I Have Changed, Now!

Disclaimer :

Tokyo Ghoul by Sui Ishida

Rate : M (maybe)

Genre : yang jelas Romace Action

Warning : AU, OOC (maybe), dll (kalo ada).

Pair : Kaneki x Rize, slight Rize x Nishio, slight Kaneki x … (?)

Chapter 5

Aogiri Highschool, sekolah baru Kaneki setelah pindah dari sekolahnya yang bernama Kiyomi Highschool, sekolah yang dulu mempertemukannya dengan Rize.

Tidak ada yang istimewa saat beberapa hari pertama Kaneki bersekolah di sini. Bahkan mungkin hari-hari pertama Kaneki terasa kurang menyenangkan.

Itu karena sifat dingin Kaneki yang sangat pendiam dan tidak pernah terlihat tersenyum di sekolah itu. Ditambah caranya yang hanya sesekali menatap mata dan lebih sering melihat ke arah novel yang dia baca setiap ada gadis yang berbicara dengannya, sehingga dia sempat diejek dengan sebutan sok keren oleh beberapa teman sekelasnya.

Sebenarnya, Kaneki ingin membatasi pandangan matanya terhadap para gadis agar tidak mudah jatuh cinta. Kaneki tidak ingin cinta menjadi pengganggunya dalam meraih cita-citanya. Karena itu dia hanya sesekali menatap mata para gadis saat berbicara dengannya. Kaneki juga memilih novel yang hampir tidak mempunyai unsur percintaan saking tidak inginnya memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan cinta.

Selain untuk cita-cita, Kaneki juga ingin menghindari sesuatu yang berhubungan dengan cinta karena khawatir dengan kemungkinan buruk jika dia sampai jatuh cinta dan pacaran di usianya yang sekarang. Bisa saja hubungannya dengan pacarnya nanti akan berakhir sebelum dia dewasa dan akhirnya dia bisa saja membenci mantan kekasihnya, seperti rasa benci kepada Rize yang dulu ada di hatinya. Kaneki tidak ingin rasa benci seperti itu kembali hadir di hatinya.

Dia memang akan membuka hatinya, tapi nanti bukan sekarang.

Kaneki pun membiarkan semua ejekan dari beberapa temannya itu. Selain karena nasihat dari Yoshimura untuk bersabar, rasa sakit hati Kaneki atas penghianatan Rize kepadanya juga seakan menutup telinganya, sehingga semua ejekan yang dia terima hanya dia anggap sebagai angin lalu. Penghianatan Rize itu juga yang membuatnya tidak lagi terlihat mengeluarkan senyuman seperti dulu.

Perlahan, kesabaran Kaneki mulai menjadi daya tarik bagi beberapa gadis di kelasnya. Ditambah sifat Kaneki yang dingin sehingga membuat beberapa gadis penasaran dengannya. Menurut beberapa gadis, pemuda yang memiliki rambut putih itu sebenarnya memiliki wajah yang cukup tampan.

Para gadis di sekolah itu mungkin akan semakin tertarik dengan Kaneki seandainya mereka tahu bahwa Kaneki adalah anak dari pengusaha terkaya ke-10 di Tokyo, tapi Kaneki tidak ingin mereka mengetahui kekayaan dari keluarga Kaneki karena dia tidak ingin menjadi orang yang sombong. Para guru pun hanya sedikit yang tahu tentang latar belakang keluarga Kaneki, Kaneki pun meminta kepada mereka untuk merahasiakan tentang latar belakang keluarganya.

Waktu pun terus berjalan, perlahan kecerdasan Kaneki di bidang akademik mulai meningkat setelah lebih dari satu bulan belajar di sekolah barunya ini. Kecerdasannya itu adalah bagian dari hasil belajarnya yang serius baik di sekolah ataupun di rumahnya.

