Sensei! You Must be My Dad!
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T semi M
Warning: Semua OOC tanpa terkecuali, abal, mainstream? Wajib. EYD? Sempurna kegagalannya.
Uchiha Itachi Yamanaka Ino
Sum:
Yamanaka Ino dan Yamanaka Hikari. Ibu dan anak yang membuat Uchiha Itachi, guru baru di Konoha Junior High School pusing setengah mati.
.
.
.
Chapter7
.
.
.
Itachi dan Ino tidak bisa menahan keterkejutan mereka melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Hikari. Anak itu baru saja memukul wajah Gaara tepat dipipi bagian bawah. Ino tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Ada beberapa siswa yang tampak memperhatikan hal tersebut. Mereka mulai berbisik-bisik tentang apa yang baru saja terjadi. Hikari berbalik meninggalkan Gaara dengan bibir terluka akibat pukulannya. Gadis itu kemudian mendekati Ino dan Itachi.
"Kita pulang ya bu." Hikari menarik tangan Ino untuk beranjak dari sana. Ino menatap Gaara sebentar untuk kemudian berbalik mengikuti Hikari. Ino baru saja akan membuka pintu mobil ketika Itachi menghalanginya.
"Aku akan mengantar kalian." Pria itu membimbing Ino untuk duduk di kursi penumpang sementara Hikari masuk ke kursi belakang. Tidak ada yang membuka pembicaraan sepanjang perjalanan, bahkan setelah mereka sampai. Itachi ikut mengantarkan mereka sampai ke dalam apartmen. Hikari memilih langsung masuk ke dalam kamarnya. Itachi membiarkannya. Anak itu memang butuh waktu untuk menerima apa yang baru saja terjadi.
Ino mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu. Itachi mengikuti. Kalau Hikari mmebutuhkan waktu untuk sendiri, Itachi merasa Ino justru tidak bisa dibiarkan sendiri. Dibalik segala sikap kuat, mandiri dan beraninya, Ino tetaplah seorang wanita dan juga ibu yang lemah. Ia butuh seseorang untuk menguatkannya.
"Apa kau ingat apa yang aku katakan pagi tadi?" Itachi membuka suara. Ino mengangkat wajahnya memandang Itachi dengan wajah sendu dengan sisa air mata yang tadi sempat mengalir. Ino mengangguk kaku. Tentu saja ia mengingat apa yang pagi tadi di ucapkan Itachi dengan jelas. Itachi merentangkan kedua tangannya. Ino terdiam beberapa saat hingga kemudian ia melingkarkan tangannya ke pinggang Itachi dan memeluk pria itu. Itachi membalasnya.
"Terimakasih, Itachi. Terimakasih banyak."
"Aku selalu siap untuk menjadi sandaranmu, Ino. Aku ingin kau tahu itu."
Ino melepaskan pelukannya.
"Aku harus segera kembali ke kantor. Boleh tolong temani Hikari sebentar? Aku akan pulang secepatnya."
"Apa kau yakin akan menyetir?"
"Aku sudah baik-baik saja. Terimakasih pada seseorang." Ino tersenyum. Kali ini Itachi bisa melihat senyum Ino yang benar-benar mencapai mata. Ia bersyukur untuk itu.
"Baiklah. Hati-hati."
Sepeninggal Ino, Itachi berpikir untuk sekedar menghibur Hikari. Waktu sudah menunjukkan tiga sore dan pastinya Hikari maupun dirinya sudah melewatkan jam makan siang. Itachi baru saja ingin mengeluarkan ponselnya untuk memesan makanan ketika bel berbunyi. Seorang petugas delivery datang dengan membawa makanan yang ternyata di pesan oleh Ino. Itachi menerima dan mengangsurkan makanan itu ke piring. Kemudian pria itu berjalan menuju kamar Hikari dan mengetuk pintunya.
"Masuk saja, sensei."
