Chapter 6
Setelah Kaneki meminta bantuan seorang guru penjaga ruang kesehatan, Tsukiyama dan teman-temannya dibawa oleh guru itu bersama Kaneki dan beberapa murid lainnya ke ruang kesehatan.
Awalnya para murid itu enggan membantu membawa Tsukiyama dan teman-temannya ke ruang kesehatan karena mereka sudah sangat kesal dengan sikap Tsukiyama dan teman-temannya yang seenaknya, tapi mereka pun mau membantu setelah dibujuk dan dinasihati oleh guru penjaga ruang kesehatan itu.
Setelah membawa mereka ke ruang kesehatan, Kaneki pun melaporkan Tsukiyama dan teman-temannya ke ruang kesiswaan. Kaneki mengirim video penyerangan mereka terhadap dirinya ke guru yang berada di sana setelah memperlihatkannya. Selain itu, dia juga melaporkan tindakan bully yang sudah mereka lakukan selama berada di sekolah itu. Kaneki menjadikan teman-temannya yang ikut membantunya tadi sebagai saksi atas tindakan bullying yang sudah meresahkan para murid.
Guru yang berada di bagian kesiswaan meminta kepada guru penjaga ruang kesehatan agar menyuruh Tsukiyama dan teman-temannya datang ke ruangannya setelah sadar dari pingsannya.
Saat bel pulang sekolah tinggal beberapa saat lagi berbunyi, Tsukiyama baru sadar dari pingsannya. Karena itu, hanya dia yang datang ke ruang kesiswaan. Anehnya, Tsukiyama terlihat sangat santai saat disuruh ke ruang kesiswaan, seakan-akan berurusan dengan pihak kesiswaan bukanlah masalah untuknya.
"Apa benar kau tadi melakukan pengeroyokan seperti di video ini?" kata seorang guru kepada Tsukiyama yang sudah berada di ruang kesiswaan, mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja di antara mereka. Guru itu memperlihatkan video yang tadi dikirim Kaneki.
"Iya, itu benar!" kata Tsukiyama menjawab pertanyaan guru itu tanpa beban sedikitpun.
"Apa kau juga melakukan bullying kepada salah satu siswa di sekolah ini bersama teman-temanmu yang sudah kau bayar untuk membantumu?" guru itu kembali bertanya.
"Ya, aku mengakuinya!" kata Tsukiyama yang dengan santainya.
Terkadang seseorang akan terlihat berjiwa besar karena mengakui kesalahan, tapi tidak dengan Tsukiyama saat ini. Bukannya terlihat berjiwa besar, Tsukiyama malah terlihat menganggap kesalahannya ini sesuatu yang biasa-biasa saja dari nada bicara dan ekspresi wajahnya.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya guru itu lagi.
"Aku merasa siswa miskin sepertinya memang pantas di-bully, orang miskin sepertinya bagiku hanyalah sampah yang tidak berguna! Tapi, Kaneki malah sok pahlawan dengan menolongnya. Ya sudah, aku dan teman-temanku menghajarnya. Sayangnya sekali dia bisa melawanku." Kata Tsukiyama.
"Kau tidak sepantasnya memperlakukan seseorang seperti itu hanya karena miskin! Kau juga seharusnya tidak menyalahgunakan kekayaan ..."
"Ya ... aku tidak peduli! Mau aku gunakan untuk apa pun uang yang kumiliki itu urusanku!" kata Tsukiyama yang dengan santainya memotong ucapan dari guru itu.
Guru itu hanya menghela napas melihat tingkah seenaknya dari Tsukiyama sebelum kembali berbicara.
"Sepertinya skorsing tidak cukup untuk menghukum tindakanmu yang seenaknya. Karena itu, kau akan langsung dikenakan peringatan pertama dan tetap mendapatkan skorsing." kata guru itu.
Dalam peraturan sekolah itu, seorang murid akan dikenakan hukuman berupa larangan datang ke sekolah atau biasa disebut "skorsing" jika melanggar peraturan sekolah. Tapi, siswa akan dikenakan peringatan pertama jika murid itu cukup sering melanggar peraturan atau melakukan kesalahan yang cukup besar. Jika kesalahan itu sudah cukup besar atau sudah empat kali berbuat kesalahan yang bisa mengakibatkan dirinya mendapatkan peringatan, maka murid itu akan dikeluarkan dari sekolah.
Namun, sepertinya bahaya dari peringatan pertama itu bukan masalah untuk Tsukiyama. Dia terlihat tersenyum dengan santai sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, itu adalah sebuah cek.
