I Have Changed, Now!

Disclaimer :

Tokyo Ghoul by Sui Ishida

Rate : M (maybe)

Genre : yang jelas Romace Action

Warning : AU, NTR, OOC (maybe), dll (kalo ada).

Pair : Kaneki x Rize, slight Rize x Nishio, slight Kaneki x … (?)

Chapter 3

Saat ini, waktu menunjukkan pukul 20.00 malam. Saat ini, Rize baru saja sampai di rumah setelah diantar oleh Nishio menggunakan motornya. Mereka baru saja pulang setelah berkencan. Walaupun dulu Nishio dan Rize memanfaatkan Kaneki, namun, sepeda motor yang Nishio gunakan itu bukan hasil dari memanfaatkan Kaneki. Nishio sudah memilikinya sebelum menjadi kekasih Rize.

Sebenarnya, Nishio bukanlah dari keluarga miskin. Namun, karena ide dari Rize untuk memanfaatkan Kaneki cukup menggiurkan, Nishio pun setuju dengan ide dari Rize itu.

Tidak lama setelah Nishio pergi meninggalkan Rize, seorang perempuan memanggilnya. Namun, Nishio sudah terlanjur pergi sebelum perempuan itu sempat memanggilnya.

"NISHIO-KUUUN!!!"

Mendengar ada yang memanggil nama kekasihnya, Rize pun menoleh ke arah perempuan itu. Rize pun dibuat heran dengan caranya menambahkan suffix -kun pada nama kekasihnya itu. Suffix -kun (untuk laki-laki) dan suffix -chan (untuk perempuan) biasanya digunakan untuk seorang kekasih atau seseorang yang memang sudah akrab.

Perempuan yang dilihat oleh Rize memiliki ciri-ciri rambut yang berwarna coklat dan pendek. Perempuan itu memakai mantel bulu dan celana jeans yang terlihat sedikit longgar. Walaupun mantelnya terlihat sedikit longgar, namun, Rize dapat melihat lekukan yang menunjukkan bahwa perut gadis itu cukup membuncit. Namun, jika melihat bentuk wajah perempuan itu, dia tidak terlihat seperti orang yang gemuk.

"Gomen, apakah kau tadi baru saja memanggil kekasihku?"

"Apa? Nishio-kun adalah kekasihmu?"

Rize pun dibuat heran dengan ekspresi perempuan itu yang terlihat terkejut. Rize pun menjawab pertanyaan perempuan itu, dan balik bertanya kepada perempuan itu.

"Iya, memangnya kenapa?"

Mendengar itu, perempuan itu pun secara tiba-tiba menangis. Melihat itu, Rize pun berinisiatif untuk mengajaknya masuk ke dalam rumahnya untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah berada di dalam rumah Rize, perempuan itu pun menceritakan semua yang sebenarnya terjadi.

Perempuan itu bernama Kimi Nishino. Kimi berasal dari Okinawa, dan baru beberapa hari di Tokyo. Ternyata, Kimi adalah kekasih Nishio. Kimi sudah menjadi kekasih Nishio sejak satu tahun lalu.

Rize pun terkejut mengetahuinya. Setahu Rize, Nishio belum punya pacar saat bertemu dengannya. Dan yang lebih membuat Rize terkejut, ternyata perempuan bernama Kimi itu sedang mengandung anak dari Nishio. Saat Kimi membuka mantelnya, terlihat jelas dari balik kaos longgarnya, lekukan perut yang cukup besar, yang menunjukkan bahwa perempuan itu sudah lama mengandung janin dalam perutnya itu. Kimi juga mengatakan bahwa dia sudah hampir 8 bulan mengandung anak Nishio.

Sebenarnya, Kimi sempat menolak saat Nishio memintanya untuk melakukan hubungan suami-istri di luar nikah. Namun, karena Nishio berjanji akan menikahinya, Kimi pun mau melakukannya. Tidak lama setelah Kimi mengetahui bahwa dia hamil, dia pun mencoba memberitahu Nishio. Namun, dia malah kehilangan keberadaan Nishio.

Karena dianggap aib oleh keluarganya, Kimi pun diusir dari rumahnya. Kimi pun sedih, dan terpaksa menanggung beban hidupnya sendiri. Dia pindah ke Osaka, dan bekerja di sana. Karena tidak punya tempat tinggal, dia pun tidur di salah satu ruangan di tempat kerjanya.

