Sensei! You Must be My Dad!
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T semi M
Warning: Semua OOC tanpa terkecuali, abal, mainstream? Wajib. EYD? Sempurna kegagalannya.
Uchiha Itachi Yamanaka Ino
Sum:
Yamanaka Ino dan Yamanaka Hikari. Ibu dan anak yang membuat Uchiha Itachi, guru baru di Konoha Junior High School pusing setengah mati.
.
.
.
Chapter5
.
.
.
Maksud hati adalah untuk mengembalikan mood putrinya. Tapi malah moodnya sendiri yang berubah buruk malam itu. Hikari memang tidak bertanya tentang Gaara. Ino yakin Hikari menganggap kalau Gaara merupakan rekan kerjanya. Keduanya tetap melanjutkan rencana mereka. Akan sangat mencurigakan kalau mereka tidak jadi ke game center dan pulang dengan terburu-buru. Tapi Ino tetap tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. Sesekali ia melihat sekeliling seolah memantau apakah Gaara mengikuti mereka.
"Ibu! Aku berhasil memasukkan semua bolanya!" seru Hikari dari stand permainan bola basket. Gadis itu tempak senang mengumpulkan kupon yang keluar dari mesin.
"Bagus, kau hebat!" balas Ino. Agak terlambat karena ia sedang tidak fokus.
Hikari melanjutkan permainannya ke stand lain. Ino hanya menatap nanar pada Hikari yang asyik sendiri. Ino tidak ingin putrinya tahu siapa Gaara. Gadis itu memang ingin menemui ayahnya dan itulah yang ia takutkan. Ia takut Hikari jadi menginginkan Gaara untuk menjadi ayahnya. Mengisi posisi yang selama ini kosong. Mengingat hal itu, Ino kembali panik. Ia takut. Tiba-tiba ucapan Itachi terngiang di kepalanya.
"Dia tidak mungkin mengambil Hikari. Kau tahu kenapa? Sebelum sampai pada Hikari, dia pasti sudah babak belur karena pukulanmu. Dan begitu sampai, Hikari mungkin sudah membantingnya dengan judonya. Dia tidak akan bisa. Percayalah."
Gaara tidak akan bisa mengambil putrinya. Entah kenapa Ino merasa tenang mengingat kata-kata Itachi itu. Seperti obat yang sangat manjur menghilangkan kepanikannya. Ino menghela nafas dalam kemudian tersenyum.
Ia berencana menghampiri Hikari ketika merasakan ada yang memegang kakinya. Ino melihat ke bawah. Seorang bocah berambut hitam tengah memeluk kakinya erat. Bocah berumur sekitar tiga atau empat tahun itu menatapnya sambil tersenyum. Ino kemudian berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.
"Siapa namamu?" tanya Ino lembut.
"Daisuke," jawab bocah itu dengan suara cadelnya.
"Dimana ibumu?"
"Nenek.. nenek...,"
Ino melihat sekeliling berharap melihat seseorang yang sedang mencari anaknya namun tidak ada. Semua orang sibuk dengan game di depannya. Merasa tidak ada pilihan, Ino menggendong anak itu dan membawanya pada Hikari. Gadis itu tengah serius mencoba mengambil boneka dari mesin crane berisi mainan dan juga boneka.
"Yes! Dapat! Ibu lih— itu anak siapa bu?"
"Sepertinya dia tersesat. Namanya Daisuke"
"Halo, aku Hikari. Panggil nee-chan ya." Hikari memberikan boneka Pikachu berukuran sedang yang berhasil di dapatnya. Daisuke menerima boneka itu dengan senang.
Pasangan ibu dan anak itu memutuskan untuk membawa Daichi ke pusat informasi. Sebelumnya Hikari sempat menukarkan kuponnya dan berhasil mendapatkan voucher makan eskrim di Baskin Robbins untuk dua orang. Ia berencana mengajak Rei kesana lusa.
Petugas langsung menyuarakan pengumuman ke semua penjuru mall dan mereka hanya tinggal menunggu. Tak sampai lima belas menit ketika pintu terbuka dan menampakan sesosok wanita setengah baya yang terlihat panik dan menangis. Ia langsung memeluk Daisuke yang sedang duduk di di sofa diantara Ino dan Hikari.
"Daisuke-kun. Maafkan nenek ya. Seharusya nenek tidak singgah di toko itu dan malah tidak sadar melepaskanmu."
Wanita itu kini beralih ke Ino dan memeluk Ino erat, " Terimakasih banyak, nona. Terimakasih banyak. Aku tak tahu apa yang terjadi kalau aku kehilangan cucuku."
"Sama-sama nyonya. Semoga hal ini tidak terjadi lagi ya."
Wanita itu mengangguk. "Aku Uchiha Mikoto. Senang bertemu denganmu nona."
"Saya Yamanaka Ino. Senang bertemu dengan anda. Ini Hikari, pu—"
"Ibu! Bagaimana bisa Daisuke hil— Ino? Hikari?"
"Itachi-san?" / "Sensei?" Ino dan Hikari berujar bersamaan.
"Ini semua gara-gara kau yang tidak mau menemani ibu! Bagaimana kalau Daisuke bertemu orang yang salah? Kalau dia di culik bagaimana? Maafkan paman bodohmu ini ya Daisuke...!" Mikoto memukul lengan Itachi.
Itachi hanya bisa meringis mendengar kicauan merdu ibunya. Sedangkan Ino dan Hikari menahan tawa melihat Itachi di marahin seperti anak kecil.
