuti ujian. Neji-sensei dan beberapa pelatih datang untuk memulai ujian. Hikari dan Daichi di minta untuk membantu para peserta melakukan latihan sebelum namanya di panggil untuk ujian.
Karena di awasi oleh beberapa pelatih, ujian tersebut selesai dengan cepat. Daichi langsung menghampiri Hikari.
"Seperti biasa."
Hikari langsung mengerti. Ia mengeratkan ikatan sabuknya dan berjalan mengikuti Daichi. Para peserta lainnya langsung antusias mengelilingi arena tempat kedua unggulan dojo akan bertarung. Keduanya sudah mengikuti latihan bahkan sebelum masuk TK. Meskipun hanya sparing, pertandingan keduanya selalu dinantikan oleh semua orang di dojo itu. Termasuk ayah Daichi yang hanya bisa tersenyum tipis melihat anaknya. Ia secara otomatis mengambil alih sebagai juri.
"Mulai."
.
.
.
Ino melangkahkan kakinya menuju lobi Suna Corp. Seperti yang sudah dijanjikan, Ino akan bertemu dengan klien menyebalkannya sehabis makan siang. Setelah mengatakan maksud dan tujuannya pada resepsionis, Ino diminta menunggu. Tak lama kemudian, Baki datang menyambut Ino. Pria itu mengantar Ino menuju tempat pertemuan wanita itu dengan bosnya. Lift berhenti dan terbuka di lantai dua belas. Mereka menuju sebuah ruangan, atau bisa dibilang satu-satunya ruangan di lantai tersebut. Setelah mengetuk pintu dua kali, Baki langsung membuka pintu. Mereka di sambut oleh ruangan yang sepi. Ino sempat berpikir tidak ada orang di sana sampai kursi yang ada di tengah ruangan berputar memperlihatkan wajah seseorang yang sangat tidak ingin di temuinya.
"Lama tidak berjumpa, Ino."
Ino tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Jantungnya berdegup tak beraturan seolah terpacu oleh emosi yang kini memenuhi hati dan pikirannya. Tidak ada yang berubah dari wajah Gaara. Mungkin hanya tinggi dan proporsisi tubuhnya saja yang berubah. Dia semakin tinggi dan dewasa. Suaranya juga berubah menjadi lebih berat. Tentu saja. Sudah hampir empat belas tahun berlalu.
Ia mencoba tenang. Ia tidak akan menghindar. Mau tidak mau, ia pasti harus berhadapan dengan pria di depannya ini. Tidak sekarang, mungkin besok atau nanti, atau kapan pun Kami-sama berkehendak. Menarik nafas panjang, Ino mencoba menenangkan dirinya. Dia Yamanaka Ino. Dia pasti bisa.
"Saya tidak menyangka akan bertemu dengan anda disini, Sabaku-san. Bisa kita bicarakan tentang desain saya yang menurut anda bermasalah itu sekarang?"
"Tentu saja."
.
.
.
Daichi tidak segan untuk mulai menyerang, Hikari pun dengan sigap menghindar dan mencoba mengambil kesempatan untuk menyerang. Pandangannya teralih pada seorang pria berkaus hitam yang muncul di belakang peserta latihan yang sedang duduk menyaksikan. Sangat kontras dengan pakaian putih judo yang dikenakan semua orang. Orang itu tidak lain adalah Uchiha Itachi. Hikari terkejut karena sensei-nya itu benar-benar datang. Daichi mengambil kesempatan itu untuk membanting Hikari. Para penonton bersorak melihatnya.
"Jaga fokusmu, Yamanaka." Daichi memperingati.
Keduanya kembali mengambil kuda-kuda. Hikari masih melihat ke arah Itachi sambil menjaga Daichi yang ingin menyerangnya. Itachi tidak bersuara, namun pria itu tersenyum sambil mengepalkan tangannya seolah menyemangati Hikari. Gadis itu tersenyum dan kembali menatap pada lawan di depannya. Hikari langsung menyerang Daichi. Membanting dan mengunci pergerakan Daichi hingga pemuda itu menyerah.
"Hikari menang."
