I Have Changed, Now!
Disclaimer :Tokyo Ghoul by Sui Ishida
Rate : M (maybe)
Genre : yang jelas Romace Action
Warning : AU, NTR, OOC (maybe), dll (kalo ada).
Pair : Kaneki x Rize, slight Rize x Nishio, slight Kaneki x …(?)
Chapter 2
Saat ini, Kaneki sedang duduk di sebelah kiri tubuh Nishio setelah didorong oleh Rize. Sementara itu, Nishio saat ini masih terbaring lemah. Hanya saja, dengan kepala yang disandarkan oleh Rize di atas pahanya.
"Nishio-kun, kau tidak apa-apa?"
Melihat Rize yang terlihat mengkhawatirkan Nishio, ditambah surfix -kun yang sejak tadi ditambahkan oleh Rize saat menyebutkan nama Nishio, membuat Kaneki kesal kepada Rize.
"Rize-chan, kenapa kau malah menghentikaku saat menghajarnya? Sementara saat dia menghajarku, kau malah diam saja!"
"Karena aku mencintainya! Ya, ku akui aku mencintainya. Ku akui, sebenarnya ... aku sudah menjadi kekasihnya sejak satu bulan lalu. Ku akui, aku hanya memanfaatkamu saja. Sejak hari pertama sekolah, aku sudah menyadari ... bahwa kau sering memperhatikanku. Aku pun bertanya kepada teman-temanku yang ternyata dulu satu sekolah denganmu. Aku pun mengetahui ... bahwa kau berasal dari keluarga orang terkaya ke-10 di kota ini.
Tetapi, aku tidak langsung mendekatimu, karena aku ingin membuatmu penasaran dengan bersikap biasa saja. Aku pun sudah berbicara dengan Nishio tentang ini, dan dia setuju. Dengan syarat, aku tidak boleh mencintaimu, hanya memanfaatkamu saja. Karena itulah, aku menerima ajakanmu untuk jalan-jalan hari itu, dan mengatakan bahwa aku mencintaimu, walaupun semua itu hanyalah sebuah kebohongan. Dan jika kau bertanya tentang pelukan dan ciumanku di malam itu..."
~Flashback~
CUP
Kaneki langsung tersentak sambil memegangi pipi kanannya dengan wajah yang memerah setelah Rize memberikan sebuah ciuman ke pipi kanannya.
"Arigato Kaneki-kun, jaa"
Setelah mengatakan itu sambil mengeluarkan senyum manisnya, Rize langsung masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit berlari, dan kemudian menutup pintu.
Melihat Rize yang sudah masuk ke dalam rumahnya, Kaneki langsung masuk ke dalam mobilnya dengan wajah yang masih memerah sambil memegang pipi kanannya yang dicium oleh Rize tadi.
Saat di dalam rumah, Rize langsung membersihkan badan dan juga bibirnya menggunakan kedua tangannya.
"Hiii, kalau bukan karena hartanya, aku tidak mau memeluk dan menciumnya seperti tadi" kata Rize.
~Flashback End~
"Oh ... ternyata begitu. Tetapi Rize-chan, kumohon, tinggalkan saja Nishio! Aku bisa memberikan apapun yang kau mau!"
"Huh ... kau pikir kau lebih baik dari Nishio! Kau memang kaya, tetapi, sifatmu yang sok polos itu, membuatmu terlihat sangat culun! Dan dengan apa yang kau lakukan hari ini, membuatku berpikir ... bukan Nishio yang pantas aku tinggalkan, tetapi kau! Mulai hari ini, kita putus!"
Terkejut? Ya, Kaneki sangat terkejut mendengar Rize memutuskan hubungan dengannya.
"Rize-chan ... kumohon, jangan putuskan hubunganmu denganku!" kata Kaneki yang berharap Rize membatalkan keputusannya itu.
"Aku tidak peduli, dan jangan panggil aku seperti itu! Karena mulai saat ini, kau bukan kekasihku lagi! Pergi! Dan jangan pernah kembali lagi!" kata Rize yang sudah tidak bisa lagi membatalkan keputusannya.
Apakah harus seperti ini? Apakah Kaneki harus menerima cinta karena harta, dan ditinggalkan karena sifatnya yang mungkin bukan sesuatu yang sangat buruk? Apakah dia juga harus ditinggalkan hanya karena menyakiti untuk mempertahankan orang yang dicintainya? Walaupun dia tidak dicintai oleh orang yang dia cintai.