Kaneki sebenarnya ingin menyembunyikan kecerdasannya ini agar tidak mudah sombong, tapi itu bukanlah hal yang mudah. Kaneki bisa saja meminta para guru yang terkadang menyebutkan nilai saat pembagian hasil tugas untuk tidak menyebutkan nilainya.

Sayangnya, Kaneki tidak bisa menyembunyikan kecerdasannya itu saat beberapa kali ada tugas praktek di mata pelajaran tertentu. Jika ada tugas praktek, tentu Kaneki harus memperlihatkan kecerdasan akademiknya agar nilainya bisa dimasukkan ke daftar nilai praktek. Kaneki pun membiarkan kecerdasannya ini terlihat oleh para murid dan guru tanpa menyembunyikan ataupun memperlihatkan kecerdasannya ini secara sengaja.

Beberapa gadis pun semakin tertarik dengan Kaneki karena kecerdasannya, apalagi saat Kaneki diketahui mendapatkan peringkat ke-2 saat pengumuman hasil belajar di semester pertama. Walaupun hanya peringkat ke-2, sifat Kaneki yang dingin dan sabar saat diejek serta kecerdasan yang sebelumnya mulai terlihat membuatnya cukup populer dengan prestasi yang dia miliki saat ini. Bukan hanya di kelasnya, Kaneki juga populer di kalangan murid kelas lain sesama kelas satu di sekolahnya.

Kepopuleran Kaneki semakin meningkat setelah dia memenangkan sebuah turnamen beladiri walaupun hanya juara ke-3. Prestasi Kaneki itu adalah hasil dari latihannya di sebuah perguruan beladiri dan di rumahnya setiap ada waktu luang.

Berita tentang prestasi Kaneki itu disebarkan oleh teman sekelas Kaneki yang tidak cukup akrab dengan Kaneki dan tidak Kaneki sadari kehadirannya saat pertandingan sampai pengumuman juara dari turnamen beladiri yang dia ikuti saat sekolah sedang libur.

Karena sangat sering mengisi waktu luangnya untuk berlatih beladiri dan belajar, perlahan Kaneki mulai melupakan rasa sakit akibat penghianatan yang telah Rize lakukan. Jika sebelumnya dia bersabar saat diejek karena pikirannya teralihkan oleh kekecewaan terhadap penghianatan Rize, alasannya untuk bersabar pun berubah menjadi karena hati dan pikirannya telah dialihkan oleh kebiasaannya berlatih beladiri dan belajar dengan sangat serius di waktu luangnya.

Walaupun rasa sakit di hatinya kepada Rize sudah mulai menghilang, Kaneki masih saja belum bisa mengeluarkan senyuman seperti dulu. Hati dan pikiran yang tertutup oleh kebiasaan di waktu luangnya itu yang membuatnya masih belum bisa mengeluarkan senyuman seperti dulu.

Beberapa orang yang sebelumnya mengejeknya mulai berhenti mengejeknya karena melihat prestasi Kaneki.

Kepopuleran Kaneki pun semakin meningkat karena prestasi, kecerdasan, daya tarik dari sifat dingin, kesabaran, dan tidak lupa wajah tampan yang menjadi pelengkap dari daya tariknya di mata para gadis di sekolah ini, sehingga banyak gadis yang menaruh hati kepadanya. Beberapa gadis yang merasa tertarik dengan Kaneki pun mencoba mendekatinya dengan cara mengajaknya makan bersama saat jam istirahat di kantin.

Awalnya, Kaneki menerima ajakan dari beberapa gadis itu. Namun, Kaneki mulai dibuat risih dengan cara beberapa gadis itu menggodanya saat kali kedua mereka mengajaknya makan bersama di kantin.

Awalnya, salah satu gadis hanya sekedar menyuapi Kaneki dengan sesumpit makanan. Lama-kelamaan, beberapa gadis mulai bersifat lebih agresif kepadanya. Mulai dari bersandar di bahu Kaneki, mencoba menggenggam tangannya, memeluk tangannya, memeluk tubuhnya, bahkan sampai ada yang nekat, sehingga hampir saja mencium Kaneki seandainya mulutnya tidak ditahan oleh telapak tangan Kaneki.