Neji bersuara dan kemudian di sambut sorakan oleh para peserta lainnya. Hikari tanpa sadar berlari menuju Itachi.
"Aku menang, sensei!"
"Aku tahu kau bisa." Itachi mengangkat tangannya meminta tos. Hikari dengan senang hati membalasnya. Keduanya tersenyum. Itachi memberikan minuman isotonik yang dibawanya pada Hikari.
"Terimakasih, sensei."
Itachi tersenyum dan mengusap lembut kepala gadis manis di depannya itu. Setelah istirahat sebentar, mereka kembali latihan. Hikari dengan semangat dan Daichi yang entah kenapa moodnya berubah buruk sejak kalah dari gadis itu.
Neji menghampiri Itachi yang duduk mengamati dipinggir ruangan.
"Ada angin apa kau kemari? Tidak biasanya," Neji bertanya.
"Hanya berkunjung."
"Dan Hikari. Ada hubungan apa kau dengan anak itu? Kau belum berubah jadi pedofilia kan?"
Itachi terkekeh. " Aku tidak menyangka kau akan berpikiran seperti itu, Neji."
"Kalau begitu, bisa kau jelaskan, Uchiha?"
"Sudah ku bilang hanya berkunjung. Oh iya, aku tidak menyangka anakmu bisa kalah dengan Hikari. Dengan anak perempuan maksudku."
"Hikari bukan anak perempuan biasa, asal kau tahu. Ibunya mendaftarkannya ke mari saat umur empat tahun. Bahkan sebelum aku berencana mengajari Daichi judo. Mereka sudah seperti saingan sejak itu."
Itachi terdiam mendengarkan. Mengapa Ino begitu cepat memasukkan Hikari ke pelatihan ini?
"Lagi pula Daichi sedang lengah. Dia lengah karena Hikari tersenyum tadi." Neji menahan tawanya.
"Maksudmu..." Itachi menaikkan alisnya tak percaya.
Neji mengangguk. "Kau benar, dia lengah karena senyum gadis itu."
Itachi pun tidak bisa menahan tawanya.
Setelah selesai latihan dan berganti baju, Hikari kembali menghampiri Itachi.
"Aku tidak menyangka sensei akan benar-benar datang."
"Tentu saja, aku sudah berjanji. Ayo, kuantar pulang."
Itachi menggandeng tangan Hikari tanpa sadar. Hikari hanya bisa terdiam namun mengikuti langkah sang guru menuju mobilnya yang terparkir bersama dengan mobil para orangtua yang menjemput anak mereka. Sebagian besar di jemput oleh ayah mereka. Tentu saja, hanya seorang ayah yang begitu bersemangat memasukkan anak mereka ke klub judo. Itachi membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih sudah datang, sensei. Aku jadi merasa seolah di jemput ayah," ujar Hikari begitu mereka sampai depan gedung apartmen. Itachi hanya tersenyum dan mengangguk.
"Masuklah, sudah mau malam."
.
.
.
Itachi baru saja membelokkan mobilnya ke arah jalan besar, ketika ia melihat sebuah mobil silver metalik menabrak tiang lampu yang berdiri kokoh di pinggir jalan, tepat di persimpangan. Para mobil di belakang mulai membunyikan klakson dan melewati mobil itu. Tidak menimbulkan kemacetan memang, tapi cukup membuat Itachi heran karena sang pemilik mobil tidak kunjung beranjak. Karena dilihat dari kondisinya, tabrakan yang terjadi tidak begitu parah. Pengemudi mobil tersebut pasti menginjak rem di saat yang tepat hingga hanya tabrakan ringan yang terjadi. Itachi melewati mobil tersebut berharap berharap akan datang petugas yang membantu memindahkan mobil itu. Tapi tunggu, Itachi kenal mobil itu. Bukankah itu mobil milik Yamanaka Ino?
Itachi kemudian memutar balik mobilnya dan memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket tak jauh dari sana. Ia langsung menghampiri kaca pengemudi dan mengetuknya. Kaca terbuka dan memperlihatkan wajah Ino yg penuh air mata.
"Yamanaka-san, anda tidak apa-apa?" tanyanya panik.
"A... a-aku... aku..."
