Sensei! You Must be My Dad!
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T semi M
Warning: Semua OOC tanpa terkecuali, abal, mainstream? Wajib. EYD? Sempurna kegagalannya.
Uchiha Itachi Yamanaka Ino
Sum:
Yamanaka Ino dan Yamanaka Hikari. Ibu dan anak yang membuat Uchiha Itachi, guru baru di Konoha Junior High School pusing setengah mati.
.
.
.
Chapter6
.
.
.
"Berkencan denganku akhir minggu ini?"
Ino cukup terkejut dengan pertanyaan Itachi. Pria itu memang dengan jelas mengungkapkan perasaannya tempo hari. Dan sejak saat itu Itachi dengan terang-terangan menunjukkan usahanya untuk mendekati Ino. Pria itu baik, sangat baik. Begitu juga dengan keluarganya yang sangat baik padanya dan Hikari. Namun dalam hati, Ino merasa bahwa ini salah. Bila pria itu benar-benar menyukainya maka pria itu telah melakukan kesalahan. Ino bukanlah wanita yang pantas untuk Itachi. Pria itu dan segala kebaikannya bisa mendapatkan yang lebih baik dari Ino.
"Maaf. Tapi aku tidak bisa." Itachi mengerutkan dahinya.
"Kenapa?"
"Itu karena... Karena akhir minggu ini, aku ada pertemuan dengan klienku."
"Dihari libur?"
"Ya, karena sepertinya klienku tidak punya waktu di hari lain. Jadi... jadi..." Ino tidak pernah berbohong dan memang tidak menyukainya. Tapi ia merasa harus melakukannya kali ini.
"Aku mengerti. Tapi, Hikari tetap akan bermain di rumah kami. Bagaimana?"
"Ya, baiklah."
Itachi tersenyum. Hikari muncul tak lama kemudian. Gadis itu langsung berpamitan pada ibunya dan masuk ke mobil Itachi. Mobil keduanya pun berjalan dan berpisah di perempatan.
.
.
.
Hikari saat ini sedang menunggu bis yang akan membawanya ke dojo. Itachi sedang ada urusan dengan adiknya yang tak lain adalah ayah dari Daisuke sehingga tidak bisa mengantarnya. Sebenarnya, Itachi berniat mengantarnya namun Hikari menolak. Ia tidak ingin Itachi terlambat menemui adiknya. Ia sudah cukup banyak merepotkan Itachi dan selama ini ia sudah biasa naik bis menuju dojo Hyuuga. Halte cukup ramai, sudah pasti karena memang sedang jam pulang sekolah. Pandangan Hikari entah kenapa teralih pada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari halte. Mobil sedan hitam itu tampak familiar, Hikari yakin ia juga melihat mobil yang sama pagi tadi di dekat gerbang sekolahnya. Ia yakin itu mobil yang sama. Karena sangat jarang ada mobil yang hanya punya satu angka di platnya.
Bis yang ditunggu datang. Hikari langsung naik bersama dengan penumpang lainnya. Sesampainya di halte dekat dojo, Hikari turun dan berjalan menuju rumah tradisional keluarga Hyuuga itu. Latihan berjalan cukup keras dari biasanya. Entah kenapa Hikari meraca cepat lelah hari ini. Ia segera mengambil tasnya dan berpamitan pada Neji-sensei yang sedang bercaka-cakap dengan pelatih lain di sudut arena latihan.
"Aku pulang dulu, sensei."
"Hati-hati. Apa kau sakit? Kau terlihat pucat hari ini. Tidak biasanya."
Hikari hanya menggeleng kemudian membungkukkan badannya dan beranjak dari sana. Keluar dari gerbang, Hikari kembali melihat mobil yang sama. Terparkir bersama dengan beberapa mobil para penjemput. Meskipun sedikit heran karena mobil itu ada disana, ia tetap melanjutkan langkahnya. Seperti biasanya, Hikari lebih memilih berjalan kaki menuju rumah mereka. Namun merasa sebuah mobil mengikutinya dan mobil itu tak lain adalah sedan hitam berplat satu angka itu. Berbagai pikiran muncul di kepalanya. Ibunya memang pernah menasehati untuk berhati-hati pada orang asing dan juga tentang kasus penculikan anak yang pernah terjadi. Tapi itu sudah lama sekali dan ia pun sudah bukan anak kecil lagi. Ia bahkan sudah bisa menumbangkan lima orang dewasa sekaligus.