"Ini, tulis saja berapa pun jumlah yang anda mau! 100 Yen? 1.000 Yen? 1.000.000 Yen? Terserah! Yang penting lepaskan aku dari semua hukuman itu. Anda mungkin sudah tahu kalau ayahku adalah pengusaha yang sangat sukses di Prancis dan mulai membuka perusahaan baru di Jepang, dia juga memberikan hak untuk menggunakan cek hingga 1.000.000 Yen." kata Tsukiyama yang dengan bangganya mengungkit kekayaan ayahnya yang sebenarnya sudah diketahui guru itu selaku pihak kesiswaan.
"Sebagai pihak kesiswaan, aku sudah tahu latar belakang ayahmu. Tapi maaf, bukan berarti kau bisa seenaknya menyuapku. Peraturan tetap peraturan, tak peduli seberapa besar uang yang kau keluarkan. Kau berbuat semena-mena, kau dihukum!" kata guru itu dengan santainya, walaupun dia agak kesal dengan Tsukiyama yang seenaknya menyuapnya.
Mendengar itu, Tsukiyama hanya menghela napas dan memberikan pertanyaan kepada guru itu.
"Apakah anda yakin dengan keputusan itu?"
"Tentu." jawab guru itu.
"Baiklah ..." Tsukiyama mengambil smartphone dari saku celananya, "Anda tahu apa ini kan? Jika anda masih tidak mau mencabut hukuman saya, saya akan menyuruh orang untuk mencari tahu siapa keluarga anda dan menyuruh orang itu untuk melakukan hal buruk kepada keluarga anda."
BRAKK
"KENAPA KAU NEKAT SEKALI BERBUAT SEPERTI ITU, HAH?!" kata guru itu setelah menggebrak meja di depannya karena langsung kehilangan kontrol terhadap emosinya setelah mendengar ancaman dari Tsukiyama.
"Kenapa tidak? Dengan kekayaan ayahku, aku bisa melakukan apa pun yang ku mau!" Kata Tsukiyama.
"Kuharap kau tidak melakukan itu, Tsukiyama-san."
Mendengar suara itu membuat Tsukiyama langsung menoleh ke arah pintu yang memperlihatkan seseorang yang baru saja memperingatkan Tsukiyama, dia adalah Kaneki.
"Oh ... pantas saja kau tidak mau menerima suap dariku, ada yang mengawasi. Bonjour Kaneki, apakah kau sudah lama datang?" tanya Tsukiyama yang menyapa Kaneki dengan sedikit bahasa Prancis, ditambah pertanyaan yang hanya dibalas anggukan tanpa ekspresi dari Kaneki.
"Masih sok keren seperti biasa. Oh iya, untuk apa kau ke sini, Kaneki?" tanya Tsukiyama lagi.
"Sebagai orang yang suka menyalahgunakan kekayaan, aku sangat yakin kalau kau akan menyuap guru agar lepas dari hukuman. Karena itu aku bersembunyi di belakang pintu dan keluar secara diam-diam agar bisa merekam perbuatanmu, terutama perkataanmu." kata Kaneki yang mengacungkan smartphone di tangan kanannya.
"Waah ... menarik, sangat menarik. Analisa yang hebat ..." Tsukiyama bertepuk tangan, "Lalu, bagaimana kau bisa tahu kapan aku sadar dan datang ke sini? Satu lagi, sepertinya sekarang masih jam pelajaran. Bagaimana caranya kau bisa keluar kelas? Berbohong dengan mengatakan kalau kau ingin ke toilet?" kata Tsukiyama yang sepertinya mengejek Kaneki di akhir kalimatnya.
"Aku meminta guru di ruang kesehatan memberitahuku jika kau ingin ke ruang kesiswaan. Sebelum jam istirahat berakhir, aku ke ruang guru untuk meminta izin ke sini jika aku diberitahu kalau kau akan ke sini. Awalnya dia menolak, tapi dia mengizinkanku setelah aku menjelaskan rencanaku." kata Kaneki.
"Ternyata begitu. Lalu, kau mau apa sekarang?" tanya Tsukiyama.
"Kuharap kau tidak mengancam guru seperti tadi." kata Kaneki.
"Memangnya kenapa?" kata Tsukiyama.
"Apakah kau tidak kasihan padanya?" kata Kaneki.
"Hah ... aku tidak perlu kasihan padanya? Dia sudah berani menolak tawaran dariku untuk melepaskanku dari hukuman!" balas Tsukiyama dengan bengisnya.
"Kau pantas menerimanya, Tsukiyama! Kau sudah bertindak seenaknya!" kata Kaneki.
