Chapter 7
Dua hari setelah Kaneki membuat Tsukiyama harus menerima hukuman yang membuatnya menyesali perbuatannya. Masih di tempat yang sama, ruang kesiswaan dari Aogiri Highschool.
Saat ini, terlihat seorang gadis sedang berbicara dengan guru yang berada di sana. Bukan karena suatu kesalahan seperti Tsukiyama sebelumnya, dia sedang dimintai keterangan tentang identitasnya sebagai murid baru di sekolah itu.
Sebenarnya, guru itu sudah mengetahui sedikit tentang siswi baru itu setelah ada sebuah berita yang melibatkan dirinya, tapi guru itu tidak ingin membahas tentang berita itu karena dia yakin kalau siswi itu tidak akan suka jika berita itu diungkit-ungkit.
Setelah memastikan identitas dari siswi itu, guru itu pun memberitahu letak kelas gadis itu dan menyuruhnya menunggu wali kelas yang akan mengantarnya ke kelasnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu pun mencoba memastikan keberadaan seseorang yang menjadi alasannya masuk ke sekolah itu. Sepertinya, orang yang dia cari sangat penting sampai membuatnya sangat berharap kalau informasi yang dia dapatkan tentang keberadaan seseorang yang dia cari di sekolah itu tidak salah.
"Sensei, aku ingin bertanya. Apakah ada seorang siswa seumuranku yang bernama Kaneki Ken di sekolah ini?" kata gadis itu.
"Apakah dia berambut putih?" guru itu bertanya balik.
"Iya."
"Dia berada di kelas 1a, kelas yang bersebelahan dengan kelasmu."
Gadis itu pun terlihat sangat lega karena informasi yang dia dapat tidak salah. Tidak lama setelah itu, wali kelasnya pun datang. Dia pun mengikuti pelajaran setelah memperkenalkan dirinya, tapi dia tidak benar-benar fokus karena sangat ingin bertemu dengan Kaneki.
..
.
Bel istirahat pun berbunyi, seluruh murid di Aogiri Highschool mulai meninggalkan kelas mereka masing-masing. Seperti biasa, Kaneki keluar dari kelasnya dengan novel yang dia baca sambil berjalan dan bungkusan berisi bekal yang akan dia makan di perpustakaan.
Saat Kaneki baru melewati sebuah pintu kelas di samping kelasnya, seorang murid memanggilnya. Murid itu adalah gadis yang tadi menanyakan keberadaan Kaneki saat sedang berada di ruang kesiswaan.
"Kaneki-kun!"
Sebenarnya, murid baru itu sempat diberikan pertanyaan oleh teman di kelas barunya tentang berita menghebohkan yang melibatkan dirinya, berita yang tidak ingin dibicarakan oleh guru di ruang kesiswaan tadi. Tetapi, dia menolak menjawabnya dengan alasan trauma dengan kejadian di berita itu dan sedang menunggu seseorang.
Seharusnya, sudah menjadi hal biasa bagi Kaneki dipanggil oleh para gadis di sekolahnya karena kepopulerannya, sekalipun yang memanggilnya adalah murid baru. Namun, panggilan dari gadis yang satu ini terasa berbeda karena Kaneki merasa pernah mendengar suaranya sebelum masuk sekolah itu.
Dugaannya pun terbukti saat dia menoleh ke wajah gadis itu. Saat Kaneki melihat wajahnya, dia bisa melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang berwarna ungu dan mata indah yang dihiasi oleh sebuah kacamata.
Gadis yang pernah mengisi kehidupan Kaneki dengan cinta, walaupun semua itu dia lakukan hanya untuk memanfaatkan kekayaannya. Dan setelah kelicikan gadis itu, Kaneki masih mau menolongnya saat nyawanya dalam bahaya tanpa pamrih bahkan tanpa gadis itu sadari siapa yang menolongnya. Singkatnya, gadis itu adalah mantan pacarnya, Rize Kamishiro namanya.
"Ternyata itu kau, Rize."
Setelah mengatakan itu, Kaneki pun hanya menunggu karena berpikir kalau ada yang ingin Rize katakan.
