[]卍卍卍O o+[]oO*[+]*Oo[]+oO卍卍卍[]

.

.

[]-The Black Blossom Shine-[]

.

By

.

[]-Lightning Shun-[]

.

.

[]卍卍卍O o+[]oO*[+]*Oo[]+oO卍卍卍[]

.

.

.

Kesedihan mulai

Memunculkan

Rasa iri dan kekuasaan seseorang.

.

NEW

[Adipathi Nugroho :OC\Kain Yuan ]

Coming soon

.

.

Note 4 - [Pedang dan Hati]

Pagi yang ramai membuat suasana ribut-ribut, didekat kediaman ruangan-tidur-tamu. Kirie yang pagi itu baru bangun dan habis mencuci wajahnya, dikagetkan oleh beberapa dayang, yang nyilir-mudik seperti orang kesetanan.

"Ada apa sebenarnya!?,"Pikir Kirie memasang muka bingung, belum dia memutuskan kembali kekamar, pintunya ditahan kuat oleh seseorang.

"Maaf anda Nona-Kirie!,"Panggil seseorang, Kirie melirik pria tinggi berkisar 200-san, membuat mata Kirie membulat mana sih para pria dengan ukuran normal? Kenapa ukuran para lelaki - lelaki terlalu diatas jumbo.

"Ada apa! (Moodku sedang tak baik sekarang ini!)?,"Tanya Kirie cetus, berjam-jam menganalisa membuat matanya terasa perih semalaman, gadis itu juga kurang tidur.

"Aku ingin mengajak anda jalan-jalan,"Jawab Lelaki itu tersenyum, sementara Kirie memasang wajah aneh. WHAT THE HELL! Sepagi-ini jam masih menunjukan waktu jam setengah 6-pagi lewat hologram jamnya'Mau dibawa kemana orang jam seperti ini'.

"Siapa kamu!,"Tanya Kirie, yang sibuk memandang lelaki tinggi bongsor, memiliki manik indah ungu-tua, figur-lelaki muda, berdada bidang, rambun long-hair sepunggung diikat setengah setiap sisi, mengenakan yukata-putih, disambung armor berbahan kulit, merah-ungu, nampak terlihat canggung.

"Nama saya Kain Yuan, salah satu prajurit-bawa (prajurit tingkat akhir), ada beberapa yang inginkan saya ungkapkan tapi, saya tak bisa mengungkapkan ditempat ini karna melanggar aturan jika berlama-lama disini,"Dia nampak mendesah dengan raut memerah, nampak terlihat samar namun membuang pandangan dari Kirie membuat mendesah bingung 'Sepertinya pemuda ini bukan orang jahat'. "Maukah anda bertemu dengan saya ditaman belakang istana, diarea timur,"Ucap Yuan, membuat mata Kirie terbelalak.

"Maaf jika saya terlalu lancang pada Nona yang adalah tamu Kaisar,"Ucap Yuan langsung bersujud, dengan wajah malu.

"JANGAN BEGINI,"Ucap Kirie hampir teriak histeris, lalu menarik punggung lelaki itu 'Duh kenapa para Pria ini terlalu besar'Ia lalu menarik susah payah agar Yuan hingga berdiri tegak, keadaan jadi agak Gejavu sekarang. "Baiklah saya akan mengikuti, tunggu saja saya kesana,"Ucap Kirie mengangguk, sementara seulas senyum samar sungguh terlihat penuh lega.

.

.

.

[Setelah Itu]

[Kirie Pov]

Pada akhirnya aku pun memutuskan pergi keluar kamar, menuju tempat dijanjikan, sebenarnya itu bisa jadi 'perangkap' namun aku sudah menyediakan 'Weapon bill' jika ada serangan mendadak, sebisa mungkin aku bisa melawanya.

Mataku takjub melihat hutan tempat aku janjian dengan Yuan, sebuah tanah lapang yang luas, ditumbuhi pohon sakura, dan juga beberapa bunga liar, membuatku terkesima dengan keindahan tempat ini 'Taman istana sih, Taman istana tapi besar sekali'. Aku meruntuk tapi mungkin sedikit mood terselamatkan dengan adanya pemandangan ini(?).

Aku mendengkus lalu memutuskan berjalan-jalan lebih kearah taman atau hutan(?) Tampa menyadarai aku udah sampai didekat sebuah area dengan banyaknya alat-alat perang berupa lapangan kecil untuk tentara, tak aku sangka bisa sampai tersesat sampai wilayah prajurit, akhirnya aku memutuskan untuk pulang kembali keistana.

"Nona!,"Sebuah panggilan membuatku berbalik dan ternyata itu adalah Yuan. "Saya sudah mencari anda tau-tau anda sudah diarea barak-prajurit bawah,"Ucap Lelaki itu.