"Terimakasih, Ino." Itachi menatap Ino.
"Sama-sama. Aku juga berutang terimakasih padamu. Mobilku sudah kembali seperti semula." Ino tersenyum. Itachi beralih pada Hikari.
"Kau bisa tersenyum sekarang, hm? Satu hari ini mood mu terlihat jelek." Itachi mengacak rambut Hikari.
"Rambutku jadi berantakan, sensei." Hikari kembali cemberut, namun bahagia dalam hatinya.
"Karena masalah sudah selesai, kami permisi dulu. Sudah jam sepuluh."
"Sekali lagi terimakasih, Ino. Aku berhutang padamu." Mikoto memeluk Ino sekali lagi.
Ino dan Hikari meninggalkan ruangan itu diiringi senyuman Mikoto. Bahkan setelah keduanya menghilang.
"Kalian sudah saling kenal ya?" tanya Mikoto pada Itachi.
"Iya. Ino adalah—"
"Dia cantik sekali. Bagaimana kalau kau dekati dia?"Itachi menahan tawanya.
"Ibu.."
"Bagaimana? Setuju? Ibu akan sangat senang kalau dia menjadi menantu ibu. Kau sudah cukup umur untuk menikah, Itachi. Dia dan adiknya terlihat baik sekali. Hikari muridmu di sekolah kan? Mulai saja dengan mendekati adiknya. "
"Hikari bukan adiknya Ino."
"Tapi mereka terlihat mirip."
"Tentu saja. Mereka ibu dan anak."
"Hah?"
Itachi mengambil keponakannya dari sang Ibu dan berjalan mendahului ibunya.
Sesampainya di mobil, Itachi mendudukkan Daisuke di kursi khususnya. Anak itu sudah tertidur. Itachi menurunkan posisi kursi tersebut agar keponakannya bisa tidur dengan nyaman. Daisuke memang sedang dititipkan di rumah mereka karena Hinata sedang tidak enak badan pada masa awal kehamilannya.
Tak sampai sepuluh menit, sang ibu menyusul masuk ke dalam mobil dan meletakkan boneka yang sejak tadi di pegang cucunya. Itachi kemudian menyalakan mobilnya dan keluar dari parkiran mall itu.
"Jadi dia ibu muda ya?" tanya sang ibu.
"Begitulah."
"Dia menikah umur berapa? Aku bersumpah dia masih sangat muda. Apa setelah lulus SMA dia langsung menikah?" tanya Mikoto lagi.
"Aku tidak tahu jelasnya. Yang pasti, dia hamil dan pria itu meninggalkannya dan jadilah dia ibu tunggal."
"Pria itu meninggalkannya?! Jadi Hikari tidak punya ayah? Dasar brengsek! Ibu paling benci tipe-tipe pria seperti itu. Kasihan Ino. Hikari juga." Mikoto kini berwajah sedih.
"Hn." Itachi fokus pada jalanan di depannya.
"Apa saja yang kau tahu tentang mereka?" Itachi mengira ibunya akan berhenti bertanya perihal Ino.
"Tentang Ino?"
Mikoto mengangguk antusias.
"Kenapa ibu penasaran?" Itachi bertanya balik.
"Jawab saja!"
"Aku tidak tahu banyak. Ino bekerja sebagai arsitek dan mereka tinggal di apartement Venus."
"Dia arsitek?! Hebat sekali! Apa lagi?" Itachi tiba-tiba teringat sesuatu. Tangannya tiba-tba memagang stir dengan kuat. Entah kenapa darahnya naik mengingat hal itu.
"Baru-baru ini Ino bertemu dengan pria itu. Dia takut kalau pria itu akan mengambil Hikari."
"Dia kembali setelah sekian lama. Enak sekali dia kalau sampai berniat mengambil Hikari. Kau harus menjaga jangan sampai itu terjadi. Wanita adalah makhluk lemah. Kau harus melindunginya."
Itachi tiba-tiba tertawa mendengar permintaan ibunya.
"Kenapa kau tertawa?"
"Mereka itu pasangan ibu dan anak yang kuat bu. Ino bisa mengangkat ban mobil dengan satu tangan dan Hikari, dia sudah sabuk hitam judo."
"Benarkah?" Itachi mengangguk
"Tapi tetap saja. Kau harus melindungi mereka. Sekuat apapun mereka, Ino adalah seorang wanita dan Hikari adalah seorang anak perempuan. Ini perintah ibu. Kau harus menjaga mereka. Kalau kau tidak suka, ibu akan meminta Shisui yang melakukannya!"
"Aku suka!" Itachi menjawab refleks. Ia bahkan terkejut dengan ucapannya sendiri. Sudah bisa di tebak. Mikoto tengah menatapnya dengan senyum evil andalannya.
"Hmm. Ternyata kau juga menyukai Ino ya? Mengaku saja!"
Dan Itachi sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Sepanjang jalan, ia akan di ejek oleh sang ibu. Ia hanya berharap kabar ini tidak sampai pada adiknya. Bisa-bisa ia akan menjadi bahan ledekan sebulan penuh.
.
.
.
Gaara sedang duduk di apartmen barunya di Konoha. Belum genap sebulan ia menetap di apartmen ini. Ia baru tiba di Jepang setelah lebih dari tiga belas tahun hidup di London. Kankurou yang baru saja menikah memutuskan untuk tinggal di Cina bersama sang istri. Maka jadilah Gaara di suruh menggantikan posisi sang kakak di Jepang.