7 bulan kemudian, kakak sepupunya yang tinggal di Tokyo baru saja mendapat kabar bahwa Kimi diusir dari rumahnya karena ketahuan hamil di luar nikah. Kakak sepupunya itu bernama Itori. Mendengar itu, dia pun mencoba menghubungi Kimi yang untungnya diizinkan membawa ponsel. Setelah mengetahui keberadaan Kimi, Itori pun memutuskan untuk cuti, dan mendatangi tempat kerja Kimi.

Setelah bertemu dengan Kimi, Itori pun mengajak Kimi untuk tinggal bersamanya di Tokyo. Karena keadaannya sekarang, Kimi pun menerima ajakan Itori, walaupun awalnya dia merasa tidak enak merepotkan Itori.

Di hari ketiga Kimi tinggal di rumah Itori, Kimi berangkat ke dokter kandungan untuk memeriksa kandungnya. Kimi pergi sendiri karena Itori sangat sibuk, bahkan mungkin baru pulang sekitar jam 9 malam.

Dalam perjalanan pulang dari dokter kandungan, Kimi melihat dari jarak sekitar 20 meter, Nishio yang sedang duduk di sepeda motornya, dan sedang berbicara dengan Rize. Setelah yakin bahwa itu benar-benar Nishio, Kimi pun mencoba memanggilnya. Namun, Nishino sudah terlanjur pergi menggunakan sepeda motornya.

Rize pun merasa sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Kimi. Yang dia tahu, Nishio tidak mempunyai pacar saat pertama kali bertemu dengannya. Namun, ada sedikit rasa percaya di dalam hati Rize atas apa yang diceritakan oleh Kimi. Karena itu, dia pun memutuskan untuk mengajak Kimi ke rumah Nishio, dan berbicara langsung dengannya.

Di tempat lain, Terlihat seorang pemuda dengan pakaian berupa blazer hitam yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan kemeja putih yang ada di balik blazer itu. Pakaian itu dipadukan dengan celana dan sepatu kulit berwarna hitam. Pemuda itu adalah Kaneki yang sedang berjalan sambil melakukan kebiasaannya, membaca novel di tangan kirinya yang hampir tanpa unsur percintaan.

Kaneki baru saja pulang dari acara reuni dengan teman satu SMP-nya. Namun, Kaneki tidak sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Kaneki sedang dalam perjalanan menuju rumah temannya yang juga ikut reuni namun pulang duluan. Kaneki mendatangi rumah temannya itu karena ada barang milik temannya yang tertinggal di tempat acara reuni tadi. Dan itu terlihat dari tangan kanannya yang sedang memegang sebuah kantung belanja.

Barang yang ketinggalan itu adalah sepasang sarung tangan, dan sebuah kupluk yang baru saja dibeli oleh temannya itu dalam perjalanan menuju pesta reunian tadi.

Dalam perjalanan menuju rumah temannya itu, hanya ada satu rute yang bisa Kaneki lewati, dan rute itu melewati bagian depan rumah Nishio. Untungnya, Kaneki sudah tidak menyimpan dendam kepada laki-laki pirang berkacamata itu.

Saat baru keluar dari sebuah gang yang berjarak sekitar 20 meter di sebelah kiri rumah Nishio, Kaneki sudah dikejutkan oleh kehadiran dua orang perempuan yang sedang berdiri di depan pagar rumah Nishio. Rasa penasaran yang bercampur dengan rasa terkejut itu, membuat Kaneki secara refleks bersembunyi di balik sebuah tembok yang berada di dekat belokan itu.

Setelah Kaneki perhatikan, ternyata salah satu dari mereka adalah Rize yang sedang bersama seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Perempuan itu adalah perempuan yang tadi berbicara dengan Rize di rumahnya, yang tidak lain adalah Kimi Nishino.

Terjadi perbincangan antara kedua perempuan itu dengan seseorang yang tidak lain adalah Nishio. Namun, Kaneki tidak bisa melihat tubuh Nishio karena tempat Nishio berdiri saat ini. Seandainya pagar yang berada di dekat tubuh Nishio itu ditutup, maka Nishio akan berada di belakang pagar rumahnya itu. Sedangkan Kaneki saat ini sedang bersembunyi di balik tembok yang berjarak sekitar 20 meter di sebelah kiri rumah Nishio. Dan karena jaraknya itu, Kaneki juga tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh kedua perempuan itu dengan Nishio.

"Nishio-kun, aku ingin penjelasan darimu! Apakah benar gadis ini adalah pacarmu? Dan apakah benar kau meninggalkannya setelah menghamilinya?" tanya Rize dengan tegas kepada Nishio.