"Ya nampaknya aku tersesat lagi,"Ucapku lalu mengaruk kepala, sembari berhaha-ria.

"Tidak ini salah ini salahku, meminta anda datang berjalan kaki, harusnya saya mengendong anda atau memanggilkan sebuah tandu,"Ucapnya polos.

"AKU TAK PERLU!,"Ucapku memiris memikirkan kalau tingkah memalukan ini benar-benar dilakukan pemuda dihadapanya.

"Sa-Saya sudah memperhatikan anda dari kejauhan,"Ucapnya terbata dengan wajah merah.

"Eh!,"Ucap Kirie heran.

"Saya melihat kemampuan anda saat berada diaula kemarin saat anda menolong Tuan-Pao-Tao kemarin, mata saya tak berhenti menatap anda,"Ucap Yuan,"Ucapnya dengan malu.

Loading contived..

.

.

.

"Eh!,"Mulutku membulat layaknya angka 0, saking bingungnya, aku lalu hanya menghelah nafas shock tingkat rendah, mendengar apa yang diutarakan. 'Apa itu pujian? Atau?'.

"Anda Sangat mengesankan,"Ucapnya menundukan wajahnya malu membuatku terdiam. Ia lalu menuntunku pada sebuah pohon besar sakura dan kami, duduk disana didekat tempat pedang, jujur saja aku menyukai suasanaya indah, sejuk, dan nyaman, aku lalu melirik Yuan sudah duduk disampingku, membuatku menghelah nafas. "Lalu apa yang ingin kau utarakan,"Ucapku.

"Aku adalah putra dari Keluarga Kain, sebagai putra pertama, Tradisi kami setiap pria dalam keluarga akan menjadi Prajurit negara secara turun-menurun,"Ucapnya.

'Sesi curhat dimulai'

"Dan kau adalah salah satunya,"Komentarku tepat, membuat ia mangangguk lemas, membuat aku yakin ada masalah dibalik mimik mukanya yang nampak berubah murung, 'apa aku mengatan hal yang salah?'.

"Aku memang sudah menjadi prajurit namun, aku tak semampu kakakku dalam mengemban tugas ini,"Ucapnya aku menatap kekecewaan dalam rautnya, tanganya terkepal kuat diatas pahanya.

"Mengapa?!,"Ucapku datar aku memandang ketakutan dari matanya. "Apa yang kau ragukan!,"Tanyaku.

"Aku tak sekuat para kakakku aku ini lemah dan tak memiliki nama baik yang cukup mengangkat namaku, meski kami dari satu keluarga Kain, tapi keluargaku tidak seperti mereka, aku ini miskin,"Ucapnya.

Oh jadi ada masalah uang - uangan dalam, Dinasty ini tak ada bedanya dengan duniaku sebelumnya Sistem Cap nama dengan sogokan!.

"Para kakakku memiliki setiap Nama diVisi pasukan, tapi aku tergolong dari keluarga yang sama namun, harta begitu rendah tak cukup untuk membuat Nama baik makanya, aku sampai masuk di pasukan kelas rakyat,"Ucap Yuan menghelah nafas amat berat.

I see! Aku benci jalan pintas untuk pamor sementara nyali kelas teri~

"Sejujurnya aku merasa minder, aku merasa meski dari keluarga yang sama, mereka menyepelehkan diriku, dengan pangkat yang tinggi akibat suapan pada Para mentri,"Ucapnya membuatku menghembuskan nafas pasrah.

Ya kukira hal ini hanya berlaku didunia sinetron-picisan atau ftv, ternyata masalah itu ada didunia nyata toh!

"Mereka pun selalu memiliki pedang yang cukup sempurna dan nama baik saat berperang,"Jawabnya mencurahkan segala unek-uneknya

Aku muak mendengarnya..!Duniaku dan dunia ini sama saja.

"Kau!,"Aku terdiam lalu bangkit dari posisi dudukku, lalu mengambil salah satu pedang-pendek disana, sementara aku menyadari sikap menunggunya, tapi aku mengabaikanya sampai dia memanggilku.

"Nona Kirie?!,"

"Dengar aku!,"Ucapkan mengalihkan pandangan pada sebilah pedang tak-terlalu pendek, nangkring ditempat senjata.

"Pedang bukan hanya dasar menjadikan Prajurit-kuat dan Nama baik juga bukan sesuatu yang bisa menolongmu saat perang, tapi bagaimana caramu bertahan hidup demi mereka yang menunggu kepulanganmu," Ucapku lalu mengunakan kuda –kuda standar lalu memainkan pedang-pendek itu ditanganku, lalu secepat kilat mengarahkan ujung pedang itu dileher Yuan yang masih posisi duduk, membuatnya terkaku ditempat.

"Apa yang anda-,"Aku memandang rautnya berubah saat aku mengarahkan ujung pedang itu kelehernya, membuat dia tak bergeming dari tempatnya.