Dengan segelas red wine di tangannya Gaara bediri di kaca besar apartmennya menatap pemandangan malam. Gaara sedang memikirkan apa yang terjadi empat jam yang lalu. Ia bertemu dengan Ino yang baru selesai makan malam bersama seorang anak perempuan yang memanggilnya ibu. Tentu saja hal itu membuat Gaara memikirkan kesalahan yang dibuatnya dulu. Ia dan Ino melakukan kesalahan dengan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak seumur mereka. Dan lagi Ino sampai hamil.
Gaara dengan jelas mengingat bagaimana ia meminta Ino menggugurkan bayi yang ada di perut gadis itu. Bayi yang tak lain adalah anaknya. Sungguh ia sangat takut saat itu. Ia merupakan tim basket kebanggan sekolah dengan Ino sebagai ketua cheerleader. Mereka adalah pasangan yang sempurna kala itu. Di tengah kepanikannya, ia malah sempat-sempatnya memikirkan reputasinya saat itu.
Gaara yakin kalau anak perempuan itu adalah anaknya. Gaara bisa merasakannya. Dan mata itu, mata itu tidak bisa membohonginya. Anak itu sudah besar. Tentu saja, sudah tiga belas tahun berlalu. Ia bersyukur Ino tidak mendengarkan permintaannya dulu dan mempertahankan anak itu. Melihat Ino untuk pertama kali setelah sekian tahun justru membangkitkan rasa bersalah yang sempat terpendam akibat segala kesibukannya. Kesibukan yang sengaja di buatnya untuk mengalihkan rasa bersalah itu. Anak itu mirip sekali dengan Ino. Hanya mata jadenya saja yang menurun dari Gaara. Dan Gaara mendapati dirinya bahagia mengetahui ada bagian dari dirinya dalam anak itu. CEO kebanggaan Suna itu merasa matanya panas, kemudian mulai berkaca-kaca. Dan ia menangis. Untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Maafkan aku..." lirihnya.
.
.
.
Hari minggu adalah hari dimana Ino dan Hikari berberes rumah. Kecuali mereka memang ada agenda di luar rumah seperti berlibur ataupun piknik singkat ditaman kota. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang saat kedua ibu dan anak itu selesai dengan pekerjaan mereka. Ino berniat menyiapkan makan siang saat suara bell apartmen mereka berbunyi. Hikari berinisiatif membuka pintu.
"Daisuke-kun!" sorak Hikari hingga terdengar sampai ke dapur. Ino mengikuti anaknya dan melihat Uchiha Mikoto dan anaknya Itachi, beserta Daisuke ada di depan pintu.
"Selamat siang, Ino-chan!" sapa wanita itu ramah. Ia langsung memeluk Ino dengan erat. Sepertinya ini adalah salah satu kebiasaan wanita itu.
"Ah, selamat siang, nyonya Mikoto. Silahkan masuk."
"Jangan kaku begitu. Panggil bibi saja. Ibu juga boleh."
"Baik, bibi. Silahkan masuk."
Ino tidak menyangka bahwa Uchiha Mikoto beserta pasukannya akan datang ke rumahnya. Daisuke kini sudah berpindah ke gendongan Hikari. Hikari membawa anak itu ke ruang tengah di depan televisi dan mulai bermain dengannya. Ino mengajak mereka untuk duduk di sofa ruang tamu yang minimalis itu. Berbeda dengan Mikoto yang merasa sangat nyaman, Itachi malah terlihat canggung.
"Aku tidak menyangka kalian akan bertamu."
"Sepertinya Daisuke merindukan Hikari. Dia memanggil nee-chan... nee-chan... dan menunjuk-nunjuk boneka pemberian Hikari. Jadi kami memutuskan bermain. Tidak apa-apa kan?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Terimakasih sudah mau berkunjung. Ah, aku menyiapkan minuman dulu."
"Terimakasih, Ino-chan."
Ino beranjak dari sana menuju dapur. Ia mengeluarkan beberapa apel dari kulkas dan mulai mengupasnya. Dengan cekatan, ia memasukkan apel itu kedalam juicer machine dan menampung hasilnya dalam sebuah teko kaca. Tak butuh waktu lama buat Ino untuk menyajikan jus apel pada sang tamu.
"Itachi-san?" tanya Ino melihat pria itu tidak lagi berada di tempat duduknya.
"Dia ke parkiran. Aku membawa makan siang untuk kita. Tapi malah tertinggal di mobil." Mikoto meminum jus apelnya.
"Tidak perlu repot-repot, Bibi. Sebenarnya tadi aku baru akan menyiapkan makan siang saat kalian datang," terang Ino.
"Wah, berarti kebetulan sekali ya. Kita bisa makan bersama disini."
"Terimakasih, bibi."
Itachi datang tak lama kemudian dengan tas jinjing yang cukup besar. Mikoto mengambil tas itu dari Itachi dan membawanya ke dapur. Ino mengikutinya dan membantu Mikoto menyiapkan makanan itu ke atas meja. Setelah selesai, mereka mulai makan siang. Karena tidak ada kursi khusus bayi, Daisuke harus makan di pangkuan Itachi. Pria itu dengan telaten menyuapi keponakannya.
"Ini pertama kalinya meja makan kami penuh. Biasanya aku dan Ibu hanya makan berdua saja. Atau dengan paman Kiba." Hikari refleks mengeluarkan isi hatinya. Ino dapat melihat kebahagiaan di wajah putrinya itu.
