I Have Changed, Now!
Disclaimer :
Tokyo Ghoul by Sui Ishida
Rate : M (maybe)
Genre : yang jelas Romace Action
Warning : AU, NTR, OOC (maybe), dll (kalo ada).
Pair : Kaneki x Rize, slight Rize x Nishio, slight Kaneki x … (?)
Chapter 4
PLAK
Saat ini, terdengar suara tamparan yang mendarat di pipi kanan seorang gadis.
"Hiks ... kumohon ... hiks ... hentikan" kata gadis itu di sela tangisannya.
Gadis itu sedang disekap di sebuah gudang tua di daerah sepi penduduk. Gadis itu sedang duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki diikat. Gadis itu baru saja ditampar oleh seorang laki-laki.
Tidak hanya sebuah tamparan di wajah, gadis itu juga sudah mengalami berbagai macam siksaan dari laki-laki itu dan dua orang laki-laki lainnya. Mulai dari ditakut-takuti dengan berbagai macam binatang, kakinya dimasukkan ke dalam aquarium berisi sekumpulan batu es secara paksa, tamparan di wajah, sampai dicambuk beberapa kali menggunakan ikat pinggang.
"Hentikan kau bilang? Setelah apa yang dulu kau lakukan padaku?" dari nada bicaranya, dapat diketahui bahwa laki-laki itu sangat marah dengan gadis itu.
"Gomen ne Kaneki-kun ... hiks ... Gomen ne ... hiks" gadis yang sedang disiksa itu hanya bisa menangis, dan meminta maaf sambil menahan rasa sakitnya, tidak lupa menyebutkan nama seseorang yang baru saja menamparnya. Ya, saat ini yang sedang menyiksa gadis itu adalah Kaneki bersama Hide dan sopir pribadinya, Yomo.
"Seenaknya saja kau minta maaf! Dulu, kau memanfaatkanku karena aku kaya dan mencintaimu. Sekarang, kau mau minta maaf. Seharusnya, jika kau tidak mencintaiku, apalagi sudah punya pacar, tidak usah pura-pura mencintaiku! Sekalipun aku menyatakan cinta padamu, kau bisa menolakku secara baik-baik!" Kaneki pun mengatakan kesalahan yang pernah dilakukan oleh gadis itu padanya.
Hanya ada satu gadis yang pernah melakukan kesalahan yang dia sebutkan tadi. Gadis itu tidak lain adalah Rize. Hide dan Yomo pun hanya menonton apa yang sedang Kaneki lakukan kepada Rize saat ini. Sepertinya, mereka sudah cukup puas menakut-nakuti Rize dengan berbagai macam binatang.
"Gomen ne Kaneki-kun ... hiks ... ku akui aku salah ... hiks ... aku telah termakan oleh nafsuku sendiri. Aku khilaf ... hiks" Rize pun hanya bisa kembali menangis sambil berusaha meminta maaf kepada Kaneki.
"Apa yang kau katakan tadi Rize? Kau telah termakan nafsumu sendiri? Kau khilaf? Baiklah kalau begitu ..." kata Kaneki sambil menyeringai.
Setelah itu, Kaneki langsung mendekati sebuah meja untuk mengambil sesuatu di dalam laci meja itu.
Saat Kaneki sudah kembali berada di depan Rize, Rize langsung dibuat terkejut dengan apa yang saat ini berada di tangan kanan Kaneki. Sepertinya, permintaan maaf darinya tadi tidak akan diterima oleh Kaneki
"Ka-Kaneki-kun, a-apa yang ingin ... kau lakukan?" kata Rize yang terdengar mulai panik.
Saat ini, Kaneki sedang memegang sebuah pistol di tangan kanannya, dan langsung mengarahkannya ke arah kepala Rize.
"Gomen ne Rize, aku juga sedang termakan oleh nafsuku sendiri. Dan sepertinya, sebentar lagi aku juga akan khilaf" kata Kaneki sambil menyeringai.
"Ja-jangan" hanya itu yang bisa dikatakan oleh Rize yang saat ini merasa sangat takut.
"Jaa ne, Rize"
DOR
"TIDAAK!!!"
Satu hal yang bagus saat ini adalah kenyataan bahwa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk.