"Seharusnya sebelum kau menjadi prajurit tidakah kau memikirkan hal ini matang-matang,"Ucapku.

"Apa maksut anda,"Ucapnya lagi membuatku merasa kesal 'Astaga!'.

"Ambil ranting kayu ditanah itu," Aku kembali terdiam lalu menjauhkan ujung senjata tadi dari lehernya, lalu menyuruhnya mengambil sebuah ranting kayu ditempat rumput- kering, meski Yuan terlihat kebingungan ia tetap mengikutnya. "Bagaimana perbedaan Sebuah ranting kayu, dan sebuah pedang,"Tanyaku padanya.

"Sangat ringan dan tak ada beban, benda yang Lemah"Jawabnya jujur dan aku menyengit dalam hati 'Polos sekali pria ini'.

"Berat padang dari ranting itu dua atau tiga, pedang asli,"Ucapku.

"Tapi dengan sebuah ranting tak akan melukai apa-pun?!,"Ucapnya, membuatku merincingkan mataku tajam.

"Kau salah besar dalam teorimu bung!,"Balasku tajam. "Bahkan sebuah ranting bisa menolong seseorang untuk selamat, agar membela diri,"Ucapku.

"Tapi ini hanya sebuah Ranting apa lagi saat perang dan bagai mana jika sebuah ranting bisa mengancurkan pertahanan seseorang,"Tanyanya.

"Kuajarkan satu hal padmu, beri ranting itu padaku,"Ucapku lalu dia memberiku ranting itu dan aku lalu memposisikan kuda-kudaku dan tangan layaknya mengenggam pedang, sementara pedang yang asli kutancapkan diatas tanah. Lalu mengarahkan ranting itu pada Armornya.

ZAP!

"Aa.."ia mengantungkan ucapanya, membuatku tersenyum, sepertinya dia mulai memahami apa maksutku. "kau mengunakan ranting itu bukan untuk menghancurkan armorku, tapi menancapkan pada titik lemah armor ini!,"Ucapnya sementara Aku hanya menghelah nafas datar.

"jika ini pertarungan sesungguhnya mungkin Ranting itu benar-benar kutancapkan pada titik Armormu, hingga langsung pada kulitmu,"Ucapku mencabut Ranting yang menancap pada armornya, dan mengambil Pedang yang asli yang masih menancap ditanah.

"Ini berbeda jangan kau anggap sepele!,"Keluku pendek, aku berdecak pinggang sembari menghebuskan nafas kasar."Saat kau dimedan perang kau akan memerlukan apa-pun untuk selamat bahkan dengan ranting sekali-pun,"Ucapku berdecak pinggang, lalu berkata lagi. "Kau tahu manusia punya sesuatu yang lebih dari sekedar sebuah pedang,atau pangkat yang tinggi"Ucapku Lagi.

"Sesuatu?!,"Tanyanya.

"jika kau hanya bergantung pada pedang bagus-pun kau tak akan mendapat apa-pun selain ajalmu melayang,"Ucapku lalu meletakan pedang yang tadi ketempat senjata setelah kumainkan dan memandang ia kembali. "Lalu jika kau hanya bergantung pada Nama baik yang kau beli dengan uang-pun tak akan ada yang bisa melindungimu, kalau tidak dari dirimu sendiri, Saat perang tak ada tawar menawar!,"Ucapku ia memiringkankan kepala.

Aku berdiri mendekatinya, bola mataku nampak terfokus tajam padanya, membuatnya dia nampak terlihat begitu sangat risih, karnaku aku menyadarinya tapi kubiarkan 'mengetes seberapa kuatnya mentalnya', aku memandangnya dingin pandanganya mulai beralih kelain tempat membuatku mendekus sekali lagi. Tubuh kami semakin dekat lalu memukul dadanya yang beramor itu dengan sekali hentakan.

DUK!

Membuat ia tak cedera atau mengalami patah tulang saatku-pukul, tapi ia terjatuh ketanah dari posisinya, terkejut membuatku mengeleng. 'Pria ini masih memiliki sesuatu yang bisa diasah'.

"Menjadi Prajurit bukan hanya karna nama keluarga, atau pangkat tercintamu itu mengelikan,"Ucapku mengeram saat terduduk ditempatnya tubuhnya nampak gemetar dibalik armornya membuatku ingin tertawa.

"Tapi jadi prajurit lalu Hiduplah demi dirimu dan orang-orang yang menunggumu! Lakukanlah agar kau selamat dan menyelamatkan orang-orang yang ingin kau lindungi, bukan karna menjadi seorang tentara atas keturunan-pemimpin yang menekangmu, kau manusia dan semua hidupmu adalah pilihanmu gunakan senjatamu, senjata yang paling kuat yaitu Tubuh\Serta akalmu,"Ucapku memandang manik ungu pada irisnya, dan aku mengakui dia adalah lelaki yang tampan serta menganggumkan, aku yakin dirinya bisa mengasah kemampuan itu.