Mungkin hal seperti itu adalah sesuatu yang menyenangkan bagi banyak laki-laki, tapi tidak untuk Kaneki. Bukan karena Kaneki menyukai sesama jenis, justru karena Kaneki masih normal dia merasa risih. Sifat agresif dari para gadis itu bisa saja membuatnya tertarik dengan salah satu atau mungkin mereka semua sekaligus, hal itu menjadi gangguan untuk Kaneki.

Keinginan untuk tidak diganggu dalam meraih kesuksesan dan kekhawatiran akan kehadiran rasa benci karena sakit hati kepada orang yang sempat dicintai membuatnya ingin menjaga jarak dengan para gadis itu.

Karena itu, Kaneki pun mulai berhenti menerima ajakan para gadis untuk makan bersama di kantin dan lebih memilih membawa bekal dari rumahnya untuk dimakan di perpustakaan. Para gadis yang ingin mengajak Kaneki makan bersama di kantin ditolak baik-baik olehnya.

Waktu pun terus berjalan dan ada sesuatu yang terlambat diketahui oleh Kaneki.

Tepat saat hari pertama di semester kedua di sekolah Kaneki, ada seorang murid baru di kelas yang bersebelahan dengan kelas Kaneki. Murid itu merupakan anak dari pengusaha kelahiran Jepang yang sukses di Prancis, sehingga dapat disimpulkan bahwa murid itu adalah anak dari orang kaya.

Yang menjadi masalah adalah sifat orang itu yang suka mem-bully dan juga iri dengan kepopuleran Kaneki. Dia juga menggunakan kekayaannya untuk membayar murid lain yang bisa diandalkan jika ada yang melawannya saat mem-bully siswa lain.

Kaneki baru menyadari kehadiran murid baru itu di hari ke-6 dia bersekolah di sekolah itu saat murid baru itu sedang mem-bully siswa lain dan mendorong badannya, Kaneki di sana saat itu dan menahan tubuh korban bully itu menggunakan tangannya.

Saat Kaneki menanyakan apa yang sedang terjadi, teman dari murid baru itu mengatakan kepada Kaneki untuk tidak ikut campur, sementara siswa yang lain menjelaskan tentang semua hal yang diketahuinya tentang siswa baru itu.

Walaupun Kaneki cukup pendiam, dia merasa tidak bisa diam saja saat perilaku yang cukup meresahkan orang lain ini terjadi di depan matanya. Karena itu, Kaneki mencoba untuk menasihati murid baru itu dan teman-temannya agar tidak mem-bully orang lagi.

Sayangnya, Kaneki malah dipukul oleh teman dari murid baru itu yang mempunyai tinggi badan lebih dari sejengkal di atas kepalanya. Untungnya, Kaneki bisa menangkis pukulan dari murid berbadan besar itu. Kebetulan, ada seorang guru yang tiba-tiba menegur Kaneki dan murid itu, sehingga perkelahian antara Kaneki dan murid berbadan besar itu tidak benar-benar terjadi.

Dan hari ini, tepat sehari setelah Kaneki hampir saja berkelahi dengan teman dari murid baru itu. Kebetulan sekali, hari ini adalah hari di mana Rize dihantui rasa penyesalan kepada Kaneki dan berusaha mencari keberadaan pemuda berambut putih itu.

Kaneki baru saja keluar dari kelasnya ke perpustakaan untuk memakan bekal yang sudah dia bawa dari rumahnya. Saat baru melewati sebuah kelas, Kaneki yang sedang membaca novel sambil berjalan sudah dihampiri oleh beberapa gadis yang kembali ingin mengajaknya makan bersama di kantin.

Kaneki pun menolak mereka secara baik-baik dengan cara berbicara seperti biasa, menatap mata mereka sekilas dan kembali membaca novelnya sambil berbicara. Tidak lupa dengan ekspresi wajah yang sangat datar.