Rize sendiri hanya mematung karena nada bicara dan ekspresi Kaneki yang terkesan dingin, sangat berbeda dengan Kaneki yang dulu dikenalnya. Dulu, Kaneki akan mengeluarkan ekspresi yang terkesan manis, walaupun tidak sedang tersenyum. Sekarang, hanya ekspresi datar yang bisa Rize lihat dari wajah pemuda berambut putih itu.
"Ternyata benar apa yang Hide katakan. Cukup dengan ekspresi dan nada bicaranya, aku sudah bisa tahu kalau dia sudah berubah. Lihatlah, bahkan dia hanya melihat sekilas mataku saat sedang berbicara dan kembali memperhatikan bukunya, berbeda dengan Kaneki yang dulu ku kenal. Semua itu salahku yang telah menyakitinya dan memanfaatkannya.
Dan untuk apa ku lakukan semua itu? Untuk menyenangkan laki-laki tidak bertanggung jawab yang bahkan tega membunuh wanita yang sedang mengandung anaknya sendiri. Dan setelah menyenangkannya, aku sendiri hampir kehilangan nyawaku di tangannya. Pada akhirnya, aku menyesal karena telah menyia-nyiakan orang yang sangat baik kepadaku hanya untuk laki-laki seperti itu." batinnya.
Setelah hanyut dalam pikirannya sendiri, perlahan Rize pun mengeluarkan air matanya karena menyesali semua yang sudah terjadi.
"Kenapa kau menangis, Rize?" tanya Kaneki yang heran melihat Rize menangis.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Kaneki, Rize hampir saja memeluknya seandainya dia tidak mundur sedikit dan memberikan isyarat dengan kedua tangannya agar Rize tidak memeluknya.
Seandainya tidak ada novel dan bungkusan makanan di tangannya, dia mungkin sudah menepis kedua tangan Rize yang ingin memeluknya.
"Tunggu dulu, Rize!" kata Kaneki
"Kenapa, Kaneki-kun? Kenapa aku tidak boleh memelukmu?" tanya Rize
"Bukankah kau sudah memiliki orang lain, Rize? Apa tidak masalah kalau kau memeluk laki-laki lain tanpa diketahui oleh pacarmu?" kata Kaneki berpura-pura tidak tahu kalau Nishio sudah hampir membahayakan nyawa Rize.
Cukup dengan pertanyaan dari Kaneki itu sudah membuat tubuh Rize bergetar karena berusaha menahan tangisannya.
"Laki-laki brengsek itu ... dia jauh lebih buruk dari yang ku kira!"
"Memangnya apa yang dia lakukan?" Kaneki masih saja berpura-pura tidak tahu.
"Apakah dua hari yang lalu kau sempat mendengar berita tentang seseorang yang menghilang setelah menghajar pelaku pembunuhan wanita hamil?"
"Hmm ... sepertinya aku sempat mendengarnya."
"Kalau kau benar-benar memperhatikan berita itu, kau mungkin sudah tahu kalau aku adalah saksi di sana. Saat itu ..." Rize pun mencoba menceritakan semua yang terjadi, mulai saat dirinya dihampiri oleh seorang wanita hamil yang mengaku kekasih Nishio, hingga saat dirinya yang sedang disandera oleh Nishio diselamatkan oleh orang misterius yang sebenarnya adalah Kaneki.
"Tapi, aku tidak memberitahu pihak kepolisian dan wartawan kalau aku adalah pacar dari Nishio, aku hanya mengatakan kalau aku adalah teman dari gadis itu yang menemaninya ke rumah Nishio. Aku tidak ingin menanggung malu kalau banyak yang tahu aku adalah pacar dari seorang pembunuh." Rize mengakhiri cerita tentang pembunuhan yang Nishio lakukan.
"Walaupun pada akhirnya aku tetap memberitahu teman-temanku kalau aku memang pacar Nishio agar bisa bertemu lagi denganmu." sambung Rize di dalam hatinya.
Saat Rize sedang bercerita, dia bisa melihat tangan Kaneki yang sedang menggenggam bungkusan makanannya terkepal dengan sangat erat. Dia sangat marah, kemarahannya kali bukan hanya pura-pura agar Rize tidak tahu kalau yang menyelamatkan Rize adalah dirinya.