Itachi memasukkan tangannya ke dalam mobil untuk membuka pintunya dari dalam.
"Pindah lah, aku akan membantumu."
Ino berpindah ke samping, memberikan tempat pada Itachi mengambil alih kemudi. Terimakasih pada petugas polisi yang datang dan membantunya memberikan aba-aba.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada polisi, Itachi membawa mobil itu ke tempat dimana ia memarkir mobilnya. Ino masih terdiam di tempatnya dengan air mata yang terus mengalir.
"Yamanaka-san..." panggilnya lembut.
"D-dia datang. Gaara... pria brengsek itu datang."
Itachi sungguh tidak mengerti apa yang di katakan wanita di sampingnya ini. Namun ketakutan sangat tampak di wajah cantik itu. Tubuhnya bergetar. Itachi mengambil inisiatif untuk memeluk Ino untuk menenangkan wanita itu. Setelah merasa bahwa tubuh Ino tidak bergetar lagi, Itachi melepas pelukannya.
"Sepertinya anda butuh udara bebas."
Itachi keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang yang diduduki Ino. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya, Ino menerimanya dan ikut keluar. Ia melihat apa yg terjadi pada mobil kesayangannya itu. Lampu depan sebelah kanan pecah dan lecet cukup parah di sekitar lampu sepertinya tidak bisa dihindarkan.
"Kurasa aku sudah gila," ujar Ino.
"Masih bisa di perbaiki. Mari," Itachi melangkahkan kakinya memasuki minimarket itu. Ini terdiam sebentar, namun mengikuti. Mereka berhenti di pojok yang berisi minuman dingin.
"Kopi?" tanya Itachi.
"Boleh." Itachi mengambil dua kaleng kopi dingin dan membawanya ke meja kasir untuk melakukan pembayaran.
Keduanya keluar dari dalam dan berjalan menuju taman kecil di samping minimarket. Ino hanya mengikuti bahkan saat Itachi mendudukkan dirinya pada sebuah kursi besi panjang.
"Apa yang sebenarnya baru anda alami, Yamanaka-san?" tanya Itachi sambil memberikan sekaleng kopi yang sudah dibukanya.
"Terimakasih. Seperti yang kau lihat, Itachi-san. Aku menabrakkan mobil ku," sahut Ino dan meminum kopi dingin ditangannya.
"Maksud saya,"
"Aku sudah berbicara informal padamu dan kau masih salah formal padaku? Ayolah Itachi-san, kita tida dalam situasi formal."
Ino tersenyum. Itachi bertanya dalam hati, kemana tadi senyuman manis itu. Kenapa ia malah mendapati wanita itu menangis dengan tubuh bergetar didalam mobilnya.
"Baiklah, maksudku kau tidak mungkin menabrakkan mobilmu dengan sengaja kan, Ino-san?" tanya Itachi.
"Menabrakkan mobil adalah salah satu hobiku asal kau tahu."
Itachi menghela nafas, jelas-jelas tadi wanita ini menangis tersedu-sedu.
"Lalu siapa Gaara? Kau menyebutkan nama itu tadi." Itachi bertanya lagi.
Wajah Ino berubah kaku. Dan itu tidak lepas dari atensi Itachi.
"Tidak perlu diceritakan kalau tidak mau."
Ino menatap pria disampingnya yang ternyata juga balik menatapnya.
"Aku akan menelepon bengkel untuk membawa mobilmu. Kau bisa pulang denganku. Besok, aku pastikan mereka akan mengantar mobilmu." Itachi tersenyum kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku baru saja bertemu dengan Gaara." Ucapan Ino menghentikan langkah pertama Itachi. Pria itu berbalik.
"Gaara adalah... ayah Hikari."
Itachi terkejut, namun ia menunggu wanita itu melanjutkan perkataannya.
"Lalu dengan bodohnya aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padaku. Pada Hikari juga."
"Dia... dia tidak mungkin mengambil Hikari dariku kan?" Ino tidak bisa menyembunyikan matanya yang mulai berkaca.
