My Stepson

.

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

My Step Son © Author PHP

Warning!: AU, Miss Typo, OOC, aneh, gampang ditebak, dan kekurangan lainnya

Don't Like, Don't Read

.

~Happy Reading~

.

/Ia menatap tak suka kearah mereka, lebih tepatnya kearah ayahnya. Ia iri, cemburu, marah. Ayahnya mendapat perhatian lebih dari wanita musim semi itu. Wajar, karena wanita musim semi itu adalah istri kedua ayahnya\

.

"O-ohayou mo," Sakura masih bergerak gelisah. Ia mengikuti arah pandang Itachi. Gotcha! Kearah lehernya. Dengan sedikit memekik, Sakura menutupi lehernya cepat, menutupi ruam-ruam merah bekas Fugaku semalam.

"Gomen," ujar Itachi datar namun tajam.

"Hmm..."

.

Sasuke melirik Shion disebelah kirinya. Matanya tertuju pada tangannya yang bertautan dengan tangan Shion. Setelah Shion memintanya untuk menjemputnya, disinilah mereka. Dihadapan danau yang konon katanya bisa mengabulkan keinginan dengan syarat harus bersama lawan jenis. Tak boleh ada yang ganjil.

Sasuke menutup matanya, siapa tahu keinginannya terkabul. Ia ingin bersama orang yang ia cintai terus berada disisinya, meskipun kemungkinan kecil terjadi.

Setelah berdoa, ia membuka mataya dan onyx nya menggambarkan kegembiraan, ia percaya. Diliriknya gadis yang bersandar dibahunya dan tersenyum kecil.

"Shion... Shion bangun. Bukankah sekarang waktunya untukmu les biola?"

Sasuke menggoyang-goyangkan bahu Shion pelan sehingga gadis pandora tersebut membuka matanya yang bermanik violet.

"Nnhh.. kenapa Sasuke-kun?" tanya Shion masih linglung sambil mengucek-ngucek matanya.

"Bukankah sekarang waktunya kau untuk les biola?" tanya Sasuke lembut.

"Ah iya, arigatou, ayo Sasuke-kun!" ajak Shion sambil mengamit lengan Sasuke dan membawa tas biolanya berlalu pergi.

...

~My Stepson~

...

"Kenapa kaa-san terlihat tegang?" tanya Itachi mencoba mencairkan suasana sambil sesekali menyeruput teh tanpa gulanya.

"Nnhh... a-ano, aku hanya belum mandi saja."

Sakura yakin Itachi pasti langsung merasa aneh dengan ibu barunya. Lagipula apa hubungannya?

"Hn."

"Selamat datang Fugaku-sama,"

Sakura spontan berdiri saat Ayame menyebut nama suaminya. Senyumnya mengembang begitu suaminya sudah nampak, matanya pun terlihat seperti panda, dan tak lupa juga kerutannya yang semakin jelas.

Sakura mengelus pipi Fugaku lembut dan sesekali menciumnya pelan, membuat Fugaku terkekeh dan membuat Itachi melirik sinis kearah ayahnya. "Dasar orangtua tak tahu malu!" batinnya.

"Oh, rupanya ada Itachi disini. Kebetulan sekali, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," pikir Fugaku sambil memijat-mijat lengannya sendiri.

Itachi memandang ayahnya dengan datar, kemudian menatap punggung Sakura yang mulai menjauh dari pandangannya yang sambil membawa tas kerja Fugaku. "Apa yang ing—"

"Menikahlah, aku sudah memilih calon wanita yang baik untukmu." Potong Fugaku tegas. Bahkan Fugaku sendiri sempat melihat Itachi mengepalkan tangannya, namun ia adalah seorang ayah yang harus menjalankan tugasnya.

"Kenapa otou-san ingin aku menikah? Aku tidak ingin menikah." Bantah Itachi tegas.

"Apa alasanmu tak mau menikah, hah?! Kau sudah berkepala tiga. Sadarlah Itachi!" balas Fugaku tak kalah tegasnya.