"Kau tenang dulu, Rize-chan. Sebaiknya kita masuk dulu, agar aku bisa menjelaskan semuanya" jawab Nishio.

Sementara itu, Kaneki hanya memperhatikan tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.

'Kira-kira, apa yang mereka bicarakan?' Kaneki dalam hati 'apa yang kupikirkan? Sepertinya, ini bukan urusanku' sambungnya.

Merasa tidak perlu lagi sembunyi, Kaneki pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Saat Kaneki baru keluar dari tempat persembunyiannya, Rize dan Kimi pun masuk ke dalam gerbang rumah Nishio. Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Kaneki.

Namun, saat Kaneki tinggal beberapa meter lagi dari pagar rumah Nishio ...

jleb/"kyaa"

Kaneki dikejutkan oleh teriakan seorang perempuan. Karena itu, Kaneki pun mempercepat langkahnya.

Saat sudah berada di dekat pagar rumah Nishio, Kaneki pun bersembunyi di balik tembok yang berada di pagar rumah Nishio itu.

brukk

Kaneki pun dibuat terkejut oleh seorang perempuan yang tergeletak di tanah. Perempuan itu tidak lain adalah Kimi. Di tanah dekat tubuhnya, terlihat darah yang sepertinya keluar dari tubuh perempuan itu. Dan saat Kaneki melihat ke arah Nishio, terlihat sebuah pisau dapur berlumuran darah di tangan kirinya. Karena itu, Kaneki pun dapat memastikan bahwa Nishio baru saja membunuh Kimi.

Kaneki yang awalnya mematung karena kejadian di depan matanya ini, langsung dibuat geram dengan apa yang baru saja Nishio lakukan. Dia memang sudah bisa memaafkan apa yang dulu pernah Nishio lakukan padanya. Namun, yang satu ini tidak bisa dimaafkan oleh Kaneki. Karena itu, dia hampir saja mendatangi Nishio langsung untuk menghajarnya. Sementara Rize, dia hanya bisa menutup mulutnya karena terkejut melihat Nishio yang tega membunuh Kimi yang sedang hamil anaknya.

Namun, karena merasa tidak ingin wajahnya dilihat oleh Rize dan Nishio, Kaneki pun memutuskan untuk menutupi identitasnya secepat mungkin. Dengan cara menjadikan blazer yang dipakainya sebagai masker, dan memakai kupluk milik temannya tadi agar warna rambutnya tidak terlihat oleh Rize dan Nishio. Kaneki juga memakai sarung tangan milik temannya tadi agar sidik jarinya tidak menempel di pisau yang sedang dipegang Nishio seandainya Kaneki bisa merebut dan membuang pisau yang sedang dipegang oleh Nishio itu.

"Nishio-kun! Apa yang kau lakukan?!"

Setelah Rize mengatakan itu, Kaneki langsung masuk ke dalam pagar rumah Nishio dengan berjalan perlahan agar Nishio yang sedang menatap mata Rize tidak menyadari kedatangannya. Namun, instingnya membuatnya menoleh ke arah Kaneki.

Menyadari kehadiran Kaneki, Nishio pun dengan cepat mengambil posisi di belakang Rize, menggenggam pergelangan tangan kanan Rize dengan tangan kanannya sambil menodongkan pisau di tangan kirinya ke depan leher Rize.

"Siapa kau? Mau apa kau di sini?" kata Nishio yang sama sekali tidak mengenali Kaneki.

Tanpa menjawab pertanyaan Nishio, Kaneki langsung mendekati Kimi, dengan harapan bahwa perempuan itu masih bisa diselamatkan.

Saat berada di dekat perempuan itu, Kaneki mencoba memeriksa denyut nadinya dengan menempelkan dua jarinya ke bagian sebelah kanan leher Kimi. Namun, Kaneki tidak dapat merasakan sedikitpun denyut nadi dari perempuan itu.

Kaneki pun mencoba melepas sarung tangan kanannya, kemudian mendekatkan dua jarinya ke dekat lubang hidung Kimi untuk memeriksa nafasnya. Namun, Kaneki tidak dapat merasakan sedikitpun nafas dari perempuan itu.

"Hey, apakah kau berharap wanita itu masih bisa hidup. Dengan tusukan seperti itu dan rasa sakit akibat keguguran, tidak akan ada harapan bagi wanita itu untuk tetap hidup" kata Nishio sambil menyeringai.

Mendengar itu, Kaneki pun dibuat terkejut karena menyadari sesuatu. Dan itu terbukti dengan perut buncit Kimi.

Kaneki pun berdiri dan langsung menghadap Nishio.