"Kau tidak seperti Yamanaka Ino yang aku tau. Kau dan Hikari adalah pasangan ibu dan anak yang paling garang yang pernah aku kenal. Tapi sekarang, kau terlihat lemah."
Ino terdiam.
"Dia tidak mungkin mengambil Hikari. Kau tahu kenapa? Sebelum sampai pada Hikari, dia pasti sudah babak belur karena pukulanmu. Dan begitu sampai, Hikari mungkin sudah membantingnya dengan judonya. Dia tidak akan bisa. Percayalah."
Ino kemudian tertawa. Tawa yang menular pada Itachi.
"Kau benar."
Itachi kemudian menelepon bengkel langganan keluarganya untuk datang menjemput mobil Ino. Tidak perlu waktu lama untuk petugas bengkel datang dan membawa mobilnya. Ino yang sudah mengambil tas dan ponselnya yang ada di mobil kini berada di mobil Itachi.
Itachi mengantar nya sampai ke depan gedung apartemen Ino.
"Terimakasih banyak, Itachi-san," ucap Ino sebelum turun dari mobil pria Uchiha itu.
"Sama-sama. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Selamat malam, Ino."
Ino mengangguk, "Hati-hati."
Ino memasuki kamar Hikari dan mendapati putrinya itu sedang tidur. Hikari memang selalu tidur sepulang dari latihan. Mungkin tubuhnya kelelahan. Bukan mungkin, tapi pasti. Ia memang sengaja memasukkan Hikari ke dojo Hyuuga sejak gadis itu kecil. Sejak memutuskan untuk mempertahankan kehamilannya, Ino selalu berharap anak yang di kandungnya laki-laki. Bukan apa-apa, anak laki-laki lebih cuek dan tahan terhadap omongan orang nantinya. Ia yakin anaknya akan mengalami masa-masa dimana orang-orang mempertanyakan ayahnya. Ia ingin anaknya nanti bisa menghadapi itu semua. Namun ternyata ia akan memiliki seorang putri. Ia tetap bersyukur, namun berjanji pada dirinya untuk membuat anaknya kuat. Dan sepertinya berhasil, putrinya cukup mandiri untuk menghadapi anak-anak lain yang suka membicarakan hal jelek tentangnya.
Ino kembali mengingat pertemuannya dengan Gaara siang tadi. Mereka hanya membicarakan mengenai pekerjaan. Ino berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari kontak mata dengan pria itu. Setelah itu, ia langsung pamit pulang. Meskipun Gaara terlihat ingin mengatakan sesuatu, Ino langsung pergi meninggakan tempat itu. Gaara memang tidak tahu mengenai Hikari. Ino tidak menceritakannya dan memang tidak sudi. Pria brengsek itulah yang memintanya untuk menggugurkan anaknya. Jadi Gaara tidak punya hak atas Hikari.
Tapi tetap saja itu menjadi beban pikiran Ino. Ia takut Gaara akan mencari tahu dan mencoba merebut Hikari darinya. Tanpa sadar ia tidak fokus dan hampir membahayakan dirinya sendiri. Untung saja ia sempat menginjak rem sebelum tabrakan keras terjadi dan mungkin saja membunuhnya.
Terimakasih pada Itachi yang sudah membantu dan menenangkannya. Kalau saja Itachi tidak ada, mungkin ia masih saja terjebak dengan pikiran-pikiran bodohnya. Itachi benar, ia dan putrinya adalah wanita kuat. Seandainya Gaara tahu pun, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ino merasa berhutang pada pria itu.
.
.
.
Hari ini Hikari datang ke sekolah dengan hati riang. Entah kenapa kedatangan Itachi ke dojo kemarin sore membawa dampak yang baik untuk moodnya hari ini. Di tambah lagi, ia berhasil mengalahkan Daichi dalam sparing kemarin. Ia cukup terhibur melihat wajah ketus anak itu setiap melihatnya. Oh iya satu lagi, Ibunya memberikan ponsel barunya pagi tadi. Sepertinya moodnya akan bagus hari ini.