"Hah ... hah ... hah"
Rize pun terbangun dengan napas tersengal-sengal dan tubuh berkeringat. Dia pun meraba-raba seluruh tubuhnya.
"Ternyata ... itu hanya mimpi" gumam Rize.
Setelah memberikan kesaksian kepada polisi dan diwawancarai oleh wartawan, Rize pun diantar dengan mobil polisi ke rumahnya. Ternyata, dia baru sampai di rumahnya pukul 01.00 pagi. Rize pun masuk ke rumahnya tanpa lupa mengunci pintu.
Sejak dari rumah Nishio sampai berada di kamarnya. Rize terus saja teringat akan Kaneki. Dia terus dihantui oleh penyesalan atas apa yang telah dia lakukan kepada laki-laki itu. Rize pun sempat membanding-bandingkan Nishio dengan Kaneki. Baginya, apapun sifat Kaneki yang dulu tidak disukainya, tidak akan seburuk apa yang Nishio lakukan malam ini.
Karena terus memikirkan Kaneki, Rize pun baru tertidur pukul 02.00 dan mengalami mimpi buruk tentang Kaneki, sehingga Rize terbangun dari tidurnya dengan berteriak. Walaupun Rize berteriak, teriakannya tidak membuat kedua orang tuanya terbangun. Mereka telah dibuat kelelahan oleh pekerjaan yang menumpuk bahkan membuat mereka pulang larut malam.
Ditambah lagi, tempat tidur Rize berada di lantai dua rumahnya, sedangkan orang tuanya tidur di lantai satu rumahnya, sehingga mereka tidak bisa mendengar teriakan Rize yang sebenarnya tidak terlalu keras. Rize pun melihat ke arah jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 04.30.
Setelah itu, Rize pun terdiam sebentar karena kembali teringat akan Kaneki. Setelah itu, dia pun mulai menangis.
"Hiks ... gomen ne Kaneki-kun ... hiks ... gomen ne. Maafkan aku ... yang telah memanfaatkanmu ... hiks ... Maafkan aku ... yang telah melukai hatimu. Gomen ne Kaneki-kun ... hiks ... gomen ne" gumam Rize di sela tangisannya.
Di sela tangisannya, Rize terus saja mengingat Kaneki. Setiap kejahatannya kepada Kaneki, setiap ekspresi wajah Kaneki, dan setiap kata-kata dari Kaneki terus saja teringat di pikiran Rize. Terutama kata-kata Kaneki di hari hubungan mereka berakhir, dan kata-kata yang ada dalam mimpinya.
'Rize-chan ... kumohon, jangan putuskan hubunganmu denganku!'
'Baiklah Rize, jika kau sudah yakin dengan keputusanmu, maka, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga kau tidak menyesali keputusanmu itu, Rize'
'Seharusnya, jika kau tidak mencintaiku, apalagi sudah punya pacar, tidak usah pura-pura mencintaiku! Sekalipun aku menyatakan cinta padamu, kau bisa menolakku secara baik-baik!'
Dan semua ingatannya tentang Kaneki membuatnya terus memegangi kepalanya, sehingga dia pun pada akhirnya mengeluarkan ekspresi yang terlihat sangat kesal. Sebuah keputusan pun terucap di dalam hatinya.
'Cukup sudah! Aku sudah tidak tahan lagi! Aku harus mencari keberadaan Kaneki-kun, dan meminta maaf padanya. Walaupun Kaneki-kun mungkin saja membalas dendam kepadaku, walaupun dia mungkin saja melakukan apa yang ada dalam mimpiku, ataupun sesuatu yang lebih buruk dari itu, aku tidak peduli!
Yang penting aku bisa menebus semua kesalahanku kepada Kaneki-kun, aku tanggung semua resikonya!'
Setelah itu, dia pun mencoba mencari smartphone-nya, bermaksud untuk menghubungi Kaneki. Namun, saat baru saja memegang smartphone-nya, Rize langsung tersentak karena teringat sesuatu yang membuatnya kesal kepada dirinya sendiri.