"Kaneki-kun, apakah kau mau makan bersama kami di kantin kali ini?" kata salah satu gadis.

"Gomen, aku sedang tidak bisa untuk hari ini, mungkin lain kali." kata Kaneki.

"Ayolah Kaneki-kun! Sebelumnya kau juga bilang lain kali, sekarang kau juga bilang begitu! Lalu kapan Kaneki-kun?" kata gadis lain yang terdengar kesal setelah mendengar ajakan temannya ditolak.

"Gomen, nona ..." Kaneki membungkuk sedikit, "aku sedang tidak bisa untuk sekarang. Kuharap kalian bisa mengerti" kata Kaneki.

"Baiklah, Kaneki-kun." kata gadis itu dengan pasrah.

Setelah itu, Kaneki pun kembali berjalan melewati beberapa gadis itu. Namun ...

"KANEKI-KUN, AWAS!!!"

Sebuah teriakan dari seorang gadis membuatnya menoleh dan langsung menghindar ke arah kanan saat sebutir telur tiba-tiba melayang ke arahnya.

"HEY!!!"

Terdengar sebuah suara teriakan yang ternyata berasal dari siswa yang kemarin gagal menghajar Kaneki. Dia terlihat marah dan berlari ke arah gadis yang tadi memberikan peringatan kepada Kaneki. Melihat itu, Kaneki pun dengan sigap berlari melewati gadis itu dan menghalangi siswa berbadan besar itu.

"Gomen, kenapa kau terlihat marah?" tanya Kaneki.

"Dia yang tadi melempar telur ke arahmu, sepertinya dia marah kepadaku karena memperingatkanmu." kata gadis yang tadi memperingatkan Kaneki.

"Kalau begitu pergilah bersama teman-temanmu. Biarkan ini menjadi urusanku." kata Kaneki dengan nada bicara terdengar datar tanpa melihat ke arah gadis itu.

"Tapi Kaneki ..."

"Nona, pergilah." Kaneki langsung memotong perkataan gadis itu sebelum menyelesaikan kalimatnya.

Gadis itu pun hanya bisa menuruti perintah Kaneki dan membiarkan laki-laki itu berurusan dengan orang yang tadi melemparkan telur ke arahnya. Siswa berbadan besar itu bernama Ginshi Shirazu.

Tidak lama setelah itu, terdengar suara tepuk tangan dari belakang Shirazu.

Prok

Prok

Prok

"Menarik, selain sok keren, kau juga sok pahlawan juga yah."

Shirazu pun menggeser badannya setelah mendengar suara itu. Terlihat seorang laki-laki yg sedikit lebih tinggi dari Kaneki dengan rambut berwarna ungu. Dia baru saja keluar dari kelas yang berada di samping kelas Kaneki. Namanya Tsukiyama Shuu, dia adalah orang yang baru kemarin Kaneki ketahui sebagai siswa yang suka mem-bully.

Dia bersama seorang siswa lain yang memiliki rambut berwarna hitam dan tinggi badan yang hampir sama dengan Kaneki, Namanya Urie Kuki. Urie adalah siswa yang Tsukiyama bayar karena memiliki kemampuan beladiri yang bagus, sehingga bisa membantunya jika ada yang berani melawannya. Selain Kaneki dan tiga orang pem-bully itu, tidak ada siswa lain di sekitar sana karena siswa lain sudah berada di kantin untuk beristirahat.

Sebenarnya, Kaneki tidak ingin berurusan dengan orang seperti Tsukiyama. Di salah satu perbincangan Kaneki dengan Yoshimura saat Kaneki meminta nasihat kepadanya, Yoshimura pernah menjelaskan bahwa berurusan dengan orang yang suka menyalahgunakan kekayaannya itu cukup merepotkan. Seperti saat si orang kaya itu berbuat kesalahan, dia bisa saja menyuap orang agar bisa selamat dari hukuman.