Jam istirahat seperti biasa, kedua sahabat itu makan di kantin sekolah. Rei pergi sebentar untuk membeli minuman mereka yang sudah habis. Hikari memakan nasi dan chicken katsunya dengan tenang ketika ia mendengar suara orang yang jatuh. Itu suara Rei. Kemudian di lanjutkan dengan suara tawa mengejek. Hikari berbalik dan melihat kejadian yang baru saja terjadi pada sahabatnya itu.
Hikari langsung berlari mendekati Rei dan membantunya berdiri. Seragam anak itu sudah basah oleh jus jeruk yang baru di belinya. Gerombolan senpai yang sebelumnya bermasalah dengannya terlihat tertawa melihat apa yang terjadi.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Hikari. Ia mengeluarkan tisu kemasan yang selalu ada di sakunya dan memberikannya pada Rei.
"Aku baik-baik saja, " sahut anak berambut merah itu.
"Makanya kalau berjalan itu gunakan matamu. Dasar idiot." Hikari sudah ingin menjambak senpai yang tempo hari. Sepertinya mengulang kejadian tempo hari tidak masalah.
"Minta maaf, senpai. Aku melihat yang terjadi. Senpai sengaja menjatuhkan Uzumaki."
Gerakan Hikari terhalang oleh Hyuuga Daichi yang entah muncul dari mana.
"Jangan sok tahu kau, Hyuuga. Kau tidak punya bukti."
"Aku melihat dengan jelas, senpai. Bila senpai meminta maaf, semua akan selesai. Tapi kalau anda tidak mau, aku terpaksa melaporkan hal ini pada sensei."
Terlihat ingin protes, namun akhirnya si senpai meneyabalkan itu meminta maaf dengan acuh dan langsung meninggalkan kantin.
Hikari kira masalah akan selesai sampai di sana. Sepulang sekolah sebelum menunggu bus, Hikari berencana membeli eskrim untuknya dan Rei. Kebetulan siang itu panas sekali. Keluar dari minimarket sambil memakan es krim , kedua sahabat itu di hadang oleh gerombolan yang tadi siang bermasalah dengan mereka di kantin. Bukan hanya mereka saja, ada tiga orang siswi berseragam SMA yang ikut memandang mereka dengan death glare andalannya.
Tidak seperti Rei yang langsung ketakutan, Hikari tetap tenang.
"Ikuti kami," titah senpai yang tadi menjahili Rei.
"Hika, kita lari saja," Rei berbisik.
Hikari malah mengikuti gerombolan itu. Mereka ternyata berhenti di samping minimarket. Ada sebuah gang yang membatas minimarket itu dengan sebuah toko mainan. Hikari menyuruh Rei untuk mundur menjauh.
"Sepertinya kau besar kepala karena Hyuuga membelamu. Aku mengalah karena tidak mau mencari gara- gara dengan si Hyuuga. Semua orang tahu dia sudah sabuk hitam judo."
"Apa mau senpai sebenarnya?" Hikari bertanya malas-malasan.
"Tentu saja membalas yang tadi siang. Dan juga tempo hari saat kau menjambak rambutku, sialan!"
"Oh.. kalau begitu maju saja."
Gadis itu mencoba menjambak rambut Hikari namun dengan mudah di hindari. Perkelahian tak bisa dielakkan. Karena pengalamannya, cukup mudah untuk Hikari mengalahkan mereka. Bahkan dengan anak SMA yang ikut campur dengan urusannya. Dari gerakannya dapat di simpulkan kalau mereka tidak ada pengalaman berkelahi. Meskipun menghasilkan memar yang cukup kentara di sudut bibir dan pipinya, delapan siswa itu berhasil di kalahkan olehnya. Jangan tanyakan memar yang sudah berhasil dibuatnya di wajah lawan. Rei hanya bisa memandang horor pemandangan di depannya.
"Asal senpai tahu ya, bukan hanya si Hyuuga saja yang sabuk hitam judo. Aku harap kalian sekalian tidak mencoba mencari gara-gara denganku dan sahabatku lagi."
Hikari dan Rei meninggalkan gang kotor dan sepi itu.
.
.
.
Ino langsung menanyakan perihal lebam yang di dapatkan putrinya itu. Lebam di pipinya semakin kentara dan sulit untuk di sembunyikan.