"Lantas kenapa kalau aku sudah berkepala tiga?! Toh, seorang Uchiha tetap bisa meneruskan keturunannya walau berkepala empat sekalipun." Ketus Itachi sambil menyilangkan kakinya.

"Kau memang benar Itachi. Tapi bagaimana dengan wanita yang sudah otou-san pi—"

"Kenapa kau masih saja tetap kokoh untuk menikahkanku? Aku... sudah mencintai seseorang," pandangan Itachi seketika menjadi sendu. Tubuhnya lemas membayangkan sewaktu gadis yang dicintainya mengucapkan janji suci dengan pria lain, dan sekarang gadis —ralat, wanita itu sudah menjadi ibu tirinya.

"Apakah gadis itu mencintaimu? Apa kau punya hubungan dengannya?" tanya Fugaku meremehkan.

"Ya, dia mencintaiku! Aku juga mempunya hubungan dengannya." jawab Itachi tegas.

"Hooo... percaya diri sekali kalau gadis itu akan diterima menjadi Uchiha." Sinis Fugaku semakin meremehkan.

"Kuso!" gumam Itachi, "Wanita itu mungkin mencintaku otou-san, tapi cinta dari ibu kepada anaknya. Hubungan antara aku dan wanita itu adalah hubungan ibu dan anak. Dan dia sudah menjadi Uchiha, jadi sebenarnya aku tak perlu repot-repot membawanya kehadapanmu." Batin Itachi melanjutkan, sembari senyum miris karena tak dapat mengatakannya.

"Jadi bagaimana?"

"Aku tidak tahu, otou-san. Aku lelah, kita bisa membicarakannya nanti." Jawab Itachi membuka pintu dapur dan membantingnya keras.

Onyx milik Fugaku menatap sinis guci emas antik dihadapannya, "Kau tak pandai berbohong Itachi. Akan kupastikan kau menikah dengan wanita pilihanku." Katanya dengan tekad yang sudah bulat.

...

~My Stepson~

...

"Ne, Fuga-kun, kau terlihat lelah. Mau aku siapkan air hangat?" tanya Sakura lembut sambil memijati bahu kekar Fugaku.

Fugaku terlihat berusaha untuk menyamankan dirinya, kemudian ia tersenyum kecil. "Istriku memang tahu segalanya tentangku," ujarnya kemudian dilanjutkan dengan mempertemukan bibir mereka.

Suara decakan terdengar jelas yang diciptakan oleh sepasang suami istri tersebut. Perlahan, tangan kekar Fugaku merayap kedalam kedalam jubah tidur berwarna merah miliknya.

"Nnhh~ anatahhh~~ kyaaahh..." Sakura pun mengandahkan kepalanya menikmati sentuhan yang Fugaku berikan pada dada dan leher miliknya. Ia meremas rambut hitam legam milik Fugaku sambil mengangkangkan kakinya kemudian menjepit pinggang Fugaku.

"Areee? Kau nakal sekali, hime~~" goda Fugaku sambil melepas kancing jubah tidur yang dikenakan Sakura.

"Ngghhh... walaupun begitu kau... ssshh suka kan? Aangghhh..." balas Sakura sambil menggigit bibir bawahnya dan menampilkan ekspresi yang —ehm, you know lah.

Fugaku kembali melanjutkan aktivitasnya meremas dada kenyal Sakura yang kini sudah mengeras dipuncaknya. Sakura pun merasa bagian bawahnya berkedut, selain miliknya ia pun merasakan milik Fugaku sudah berdiri disana. ia pun menunduk sambil menahan desahannya melihat Fugaku yang bergitu menikmati dada Sakura sesekali meremasnya. Senyum usil tercetak diwajah Sakura.

Disenderkan tubuh Fugaku dengan pelan pada kepala ranjang. Perlahan Sakura pun membuka jubah tidurnya hingga kini yang tersisa tinggal celana dalamnya saja. Suara kecapan terdengar lagi ketika kedua bibir itu dipersatukan kembali. Sembari melakukan french kiss, Sakura membuka kancing celana Fugaku dan menurunkannya kebawah. Tak lupa ia juga membuka kaos yang digunakan Fugaku. Hingga kini keadaan Fugaku pun sama dengan Sakura, hanya menggunakan celana dalam.