Mau berapa kali atau siapa pun yang menceritakannya, tetap saja cerita ini akan membuatnya sangat benci kepada Nishio. Bukan karena dia yang ikut membantu Rize memanfaatkan Kaneki, tapi karena kekejamannya yang telah membunuh orang lain. Bahkan nada bicara yang sudah berusaha dia tahan tetap saja meninggi di akhir kalimatnya.
"Laki-laki itu ... dia benar-benar keterlaluan! Tega sekali ... dia membunuh seorang wanita yang sedang hamil serta anaknya yang tidak berdosa!"
Setelah mengatur nafasnya sebentar, dia meminta maaf kepada Rize karena khawatir kalau nada bicaranya terkesan membentaknya.
"Maafkan aku, Rize. Mungkin nada bicaraku tadi terlalu kasar. Aku hanya tidak tahan mendengar ada yang tega membunuh orang tidak bersalah seperti yang kau sebutkan tadi."
"Tidak apa-apa, Kaneki-kun. Bukan hanya kau yang kesal dengan perbuatan Nishio, aku juga sangat kesal sampai ingin menyiksanya seandainya tidak dihalangi oleh orang misterius itu, walaupun saat itu Nishio sudah terluka parah.
Dan setelah melihat apa yang sudah Nishio lakukan, aku menyesal karena sudah menganggapnya lebih baik darimu. Apa pun sifatmu yang dulu tidak ku sukai, aku yakin kalau itu tidak akan seburuk apa yang sudah Nishio lakukan, karena aku yakin kalau kau terlalu polos untuk melakukannya. Walaupun Hide bilang kalau kau sudah berubah, aku tetap percaya kalau kau tidak akan sekejam Nishio.
Pada akhirnya, penyesalanku itu membuat semua hal tentangmu terus terbayang di pikiranku. Aku sampai bermimpi disiksa habis-habisan dan hampir dibunuh olehmu. Bahkan bayangan tentang betapa liciknya aku padamu sampai menghantuiku setelah bangun dari tidurku. Karena itu aku mencoba mencari keberadaanmu dan aku sangat bersyukur karena bisa bertemu lagi denganmu di sini.
Kaneki-kun, aku menyesal ... hiks ... aku menyesal telah menipumu ... hiks ... menyesal telah menyakitimu ... aku menyesal telah meninggalkanmu ... hiks ... bahkan saat aku memutuskan hubungan denganmu, kau sampai memohon agar tidak ditinggalkan olehku, padahal seharusnya kau sendiri yang memutuskan hubungan denganku yang ketahuan menghianatimu ... maafkan aku, Kaneki-kun! Maafkan aku! Maafkan aku!"
Pada akhirnya, Rize pun kembali terisak untuk ke sekian kalinya. Dia tidak bisa lagi menahan kesedihan karena menyesali semua perbuatannya. Tidak ada tipuan seperti dulu lagi. Semua yang dia ucapkan sudah berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Walaupun perasaan Kaneki sudah teralihkan oleh banyak hal yang mengisi waktu luangnya selama ini, tapi bukan berarti dia tidak bisa merasakan ketulusan dari setiap ucapan Rize itu. Ketulusan itu bisa Kaneki rasakan dari nada bicara dan ekspresi wajah yang bahkan hanya sekejap dipandang olehnya.
"Untuk kali ini, aku benar-benar merasakan ketulusannya. Bahkan ucapannya kali ini lebih tulus dari saat dia menyatakan cinta kepadaku. Sepertinya dia benar-benar menyesal." Kata Kaneki dalam hati.
"Sudahlah, Rize! Sejak lama, aku sudah memaafkanmu." kata Kaneki dengan lembut setelah sempat terdiam sesaat.
Mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk saat sedang menangis, Rize pun bertanya kepada Kaneki.
"Benarkah, Kaneki-kun? Kau benar-benar mau memaafkanku?"
"Iya, itu benar."
Cukup dengan jawaban singkat bernada lembut seperti itu sudah membuat Rize lega. Dia pun kembali berbicara dengan Kaneki.
"Terima kasih, Kaneki-kun. Aku senang karena kau sudah memaafkanku."
Dan perkataan Rize itu hanya dibalas anggukan kecil dari Kaneki yang kemudian kembali menunggu Rize berbicara. Rize sendiri sempat terdiam karena sedang memikirkan sesuatu. Setelah merasa yakin, dia pun mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Kaneki-kun, karena kau sudah memaafkanku, apa itu berarti kau mau jika aku memintamu kembali menjadi kekasihku?"