Setidaknya, itulah yang dia pikirkan. Kaneki juga menyadari, bahwa dia sudah sangat kehilangan harga dirinya. Bagaimana tidak? Selama ini, dirinya yang hanya dimanfaatkan oleh Rize. Selama ini, Rize yang mengkhianati cintanya, bukan sebaliknya. Selama ini, Kaneki tidak pernah selingkuh, walaupun hanya niat untuk selingkuh ataupun melakukan hal buruk apapun kepada Rize.
Namun, malah Rize yang memutuskan hubungan dengannya. Bahkan, Kaneki sampai memohon agar Rize tidak memutuskan hubungan dengannya. Namun, Rize malah menolak mentah-mentah permintaannya itu, dan memilih laki-laki lain.
Karena itu, dia memutuskan untuk pasrah, dan menerima apapun keputusan Rize.
"Baiklah Rize, jika kau sudah yakin dengan keputusanmu, maka, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga kau tidak akan menyesali keputusanmu itu, Rize"
Setelah mengatakan itu, Kaneki pun berdiri, dan beranjak meninggalkan Rize dan Nishio yang sudah bisa bangun, walaupun hanya dalam posisi duduk.
Kemudian, Kaneki berjalan dengan tertatih-tatih mendekati Enji yang masih pingsan untuk memastikan keadaannya.
Setelah berada di dekat tubuh Enji, Kaneki mencoba membangunkan Enji dengan cara mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Enji-san ... bangun! Enji-san ... bangun!"
Karena tidak berhasil membangunkan Enji, Kaneki pun mencoba menghubungi sopir pribadinya menggunakan ponselnya untuk menjemputnya dan juga Enji.
"Halo, Yomo-san, bisakah kau menjemputku di halte dekat *?"
[Baiklah Kaneki-sama, saya akan segera ke sana]
Setelah menutup telepon, Kaneki mencoba menarik tangan Enji agar bisa memapahnya.
Kaneki cukup kesulitan untuk memapah tubuh Enji, karena tubuhnya sendiri masih lumayan sakit akibat serangan dari Nishio tadi.
Saat baru saja berdiri sambil memapah tubuh pingsan Enji, Kaneki sempat menoleh ke arah Rize sambil mengatakan sesuatu di dalam hatinya.
'Semoga kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan, Rize-chan'
Setelah itu, dia menghadapkan wajahnya kembali ke depan, dan langsung berjalan dengan perlahan sambil memapah tubuh pingsan Enji.
Namun, saat baru saja beberapa langkah keluar dari gerbang rumah itu, Kaneki sudah terjatuh dengan posisi tangan kiri dan kedua lututnya menyentuh tanah untuk menahan tubuhnya. Seandainya tangan kanannya sudah tidak kuat lagi untuk menggenggam tangan kanan Enji, mungkin tubuh Enji sudah jatuh ke tanah.
Namun, saat Kaneki mencoba berdiri, mata Enji pun perlahan terbuka. Karena merasa ada yang mengangkat tubuhnya di sebelah kanannya, Enji pun menoleh ke arah kanan, dan melihat Kaneki yang sedang memapah tubuhnya.
"Kaneki-sama? Ugh"
Enji langsung meringis setelah menyebutkan nama majikannya karena tubuhnya masih sakit.
"Kau tidak apa-apa, Enji-san?" kata Kaneki memastikan.
"Saya baik-baik saja, Kaneki-sama. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kau pingsan setelah melawan laki-laki pirang tadi"
Setelah Kaneki mengatakan itu, Enji pun mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi. Setelah ingatannya terkumpul, tiba-tiba Enji menjadi emosi.
"Laki-laki itu ... uhuk ... Kaneki-sama, di mana laki-laki itu? Biarkan saya menghajarnya...ugh" kata Enji sambil terbatuk dan meringis karena tubuhnya masih sakit.
"Tenanglah Enji-san, sepertinya tubuhmu masih belum pulih. Sebaiknya, kita sembuhkan dulu tubuhmu. Lagipula, aku sudah...ugh... mengalahkannya"
Sebelum sempat menyelesaikan kalimat terakhirnya, Kaneki sempat hampir terjatuh karena tubuhnya yang masih sakit, dan mulai tidak sanggup untuk memapah Enji. Seandainya kakinya tidak cukup kuat, mungkin dia sudah benar-benar terjatuh sekarang.