Hikari berhenti dan ia juga merasakan mobil di belakangnya berhenti. Karena tidak sabaran, ia pun berbalik dan mendekati mobil itu. Ia mengetuk pintu kemudia yang dilapisi kaca film sehingga tidak terlihat dari luar. Kaca itu turun setengah dan menunjukkan sosok yang tampak familiar. Ia mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu pria berambut merah itu, namun tidak bisa.
"Apa anda mengikuti saya, tuan?"
.
.
.
Itachi baru saja memarkirkan mobilnya di salah satu restoran tradisonal Jepang. Adiknya Sasuke, mengajaknya makan siang dan sepertinya bukan hanya sekedar makan siang karena memang sudah menjelang sore, selain itu Sasuke selalu memintanya bertemu apabila ada investor atau penanam saham baru dan butuh pertimbangannya. Entah kenapa harus dengan pertimbangannya karena Sasuke sudah cukup kompeten di posisinya saat ini. Itachi masuk keruangan yang sebelumnya sudah di pesan oleh Sasuke. Pria itu sudah ada disana.
"Kau terlambat nii-san."
"Kau tahu jam pulang sekolah kan."
"Ya, tapi kau ada di posisi bisa pergi nahkan sebelum jam pulang sekolah."
Itachi mengedikkan bahu.
"Jadi akan ada kerjasama dengan siapa kali ini?" Itachi mengambil sumpit dan mulai makan.
"Ibu bilang kau sedang dekat dengan seseorang." Itachi berhenti mengunyah. Sudah pasti ibunya menceritakan hal ini pada Hinata dan kemudian berlanjut dengan Hinata menceritakannya pada sang suami.
"Aku kira kita akan membahas pekerjaan disini, bukannya malah membahas Ino." Itachi melanjutkan acara makannya.
"Jadi namanya Ino. Aku kira kau sudah mati rasa dengan perempuan. Ternyata ada gadis yang mau denganmu. Aku jadi penasaran, gadis seperti apa dia?"
Itachi tertawa dan meletakkan sumpitnya. Ia kemudian meminum teh hangat yang sudah di sediakan.
"Ibu yang cerita?" tanya Itachi. Sasuke menggeleng. "Hinata."
"Sepertinya ibu belum menceritakan semuanya ya."
"Maksudmu?"
"Dia seorang ibu tunggal." Sasuke yang berwajah cool saja tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya.
"Maksudmu... janda?" Sasuke membentuk tangannya menjadi tanda kutip.
"Dia tidak pernah menikah kalau kau menyebutnya begitu. Tapi dia hamil saat SMA. Kau tahu,terkadang ada hal-hal tidak terduga terjadi dalam hidup ini." Sasuke mengangguk.
"Dan satu lagi," tambah Itachi. "Dia belum mau denganku. Sepertinya cukup sulit mendapatkannya."
"Pppft!" Sasuke menahan tawanya. Itachi memberikan deathglarenya.
"Tapi jujur aku penasaran dengannya. Wanita mana yang tidak mau pada seorang Uchiha Itachi yang bahkan pernah menolak model cantik London? Ckckck. Kau harus lebih berusaha nii-san. Senang melihatmu uring-uringan seperti ini."
"Hn. Bukannya kita akan membahas pekerjaan?" Itachi mengulang pertanyaannya. Kalau tidak malah akan memancing ejekan lainnya dari adik sialannya ini. Tentu saja ia jadi teringat dengan ajakan kencannya yang di tolak Ino pagi tadi. Meskipun ia sudah dengan jelas menyatakan perasaannya, entah kenapa wanita itu terkesan menolak usaha pendekatan yang ia lakukan. Sasuke benar, sepertinya ia harus lebih berusaha.
"Hatake Grup mengajak kita untuk bekerja sama dengan mereka untuk membuka sebuah resort baru di Kyoto. Kau tahu pemerintah sedang mengembangkan kota kecil itu untuk objek pariwisata kan?"
Itachi mengangguk. "Berapa pembagiannya? Hanya kita dan Hatake atau ada investor lain?"