"Maafkan aku, Rize. Aku tidak bisa."
"Ke-kenapa, Kaneki-kun? Kenapa kau tidak mau kembali lagi kepadaku? Bukankah tadi kau bilang kalau kau sudah memaafkanku?" tanya Rize sedikit terkejut karena sempat berharap kepada Kaneki.
"Walaupun aku memaafkanmu, bukan berarti kita harus kembali menjadi kekasih, Rize. Aku ingin fokus meraih prestasi untuk kesuksesanku di masa depan. Aku tidak ingin sesuatu yang berhubungan dengan cinta menggangguku." jawab Kaneki.
"Kaneki-kun, kau tidak harus khawatir hubungan kita nanti akan mengganggumu meraih kesuksesan! Aku sudah melihat teman-teman kita yang masih bisa pacaran tanpa menggangu mereka meraih prestasi. Bahkan ada yang prestasinya meningkat karena dibantu oleh pacarnya." kata Rize.
"Maafkan aku, Rize. Aku masih belum bisa menjadi kekasihmu."
"Apa kau masih trauma dengan hubungan kita dulu, Kaneki-kun?"
Kaneki pun menghela napasnya setelah mendengar tuduhan Rize itu.
"Apa dia begitu ingin menjadi kekasihku sampai menuduhku seperti itu?" batinnya.
"Dengarkan aku, Rize! Aku sebenarnya punya alasan lain kenapa tidak ingin menjadi pacarmu. Aku tidak ingin memiliki perasaan benci kepadamu jika kita sampai putus. Mungkin alasan ini akan membuatku seperti orang yang mengalami trauma, tapi aku ingin bertanya kepadamu! Kau bilang tadi kalau kau sudah melihat pengalaman teman-temanmu yang punya pacar, tapi apa kau sudah melihat ada di antara mereka yang masih belum putus sebelum menikah?"
Rize hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan Kaneki itu. Rize memang tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan dari beberapa temannya yang sempat memiliki pacar, tapi Rize yakin kalau teman-temannya yang sudah pernah putus dari pacarnya tidak sedikit.
"Rize, kita masih perlu menunggu lama agar usia kita cukup untuk menikah. Aku tidak yakin hubungan kita bisa bertahan sampai kita cukup usia untuk menikah jika sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih. Aku tidak ingin membencimu hanya karena putus dari hubungan yang sebenarnya tidak terlalu serius." sambungnya.
"Kaneki-kun, kau tidak harus khawatir hubungan kita putus! Aku akan berusaha melakukan apa pun agar hubungan kita nanti tetap bertahan sampai kita siap untuk menikah. Aku mohon Kaneki-kun, jangan ragu!" balas Rize yang mencoba meyakinkan Kaneki.
"Bagaimana caramu menjamin kalau kita tidak akan putus, Rize? Seseorang yang sering memberiku nasihat pernah mengatakan kalau sifat dinginku yang sekarang akan menggangguku jika nanti sudah siap untuk mempunyai pasangan. Dia juga mengatakan kalau banyak wanita yang resah karena pasangannya terlalu sibuk sampai mereka kekurangan perhatian.
Walaupun tidak semua wanita berpisah karena kurang perhatian dari pasangannya, tapi kebanyakan dari mereka juga resah karena itu. Jangankan wanita, aku sebagai laki-laki juga sadar kalau aku butuh perhatian dari seseorang yang menjadi pasanganku nanti. Memangnya kau mau sering diabaikan saat kita menjadi kekasih nanti?"
"Aku tidak peduli, Kaneki-kun. Bahkan jika kau hanya menganggapku sebagai angin lalu, aku akan tetap berusaha mempertahankan hubungan kita nanti."
"Kau mungkin akan berusaha kuat untuk mempertahankan hubungan kita nanti, kau mungkin juga tidak akan menghianatiku nanti, tapi bagaimana denganku? Entah apa sebabnya, aku mungkin saja akan memutuskan hubungan denganmu, walaupun kau sudah sangat baik kepadaku. Walaupun saat ini aku memang tidak akan melakukan seperti yang sudah Nishio lakukan, tapi bagaimana nanti?
