My Stepson
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
My Step Son © Daneesha Xiaoyu
Warning!: AU, Miss Typo, OOC, aneh, gampang ditebak, dan kekurangan lainnya
Don't Like, Don't Read
.
~Happy Reading~
.
/Ia menatap tak suka kearah mereka, lebih tepatnya kearah ayahnya. Ia iri, cemburu, marah. Ayahnya mendapat perhatian lebih dari wanita musim semi itu. Wajar, karena wanita musim semi itu adalah istri kedua ayahnya\
.
"Watashi wa Haruno Sakura desu. Yoroshiku." Sakura langsung duduk kembali setelah mengatur nafasnya yang gugup. Berhadapan dengan tiga pria Uchiha yang memiliki watak sama ini membuat nyalinya menciut.
Dan disaat itulah pemilik mata onyx terkunci akan tatapan manik emerald tersebut.
.
"Fuga-kun, kenapa aku merasa disini, errghh... terasa sempit? Sssshhh!"
Kedua tangan Sakura masih berkutat dengan gaun bagian atasnya untuk membuat dadanya terasa nyaman.
"Wah-wah... dadamu tumbuh semakin besar ya?" goda Fugaku sambil meremas kedua dada Sakura dari belakang. Bibir tipisnya menyusuri leher putih dan jenjang milik Sakura.
"Fuga-kun! Jangan membuatku semakin tidak nyaman!" desis Sakura sambil memukul tangan Fugaku yang nakal itu. Fugaku hanya terkekeh geli.
"Otou —oh maaf, sepertinya aku mengganggu. Tapi bisakah kalian menundanya sampai nanti malam? Acaranya akan segera dimulai." Jelas Sasuke tersenyum kaku melihat kelakuan ayahnya terhadap calon istrinya tersebut.
"Oh, baiklah." Fugaku langsung mengikuti Sasuke. Setelah mereka menghilang dibalik pintu, muncul Itachi datang sambil membawa sebuket bunga.
"Arigatou, Itachi-kun." Jawab Sakura sambil membungkukkan tubuhnya.
"Hn. Sebentar lagi, kau akan jadi ibuku. Oh iya, berapa umurmu?" tanya Itachi sambil memainkan sarung tangan putih yang dikenakannya.
"22 t-tahun," jawab Sakura seraya menggigit bibir bawahnya.
"Eh? Kau lebih muda delapan tahun dariku, jadi aku rasa kau lebih cocok aku panggil imouto dibandingkan okaa-chan." Itachi menghentikan gerakan jarinya pada sarung tangannya. Matanya melirik Sakura dari ekor matanya.
Sakura menunduk malu sambil menggaruk pipi tembemnya.
Teng
Teng
Teng
"Ayo! Loncengnya sudah berbunyi," Itachi mendekati Sakura lalu menyodorkan lengan kirinya yang sudah ia tekuk. Sakura langsung mengaitkan tangannya pada lengan Itachi yang berbalut tuxedo mewah tersebut.
...
~My Stepson~
...
Fugaku sudah menunggunya didepan altar. Sakura gugup. Wajar ia gugup. Ia akan menikah dengan orang yang ia cintai dan orang yang ia cintai itu terkenal dikalangan selebritis, tentu saja banyak yang menghadiri pernikahannya.
Mereka melakukan resepsi pernikahannya dihalaman belakang rumah utama Uchiha yang luas dan sudah di dekor semewah-mewahnya.
"Rileks saja," bisik Itachi setelah Sakura melepaskan lengannya. Sakura mengangguk samar dibalik penutup wajah yang ia kenakan.
Kini, Fugaku dan Sakura sudah saling berhadap-hadapan. Sakura menggigiti bibir bawahnya menahan gugup.
"Kalian siap?" tanya si pendeta dengan membuka kitab sucinya.
"Hn."
"Siap!"
"Uchiha Fugaku, bersediakah kau menikah dengan Haruno Sakura dalam keadaan susah maupun senang, kaya maupun miskin, (blablabla...) sampai maut memisahkan kalian?"tanya sang pendeta pada Fugaku dengan tatapan serius.