"Kaneki-sama! Apakah Anda baik-baik saja?" kata Enji dengan nada bicara yang terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja"
"Kaneki-sama, sepertinya, memang benar apa yang anda katakan tadi. Kita tidak perlu lagi mengurus laki-laki pirang itu! Lagipula, anda bilang anda sudah mengalahkannya. Biarkan Kami-sama yang memberikan hukuman padanya nanti. Saat ini, sebaiknya kita mengobati tubuh kita dulu"
"Kau benar, Enji-san"
"Kaneki-sama, saya rasa, anda dapat melepaskan saya sekarang. Saya bisa berjalan sendiri"
"Apakah kau yakin, Enji-san? Sepertinya, kau belum benar-benar pulih" kata Kaneki dengan nada bicara yang terdengar khawatir.
"Saya yakin, Kaneki-sama. Lagipula, tubuh anda juga belum benar-benar pulih. Justru seharusnya, saya yang memapah tubuh anda. Mengingat tubuh saya yang lebih besar dari tubuh anda. Dan juga, saya adalah pelayan anda. Jika seperti ini, saya merasa belum menjadi pelayan yang baik" kata Enji dengan nada bicara yang terdengar sedih.
"Kau tidak perlu bicara seperti itu, Enji-san. Kau dan semua pegawai di rumahku sudah seperti keluarga bagiku, ayah, dan ibuku. Bagi kami, kalian semua sudah bekerja dengan baik"
Enji pun tersenyum mendengar perkataan majikannya yang satu ini. Mungkin di tempat lain, dia akan sulit menemukan majikan seperti Kaneki dan kedua orangtuanya.
"Arigato, Kaneki-sama"
"Doita, Enji-san"
Setelah mengatakan itu, Kaneki pun melepaskan tubuh Enji. Namun, sebelum mereka melanjutkan perjalanan mereka, Enji secara tiba-tiba menanyakan sesuatu kepada Kaneki.
"Oh iya, Kaneki-sama. Jikalau berkenan, bolehkah saya bertanya tentang Rize?"
Mendengar pertanyaan Enji, Kaneki pun langsung menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang terlihat murung.
Melihat ekspresi wajah Kaneki, Enji pun merasa bersalah atas pertanyaan yang baru saja dia lontarkan kepada majikannya itu.
"Maafkan kelancangan saya, Kaneki-sama. Jikalau anda memang tidak berkenan, saya tidak akan memaksa anda untuk menjawab pertanyaan saya"
"Tidak apa-apa, Enji-san. Rize akhirnya mengakui perbuatannya. Dia mengakui, bahwa dia tidak mencintaiku, dan hanya memanfaatkanku saja. Dia mengakui, bahwa selama ini, dia sudah menjadi kekasih laki-laki pirang tadi selama satu bulan. Dia juga mengakui, bahwa laki-laki pirang tadi juga menyetujui Rize menjadi kekasihku. Dengan syarat, dia tidak boleh mencintaiku, hanya memanfaatkanku saja.
Namun, yang lebih parah dari itu, justru dia yang memutuskan hubungan denganku. Hanya karena sifatku yang dia anggap sok polos dan karena aku menghajar laki-laki pirang yang ternyata bernama Nishio itu. Bahkan, saat aku memohon kepadanya untuk membatalkan keputusannya itu, dia malah membentakku, dan menolak mentah-mentah permintaanku"
Mendengar itu, emosi Enji kembali meluap.
"Apa? Berani sekali dia berbuat seperti itu! Itu namanya penghinaan!"
"Sudahlah Enji-san, kita tidak perlu lagi mengurus gadis itu"
"Tetapi, Kaneki-sama..."
"Sudahlah, cukup! Seperti yang sempat kau katakan tadi, biarkan Kami-sama yang membalasnya"
Mendengar itu, Enji hanya bisa pasrah.
"Baiklah Kaneki-sama, maafkan atas kelancangan saya yang berani berbicara dengan nada tinggi seperti tadi kepada anda"
"Tidak apa-apa, Enji-san"
Setelah itu, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Namun, sebelum mereka sampai di halte tempat Kaneki menyuruh sopirnya untuk menjemputnya dan juga Enji, sebuah mobil sudah berhenti di dekat mereka. Mobil itu adalah mobil yang dikendarai oleh sopir yang Kaneki hubungi tadi. Dan itu semakin terbukti dengan keluarnya sang sopir, Renji Yomo.