"Aku tidak peduli! Aku punya uang dan aku bisa menggunakannya untuk apa pun yang ku mau!" kata Tsukiyama yang mulai meninggikan nada bicaranya seakan sedang marah, walaupun masih ada seringai yang terlihat di wajahnya.
"Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku akan melaporkan tindakanmu yang tadi mencoba menyuap dan mengancam guru yang sudah ku rekam ke polisi ..." Kaneki mengacungkan smartphone-nya, "dan sebelum kau menelpon seseorang untuk menyuruhnya melakukan hal buruk, aku akan merebut smartphone-mu itu secara paksa." kata Kaneki.
Bukannya takut, Tsukiyama hanya terdiam sebentar sambil menyeringai mendengar perkataan Kaneki itu. Jika dipikir-pikir, rencana yang Kaneki katakan tadi cukup efektif untuk mencegah seseorang yang ingin melakukan hal buruk seperti yang menjadi ancaman Tsukiyama tadi. Namun, sepertinya Tsukiyama tidak terpengaruh dengan apa yang tadi Kaneki katakan.
"Kaneki, Kaneki ... kau harus berusaha lebih keras lagi untuk mengancam seseorang sepertiku. Bukankah kau tadi sudah merekam semua yang aku katakan tadi? Tentu kau sudah tahu kalau aku bisa mengeluarkan uang sekalipun 1.000.000 Yen dalam bentuk cek ..." Tsukiyama mengacungkan ceknya, "Jadi, bukan hanya guru, polisi, hakim atau siapa pun bisa aku suap dengan mudah! Biar ku beritahu kau, Kaneki!
Di negara lain, aku pernah membuat seorang siswa masuk rumah sakit karena aku bully bersama beberapa orang. Aku harus berurusan dengan hukum karena itu, tapi aku bisa lepas dari hukuman dengan cara menyuap semua pihak yang ada di persidangan saat itu.
Aku juga pernah membuat seorang siswa dipenjara karena kasus penganiayaan kepadaku dan teman-temanku, padahal semua bukti sudah menunjukkan bahwa dia hanya ingin membela dirinya saat dikeroyok oleh kami. Sekali lagi, harta yang kumiliki menyelamatkanku dari hukum yang hampir menjeratku! Jadi, apakah kau masih berpikir bisa melawanku hanya dengan menyerahkan rekaman dari semua tindakanku ke polisi?" kata Tsukiyama yang terdengar kembali mengejek Kaneki di akhir kalimatnya.
Mendengar itu, Kaneki hampir marah, ternyata Tsukiyama sudah pernah melakukan hal yang sangat buruk menggunakan hartanya. Namun, dia langsung menurunkan emosinya karena sadar bahwa hal seperti ini sudah mungkin saja terjadi. Dia sudah menebak kalau dia bisa saja menggunakan hartanya untuk menyuap para penegak hukum, tapi bukan berarti Kaneki akan takut hanya karena Tsukiyama pernah memanipulasi keputusan hukum.
Lagipula, tidak ada jaminan kalau pihak penegak hukum di Tokyo sangat mudah untuk disuap, apalagi dengan keberadaan media sosial sekarang ini. Seandainya pihak penegak hukum di Tokyo ketahuan menerima suap, tentu beritanya akan mudah tersebar dan hal itu tentu saja akan membuat reputasi Tokyo sebagai salah satu kota paling aman di dunia menjadi rusak. Warga Tokyo tentu akan sangat malu jika hal itu sampai terjadi.
Seandainya pihak penegak hukum di Tokyo nekat menerima suap sekalipun, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah untuk Kaneki. Tanpa diketahui oleh Tsukiyama, kekayaan ayahnya masih belum bisa menandingi kekayaan dari ayah Kaneki. Jangankan ayahnya Kaneki, masih ada beberapa pengusaha dengan kekayaan lebih sedikit darinya, tapi masih belum bisa dilampaui oleh ayahnya Tsukiyama.
Seandainya Tsukiyama bisa menyuap pihak penegak hukum untuk menyelamatkannya dari hukuman, Kaneki juga bisa melakukan hal yang sama untuk membuat Tsukiyama mendapatkan hukuman yang pantas diterimanya. Jika Tsukiyama bisa menyewa orang untuk membahayakan seseorang, Kaneki juga bisa menyewa orang yang mungkin lebih hebat dan lebih banyak untuk melindungi orang.
"Apakah orang tuamu tidak melarangmu menyalahgunakan hartanya?" kata Kaneki yang kembali berbicara.
"Ya ... ayahku memang melarangku menyalahgunakan hartanya, tapi apa aku peduli? Tentu saja tidak! Tidak masalah bagiku menggunakan hartanya untuk apa pun selama dia tidak tahu, kedua orang tuaku terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka! Terkadang mereka juga bertanya tentang apa yang aku lakukan, jangan pernah berharap aku akan berkata jujur, karena aku tidak akan melakukannya!