"Aku bersedia!" jawab Fugaku tegas.
"Haruno Sakura, bersediakah kau menikah dengan Uchiha Fugaku dalam keadaan susah maupun senang, kaya maupun miskin, (blablabla...) sampai maut memisahkan kalian?"tanya sang pendeta pada Sakura dengan sorot mata yanng sedikit sulit diartikan.
"A-aku bersedia," cicit Sakura.
"Kini, atas nama Tuhan, bahwa Uchiha Fugaku dan Haruno Sakura sah sebagain suami istri" ucap sang pendeta sambil tersenyum "Silahkan mempelai pria untuk mencium istrinya"lanjutnya.
Fugaku membuka penutup wajah yang Sakura kenakan dan memutarnya kebelakang.
"Kau cantik." Gumam Fugaku sebelum mencium bibir tipis Sakura. Awalnya hanya lumatan biasa, tapi lama kelamaan menjadi panas. Bahkan lengan Fugaku sudah berada dipinggang Sakura.
Para tamu memekik heboh. Beberapa wanita menutupi mata anaknya yang merengek ingin melihat. Ada yang tertawa, ada yang tersenyum mesum, ada yang histeris, dan lain-lain.
"Ekhem, maaf menganggu tapi bisakah kalian menghentikan aksi kalian," bisik pendeta merasa tak enak pada keduanya.
Dengan perasaan tak rela, akhirnya Fugaku melepaskan pagutannya. Salivanya masih tersambung antar bibir mereka.
"Bersiap-siaplah nanti, hime." Seringai Fugaku mesum. Pipi Sakura memerah mendengar tutur kata Fugaku. Sakura buru-buru menghapus saliva yang masih menetes dibibirnya dengan punggung tangannya. Sementara Fugaku menjilat salivanya itu dengan lidahnya sendiri dengan sensual sambil menengok ke arah Sakura.
...
~My Stepson~
...
Sakura bergerak gelisah di kamar Fugaku —ralat, kamar pengantin mereka. Ia begitu gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya. Setelah resepsi pernikahan selesai pada pukul 10 tadi, Sakura langsung bergegas membersihkan dirinya. Berdoa berkali-kali kepada Tuhan semoga saja dimalam pertamanya ini ia tak berbuat kesalahan yang berujung hal yang sangat memalukan seperti tadi.
Ia tak sengaja menyandung kaki seorang selebritis ketika mengucapkan salam padanya. Dan itu sudah termasuk sangat memalukan bagi Uchiha baru seperti dirinya.
Suara percikan air dari sudut ruangan terhenti. Sakura meremas gaun tidur emasnya dengan gelisah. AC bersuhu rendah tak cukup membuat keringatnya terhenti. Justru yang keluar adalah keringat dingin yang semakin membanjir.
Fugaku keluar dengan handuk yang masih meliliti pinggangnya. Ketika ia naik pada ranjang berukuran king size, ia dapat merasakan tubuh istrinya menegang.
'Ya Tuhan, bisa kah Kau membantuku untuk menetralkan degup jantung sialan ini?' batin Sakura gemas.
Sakura menggigiti bibir bawahnya ketika ia merasakan tangan kekar Fugaku menyentuh bahu kanannya.
"Bersiaplah!" bisik Fugaku sengaja membuat suaranya menjadi serak.
"Nnnnggghhh aahhh~ awww!"
Sakura memekik saat Fugaku sudah menggigiti leher seputih susunya. Pelan tapi pasti tangan Fugaku sudah membuka kancing gaun tidurnya satu persatu.
"Kau! Benar-benar!"
"Aawwhhh sshhh..."
Fugaku sudah meraup bibir Sakura dengan ganas. Sakura langsung meresponnya dengan membuka mulutnya dan langsung mengeluarkan lidahnya. Mengajak bertarung dengan organ tak bertulang milik Fugaku.
"Shit!"