'Oh iya, aku baru ingat. Dulu, aku dengan sengaja mengganti nomor telponku karena tidak ingin lagi ada hubungan dengan Kaneki-kun. Secara otomatis, nomor telpon Kaneki-kun dan beberapa orang terdekatnya tidak lagi kusimpan. Kalau sudah begini, bagaimana caraku menemukannya?' ucap Rize di dalam hati.
Rize pun berpikir sebentar untuk mencari cara agar bisa menemukan Kaneki.
'Sepertinya, satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah meminta bantuan Hide. Walaupun nomor telponnya juga sudah tidak lagi kusimpan, setidaknya, aku masih bisa bertemu dengannya di sekolah' gumam Rize di dalam hati.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya ragu untuk melakukan apa yang tadi dia rencanakan.
'Tapi, apakah mungkin Hide mau membantuku? Mengingat dia adalah teman baik baik dari Kaneki-kun. Dia adalah satu-satunya orang di kelasku yang tidak percaya dengan fitnahku kepada Kaneki-kun.' gumam Rize sambil mengingat kembali kemarahan Hide saat Kaneki difitnah olehnya.
Namun, dia langsung menyingkirkan keraguannya itu. Dia sudah bertekad sebelumnya, bahwa dia siap untuk menanggung semua resiko asalkan bisa bertemu dengan Kaneki dan meminta maaf padanya.
Setelah membulatkan tekadnya, Rize pun melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Sepertinya, sudah cukup banyak waktu yang Rize habiskan hanya di atas kasur sejak bangun tidur.
Karena merasa masih memiliki banyak waktu, Rize pun memutuskan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang bisa dia lakukan. Setelah selesai, Rize pun mandi, memakai seragam sekolah, sarapan, dan melakukan persiapan lainnya untuk pergi ke sekolah.
Namun, saat sudah keluar rumah setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Rize dibuat terdiam saat menatap pagar rumahnya. Dia teringat kembali saat menipu Kaneki dulu. Ingatan masa lalu membuatnya seakan melihat dirinya sendiri dalam bentuk bayangan masa lalunya.
"Kaneki, sebenarnya, aku mencintaimu! Sejak awal aku melihatmu, aku sudah mulai tertarik padamu, aku harap, kau menerima cintaku, Kaneki-kun" kata Rize sambil memeluk Kaneki dalam bayangannya.
Rize pun tertunduk karena mengingat betapa jahatnya dia kepada Kaneki.
'Aku sangat licik dan munafik! Hanya untuk menipunya, aku sampai memeluk dan menciumnya walaupun aku tidak mencintainya, walaupun aku sudah memiliki kekasih. Dan aku melakukanya hanya untuk materi' gumam Rize di dalam hatinya
Dia pun dibawa oleh ingatannya sendiri untuk melihat ke arah pintu rumahnya. Ingatannya juga membuatnya melihat bayang-bayang dirinya sendiri yang sedang berlari ke arah pintu rumahnya. Dan karena ingatannya itu, pintu rumahnya seakan tembus pandang, sehingga dia bisa melihat bayang-bayang dirinya yang sedang membersihkan dirinya menggunakan telapak tangannya.
Setelah itu, Rize pun melanjutkan perjalanannya menuju sekolahnya, mengabaikan bayangan dari ingatannya itu.
Namun, saat Rize berada di depan gerbang sekolahnya, ingatannya kembali membuatnya seakan-akan melihat bayangan masa lalu lalunya sendiri.
Terlihat oleh Rize, bayangan dirinya saat sampai di sekolah menggunakan mobil bersama Kaneki. Saat itu adalah hari pertama untuk Rize ke sekolah bersama Kaneki sebagai sepasang kekasih. Saat itu, Kaneki terlihat malu-malu saat Rize memeluk tangan kanannya dengan sangat manja.
'Jika kuingat lagi, sifatmu yang pemalu itu membuatmu terlihat sangat manis' gumam Rize di dalam hatinya sambil tersenyum saat mengingat sifat Kaneki yang pemalu.
'Jahat sekali aku saat itu! Aku malah menganggap hal kecil seperti itu sebagai sesuatu yang hina. Sampai-sampai sifat Kaneki itu kujadikan alasan untuk memutuskan hubungan dengannya!' gumam Rize lagi di dalam hatinya sambil tertunduk karena mengingat kembali kesalahannya kepada Kaneki.