"Benarkah? Apa nenek harus sering-sering datang?" tanya Mikoto dengan senyumnya.
"Nenek mau sering-sering datang?" Hikari balik bertanya. Ada harap di mata gadis itu.
"Kalau Hikari mau, nenek pasti datang. Soalnya sampai adiknya lahir, sepertinya Daisuke akan lebih sering di rumah kami."
"Daisuke akan punya adik?" tanya Hikari lagi. Mikoto mengangguk.
"Senangnya."
"Bagaimana kalau besok sepulang sekolah, kau pulang bersama Itachi. Datanglah ke rumah kami. Kita bermain disana."
"Bolehkah?" Hikari beralih pada Ibunya.
"Bolehkan Ino-chan?" Mikoto bertanya pada Ino.
"Asal disana tidak merepotkan ya." Hikari tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mendengar jawaban sang ibu.
"Terimakasih, Ibu."
Ino mengangguk.
"Sepulang kerja akan ibu jemput."
Setelah selesai makan, Ino membereskan meja makan. Para tamu dan Hikari sedang menonton di ruang tengah. Ino sedang memindahkan piring kotor dari atas meja ke wastafel. Termasuk Itachi yang entah kenapa lebih diam hari ini.
Bruk!
"Aw!" Ino baru saja berbalik dari wastafel dan menabrak Itachi yang sejak kapan ada disana. Hidung Ino terasa sakit setelah berbenturan dengan dada pria itu.
"Kau tidak apa-apa?"
"Sejak kapan kau disana? Sakit tahu!" Ino memegang hidungnya.
"Hahaha. Coba ku lihat." Itachi menurunkan tangan Ino dansedikit membungkuk untuk menatap lekat pada hidung mancung Ino yang tampak memerah sekarang. Itachi merasakan jantungnya berdebar kencang ketika melihat wajah wanita di depannya ini. Mata mereka bertemu.
"Matamu, cantik."
Ino mundur tanpa disadari, membuat Itachi sadar apa yang baru saja di ucapkannya. Begitu juga Ino yang jadi berdiri canggung disana.
"Ah, maaf. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Itachi.
"Err. Tidak ada. Hanya tinggal mencuci piring. Aku bisa sendiri." Ino mengambil sarung tangan karet yang tergantung di bawah wastafel.
"Biar aku yang cuci, kau bisa menyusunnya. Toh aku tidak tau letak susunan barang-barangmu." Itachi mengambil alih sarung tangan itu dan mulai memakainya.
Keduanya berdiri menghadap wastafel. Itachi mulai mencuci piring dan peralatan makan yang tadi mereka pakai.
"Ibumu baik sekali." Ino memulai pembicaraan. Ia menerima piring yang telah di cuci dan menyusunnya sesuai pada tempatnya.
"Dia begitu bila sedang ada maunya."
"Apa maksudmu? Ada maunya?"
"Iya. Ibuku menyukaimu. Sepertinya Daisuke juga menyukai Hikari."
"Aku masih tidak mengerti."
"Dia sedang mencari calon menantu. Calon istriku. Dan sepertinya kau memenuhi kriterianya. Dia menyukaimu." Itachi terkekeh. Ino malah tertawa.
"Apa kau segitu tidak lakunya sampai Ibumu yang turun tangan mencarikan jodoh untukmu? Hahaha."
"Ibuku saja yang tidak sabaran. Lagian aku tidak setua itu. Ini semua salah Sasuke. Kenapa juga dia harus menikah cepat. Ayah dan Ibu jadi menuntutku juga kan." Ino tersenyum melihat sisi lain dari seorang Uchiha Itachi. Ia tidak menyangka pria ini bisa merengut sebal seperti itu.
"Tapi kenapa aku? Apa tidak ada calon yang lebih baik?" tanya Ino.
"Lebih baik?"
"Banyak gadis cantik diluar sana yang pasti mau denganmu. Kenapa harus dengan seorang ibu tunggal seperti aku?"
"Kau juga cantik."
Itachi telah selesai dengan pekerjaannya. Ia sudah melepaskan sarung tangan karetnya dan meletakkan benda itu di tempatnya. Tapi kedua orang itu masih pada posisi mereka. Menghadap pada wastafel yang kini telah kosong oleh piring kotor.
"Kalau kau bersanding denganku, keluargamu akan malu." Ino mengakhiri kalimatnya dengan kekehan kecil.
"Malu?"
"Aku ini seorang ibu tunggal, Itachi. Aku sudah punya anak. Aku sudah melakukan kesalahan fatal dimasa lalu. Kalau keluargamu tahu juga mereka pasti akan malu."
"Kenapa kau menyimpulkan hal itu? Kalau mereka menerimamu bagaimana?"
"Tidak mungkin. Lagi pula, kenapa kau malah mengikuti keinginan ibumu begitu saja?"
"Karena sepertinya... aku menyukaimu."
"Apa?"
"Aku yakin kau mendengarnya."
"Aku rasa ada yang salah denganmu, Itachi. Dan asal kau tahu, setelah sekian tahun berlalu, aku tidak ada niat untuk mencari pendamping. Tidak akan pernah."
Itachi malah tersenyum. Ia kemudian mengangkat tangannya dan menepuk pelan kepala Ino.
"Nah... Itu menjadi tugasku untuk meyakinkanmu, hm?"