Mereka juga meminta pegawai di rumahku mengawasiku dan memberitahu mereka apa yang tidak mereka ketahui tentangku, tapi aku mengancam akan memecat mereka jika memberitahu kesalahanku kepada orang tuaku!" kata Tsukiyama dengan bangganya menjelaskan kebebasannya dalam bertindak.
Mendengar itu, Kaneki hanya bisa menghela napas dan menutup wajahnya dengan tangan kanannya sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa sudah lelah bernegosiasi dengan Tsukiyama. Sepertinya dia memang sudah tidak bisa dinasihati lagi.
"Sepertinya masalah ini memang harus diselesaikan di pengadilan. Tidak aku sangka Mirumo-san mempunyai anak yang merepotkan, nakal dan pembangkang sepertimu!" kata Kaneki yang masih menutup wajahnya.
Namun, Kaneki tidak sadar kalau kalimat terakhirnya cukup membuat Tsukiyama terkejut. Dia heran, bagaimana ada yang tahu nama ayahnya? Walaupun dia sering mengatakan tentang kekayaan ayahnya dengan bangga, tapi dia belum pernah menyebutkan nama ayahnya di sekolah itu.
Kalaupun ada yang tahu nama ayahnya, mungkin itu hanya guru yang mempunyai tugas untuk memeriksa identitasnya sebagai murid di sini, memangnya untuk apa mereka menyebutkan nama ayahnya di hadapan para murid? Setidaknya begitulah pendapatnya.
"Dari mana kau tahu nama ayahku?" tanya Tsukiyama yang masih bingung.
"Beberapa hari yang lalu, ada seseorang berkunjung ke rumahku. Dia memiliki nama belakang yang sama denganmu, Tsukiyama, Mirumo Tsukiyama. Ayahku bilang Kalau dia berasal dari Prancis dan memang sangat kaya, karena itu aku berpikir kalau dia adalah ayahmu." kata Kaneki.
Mendengar perkataan Kaneki membuat Tsukiyama kembali bingung, memangnya siapa teman ayahnya di Jepang. Memang ayahnya lahir dan besar di sini, tapi teman kerja yang ayahnya perkenalkan kepadanya hanya orang-orang Prancis, setidaknya itu yang dia ingat.
Namun, dia langsung tersentak saat teringat seseorang. Dia juga heran bagaimana dia bisa melupakannya. Dulu, ayahnya pernah mengajaknya makan bersama teman kerjanya yang memang berasal dari Jepang. Sebenarnya, sifat dan ekspresi wajah orang itu sangat berbeda dengan Kaneki.
Jika ekspresi Kaneki terkesan dingin, ekspresi orang itu terlihat lebih ramah dan terkesan ceria. Keceriaan orang itu juga terlihat dari sifatnya, apalagi orang itu terkadang mengeluarkan lelucon dan tindakan yang bisa membuat orang lain tertawa.
Tapi kalau dari wajah, orang itu sangat mirip dengan Kaneki. Sebagian rambutnya juga berwarna putih seperti Kaneki, walaupun sebagian rambutnya juga memiliki warna hitam. Gaya rambutnya juga agak mirip dengan Kaneki, walaupun terlihat lebih lebat. Tsukiyama pun mencoba bertanya kepada Kaneki untuk memastikan.
"K-kau ..." Tsukiyama menunjuk Kaneki dengan sedikit gemetar, "Anak dari Haise Sasaki-sama?" sambung Tsukiyama yang hanya dibalas anggukan oleh Kaneki.
"T-tapi ... kenapa kau tidak menggunakan nama belakang ayahmu." kata Tsukiyama yang masih ragu dengan Kaneki.
"Ibuku bilang kalau dia lebih suka kalau nama belakangnya yang digunakan sebagai nama belakangku dan ayahku menyetujuinya."
Tsukiyama pun sangat terkejut mendengarnya. Sebenarnya, orang yang bernama Haise Sasaki itu bukan hanya sekedar teman dari ayahnya, dia adalah orang yang sangat berjasa bagi keluarga Tsukiyama.
Berdasarkan cerita dari ayahnya, Haise yang dulu memberikan pinjaman kepada ayahnya Tsukiyama saat perusahaannya hampir bangkrut. Setelah hutang ayahnya lunas, Haise pun berinvestasi di perusahaan dari ayahnya Tsukiyama dan menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan itu.