"Jika kau menginginkan Jabatan, kehormatan bahkan nama baik, kau tak perlu melakukan dengan menyuap seperti para-kakakmu, tapi buktikan pada orang jika kau pantas mendapatkan itu semua dan mengakuimu,"Ucapku.

aku mendesah pelan lalu memandangnya, aku mendekatinya mendaratkan dahiku bersentuhan dengan dahinya mataku terpejam, aku tahu ucapanku terlalu mengagetkan untuk mentalnya yang masih baru menjadi prajurit.

Maafkan aku Yuan..tapi dunia militer tak seindah yang kau pikirkan.

Semua itu telah kujalani bertahun-tahun aku hidup dari dunia, bahkan terlahir dari tempat yang kejam, aku tak tahu berapa banyak aku melewati bahaya-bahaya bahkan pertarungan, aku juga pernah merasakan bagaimana terlukanya aku dulu, diriku yang lemah, diriku yang tak bisa apa-apa,Tak bisa melindungi orang yang kusayangi, mereka mati dihadapanku, mati sia-sia, aku lebih mengutamakan dasar ketakutan lalu sembunyi ketimbang logika-untuk bertahan hidup dan otak dalam tindakanku, aku yang ceroboh, membawa orang yang kucintai mati dihadapanku.

Aku tak siap untuk itu.

Aku tak ingin kubiarkan itu terjadi pada lagi orang lain, astaga keadaan ini membuatku malah diingatkan dengan kenyataan masalalu yang buruk.

Bola mataku terbuka dan dahi kami bertemu, akhirnya aku menyadari getaran tubuhnya sudah normal memutuskan aku untuk menjauh.

Suasana Absurd diantara kami membuat dia masih mematung bagai boneka maknekin membuatku tersenyum. "Jika kau adalah pria pilihlah jalanmu sendiri, jika kau ingin menjadi prajurit kuatlah, lalu hiduplah,"Ucapku berdiri menjauh. "Karna banyak orang menunggumu, benarkan,"Ucapku lagi sembari tersenyum.

.

.

.

"Nona Kirie!,"Panggilnya membuatku menoleh. "Ucapanmu hari ini tak akan pernah lupakan seumur hidup,"Ucapnya seulas senyuman terulur dibibirku kian lebar, kuputuskan meninggalkanya.

Aku yang jalang ini mengajari seseorang.

Agil pasti tertawa jika tahu~

Pada saat aku memutuskan kembali keistana, dari jauh aku melihat seseorang yang tidak asing, berdiri tepat dihadapanku, nafasku tercekat karna kanapa kami harus bertemu dengan posisi seperti ini, membuat aku menghembuskan mulutku kasar.

"Mengapa kau berada disini!?,"

[Kirie Pov end to normal Pov]

.

.

.

"Mengapa kau berada disini!?," Seseorang itu menatap tajam kearah Kirie, ditaman belakang istana sepagi ini, yang ditanya hanya menghembus nafas bosan.

"Jalan-jalan."Jawab Kirie datar, sembari memandang pria dihadapanya yang adalah Lu Bu. Apa lagi kejadian di aula kemarin membuat gadis itu tak nyaman. "Aku tak akan melakukan hal-hal bodaoh dalam istana karna aku tahu setiap mata akan selalu mengawasiku, benarkan,"Ucap Kirie.

"Jelas kau memang menyadari hal itu, dan bertindak macam-macam, kau bukan wanita sebodoh itu,"Ucapnya mendengkus, membuat Kirie menghelah nafas jengkel.

"Akan tetapi soal kemarin!,"Tanya Gadis itu terbata, dengan semuan dipipinya. "Tanganmu apa baik-baik saja!,"Tanyanya membuat hawa lain yang nampak lembut dari tubuh wanita itu.

"Tak apa-apa!,"Ucapnya sembari memainkan tanganya yang memakai sarung tangan, terbuat dari kulit hewan berwarna hitam.

"Bisakah kulihat,"Tanya Kirie lagi.

"Tidak!,"Jawabnya datar.

"Kenapa? Aku lihat,"Jawab Kirie.

