One Week Later After Last Chapter ...

Pagi menyingsing kegelapan malam dan menggantinya dengan sinar yang menghidupkan bumi dan membangunkan penghuninya satu demi persatu untuk menyambut hari yang baru. Salah satu contohnya adalah anak adam di kediaman Namikaze. Saat cahaya matahari pagi masuk lewat tirai jendelanya yang tidak tertutup sepenuhnya, kelopak mata itu terbuka perlahan memperlihatkan manik berwarna violet Rambut pirangnya sedikit berantakan saat dia bangun dari posisi tidurannya dan mengusap matanya mencoba menghilangkan perasaan ngantuk yang masih tersisa.

Namikaze Menma menoleh pada meja kecil disamping tempat tidurnya melihat jam weker digitalnya. "Masih sepagi ini? Kurasa tidak ada salahnya istirahat sedikit lebih lama," gumamnya sambil kembali merebahkan dirinya dengan posisi menyamping.

Matanya yang awalnya tertuju pada jam weker digital, kini berpindah pada bingkai foto yang ada disampingnya. Pandangannya melembut seakan tenggelam dalam ingatannya sendiri saat melihat foto itu. Disana berdiri berdampingan 2 orang yaitu dirinya dan kembarannya, Naruto, mengenakan seragam Konoha Gakuen di acara kelulusan mereka. Naruto tersenyum gembira dengan menunjukkan pose peace ke arah kamera sementara Menma mengalihkan pandangannya seakan tidak peduli.

Menma tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya mengambil bingkai itu dan mendekatkannya ke wajahnya. Matanya terpusat pada sosok Naruto di dalam foto itu. "Naruto ... Kenapa?" gumam Menma pelan. Jari tangannya mengusap wajah Naruto pada bingkai itu dengan pelan dan tatapannya menjadi sendu.

Bagi Menma, sejak ayah mereka meninggal, sosok yang paling penting baginya hanyalah Naruto. Tentu saja Menma peduli dengan Kyuubi, adik mereka, tapi perasaan yang dirasakannya untuk Naruto jauh lebih kuat. Awalnya dia berpikir itu hanya karena dia dan Naruto memiliki ikatan sebagai saudara kembar. Tapi semakin mereka tumbuh dewasa, semakin dia sulit melihat Naruto hanya sebagai kembarannya.

Dia tahu bahwa Naruto itu spesial. Dia memiliki pesona yang membuat orang-orang yang berada di dekatnya nyaman dan merasa hangat. Senyumannya yang dapat menginfeksi orang lain untuk ikut tersenyum. Menma bukanlah pengecualian, malahan, menjadi saudaranya seakan membuat efek itu menjadi lebih kuat. Setiap hari melihat senyuman di bibir kembarannya itu membuat hatinya menjadi tidak karuan. Terlebih lagi sikap Naruto yang kurang peka terhadap tindakannya sendiri membuat Menma merasa dia akan kehilangan kendali cepat atau lambat, seperti insiden tengah malam minggu lalu yang masih tergenang di ingatan Menma. Demi apapun, meskipun mereka saudara, Menma itu laki-laki sehat!

Pernah Menma berpikir untuk mengungkapkan perasaannya pada Naruto, tapi dia tahu bagaimana tindakannya tersebut akan mempengaruhi Naruto. Karena itu dia mengurunkan niatnya.

Naruto itu spesial, tapi juga sangat rentan disaat yang bersamaan. Dia tidak ingin Naruto mengalami hal 'itu' lagi saat dia sudah berhasil melupakannya dan kembali normal. "Kenapa aku harus terlahir sebagai saudaramu?" ucap Menma bertanya pada kekosongan.

"Menma, kau akan melanjutkan ke Tokyo University program kedokteran kan?"

"Ya begitulah. Bagaimana denganmu?"

"Kau menyebut dirimu saudaraku, tapi kau masih menanyakannya? Jawabannya sudah pasti, Menma."

"Huh, apa maksudmu?"

"Tentu saja aku akan mengikutimu. Kau lupa janji kita 10 Tahun lalu?"