Walaupun dia yakin kalau ayah Kaneki itu cukup baik, tapi dia tidak menjamin kalau ayahnya Kaneki tidak akan mencabut sahamnya jika sampai tahu kalau dia membuat masalah dengan anaknya. Mungkin perusahaan ayahnya tidak akan sampai bangkrut, tapi Tsukiyama sangat yakin kalau kerugian yang akan diterima oleh perusahaan ayahnya akan sangat besar. Akibatnya, dia akan kehilangan banyak fasilitas yang selama ini memanjakannya.
Sebagai orang yang sudah sangat banyak menikmati kemewahan, Tsukiyama sangat takut kalau itu terjadi. Saking takutnya, kedua kakinya tidak bisa lagi menahan berat badannya.
"Gomen, Kaneki-sama!" kata Tsukiyama yang hampir saja bersujud seandainya Kaneki tidak mencegahnya.
"Jangan bersujud seperti itu, bangunlah! Aku tidak mau ada yang bersujud di kakiku!" kata Kaneki yang membantu Tsukiyama berdiri.
"Memangnya ada apa dengan ayahku?"
Tsukiyama menjelaskan jasa-jasa ayah Kaneki kepada keluarganya setelah mendengar pertanyaan itu.
"Hm ... aku mengerti sekarang."
"Gomen, Kaneki-sama. Saya tidak tahu kalau anda adalah anak dari Sasaki-sama. Kenapa anda tidak menggunakan fasilitas dari ayah anda, seperti diantar ke sekolah menggunakan mobil pribadi?" kata Tsukiyama yang heran.
Cukup aneh baginya melihat anak dari orang yang jelas lebih kaya darinya malah berjalan kaki ke sekolah. Sementara dirinya yang memiliki ayah dengan kekayaan yang tidak seberapa hampir selalu menggunakan mobil saat ke sekolah.
"Kau tidak perlu bertanya. Aku memang suka berjalan kaki karena lebih sehat. Seperti orang Jepang lainnya." Kata Kaneki.
"Kenapa anda tidak menunjukkan bahwa anda berasal dari keluarga orang kaya?" tanya Tsukiyama lagi.
"Apa itu perlu?" Kaneki bertanya balik.
"Setidaknya, teman-teman anda tahu sehebat apa keluarga anda!" jawab Tsukiyama.
"Untuk apa? Agar aku bisa menyombongkan diri?" tanya Kaneki lagi.
Mendengar itu, Tsukiyama hanya bisa terdiam. Dia berusaha mencari jawaban dari pertanyaan Kaneki.
"Bukankah sudah pantas bagi kita untuk bersikap sombong? Kita lebih hebat dari mereka!" kata Tsukiyama yang merasa sudah kehabisan jawaban untuk pertanyaan Kaneki.
Mendengar itu, Kaneki hanya bisa menghela napas dan menutup wajahnya sambil menggelengkan kepala seperti sebelumnya. Siapa yang sudah memberikan Tsukiyama pemikiran sesat seperti itu? Setidaknya itu yang dia pikirkan.
"Bisa-bisanya kau berpikiran rendah seperti itu, Shuu Tsukiyama! Lalu, apa kau ingin aku mem-bully atau melakukan hal buruk lainnya kepada siswa miskin? Begini saja, anggap saja kau tidak pernah memiliki urusan denganku, lalu aku akan menggunakan kekayaan ayahku untuk memenjarakanmu setelah menghajarmu habis-habisan. Apakah kau mau? Bukankah ayahku lebih kaya dari ayahmu?" kata Kaneki.
Tsukiyama langsung dibuat takut setelah mendengar ucapan Kaneki itu. Walaupun sudah jelas bagi Tsukiyama kalau perkataan Kaneki itu hanya perumpamaan, tapi Tsukiyama tetap khawatir kalau Kaneki benar-benar melakukannya. Apalagi setelah menyadari bahwa beberapa hal yang dia lakukan mungkin saja membuat Kaneki kesal.
Bukan hanya dari ekspresi wajah, rasa takut itu terlihat dari kakinya yang membawanya perlahan mundur sampai punggungnya menyentuh tembok di belakangnya.
"Lihatlah, hanya karena perumpamaan seperti itu saja kau sudah ketakutan! Padahal dengan mudahnya kau menggunakan harta ayahmu untuk menghukum orang yang tidak bersalah dan melepaskanmu dari hukuman yang sudah sepantasnya kau dapatkan! Kenapa kau seperti itu? Karena keegoisanmu! Kenapa kau bisa egois seperti itu? Karena kesombonganmu yang menganggap dirimu lebih baik dari orang lain, sehingga kau pikir bisa berbuat seenaknya!" kata Kaneki dengan panjang lebar.