Bukannya takut, Kaneki bisa saja menggunakan kekayaannya untuk membuat Tsukiyama dikeluarkan dari sekolah itu kalau dia mau. Faktanya, ayah Kaneki masih lebih kaya dibandingkan ayahnya Tsukiyama. Kaneki hanya tidak ingin direpotkan oleh orang yang suka menyalahgunakan kekayaan seperti Tsukiyama. Kaneki pun mencoba berbalik dan meninggalkan Tsukiyama dan Urie, tapi Shirazu langsung menghalangi jalannya.

"Hey, kau mau ke mana, Kaneki? Mari kita berbincang dulu." kata Tsukiyama yang seakan sedang bersikap ramah.

Kaneki pun menyadarkan badannya di tembok. Dia berpikir bahwa Shirazu bisa saja berusaha mengajarnya kali ini karena gagal menghajarnya kemarin. Seandainya dia melawan Shirazu, Tsukiyama dan Urie bisa saja menyerangnya dari belakang saat dia tidak melihat. Dengan posisi seperti ini, Tsukiyama dan dua temannya berada di samping Kaneki, sehingga Kaneki bisa melihat siapa yang akan menyerangnya.

"Memangnya ada apa?" kata Kaneki dengan sangat datar.

"Kau bertanya ada apa, Kaneki Ken? Murid yang sombong karena prestasi dan popularitas di hadapan para gadis." kata Tsukiyama sambil menyeringai.

"Bisa kau jelaskan alasanmu menyebutku sombong?" kata Kaneki yang masih dengan ekspresi datarnya.

"Sifatmu yang sok keren itu sudah cukup untuk membuatmu disebut sombong." kata Tsukiyama yang kembali menyeringai.

"Lagipula, sifatmu yang sok pahlawan dengan menolong siswa lain kemarin juga cukup menjengkelkan, Kaneki." kata Urie.

Saat Kaneki ingin membuka mulutnya, tiba-tiba dia terdiam sebentar. Dia pun menaruh makanan dan novel yang tadi dia bawa di lantai, lalu mengambil smartphone di saku celananya. Dia terlihat menyentuh dan menggeser layar smartphone di tangan kanannya itu.

"Bukan pesan yang penting." gumam Kaneki.

Setelah itu, Tsukiyama dan dua temannya dibuat heran saat Kaneki tidak memasukkan smartphone yang tadi dia pegang di tangan kanannya ke dalam sakunya dan hanya membiarkan smartphone itu tetap berada di tangan kanannya yang terkulai di samping tubuhnya.

"Gomen, jika aku boleh bertanya, apa yang salah dengan menolong siswa kemarin?" kata Kaneki yang langsung mengalihkan perhatian mereka bertiga dari smartphone-nya.

"Huh ... kau tidak seharusnya ikut campur, Kaneki! Kejadian kemarin itu bukan urusanmu!" kata Tsukiyama.

"Kalau begitu, kalian juga tidak seharusnya mengganggu siswa yang kemarin. Bukankah dia tidak melakukan sesuatu yang melibatkan kalian?" kata Kaneki.

"Sepertinya tidak ada gunanya lagi berbicara denganmu. Urie, Shirazu ..." Tsukiyama pun menggantungkan kalimatnya dan mengangkat kedua tangannya untuk memberi isyarat kepada kedua temannya itu. Setelah itu, Tsukiyama pun menghadapkan jari-jarinya ke depan.

Mengerti dengan isyarat dari Tsukiyama, Urie dan Shirazu langsung melesat ke arah Kaneki untuk menyerangnya. Shirazu mendapat kesempatan menyerang Kaneki lebih dulu karena memang sebelumnya jarak Shirazu menuju Kaneki lebih dekat daripada Urie.

Saat sebuah pukulan dari tangan kanan Shirazu mengarah ke wajahnya, Kaneki langsung menangkap pergelangan tangan itu dengan tangan kirinya, menghadapkan badannya ke arah Urie, dan langsung berjongkok, sehingga tubuh Shirazu tertarik ke bawah. Sementara Urie yang ingin menyerang Kaneki langsung menunda serangannya karena tidak ingin mengenai Shirazu.