Brek
Dengan sekali tarikan, bra hitam berenda yang kontras dengan kulit Sakura langsung terlepas. Puncak bukit kembar yang sudah terombang-ambing(?) milik Sakura pun sudah mengeras.
Fugaku langsung melahap payudara kiri Sakura. Tangan kirinya ia gunakan untuk meremas payudara Sakura yang menganggur sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus 'milik' Sakura yang masih tertutup kain tersebut dengan lambat.
"Dasar nakal!" ujar Fugaku disela-sela hisapan pada bukit kiri Sakura.
"Lagi Fuga-kun nnhhh... lagi aaahhhh onegai..." pinta Sakura. Seketika tubuhnya pun bertambah menegang karena Fugaku sudah mulai menggesekan miliknya yang masih tertutup handuk pada milik Sakura yang juga masih tertutup.
Fugaku membuka celana dalam Sakura dan melemparnya ke sembarang arah. Wajahnya ia hadapkan pada kewanitaan Sakura yang masih belum tersentuh oleh siapapun dengan tatapan lapar. Wajah Sakura memerah ketika melihat ekspresi Fugaku yang biasanya datar kini menunjukan raut mesum dihadapan kewanitaannya.
Slruupp
"Aaahhnn!"
Sakura menyambar bantal dan menggigitnya untuk meredam desahannya. Hal yang dilakukan Sakura membuat alis Fugaku menukik lantaran tak suka. Fugaku kembali menyambar bantal yang digigit Sakura lalu melemparnya.
"Keluarkan saja!"
Seringai Fugaku melebar ketika ia menemukan sesuatu sebesar biji jagung didalam kewanitaan Sakura. Pinggang Sakura bergetar, ia menggigiti ujung lidahnya sendiri. Dadanya sudah naik turun tak beraturan.
"Tidak sekarang! Aku harus bisa!"
Sakura langsung bangkit membuat Fugaku melemparkan tatapan bingung. Ia memutar posisi sehingga Fugaku yang berada didalam kungkungannya.
Fugaku terkekeh melihat tindakan Sakura yang sudah mulai liar ini, "Kau ingin melakukan apa hi —errrrgghhh." Ucapan Fugaku langsung terganti dengan geraman tertahan ketika Sakura menjilati leher kekarnya dan membuka lilitan handuk putih yang dipinggangnya. Ditambah lagi Sakura sudah berani membuat kejantanan Fugaku semakin berdiri tegak. Dielusnya glands milik Fugaku dengan pelan.
Sakura menggigiti bibir bawah bagian kirinya dan menatap Fugaku dengan sayu. Seolah pasrah dengan perlakuan prianya. Ia mengeluarkan ujung lidahnya dan menjilati bibir atasnya dan sengaja membuat salivanya menetes.
"Oh Fuck!"
Ketika Fugaku hendak bangkit, Sakura mendorong lagi dada bidang Fugaku lalu menindih tubuh Fugaku. Sakura menggesek payudara miliknya dengan dada bidang Fugaku, diikuti gesekan yang dilakukan dengan kewanitaannya pada kejantangan Fugaku.
Fugaku mengandahkan kepalanya keatas, mati-matian ia tidak mengeluarkan desahannya. 'Aku tidak akan berdesah karena anak kecil ini! Damn!' batin Fugaku gemas.
Sakura merangkak mendekati wajah Fugaku. Ia mengeluarkan salivanya dan terjatuh pada bibir tipis Fugaku. Fugaku pun menjilatnya tanpa merasa jijik, ia suka dengan rasa saliva milik Sakura. Fugaku merasa ada sesuatu yang lembut menyentuh kedua bahunya. Bukan hanya bahu, ia sendiri merasakan lehernya sedang dijepit.
Perkiraannya benar, Sakura sedang menjepit lehernya dengan payudara miliknya yang sudah menggantung bebas.
"Mmmmhhhhh..." desah Sakura disela-sela ciuman panasnya.