"Senpai yang tempo hari, dia membawa teman-temannya dan menyerangku. Tapi tidak apa-apa kok bu. Tidak begitu sakit."
Ino mengambil krim pereda nyeri dari kotak P3K dan mengolesinya dengan lembut ke wajah Hikari.
"Itu namanya keroyokan. Kurang ajar sekali mereka. Lihat, wajah cantik putriku jadi begini kan."
"Sebenarnya, wajah mereka lebih parah dari ini, bu. Hehe."
Ino tersenyum. "Ini baru putriku."
Keesokan harinya, Hikari di panggil oleh Itachi ke ruangannya. Hikari dengan antusias datang ke ruangan senseinya itu. Entah kenapa ia senang berada di sekitar sang guru. Sejak kedatangan Itachi ke dojo, Hikari semakin dekat dengan gurunya itu. Itachi sering menanyakan hal-hal kecil yang membuat Hikari merasa di perhatikan. Karena hari ini Itachi belum memasuki kelas mereka, Hikari semakin semangat hingga berlari kecil dengan riang.
Namun yang ia dapati adalah ruangan Itachi yang ramai dengan gerombolan siswi yang kemarin dan para orang tua mereka. Perban dan kasa terpasang rapi di wajah mereka semua. Ada seorang polisi juga disana.
"Oh, jadi anak ini yang sudah membuat wajah anakku memar. Aku diam saja waktu kau menjambak rambutnya tempo hari dan sekarang aku tidak bisa diam saja. Polisi, apa yang anda lakukan? Tangkap dia!" salah seorang ibu bersuara di ikuti sahutan ibu-ibu lainnya.
"Tenang Haibara-san dan semuanya." Itachi mencoba menenangkan.
"Hikari, kemarilah." Hikari berjalan mendekat pada Itachi dan sempat memberikan death glarenya pada anak-anak itu yang di balas dengan pandangan menghindar takut.
"Benar kau menyerang mereka semua?" tanya Itachi lembut.
"Mereka menyerangku duluan, sensei."
"Itu tidak benar,sensei! Dia dan Uzumaki yang menyerang kami lebih dulu."
"Hikari?"
"Sensei tidak percaya padaku? Rei sama sekali tidak menyentuh mereka. Dia tidak bisa berkelahi. Benar-benar tidak bisa. Dan kalian yang duluan menghadang kami di depan minimarket! Sampai membawa anak SMA! Dasar tidak tahu malu. Minta di hajar lagi ya?" Hikari bergerak maju yang di hadang oleh Itachi.
"Lihat ini! Anak ini memang preman!" si ibu bersorak lagi.
"Anak dengan latar belakang broken home memang selalu membuat masalah. Kudengar ayahmu tidak ada. Apa ibumu juga sama premannya dengan kau?!"
"Jangan bicara sembarangan tentang ibuku! Anak-anak kalian yang duluan menyerangku!"
Setetes air mata lolos dari mata jade itu.
"Begini saja. Saya akan memeriksa cctv yang ada di depan minimarket dan juga di sekitarnya. Kalau memang Hikari menyerang kalian, dia akan di keluarkan dari sekolah ini. Tapi kalau malah kebalikannya. Jangan salahkan siapa-siapa kalau kalian yang akan di keluarkan dari sekolah. Bagaimana? Apa anda sekalian akan melanjutkan kasus ini?"
Dan ketakutan tampak di wajah para senpai itu.
.
.
.
Hikari saat ini berada di ruangan Itachi. Sudah setengah jam sejak para orang tua itu pulang setelah anak-anak mereka mengaku telah melakukan penyerangan. Itachi meletakkan sebuah susu kotak di hadapan Hikari. Gadis itu menangis setelah kepergian para pembuat masalah itu. Setelah sudah merasa tenang Hikari mengambil susu kotak itu dan meminumnya.
"Apa tadi sensei tidak percaya padaku?" tanya Hikari.
"Aku percaya."
"Kenapa setiap ada masalah, semua orang akan menyalahkan ibuku? Apa salahnya tidak punya ayah? Punya ayah tapi tidak brengsek juga tidak ada gunanya."
"Aku akan senang kalau kau menggunakan kata-kata yang lebih baik."