"Tidak!,"

"Berikan tanganmu!,"

"Tidak!,"

"Ayo berikan tanganmu Babbon!,"

"Tidak!,"

Kirie berdecak kesal lalu ia mulai mengeram, melompat lelaki itu, dan berusaha merebut sarung-tangan Lu Bu, mencari langkah yang tepat agar memaksanya agar lukanya terlihat. "Aku tidak suka caramu! Berbohong,"Ucap Kirie kesal lalu berlari kearah Lu Bu, dengan staring cepat, meski-pun pola kelincahanya mungkin bisa ditahan oleh tubuh Lu Bu yang bobot dan tenaganya yang kuat. Kirie harus secara cermat mengunakan badanya ringan agar bisa menangkap lengan lelaki itu, ia harus mendapatkan posisi [kesempatan] meski hanya 5% saat lelaki berbadan keakar itu lengah. Tangan Lu Bu menghindari gerakan Kirie karna terbaca telak olehnya. Membuat Kirie melompat bersalto melewati kepala Lu Bu, lalu sebelum lelaki itu berbalik sempurna gadis itu mengambil senjatanya [Aries-Gun] lalu membidik tangan Kiri Lu Bu tersebut.

[Khanso]

[Cannon blows Aries]

[Mode]

[Chain Blows Aries]

[ACTIVET]

[DOR]

Puppil mata Lu Bu membulat dengan serangan yang dilayangkan, karna senjata aneh yang digenggam Kirie tidak mengeluarkan sebuah peluru yang menjatuhkan lawan, melainkan sebuah benda layaknya cambuk-kolper yang tiba-tiba melilit sarung-tanganya melesat begitu cepat dan melilit seperti lem.

"HEAAH!,"

Dalam sekali hentakan gadis itu menarik sarung-tangan kulitnya, hingga dengan kasar tertarik kuat membuat sarung tanganya terlepas dari tanganya. Usai itu sarung tangan itu berpindah pada tangan gadis itu, membuatnya terlihat terhengah-hengah, nampak terlihat senyuman puas diwajahnya. "Kau berbohong! Bahkan luka belatinya nampak begitu besar!,"Ucap Kirie dengan wajah kesal saat memandangnya. Ia lalu mendekat dengan sarung tangan Lu Bu ditanganya, ia memlihat kondisi luka lumayan parah tersabet, dan terlihat tampa penanganan apa-apa pada luka ini.

Ia memasang wajah kesal, mata hijaunya nampak berkilat, sementara Lu Bu hanya ikut-ikutan mempelototinya tak terima apa yang dilakukan gadis itu, sementara Kirie mengabaikan aura kematian dari lelaki tersebut dan malah memasang aura yang juga tak kalah mengerikanya, bersama aura imajiner-petir yang menyambar-nyambar, heh! entah kenapa? nampak seimbang, lupakan..! Bahkan Author tak bisa menghentikan keduanya, dikarnakan kedua sama keras kepalanya.

TAP!

Bola-mata Kirie nampak bersinar kehijauan, dengan telapak tanganya terulur kasar pada Lu Bu, dari telapak tangan Kirie terlihat aura kehijauan yang bisa terlihat dengan mata telanjang, membuat bola mata Lu Bu membulat, aura hijau dari tangan Kirie sudah menyelimuti tangan lelaki itu, dan tiba-tiba aura itu menghilang begitu saja, bersamaan dengan lukanya. Membuat muka pria itu kembali terheran-heran.

"Anggap saja itu hutang budiku,"Ucap Kirie membuang muka dan melepas tangan Lu Bu begitu saja, saat luka luarnya sudah tidak meninggalkan bekas. "Terimakasi atas pertolonganmu,"Ucap Kirie, lalu memutuskan berlari meninggalkanya.

Tampa menyadari sepenggal senyuman samar muncul dari bibir sang komandan berparas keras kepala itu.

.

.

.

"Kirie-chan kau dari mana saja!,"Ucap seorang gadis bermata biru gelap sudah berada didalam kamarnya dan mempelototinya, dengan aura menyeramkan, bahkan para pengawal yang gak sengaja lewat langsung mengidik melihat Li Yingqi, Kirie hanya membatu, dan Li Yingqi lalu mendekatinya, saat gadis-jepang itu sudah sampai dikamarnya.

"Ah memangnya ada apa!,"Ucap Kirie memiringkan kepala membuat wajah Li Yingqi berdecak kesal saking gemasnya, ia lalu tak menjawab Kirie dan menyeret gadis itu.

"Ayo kita mandi sekarang, aku sudah lama menunggumuuu!,"Ucap Li Yingqi kesal.

"Kita mau kemanaaa!,"Kelu Kirie panic, namun gadis postur tinggi bonsor setinggi 171, menarik gadis itu dengan sekali hentakan, Li Yingqi menarik gadis itu puas, Kirie tak melawan dan diseret secara paksa.

.

.

.

[Kamar Mandi]

Kirie hanya bisa menghelah nafasnya rendah saat Li Yingqi menyeretnya kekamar mandi, bahkan memaksanya menanggalkan busananya secara secara sepihak (abaikan), setelah Kirie mengikuti titah wanita itu, Li Yingqi langsung. Membuka bajunya, dan ikut mandi.

"Dimana Diaochan?!,"Tanya Kirie melirik Li Yingqi membasuh tubunya, dengan pupur-melati, dan mengusapnya dibagian tenguk serta dada.