"Maksudmu? Perempuan yang baru saja kau bunuh ini ... sedang hamil?"

"Itu benar! Dan yang lebih parah lagi, wanita itu adalah wanita yang yang dihamili oleh Nishio di luar nikah. Aku curiga bahwa dia tidak ingin bertanggung ..."

"Diam kau!" apapun yang ingin dikatakan oleh Rize, langsung dipotong oleh Nishio. Dia pun kembali berbicara dengan Kaneki.

"Itu benar. Ku akui memang aku sudah menghamilinya di luar nikah. Aku sudah berusaha menghindarinya dengan pergi dari Okinawa ke sini. Sayang sekali, dia berhasil menemukanku di sini. Untungnya, aku berhasil membunuhnya. Namun, karena kalian sudah mengetahui apa yang kulakukan, kalian juga harus mati"

Rize langsung dibuat ketakutan oleh ancaman Nishio. Sementara Kaneki, dia semakin dibuat geram oleh Nishio. Bukan karena takut, namun karena benci dengan perilaku keji Nishio. Namun, Kaneki pun menghela napas untuk menenangkan dirinya. Sebuah kata pun terucap dari mulut Kaneki yang cukup untuk membuat Nishio tersinggung.

"Satu lagi orang bodoh yang mencemarkan nama baik Tokyo, yang sudah terkenal sebagai salah satu kota teraman di dunia"

"Tutup mulutmu!"

Saat Nishio mengatakan itu, secara refleks Nishio mengarahkan pisau yang dia gunakan untuk menodong Rize ke depan. Melihat itu, Rize pun mendapatkan peluang untuk melepaskan diri dari Nishio.

Rize langsung menarik tangan Nishio yang memegang pisau ke depan mulutnya, dan langsung menggigit tangan Nishio sekuatnya.

"AAARGH"

TRANGG

Nishio yang sedang kesakitan langsung menjatuhkan pisaunya, dan langsung melepaskan tangan kanan Rize yang sedang digenggamnya.

Tidak cukup sampai di situ, Rize pun langsung menginjak kaki kanan Nishio dengan kaki kanannya.

"argh"

Setelah itu, dia pun lari menjauh dari Nishio, dan langsung bersembunyi di balik sebuah tembok yang berada di salah satu sudut rumah Nishio.

Melihat Nishio yang sedang mengerang sambil mengangkat kaki kanannya, Kaneki pun langsung melesat ke arah Nishio, dan langsung mengambil posisi duduk sambil memutar kaki kanannya ke arah kiri. Dengan tujuan untuk menjegal kaki Nishio.

Namun, dia sudah terlanjur menyadari serangan Kaneki. Nishio pun melompat di atas kepala Kaneki, dan langsung melakukan koprol saat sudah berada di belakang Kaneki. Di saat bersamaan, posisi Kaneki berada di dekat pisau yang tadi dipegang oleh Nishio. Melihat itu, Kaneki pun langsung melempar pisau itu ke arah salah satu ranting pohon tebal yang berada di sebuah sudut di pagar rumah Nishio agar Nishio tidak bisa menggunakannya.

Jleb

Karena Kaneki berpikir bahwa Nishio bisa saja menyerang dari belakang, Kaneki langsung berbalik, dan mengambil posisi berdiri dan bersiaga sambil menghadap Nishio. Di saat yang bersamaan, Nishio pun ikut berbalik, mengambil posisi berdiri, dan bersiaga sambil menghadap Kaneki.

"Tega sekali kau menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah"

"Kau pikir aku peduli tentang itu?"

Kaneki yang kembali tersulut emosi karena perkataan Nishio yang terkesan arogan, langsung melesat ke arah Nishio, dan langsung memutar kaki kanannya ke arah pelipis kiri Nishio.

Nishio pun dengan santainya membungkuk sedikit untuk menghindari serangan Kaneki. Namun ...

BUGH

Nishio langsung dibuat terdorong sedikit ke belakang saat baru menegakkan badannya.

Saat Nishio baru saja menghindari serangan Kaneki, Kaneki langsung melompat, dan berputar satu putaran ke arah kiri di udara. Setelah itu, dia langsung melepaskan sebuah tendangan samping saat masih melayang di udara dengan kaki kirinya ke arah dada Nishio.

Kaneki yang sudah kembali menapak tanah dan memasang posisi siaga, langsung berusaha untuk menenangkan kembali emosinya agar tidak mudah dikalahkan oleh Nishio.

Sementara itu, Nishio yang dibuat emosi dengan trik dari Kaneki langsung menyerang Kaneki secara brutal.