Melihat Kaneki dan juga Enji, Yomo pun kaget dan langsung bertanya kepada mereka.
"Enji-san, Kaneki-sama, apa yang terjadi kepada kalian?"
"Kami tadi habis berkelahi dengan selingkuhan Rize" kata Kaneki.
"Kalau begitu, sebaiknya kita obati dulu luka kalian"
Setelah Yomo mengatakan itu, Kaneki dan Enji masuk ke dalam mobil. Karena luka mereka tidak terlalu parah, Yomo pun memutuskan untuk mengantarkan Kaneki pulang untuk diobati di rumah.
Setelah Kaneki dan Enji selesai diobati, Kaneki pun diajak bicara oleh kepala pelayannya yang bernama Yoshimura. Dia pun menanyakan tentang apa saja yang terjadi sehingga Kaneki dan Enji bisa seperti sekarang ini. Kaneki pun menceritakan semuanya kepada Yoshimura.
"Jadi begitu kejadiannya, Yoshimura-san. Aku pun tidak mengerti, kenapa aku harus mengalami kejadian sepahit ini? Apakah semua wanita memang seperti itu?"
"Tentu saja tidak, Kaneki-sama. Sebagai buktinya, anda dapat melihat ibu anda, dia sangat tulus mencintai ayah anda. Saya dapat mengetahui ketulusan ibu anda cukup dengan melihatnya, karena saya sudah menjadi pelayan ayah anda beberapa bulan sebelum pernikahan ayah dan ibu anda. Hanya karena seorang wanita melakukan hal buruk seperti yang anda katakan tadi, bukan berarti semua wanita bisa berbuat sejahat itu. Ada banyak wanita di dunia ini, dan tentunya, memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
Kaneki-sama, saya harap anda bisa bersabar dan memaafkan apa yang telah Rize lakukan pada anda. Saya percaya, jikalau anda kuat dan mau bersabar, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar. Saya berkata seperti ini bukan tanpa alasan. Karena sudah banyak kisah nyata dari orang sukses dengan modal sebuah kesabaran"
"Aku rasa itu sulit, Yoshimura-san. Karena apa yang sudah dilakukan oleh Rize, telah membuatku sangat sakit hati. Aku juga baru tahu, bahwa saat cinta dikhianati, rasa sakitnya akan separah ini"
"Saya mengerti perasaan anda, Kaneki-sama. Seandainya saya berada pada posisi anda saat ini, mungkin saya juga akan merasakan perasaan yang sama. Tetapi, jika anda terus menyimpan rasa dendam di hati anda, justru hanya akan menyiksa diri anda sendiri. Dan jika dendam anda bisa terbalas, apakah Rize tidak akan berbalik menaruh dendam kepada anda?"
"Kenapa bisa seperti itu? Yoshimura-san? Rize yang mengkhianatiku. Seandainya aku berhasil membalas dendam kepadanya, kenapa dia yang justru ingin membalas dendam kepadaku?"
"Karena Rize bisa saja sakit hati atas apa yang sudah anda lakukan. Walaupun tidak semua orang, tetapi beberapa orang di dunia ini bisa saja menaruh dendam kepada seseorang yang menyakiti hatinya, walaupun dia sendiri yang bersalah. Jika terus seperti itu, maka permusuhan mungkin tidak akan selesai"
Kaneki pun terdiam sesaat mendengar apa yang dikatakan oleh Yoshimura. Kemudian dia kembali bertanya kepada Yoshimura.
"Lalu, bagaimana caranya untuk menghilangkan rasa sakit di hatiku ini? Yoshimura-san?"