Lidah mereka sudah keluar dari kandangnya dan bertarung diluar kandang. Saliva milik Sakura pun bertumpah ruah ke mulut Fugaku yang sedang terbuka. Fugaku tampak menikmati ciuman panas yang diberikan istrinya. Baru pertama kali istrinya melakukan ciuman panas seperti ini sejak 4 tahun yang lalu mereka menjadi sepasang kekasih.
"Jangan remehkan seorang Uchiha Sakura!" Tukas Sakura sambil memainkan kejantanan Fugaku yang sedikit demi sedikit sudah mengeluarkan cairan putih dari ujungnya. Fugaku hanya berdecak sebal mendengar penuturan istrinya yang menjiplak kata-katanya. Hanya saja sedikit perubahan pada namanya.
Istrinya ini menjiplak ucapannya tiga bulan yang lalu saat Mangekyou's Group tengah tersandung karena ada yang memanipulasi saham miliknya, dan dengan mudah Fugaku membuat serangan itu menjadi boomerang yang balik menyerang si pelempar. Itulah yang ia ucapkan pada Sakura ketika gadis itu bertanya bagaimana Mangekyou's Group waktu itu.
Sakura menjilat pangkal kejantanan Fugaku dengan lidah merahnya yang menggoda. Fugaku mengandahkan lagi kepalanya kearah langit-langit sambil menggelutukan giginya.
Dengan lihai, Sakura menjilati kejantanan Fugaku dan memasukan lalu mengeluarkan dimulutnya dengan cepatnya layaknya bocah pecinta lolipop seperti yang sekarang menjadi adik sepupunya, Uchiha Obito.
Jangan sampai suaminya tahu darimana ia bisa menjadi seliar ini, itu semua karena Karin. Wanita itu pernah mengajak Sakura menonton hentai berepisode sampai tiga jam!
Dengan susah payah pula Fugaku bangkit dari tidurnya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar tidak jatuh dan tangan kanannya ia gunakan untuk menjambak rambut Sakura karena benar-benar dibuat melayang setelah tujuh tahun tak mendapatkan 'layanan' yang memuaskan dari istri pertamanya.
"Aaaahhhh!"
Fugaku tanpa sadar mengeluarkan desahannya. Samar-samar Fugaku dapat merasakan Sakura menyeringai dengan mulut yang masih penuh dengan kejantanan Fugaku. Sepertinya pria yang sudah beranak dua ini harus menarik ucapannya.
Perempuan berambut musim semi yang masih menyandang predikat gadis tersebut merasakan kejantanan Fugaku berkedut dan lebih membesar dari ukuran sebelumnya. Mengetahui tanda-tanda Fugaku akan mencapai puncaknya, ia makin mempercepat gerakan kepalanya.
"Eerrrghhhh ssshhh..."
Crot
"Haaaahhh!" Fugaku langsung ambruk dengan peluh yang sudah memandikan tubuhnya. Sesekali tubuhnya bergetar ketika merasakan gadis dibawahnya masih menghisap milik Fugaku yang ternyata kembali tegak.
Sakura kembali mendekati Fugaku dengan mulut yang sedikit menggembung. Gadis itu lalu menempelkan bibirnya pada bibir Fugaku dan memaksanya supaya suaminya itu membuka mulutnya.
Fugaku merasakan sesuatu yang kental mengalir dikerongkongannya. Seketika ia sadar, ia sudah menelan sperma miliknya. Lidahnya bergerak liar didalam mulutnya sendiri dan menyisipi gigi satu persatu karena beberapa ribuan sperma masih tertinggal di giginya. Gadis itu ternyata membuatnya merasakan spermanya sendiri. Asin bercampur asam membuat Fugaku memeletkan lidahnya sendiri.
Tapi berbeda dengan gadis itu. Gadis itu tampaknya meminum cairan Fugaku dengan lahap. Sesekali memejamkan matanya seolah-olah yang ia lahap adalah hidangan yang paling lezat yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Tindakan Sakura yang sudah terlampau jauh membuat Fugaku menggeram lalu mencengram kedua bahu Sakura dan membantingnya hingga posisinya berada diatas tubuh gadis tersebut.