"Lady Diaochan sedang, memandu Para dayang utama, untuk mengurus berbagai tugas istana soalnya mereka sibuk dalam acara yang akan diadakan diistana,"Ucap Li Yingqi.

"Acara,"Kirie menaikan sebelah alisnya bingung, sementara Li Yingqi hanya menghelah nafas.

"Keluarga dari beberapa ras terpandang akan datang untuk, menghadiri acara disini,"Ucap Li Yingqi, lalu tiba-tiba langsung menyiram kepala Kirie dengan seember air.

BYURRRR!

"KYAA!,"Kirie terkaget dengan kaget mendapati rambutnya basah samua, belum hilang rasa kagetnya, tangan Li Yingqi sudah ada dikepalanya dan meremas rambutnya.

"Harusnya cobalah untuk memberikan getah lidah-buaya pada kepalamu, sayangi rambut panjangmu rambutmu ini indah tahu!,"Ucap Li Yingqi.

"Aku bisa melakukanya sendiri!,"Ucap Kirie malu.

"Bisa apanya, saat kemarin kita mandi bertiga! Kamu malah keliru memakai getah lidah-buaya dibadan,"Handriknya sembari menajamkan matanya.

"Eh!,"

"Kau juga salah mengunakan salep dikepala Ki-Ri-E-CHAN!,"Ucap Li Yingqi, langsung menerkam Kirie, dan memandikanya.

"HUAAAHHHH!"

.

.

.

[SETELAH ITU]

"Ah apa ini tak terlalu heboh!,"Ucap Kirie mempelihat sosok bayang dirinya pada media-cermin yang permukaanya terbuat dari tembaga, yang reflexinya sangat buram.

"Ada apa memangnya!,"Tanya Li Yingqi, dengan nada cetus. "Pokoknya jangan dilepas,"Ancam Li Yingqi yang sedang sibuk mengenakan sebuah pernak-pernik rambut berwarna biru, pada rambutnya yang saat itu dikepang kesamping, busana berwarna hijau-polos, pinggang rampingnya diikat oleh stagen abu-abu dengan gambar awan berwarna ungu-tua, lalu dikakinya mengenakan sepatu hijau, membuat dia amat cantik dalam setiap penampilanya.

Sementara Kirie, hanya menghelah nafasnya, memandang dirinya yang kali ini didandani oleh Li Yingqi. Rambut yang biasanya digerai dikepang-setengah, dan rambutnya dibiarkan tergerai, ia mengenakan gaun berwarna abu-abu dengan leher berbetuk V bagian dada, dengan ornamen-gambar bunga, stagen biru\putih, gaunya sebatas bawah kaki, dengan sepatu-zerami (mirip sepatu balet) berwarna senada dengan bajunya. Mukanya juga diberi beberapa kosmetik ala zaman itu, yang dibuat dari batu kapur yang dihancurkan menjadi bedak, dan beberapa serpihan tembaga yang memberikan warna pada pipinya, kayu-arangnya digunakan dialis, dan Gincunya yang dibuat oranye dari bahan bunga dan ditumbuk hingga hancur. Bahkan dandanan ini terlalu berlebihan seperti sebelumnya.

"Tapi ini terlalu-!,"Ucap Kirie.

"Terlalu apa?!,"Tanyanya.

"Terlalu berlebihan,"Ucap Kirie pasrah.

"Jangan lepas pernak-perniknya pokoknya! Dan riasanmu jangan dihapus,"Ucapnya memasang wajah cemberut, sementara Kirie hanya mengeleng cepat.

"Memang kita kemana?!," Tanya Kirie memasang wajahnya, bingung sembari memiringkan kepala.

.

.

.

[Kandang Kuda]

"Oh tidak!,"Mata Kirie membulat sesaat saat Li Yingqi membawanya pada kandang kuda kerajaan, dan saat itu mata Kirie nampak senang sekaligus buram, karna sesuatu ingatan yang menyebalkan prihal 'kuda'.

"Paman Teu," Li Yingqi berteriak lalu berlari kearah sosok lelaki tua, dengan kepala plontos dan mengenakan 'Hakama' abu-abu dan celana pendek lusuh, ia juga mengunakan sendal tali lebih sederhana, dan saat itu sedang mengambil 'Pakan' Kuda' Li Yingqi nampak tersenyum memandang lelaki tua, dengan keriput diwajahnya.

"Ada apa Nona Li Yingqi?!,"Ucapnya sembari tersenyum.

"Aku mau mengambil Lagonda, aku mau keluar istana,"Ucap Li Yingqi membuat Kirie mengekori mereka sampai disebuah kandang dengan 5 dengan 5 lagi dengan posisi berhadapan. kandang kuda terdiri dari kuda tangkas yang nampak kuat, dengan warna, sementara mood Li Yingqi nampak berbinar saat ia bertemu dengan seekor kuda bersurai biru tua, begitu pula sang kuda saat melihat Li Yingqi nampak memandang sama dengan majikan, layaknya terabaikan Kirie hanya menghelah nafas miris bersamaan, merasakan sebuah sentuhan dari belakang kepalanya.