"Maaf sensei. Dan terimakasih."
"Sama-sama." Itachi tersenyum.
"Tapi, aku berharap sensei berhenti berbuat baik padaku, berhenti menanyakan keadaanku, berhenti memperhatikanku. Dan untuk latihan sore ini juga, sensei tidak perlu datang lagi."
"Kenapa?" tanya Itachi heran.
"Aku merasa, sensei jadi seperti mengisi sosok ayah yang selama ini aku tak miliki. Aku jadi salah mengartikan perhatian yang sensei berikan. Maafkan aku. Permisi, sensei."
.
.
.
Mood Hikari berubah jadi buruk hari itu. Ia jadi tidak fokus latihan. Dan Itachi-sensei benar-benar tidak datang. Membuat ia kesal pada dirinya sendiri. Padahal dialah yang memintanya.
Ino hanya bisa menghela nafas melihat perubahan mood putrinya itu. Ingin rasanya ia menampar mulut para ibu-ibu tidak tahu malu itu. Sudah anak mereka yang salah malah ingin meminta pertanggung jawaban. Tapi kalau ia melakukannya malah akan menambah masalah.
Karena melihat mood jelek anaknya, Ino berinisiatif mengajak Hikari makan di luar. Ino juga berencana ke game center setelahnya. Toh besok juga hari minggu.
Mereka makan di salah satu restoran yang ada di Orion Mall. Sebuah mall besar yang berada tidak jauh dari kediaman mereka. Hikari tampak antusias setelah Ino memberitahukan bahwa mereka akan ke game center. Selesai makan, Hikari pergi ke toilet dan meninggalkan sang ibu yang sedang menyelesaikan pembayaran bill makan mereka.
"Ini kartu anda dan struknya, nona." Memang banyak yang salah paham dengan penampilan Ino yang selalu terlihat muda.
"Terima kasih." Ino tersenyum dan sang pelayan pergi meninggalkannya. Ino kemudian memasukan debit card nya ke dalam dompet saat suara familiar itu memanggilnya.
"Ino?"
Ino mengangkat kepalanya. Gaara berdiri disana dengan Baki yang senantiasa menemaninya.
"K-kau... A-apa yang kau lakukan disini?" pertanyaan itu langsung terlontar. Gaara mengangkat sudut bibirnya.
"Tentu saja makan malam. Kau sendiri?"
"Oke, Tapi sepertinya aku harus per—"
"Ibu!"
Hikari datang menghampiri sang Ibu yang tampak sedang berbicara dengan... temannya mungkin? Kedua orang yang tak ia kenal itu membalikkan badannya. Gaara tidak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat pemandangan itu. Seorang anak perempuan dengan mata serupa dirinya berdiri didepannya.
"Hikari, kita pergi sekarang. Kami permisi Baki-san, Sabaku-san." Ino menarik Hikari pergi dari restoran itu. Meninggalkan Gaara dengan beragam pikiran yang memenuhi kepalanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N :
Halo teman-teman...
Terimakasih masih mendukung saya dan cerita yang tidak seberapa ini. Makasih masih mau mengunjungi lapak saya yang sederhana ini.
Dukungan kalian sangat berarti loh untuk saya.
Sekali lagi terimakasih.
Fushimi Yuuna : makasih karena masih menunggu. Ini udah up ya. Thank you.
Anay788 : halo, makasih udah review ya, yang love mentor juga masih tahap pengerjaan. Hehe
Gekanna87 : makasih udah suka Gekanna87-san. Ini sudah up.
Yumehara : Makasih banget ya yumehara-san. Udah lama bangeet ya. Hehe.
Kyudo YI : ini udah up Kyudo-san. Makasih reviewnya.
Guest : ini udah up ya. makasih udah review.
Ruby Rose : Nyerempet ke rating M? Hmmm... gimana ya? #evillaugh
Cherrymomo : Udah terjawab diatas ya. Daichi anak pakde Neji. Makasih udah review.
Adyahayutiara : Sudah lanjut say... makasih udah review.
Pokoknya makasih banget buat yang udah baca dan review. Love you guys.
Yana Kim ^_^