Percakapan mereka pada hari kelulusan waktu itu terlintas dibenak Menma. Senyum kecut terbentuk di bibirnya. "Kita berjanji bahwa kita akan selalu bersama, tapi apakah kau akan tetap bersamaku setelah kau tahu perasaan terlarangku padamu?"

Menma iri pada Itachi, sahabatnya dan Naruto sejak kecil. Dia tahu perasaan Itachi pada Naruto dan itu membuatnya kesal. Memikirkan tentang Naruto yang suatu saat akan bersanding dengan seseorang yang bukan dirinya, terlebih lagi jika orang itu adalah Itachi, Menma tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya.

Meskipun dia menyimpang perasaan benci pada Itachi, tapi dia tidak pernah menunjukkannya pada siapapun. Karena dia tahu Naruto tidak akan menyukai hal tersebut.

Jika saja ada cara untuk menjaga Naruto tetap disisinya tanpa membiarkan perasaan terlarangnya diketahui oleh gadis blonde itu, Menma mungkin sudah melakukannya sejak dulu.

Statusnya terhadap Naruto hanyalah sebatas saudara kembar, tidak lebih. Dia tidak memiliki hak untuk mengaturnya jika suatu saat Naruto memilih orang lain selain dirinya.

Karena itulah, sebagai orang yang paling dekat dengannya, sebagai saudaranya, Menma akan menjaga dan menikmati momen kebersamaannya dengan Naruto sebelum waktunya nanti tiba saat Naruto berjalan meninggalkannya.

Tapi sayang sekali bagi Menma, dia tidak pernah menyadari siapa musuh terbesarnya untuk mempertahankan Naruto di sisinya. Dia bahkan tidak pernah menyadari, bahwa perasaannya yang dianggapnya terlarang, sebenarnya sedang dilakukan oleh Naruto sendiri.


Title : Sibling Love

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Fict © Ryuukira Sekai (Marisa)


Genre : Romance and Family

Rating : T+ or M

Main Pair : Kyuubi x FemNaruto

Side Pair : I leave it to your imagination ;)

Warning : Incest, Typo(S), FemNaruto, Author Newbie, Mainstream, EYD hancur, OOC, AU, AR.

Summary :

Saudara tidak sepantasnya saling mencintai layaknya kekasih. Aku sangat tau akan hal itu. Tapi untuk sekarang, sangat tidak mungkin bagiku menaati aturan seperti itu. Memiliki kakak yang mencintaimu pada jalan yang salah dan parahnya lagi, aku memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Maaf, tapi aturan ada untuk di langgar.

Remember this! "Don't Like? Get Away From Here!"


...::: STORY START :::...


Chapter 03 : Strings Entwined

Setelah beberapa menit berbaring-baring tidak karuan, Menma akhirnya memutuskan bangun dan mempersiapkan dirinya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Menma keluar dari kamarnya dan menuju lantai satu setelah berpakaian lengkap untuk pekerjaannya.

"He, bagaimana ya? Aku tidak yakin apakah aku bisa ikut atau tidak."

Menma mendengar suara dari dapur dan memutuskan mengintipnya. Dia melihat Naruto yang mengenakan apron sedang bersandar pada kulkas dan berbicara dengan seseorang di ponselnya. Awalnya dia ingin menunjukkan dirinya dan menyapa Naruto, tapi menahan niatnya saat tiba-tiba ekspresi wajah Naruto berubah. "A-Apa yang kau katakan? Jangan mengatakan hal sembarangan! Aku dan Gaara-kun tidak punya hubungan apa-apa selain 'senpai to kouhai', tanyakan itu sendiri padanya."

Sekarang Menma penasaran dengan siapa Naruto berbicara dan juga apa yang mereka bicarakan hingga mengungkit salah satu nama Kouhai mereka dulu di Konoha Gakuen. Menma menyembunyikan dirinya dan berusaha mendengar pembicaraan mereka.

"Baiklah baiklah, tapi jangan berharap banyak. Aku tidak berjanji untuk datang, tapi akan kulakukan apa yang kubisa," jawab Naruto setelah diam beberapa saat mendengarkan perkataan dari balik telepon.