Sudah belasan tahun berlalu dan ini pertama kalinya Ino merasakan wajahnya memanas karena malu hanya karena sebuah tepukan dikepalanya. Bertahun-tahun berlalu, ia telah menerima puluhan pernyataan cinta dari pria yang berbeda. Baik sewaktu kuliah, maupun setelah ia bekerja. Ino dengan mudah menolak dan mengabaikan mereka. Walaupun yang sebenarnya terjadi adalah Ino menghindari mereka. Ia takut. Ia takut kalau para pria itu hanya menyukai fisiknya saja dan kenyataan bahwa ia telah memilikia anak akan mengecewakan mereka. Ia sudah ahli dalam hal menghindari lelaki. Tapi kenapa ini? Getaran apa yang dirasakan hanya karena tepukan pelan Itachi di kepalanya. Ia bukan anak remaja lagi. Tapi kenapa ia seperti ini? Kenapa jantungnya berdebar begini?
.
.
.
Ino di kejutkan oleh kedatangan Itachi di apartmennya pagi-pagi sekali. Ino baru keluar dari parkiran bawah tanah dan melihat pria itu menunggu tepat di depan gedung. Entah apa yang dilakukan pria itu. Hikari terlihat antusias saat melihat senseinya itu. Ia segera menurunkan kaca jendela mobil begitu Ino berhenti di belakang mobil Itachi.
"Itachi-ensei!" soraknya.
"Pagi," sapa Itachi ramah sambil mendekati mobil mereka.
"Selamat pagi, sensei." Hikari malu-malu karena bukannya mengucapkan salam, ia malah langsung memanggil nama senseinya.
Itachi menunduk agar dapat melihat Ino dari sisi Hikari.
"Selamat pagi, Ino." Ino menjadi salah tingkah. Setelah pernyataan tiba-tiba itu, Itachi langsung pergi karena panggilan Mikoto. Sang ayah tiba-tiba meminta mereka pulang karena kedatangan saudara mereka dari luar kota.
"O-oh. Selamat pagi. Err apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya hati-hati.
"Sebenarnya aku berniat menjemput kalian. Tapi sepertinya kau tidak mendengar panggilan telponku ataupun membaca pesan yang ku kirim."
"Benarkah? Maaf tapi aku hanya memeriksa ponselku begitu sampai di kantor. Dan sebenarnya, aku tidak biasa di jemput." Ino merasa bersalah. Ia memang tidak pernah sempat untuk mengecek ponselnya di pagi hari. Menyiapkan sarapan dan bersiap ke kantor sudah menyita banyak waktunya. Dan dimalam hari, ia memang sengaja mengaktifkan mode silent demi kenyamanan istirahatnya.
"Tidak apa. Kalau begitu aku menjemput Hikari saja mulai sekarang. Lagian, aku baru tahu kalau ternyata Nara's Construction menjadi lebih jauh bila kau harus ke sekolah dulu. Kau tidak keberatan kan Hikari?"
"Tidak perlu Itachi-san. Kami bi—" Ucapan Ino terhenti dan ia hanya bisa terbelalak saat Hikari dengan semangat keluar dari mobil dan meninggalkannya sendiri. Demi Tuhan, Hikari itu anaknya. Dengan mudahnya, anaknya malah memilih berangkat ke sekolah dengan Itachi.
"Sensei benar. Ibu langsung berangkat saja. Ingat hari ini aku main ke tempat Daisuke ya." Hikari melambaikan tangannya dengan riang. Ino menghela nafas. Memang benar ia harus memutar cukup jauh untuk ke kantor dari sekolah Hikari, tapi dia sudah biasa dengan itu dan tidak masalah. Tapi kalau Hikari yang mau, ya bagaimana lagi.
"Baiklah. Hati-hati ya." Ino mengangguk pada Itachi kemudian melajukan mobilnya meninggalkan mereka.
Hikari merasa canggung saat Itachi membukakan pintu untuknya. Ia memang tidak pernah merasakan perhatian seperti itu. Ia sudah terbiasa sendiri dan mandiri. Dan menerima perhatian dari seorang pria yang akhir-akhir ini mengisi sosok ayah dalam kehidupannya membuatnya merasa aneh namun senang disaat yang bersamaan.
"Terimakasih, sensei." Itachi hanya membalasnya dengan senyum. Pria itu kemudian masuk kedalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya.
"Sensei."
"Ya?"
"Apa sensei dan ibuku ada sesuatu?" tanya Hikari tiba-tiba. Mobil mereka baru saja berhenti disebuah lampu merah.
Itachi tersenyum. "Menurutmu bagaimana? Apa terlihat seperti itu?"
"Kalian jadi terlihat dekat," Hikari menambahkan.
"Akan ada sesuatu kalau saja Ibumu mau. Tapi sepertinya sulit untuk mendekatinya."
"Sensei menyukai ibuku?" tanya Hikari lagi.
"Menurutmu bagaimana? Apa terlihat seperti itu?"
"Sensei!"
Itachi terkekeh membuat Hikari merengut kesal. Lampu hijau menyala, dan Itachi melanjutkan perjalanannya.
"Kau benar. Tapi sepertinya ibumu tidak menyukaiku."
"Sensei tidak akan menyerah kan?"
"Bagaimana ya? Sebenarnya aku ingin menyerah. Tapi sayang, menyerah tidak ada dalam kamusku."
Hikari tidak bisa menahan senyumnya.
"Aku akan mendukung, sensei."
"Benarkah? Arigatou ne."
Mobil terparkir sempurna di parkiran sekolah. Hikari dan Itachi turun dari mobil bersamaan.
"Terimakasih, sensei. Aku ke kelas dulu."