Setelah itu, Rize pun melanjutkan perjalanan menuju kelasnya. Ternyata, baru dirinya yang ada di kelas karena dia datang ke sekolah cukup pagi. Rize pun hanya duduk sambil melamun dan sesekali melihat ke arah pintu masuk untuk menunggu kedatangan Hide.
Setelah beberapa teman sekelasnya datang, Rize langsung mendapatkan beberapa pertanyaan dari teman-temannya tentang kejadian pembunuhan yang baru saja terjadi tadi malam. Tentu saja mereka bertanya kepada Rize karena Rize ada di sana saat kejadian itu.
Rize pun menjawab pertanyaan dari teman-temannya itu dengan sedikit tambahan kebohongan. Rize tidak ingin ada yang tahu bahwa dia adalah pacar dari seorang pembunuh.
Setelah menjawab pertanyaan dari teman-temannya, Rize pun kembali menunggu Hide. Namun, yang ditunggu belum juga datang. Padahal bel pertanda jam pelajaran dimulai akan berbunyi sekitar 5 menit lagi, dan hanya Hide teman sekelasnya yang belum datang.
Karena sudah tidak bisa lagi menunggu, Rize pun memutuskan keluar kelas untuk mencari Hide. Dia berharap bisa bertemu dengan laki-laki itu.
Sementara itu, seorang laki-laki berambut pirang dengan sebuah earphone bergantung di lehernya baru saja masuk gerbang sekolah dengan ekspresi wajah yang terlihat malas.
~Hide's POV~
Ya ampun! Aku sedang malas sekali ke sekolah hari ini! Ada beberapa tugas yang baru saja kukerjakan tadi malam, sehingga aku kekurangan tidur tadi malam. Salah satunya juga mata pelajaran yang sulit. Ditambah lagi, mata pelajaran hari ini cukup menguras otakku.
Satu lagi yang membuatku malas untuk ke sekolah hari ini, karena aku harus bertemu lagi dengan seorang gadis yang membuatku kesal di kelas. Sebelumnya, aku sangat senang berada di kelasku yang sekarang ini. Karena bisa satu kelas dengan teman SMP-ku, Kaneki Ken.
Tapi, setelah Kaneki pindah sekolah dan aku mengetahui apa yang dilakukan oleh gadis itu kepada Kaneki, aku menjadi malas datang ke sekolah. Ditambah lagi, semua temanku yang lain malah percaya kepada gadis itu.
"HIDE-KUUUN!!"
Nah, ini dia gadis yang kumaksud. Gadis yang sudah menghianati Kaneki dan juga memfitnahnya, Rize Kamishiro. Rasanya, ingin sekali aku berbalik saat melihatnya. Tapi, aku sadar bahwa sebentar lagi jam pelajaran pertama akan dimulai, dan aku sekelas dengannya.
Entah untuk apa dia memanggilku, sampai harus berlari ke arahku seperti itu. Tapi, ya sudahlah.
~Hide's POV end~
Saat Rize baru beberapa langkah keluar dari kelas, dia langsung melihat orang yang sudah dia tunggu sejak tadi keluar dari sebuah belokan. Melihat itu, Rize pun langsung memanggilnya, dan berlari menghampirinya.
"HIDE-KUUUN!!"
Melihat itu, Hide pun hanya menatap malas ke arah Rize.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Hide dengan malasnya.
Rize langsung dibuat ragu dengan ekspresi wajah dan nada bicara Hide. Namun, dia langsung menghilangkan keraguannya itu.
"Ano ... Hide-kun ... "
"Aku bukan kekasihmu, bisakah kau hilangkan suffix -kun itu?" kata Hide yang langsung memotong perkataan Rize karena merasa risih dengan cara Rize memanggilnya.
"Lupakan itu! Yang penting sekarang, bisakah kau membantuku?" kata Rize yang merasa kesal dengan Hide karena memotong perkataannya.
"Entahlah, sepertinya sebentar lagi bel masuk berbunyi" kata Hide yang kembali terdengar malas.
Rize pun melihat jam tangannya dan kembali berbicara dengan Hide.
"Masih ada waktu sekitar 3 menit. Setidaknya, dengarkan dulu permintaanku!" balas Rize.