Naruto melirik dan melihat terdapat rambut pirang diambang dapur dan dia langsung tahu siapa disana. "Menma, Ohayou! Apa yang kau lakukan disana?" sapa Naruto membuat Menma sedikit berjengit tidak menyangka Naruto dapat melihatnya. Menma menunjukkan dirinya. Dia meletakkan tas beserta jasnya di atas meja makan dan berjalan menuju Naruto. "O-Ohayou," sapanya balik dengan senyum kikuk dan dibalas oleh senyum tipis tapi cerah oleh sang kembaran.

Hati Menma kembali berdetak tidak karuan. "Apa kau sedang tidak enak badan, Menma?" tanya Naruto khawatir memperhatikan wajah Menma. Menma berdehem dan mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku tidak apa-apa, Cuma sedikit pusing. Ngomong-ngomong, dengan siapa kau bicara?" tanya Menma berusaha senatural mungkin.

Naruto hampir saja melupakan ponselnya yang masih terhubung dengan seberang sana karena pihak satunya yang diam sejak tadi. "Ah, ini Temari. Kau ingat kan gadis dari Suna? Dulu kita pernah sekelas dengannya saat dia pindah ke Konoha. Berambut pirang dan selalu membawa kipas tangan kemanapun dia pergi," jelas Naruto.

Menma mencoba ingat-ingat kenangan saat SMA. "Ah iya, aku ingat. Sabaku bersaudara itu," ucap Menma mengingat kembali.

["Ne, Naru, bisa aku bicara dengan Namikaze-kun?"]

"Hm, baiklah. Tapi jangan membujuknya supaya aku ikut, mengerti? Menma, Temari ingin bicara denganmu," ucap Naruto seraya menyodorkan ponselnya pada Menma.

Menma mengambilnya dan mendekatkannya ketelinganya. "Sabaku-san, ini Menma. Apa yang ingin kau bicarakan?"

["Menjauhlah sedikit dari Naru, yang ingin kubicarakan sedikit ... hmm, personal?"] ucap Temari.

Menma menatap Naruto dan memberikan kode singkat padanya. Naruto langsung mengerti. "Aku akan ganti baju. Jika kau sudah selesai bicaranya, tolong siapkan meja untuk sarapan." Setelah mengatakan itu, Naruto langsung berjalan meninggalkan Menma.

"Baiklah, jadi ada apa?" tanya Menma ulang.

Terdapat jeda beberapa saat hingga Menma berpikir bahwa sambungannya sudah diputuskan. ["Namikaze-kun, apa saat ini Naru sedang dekat dengan seseorang?"]

Memikirkan Naruto dekat dengan seseorang, membuat Menma merasa sedikit kesal. Tapi dia tidak akan menunjukkannya. "Sepengetahuanku, saat ini dia tidak dekat dengan siapapun. Lagipula kenapa kau menanyakan ini padaku?" tanya Menma dengan tenang.

["Namikaze-kun, aku akan jujur tentang 2 hal padamu? Pertama, kau ingat Gaara, adikku? Minggu depan kami berencana mengadakan perayaan kelulusannya dari Universitas. Gaara menyukai Naruto sejak SMA sampai sekarang, karena itulah Aku berniat mendekatkan mereka dengan mengundang Naruto untuk hadir dalam perayaan ini."]

Menma mengepalkan tangannya mendengar pengakuan itu. Tapi kembali lagi, dia tidak akan menunjukkan emosinya. "Kau benar-benar kakak yang perhatian, Sabaku-san. Tapi keputusan apakah dia akan menghadirinya atau tidak itu terserah pada Naruto. Jadi? Tadi kau bilang akan jujur tentang 2 hal, apa itu?" tanya Menma dengan kepala dingin.

["..."]

Temari tidak menjawab untuk beberapa saat. Seakan-akan dia sedang mengulur waktu atau memikirkan kata yang tepat untuk dikatakan. Tapi emosi Menma sedang tidak stabil setelah beberapa pancingan baik itu dari dirinya sendiri, Naruto, ataupun Temari. Kesabarannya mulai mencapai batasnya. "Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, aku akan menutupnya," ucap Menma dingin.