Itachi membuka pintu kamar dan terlihat Hikari sedang berada dalam posisi hand stand. Gadis itu bersandar di dinding dengan kepala dan tangannya yang menjadi tumpuan di atas tempat tidur dan kaki yang bersandar pada tembok. Itachi cukup kaget, namun tentu saja untuk gadis seperti Hikari, hal itu sudah biasa.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau ini aku?" seru Itachi dari pintu.
"Kalau ibu pasti langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Ada apa sensei?"
"Ayo makan siang."
"Aku tidak lapar, sensei."
"Kau pasti lapar. Kau kan baru saja memukul orang."
Hikari mendengus. "Sensei benar juga."
Ia menjatuhkan dirinya ke kasur dan kemudian berdiri menyusul Itachi. Itachi hanya menggelengkan kepala.
Keduanya kini berada di meja makan. Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menghabiskan makanan. Hikari berinisiatif membereskan bekas makanan mereka dan mencuci piring. Itachi hanya memperhatikan dari meja makan.
"Kau seharusnya tidak memukulnya."
Hikari yang sedang menyimpan gelas terakhir yang dicucinya berbalik.
"Tidak bisa, sensei. Sudah lama aku ingin melakukannya. Aku sudah bersumpah sejak dulu."
"Tapi dia ayahmu."
"Karena dia ayahku, makanya aku melakukannya. Akhirnya aku tahu wajah orang yang sudah meninggalkan kami."
"Aku tahu apa yang kau rasakan, tapi sebagai gurumu. Aku tidak membenarkan apa yang tadi kau lakukan. Terlebih lagi dia ayahmu."
"Tidak bisakah… sensei berhenti menyebutkan kalau dia ayahku?" Itachi dapat melihat dengan jelas mata merah menahan tangis itu.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa apa yang tadi kau perbuat itu salah, sayang. Dia ayahmu, ayah kandungmu. Dia memang sudah meninggalkan kalian dan aku juga tidak membenarkan tindakannya dulu. Tapi, darahnya mengalir dalam tubuhmu dan lihat mata ini, apa kau mau membantah kalau mata ini kau dapatkan darinya? Sekali lihat saja semua orang sudah bisa tahu kalau dia adalah ayahmu."
"Sensei…"
"Menurutmu, kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu denganmu?"
"Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba saja muncul."
"Aku yakin dia menyesal dan ingin meminta maaf atas apa yang sudah di lakukannya. Dan pastinya… dia merindukan putrinya."
Hikari terdiam mendengar perkataan Itachi. Benarkah? Benarkah ayahnya merindukannya?
"Aku tahu kau sedih, kau marah, tapi—"
"Tidak bisakah… sensei yang jadi ayahku saja?" Air mata itu akhirnya jatuh. Ini merupakan kali kedua Itachi melihat sisi lemah gadis ini. Itachi mendekati Hikari dan mensejajarkan tinggi mereka dan memegang kedua sisi wajah gadis itu.
"Siapa yang tidak mau jadi ayah dari gadis hebat ini, hm?" ujar Itachi lembut.
"Jadi… sensei mau?"
"Kau sudah bertemu dengan ayahmu. Berarti…. " Itachi memberi jeda pada ucapannya. Entah kenapa Hikari merasa cemas kalau-kalau Itachi akan berhenti memberikan perhatian padanya hanya karena ia sudah bertemu dengan ayah kandunganya.
"Berarti…" Hikari bergumam tanpa sadar. Dalam hati menunggu apa yang akan senseinya itu ucapkan selanjutnya.
"Berarti… kau akan punya dua ayah mulai sekarang."
Hikari mendapati dirinya melompat memeluk pria di depannya itu. Ada rasa bahagia yang bahkan tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata begitu ia mendengar ucapan senseinya itu. Itachi membalas pelukan Hikari dan entah kenapa ia merasakan hangat di hatinya setelah mengucapkan kalimat itu. Serta haru di dadanya ketika melihat gadis di depannya ini tampak bahagia.
.
.
.
Ino pulang tepat pukul enam sore. Sesampainya dirumah, ia hanya mendapati Hikari yang tengah mengerjakan prnya di kamarnya. Ino mendekat dan mendudukkan dirinya diranjang milik putrinya itu.