Nishio mencoba memukul pipi kiri Kaneki dengan tangan kanannya. Namun, Kaneki hanya membungkuk, dan kembali menegakkan badannya.

Nishio mencoba melompat, dan menghantamkan siku kanannya ke bagian atas kepala Kaneki. Namun Kaneki hanya mengelak ke arah kiri.

Nishio mencoba memukul dari bawah ke arah perut Kaneki menggunakan tangan kirinya. Kaneki pun hanya menghindarinya dengan mengelak ke arah kanan.

Nishio pun mencoba memutar siku kanannya ke arah pipi kiri Kaneki. Kaneki pun kembali membungkukkan badannya, dan kembali menegakkan badannya.

Setelah itu, Nishio pun terus menyerang Kaneki dengan brutal. Kaneki yang sedang berusaha menenangkan emosinya, hanya menghindari semua serangan Nishio. Sampai Nishio akhirnya merasa kelelahan menyerang Kaneki.

"Sudah cukup?"

"Hah hah hah hah"

Nishio yang sedang mengatur nafasnya, langsung terpancing dengan perkataan Kaneki , dan langsung menyerang Kaneki dengan serangan ganda. Serangan itu berupa putaran dari siku kanannya ke arah pipi kiri Kaneki sambil melompat ke arahnya dengan lutut kanan diangkat, dan diarahkan ke perut Kaneki.

BUGH

Melihat itu, Kaneki pun langsung memiringkan badannya sambil melakukan tendangan samping ke arah dada Nishio menggunakan kaki kirinya, dan langsung membuat Nishio terdorong, dan akhirnya terjatuh.

BRUKK

Melihat itu, Rize pun teringat akan Kaneki yang dulu diserang oleh Nishio dengan teknik yang sama seperti yang dia lihat saat ini, sehingga Kaneki terjatuh dengan keadaan seperti yang dialami oleh Nishio saat ini.

Tidak hanya itu, Rize pun dibuat kembali teringat dengan Kaneki saat Nishio berguling beberapa kali ke samping ketika Kaneki mencoba mendekatinya, dan langsung berdiri sambil memasang posisi siaga. Seperti itulah Kaneki menghindar saat dulu perutnya ingin diinjak oleh Nishio setelah dua kali diinjak olehnya.

Setelah itu, Nishio pun langsung berlari ke arah Kaneki dan memutar kaki kanannya ke arah pelipis kiri Kaneki.

Melihat itu, Kaneki langsung menarik kaki kanannya ke belakang dengan posisi ditekuk dan kaki kirinya agak diluruskan. Dengan posisi ini, posisi kepala Kaneki menjadi agak mundur dan sedikit lebih rendah. Karena itu, serangan Nishio hanya lewat di depan Kaneki.

Gagal menyerang pelipis Kaneki, Nishio pun membiarkan kaki kanannya tetap berputar satu putaran ke arah kiri sambil menurunkan kaki kanannya. Sehingga tubuhnya ikut berputar ke arah yang sama. Saat tubuhnya sudah menghadap Kaneki, Nishio langsung memutar kaki kanannya ke arah betis kiri Kaneki.

Melihat itu, Kaneki pun mengangkat kaki kirinya, dan langsung menurunkannya.

Kembali gagal menyerang Kaneki, Nishio pun langsung melepaskan sebuah tendangan samping menggunakan kaki kanannya ke arah kepala Kaneki.

Melihat itu, Kaneki pun langsung menangkis kaki kanan Nishio ke atas menggunakan kedua tangannya yang disilangkan. Setelah itu, dia langsung melempar kaki kanan Nishio ke arah kanan.

Melihat ada kesempatan, Kaneki langsung melepaskan sebuah tendangan samping menggunakan kaki kanannya ke arah paha kiri Nishio sebelum kaki kanannya benar-benar menyentuh tanah.

BUGH

Nishio pun tejatuh dengan posisi tengkurap. Tidak ingin kacamatanya rusak seandainya wajahnya menyentuh tanah, Nishio pun langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya untuk menjauhkan jarak wajahnya dengan tanah sambil menghadapkan wajahnya ke depan.

Dengan posisi seperti itu, Kaneki bisa saja menginjak bagian belakang tubuh Nishio saat dia tidak melihat. Tidak ingin itu terjadi, Nishio langsung berguling beberapa kali ke arah kiri, dan mencoba untuk berdiri walaupun agak kesulitan karena paha kirinya masih sakit akibat ditendang oleh Kaneki tadi. Di saat yang bersamaan, Kaneki mendekati Nishio. Saat Nishio sudah berhasil berdiri, Kaneki pun sudah berada di dekatnya.