TUK

TUK

TUK

Saat memandang mata Kirie membulat ternyata itu adalah Red Hare kuda hitam-kemerahan, milik Jendral Lu Bu yang kini sibuk. Mengelus leher Kirie(?), kepalanya dengan moncong serta wajahnya tengah sedang dijulurkan dari balik pembatas kandang kuda.

"Red Hare milik Ryou-Taichou. Nampanya dia sangat menyukaimu!,"Komentar Li Yingqi. "Kau tahu Red Hare adalah kuda yang datang dari Fergana, dan sifatnya kasar, sangat kuat dan susah dikendalikan terkecuali Ryou-Taichou,"Ucap Li Yingqi sembari mengelus wajah Lagonda.

"Ia tapi Dia dan pemiliknya benar-benar meninggalkan trauma besar padaku,"Ucap Kirie dalam hati, sementara mulut Kirie hanya tertutup rapat, dan membiarkan sang kuda mengelus-ngelus rambut, bahunya bahkan pipinya serta dirinya dengan mocongnya(?).

"Ayo kita pergi,"Ucap Li Yingqi, lalu mengeluarkan kudanya dan menarik Kirie menuju Kearah tundanganya. "Kita akan kekota"

"Eh".

.

.

.

Li Yingqi mau-pun Kirie menunggangi cantik itu menuju kota, sampai disana ia melihat berbagai macam hal yang baru mulai dari pasar tradisional, rumah-rumah warga, taman-taman dan lingkungan yang sangat asri, semua menjajakan barang berkualitas khas negeri sendiri benar-benar mengagumkan, mata Kirie menatap kumpulan banyak masyarakat yang sibuk melakukan aktifitas. Hingga Li Yingqi menghentikan kudanya area dermaga.

"Eh kenapa kita disini Li Yingqi!,"Tanya Kirie kemudian, dan Li Yingqi berbalik hingga tersenyum.

"Karna aku mau membeli coklat bubuk hari ini, makanya aku datang kemari, kapalnya pasti sudah datang,"Jelas Li Yingqi lalu turun Kuda duluan, lalu mengikat kudanya kesalah satu penyangga kuda.

"Eh,"Kirie hanya terbingung-bingung lalu ikut turun, mengikuti Li Yingqi.

"Setiap seminggu sekali kapal dagang selalu mampir kemari, dan jika kita beli disini saat barang diturunkan didermaga, harganya lebih terjangkau lebih murah, dari pada saat dibawa kepasar "Ucap Li Yingqi melangkah menjauh sementara Kirie hanya mengangguk mengekorinya.

BUK!

Kirie terkaget saat merasakan punggunya bertubrukan dengan sesuatu, hingga mendapati sosok seorang lelaki 60-tahunan tengah membawa sebuah dus kayu ditanganya, dengan raut cemas diwajahnya.

"Daijobu-desh Ka?" (Anda tak apa-apa)!,"Panggilnya, dengan raut cemas, membuat mata Kirie kembali membola mengetahui pedangan yang tak sengaja bertabrakan denganya adalah orang jepang, membuatnya terkaku ditempat seperti patung.

"H-Hai, watashi wa nani mo shimasendeshita!" (Saya tak apa-apa!)," Kata Kirie sembari mengeleng cepat. "Soratomo!"(Terimakasi),"Ucap Kirie pelan.

Sementara lelaki itu hanya tersenyum dalam raut tuanya, ia memandang ceria lalu berkata. " Watashi wa tsujo, koko de hanasu koto ga dekiru yo ni ikutsu, ka no ta no toreda ni yotte tasuke, anata wa watashi ga nani o itte iru ka rikai shi tenai to omoimasu! (Saya tidak menyangka, anda paham apa yang saya bicarakan, biasanya saya dibantu beberapa pedagang lain untuk bisa bicara dan berkomonikasi disini!),"Jelasnya sembari tersenyum lebih lebar.

"Hai, ga ima made yonda hon kara anata no gengo o manabimasu!," (Ah saya hanya mempelajari bahasa anda dari buku yang pernah saya baca!),"Ucap Kirie memberi alasan.

"Shinji raremasen," (itu luar biasa),"Pujinya, sementara Kirie hanya tersenyum mengangguk sopan.

"KIRIE-CHAN!,"Bola mata Kirie membulat mendapati sosok Li Yingqi, dari kejauhan mendapati wanita itu kembali mengembungkan pipinya, langsung mendekati Kirie. "Aku mencarimu berapa detik saja aku tak menghilang ternyata dirimu disini!,"Ucapnya bertubi-tubi sembari membawa sesuatu ditanganya, sebuah bungkusan karung kecil ditanganya.