"Hanya kita dan Hatake. Jadi setengah setengah. Kakashi sudah mengirimkan desain resortnya pagi tadi. Aku cukup tertarik. Bagaimana menurutmu?"
"Jangan hanya tertarik saja. Pikirkan prospek kedepannya. Bisa ku lihat desainnya? Kita harus menimbang apakah ada nilai plus dari desain pilihan Hatake. Karena pastinya bukan hanya kita yang akan membuat resort disaat kota itu sedang menjadi sasaran objek wisata oleh pemerintah. Pasti banyak yang akan mengambil peluang itu bukan?"
Sasuke kemudian mengambil laptop yang sudah di siapkan sebelumnya. Itachi terlihat serius melihatnya.
"Desainnya bagus. Aku suka desain kolam di atas pantai ini. Pemakaian dominan kayu ini sangat bagus. Bisa jadi nilai plus yang bagus untuk di masukkan didalam iklan pemasarannya nanti. Untuk desain resortnya, aku setuju. Aku harap kalian juga memikirkan pelayanan yang akan di terapkan nantinya. Kalau bisa aku sarankan untuk merekrut pegawai lokal disana."
Sasuke mengangguk. Itulah mengapa ia selalu membutuhkan sang kakak dalam hal-hal seperti ini. Itachi itu bukan hanya sekedar pintar. Pertimbangannya selalu tepat.
"Aku akan membicarakannya dengan Kakashi. Dia yang bertanggung jawab untuk itu. Kita di minta untuk mengawasi proses pembangunannya."
Itachi kembali melihat desain tiga dimensi itu. Senyumannya tertarik melihat nama di sudut kanan bawah.
"Ada apa dengan senyuman itu?"
"Boleh aku ambil bagian untuk proyek kali ini?"
"Tentu saja boleh. Tapi... kenapa tiba-tiba? Selama ini kau selalu menolak bila kuminta untuk ikut."
"Kau bilang aku harus lebih berusaha kan?" Itachi mengembalikan laptopnya pada Sasuke. Sasuke menerimanya dan mencoba melihat apa penyebab senyum kakaknya itu. Dan dia menemukannya dalam waktu sepuluh detik.
"Dia seorang arsitek?"
Itachi mengangguk.
"Ternyata dia memang bukan wanita sembarangan. Aku akan membantumu."
.
.
.
Tidak ada yang bisa Gaara lakukan selain melihat putrinya dari jauh. Seperti penguntit? Biarlah. Setidaknya ini yang bisa dilakukannya. Ino sudah dengan jelas memintanya untuk tidak mengganggu kehidupan mereka. Ino benar, ia tidak punya hak untuk menemui Hikari setelah apa yang sudah dilakukannya dimasa lalu. Ia adalah pria yang jahat dan ia harus menerima hukumannya. Gaara sudah ada di sekolah putirnya pagi tadi. Namun ia tidak menemukan putrinya ataupun Ino yang kata Baki selalu mengantar Hikari ke sekolah. Benar, Gaara meminta sekertarisnya itu untuk mencari tahu semua tentang Hikari.
Karena tidak menemukan putrinya di pagi hari, Gaara kembali ke sekolah itu disiang hari. Berharap ia bisa melihat putrinya. Mungkin saja pagi tadi putrinya sudah datang sebelum Gaara tiba disana. Gaara melihatnya! Putrinya berjalan keluar dari gerbang sekolah dan berjalan menuju halte bus. Hatinya berdebar kencang karena senang. Senyumnya tertarik tanpa di sadari. Pria itu kemudian menjalankan mobilnya dan berhenti di dekat halte. Hikari terlihat menaiki bis besar itu dan berhenti di sebuah halte lain. Gaara kembali mengikuti. Hikari terlihat memasuki sebuah gerbang besar yang bertuliskan Hyuuga. Entah kenapa ini tidak ada di laporan Baki. Gaara penasaran apa yang di lakukan putrinya di rumah yang terlihat sangat kuno itu.
Gaara kemudian mengerti begitu melihat beberapa mobil datang dan menurunkan beberapa anak yang menggunakan seragam judo. Hikari ternyata berlatih bela diri di tempat ini. Entah kenapa ada rasa bangga dalam dirinya mengetahui hal itu. Ino membuat keputusan yang tepat. Putrinya harus kuat, karena banyak lelaki brengsek belakangan ini. Seperti dirinya.