Kurang dari satu detik setelah berjongkok, Kaneki langsung berdiri dengan badan yang sedikit dibungkukkan dan menarik tangan Shirazu ke bawah. Shirazu langsung kehilangan keseimbangan, sehingga terbanting ke depan Kaneki. Melihat itu, Urie langsung melompat ke belakang karena tidak ingin dihantam oleh kaki Shirazu yang sedang dibanting oleh Kaneki.

Sebelum tubuh Shirazu menyentuh lantai, Kaneki langsung menghantamkan bagian bawah smartphone di tangan kanannya ke arah dada Shirazu, sehingga dia merasakan sakit di dadanya dan tubuhnya menghantam lantai dengan lebih keras.

BUGH

BRUKK

Shirazu pun hanya bisa meringis setelah menerima serangan seperti itu, sementara Tsukiyama cukup terkejut melihat Kaneki membanting tubuh Shirazu yang menurutnya masih terlalu besar untuk dibanting oleh Kaneki.

Berbeda dengan Urie yang cukup ahli dalam hal beladiri, dia menyadari bahwa Shirazu tidak akan sanggup menahan tangannya yang ditarik oleh Kaneki karena dia menggunakan berat badannya saat dia berjongkok untuk menarik tangan kanan Shirazu ke bawah. Ibarat menangkap sebuah tas yang berisi sekumpulan batu seberat 50 kilogram yang dilempar seseorang ke arahnya hanya dengan satu tangan, tentu badan Shirazu akan tertarik ke bawah.

Shirazu yang terkejut karena menerima beban seberat itu tentu akan kesulitan mempertahankan keseimbangan kakinya, sehingga badannya yang sudah agak terlipat ke depan dapat dengan mudah dibanting oleh Kaneki saat berdiri sambil membungkukkan badannya dan menarik tangan Shirazu ke bawah.

Agar tubuh besar Shirazu tidak bisa membuatnya lebih tahan terhadap bantingan Kaneki, dia pun menghantamkan bagian bawah smartphone-nya ke arah dada Shirazu untuk menambah rasa sakitnya.

Terlepas dari analisa yang sudah ada di kepala Urie saat Kaneki baru berdiri tadi, dia langsung menyerang kepala Kaneki saat tubuh Shirazu baru saja menghantam lantai. Dia menyerang dengan tendangan lurus menggunakan ujung telapak kaki kanannya.

Melihat itu, Kaneki langsung menangkis dengan cara mengangkat kaki kanan Urie menggunakan keduanya tangannya yang disilangkan dan melempar kaki kanan Urie ke arah kanan, sehingga tubuhnya terputar ke kiri dan pinggang kanannya menghadap ke depan.

Merasa ada kesempatan dengan posisi Urie itu, Kaneki langsung melakukan tendangan samping ke arah pinggang kanannya, namun Shirazu yang masih terbaring langsung memiringkan badannya ke kanan dan menangkap kaki kiri Kaneki menggunakan kedua tangannya, berharap bisa menjatuhkan Kaneki.

Tidak ingin terjatuh, Kaneki langsung membenturkan bagian belakang tumit kanannya ke arah punggung Shirazu saat dia sedang memiringkan badannya ke arah kanan dan menjadikan punggung itu sebagai tumpuan agar bisa melemparkan badannya ke depan.

BUGH

AARGH

Karena benturan dari tumit Kaneki cukup menyakitkan, Shirazu langsung melepaskan kaki kirinya dan akhirnya pingsan.

Saat Kaneki baru saja membenturkan tumitnya ke punggung Shirazu, Urie langsung menendang dengan cara memutar kaki kirinya ke pinggang kanan Kaneki.