Mendengar itu, Tsukiyama hanya bisa terdiam sambil menunduk karena menyadari kalau perkataan Kaneki itu ada benarnya. Dia tidak percaya kalau sosok pendiam seperti Kaneki bisa bicara panjang lebar dan sangat tepat seperti itu. Kalau dia berpikir kalimat Kaneki hanya sampai situ saja, dia harus berpikir lagi. Kaneki pun mendekati Tsukiyama dan mengatakan sesuatu kepadanya dengan agak lembut.
"Harusnya bukan seperti itu caramu menggunakan harta ayahmu! Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah uang yang selama ini kau gunakan adalah hasil kerjamu sendiri?"
"T-tidak." Kata Tsukiyama dengan agak terbata-bata.
"Sekarang aku bertanya kepadamu lagi! Bagaimana kalau seandainya ayahmu marah karena tahu kau berurusan dengan anak dari temannya, lalu dia tidak membiarkanmu memakai cek sebesar yang biasa kau gunakan dan membatasi uang yang bisa kau gunakan karena itu, sehingga uang yang bisa kau bawa jumlahnya sama dengan siswa yang biasa kau bully? Jika kau memiliki tabungan, bagaimana kalau ayahmu menyita semua uang tabunganmu karena terlalu marah kepadamu?" kata Kaneki lagi.
Tsukiyama kembali terdiam karena pertanyaan Kaneki itu. Pikirannya juga terlalu kacau karena takut perkataan Kaneki tentang ayahnya itu akan terjadi, sampai dia tidak bisa memikirkan lagi jawaban untuk pertanyaan Kaneki.
Setelah sekian lama dibuat senang dengan fasilitas ayahnya dan tiba-tiba harus kehilangan semua itu karena kesalahannya sendiri? Tsukiyama sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena itu, dia masih belum bisa bicara karena pikirannya yang kacau itu.
Setelah merasa cukup lama melihat Tsukiyama terdiam seperti itu, Kaneki pun kembali berbicara.
"Jadi, apa pilihanmu? Membawa masalah ini ke pengadilan dengan resiko ayahku ikut hadir di sana? Atau langsung saja aku beritahu ayahku apa yang kau lakukan hari ini? Apa pun pilihanmu, aku yakin kau sudah tahu akibatnya."
"A-apa tidak ada pilihan lain, Kaneki-sama?" tanya Tsukiyama yang semakin dibuat takut oleh pertanyaan Kaneki.
"Ada, tapi aku tidak menjamin kau akan menerimanya!" jawab Kaneki.
"Katakan saja, Kaneki-sama! Saya berjanji akan menerimanya, selama tidak berurusan dengan ayah anda!"
"Ada beberapa hal yang harus kau lakukan. Yang pertama cukup mudah, kau dan teman-temanmu harus mau menerima hukuman skorsing."
"Baiklah, saya mau!" kata Tsukiyama dengan mantap karena merasa syarat pertama ini cukup mudah.
"Kedua, karena kau sudah cukup sering menyalahgunakan kekayaan ayahmu, aku ingin kau menggunakan harta ayahmu untuk hal yang lebih baik. Aku ingin kau menggunakan hartanya untuk membantu murid atau guru di sini yang sedang kesulitan atau meminta bantuanmu sesulit apapun selama kau masih bisa membantunya, kecuali mereka yang menolak bantuanmu."
Awalnya Tsukiyama ragu saat mendengar syarat yang kedua. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, perkataan Kaneki ada benarnya. Selama ini, dia sudah cukup sering menggunakan hartanya untuk hal buruk. Mungkin tidak masalah jika menerima syarat kedua dari Kaneki ini. Lagipula, sepertinya uang yang bisa dia gunakan sepertinya cukup untuk membantu orang. Tsukiyama pun menerima syarat kedua dari Kaneki.
"Baiklah, saya mau!"
"Bagus, yang ketiga ...," Kaneki menatap guru kesiswaan "saya berharap anda mencabut peringatan pertama yang ingin anda berikan kepada Tsukiyama tadi, sensei. Karena saya ingin dia tahu bagaimana rasanya kalau terhalang untuk melindungi diri, seperti saat dia yang dulu membuat orang masuk penjara karena membela diri!" kata Kaneki.
"M-maksudmu, kau ingin membawa masalah ini ke pengadilan? Bukankah kau bilang punya pilihan selain itu?" kata Tsukiyama.
"Tentu saja tidak! Aku akan menghasut murid yang sudah kau bully untuk menghajarmu dan teman-temanmu habis-habisan. Kalian tidak boleh melawan, menangkis, menghindar atau melakukan apa pun untuk melindungi diri. Kau tidak boleh mengadukannya ke pengadilan atau pihak manapun."