Jam menunjukkan pukul lima sore saat Hikari terlihat keluar dari gerbang dengan seragam judonya. Putrinya tampak cantik dengan seragam itu. Gaara kembali mengikuti langkah putrinya yang ternyata berjalan kaki. Hikari di trotoar, sedangkan dirinya di pinggiran jalan raya. Hikari menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Gaara. Panik menyerangnya begitu melihat Hikari berbalik dan menghampirinya. Gadis itu mengetuk kaca mobilnya. Tidak ada pilihan lain selain menurunkan kaca tersebut. Melihat wajah putrinya dari dekat membuat panik Gaara hilang dan berganti dengan rasa haru. Entah kenapa ia merasakan matanya memanas.
"Apa anda mengikuti saya, tuan?"
Akhirnya ia bisa mendengar suara putrinya dengan jelas. Entah kenapa ia merasakan matanya memanas saat menatap mata jade serupa miliknya itu dari jarak dekat.
"Tuan? Kenapa anda malah menangis?"
"Ah.. Itu... Aku hanya..." Gaara buru-buru mengusap air matanya yang entah sejak kapan jatuh.
"Aku melihat mobil anda pagi tadi, siang juga dan sekarang... disini. Anda mau menculikku ya?"
Gaara tidak bisa menahan senyumnya kali ini. Anak ini sangat mirip dengan Ino. Baik dari wajah dan sifatnya.
"Tidak. Kau hanya... mirip dengan seseorang yang ku kenal."
"Seseorang yang anda kenal?" Dahi Hikari berkerut.
"Ya, seseorang... yang sangat aku cintai."
"Yang sangat anda cintai?"
"Putriku."
"Oooh. Tetap saja aneh karena anda mengikuti saya seharian ini."
"Maaf kalau itu mengganggumu. Pulanglah. Aku akan pergi sekarang."
Hikari mengangguk. Ia berbalik dan kembali berjalan. Namun setelah beberapa langkah, ia berbalik dan kembali menghampiri Gaara.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, tuan? Sepertinya aku pernah melihat anda."
Hikari mendapati dirinya sudah bertanya terlalu jauh pada seseorang yang baru di temuinya. Tapi sepertinya pria ini orang baik dan ia merasa yakin pernah bertemu dengannya. Ditambah lagi ada getaran asing yang hangat di dalam dadanya saat melihat pria itu.
"Memang pernah. Di restoran mall, beberapa hari yang lalu."
"Aaaa! Benarkan? Aku yakin sekali pernah bertemu. Ternyata paman teman ibu yang di mall waktu itu."
"Paman?" Gaara berguman pelan.
"Baiklah, aku pulang dulu paman. Hati-hati." Hikari melambai dengan senyum di wajahnya, gadis itu kemudian benar-benar pergi. Meninggalkan Gaara dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Putriku,"
.
.
.
"Tapi kenapa kita harus terjun langsung ke lapangan? Shino dan timnya sudah cukup kan?" Ino mengerucutkan bibirnya saat ini. Mereka tengah meeting dadakan yang diadakan Shikamaru setelah jam kerja berakhir. Untung saja Ino sudah mengirimkan pesan pada Hikari bahwa dirinya pulang terlambat karena lembur. Proyek baru Ino dengan Hatake Grup sudah rampung. Mereka sedang membahas Hatake Grup yang tiba-tiba meminta mereka untuk megawasi pembangun resort baru mereka di Kyoto.
"Ini proyek besar, Ino. Mereka ingin kita mengawasi langsung proses pembangunannya." Chouji berujar sambil memakan keripik kentangnya.
"Tapi kenapa aku yang pergi? Kalian tahu kondisi ku kan?"
"Ini desain milikmu. Kau yang tahu detailnya. Tentu saja kau yang harus pergi." Shikamaru menyahut malas-malasan.
"Kenapa Hatake Grup tidak meminta hal yang sama waktu Kiba yang pegang proyek mereka sebelumnya? Kiba tidak ikut langsung waktu itu kan?"
"Mungkin kali ini mereka mau di awasi langsung." Kiba menyahut sambil meminum kopinya.
"Bagaimana dengan putriku? Aku tidak mungkin meninggalkannya kan?"