Melihat itu, Nishio pun mencoba menangkap kepala Kaneki menggunakan Kedua tangannya, bermaksud untuk membeturkan lututnya ke arah wajah Kaneki.

Kaneki pun mengelak dengan cara membungkukkan badannya, dan langsung melangkah mundur.

Karena masih ingin menyerang Kaneki menggunakan lututnya, Nishio pun melompat ke arah Kaneki dengan lutut kanan yang diarahkan ke perutnya.

Melihat itu, Kaneki pun menangkis paha Nishio dengan kedua tangannya, dan langsung melepaskan serangan ganda ke arah Nishio. Serangan itu berupa pukulan ke arah wajah Nishio dengan tangan kiri Kaneki, bersamaan dengan pukulan ke arah perut Nishio dengan tangan kanannya. Saat memukul, posisi badan dan wajah Kaneki menghadap ke arah kiri.

Nishio pun kesulitan untuk menangkis ataupun menghindar dari serangan Kaneki karena terkejut dan kebingungan dengan serangan ganda dari jarak sedekat itu. Sehingga, Nishio pun harus menerima serangan yang tidak hanya menyakiti badannya, tetapi juga mematahkan kacamatanya.

BUGH/KRAK

Tidak hanya itu, Kaneki pun langsung memukul dada Nishio dengan tangan kirinya sambil melangkahkan kaki kirinya ke depan untuk mempersingkat jaraknya dengan Nishio.

BUGH

Setelah itu, Kaneki pun langsung melepaskan sebuah tendangan samping ke arah dada Nishio dengan kaki kanannya. Sehingga Nishio terdorong ke belakang, dan akhirnya terjatuh.

BUGH

BRUKK

Setelah itu, Kaneki pun mendekati Nishio yang sedang terbaring sambil meringis dan kesulitan untuk bergerak.

Tidak ingin dihajar lagi oleh Kaneki, Nishio pun memutar kaki kanannya ke arah betis kiri Kaneki saat Kaneki sudah berada di dekatnya.

Melihat itu, Kaneki pun langsung melompat mundur. Bersamaan dengan itu, Nishio pun membuang kacamatanya yang patah karena dianggap mengganggunya. Lagipula, Nishio hanya perlu menggunakan kacamata itu untuk membaca dan memudahkannya melihat sesuatu yang agak jauh.

Setelah itu, Nishio pun mencoba bangun walaupun lumayan kesulitan. Saat Nishio baru saja berdiri, Kaneki sudah berada di dekatnya.

Melihat itu, Nishio pun mencoba memeluk pinggang Kaneki sambil membungkukkan badannya. Dia berharap bisa menjatuhkan Kaneki, dan melakukan kuncian.

Namun, Kaneki sudah mengerti dengan teknik seperti ini. Walaupun teknik ini bukan berasal dari ilmu beladirinya, namun, dia sudah diberitahu tentang berbagai serangan yang mungkin saja dikeluarkan oleh musuh. Baik itu dari ilmu beladiri lain, ataupun petarung jalanan.

Karena itu, Kaneki langsung menarik kaki kanannya mundur untuk menjaga jaraknya dengan Nishio sambil membenturkan pangkal telapak tangannya ke arah dahi Nishio yang sedang menghadap ke bawah.

DUAGHH

Sehingga tubuh Nishio langsung terangkat dengan posisi berdiri, dan hampir saja terjatuh dengan posisi telentang. Namun, Kaneki langsung mencengkeram bagian depan baju Nishio, dan langsung mendorongnya ke tembok yang berada di pagar rumahnya.

BRUKK

Setelah itu, dia langsung memukul pipi kiri Nishio dengan tangan kanannya beberapa kali sambil mencengkram bagian depan baju Nishio dengan tangan kirinya.

BUAGHH

BUAGHH

BUAGHH

BUAGHH

Setelah itu, dia langsung membentak Nishio.

"Kau sudah tega meninggalkannya saat sedang mengandung anakmu!" kata Kaneki sambil menunjuk Kimi "Saat dia bertemu lagi denganmu, kau malah tega membunuhnya! Apa kau tidak tahu? Saat kau membunuhnya, bayi dalam kandungannya juga terbunuh!"

"Aku tahu itu"

"Lalu? Kenapa kau membunuhnya? APA KAU TIDAK PUNYA HATI HAH?"