Ditatap tajam oleh Fugaku ternyata tak membuat Sakura menjadi gentar. Ia justru membalas tatapan tajam Fugaku dengan tatapan angkuhnya.
Fugaku memutar bola matanya, ternyata Uchiha mengubah segalanya. "Yare-yare semenjak kau menjadi Uchiha, kau bukanlah lagi gadis yang lugu dan polos seperti dulu lagi ya, hime~"
"Ne, bukankah Fuga-kun sendiri yang mengatakan bahwa ketika aku menjadi Uchiha, aku harus kuat. Aku tak boleh menunjukan kelemahanku karena Uchiha adalah yang terhebat dari yang terhebat. Bukankah begitu hmm?" jawab Sakura sambil memeletkan lidahnya tanda mengejek.
"Tch! Kau memang harus melakukan itu, hime."
"Tentu! Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Apakah ada alasan lain selain itu?" Sakura mengalungkan kedua lengannya pada leher kekar Fugaku.
"Kau akan tahu jika kau mengkhianatiku,"
"Aku si —aaaaahhhnnnn Fuga-kun!" decak Sakura sebal sesekali menggeliatkan tubuhnya tak nyaman.
Fugaku hanya melemparkan tatapan sok lugu yang menyebalkan dimata Sakura. "Gomen."
Fugaku mulai mengarahkan kejantanannya pada kewanitaan Sakura menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus kepala Sakura. Mencoba menenangkan gadis yang tubuhnya sudah bergetar. Kepala besar Uchiha tersebut hanya memakluminya. Ia sudah pernah menghadapi situasi seperti ini bersama istri pertamanya dulu.
"Aku... akan berhenti jika kau masih belum siap," terselip nada keraguan dari onyx Fugaku, Sakura bisa melihatnya. Gadis itu tak mau mengecewakan suaminya, ia menggelengkan kepalanya. "Lanjutkan." Bisik gadis itu serak.
"Hn. Kau boleh mencakar punggungku atau menjambak rambutku jika itu akan membuatmu lebih nyaman."
Sakura hanya tersenyum mendengarkan penuturan Fugaku.
Sakura memejamkan matanya mencoba rileks, kakinya juga sudah melingkar sempurna dipinggang Fugaku. Sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan melepas status gadisnya ditangan suaminya. Fugaku sedikit memundurkan kejantanannya lalu mengentak masuk menembus dinding pertahanan Sakura. Pecahlah sudah.
"Hiyaaaaa... hiks-hiks... okaa-chan..."
"Hime~" Fugaku menatap iba Sakura. Menghiraukan rasa sakit dikedua pundaknya karena tercakar oleh kuku lentik milik Sakura.
"Eehhnn... lan-lanjutkan," pinta Sakura sambil menggoyang-goyangkan pinggangnya. Fugaku tersenyum menerima respon Sakura. Fugaku mulai memaju mundurkan pinggangnya. Awalnya pelan, tapi lama kelamaan menjadi cepat. Ranjangnya pun ikut berdecit kencang menyerupai suara cicitan tikus.
"Nggghhh uuuhh hyyaaa aahh aahhh Fuga-kunnnhh..."
"Tatap mataku Sakura!"
Keringat menetes dari ujung hidung Fugaku dan mengenai kelopak mata Sakura yang membuat Sakura harus susah payah untuk membukanya. Tubuh mereka sudah bermandikan peluh yang terlihat mengkilap jika terkena cahaya.
"H-ha-hayaku Fuga-kunnnhhh eenngghhh onegai ssshhh..."
"As your wish honey. Eerrgghhh!"
Fugaku makin mempercepat gerakannya. Milik Sakura benar-benar menghimpitnya.
"Aaahh Fu-fuga —"
Crot
Sensasi hangat terpenuhi pada perut Sakura. Bahkan cairan Fugaku pun berhasil menyemprot sampai bagian atas rahimnya.
"Hah hah hah... tadi itu, benar-benar nikmat. Nnnnhhhh..."