Kaneki cukup kesulitan untuk menangkis serangan Urie karena tangan kanannya sedang memegang smartphone dan posisi tubuhnya yang agak condong ke kiri membuatnya sulit menangkis menggunakan tangan kirinya. Jika dia mencoba membenturkan bagian bawah smartphone-nya ke kaki Urie, dia tidak yakin smartphone-nya yang agak tipis tidak akan rusak setelah membentur kaki Urie.

Karena itu, Kaneki pun hanya bisa melindungi pinggang kanannya dengan tangan kanannya.

BUGH

Walaupun seluruh tubuh Kaneki sudah cukup terlatih, tetap saja tendangan dari Urie itu cukup menyakitkan dan hampir saja membuatnya menjatuhkan smartphone-nya.

Rasa sakit di tangannya dan posisi Shirazu yang berada di antara kedua kakinya membuat Kaneki cukup kesulitan untuk melawan Urie. Karena itu, Kaneki mencoba mengalihkan perhatian Urie dengan melempar smartphone-nya ke arah perut Urie yang baru saja mengangkat kaki kirinya untuk menendang Kaneki.

BUGH

Urie pun terdorong ke belakang setelah menerima trik dari Kaneki. Kaneki pun menangkap smartphone yang memantul ke arah kakinya dengan tangan kirinya. Kaki kirinya pun melangkahi tubuh Shirazu agar tidak kesulitan melawan Urie.

Kesal dengan trik dari Kaneki tadi, Urie langsung melesatkan sebuah pukulan ke arah wajah Kaneki dengan tangan kanannya. Melihat itu, Kaneki langsung menangkis dengan pergelangan tangan kirinya.

Melihat ada celah, Kaneki langsung menendang lurus ke arah perut Urie dengan ujung telapak kaki kirinya.

BUGH

Sebelum menurunkan kakinya, Kaneki langsung melakukan tendangan samping ke arah dada Urie dengan kaki kirinya itu.

BUGH

Sebagai penutup, Kaneki pun menendang dengan cara memutar kaki kanannya ke arah pelipis kiri Urie.

DUAGHH

Kepala Urie pun membentur tembok di sebelah kirinya setelah ditendang, sehingga dia pun terjatuh dan akhirnya pingsan.

DUAGHH

BRUKK

Tsukiyama pun hanya bisa mematung setelah melihat Kaneki mengalahkan Urie. Dia tidak menyangka Shirazu yang memiliki tubuh besar dan Urie yang cukup hebat dalam hal beladiri dikalahkan oleh Kaneki seorang diri. Dia pun langsung memasang posisi siaga saat Kaneki menatapnya dengan datar.

Melihat itu, Kaneki pun hanya menghela napasnya. Dia merasa malas meladeni Tsukiyama karena merasa tidak ada gunanya. Dia juga berpikir bahwa Tsukiyama tidak bisa lagi dinasihati.

Dia pun hanya memeriksa tangan kanannya, sepertinya latihannya selama ini membuat sakit di tangannya tadi cepat untuk sembuh. Setelah itu, dia pun mendekati makanan dan novel yang dia letakkan di dekat dinding tadi dan berjongkok untuk mengambilnya sebelum meninggalkan Tsukiyama dan teman-temannya. Namun, dia terlihat menyentuh-nyentuh layar smartphone di tangan kirinya sebelum mengambil makanannya.

Tsukiyama yang sempat bingung dengan tindakan Kaneki langsung merasa marah. Selain karena melihat dua orang andalannya dikalahkan, dia juga merasa diabaikan dengan tindakan Kaneki itu. Dia juga berpikir kalau Kaneki curang saat berkelahi tadi karena menggunakan smartphone-nya sebagai senjata, sehingga membuatnya semakin marah dengan Kaneki.

Karena itu, dia pun berlari ke arah Kaneki. Mendengar suara langkah kaki, Kaneki pun menghela napas karena tindakan Tsukiyama ini.