"Ibu sudah pulang?" sapa Hikari. Ino terdiam cukup lama. Ia hanya menatap Hikari dalam. Anak itu terlihat serius dengan pekerjaan rumah yang ia kerjakan itu.
"Sabaku Gaara."
Gerakan tangan Hikari pada bukunya terhenti. Gadis itu berbalik menatap ibunya.
"Nama ayahmu… Sabaku Gaara."
"Ibu…"
"Ibu sebelumnya sudah bertemu dengannya. Ternyata dia adalah salah satu klien ibu. Maaf karena tidak langsung memberitahumu, padahal, kau sudah bertemu dengannya di mall waktu itu."
"Aku sudah mengetahui siapa ayahku. Rasa penasaranku selama ini sudah terjawab,bu. Jadi, ibu tidak perlu merasa bersalah karena pada dasarnya, ibu tidak salah sama sekali." Hikari memberikan senyum terbaiknya.
"Terimakasih, sayang."
"Maukah ibu tidur disini malam ini?"
"Tentu saja."
.
.
.
Satu minggu berlalu dan semuanya berjalan seperti biasa. Hikari berangkat ke sekolah bersama Itachi sementara Ino kembali bekerja. Ada beberapa proyek baru yang masuk sehingga Ino mulai di sibukkan oleh pekerjaannya sebelum ia berangkat ke Kyoto beberapa hari lagi. Mengingat masalah itu, Ino sama sekali belum mengatakannya pada Hikari. Anak itu pasti akan mengatakan kalau ia bisa sendirian, tapi tentu saja Ino tidak akan membiarkannya. Hikari memang sudah cukup mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, tetapi Ino tetap tidak bisa melakukannya.
Terlintas dibenakknya untuk menitipkan Hikari pada keluarga Itachi. Namun ia merasa tidak enak karena sudah terlalu banyak merepotkan keluarga itu. Terlebih lagi pada Itachi. Pria itu sudah terlalu banyak membantunya maupun Hikari. Entah apa yang bisa dilakukannya untuk membalas semua itu. Terpikir dibenaknya untuk mengundang Itachi makan malam di rumahnya hari ini. Meskipun Ino merasa itu belum cukup, setidaknya ia bisa membalas pria itu sedikit demi sedikit. Dengan segera, Ino mengirimkan pesan pada pria itu.
'Maukah kau makan malam bersama kami malam ini? Aku akan memasak.'
Entah kenapa Ino merasa gugup untuk sekedar mengetikkan pesan singkat. Tak butuh waktu lama untuk Itachi membalas pesan itu.
'Baiklah. Mau ku temani belanja?'
'Kau mau menemaniku belanja?' balas Ino lagi.
'Tentu saja, cantik. Kita bertemu di Supermarket A sore ini.'
Ino mendapati pipinya memerah dan ia tidak bisa menahan senyuman untuk muncul di wajahnya begitu membaca balasan Itachi.
"Pacar Uchiha mu ya?"
Kiba memandang Ino dengan tatapan menyelidik.
"Bukan urusanmu. Pergi sana!"
"Sepertinya kau tidak mau ikut kami makan siang ya? " Ternyata ketiga temannya sudah bersiap untuk keluar.
"Tunggu, aku ikut!"
.
.
.
Sementara itu di sekolah, Hikari sedang belajar bahasa Inggris yang merupakan pelajaran terakhir hari itu. Itachi telah selesai menjelaskan materi dan baru saja memberikan tugas pada para siswa. Tapi sepertinya tugas itu tidak bisa selesai hari itu, karena bel sudah berbunyi.
"Kalian boleh lanjutkan dirumah. Hari Kamis, kumpulkan pada ketua kelas ya."
"Ya, sensei."
Semua siswa membereskan perlengkapan mereka untuk segera pulang. Begitu juga dengan Rei dan Hikari yang sedang menyimpan buku ke dalam tas mereka.