Rize, semua orang bisa saja berubah. Suatu saat nanti, aku mungkin saja akan menduakanmu, menghamili wanita lain di belakangmu, membunuhnya, atau mungkin membahayakan nyawamu setelah membunuhnya. Walaupun saat ini aku sangat berharap agar tidak pernah melakukan semua itu, tapi masa depan bukanlah hal yang mudah untuk ditebak. Memangnya kau masih mau bersamaku seandainya aku melakukan semua itu?"
"Aku katakan sekali lagi, Kaneki-kun! Aku ... tidak ... peduli! Setelah semua yang sudah ku lakukan padamu, kau boleh melakukan apa pun. Kau boleh memiliki orang lain selain aku, sebanyak apapun itu. Jika kau menghamili orang lain dan membunuhnya, aku tetap tidak akan meninggalkanmu. Bahkan aku akan berusaha keras untuk melindungimu dari jeratan hukum jika kau sampai melakukannya.
Bahkan nanti jika aku yang kau hamili, aku siap jika harus menggugurkan bayiku atau menjaganya tanpa bantuanmu. Karena itu, kumohon! Jangan mencari alasan lagi, kembalilah padaku, Kaneki-kun!"
Dan setelah mendengar perkataan Rize itu, Kaneki hanya diam. Dia merasa heran, kenapa dia begitu ingin menjadi kekasih Kaneki? Apakah dia mencintai Kaneki?
"Kau sepertinya begitu ingin menjadi kekasihku? Memangnya kau mencintaiku sampai berani mengatakan semua itu?" kata Kaneki mencoba memastikan.
"Kau pikir untuk apa aku mengatakan semua itu jika tidak mencintaimu, Kaneki-kun? Aku sadar, awalnya aku hanya menyesali kesalahanku kepadamu. Tapi, lama-kelamaan rasa ini mulai berubah. Ingatan tentang kelebihanmu dibanding Nishio, membuatku sangat merindukanmu. Apalagi sifatmu yang dulu agak polos dan pemalu.
Walaupun dulu aku menganggapmu culun karena itu, tapi aku mulai sadar kalau kau terlihat manis dengan sifatmu itu. Walaupun mungkin sifatmu sekarang sudah berubah, tapi kau adalah kau. Kau tidak akan pernah menjadi orang lain bagiku. Kau adalah Kaneki Ken yang saat ini berhasil mengisi hatiku." Rize pun mengatakan isi hatinya dan apa yang membuatnya jatuh cinta kepada Kaneki.
"Secepat itukah, Rize? Sepertinya kau baru mulai menyukai sifatku sejak dua hari yang lalu. Sebaiknya, kau tidak langsung menyimpulkan bahwa perasaanmu itu adalah cinta! Sebaiknya, kau pastikan dulu perasaanmu itu sambil menungguku siap menjadi kekasihmu lagi, Rize!"
"Jika maksudmu sampai usiamu cukup untuk menikah, maafkan aku! Aku tidak bisa menunggu selama itu, Kaneki-kun. Aku ingin kembali menjadi kekasihmu sekarang. Aku yakin kalau yang kurasakan ini adalah cinta, walaupun baru sebentar hadir di hatiku."
"Kalau begitu, sebaiknya kau belajar mengalihkan perasaanmu dengan cara menyibukkan dirimu, mumpung perasaan itu baru tumbuh sebentar. Coba isi waktu luangmu dengan sesuatu yang bermanfaat. Aku harap kau bisa menghilangkan perasaan cintamu dengan cara seperti itu, walaupun perlahan-lahan."
Mendengar itu, Rize menjadi sangat kesal. Dia berpikir kalau Kaneki berbicara seenaknya. Dia pun mencoba bertanya tentang perasaan cinta yang pernah Kaneki simpan di hatinya untuknya.
"Seenaknya saja kau bicara, Kaneki-kun! Apa kau pikir semudah itu menghilangkan rasa cinta? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah dulu kau bilang kalau kau mencintaiku? Apakah begitu mudah bagimu untuk menghilangkan perasaan itu?"
"Maafkan aku, Rize. Tapi, aku memang sudah tidak mencintaimu lagi. Memang tidak mudah bagiku untuk menghilangkan perasaan itu. Tapi dengan cara seperti yang aku katakan tadi, aku sekarang sudah bisa menghilangkan perasaan cintaku padamu, walaupun itu perlu waktu yang tidak sebentar."