"Kau tidak akan berada disana terus selama proses pembangunannya. Mungkin hanya beberapa hari pertama, kemudian beberapa hari di pertengahan, dan beberapa hari lagi di proses penyelesaiannya. Kalau harus di sana terus mungkin kau harus sekalian pindah kesana. Pembangunnya kan memakan waktu lama." Kalimat terpanjang yang keluar dari mulut malas Shikamaru.
"Kau bisa sekalian mengunjungi paman kan?" lanjut Kiba.
"Yang jadi masalah adalah putriku. Aku tidak mungkin meninggalkannya beberapa hari pertama, kemudian beberapa hari di pertengahan, dan beberapa hari lagi di proses penyelesaiannya kan?"
"Dia bisa tinggal di rumahku. Ibuku pasti akan senang sekali." Chouji memberi saran.
"Terimakasih Chouji, tapi aku tidak mau saat aku pulang nanti putriku jadi mirip denganmu."
Ino trauma berkunjung kerumah Chouji. Ibunya sangat baik. Saking baiknya, mereka di paksa makan makanan yang di sediakan dengan porsi luar biasa. Saat Ino bilang dipaksa, mereka benar-benar dipaksa. Ino jadi ngeri membayangkannya.
"Tidak mungkin di tempatku kan?" Kiba meringis. Tentu saja tidak mungkin, Kiba itu tinggal sendirian. Mengurus dirinya sendiri saja laki-laki bodoh itu tidak bisa.
"Di tempatku boleh saja." Shikamaru memberikan solusi.
"Dan putriku akan terlambat ke sekolah setiap hari. Tidak, terimakasih."
"Kalau dia ikut tidak mungkin ya. Sekolahnya bagaimana?" Kiba tampak berpikir keras.
"Masih ada dua minggu lagi sebelum kau berangkat. Kita bisa memikirkan masalah itu nanti. Intinya, tetap kau yang pergi. Rapat selesai." Shikamaru mengakhiri kalimatnya dengan nada final. Mereka pun kembali ke meja masing-masing dan membereskannya untuk kemudian pulang.
Ino masih memikirkan rapat tadi meskipun kini ia tengah menyetir di tengah jalanan yang lengang. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat itu. Hikari mungkin sudah tidur saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan Hikari untuk beberapa hari. Selama ini ia tidak pernah pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, karena memang tidak pernah ada klien yang meminta ia untuk terjun langsung. Desain sketsa dan tiga dimensi buatannya biasanya sudah cukup. Ditambah lagi tim yang akan melakukan pembangunan adalah Shino yang sudah paham dengan desainnya. Tapi kenapa kali ini ia harus terjun langsung.
Sesampainya di rumah, Ino langsung berjalan menuju kamar Hikari. Putrinya terlihat sudah terlelap dengan damai. Mengecup kilat dahi putrinya itu, Ino beranjak dari sana menuju kamarnya sendiri. Ino langsung mandi dan memakai dress tidurnya. Baru saja akan memejamkan matanya, ponsel Ino yang ternyata masih berada di dalam tasnya berdering. Itachi meneleponnya.
"Ya, Itachi?" Ino menyahut dengan suara lelahnya.
"Kau masih lembur?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Tadi aku menelepon Hikari memastikan ia sudah sampai dirumah atau belum. Soalnya aku tadi tidak bisa mengantarnya latihan. Dia bilang kau lembur."
"Oh. Aku baru saja sampai dirumah."
"Syukurlah. Kalau kau belum pulang, mungkin aku akan kesana menemani Hikari."
"Tidak perlu sampai seperti itu. Dia bukan anak penakut asal kau tahu."
"Tapi tetap saja, dia itu anak perempuan."
Ino tertawa pelan.
"Kenapa kau tertawa?"
"Tidak ada apa-apa."
Diam menemani sampai Ino memanggil nama Itachi pelan.
"Itachi."
"Hn?"
"Mulai besok, tidak usah menjemput Hikari lagi ya,"
"Kalau kau merasa merepotkan aku, jawabannya adalah aku benar-benar tidak merasa direpotkan."
"Tapi, Itachi..."
"Tidak ada tapi, Ino. Aku akan tetap menjemputnya seperti biasa. Tidurlah, kau terdengar lelah sekali."
Ino menghela nafas panjang.