"Apa lagi yang tercetak diotak licikmu itu, hime?" Fugaku pun menyilangkan tangannya yang kemudian menaruh dibelakang kepalanya.

Sakura tidak menjawabnya, tapi ia menaiki tubuh Fugaku. Hal yang ia lakukan tentu saja membuat Fugaku terbungkam. Sakura menggesekkan 'miliknya' yang masih tertutupi celana dalam dengan 'milik' Fugaku yang juga masih tertutupi celana dalam.

Awalnya Sakura bergerak pelan, tapi lama kelamaan temponya semakin cepat. Ia menaik turunkan tubuhnya dan sesekali menggoyang-goyangkan pingulnya tepat diatas milik Fugaku. Fugaku pun menggeram melihat tingkah Sakura. Ditambah lagi kini Sakura tengan menggesekkan dadanya pada dada bidangnya dan sedang menjilati lehernya. Perlakuan triple ini membuat Fugaku tak tahan lagi.

Ia pun ikut membantu menaik turunkan pinggul Sakura. Persetan dengan celana dalam yang menghalanginya. Ia juga ingin cepat selesai.

"Aahh aaahh aagghhh Fuga nyaahhh..."

"Sialan kau!"

"Aku mauu kel—"

"Sebentar lagi hime~!"

"Nyaahhh angghhh..."

Tubuh Sakura pun lunglai sambil bersender dihadapan Fugaku.

"Apa kau marah karena tadi malam aku tak bisa bersamamu hingga sekarang kau melampiaskannya, hmm?" tanya Fugaku lembut sambil mengelus rambut Sakura dan sesekali menciumi setiap helainya.

Pipi Sakura pun menjadi memerah, ia memukul pelan dada bidang Fugaku dan mengomel tak jelas.

"Hei, aku mau mandi. Katanya kau mau menyiapkan air hangat, tapi kau malah—"

"Iya-iya! Dasar cerewet!" ketus Sakura sambil memakai kembali jubah tidurnya lalu masuk kedalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Sakura pun keluar dan berkata "Air hangatnya sudah siap."

"Baiklah. Karena sekarang kau belum mandi, ayo kita mandi bersama!" ajak Fugaku sambil menggendong Sakura ala bridal style.

"Eh-eh! Kyaaaaa..."

...

~My Stepson~

...

Itachi mengangguk-nganggukkan kepalanya mengikuti irama musik yang tersalur melalui headset putihnya. Ini adalah waktu istirahatnya. Lagipun, tugas untuk hari ini sudah selesai. Sejenak ia duduk tegak dan memegangi perutnya. Lapar.

"Tidak ada salahnya aku ke kantin awal-awal."

Ada apa dengan Itachi? Sepertinya moodnya sedang bagus. Karena daritadi ia terus tersenyum, entah apa yang ada dipikirannya.

Ketika ia membuka pintu kantin, suasana kantin terlihat lebih sepi dari yang biasanya. Tak apa-apalah, lagipula ia memang suka suasana tenang. Seketika mata onyx nya membulat.

"Sak —okaa-san!" teriaknya mencoba memanggil. Walau harap-harap ia tak salah. Dan orang yang dipanggil okaa-san pun menoleh. Sakura melambaikan tangannya, dan tentu saja langsung disambut hangat oleh Itachi, pemuda yang sudah memasuki kepala tiga itupun berlari kecil untuk menghampiri Sakura.

"Kebetulan sekali ya..." ujar Sakura sambil menarik kursi hijau yang ada di kantin tersebut dan meletakkan kotak bento berwarna merah diatas mejanya.

"Tumben okaa-san kesini. Ada apa?" tanya Itachi basa-basi. Ia mencoba menghilangkan rasa canggung dan sinisnya seperti tadi pagi.

"Aku kesini mengantar bento untuk Fuga-kun dan makan bersama." Jawab Sakura seadanya. Tanpa Sakura sadari, wajah Itachi terlihat murung.