"Tunggu," cegat Itachi. Pria itu mendekat. Merapikan poni Hikari yang sudah hampir mengenai matanya.
"Sepertinya kau harus memotong sedikit ponimu. Bagaimana kau bisa menulis dengan poni sepanjang ini?"
Hikari hanya bisa menunjukan cengirannya.
"Terimakasih, sensei."
"Pulang sekolah tunggu aku disini ya."
Hikari mengangguk kemudian berlalu meninggalkan senseinya dengan hati yang riang.
.
.
.
Ino memeriksa ponselnya begitu ia sampai di ruang kerja mereka. Benar saja, terdapat dua buah pesan masuk dari nomor baru yang Ino yakini adalah nomor Itachi. Begitu juga dengan dua panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Apa pria itu sungguh-sungguh dengan kata-katanya? Ino kemudian menyimpan nomor itu ke daftar kontaknya dengan nama Uchiha Itachi.
"Heeeh? Kau datang sepeat sekali Ino. Tidak biasanya."
Chouji terkejut melihat Ino sudah siap tempur dengan komputernya. Bahkan sebelum Kiba dan Shikamaru datang. Ino hanya membalasnya dengan senyumannya.
"Apa Hikari tidak sekolah? Tapi ini belum musim liburan. Dia sakit?" Biasanya, Ino akan datang cepat bila Hikari sudah libur ataupun tidak masuk karena sakit.
"Tidak. Dia di... ah kami hanya berangkat lebih cepat dari biasanya." Chouji mengangguk mengerti. Pria tambun itu mengeluarkan paper bag yang Ino yakini berisi sarapan super pria itu.
"Aku bawa tiga sandwich. Kau mau satu? Kurasa kau tidak sempat sarapan karena berangkat cepat."
"Tidak, terimakasih. Aku sudah sarapan, Chouji. Kau baik sekali." Ino menolak halus. Walaupun Ino belum sarapan, ia akan tetap menolaknya. Sandwich yang selalu di bawa Chouji bukan sembarang sandwich. Itu adalah sandwich yang sangat besar dengan isi melimpah. Memang sangat enak, tapi Ino tidak sanggup memakannya sendiri, bahkan berdua dengan Kiba sekalipun. Ino sangat kagum dengan nafsu makan temannya yang satu itu.
Tak lama kemudian, Kiba datang dikikuti oleh Shikamaru dengan wajah ngantuknya. Ino masih tidak percaya bahwa Shikamaru adalah pewaris perusahaan tempatnya bekerja itu. Ino menjawab sapaan dan pertanyaan Kiba terkait kedatangannya yang cepat dengan gumaman tidak jelas. Wanita itu melanjutkan pekerjaannya. Ia masih harus membuat denah tiga dimensi untuk di berikan kepada Aburame Shino selaku bagian tim konstruksi bangunan mereka.
Ino sedang serius dengan pekerjaannya ketika ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari nomor tak di kenal. Ino membuka pesan itu dan jantungnya terasa berhenti untuk sesaat.
'Aku di kafe seberang kantormu. Kita perlu bicara. Gaara.'
Ino bingung apa yang harus dilakukan. Ia melihat Kiba yang sedang berbincang dengan kliennya lewat ponsel di sudut ruangan. Apa ia harus memberitahu Kiba? Yang ada malah akan ada adu otot di antara mereka. Ia yakin Gaara akan menanyakan perihal Hikari. Apa ia siap bertemu pria itu dan membicarakan tentang kejadian masa lalu mereka dan juga Hikari?
Sekali lagi ia teringat akan ucapan Itachi, yang entah kenapa bisa menjadi obat penenang untuknya. Ia pasti bisa. Ino menarik nafas panjang dan meyakinkan dirinya.
"Aku ada urusan sebentar. Aku akan segera kembali." Ino pamit pada Chouji yang masih asyik dengan makanannya. Pria itu hanya mengangguk sambil meminum kopinya. Ino mengambil cardigan coklat susu miliknya dan beranjak dari sana.
Saat Ino memasuki kafe, Gaara sudah duduk di salah satu meja didekat jendela. Kafe itu sepi, hanya ada dua tiga meja yang terisi selain meja Gaara. Secangkir kopi dan sepiring blueberry muffin menemani pria itu. Ia sendirian. Tidak ada Baki sang sekretaris disana. Mungkin pria itu menunggu di mobil? Entah kenapa Ino jadi linglung dan memikirkan hal yang sebenarnya tidak penting itu. Gaara berdiri begitu melihatnya datang. Ino langsung mendudukkan dirinya di hadapan pria itu. Pria yang sempat muncul dalam salah satu chapter hidupnya. Gaara kembali duduk. Ia mengangkat tangannya memberi kode kepada pelayan untuk datang. Hanya dalam hitungan detik, pelayan itu datang.
"Pesanlah. Kau sudah sarapan?" Entah kenapa Ino lebih senang saat Chouji menanyakan apakah ia sudah sarapan atau belum. Suara pria itu masih sama dinginnya saat mereka bertemu terakhir kali.
"Sudah. Air putih saja." Ino menjawab acuh. Toh memang dia sudah sarapan.
"Lemon tea dengan dua irisan lemon hangat untuknya." Pelayan mengangguk kemudian mencatat dan pergi dari sana. Ino mengernyit menatap Gaara. Jelas-jelas ia mengucapkan pesanannya dengan jelas, bahkan dengan remarks khusu dua iris lemon.