"Baiklah, memangnya kau ingin aku melakukan apa?" kata Hide yang masih terlihat malas.
"Bisakah kau beritahu aku di mana Kaneki-kun sekolah?"
Mendengar itu, ekspresi wajah Hide langsung berubah. Hide terlihat tidak senang dengan pertanyaan dari Rize tadi.
"Untuk apa kau menanyakan sekolah Kaneki? Apa kau ingin menyakitinya seperti dulu?" tanya Hide dengan ekspresi wajah yang terlihat dingin.
"Bukan itu yang ingin aku lakukan" sahut Rize.
"Lalu?" Hide kembali bertanya.
"Aku ingin meminta maaf kepadanya. Aku sudah menyesali semua kesalahanku kepadanya. Apakah kau sudah mendengar berita pembunuhan tadi malam?" kata Rize.
"Aku tahu berita itu. Berita itu menjadi perbincangan hangat di televisi pagi tadi. Salah satu hal yang membuat berita itu menjadi ramai diperbincangkan adalah karena ada orang yang berhasil menghajar pelaku pembunuhan, tetapi, malah meninggalkan tempat kejadian.
Bukankah kau ada di sana saat kejadian?" sahut Hide yang mengingat kembali tentang salah satu hal yang dia anggap menarik dari berita tadi pagi, tanpa dia ketahui bahwa orang yang menghajar pelaku pembunuhan itu adalah temannya sendiri.
"Itu benar, aku memang berada di sana saat kejadian pembunuhan itu. Dan satu hal yang harus kau tahu, orang yang melakukan pembunuhan itu adalah orang yang sudah menjadi kekasihku sebelum aku menjadi kekasih Kaneki-kun" kata Rize dengan ekspresi wajah yang mulai terlihat sedih.
Mendengar itu, Hide sempat terkejut karena mengetahui orang yang sudah melakukan pembunuhan adalah kekasih Rize. Namun, rasa terkejutnya langsung menghilang karena mengingat cerita Kaneki tentang Rize yang dulu sudah memiliki kekasih sebelum dirinya, dan karena sebuah pendapat darinya.
"Heh ... ternyata laki-laki itu yang sudah membuatmu menghianati Kaneki. Laki-laki brengsek seperti itu memang cocok untukmu! Bagiku, kalian berdua itu tidak jauh berbeda!" kata Hide dengan sinisnya dan dengan ekspresi wajah menyeringai.
Ekspresi wajah dan perkataan Hide secara perlahan membuat Rize menangis. Perkataan Hide tadi cukup menyakitkan baginya. Namun, dia mencoba untuk berhenti menangis. Karena baginya dia memang sudah cukup jahat kepada Kaneki, dan pantas menerima perkataan seperti itu.
Di sela tangisan Rize, bel pertanda jam pertama dimulai pun berbunyi. Mendengar itu, Hide pun memasukkan earphone di lehernya yang tersambung dengan smartphone di saku celananya ke dalam tas, akan terlihat sangat aneh baginya jika membiarkan benda itu bergelantungan di lehernya selama jam pelajaran.
Sebenarnya, dia ingin sekali segera meninggalkan Rize yang sedang menangis karena mengingat kesalahan Rize. Namun, ada sesuatu yang membuat Hide sulit untuk melakukannya.
"Hey, sebaiknya kau berhenti menangis. Bagaimana kalau nanti ada yang mengira aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?" kata Hide.
Mendengar itu, Rize pun membersihkan kacamatanya yang basah karena air matanya dengan bagian bawah bajunya, dan membersihkan matanya dengan punggung tangannya.
"Begini saja, jika kau memang ingin tahu di mana sekolah Kaneki, aku akan memberitahu kepadamu. Namun, ada syarat yang harus kau penuhi" kata Hide.
"Benarkah? Apa syaratnya?" kata Rize yang mulai terlihat senang.
Namun, sebelum Hide sempat mengatakan sesuatu, seorang guru tiba-tiba menegur mereka. Guru itu adalah guru yang mengajar di jam pelajaran pertama di kelas Rize dan Hide.
"Hey, apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini? Cepat masuk kelas! Bel masuk sudah berbunyi dari tadi" kata guru itu.