"Kau tampak bahagia beberapa hari. Aku kira genderang perang yang kau bunyikan untuk Itachi –sensei tidak berlaku lagi sekarang."
"Apa aku pernah bilang begitu?" Hikari mencubit gemas pipi sahabatnya itu.
"Kau lupa sekarang?"
"Aku pulang dulu, Rei. Kau di jemput paman kan?" Rei mengangguk. Hikari kemudian berjalan menuju tempat parkir dimana ia biasa menunggu Itachi.
Tak lama kemudian, Itachi muncul dari arah ruang guru. Keduanya masuk ke dalam mobil. Hari ini Hikari ada jadwal untuk latihan judo sehingga Itachi mengantarkannya. Sesampainya disana, Hikari membuka sabuk pengaman yang di pakainya.
"Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu sore ini. Ibumu mengundangku untuk makan malam, jadi setidaknya aku harus menemaninya berbelanja."
Hikari mengangguk mengerti.
"Tenang saja, sensei. Aku bisa pulang sendiri. Semoga berhasil ya." Hikari tersenyum jahil. Ia mengerti bagaimana ibunya itu sangat sulit untuk di dekati.
Itachi terkekeh dan mengacak poni blonde Hikari. Gadis itu hanya tertawa dan turun dari mobil Itachi.
.
.
.
Hikari pulang latihan dengan wajah dongkol. Hari ini ia kalah sparing dengan Daichi. Melihat anak laki-laki itu tersenyum meremehkan membuat Hikari kesal. Gadis itu keluar dari dojo langkah yang di hentak. Langkah kakinya terhenti melihat seseorang diantara kerumunan orang tua yang menjemput anak-anak mereka. Seminggu ini pria itu tidak muncul baik di sekolah, halte bis ataupun dojo tempatnya berlatih. Bukannya Hikari ingin menemui pria itu lagi. Ucapan Itachi tempo hari membuat ia memikirkan sesuatu. Itachi-sensei benar. Apapun yang sudah dilakukannya, pria itu tetaplah ayahnya. Kenyataan bahwa seminggu ini ia kerap melayangkan atensinya di dekat gerbang, halte bis dan juga gerbang dojo juga cukup mengejutkannya. Seolah Hikari memang mencari keberadaan pria itu.
Kini mereka bertemu lagi. Setelah seminggu menghilang, pria itu muncul lagi. Hikari diam di tempatnya. Kali ini pria itu berdiri bersandar di luar mobil dan menatapnya. Para siswa pelatihan berbondong-bondong mendatangi orang tua mereka untuk pulang ke rumah masing-masing. Hingga kemudian gerbang depan itu sepi dan meninggalkan mereka berdua.
Hikari kemudian berjalan mendekat. Gaara terdiam di tempatnya dan menatap Hikari.
"Aku tidak akan meminta maaf atas apa yang kulakukan minggu lalu." Gadis itu membuka suara. Matanya memandang ke samping, tepat ke arah jalan raya. Entah kenapa ia tidak sanggup untuk melihat permata jade serupa miliknya itu.
"Aku tahu. Aku rela di pukul lagi jika itu membuatku bisa bertemu denganmu. Atau bahkan babak belur asalkan aku bisa melihatmu dari dekat."
Hikari tercekat. Tidak menyangka bahwa pria di depannya ini akan mengatakan hal itu. Entah kenapa ia merasa ada gumpalan aneh di tenggorokannya, yang cepat atau lambat bisa memicu air mata. Gadis itu menggigit bibirnya.
Gaara bersyukur Hikari tidak melihatnya. Tidak melihat mata merahnya yang menahan air mata. Ingin rasanya Gaara memeluk darah dagingnya itu, tapi ia tidak ingin gadis itu semakin membencinya. Pukulan yang di dapatnya minggu lalu sudah menunjukkan betapa putrinya itu membencinya. Ia bahkan pantas untuk menerima pukulan-pukulan lainnya yang pada dasarnya tidak bisa menebus kesalahan yang sudah dilakukannya dulu.
"Aku baru saja kalah sparing. Aku mau makan eskrim."