"Anda bisa mencoba mengalihkan pikiran anda dengan mengisi waktu luang anda, Kaneki-sama. Anda bisa memperbanyak belajar. Dengan begitu, perhatian anda akan teralihkan. Anda juga bisa mencoba mulai berlatih beladiri. Memang Tokyo sudah sangat dikenal sebagai salah satu kota paling aman di dunia. Namun, kejahatan bisa terjadi di mana saja. Selain untuk menjaga diri, berlatih beladiri juga bisa menjadi salah satu cara yang bagus untuk meraih prestasi. Dengan berlatih sungguh-sungguh dan mengikuti berbagai turnamen beladiri, anda bisa meraih prestasi yang mungkin berguna untuk masa depan anda"
"Untuk apa prestasi dalam hal beladiri? Yoshimura-san? Bukankah dengan belajar sungguh-sungguh dan meraih prestasi di bidang akademik sudah cukup untuk kesuksesanku di masa depan? Yoshimura-san? Lagipula, aku mempunyai orang tua dengan karir yang cukup untuk menjamin masa depanku"
"Memang benar, dengan belajar sungguh-sungguh dan karir yang dimiliki oleh orangtua anda bisa membuat masa depan anda cukup terjamin. Namun, terkadang memiliki bakat lebih dari satu juga penting. Saya pernah mendengar cerita dari ayah anda saat dia mengadakan pertemuan dengan kliennya di sebuah kota di luar Jepang.
Saat sedang berbincang tentang sesuatu di luar pekerjaannya, dia mendapatkan informasi bahwa kota yang dia kunjungi itu memiliki tingkat pengangguran yang tinggi. Penyebabnya adalah keterbatasan keahlian. Bukan hanya di kota itu, di beberapa kota di negara itu juga memiliki tingkat pengangguran yang tinggi. Sehingga negara itu dikategorikan sebagai negara berkembang.
Selain itu, latihan beladiri dengan serius akan membuat pikiran anda menjadi lebih teralihkan dibandingkan hanya dengan belajar sungguh-sungguh. Sehingga anda bisa lebih cepat dalam menghilangkan rasa sakit hati yang anda rasakan saat ini"
"Benarkah itu? Yoshimura-san?"
"Anda bisa mencobanya, Kaneki-sama. Walaupun mungkin membutuhkan waktu, namun saya yakin, cepat atau lambat sakit hati anda bisa terobati"
"Baiklah Yoshimura-san, saya akan mencobanya"
~SKIP TIME~
Sudah 5 bulan setelah hari di mana Rize memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kaneki. Saat ini, Kaneki sedang mengadakan reuni dengan teman satu SMP-nya dulu.
"Apakah itu benar? Kaneki?"
"Kau boleh percaya atau tidak. Yang jelas, itu adalah kenyataanya. Sebenarnya, aku sekarang sudah tidak terlalu suka mengungkit-ungkit aib orang. Namun, karena aku sudah mendapatkan fitnah karena ini, terpaksa aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi"
"Aku sebenarnya juga sudah menduga bahwa kau tidak mungkin melakukan hal seburuk itu. Mengingat sifatmu yang sangat polos. Walaupun aku merasa sekarang sifatmu mulai berubah, aku tetap yakin kau tidak akan melakukan hal seburuk itu"
"Arigatou, Hide. Karena kau sudah percaya kepadaku"
"Tidak perlu berterima kasih, Kaneki. Karena kau adalah temanku"
"Kalau begitu, aku pulang dulu, jaa"
"Jaa ne, Kaneki"
Saat ini, Kaneki baru saja selesai berbicara dengan Hide. Hide memang satu SMP dengan Kaneki. Mereka sedang membicarakan tentang alasan hubungan Rize dan Kaneki berakhir. Rize memberitahu bahwa Kaneki ketahuan selingkuh. Sehingga Rize memutuskan hubungan dengan Kaneki.
Hide tidak akan mempercayai perkataan Rize itu dengan mudah. Karena sebagai teman, Hide sangat mempercayai Kaneki. Lagipula, Hide tahu betul bagaimana sifat Kaneki. Yang dia tahu, Kaneki terlalu polos untuk melakukan perselingkuhan.
Memang ada bukti yang sedikit menunjukkan bahwa Kaneki yang bersalah dalam putusnya hubungan Kaneki dengan Rize, yaitu, pindahnya Kaneki ke sekolah lain. Sehingga, Rize beralasan bahwa Kaneki pindah sekolah karena malu ketahuan selingkuh oleh Rize. Padahal, Kaneki pindah sekolah agar bisa lebih mudah melupakan Rize.
Dan apakah Hide sempat mengatak bahwa sifat Kaneki berubah? Tentu saja. Kaneki yang sekarang sudah berbeda dengan Kaneki yang dulu.
Dulu, walaupun Kaneki tidak banyak bicara dengan orang yang baru dikenalnya, setidaknya Kaneki akan memberikan sebuah senyuman untuk orang yang menyapanya. Kaneki juga akan tertawa jika ada sesuatu yang sangat lucu, walaupun tidak sampai terbahak-bahak. Kaneki juga selalu menatap mata lawan bicaranya setiap kali berbicara dengan seseorang, tidak peduli siapapun itu.