"Mau lagi?" tanya Fugaku sembari mengurut kejantanannya untuk mengeluarkan sisa cairan miliknya diatas perut ramping Sakura. Wanita yang sudah melepas status gadisnya beberapa menit yang lalu pun hanya mengangguk malu dengan wajahnya yang memerah sepenuhnya.
"Tentu saja! Kita akan melakukannya sampai pagi!"
Fugaku menyerang bibir Sakura yang sudah membengkak. Tangannya mengelus nakal kewanitaan Sakura yang sudah basah semua. Gerakannya terhenti sejenak ketika mendengar ponselnya berdering.
"Fu-fugaahhhh... ponsel-muh..." Sakura berusaha melepaskan dirinya dari serangan Fugaku.
"Hn. Biarkan saja,"
Fugaku pun melanjutkan kegiatan tadi yang tertunda dengan lebih ganas. Suara deru ponsel yang semakin mengeras dan nadanya semakin tinggi benar-benar mengganggu pendengaran Sakura.
Breett
"Aaarggghh!"
"Suara telfonmu itu menggangguku!" Sakura memalingkan wajahnya merajuk sebal. Dengan wajah juteknya yang semakin jutek, mau tidak mau Fugaku menghampiri meja nakasnya, tempat ponselnya berdering. Seharusnya aku menon-aktifkan dari tadi.
Sudah ada telfon, gagal ronde dua, dijambak pula. Siapa yang tidak kesal? Dan ini semua karena ulah si ponsel. Ralat, bukan ponselnya, tapi penelfonnya yang sepertinya tak tahu waktu. Fugaku mendengus membaca nama yang tertera pada smartphone nya. 'Orochimaru'. Sekretaris pribadi dengan rambut panjang bak iklan shampoo. Sebelum Fugaku mengeluarkan ucapan pedas ala cabai rawitnya, sekretaris gondrongnya itu sudah lebih dulu menyerobotnya.
"Fugaku-sama! Gawat! Seperempat saham kita dicuri! Kotaru sedang berusaha melacaknya, sedangkan besok kita akan mengadakan rapat besar. Fugaku-sama harus segera datang! Siap tak siap, karena tiba-tiba client kita dari Prancis datang."
"Malam ini? Bukankah harusnya besok?!"
"Saya tidak tahu Fugaku-sama! Mendadak semuanya menjadi berantakan. Sebelumnya saya minta maaf karena mungkin telah mengganggu acara anda."
"Tch! Aku akan segera kesana. Pastikan semuanya masih aman selama aku dalam perjalanan!"
Fugaku langsung mematikan sambungan smartphone nya. Ia mengambil celana dalam, celana bahan berwarna hitam, dan kaos hitam panjang. Tak ada waktu untuk berdandan. Ia harus segera menyelamatkan seperempat sahamnya. Seperempat? Oh itu bukanlah seperempat dalam lingkaran biasa. Seperenam sahamnya saja bisa dibilang gabungan dari seluruh saham dua perusahaan produk makanan ringan.
"Kau mau kemana?" tanya Sakura bingung melihat suaminya mondar-mandir mencari kunci mobilnya.
"Maafkan aku hime, aku harus segera ke perusahaan sekarang. Seperempat sahamku dicuri, tiba-tiba datang client ku yang berasal dari Prancis." Fugaku bergerak gelisah sambil memasukan poselnya dalam saku celananya.
"Client? Kenapa kau menggunakan pakaian seperti itu?"
"Itu tak penting buatku. Yang penting aku harus bisa mengamankannya. Client keesokannya akan lebih banyak datang. Aku pergi dulu," setelah mencium puncak kepala istrinya, Fugaku langsung keluar kamarnya. Meninggalkan Sakura yang kini menatap pintu dengan tatapan sedikit kecewa.
Kecewa? Tentu! Ini adalah malam pertamanya. Seharusnya ia bisa bersama suaminya untuk berbagi kehangatan. Tapi dari awal ia sudah memantapkan hatinya. Ia sudah tahu kalau beginilah resiko menjadi istri seorang perusahaan terbesar di Jepang. Bahkan salah satu di dunia. Tapi ia mencintai Uchiha Fugaku. Hanya suaminya seorang.