Gaara terkejut melihat Hikari tiba-tiba masuk kedalam mobil dan mendudukkan dirinya di kursi penumpang. Ia mendengar apa yang dikatakan gadis itu dengan jelas dan kalimat itulah yang akhirnya membuat air matanya tumpah. Masih ada peluang. Masih ada kesempatan untuk menebus kesalahannya. Gaara mengusap matanya dengan kasar menggunakan telapak tangannya untuk kemudian masuk ke dalam mobil. Hikari duduk di sampingnya sambil melipat tangannya. Sabuk pengaman sudah terpasang rapi di tubuh gadis itu. Gaara menyalakan mobil dan berjalan meninggalkan tempat itu.
"Apa kau punya tempat makan eskrim yang kau sukai?" tanya Gaara setelah lima menit diam menyelimuti mobil itu. Jujur, ia tidak mengerti hal-hal seperi itu.
"Aku mau ke Baskin Robbins. Satu blok lagi dari sini."
Gaara mengangguk. Tak lama kemudian ia melihat sebuah toko yang dipenuhi warna pink dan biru dengan tulisan Baskin Robbins besar diatasnya. Gaara memarkirkan mobilnya di depan toko itu. Ia ingin membukakan pintu mobil untuk putrinya, namun gadis itu sudah keluar dengan cepat. Keduanya berjalan masuk menuju konter pemesanan. Gaara tidak tahu menahu tentang eksrim dan seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini.
"Selamat datang. Sudah siap memesan?"
"Dua Value Scoop dengan cup, satu rasa mocca dan satu lagi rasa cotton candy. Semuanya tambah topping dan waffle ya." Hikari mengatakan pesanannya dengan cepat. Sang pelayan pun mencatat pesanan mereka ke dalam sistem.
"Tunai atau dengan kartu?"
Gaara baru saja ingin mengeluarkan dompetnya ketika Hikari mengeluarkan selembar kertas dan memberikannya pada pelayan yang menerima pesanan mereka.
"Vouchernya saya terima. Tunggu sebentar ya." Setelah menerima voucher, pelayan itu mulai membuat pesanan mereka.
"Voucher?" tanya Gaara.
"Aku mendapatkannya saat bermain di game center. Sayang kalau tidak di gunakan kan," jawab Hikari. Gaara tersenyum.
"Kau benar."
Pesanan mereka selesai tak lama kemudian. Hikari menerima nampan berisi dua cup es krim yang sudah di pesannya tadi dan membawanya pada sebuah meja yang kosong. Gaara mengikuti Hikari hingga mereka kini duduk berhadapan. Hikari memberikan cup es krim rasa mocca pada Gaara dan mulai memakan miliknya. Gaara pun mulai menyendokkan es krim itu ke mulutnya.
Gaara memperhatikan wajah putrinya. Hikari sangat mirip dengan Ino namun dengan mata yang menurun darinya. Ia tidak pernah membayangkan bisa duduk berhadapan dengan putrinya seperti ini. Melihat bagaimana putrinya menikmati es krim di depannya. Gaara tidak suka makanan manis, ia tidak ingat kapan terakhir kali makan es krim. Namun mulai hari ini, es krim akan menjadi makanan kesukaan pria itu. Karena ini adalah makanan pertama yang ia makan bersama dengan putrinya.
Gaara ingin membuka percakapan. Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada anak gadisnya. Namun ia terlalu gugup untuk memulainya. Terlalu canggung untuk sekedar membuka mulutnya. Meskipun begitu, ia merasa bahagia karena akhirnya bisa berada dalam satu momen dengan putrinya.
"Hikari?"
Sebuah suara membuat pandangan sepasang ayah dan anak itu beralih pada seorang anak laki-laki berambut coklat yang berhasil membuat moodnya jelek sore itu. Hyuuga Daichi. Anak itu masuk dengan ibu dan adik perempuannya. Hikari mengangguk hormat pada Tenten yang membalasnya dengan anggukan dan senyum. Wanita itu membawa anak perempuannya menuju konter pemesanan.