"Sudah aku katakan padamu, aku ... tidak ... peduli"

"Kalau begitu, terimalah ini karena sifatmu yang tidak bertanggung jawab!"

Kaneki pun kembali dibuat emosi oleh perkataan dan ekspresi wajah Nishio yang terlihat arogan.

Karena itu, Kaneki langsung menghantamkan bagian pinggir kepalan tangan kanannya ke arah pipi kiri Nishio setelah mengatakan kalimat tadi.

BUAGHH

"Ini untuk perempuan yang kau bunuh, padahal dia sedang mengandung anakmu!"

Setelah mengatakan itu, Kaneki langsung menghantamkan bagian pinggir kepalan tangan kanannya ke arah pelipis kiri Nishio.

DUAGHH

"Ini untuk bayi tidak berdosa yang ikut terbunuh karena sifat kejimu. Padahal dia belum lahir ke dunia ini!"

Setelah mengatakan itu, Kaneki langsung memutar siku kanannya ke arah pipi kiri Nishio sambil memegang pipi kanan Nishio dengan tangan kirinya.

BUAGHH

"Dan ini, anggap saja bonus dariku"

Setelah mengatakan itu sambil menyeringai, Kaneki langsung menusuk perut Nishio dengan empat jari tangan kanannya dengan sekeras-kerasnya.

"argh"

Kurang dari satu detik setelah itu, Kaneki langsung menarik tangan kanannya sedikit, dan memukul perut Nishio dengan sekeras-kerasnya dengan tangan kanannya.

BUGH/"argh"

Sehingga Nishio pun langsung mengeluarkan darah dari mulutnya. Setelah Kaneki menarik tangan kanannya dari perut Nishio, Nishio pun jatuh dengan posisi tengkurap saat Kaneki mencoba sedikit menjauhinya, dan Nishio pun akhirnya pingsan.

BRUKK

Melihat parahnya kondisi Nishio, Kaneki pun mencoba memastikan bahwa Nishio masih hidup. Kaneki pun mencoba merasakan denyut nadi di leher Nishio dengan dua jari tangan kanannya. Kaneki pun dapat merasakan denyut nadi Nishio yang menandakan bahwa pemuda pirang itu masih hidup.

Setelah itu, Kaneki pun mencoba mencari keberadaan Rize yang sejak tadi bersembunyi di balik tembok yang berada di salah satu sudut rumah Nishio. Saat Kaneki berhasil menemukannya, perempuan itu terlihat sedang duduk sambil memegang kepalanya dengan ekspresi wajah yang terlihat depresi.

Beberapa gerakan dalam perkelahian Kaneki dan Nishio, kemarahan Kaneki dan arogansi Nishio, membuat Rize terus teringat tentang hal buruk yang terjadi pada Kaneki karena ulahnya. Rasa sakit jiwa dan raga yang dirasakan oleh Kaneki, serta keangkuhan Nishio terus terngiang di kepalanya. Dan itu membuat Rize menyesal dan sedih hingga depresi seperti saat ini. Karena depresi yang dirasakannya itu, membuat air matanya mulai keluar dari mata indah yang dihiasi oleh kacamatanya itu.

Kaneki yang melihat keadaan Rize seperti itu, langsung menegurnya.

"Gomen, apakah kau baik-baik saja?"

Mendengar ada yang menegurnya, Rize pun langsung melepaskan kacamatanya, dan langsung membersihkan air matanya dengan tangan kanannya. Setelah itu dia pun memakai kacamatanya kembali, dan menjawab pertanyaan Kaneki yang wajahnya masih tertutup oleh blazer-nya.

" Iya ... aku baik-baik saja"

Cukup dengan tangan Rize yang membersihkan matanya, Kaneki bisa tahu bahwa Rize baru saja menangis. Namun, Kaneki merasa apapun yang membuat Rize menangis bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan. Karena itu, Kaneki memutuskan untuk menanyakan hal lain

"Gomen, apakah kau sudah menghubungi polisi?"

"Belum"

"Sebaiknya, kau segera menghubungi polisi. Agar laki-laki itu bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya"

Setelah Kaneki mengatakan itu sambil menunjuk ke arah Nishio yang sedang pingsan. Rize langsung emosi saat melihat ke arah Nishio. Baginya, Nishio yang sudah membuatnya menyakiti Kaneki. Tidak hanya itu, Rize juga sangat kecewa dengan Nishio, karena dia ternyata sudah memiliki perempuan lain, bahkan mempunyai anak dengan perempuan itu. Ditambah lagi, sifat keji Nishio yang tidak bertanggung jawab, dan dengan tega membunuh perempuan yang hamil anaknya, sehingga seorang anak tidak berdosa bahkan belum lahir ke dunia, sudah harus ikut mati bersama ibunya.