"Kau masih suka lemon tea kan?" Ino memang sangat menyukai lemon tea baik yang dingin ataupun yang hangat. Dari dulu hingga sekarang. Ia tidak menyangka pria ini masih mengingatnya.
"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan? Langsung saja. Aku tidak punya banyak waktu."
Pelayan yang tadi melayani mereka datang kembali dengan membawa pesanannya, pesanan Gaara sebenarnya. Ino ingin mengacungkan jempol dengan kecepatan kafe ini. Minuman itu masih mengepulkan asap saat di letakkan di meja Ino. Pelayan itu langsung pergi begitu selesai dengan tugasnya.
"Anak itu... Dia anakku, benarkan?" Gaara memang sudah yakin seratus persen kalau anak perempuan tempo hari adalah anaknya. Tapi ia tetap ingin mendengar langsung dari Ino. Mendengar dengan jelas dari Ino bahwa anak itu adalah anak mereka.
"Anakku. Bukan anakmu. Hikari adalah anakku." Ino mengucapkan kaliamatnya dengan penekanan.
"Hikari..." Ino cukup terkejut dengan senyuman kecil di wajah Gaara. Gaara bukanlah tipe orang yang suka tersenyum. Ia cenderung dingin. Dan menurut pengalaman Ino saat bersama Gaara. Itu adalah senyuman tulus dari pria itu.
"Namanya Hikari ya? Kau memberinya nama yang bagus."
"Tentu saja. Namanya adalah Yamanaka Hikari. Ya-ma-na-ka."
"Dia sangat cantik. Sepertimu." Gaara menatap Ino tepat dimana. Entah kenapa Ino melihat kesedihan dimata pria itu.
"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?"
"Terimakasih, karena kau tidak melakukan permintaan bodohku dulu. Terimakasih, karena sudah mempertahankan kandunganmu. Mempertahankan Hikari. Terimakasih banyak."
"Kalau kau berpikir kau bisa mengambil Hikari dariku, jangan harap. Sudah kubilang kan? Dia itu anakku."
"Kalau saja waktu bisa di ulang kembali. Aku berharap bisa bersama kalian."
"Tch! Waktu kau bilang? Seandainya waktu memang bisa di ulang, aku berharap tidak pernah bertemu dengan laki-laki brengsek dan tidak bertanggung jawab sepertimu. Mulai sekarang, jangan pernah usik aku dan anakku lagi! Kau mengerti?!" Ino berdiri dan meninggalkan Gaara. Tanpa sempat melihat mata berkaca pria itu.
.
.
.
Ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi, seperti yang sudah mereka janjikan Hikari berniat menunggu Itachi di tempat parkir. Ternyata senseinya itu sudah ada disana. Seperti halnya tadi pagi, Itachi membukakan pintu untuk Hikari masuk. Perhatian kecil yang membuat hatinya hangat. Keduanya pulang ke rumah Itachi dan di sambut hangat oleh Mikoto dan Daisuke. Balita itu sepertinya sudah merasa cocok dengan Hikari. Anak itu ingin bersama Hikari, namun Itachi malah menggendongnya.
"Kau bawa baju ganti kan? Ayo, nenek antar ke kamar tamu." Hikari mengangguk.
"Oh iya ibu, boleh tolong potongkan sedikit poni Hikari? Ibu ahlinya kan?"
"Tentu saja! Nanti nenek rapikan ya. Ayo..."
Setelah selesai berganti baju, mereka makan siang bersama. Hikari sempat merasa takut saat menyadari bahwa ia juga berada di rumah Kepala Sekolah mereka. Secara, ia adalah murid yang terkenal nakal. Yah, walaupun sudah banyak berkurang akhir-akhir ini. Namun ternyata Uchiha Fugaku juga menyambutnya dengan hangat. Walaupun tidak sekentara Mikoto, pria paruh baya itu menyempatkan untuk mengusap kepalanya lembut dan mengambilkan lauk untuknya saat makan siang. Tak lupa pria itu meminta Hikari untuk memanggilnya kakek alih-alih Uchiha-sama seperti biasanya.
Waktu bersama keluarga Uchiha berlalu dengan sangat cepat. Mikoto membantunya merapikan poninya dan juga mengepang rambutnya cantik. Itachi juga membantunya mengerjakan PR yang walaupun tanpa di bantu ia juga sudah menguasainya. Ia sangat bahagia di rumah ini. Ia juga senang bermain dengan Daisuke yang pintar dan cepat tanggap. Matahari sudah tenggelam, ia hanya perlu menunggu ibunya menjemputnya dan pulang. Ia sempat mendengar Itachi-sensei menelepon ibunya mengatakan kalau ia akan mengantar Hikari, namun ibunya menolak dan bersikeras untuk menjemputnya. Kemudian Itachi memberitahu lamat rumahnya. Ibunya memang tipe orang yang tida ingin merepotkan orang lain.
Saat ini Hikari sedang di ruang TV keluarga Uchiha bersama Daisuke. Fugaku juga disana sambil membaca bukunya. Mikoto sedang memasak makan malam bersama pelayan rumah itu. Sementara itu, Itachi sedang berada dikamarnya untuk mandi. Suara mobil yang familiar membuat Hikari bangkit bersama Daisuke untuk menyambut ibunya itu. Mikoto juga keluar bersama dengan mereka. Ino memberi salam dan masuk berdasarkan instruksi Mikoto.