"Es krim setelah kalah, huh?" Daichi kembali bersuara.
"Seseorang berhasil membuat moodku hancur. Jadi aku butuh sesuatu untuk mengembalikannya." Hikari menekankan kata seseorang membuat Daichi mendengus.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini. Makan es krim dengan...?"
Gaara sendiri hanya terdiam. Namun ia mengerti maksud dari kalimat anak laki-laki di depan mereka itu. Tentu saja anak itu menanyakan perihal siapa pria yang kini makan es krim bersama temannya itu. Tapi kenapa ia jadi gugup menunggu jawaban Hikari? Kalau putrinya belum siap, ia rela bila diperkenalkannya sebagai rekan kerja ibunya. Dikenalkan sebagai orang asing jauh lebih baik dari pada ia tidak bisa melihat putrinya lagi.
"Ayahku. Aku datang bersama ayahku."
Untuk ke sekian kalinya, Gaara merasa air matanya akan jatuh lagi.
.
.
.
Itachi tiba di supermarket A begitu ia menyelesaikan urusannya di kantor Sasuke. Ino sudah ada disana sekitar sepuluh menit yang lalu berdasarkan pesan wanita itu. Itachi langsung masuk menuju bagian bahan-bahan dapur dan melihat Ino tengah memilih tomat. Troli belanja ada di samping wanita itu. Pria itu berdehem untuk mengalihkan perhatian Ino dari buah –atau mungkin— sayur berwarna merah itu.
"Kau sudah datang?" Itachi mengangguk sambil tersenyum.
"Kau akan masak apa?" tanya pria itu.
"Aku belum menentukannya. Apa ada sesuatu yang ingin kau makan. Mungkin aku bisa memasaknya."
"Apa saja. Aku tidak pemilih soal makanan." Itachi mengambil alih troli belanja yang ada di samping wanita itu.
"Syukurlah. Bagaimana kalau steak?" tanya Ino.
"Boleh."
"Kita cari dagingnya kalau begitu."
Karena Ino sudah biasa berbelanja kebutuhan rumah tangga, mereke menyelesaikan kegiatan belanja mereka. Sempat berdebat mengenai siapa yang akan membayar, Itachi akhirnya mengalah karena Ino bersikeras membayar karena memang ia yang mengundang Itachi untuk makan malam. Mereka kemudian pulang ke rumah Ino dengan mobil terpisah. Hikari sedang berada di kamarnya saat mereka sampai. Mungkin gadis itu sedang mandi mengingat ketika Ino memanggilnya, Hikari tidak menjawab dan terdengar suara air mengalir dari kamar putrinya itu.
Ino langsung bergelut di dapur begitu ia meletakkan tasnya di sofa ruang tamu. Ia mulai mengeluarkan belanjaan yang tadi mereka beli di pantry.
"Aku akan membersihkan dagingnya."
"Kau bisa memasak?" tanya Ino.
"Tidak. Makanya aku memilih membersihkan daging." Ino terkekeh.
"Aku mengundangmu untuk makan malam, tapi kau malah ikut membantu. Tidakkah lebih baik kau menunggu di ruang TV saja?"
"Diruang TV sendirian dan disini bersamamu. Tentu aja aku akan memilih tetap disini."
Ino merasakan wajahnya memerah. Itachi akhir-akhir ini membawa masalah untuk kesehatan jantungnya.
"Dagingnya sudah selesai. Selanjutnya apa? Ino?"
"E-em.. ya?"
"Aku bilang dagingnya sudah selesai. Selanjutnya apa?"
"Itu... Umm. Mungkin kau bisa mengiris sayuran ini. Kita akan membuat salad. Jangan lupa di cuci ya."
"Siap, nyonya." Ino hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan Itachi untuk mulai memanggang daging yang sudah di bumbui di atas frypan.
"Aku tidak pernah menyangka bisa memasak bersama denganmu seperti ini." Itachi tiba-tiba bersuara. Tangannya masih aktif mengiris sayuran di atas telenan. Ino tidak menyahut. Karena tidak mendengar ataupun memang dengan sengaja tidak menyahut.