Rize pun kaget setelah mendengar itu, tapi dia merasa belum percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kaneki-kun, aku pernah mendengar dari Hide kalau kau berusaha untuk tidak melihat mata seorang gadis yang sedang berbicara denganmu untuk mencegahmu jatuh cinta ..." Rize menundukkan kepalanya dengan kedua tangan terkepal, "Tapi kumohon, Kaneki-kun! Kali ini tatap mataku dan katakan kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi! Aku ingin melihat keseriusan dari mata seseorang yang saat ini sudah mengisi hatiku!" kata Rize yang kembali mengangkat kepalanya menghadap Kaneki.
"Maafkan aku, Rize. Aku sudah tidak mencintaimu lagi."
Deg
Rize langsung tersentak setelah mendengar perkataan Kaneki, matanya dibuat terbelalak setelah Kaneki melakukan apa yang dia minta. Rize dapat melihat keseriusan di mata yang terlihat kosong dan wajah yang tanpa ekspresi itu. Bahkan dia yakin, kalau seorang psikolog sekalipun tidak bisa menemukan kebohongan dari mata itu.
Merasa cukup lama melihat mata Rize, Kaneki pun kembali melihat ke arah novel yang tadi dia baca. Sementara ekspresi wajah Rize sendiri terlihat mengeras, sudah sangat jelas kalau saat ini dia sangat kesal.
"Ternyata benar, kau memang sudah tidak mencintaiku lagi, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkanmu kembali. Sambil menunggumu menjadi milikku, aku akan meyakinkan diriku sendiri kalau aku memang mencintaimu, seperti yang kau suruh."
Setelah mengatakan semua itu, Rize yang terlihat kembali menangis langsung berlari meninggalkan Kaneki ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
Kaneki sempat khawatir kalau Rize akan menjadi bahan gunjingan setelah semua yang dia katakan tadi, terutama saat dia mengakui kalau dirinya sempat menjadi pacar dari seorang pembunuh. Walaupun Kaneki memang tidak mencintainya lagi, tapi bukan berarti dia tega melihat Rize dipermalukan di hadapan banyak orang. Untungnya, para murid yang kelasnya di dekat tempat Kaneki dan Rize bicara itu sudah lebih dulu meninggalkan kelas mereka sebelum Rize memanggil Kaneki.
Karena merasa masih memiliki cukup waktu, Kaneki pun pergi ke perpustakaan untuk memakan bekalnya dan membaca bukunya seperti yang biasa dia lakukan.
..
.
Hari-hari pun berlalu dengan Rize yang berusaha keras mendekati Kaneki. Sesuai dengan permintaan Kaneki, Rize sudah mencoba memastikan perasaannya sendiri kepada Kaneki. Dia pun semakin yakin kalau dia benar-benar mencintai Kaneki. Banyak hal yang sudah dia lakukan untuk mendekatinya.
Dimulai dari mengembalikan banyak barang yang dulu dia dapatkan dari hasil memanfaatkan Kaneki. Jika barang itu tidak cocok untuk Kaneki simpan karena barang itu hanya bisa dipakai oleh gadis atau Kaneki tidak menyukai barang itu, Rize akan menjualnya secara online. Hasil penjualannya akan Rize gunakan untuk membelikan barang lain yang cocok untuk Kaneki.
Sayangnya, hasil dari penjualan barang itu tidak cukup untuk mengganti semua yang pernah Kaneki berikan kepadanya. Karena saat menjadi pacar Kaneki dulu, dia sudah menjual banyak barang pemberian Kaneki yang beberapa di antaranya cukup mahal. Tetapi, hasil penjualan barang itu dia habiskan untuk bersenang-senang bersama Nishio.
Dia juga tidak bisa meminta uang dari orang tuanya untuk untuk membeli barang semahal itu. Karena itu, dia mencoba mengumpulkan uang dengan bekerja paruh waktu di sebuah kafe hanya untuk mengganti semua yang pernah Kaneki berikan kepadanya.
Awalnya, Kaneki tidak ingin menerima semua barang itu. Baginya, barang yang sudah dia berikan kepada Rize adalah mutlak menjadi milik Rize, walaupun barang itu adalah hasil memanfaatkan dirinya. Namun, dia tetap bersikeras ingin mengembalikan semua barang yang pernah Kaneki berikan kepadanya.