...
~My Stepson~
...
"Ssshhh S-sakurahhhh... kau benar-benar sempiitthh..."
"Aaaggghhh... ngh ngh ngh kyaaaaaa..."
Suara becekan terdengar jelas dipendengaran pria yang ternyata masih menunggangi tubuh wanita dibawahnya.
"Aaahhh tuaaannnhhhh.."
"Tch! Pergilah!"
Pria yang dipanggil tuan tersebut mendorong wanita dibawahnya hingga terjerembab kedepan dan segera menarik kondom yang digunakannya lalu dilemparnya kesembarang arah.
Wanita yang tadi terjerembab buru-buru menggunakan pakaiannya setelah diterimanya segepok uang yang diberikan tuannya.
Sementara pria yang satunya lagi hanya melirik mereka dari ranjang lain yang berbeda.
"Sebegitu cintanya kah kau padanya, Itachi?" tanya Sasuke dengan perhatian yang masih tertuju penuh pada laptopnya.
"Aa..." Itachi membaringkan tubuhnya diranjangnya sendiri. Kepalanya menoleh kearah adiknya yang berbeda ranjang darinya.
"Sekarang dia adalah kaa-san ki—"
"Kaa-sanku hanyalah Uchiha Mikoto! Aku memang mencintai Sakura, tapi aku mencintainya bukan sebagai dari anak kepada ibunya, melainkan dari pria kepada wanitanya." Jelas Itachi tegas.
"Baru kemarin lusa kau mengenalnya. Kenapa kau langsung mengatakan kalau kau mencintainya sebagai pria?" Sasuke menggigit pipi bagian dalamnya dengan bingung.
"Kau tidak tahu Sasuke. Aku sudah mencintainya sejak 15 tahun yang lalu."
"Hah?! Kenapa kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya?" umpat Sasuke kesal.
"Waktu itu kau masih kecil Sasuke. Kau masih tidak peduli dengan cinta. Untuk apa aku memberitahumu?"
"Kemarin-kemarin kan bisa!" decak Sasuke makin sebal. Waktu itu ia memang masih bocah yang tentu saja belum tahu apa arti cinta. Tapi sekarang mereka sudah dewasa dan kakaknya itu masih menyembunyikannya?
"Kau selalu sibuk. Lagipula aku tidak tahu kalau pada akhirnya Sakura menjadi kekasih ayah. Aku fikir sebentar lagi hubungan mereka akan kandas. Tapi ternyata itu sampai ke pernikahan."
"Berapa umurnya?"
"22 tahun," jawab Itachi singkat dengan pandangan kosong.
"Dia bahkan lebih cocok menjadi adikku daripada menjadi ibuku karena tentu saja aku lebih tua empat tahun darinya." Setelah itu Sasuke melanjutkan lagi berurusan dengan laptopnya.
Drrttt... ddrrrttt
"Siapa?" tanya Itachi mengalihkan pandangannya dari jendela apartemen pribadi mereka. Apartemen pribadi milik Uchiha bersaudara, hanya mereka dan orang terdekatlah yang boleh memasukinya.
"Shion memintaku untuk menjemputnya sekarang, sebenarnya aku malas melakukannya." Jawab Sasuke sambil menutup laptopnya dengan keras, tersirat ekspresi kesal disana.
"Sudah sana kau menjemputnya! Akan lebih bagus kau bersama Shion daripada kau menjadi sainganku untuk merebut Sakura."
"Sudah berapa kali aku katakan Itachi, Sakura sudah menikah dengan tou-san, dan dia bahkan sudah—"
"Maksudmu ia sudah tak perawan lagi karena tou-san telah mengambilnya? Aku terlambat melakukan rencanaku pada waktu itu!" potong Itachi tajam.
"Kau? Bagaimana bisa kau yakin bahwa Sakura sudah tak perawan? Bukankah dari kemarin kau terus disini?" tanya Sasuke semakin curiga.