["Incest memang dipandang sebagai Taboo dalam masyarakat."]

Mata Menma membulat saat Temari mulai bicara. 'Kenapa dia mengungkit ini? Jangan bilang ...' pikir Menma shock.

["Tapi Namika-, tidak, Menma-kun. Kau mungkin berpikir jika kau mengatakan perasaanmu, ada kemungkinan Naruto akan menghindar dan perlahan menghilang dari hidupmu. Tapi jika kau tidak melakukan apa-apa, Naruto juga tetap akan menghilang suatu saat nanti. Jadi apakah itu sudah cukup untukmu? Kau yakin tidak akan melakukan sesuatu dengan situasimu ini?"]

Ucapan Temari layaknya pemicu bom di dalam diri Menma. Berbagai emosi yang tidak jelas dan tidak dapat di deskripsikan tercampur di dalam dada Menma. Kata-kata tentang Naruto menghilang dari hidupnya membuat pikiran Menma kacau.

"Ba-Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Menma pelan dan serak akibat menahan emosinya yang tidak karuan.

["Maaf, Menma-kun, tapi sejujurnya sejak dulu aku selalu memperhatikanmu. Aku terlalu sering memperhatikanmu, hingga aku menyadari, caramu memandang Naruto, sama dengan caraku memandangmu dulu."]

Pikiran Menma sedang terlalu kacau hingga dia bahkan tidak dapat merespon kalimat terakhir Temari. Terjadi keheningan beberapa saat hingga suara langkah kaki dan suara Naruto terdengar menuruni tangga.

Saat Menma ingin membuka mulutnya untuk merespon ...

["Sampaikan pada Naruto, aku akan menunggu jawabannya. Jaa na."]

'Tuut~' 'Tuut~'

... sambungan teleponnya diputuskan secara sepihak oleh Temari. Tangan Menma yang memegang ponsel tergulai lemas kesamping tubuhnya beserta ponselnya yang jatuh kelantai. Naruto berjalan memasuki dapur dan melihat Menma yang masih berdiri di posisi saat dia meninggalkannya, tapi dengan ekspresi yang aneh. Khawatir, Naruto lekas berjalan kedepan Menma.

"Menma, ada apa?" tanya Naruto.

'Grab'

Terjadi dengan sangat cepat, tanpa Naruto sadari, dia sudah berada dalam pelukan erat saudara kembarnya. Naruto tidak dapat melihat wajah ekpresi Menma karena dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Naruto. "Menma? Apa yang terjadi?" tanya Naruto semakin khawatir.

Menma tidak merespon, dia pelahan semakin mengeratkan pelukannya sambil menggumamkan 'Naruto'.

Pelukan itu mulai menjadi menyakitkan bagi Naruto karena dia kesulitan untuk bernafas hingga dia menepuk punggung Menma beberapa kali. "Menma, lepaskan, sesak," ucap Naruto dengan suara lemah.

Menma tersadar dari tindakannya dan segera melepaskan pelukannya dan mengambil langkah mundur dari Naruto. Terlepas dari pelukan yang menyesakkan itu, Naruto langsung berusaha menormalkan pernapasannya.

Dirasa sudah penafasannya sudah cukup normal, Naruto mengangkat pandangannya menatap pada wajah Menma. "Haah~ haah~, Menma, ada apa? Kenapa—!?"

Ucapan Naruto terhenti saat Menma berjalan melewatinya dengan ekspresi yang tidak dapat dibaca oleh Naruto. "Ittekimasu." Hanya itu yang Naruto dengar dari mulut Menma setelah dia mengambil tas dan jasnya lalu berjalan dengan cepat menuju pintu depan.

"Tunggu dulu Menma!" Naruto lantas mencoba mengejar Menma, tapi saat dia sampai di depan pintu, mobil Menma sudah melaju meninggalkan kediaman mereka. "Menma," gumam Naruto khawatir. Menma bersikap aneh. Pasti terjadi sesuatu saat dia meninggalkan Menma berbicara dengan Temari tadi.