Tetapi sekarang, jangankan sebuah tawa, sebuah senyuman saja, tidak pernah lagi terlihat di wajah Kaneki. Jika ada yang menyapanya, Kaneki hanya mengucapkan kalimat balasan yang sesuai dengan cara orang menyapanya sambil melambaikan tangannya. Semua itu terjadi karena pikiran dan perasaan Kaneki tertutupi oleh latihan beladiri dan belajar yang sangat serius. Sehingga Kaneki menjadi sulit untuk tersenyum apalagi tertawa.
Namun, bukan berarti hasil dari belajar dan latihan seriusnya hanya menghasilkan keburukan.
Karena latihan beladiri dan belajar yang serius, pikiran Kaneki menjadi teralihkan. Sehingga, Kaneki tidak lagi memikirkan apa yang telah Rize lakukan padanya. Sekalipun Kaneki sempat memikirkannya, Kaneki yakin, dia bisa memaafkan Rize. Prestasi Kaneki di bidang akademik juga meningkat. Di akhir semester, Kaneki meraih peringkat ke-3 di kelasnya. Karena Kaneki berlatih beladiri secara serius, Kaneki berhasil meraih juara ke-2 saat mengikuti sebuah turnamen beladiri tingkat kota. Dalam latihan beladiri, tentu ada yang disebut dengan latihan fisik. Latihan fisik itu membuat fisik Kaneki lebih kuat dan bugar. Bentuk tubuh Kaneki juga menjadi lebih tinggi dan atletis.
Sifat dingin Kaneki juga menjadi daya tarik bagi beberapa gadis di tempat Kaneki bersekolah. Banyak gadis yang menyukainya karena sifat dinginnya itu. Namun, karena pikirannya telah teralihkan oleh pelajaran dan ilmu beladiri, Kaneki pun tidak menghiraukan para gadis yang mendekatinya. Bukan karena Kaneki menyukai sesama jenis. Hanya saja, pikiran dan perasaannya yang sudah teralihkan oleh hal lain.
Kaneki juga menjaga pandangan matanya agar tidak mudah terpesona oleh kecantikan para gadis yang berusaha mendekatinya, yaitu dengan cara membaca novel setiap berjalan dan juga berbicara dengan perempuan di dekatnya. Walaupun membaca novel sambil berjalan, Kaneki tidak pernah menabrak seseorang saat sedang membaca novelnya. Karena Kaneki bisa melihat sekilas tubuh seseorang yang kebetulan berpapasan dengannya, dan juga Kaneki mendengarkan langkah kaki orang yang berjalan di dekatnya. Sehingga dia menjadi lebih waspada.
Saat sedang berbicara dengan seseorang gadis, dia tidak selalu menatap mata gadis yang sedang berbicara dengannya. Inilah satu lagi perubahan pada sifat Kaneki. Kaneki hanya menatap mata gadis yang dia ajak bicara jika dia ingin mengakhiri kalimatnya atau dia merasa gadis yang dia ajak bicara ingin mengakhiri kalimatnya. Novel yang Kaneki baca juga novel yang hampir atau mungkin tidak memiliki sedikitpun unsur yang mengarah ke genre romantis. Kebanyakan novel yang dibaca oleh Kaneki mengarah pada cerita detektif.
Kaneki menghindari pandangan mata yang berlebihan kepada para gadis, dan menghindari novel romantis karena dia sedang tidak ingin berurusan dengan sesuatu yang disebut cinta. Kaneki tidak ingin cinta mengganggu keinginannya untuk menjadi orang sukses. Kaneki juga khawatir dia akan membenci seseorang yang dia cintai saat sudah berpisah.
Dia memang akan membuka hatinya, namun bukan sekarang. Nanti, jika dia sudah sukses dan siap menikah. Dia merasa, jika masih di usia sekolah dia sudah memiliki pacar, hubungannya akan berakhir sebelum sempat menikah. Dan akhirnya, dia akan membenci orang yang sebelumnya dia cintai. Padahal hubungannya hanya sebatas pacar. Jika sudah menikah, dia yakin dia tidak akan mudah terpisahkan dengan orang yang dia cintai, karena ada ikatan yang lebih kuat dari sekedar hubungan pacar.
-To be continued