"Sakura kembali ke rumah pukul 10 malam dan tou-san keluar pada pukul satu dini hari. Itu artinya mereka sudah melakukannya beronde-ronde Sasuke!" pekik Itachi sambil memukul guling disebelahnya.
"Aa... kalau begitu, aku harus pergi. Shion bisa marah."
...
~My Stepson~
...
"Ohayou, Sakura-sama..."
"Aah... o-ohayou mo, Ayame-san."
Sakura duduk terdiam didepan meja makan mewah dengan wajah yang sedikit pucat. Ketika pagi menjelang, ia harap ada Fugaku disampingnya sambil memeluknya mesra diawal hari pertama sebagai pasutri baru. Tapi itu hanya khayalannya saja. Menelfon pun tidak.
"Apakah anda baik-baik saja, Sakura-sama?" tanya Ayame khawatir sambil menuangkan teh hangat pada cangkir kecil disebelah sup miso.
"Aku tidak apa." Jawab Sakura seadanya sambil memperbaiki jubah tidurnya.
Krek
Suara pintu didekat pintu dapur membuat Ayame harus buru-buru mendekatinya dan menyapa siapa yang membukanya.
"Eerr... O-ohayou, Itachi-sama." Sapa Ayame kikuk.
"Hn."
Itachi langsung menghempaskan bokongnya untuk duduk berhadapan Sakura yang sedang bergerak gelisah.
"Ekhm... ohayou kaa-san."
Ucapan Itachi membuat perhatian Sakura teralihkan.
"O-ohayou mo," Sakura masih bergerak gelisah. Ia mengikuti arah pandang Itachi. Gotcha! Kearah lehernya. Dengan sedikit memekik, Sakura menutupi lehernya cepat, menutupi ruam-ruam merah bekas Fugaku semalam.
"Gomen," ujar Itachi datar namun tajam.
"Hmm..."
...
~To Be Continued~
...
A/N: Hello readers *ketchupbasah #dibakar. Eee cieee yang kayaknya dah pada baca scene lemon Fugasaku #jdak. Balas review dulu ajalah
Jamurlumutan462:Ooo ya jelas mereka beneran menikah. Soalnya udh plotnya(?) juga. Ternyata saya bukan yang pertama T.T entah aku baca fic yang kamu kasih tau atau gak, soalnya takutnya ada yang sama gara-gara saya baca fic itu, jadi nanti kalau baca disangka plagiat. Haha... makasih ya
Luca Marvell: Itachi aja dulu :D
hanazono yuri: Udah kok
CEKBIOAURORAN: Iya ini udah lanjut, makasih ya...
Amerin Hamada: Anti-mainstream lhaaaa
Khoerun904: Beneran cinta atau gak yaaa #digantung
Dwisuke: Ooo tentu, wkwkwk
gueeeeest: Tapi Madara punya saya #dibakarfans, udah nih vroh :v
rainacherry: Sudaaaaahhhh
FugaSaku: Sudah kan? Gimana? Kurang asem kah?
ciCha: Tapi saya akan berusaha supaya cerita ini menarik sampai akhir hohoho XD
kirara967: Fugaku tampan kah? *mikirkeras
haniqia04: Yosh!
Makasih yang udah cape-cape review buat ni cerita abal. Oh ya, untuk balesan diatas, bukan berarti ngebedain mana yang akun mana yang guest, hanya saja saya nentuin pengaturannya telat T.T jadi ya gitu deh...
Apakah lemonnya kurang asem? Maaf ya, baru pertama kali buat lemon, meskipun sudah sering baca lemon *gajugasih, tapi untuk referensi saja. Tapi saya juga kurang pede buat chapter 2 ini. Kritik dan saran sangat dibutuhkan.
Kalau ada yang dtanyakan pm aja *ngarepamat:'v. Karena masih awal-awal jadi ya konfliknya ringan dulu, saya juga berusaha untuk ngimbangi alurnya supaya enak untuk dinikmati.
Arigatou
Sign, Daneesha