Tsukiyama hampir saja membuka mulutnya untuk membantah, tapi Kaneki langsung kembali berbicara.
"Saat kau sudah berjanji akan menerima pilihan lain dariku, itu berarti kau tidak bisa menolaknya, sekalipun kau ingin kembali ke dua pilihan sebelumnya!" Tsukiyama pun tidak jadi membantah Kaneki setelah mendengarnya. Lagi-lagi, dia hanya bisa terdiam setelah mendengar perkataan Kaneki.
"Ada apa Tsukiyama? Apa kau takut? Jika kau takut, bagaimana menurutmu perasaan orang yang kau buat masuk penjara karena membela diri atau orang yang tahu kalau kau baik-baik saja setelah kau membuatnya masuk rumah sakit?"
Pada akhirnya perkataan Kaneki itu membuat Tsukiyama tertunduk, sepertinya dia mulai menyesali apa yang dia lakukan dulu.
"Apa itu tidak berlebihan, Kaneki?" kata guru kesiswaan.
"Saya akan mengganti pilihan saya jika anda berpikir dua korban Tsukiyama tadi pantas menerima apa yang sudah Tsukiyama lakukan kepada mereka."
Sekarang giliran guru itu yang terdiam. Mau dilihat dari manapun, dua korban yang Kaneki sebutkan tadi memang tidak pantas menerima apa yang terjadi pada mereka.
"Bukan hanya itu, kau juga tidak boleh melakukan segala bentuk bullying! Jika ada murid yang melakukan hal buruk apa pun ke padamu atau teman-temanmu, kau tidak boleh mengadukannya ke pihak manapun tanpa kecuali! Kau boleh melawan mereka untuk membela diri jika tindakan mereka membahayakan diri kalian, tapi kalian tetap tidak boleh mengadukannya.
Jika kau tidak memenuhi semua syarat yang kuminta tadi, akan ku laporkan apa yang kau lakukan hari ini kepada ayahku dan kau tentu sudah tahu konsekuensinya. Sekarang terserah padamu, berurusan dengan ayahku atau menerima syarat dari ku!" kata Kaneki.
"Baiklah, saya terima syarat dari anda, Kaneki-sama." kata Tsukiyama.
"Satu lagi, Tsukiyama! Aku tidak akan memberitahu ayahku tentang apa yang kau lakukan hari ini jika kau tidak memenuhi permintaanku yang satu ini, tapi aku harap kau mau menerimanya." kata Kaneki.
"Apa itu?" tanya Tsukiyama.
"Kuharap kau berusaha sebisa mungkin untuk merahasiakan tentang kekayaan keluargaku. Aku juga berharap kau hilangkan imbuhan '-sama' itu agar tidak ada yang curiga." kata Kaneki.
Mendengar itu, Tsukiyama pun termenung karena merasa malu pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya Kaneki yang berasal dari keluarga yang lebih kaya darinya tetap berusaha untuk menjaga diri dari kesombongan. Sementara dirinya malah menyombongkan diri dan menyalahgunakan kekayaan ayahnya.
Dan lihat apa yang terjadi sekarang, dia mendapatkan akibat dari semua kesalahannya. Setelah termenung sebentar, dia pun menjawab pertanyaan Kaneki dengan nada bicara yang sudah bisa menunjukkan kalau dia terbebani oleh pikirannya sendiri.
"Baiklah, Kaneki-san."
"Bagus, tapi sepertinya aku harus memeriksa kelas dari murid yang kau bully beberapa hari yang lalu ..." Kaneki melihat sebuah jam dinding "Karena sepertinya bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Kalau dia belum pulang, berarti kau dan teman-temanmu harus siap menerima hukuman. Jika sudah, berarti kau harus bersyukur karena kau selamat dari siksaan untuk hari ini!"
Setelah itu, dia pun berjalan menuju pintu keluar, tapi dia pun berbalik dan berbicara kepada guru kesiswaan.
"Sensei, bisakah aku mengusulkan sesuatu kepadamu? "
"Apa itu, Kaneki?" tanya guru itu.
"Bisakah anda pindahkan dia ke kelas lain di lantai 3? Walaupun mungkin saja dia sudah menyesali perbuatannya, aku mungkin tetap saja muak jika setiap hari melihat wajahnya saat keluar kelas." jawab Kaneki.
"Sebenarnya cukup sulit memindahkan satu murid ke kelas lain karena keinginan murid lain, tapi mungkin akan kupikirkan lagi usulanmu itu." balas guru itu.
"Arigatou, sensei."