Itu dia! Temari!

Naruto langsung berbalik menuju dapur dan mengambil ponselnya yang ada dilantai dan menelpon nomer Temari. 1 menit, 2 menit, ...

'Tuut~' 'Tuut~' ["Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi."]

Naruto mencoba mengulangnya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama.

"Menma," ucap Naruto dengan kekhawatiran yang kentara. Dia sadar bahwa akhir-akhir ini Menma menjadi aneh dan sifatnya yang perlahan berubah, tapi dia tidak pernah memikirkan lebih dalam. Naruto menyadari satu hal saat Menma melewatinya dan kabur tadi, ekspresi itu menunjukkan rasa sakit yang tidak dapat dipahami oleh Naruto.

Tidak dapat menghubungi Temari, Naruto kemudian memilih menghubungi Menma dan meminta penjelasan langsung.

["Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi."]

Menma tidak menjawab teleponnya. "Menma, kumohon angkatlah," gumam Naruto sambil kembali mencoba sekali lagi, lagi, lagi dan lagi.

Hingga kesekian kalinya, Menma tidak pernah mengangkat teleponnya dan Naruto sendiri tidak sadar sejak kapan dia berlutut di lantai. Naruto merasa pipinya menjadi lembab dan menyentuhnya dengan jarinya.

'Tes' 'Tes'

"A-Are? Kenapa? Kenapa aku menangis?" Tanpa dia sadari juga, entah sejak kapan dia telah menangis.

Sementara itu dengan Menma. Dia menghentikan mobilnya di sebuah taman dan cuma berdiam disana. Ponselnya yang berdering belasan kali dihiraukannya karena dia tahu siapa yang menelponnya.

Dia mengingat ekspresi penuh keterkejutan, rasa khawatir dan kebingungan di wajah Naruto setelah tindakan yang dilakukannya. Menma menghantamkan kepalanya pada kemudi dan melihat tetesan air yang berjatuhan membasahi alas mobil. "Apa yang baru saja aku lakukan?" gumam Menma.

.

.

.

.

.

Time Skip ...

Menma berjalan memasuki gedung perusahaan Rasegan Corp. dengan ekspresi lemah tanpa tenaga. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat pagi ini. Semua itu membuat Menma lelah secara mental. Terlebih lagi jadwalnya untuk hari ini lumayan padat, tapi mungkin ini bagus untuk mengalihkan pikirannya dari semua masalahnya.

"Darimana saja kau, Menma?!"

Baru beberapa langkah dia di dalam gedung, seseorang sudah menghampirinya dengan ekspresi panik. Menma melirik ke sumber suara dan melihat seorang pria berambut putih ubanan menghampirinya. "Kenapa kau terlihat panik begitu, Kakashi-san?" tanya Menma.

"Bagaimana aku bisa tidak panik? Aku mencoba menghubungimu belasan kali dan mengirimu pesan spam, tapi kau sama sekali tidak merespon," ucap Kakashi kesal. Menma langsung mengambil ponselnya dari saku dan melihat daftar panggilannya.

Panggilan tidak terjawab : Naruto (5), Kakashi (18)

"Maaf, aku tidak menyadarinya. Kukira tadi Naruto jadi kuabaikan," ucap lalu gumam Menma pelan pada kalimat terakhir. Kakashi mendekatnya, walaupun tidak jelas. "Heh, ada apa dengan Naruto?" tanya Kakashi.

Menma menyimpan ponselnya kembali ke sakunya dan menggelengkan kepalanya. "Bukan hal yang penting. Jadi ada apa kau panik? Seingatku meeting pertamaku untuk hari ini masih 1 jam lagi," ucap Menma mengalihkan pembicaraan.

Bisa nambah masalah jika dia membicarakan tentang Naruto pada Kakashi.