"Baiklah."
"Ino..."
"Ya?"
"Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Semua yang sudah aku katakan padamu, semua yang sudah aku lakukan sejauh ini... aku bersungguh-sungguh."
"Itachi, aku—"
"Selamat malam, Ino."
Itachi memutuskan sambungan teleponnya. Ino menghela nafas panjang lagi. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan semua yang sudah Itachi katakan. Apakah ia pantas menerima kesungguhan pria itu?
.
.
.
Seperti biasanya Ino memasak sarapan simpel dan cepat buatannya pagi ini. Ino membuat omurice sederhana untuk sarapan mereka. Hikari susah selesai dengan persiapannya saat gadis itu masuk ke dapur yang merangkap sebagai ruang makan itu.
"Selamat pagi, Ibu." Sapa Hikari sambil duduk di bangkunya.
"Pagi sayang. Makanlah." Ino meletakkan sepiring omurice di depan Hikari. Anak itu langsung memakannya dengan lahap. Ino sendiri mendudukkan dirinya di depan Hikari dan ikut memakan sarapannya.
"Kemarin aku bertemu dengan teman ibu." Ino mengerutkan alisnya.
"Siapa?" Ino tidak punya banyak teman di kota ini. Apalagi yang mengenal Hikari. Hanya rekan sekantornya dan sekarang keluarga Itachi.
"Paman yang bertemu dengan Ibu di mall tempo hari. Saat kita ke game center. Paman berambut merah yang— "
"Uhuk-uhuk!" Ino tersedak oleh teh hangat yang tadi dibuatnya. Hikari otomatis menarik beberapa tisu dan memberikannya pada sang ibu.
"Ibu tidak apa-apa?"
"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?" Hikari terkejut melihat perubahan ekspresi dan juga nada bicara ibunya.
"Paman itu sepertinya mengikutiku. Aku melihat mobilnya di gerbang sekolah, kemudian halte bis, kemudian di dojo."
"Apa dia bilang sesuatu?" Ino bertanya dengan nada hati-hati.
"Dia hanya bilang kalau aku mirip dengan... putrinya." Hikari mendapati wajah ibunya berubah menjadi pucat.
"Kita berangkat sekarang ya. Ibu ambil tas ibu dulu."
"Baik, bu."
Hikari merasa ada yang salah dengan ibunya. Namun ia tidak mengerti. Ibunya keluar dari kamar dengan membawa tas kerjanya. Mereka turun ke parkiran seperti biasa. Itachi juga sudah menunggu di depan gedung. Hikari menyapa Itachi dan masuk ke mobil senseinya itu. Sementara Ino masih di dalam mobil dengan berbagai pikiran di kepalanya. Itachi menyadarinya.
"Tunggu disini sebentar ya," Hikari mengangguk. Itachi pun berjalan ke mobil Ino kemudian masuk dan mendudukkan dirinya dibangku penumpang. Ino bahkan tidak menyadarinya.
"Kau tidak apa-apa?" Ino tersentak mendengar suara Itachi di sampingnya.
"A-aku tidak apa-apa."
"Kau jelas tidak baik-baik saja. Ini masih pagi dan keringat sudah muncul di dahimu." Itachi menarik sebuah tisu di dashboard mobil Ino dan mengusap kening Ino sampai ke dahi.
"Terimakasih, aku bisa sendiri." Ino mengambil alih tisu di tangan Itachi.
"Kau pucat. Benar kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya karena aku belum memakai lipstick." Ino tersenyum mencoba meyakinkan. Ino kemudian membongkar tasnya untuk mencari benda yang bisa membuat pucat di wajahnya hilang. Ino tidak menyadari tangannya yang gemetar tertangkap oleh mata hitam Itachi.
"Ino." Itachi menggenggam tangan bergetar Ino dengan tangan kanannya. Kemudian dengan tangan kirinya merengkuh Ino kedalam pelukannya. Menyandarkan wanita itu kedadanya.
"Kau tahu, aku lebih suka kau menunjukkan sisi lemahmu, sisi lelahmu, sisi dimana kau membutuhkan orang lain untuk bersandar, untuk menghiburmu dan untuk menguatkanmu. Jangan selalu memendamnya sendiri." Itachi melepaskan pelukannya dan menatap Ino dalam.