"Baik sensei!" kata Hide dan Rize bersamaan.
Setelah itu, mereka pun berjalan ke kelas bersama guru mereka di belakangnya.
"Masalah yang tadi akan kita bicarakan lagi nanti" kata Hide sambil berjalan menuju kelasnya.
"Baiklah Hide" kata Rize yang berjalan di sampingnya.
Setelah sampai di kelas, mereka pun mengikuti pelajaran seperti biasa hingga jam istirahat tiba. Setelah bel istirahat berbunyi, semua murid di kelas Rize pun keluar dari kelas, kecuali dirinya dan Hide. Rize pun menghampiri Hide untuk menanyakan syarat yang dimaksud oleh Hide tadi.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memberitahu di mana sekolah Kaneki sekarang?" tanya Rize kepada Hide.
"Sederhana saja, kau hanya perlu melakukan dua hal. Pertama, jelaskan kepada seluruh teman sekelas kita bahwa bukan Kaneki yang bersalah atas putusnya hubungan kalian berdua.
Kedua, katakan pada semuanya bahwa orang yang melakukan pembunuhan di depan matamu tadi malam adalah orang yang sudah menjadi kekasihmu sebelum menjadi kekasih Kaneki. Bagaimana? Apakah kau sanggup?" kata Hide yang memberikan syarat kepada Rize.
Rize pun terdiam karena mendengar syarat yang diberikan oleh Hide. Walaupun syarat yang pertama bisa saja membuatnya dihujat oleh teman-temannya, tetapi, Rize sadar bahwa dirinya yang salah sudah menyakiti perasaan Kaneki, dan memfitnahnya setelah pindah ke sekolah lain. Karena itu, dia masih bisa menerima resiko yang akan dia terima seandainya menerima syarat yang pertama.
Tetapi, syarat kedua dari Hide yang terasa lebih meragukan untuk dilakukan oleh Rize. Jika dia dihujat karena kesalahannya sendiri, dia masih bisa terima. Namun, menjadi kekasih dari seorang pembunuh seperti Nishio bukanlah keinginannya. Karena itu, dia tidak yakin bahwa dirinya akan sanggup menerima hujatan dari teman-temannya yang mengetahui bahwa dirinya adalah kekasih dari seorang pembunuh.
Dan jika dia menerima syarat pertama dan kedua, maka, Rize harus siap untuk menerima kebencian yang merupakan gabungan dari akibat kedua syarat yang Hide berikan tadi. Karena itulah, Rize termenung saat ini.
"Kenapa? Apakah kau ragu? Apakah kau takut akan dibully oleh teman-teman kita karena syaratku tadi?" kata Hide yang seakan bisa membaca pikiran Rize.
"Apakah tidak ada syarat lain, Hide? Semua yang terjadi tadi malam sudah membuatku sangat menyesal. Pertarungan antara kekasihku dengan seseorang yang menghajarnya tadi malam membuatku terus teringat dengan Kaneki.
Beberapa gerakan mereka, kemarahan orang misterius itu, dan kesombongan kekasihku membuatku terus teringat dengan Kaneki. Aku pun sadar bahwa apapun sifat Kaneki yang sempat kuanggap kekurangan tidak akan seburuk apa yang telah dilakukan oleh kekasihku tadi malam.
Bahkan sekarang, beberapa sifat yang dimiliki olehnya membuat dirinya terlihat sangat manis. Dan juga, aku sangat yakin bahwa Kaneki tidak akan mungkin melakukan apa yang sudah dilakukan kekasihku tadi malam"
"Tentu saja dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu! Dia itu sangat polos! Walaupun sekarang sifatnya cukup berubah, tapi, aku sangat yakin bahwa Kaneki tidak akan melakukan hal sebodoh itu!" kata Hide yang secara tiba-tiba memotong penjelasan panjang lebar dari Rize.
Sebenarnya, Rize masih ingin menceritakan mimpi buruknya yang berisi penyiksaan Kaneki kepadanya. Tetapi, dia dibuat merasa penasaran saat Hide mengatakan bahwa Kaneki sudah berubah.
"Tunggu dulu, Hide! Apa yang kau maksud dengan berubah?" kata Rize yang merasa penasaran.