Teringat dengan alasannya mencari Menma, Kakashi langsung kembali panik. "Ini bukan tentang meeting. Kau punya tamu penting yang sudah menunggu sejak sejam yang lalu," jelas Kakashi. "Tamu penting? Siapa?" tanya Menma sambil melanjutkan berjalan menuju elevator bersama Kakashi yang mengikutinya.

"Untuk itu ... lebih baik kau lihat sendiri. Mereka ada di kantormu," ucap Kakashi terdengar ragu-ragu. Di dalam lift Menma menilai situasinya dengan tenang dan berpikir-pikir, siapakah tamu penting yang dimaksud Kakashi.

Keluar dari lift, Menma berpisah dengan Kakashi karena Kakashi harus melakukan tugasnya yang lain dan Menma harus menemui 'tamu penting' mereka.

Menma berdiri di depan pintu kantornya sendiri, mempersiapkan dirinya. Menma memegang gagang pintunya. "Maaf telah membuat anda menunggu," ucap Menma dan memasuki ruangannya dengan sikap tenang.

Matanya langsung membulat melihat 2 orang yang duduk di sofa di depan meja kerjanya. "Kalian ...!"

"Lama tak bertemu, Namikaze Muda, Menma-kun. Kau tumbuh persis seperti ayahmu."

"Hi-Hisashiburi, Menma-kun!"

Pada saat itu, Menma berpikir ; 'Kami-sama, seluruh cobaan dalam hidupku, apakah kau berniat untuk memberikan semuanya sekaligus dalam sehari?'

.

.

.

.

.

Meanwhile ...

Sementara itu bersama Namikaze paling muda, yaitu Kyuubi.

Dia berada di kelasnya sambil memandang keluar jendela. Pagi tadi, saat dia keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan, dia tidak menemukan siapapun dirumah. Jika hanya Menma yang tidak ada itu sudah biasa, tapi pagi ini Naruto juga tidak ada.

Hanya ada porsi sarapan beserta bento yang disediakan di atas meja makan beserta sebuah memo singkat dari Naruto ; 'Makanlah sebelum berangkat sekolah. Ada hal yang harus kulakukan jadi aku tidak bisa menemanimu sarapan, - by Naruto'

Ini sangat tidak biasanya. Kyuubi mencoba memikirkan apa yang sebenarnya Naruto lakukan. Mungkin managernya memanggilnya untuk melakukan shift pagi? Atau dia ada janji ketemuan seseorang? Wait, yang kedua itu bikin Kyuubi agak cemburu. Berharap saja yang di temuinya perempuan, karena jika laki-laki yang ditemuinya, Kyuubi akan ...

"Baiklah anak-anak mohon perhatian." Kyuubi menolehkan pandangannya pada sumber suara, pintu kelas dan melihat wali kelas mereka, Asuma, masuk kelas bersama seorang siswi yang tidak pernah dilihat Kyuubi. Rambutnya berwarna pirang pucat, dengan panjang mencapai punggung. "Hm, rasanya aku pernah bertemu dengannya," gumam Kyuubi.

Murid-murid yang lain kembali ketempat duduk mereka masing-masing dan menunggu Asuma memperkenalkan siswi asing tersebut.

Asuma dan siswi asing itu berdiri di depan kelas. "Etto~, seperti yang kemaren kubilang, hari ini kita kedatangan murid pindahan. Mikou-san, perkenalkan dirimu," perintah Asuma pada siswi disampingnya.

Siswi itu tersenyum lembut dan memandang ke depan. "Konnichiwa, Minna-san. Namaku Mikou Shion. Mulai hari ini aku akan belajar bersama kalian. Mohon kerjasamanya," ucap siswi itu memperkenalkan dirinya lalu membungkukkan badannya dengan sopan.

Beberapa detik setelah Shion memperkenalkan diri, beberapa laki-laki mengangkat tangan untuk bertanya tapi disaat yang bersama Asuma juga mengangkat tangannya. "Pertanyaan tahan dulu hingga istirahat nanti. Kita akan melanjutkan pelajaran kita kemaren," sela Asuma sebelum yang lain sempat membuka suara.