Kaneki pun berdiri saat Tsukiyama sudah berada di dekatnya dengan kepalan tangan kanan yang sudah siap untuk memukul wajahnya. Melihat itu, Kaneki pun langsung menyerang Tsukiyama lebih dulu dengan tendangan samping yang dilayangkan ke arah dadanya, sehingga dia pun terdorong ke belakang dan akhirnya terjatuh.

BUGH

BRUKK

Kaneki pun terlihat kembali menyentuh-nyentuh layar smartphone-nya. Tsukiyama pun semakin marah karena merasa diremehkan oleh Kaneki yang dengan santainya menggunakan smartphone saat sedang melawannya.

Karena itu, Tsukiyama pun bangkit dan kembali mencoba menyerang Kaneki dengan sebuah pukulan ke arah pipi kiri Kaneki menggunakan tangan kanannya. Tidak ingin berlama-lama melawan Tsukiyama, Kaneki pun membenturkan bagian bawah smartphone di tangan kirinya ke arah pergelangan tangan kanan Tsukiyama untuk menyakiti tangannya itu.

AARGH

Tsukiyama pun secara refleks melihat ke arah tangan kirinya sambil meringis karena kesakitan, hal itu pun mengalihkan perhatiannya. Memanfaatkan kelengahan Tsukiyama itu, Kaneki langsung membenturkan bagian bawah smartphone di tangan kirinya ke arah bagian kiri leher Tsukiyama dengan sangat keras.

BUGH

Karena lehernya terkena serangan keras dari benda sekeras itu, Tsukiyama pun akhirnya terjatuh dan pingsan.

BRUKK

Setelah itu, Kaneki pun menyentuh sebuah gambar berbentuk kotak di smartphone-nya itu, gambar itu adalah pilihan "Stop" yang digunakan untuk menghentikan proses perekaman video yang dia lakukan menggunakan kamera smartphone-nya.

Saat Kaneki pertama kali mengeluarkan smartphone-nya tadi, dia hanya berpura-pura sedang memeriksa pesan masuk karena sudah menebak kalau Tsukiyama dan teman-temannya mungkin saja akan menghajarnya. Karena itu, dia pun mengaktifkan aplikasi perekam video agar dirinya tidak dihukum karena berkelahi di sekolah.

Setelah menghentikan rekamannya, Kaneki pun memasukkan smartphone-nya ke dalam sakunya dan mengambil makanan serta novel yang tadi dia letakkan dekat dinding.

Setelah itu, dia pun meninggalkan Tsukiyama dan teman-temannya yang sedang pingsan. Kaneki ingin mencari petugas UKS untuk menolong Tsukiyama dan teman-temannya. Walaupun sifat mereka menjengkelkan, tapi Kaneki juga kasihan jika melihat mereka dibiarkan tergeletak di lantai seperti itu tanpa siapapun yang menolong.

-To be continued

A/N : Ok, mungkin sampai sini saja dulu chapter kali ini. Sebelumnya, saya pikir cerita di chapter kali ini tidak hanya sampai sini. Tapi, kelanjutan cerita kali ini terpaksa saya bagi dua karena terlalu panjang. Bahkan setelah saya bagi dua, tetap saja chapter 5 ini cukup panjang.

Sebenarnya saya kurang tahu perbandingan tinggi badan antara Kaneki dengan Tsukiyama dan teman-temannya di cerita ini kalau di anime aslinya, tapi saya mencoba membuat Shirazu memiliki badan lebih besar dari Tsukiyama agar Kaneki bisa terlihat lebih hebat dengan membanting Shirazu, walaupun saya tidak yakin bahwa membuat perbandingan tinggi badan seperti itu adalah ide yang bagus.

Saya juga meminta maaf jika ada kekurangan lain di chapter kali ini, ataupun chapter sebelumnya. Kalau boleh jujur, saya sendiri sempat merasa aneh dengan cerita kali ini, tapi saya merasa cukup sebanyak ini saja dulu melakukan perbaikan cerita.

Terima kasih sudah membaca.

#RAMAIKANFFN2020