Setelah itu, Kaneki pun meninggalkan ruang kesiswaan dan mencoba memastikan apakah murid yang sebelumnya di-bully oleh Tsukiyama sudah pulang. Kabar buruk untuk Tsukiyama karena murid itu belum pulang.
Kaneki pun membawa murid itu ke ruang kesiswaan dan menjelaskan hukuman yang akan diterima oleh Tsukiyama.
Awalnya murid itu merasa tidak tega jika harus menghajar Tsukiyama, dia bukan tipe orang yang suka menyiksa orang lain. Namun, dia berubah pikiran setelah Kaneki menjelaskan hal buruk yang pernah Tsukiyama lakukan dan memberikan beberapa hasutan kepadanya.
Siswa yang menjadi korban bully itu sebenarnya memiliki sifat yang tidak tega saat orang lain yang tidak bersalah disakiti, walaupun dia tidak bisa menolong orang yang disakiti itu. Karena itu dia tidak segan-segan untuk memukuli Tsukiyama dan menginjak-injak tubuhnya saat sudah terbaring sampai pingsan.
Saat Tsukiyama sedang dihajar, teman-temannya datang ke ruang kesiswaan karena diberikan perintah untuk ke sana setelah sadar dari pingsannya. Awalnya mereka sangat marah karena melihat Tsukiyama dihajar, tapi mereka pun mengerti setelah mendapatkan penjelasan yang cukup panjang dari Kaneki dan guru di sana. Mereka juga bersedia menerima hukuman yang harus diberikan kepada mereka, termasuk dihajar seperti Tsukiyama.
Mereka pun dihajar seperti Tsukiyama, walaupun tidak sampai pingsan. Selain karena sudah lelah menghajar Tsukiyama, korban bully itu juga merasa kalau teman-teman Tsukiyama itu hanya membantu Tsukiyama mem-bully karena tergiur bayaran darinya dan dia yakin kalau mereka tidak pernah melakukan kesalahan seburuk yang Tsukiyama lakukan di masa lalu.
Tsukiyama pingsan cukup lama, hari pun mulai gelap saat dia sadar. Sopir pribadi yang menjemputnya cukup khawatir dan bertanya padanya saat melihatnya meringis saat menuju mobil, Tsukiyama pun tidak ingin menjawabnya dan hanya menyuruh sopir itu untuk segera mengantarnya ke rumahnya.
Tsukiyama pun kembali diberikan pertanyaan yang sama oleh pelayan di rumahnya, tapi dia tidak ingin menjawabnya dan mengatakan kalau dia ingin beristirahat di kamarnya tanpa diganggu. Berbeda dengan biasanya, di mana dia akan meminta dihidangkan makan malam yang dia tentukan menunya terlebih dahulu jika dia pulang malam.
Kaneki sengaja menyuruh murid yang menghajar Tsukiyama dan teman-temannya untuk tidak menghajar wajah mereka agar tidak meninggalkan luka lebam di sana, luka itu tentu sangat mudah dilihat oleh orang lain. Kaneki tidak ingin hukuman fisik seperti ini diketahui oleh orang di luar sekolah itu.
Walaupun begitu, Tsukiyama tetap saja bingung untuk menjelaskan kepada kedua orangtuanya kalau dia terkena skorsing. Yang jelas, dia tidak boleh mengatakan apa yang Kaneki larang. Mereka juga tidak boleh tahu kalau dia berurusan dengan Kaneki jika tidak ingin mendapat masalah yang lebih besar. Dia juga harus memenuhi syarat Kaneki yang menyuruhnya menggunakan hartanya untuk menolong orang dan tidak melaporkan orang lain yang berbuat salah kepadanya di sekolah.
Satu hal yang pasti, dia mulai menyadari bahwa dia sudah berbuat banyak kesalahan dan dia menyesalinya. Kesalahan dan penyesalannya itu perlahan membuat dirinya yang sedang berbaring hanyut dalam pikirannya sendiri, sehingga dia pun tertidur tanpa memperdulikan perutnya yang kosong. Mungkin dia akan makan setelah kedua orang tuanya datang atau membiarkan dirinya tertidur pulas dengan perut kelaparan sampai dia terbangun keesokan paginya.
-To be continued
A/N : Akhirnya selesai juga chapter kali ini, maaf kalau misalnya chapter kali ini lumayan buruk. Saya sudah berusaha untuk memperbaikinya. Apalagi dalam jumlah kata yang mungkin masih terlalu panjang.
Oh iya, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga puasanya lancar di tengah masalah Corona saat ini. Semoga kita semua sehat dan tidak terjangkit virus Corona ini. Semoga masalah Corona ini cepat berakhir.
Terima kasih sudah membaca.
#RAMAIKANFFN2020