Shion menoleh pada Asuma. "Ano, Sarutobi-sensei, dimana aku harus duduk?" tanyanya bingung. Di kelas ini ada 2 kursi kosong, salah satunya disamping Kyuubi dekat jendela, dan satunya di sisi yang berlawanan di ujung kelas satunya.

Asuma baru ingat bahwa dia belum memberikan tempat duduk untuknya. "Hm, oh iya. Kyuubi, angkat tanganmu!" perintah Asuma dan Kyuubi langsung menurutinya dengan mengangkat tangannya. "Kau bisa duduk disamping anak itu. Dan juga minta dia untuk membawamu berkeliling sekolah saat istirahat nanti," ucap Asuma.

Shion membungkuk pada Asuma lalu berjalan menuju kursi disamping Kyuubi. "Salam kenal, Namikaze-san. Mohon kerjasamanya," ucap Shion dengan sopan saat dia duduk di kursi kosong disamping Kyuubi. Kyuubi tersenyum kecil. "Begitu juga denganku. Salam kenal dan mohon kerjasamanya, Mikou-san," ucap Kyuubi.

Shion membalasnya dengan senyum lalu meluruskan pandangannya kedepan, dengan senyum yang luntur. "Ternyata kau tidak mengingatku, Kyuu-kun."

Kyuubi menoleh. "Kau bilang sesuatu, Mikou-san?" tanya Kyuubi. Dia merasa mendengar Shion mengatakan sesuatu, walau tidak jelas. Shion menoleh padanya dengan senyuman. "Bukan apa-apa, Namikaze-san," ucap Shion dan kembali memandang kedepan.

Kyuubi masih saja memandang Shion dan berpikir ; 'Aku yakin aku pernah melihatnya. Tapi dimana dan kapan?'

.

.

.

.

.


Hidup yang selalu nyaman dan bahagia tanpa adanya rintangan itu hanya ada di cerita fiksi. Kehidupan nyata itu bagaikan ombak di lautan. Kadang-kadang tenang dan kau bisa menikmatinya, tapi saat badai datang, ketenangan itu akan hancur. Pertanyaannya, apakah kau dapat bertahan dalam badai itu atau malah tenggelam?


.

.

.

.

.


...::: To Be Continued :::...


.

.

.

.

.

Salam kenal pada para senpai sekalian. Saya memutuskan mengambil alih dan melanjutkan beberapa fict di akun ini. Yang pertama adalah fict ini Sibling Love, selanjutnya fict yang mana ya?

Ups, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Ryuukira Marisa. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjuangan pemilik akun ini, karena itulah saya memilih mengemban nama 'Ryuukira' mereka. Padahal saya mau bikin nama yang baru, tapi sudahlah. Saya adalah orang dekat pemilik akun ini, dan saya sudah dapat izin untuk menggunakan akun ini dan menulis ceritanya. Untuk hal lebih lanjut mungkin bisa ditanyakan lewat PM.

Mengenai cerita ini, saya minta maaf jika style saya tidak sama dengan author aslinya. Saya berusaha menyesuaikan sebisa saya, tapi seginilah kemampuan saya. Gomen -_-`

Oh iya, bagi reader yang mengikuti fict ini sejak dulu, saya ingin tanya sesuatu. Sebelum melanjutkan fict ini, saya membaca chap 1 dan 2 nya berkali-kali terlebih dahulu dan disitu saya menemukan sebuah plot-hole. Yaitu, ...

'Kemana Kushina?' Di katakan bahwa Minato meninggal dan yang melanjutkan perusahaan adalah Menma, tapi kemana Kushina? Tidak dikatakan apakah Kushina hidup atau tidak dimana pun. Jikapun Kushina masih hidup, kenapa tidak pernah disebutkan dimunculkan dalam 2 chapter itu? Saya tidak bisa menebak jalan pikiran author aslinya, karena itu saya minta pendapat kalian terkait hal ini?

"Apa yang terjadi pada Kushina?" atau "Apa tujuan author aslinya dengan menciptakan plot-hole ini?"

Tolong masukan pendapatnya.

Sekian dari saya, Marisa, pamit undur diri. Bye ^_^