"Bahkan tidak pernah terbayang olehku bisa jatuh hati padamu." Itachi masih berbicara dan Ino masih diam. Keduanya saling membelakangi dan masih dengan kegiatan masing-masing.
"Mulanya aku tertarik dengan seorang ibu muda dengan anak gadis empat belas tahun. Apakah wanita itu benar ibunya? Aku sempat tidak percaya. Kemudian aku kesal dengan sikapmu dan juga Hikari yang hmmm unik? Aku bahkan berencana untuk balas dendam pada kalian berdua." Itachi kemudian tertawa kecil. Seolah menertawai dirinya.
"Lalu kita bertemu di bawah hujan deras dengan sosok bernama Ino yang luar biasa. Aku tidak menyangka ada seorang wanita sanggup mengangkat ban mobil seorang diri. Semuanya terjadi begitu saja. Aku malah tidak bisa berhenti memikirkanmu. Entah kenapa aku ingin melindungi kalian. Namun sepertinya aku masih perlu menunggu karena kau masih belum membuka hatimu. Apa aku masih harus menunggu lama?"
Tuk!
"Aw!" Ino berbalik begitu mendengar suara Itachi. Pria itu terlihat memegang tangan kirinya.
"Kau tidak apa-apa?! Coba kulihat!" Ino menarik tangan Itachi.
"Aku bercanda." Itachi menunjukkan tangan yang memang tidak terluka sama sekali.
"Itachi. Kau mengagetkanku!"
Itachi mengangkat sudut bibirnya.
"Aku kira kau sama sekali tidak mendengarku." Ino terdiam. Wanita itu menunduk. Tentu saja ia mendengar semua yang dikatakan pria itu. Namun ia tidak tahu harus bereaksi apa. Pria ini terlalu jujur.
Ino gugup saat tiba-tiba Itachi mendekat ke arahnya. Jarak yang sebelumnya sudah pendek semakin menipis karena Itachi kian mendekat kearahnya. Ino ingin bergerak mundur begitu Itachi menarik pinggangnya hinga ia kini berada di pelukan pria itu.
"Kau mau mundur dan melukai dirimu? Ada kompor dengan api menyala di belakangmu. Apa kau lupa sedang memanggang daging?" Suara Itachi tepat berada di telinganya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu di lehernya.
Ino tersadar ia sedang memasak. Ino kemudian berbalik, namun tangan Itachi masih melilit pinggangnya. Ino tidak bergerak dan hanya bisa terdiam di tempatnya. Masih dengan memeluk Ino dari belakang dengan tangan kirinya, Itachi mengambil alih spatula dan membalik daging yang sudah hampir matang itu.
"Bisa kau lepaskan tanganmu? Aku masih harus membuat saus." Ino mencoba bersuara tanpa tergagap. Ia merasakan panas di wajahnya yang mungkin sudah memerah itu.
"Sepertinya tidak bisa. Aku sudah ada di zona nyamanku. Bagaimana ini?" Itachi kini meletakkan dagunya diatas bahu Ino.
"I-itachi."
"Ehem!"
Keduanya memisahkan diri begitu mendengar suara satu-satunya manusia selain mereka diruangan itu. Hikari baru keluar dari kamarnya dan tengah berjalan menuju dapur. Ino langsung mengambil alih salad dan Itachi fokus pada daging di depannya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Hikari dengan santainya.
.
.
.
Makan malam mereka berjalan dengan lancar walaupun dengan tatapan jahil dari Hikari yang sesekali ditujukan pada sang ibu. Tentu saja ia melihat dengan jelas apa yang tadi terjadi. Ingin sekali ia menertawakan kedua orang dewasa di depannya ini.
Ino baru saja mengeluarkan puding kemasan dari dalam kulkas. Puding kesukaan Hikari yang memang selalu tersedia di dalam kulkas. Ketiganya memakan puding itu sebagai makanan penutup.
"Sebenarnya ibu ingin memberitahumu sesuatu."