Mereka sedang berjalan ke ruang TV ketika lampu yang berada diruangan itu mati. Fugaku beranjak dari sana untuk mengambil tangga lipat dari gudang. Tak lupa ia mematikan saklar lampu itu ketika melewatinya. Ia kembali dengan membawa sebuah tangga di tangan kanan dan sebuah lampu baru di tangan kiri. Pria itu membuka lipatan tangga dan meletakkannya di bawah lampu yang rusak itu.
"Sepertinya kita harus menunggu Itachi," ucapnya.
"Benar, anata. Jangan coba-coba naik dan memasang lampunya ya." Mikoto menambahkan. Faktor usia membuat Fugaku tidak bisa melakukan hal yang sebelumnya bisa di lakukannya.
"Kalau begitu, kita keruang tamu saja."
"Biar aku saja." Ino langsung menaiki tangga hingga paling atas. Fugaku dan Mikoto tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Ino, jangan. Berbahaya!" sorak Mikoto.
"Tenang saja Bibi, aku sudah biasa. Saklarnya sudah dimatikan kan?"
"Ya," Fugaku menjawab sambil mengangguk. Ino dengan sigap melepaskan lampu itu dan memberikannya pada Fugaku dan menerima yang baru kemudian memasangnya kembali.
"Silahkan di coba." Ino turun dengan selamat sementara Mikoto menyalakan kembali saklar lampu. Berhasil! Ruangan itu kembali terang.
"Wow. Sepertinya kau bukan wanita biasa. Senang bertemu denganmu, Ino. Aku Fugaku, ayah Itachi." Fugaku mengulurkan tangannya dan Ino menyambutnya.
"Senang bertemu dengan anda, Uchiha-sama."
"Kau memanggil istriku, bibi dan aku dengan Uchiha-sama?"
"Err, baiklah paman."
"Itu lebih baik."
Ino langsung pamit pulang, walaupun Mikoto sudah memintanya untuk pulang sehabis makan malam. Ino tidak ingin merepotkan keluarga itu lebih jauh. Meskipun begitu, Mikoto tetap bersikeras untuk membungkus beberapa makanan untuk mereka bawa pulang.
Ino baru saja akan menyalakan mobilnya ketika Itachi muncul di samping mobilnya. Pria itu baru selesai dari mandinya. Terlihat dari handuk kecil yang masih dipegangnya. Wangi sabun menguar dari pria itu.
"Ibu bilang kau tidak mau makan malam."
"Aku sudah banyak merepotkan kalian."
"Besok aku akan menjemput kalian. Kau dan Hikari. Jadi, jangan bawa mobil ke kantor lagi, oke?"
"Tidak bisa, Itachi. Aku harus tetap membawa mobil karena aku terkadang harus ke lapangan ataupun menemui klienku."
"Begitu? Baiklah, aku akan tetap mengantar jemput Hikari. Aku tidak menerima penolakan karena aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Hati-hati menyetir ya." Itachi melambai pada Hikari.
.
.
.
Ino sedang mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Ia sendirian karena Hikari kembali masuk ke rumah karena merasa meninggalkan buku PR nya. Ternyata Itachi juga sudah menunggu di depan gedung. Melihat mobil Ino berhenti di belakang mobilya, Itachi menghampiri mobil wanita itu.
"Selamat pagi,"
"Pagi. Itachi, kau benar-benar tidak perlu melakukan ini."
"Aku sudah bilang kalau aku tidak merasa di repotkan kan?"
"Kau membuatku berhutang banyak padamu."
"Aku memang ingin membuatmu merasa berhutang."
"Hng?" Ino mengernyit heran.
"Karena kau merasa berhutang, maka kau harus membayarnya kan?"
"Maksudmu aku har—"
"Bayarannya..." Itachi mendekatkan wajahnya.
"Berkencan denganku akhir minggu ini?
.
.
.
.
A/N :
Yuhuuuu...
Balik lagi dengan chapter 5 disini...!
Kita balas review dulu ya..
Adyahayutiara : makasih udah semangatin aku. Udah up nih.. hehe
Yumehara : udah lanjut nih say. Masih re-read Sensei You Must Be My Mom ya? Makasih banget loh. Koq aku jadi kangen fict itu juga ya?
Yuu-na-chaen : makasih sayang. Ini udah up ya..
Zao-bhovi : aku yang terharu karena kamu masih nungguin walaupun udah sekian lama. Makasih banget... ini udah up ya say...
Maria Yeremia Watzon : thankyou juga karena masih setia menunggu... huhuhu. Sudah up ya. Aduh naman kamu bagus banget btw...
Kyudo YI : Makasih udah review ya. Aku juga ga sabar nih buat mempertemukan mereka. Ini udah up ya. Untuk hubungan Ita-Ino sabar ya. Chapter depan kayaknya akan lebih banyak interaksi mereka.
Gek anna87 : Waah, kamu paham banget ya, anak sma kan memang rada labil dan takut gitu. Kamu mengerti Gaara banget deh...
Dawnielle : Jangan siksa Gaara? Ga janji ya. Hehehe
Us793 : udah up say...
Rizumo Hitoyara : Udah up ya...
Azure : Sudah up ya. Semoga rasa penasaran kamu terjawab disini. Kalau ga terjawab, mungkin chapter depan. Hehehe.
Azzura Yamanaka : Wah kamu dari klan Yamanaka ya? Siapanya Ino? Hehe Silahkan maki saya cin... Aakn aku terima dengan lapang paha, eh dada. Hehe. Makasih ya masih mau singgah. Ini sudah update, semoga suka ya.
Cherrymomo : Sudah up ya say...
Fushimi Yuuna : Sudah update ya, semoga suka...