"Aku tahu kau kuat. Kau memang wanita terkuat yang pernah ku temui. Tapi... tidak ada salahnya membagi bebanmu kan?"
"Terimakasih, Itachi."
"Kau bisa menyetir? Aku akan mengantarmu kalau memang—"
"Aku bisa. Terimakasih."
Keduanya tersenyum.
.
.
.
Ino sudah mengirimkan pesan pada Hikari bahwa ia akan menjemput putrinya itu siang ini. Ino memang sedang tidak banyak pekerjaan mengingat ia baru saja menyelesaikan desain dari pihak Hatake. Jadi ia bisa izin sebentar untuk menjemput Hikari dan kemudian kembali lagi ke kantor setelahnya. Selain itu, ada hal yang harus dia pastikan.
Ino memarkirkan mobilnya di dekat gerbang. Ada beberapa mobil para orangtua yang juga pastinya menjemput anak-anak mereka. Hingga Ino melihatnya. Ino melihat pria itu. Masih didalam mobil namun dengan kaca yang terbuka. Tidak salah lagi, Gaara memang mengikuti Hikari. Ino keluar dari dalam mobil dan mendatangi mobil Gaara. Gaara yang juga menyadarinya ikut keluar dari mobil.
"Apa maksud ini semua? Kenapa kau mengikutinya?" Ino bertanya dengan emosi yang sudah di tahannya.
"Ino, aku hanya ingin menemui putriku."
"Dia putriku. Berapa kali aku harus mengatakannya!?"
"Aku tahu. Aku sudah melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan kalian. Tapi kumohon, izinkan aku untuk sekedar menemuinya."
"Tch. Aku harap ini terakhir kalinya aku melihatmu. Sekarang pergi dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku ataupun Hikari. Kau mengerti?"
"Tapi aku ayahnya, Ino!" Gaara menaikkan suaranya.
"Ayah tidak bertanggung yang sudah meninggalkannya! Dengan tidak malunya sekarang kau mengaku sebagai ayahnya?!" Suara Ino tidak kalah kencang membalas perkataan Gaara.
Untung saja Gaara memarkir mobilnya sedikit jauh dari gerbang sehingga orang-orang tidak terlalu memperhatikannya.
"A-ayah?" Ino berbalik dan terkejut mendapati Hikari ada di belakangnya. Mereka tidak menyadari bahwa bel pulang sekolah sudar berdering selagi mereka berdebat. Itachi juga ada disana. Raut kaget juga tampak di wajah pria itu.
"Sensei... Itachi-sensei, apa maksudnya... paman ini... paman ini ayahku?"
Itachi tidak bisa menjawab. Tapi dengan sekali lihat, Itachi bisa menyimpulkan bahwa mata pria itu serupa dengan milik Hikari.
"Hikari, kita pulang sekarang ya." Ino meraih tangan putrinya itu, namun Hikari menolaknya. Tangan gadis itu beralih menggenggam erat tangan Itachi yang ada di sampingnya.
"Paman ini benar-benar ayahku, Ibu?" Ino tidak bisa menjawabnya. Air matanya kini mengalir deras.
"Ibu, aku mohon jawab."
"D-dia... dia memang ayahmu. Tapi... tapi..."
"Wah. Akhirnya aku bertemu dengan ayahku." Hikari tersenyum. Ia melepaskan tangan Itachi dan berjalan ke arah Gaara. Pria itu terpaku saat melihat Hikari datang ke arahnya.
"Senang bertemu denganmu... ayah."
"H-hikari," Gaara sangat gugup bahkan untuk memanggil nama putrinya. Ia sungguh tidak bisa membaca ekspresi gadis itu.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi ada satu hal yang sangat ingin kulakukan sejak dulu bila bertemu denganmu."
BUGH!
Secepat kilat Hikari menarik kerah kemeja Gaara dan melayangkan satu pukulan di wajah pria itu.
.
.
.
TBC
A/N :
Kembali lagi dengan chapter 6 di sini teman-teman...
Ada yang nungguin ga? Ga ada ya? Hehehe
Selamat menikmati ya. Mungkin aku ga bisa balas review satu-satu kali ini. Tapi review kalian itu semangat aku. Jadi terimakasih banyak ya teman-teman.
Mind to review?
Yana Kim ^_^