"Aku tersesat dan akhirnya! Memutuskan menunggu bersama Lagonda,"Ucap Kirie berusaha memberi alasan, dan sipnya alasnya bisa diterima oleh Li Yingqi, dan syukurnya ia bernapas lega wanita tidak mendengar ucapanya dalam bahasa jepang.

.

.

.

[Kirie Pov]

"Ah," Seulas senyuman terlihat dibibir Li Yingqi, lalu menarikku tangan satunya yang bebas dan penuh rasa nyaman, hatiku senang.

Kami kembali keatas Kuda memutuskan membeli pelengkapan guna tepung-gandum, bahan-bahan kue, dan berputar-putar serta dan menghabiskan setengah hari diluar istana. Bahkan Kami hampir lupa waktu.

"Astaga aku hampir lupa jika akan diadakan acara penyambutan beberapa keluarga, dalam pesta besok kita harus segera pulang,"Ucap Li Yingqi, membuatku mengangguk dari belakang, sembari memeluk eratnya pinggangnya, aku tak mau jatuh dari kuda. Namun mataku teralihkan dari sorak-sorai suara ramai dialun-alun kota.

"Ada apa disana?!,"Tanyaku. "Menagapa ramai sekali disana,"Ucapku dan membuat kuda yang kami tungganggi berhenti tiba-tiba.

"Kurasa ada seseuatu,"Ucap Li Yingqi, sembari turun dari kuda menarikku kearah keramaian. "Perasaanku kok tak enang,"Ucapnya pada dirinya sendiri.

Aku dan Li Yingqi memutuskan mendekati kerumunan, setelah menyadari apa yang terjadi Bola mataku membulat, memandang pemandangan yang mengerikan.

.

.

.

Bau-anyir menusuk penciuman benar-benar menyebalkan. Rautku menyengit dmana aku melihat beberapa adegan tak manusiwi didepan mataku. Beberapa sosok tubuh wanita dari kalangan rakyat biasa digantung dalam tiang-gantungan, bersamaan beberapa lelaki yang di penggal didepan umum. "Apa yang terjadi dengan semua ini!,"Ucapku tergagap, sementara fokusku terarah kearea beberapa kubu manusia dipinggir tempat exsekusi yang kondisi terikat dan sepertinya akan menerima hal yang sama, dan yang semakin membuatku tak nyaman bahwa salah satu orang disana ada yang kukenal dan itu pedagang-jepang yang ngobrol denganku didermaga.

"Ini tak mungkin.."Aku mengelu dalam hati dan memasang tampang seperti batu, bahkan aku mengabaikan Li Yingqi, yang nampak bertanya pada beberapa orang prihal yang terjadi, lalu merasakan ia menguncang tubuhku namun nihil, aku malah mengabaikanya dan masih dalam kondisi Shock-rendah, keadaan ini benar-benar menguncangku.

.

Bersambung

Sabtu-9-Juli-2016

[Satsuki narita]

Ia Satsuke emang sengaja kubuat gitu :v

.

.

[ShineYaoi lee]

Ia ada rencan kesana juga cuman untuk plot aku masih memikirkan selaku jalanya...

.

.

[Coco]

kalau kejelasanya silahkan bertanya pada Rossy selaku pemilik oc sahnya, makasi kunjunganya.

.

.

[Axoire]

heheheh gak apa-apa kok senang ente berkunjung makasi atas kunjunganya...

.

.

[ShineYaoi lee]

Ciee! Selamat dari masa jomblo, kalau sejuta umat untuk dirimu, namun kalau urusan tertarik ama siapa..! Rahasia, ya soal komflik pastinya :P

.

.

[Noctlight]

Dipanjangin sih bole-boleh aja! Tapi ya, tergantung otak saya gak mampet ditengah jalan, amin aja deh, doakan saya.

.

.

[Nivans erlangga]

Makasih..aku sangat tersanjung Yu XD, Stay tune aja.

.

.

[RosyMiranto18]

Ehm..maksut saya gudap penyebutan bro bukan arti dalam bahasa jepang -_-.

Untuk epilog tambahan, semoga PM saya sembuh sedia kala (TAT).

Yingqi : Author-LS suram, Kirie-chan dia kenapa?.

Kirie : entahlah aku tak tahu.

LS : (TAT) hueee~

Yingqi : dia kenapa ya?! (Pose berpikir)

Shun : *muncul* mungkin karna uang 50-ribunya hilang tadi.

LS : (suraam dipojokan)

.

.

[Cherry]

Haree sekarang panggilanya rada aneh aneh ya ada yang panggil abang, sayang, nona, mbak dan vang*histeris* tapi makasi buat Cherry yang mau baca tetap stay tune ya.