"Ya, Kaneki sudah berubah, dan aku yakin itu semua karena kau!" Hide menunjuk Rize "Sifatnya menjadi lebih dingin sekarang. Tadi malam, aku bertemu dengannya saat menghadiri acara reuni dengan teman SMP kami dulu.
Dulu, walaupun Kaneki tidak banyak bicara dengan orang yang baru dikenalnya, setidaknya Kaneki akan memberikan sebuah senyuman untuk orang yang menyapanya. Sekarang, Kaneki hanya mengucapkan kalimat balasan yang sesuai dengan cara orang menyapanya sambil melambaikan tangannya"
Rize pun kembali dibuat menyesali kesalahannya kepada Kaneki saat Hide mulai menyebutkan salah satu perubahan sifat Kaneki.
"Dulu, Kaneki akan tertawa jika ada sesuatu yang sangat lucu, walaupun tidak sampai terbahak-bahak. Tetapi sekarang, jangankan sebuah tawa, sebuah senyuman saja tidak pernah lagi terlihat di wajahnya"
Rize pun semakin menyesal dan sedih saat Hide kembali menyebutkan perubahan sifat Kaneki. Hide memang hanya menyebutkan dua perubahan pada sifat Kaneki. Namun, karena Rize sudah dibuat menyesal oleh beberapa hal yang sudah terjadi, dia pun sadar bahwa dirinya memang sangat bersalah kepada Kaneki
"Jika kau berpikir syarat dariku tadi terlalu berat untukmu, maka kau harus ingat, kesalahanmu kepada Kaneki itu sangat besar! Dan segala akibat yang akan kau terima nanti adalah penebus dari kesalahanmu. Sekarang terserah kepadamu, kau mau menerima syarat dariku atau tidak"
Setelah mendengar penjelasan dari Hide, Rize pun yakin untuk menerima syarat darinya. Baginya, apa yang dikatakan oleh Hide itu benar. Dia memang bersalah kepada Kaneki, dan dia harus menebusnya.
"Baiklah, aku terima syarat darimu" kata Rize.
"Baguslah kalau begitu. Sebenarnya, aku ingin menyuruhmu melakukan isi dari syaratku tadi di kantin. Tapi, aku tidak ingin mengganggu nafsu makan semua orang yang ada di kantin. Jadi, kau harus melakukan isi dari syaratku tadi pada saat pulang sekolah nanti. Jika kau sudah memenuhi syarat dariku, akan kuberitahu di mana sekolah Kaneki yang sekarang, kau mengerti?" kata Hide.
"Baiklah, aku mengerti" sahut Rize.
Karena merasa sisa waktu istirahat masih cukup untuk mengisi perut mereka, Hide pun pergi ke kantin disusul oleh Rize. Sebelum pergi ke kantin, Rize sempat melihat ke arah ke arah tempat duduk yang dulu menjadi tempat duduk Kaneki.
Bayang-bayang wajah Kaneki kembali terlihat olehnya. Namun, dia tidak bersedih saat melihat bayang-bayang wajah Kaneki. Karena bayang-bayang wajah Kaneki terlihat tersenyum sebelum akhirnya menghilang. Rize pun dibuat ikut tersenyum melihatnya.
'Aku harap kita bisa bertemu lagi, dan aku bisa menebus semua kesalahanku kepadamu, Kaneki-kun' gumam Rize di dalam hatinya.
-To be continued
A/N : Jika ada yang bertanya kenapa saya tidak menuliskan adegan saat Rize memenuhi syarat dari Hide, itu karena saya ragu. Sebenarnya adegan itu sempat ada di kepala saya, tapi, adegan yang ada di kepala saya terasa kurang menarik dan masih terlalu pendek. Saya juga belum mendapatkan ide agar bagian itu bisa cukup menarik.
Lagipula, fanfic ini saya sadari sudah lama belum update. Saya merasa kurang nyaman jika harus memikirkan bagian saat Rize memenuhi syarat dari Hide, sementara fanfic ini sudah lama tidak di update.
Jadi, sampai sini dulu chapter kali ini. Saya memohon maaf apabila ada kekurangan dalam pembuatan fanfic ini, baik di chapter ini ataupun di chapter lainnya.
Terakhir, terima kasih sudah membaca.