"Kalau kalian akan segera menikah?"
Uhuk!
Itachi tersedak oleh puding lembut itu. Hal yang sama hampir saja terjadi pada Ino kalau saja ia tidak menahannya.
"Bukan itu, sayang."
"Jadi?" tanya Hikari. Itachi juga tampak penasaran dengan apa yang akan Ino sampaikan. Pria itu bahkan meletakkan puding yang tadi membuatnya tersedak.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu, Itachi. Sepertinya aku selalu saja merepotkanmu. Tapi aku mohon jangan berpikir aku mengundangmu makan malam karena hal ini. Aku memang berniat mengundangmu makan malam hari ini. Maksudku..."
Itachi terkekeh.
"Tidak, Ino. Katakan saja."
"Minggu depan, ibu harus ke Kyoto." Ino bersuara setelah diam beberapa saat.
"Dalam rangka apa? Mengunjungi kakek? Bukannya belum tahun baru?" tanya Hikari.
"Bukan, sayang. Ibu kesana untuk perjalanan dinas. Ada proyek yang harus ibu tangani langsung disana," terang Ino. Kemudian ia beralih pada Itachi.
"Aku tidak mungkin meninggalkan Hikari sendirian. Jadi... umm... apakah aku boleh menitipkan Hikari bersama kalian selama aku pergi. Aku tahu ini sudah sangat tidak sopan dan aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian tap—"
"Aku tidak merasa direpotkan Ino. Ibuku pasti akan senang sekali."
"Hanya beberapa hari. Aku akan segera menjemputnya begitu aku pulang."
"Tidak perlu sampai begitu, Ino. Hikari bisa tinggal dengan kami selama yang dia mau. Bukan begitu Hikari?"
"Maaf Ibu. Bukannya aku tidak senang tinggal dengan nenek Mikoto. Aku senang sekali. Tapi... untuk kali ini, selama ibu pergi, aku... aku akan tinggal dengan ayah."
"Apa?!"
.
.
.
N/B : Jeng Jeng Jeng Jeng!
Kembali dengan Chapter 7 teman-teman. Makasih banget karena masih sudi nungguin cerita ini. Makasih banyak juga yang sudah review. Aku padamu teman-teman.
BTW tadi aku terkaget terheran-heran bercampur senang. Soalnya kan 15 Juni kemarin aku bikin cerita GaaIno dengan judul Fireflies. Eh, anak-anak gue di NCT Dream bakal comeback dengan judul album Fireflies juga. Hahaha senang banget berasa terkoneksi sama mereka.
Ada yang suka NCT juga? Bolehlah berbagi.
Waktunya balas ripiu...
hubaek ship (Guest) : Makasih ya masih menunggu cerita aku. Thanks for review...
tixxxxx : wadaw... kejam sekali ya kamu sama ayang akuh... hehe thanks for review.
Laziper : thanks for review. Hikari emang kece!
Kyudo YI : makasih udah nungguin... ini sudah up ya...
aile : kaget ya? saya juga. Makasih udah review ya...
HikariSenju : ini sudah up ya cinta... makasih udah review.
Raiueon : waduh koq pada kejam sih sama Gaara. Kalau babak belu entar gantengnya ilang lagi. Ini sudah up ya, terimakasih reviewnya...
yumehara : makasih udah review ya..
adyahayutiara : Makasih banyak udah nungguin dan review panjang. Aku terharu beneran. Makasih juga udah nyemangatin aku. Jangan kejam-kejam sama Gaara ya. Hehehe ini udah up sayang. Semoga suka ya...
Rizumo Hitoyara : kamu ya, kasihan lihat Gaara tapi pas di akhir malah BEUUUH NICE HIKARI! Ingin ku tertawa sebenarnya. Ini sudah up ya. Thanks for review.
Inochan (Guest) : Ini udah up lagi ya. Semoga sukaa...
Us793 : makasih udah sukaa...
Xoxo : badass dong. Hahaha thanks for review...
Makasih banyak ya buat teman-teman semua...
Love
Yana Kim ^_^