Karena itu, Rize pun langsung mencoba mendekati Nishio untuk menyiksanya. Melihat ekspresi wajah Rize, Kaneki pun yakin bahwa perempuan itu akan melakukan sesuatu kepada Nishio. Karena itu, Kaneki pun mencoba menahannya.

"Nona, apa yang ingin kau lakukan?"

"Minggir! Jangan halangi aku! Biarkan aku memberi pelajaran kepada laki-laki itu!"

"Gomen nona. Tetapi, ada baiknya kita serahkan saja urusan ini ke pengadilan nanti. Lagipula, dia sudah aku hajar habis-habisan tadi"

"Aku rasa itu tidak cukup! Dia sudah tega meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anaknya. Dia juga sudah tega membunuh wanita hamil dan anaknya yang tidak bersalah. Dia juga sudah membuatku menyakiti orang yang sudah sangat baik kepadaku"

"Aku dapat mengerti perasaanmu nona. Namun, ada baiknya kita serahkan dia ke pihak yang berwajib, agar dia bisa diadili sesuai hukum yang berlaku di negeri ini. Lagipula, dia mungkin akan mendapatkan hukuman berupa diborgol saat baru sadar setelah dirawat di rumah sakit. Dan saat dia dipenjara, dia mungkin saja akan dihajar oleh beberapa narapidana di sana. Walaupun dia mempunyai ilmu beladiri, namun, itu mungkin tidak cukup untuk menghadapi beberapa narapidana yang mungkin saja mempunyai kemampuan dari pengalaman bertarung yang sangat banyak"

"Baiklah kalau begitu"

Setelah terdiam sesaat, Rize pun setuju dengan pendapat Kaneki, dan langsung menelepon polisi.

"Halo, pak polisi, bisakah bapak datang ke sebuah rumah di samping *? Telah terjadi pembunuhan dengan korban seorang wanita hamil"

[Baiklah, kami akan segera ke sana]

Setelah Rize menelepon polisi, terlihat Kaneki yang sudah berada di dekat pagar rumah Nishio, dan siap untuk meninggalkan rumah itu. Menyadari itu, Rize pun langsung memanggil Kaneki.

"Hey, kau mau pergi ke mana?"

"Aku masih ada urusan dengan temanku"

"Kau tidak boleh pergi. Aku memerlukanmu sebagai saksi"

"Aku rasa aku tidak perlu menjadi saksi. Di sebuah pisau yang menancap di sana ..." Kaneki menunjuk ke sebuah cabang pohon "ada sidik jari laki-laki pirang yang tadi melakukan pembunuhan dan ada darah dari perempuan yang terbunuh tadi. Aku rasa pisau itu dan kesaksianmu sudah cukup untuk membuktikan bahwa laki-laki pirang itu bersalah.

Lagipula, aku tidak melihat sepenuhnya kejadian saat laki-laki pirang itu melakukan pembunuhan. Sehingga, aku khawatir akan menjadi masalah seandainya aku ikut bersaksi. Karena itu, aku menutupi wajahku. Seandainya aku dipaksa menjadi saksi namun aku berhasil meninggalkan tempat ini, aku tidak akan mudah ditemukan"

Setelah Kaneki mengatakan itu, Rize pun hanya bisa pasrah, dan membiarkan Kaneki pergi.

Setelah meninggalkan rumah Nishio, Kaneki pun melepaskan kupluk dan sarung tangan milik temannya, dan memasukkannya ke dalam kantong belanja yang sempat dia tinggalkan dekat pagar rumah Nishio tadi. Dia juga melepaskan blazer yang tadi dia gunakan sebagai masker. Untungnya, jalanan yang Kaneki lewati saat ini sedang sepi. Sehingga, tidak ada yang melihat saat Kaneki membuka penyamarannya.

Kaneki pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah temannya. Di tengah perjalanan, Kaneki singgah di sebuah toko aksesoris yang masih buka di malam selarut ini. Kaneki merasa tidak enak karena memakai barang milik temannya yang baru dibeli, dan belum dipakai oleh temannya itu.

Karena itu, Kaneki membelikan temannya barang yang sama persis dengan yang baru temannya beli. Untungnya, toko yang Kaneki datangi ini menjual barang yang sama persis dengan barang yang baru temannya beli. Sementara barang milik temannya itu, Kaneki jadikan miliknya, tanpa diketahui oleh temannya.

-To be continued