Selain karena menyesal pernah memanfaatkan Kaneki, dia juga beralasan kalau semua barang itu akan terus membuatnya depresi karena mengingatkannya pada kesalahannya di masa lalu. Dia juga mengatakan kalau Kaneki tidak menerima barang yang dia berikan, sama saja dia tidak menghargai usahanya. Dengan semua alasan itu, Kaneki pun mau menerima setiap barang yang Rize berikan.
Rize juga sering menunjukkan perhatiannya kepada Kaneki dengan berbagai cara, salah satunya adalah membuatkannya bekal setiap hari karena dia lihat Kaneki selalu membawa bekal untuk dimakan di perpustakaan. Masih karena ingin menghargai usaha Rize, dia pun mau menerima bekal yang dibuat olehnya tanpa penolakan.
Kaneki merasa kesulitan jika setiap hari harus menghabiskan bekalnya sendiri dan bekal buatan Rize yang cukup banyak. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak membawa bekal dari rumah seperti yang sebelumnya sering dia lakukan dan memilih menunggu Rize membawakannya bekal setiap jam istirahat.
Kaneki tidak terlalu berharap kalau Rize bisa membuatkannya bekal setiap hari. Karena itu, dia selalu membawa uang yang cukup banyak untuk berjaga-jaga kalau Rize tidak bisa membuatkannya bekal. Jadi, dia tinggal mencari makan di kantin dengan resiko digoda oleh para siswi yang menjadi penggemarnya.
Selain menunjukkan perhatian, Rize juga mencoba mendekati Kaneki dengan cara menemaninya ke manapun setiap di luar jam pelajaran, kecuali ke toilet dan ruang ganti pakaian. Dia selalu memperhatikan Kaneki sebelum keluar kelas atau datang ke sekolah. Jika dia melihat Kaneki, dia akan menghampirinya dan berjalan bersamanya.
Mereka pun sering terlihat berjalan bersama, walaupun Rize tidak sampai berkunjung ke rumah Kaneki ataupun sebaliknya. Rize sempat beberapa kali mencoba menggandeng tangan Kaneki saat mereka berjalan bersama, tapi Kaneki selalu menepis tangannya dan berusaha menjelaskan kalau dia tidak ingin digandeng seperti itu. Kaneki menggunakan berbagai alasan yang masuk akal, walaupun Rize sendiri tahu kalau Kaneki hanya berusaha menghindari cinta.
Para siswi di sekolahnya banyak yang tidak suka dengan kedekatan mereka, apalagi setelah Rize mengakui kalau dia yang memutuskan hubungannya dengan Kaneki dulu, bukan sebaliknya. Mereka menganggap kalau Rize tidak pantas mendapatkan Kaneki kembali setelah menyakitinya dulu. Para gadis itu bahkan hampir saja mem-bully Rize jika Kaneki tidak menghalangi mereka.
Awalnya, para siswi itu protes karena menganggap Kaneki lebih membela Rize yang dulu sudah jahat kepadanya. Kaneki pun mengatakan kalau dia hanya tidak ingin ada yang di-bully di sekolahnya itu hanya karena kesalahan yang dilakukan jauh di masa lalu, siapa pun itu. Bahkan jika orang itu sudah pernah membuatnya hampir mati setelah disiksa. Para siswi itu pun mengerti dan memutuskan untuk tidak mem-bully Rize.
Lagipula, para siswi itu merasa senang setelah menyadari bagaimana sifat Kaneki terhadap Rize. Dengan semua yang sudah Rize lakukan, dia tetap saja belum bisa meluluhkan hati Kaneki. Kaneki masih tetap menunjukkan sifat yang terkesan dingin kepadanya.
Tetapi, dia masih belum menyerah. Masih banyak hal yang dia lakukan untuk mendekati Kaneki, walaupun pada akhirnya dia masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan.
-To be continued
A/N:
Ok, sampai sini dulu chapter kali ini. Kembali saya ucapkan maaf kalau ada kesalahan di chapter kali ini atau chapter sebelumnya.
Terima kasih sudah membaca.
#RAMAIKANFFN2020