"Aa... baiklah kalau begitu. Aku pesan makanan dulu."

Saat Itachi hendak bangkit, tangannya pun ditahan oleh Sakura. "Aku membuatkan bekal yang banyak. Jadi tolong kau makan dengan kami juga ya?"

"Tapi... aku tidak ingin mengganggu—"

"Menganggu apanya. Kita ini kan keluarga." Potong Sakura cepat. "Ngomong-ngomong dimana Sasuke-kun?" lanjutnya.

"Dia sedang bersama kekasihnya..."

"Wah... ia sudah memiliki kekasih ternyata. Lalu bagaimana denganmu? Aah... maksudku aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu, aku hanya ingin tahu lebih dalam tentang keluarga baruku." Ujar Sakura kelabakan.

Itachi tersenyum kecil. "Walaupun aku tidak memiliki kekasih, tapi setidaknya aku mempunyai seseorang yang aku cintai."

Mendengar Itachi berbicara tentang cinta, Sakura langsung antusias. "Benarkah? Kalau begitu ayo ceritakan. Ayo ceritakan sambil makan." Dengan semangat ia membuka satu persatu kotak bentonya yang berjumlah lima kotak. Dengan dua kotak nasi dan tiga kotak lauk. Sakura pun memberi Itachi dengan kotak yang ada nasinya dan memberi beberapa lauk seperti tempura, sosis, dan cumi-cumi bakar.

"Tunggu, okaa-san tidak pakai nasi? Kan masih ada satu kotak nasi lagi?" tanya Itachi bingung.

"Ini untuk Fuga-kun. Aku cukup memakan lauknya saja. Kalian berdua lebih membutuhkan karbohidrat lebih. Tunggu dulu ya... aku mau membeli minum dulu." Sakura langsung menuju kulkas tempat menyimpan minuman dingin. Itachi tetap mengawasinya dari jauh lalu ia memperhatikan sumpit berwarna pink yang ia pegang.

Sakura pun datang dengan buru-buru dan meletakan tiga botol air mineral ditengah-tengah mereka. "Nah... ayo ceritakan Itachi..." pinta Sakura menatap lurus mata Itachi.

"Aa... tidak ah okaa-san. Nanti aku malu," tolak Itachi halus.

"Heee? Ayolah Itachi, aku juga butuh curhatan dari anakku... ayo beritahu aku..." bujuk Sakura lagi.

"Anakku ya?" batin Itachi pedih. "Aku sudah mencintainya sejak 15 tahun yang lalu, mungkin itulah yang disebut cinta pada pandangan pertama. Matanya yang bersinar dan senyumnya yang memikat. Waktu itu aku sempat mendengar kalau ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih tua darinya, dan dengan bodohnya aku lebih memilih untuk menunggu karena aku fikir pernikahan saja bisa bercerai, bagaimana yang hanya pacaran?" tersirat ekspresi sedih diwajah Itachi. Dan itu pun membuat Sakura menjadi sedih mendengarnya.

"Lalu? Apa kau tetap menunggu? Sekarang kabar seseorang yang kau cintai itu bagaimana?" rasa keingintahuan Sakura pun semakin membesar.

"Dia sudah menikah dengan kekasihnya. Jujur saja, aku sempat terpuruk waktu mereka menikah, tapi ini juga salahku. Setidanya aku berani untuk menyatakannya. Ego Uchiha benar-benar menyebalkan." Jawab Itachi dengan tegar. Andai saja Sakura tahu.

"Tunggu! Umurmu kan 30 tahun, dan itu sudah 15 tahun yang lalu. Wah... kuat juga ya kau bertahan selama itu. Lalu kau tahu berapa umur gadis yang kau cintai sekarang?" tanya Sakura sambil memasukan tempura kedalam mulutnya.

"Umurnya 22 tahun." balas Itachi singkat.

"Heee? Hampir sama dengan umurku dong? Berarti kalau 22 tahun dikurangi 15 tahun... Astaga! Umur gadis yang kau cintai itu masih berumur 7 tahun, Itachiiiiii! Aaaa... aku tak menyangka kau mencintai gadis yang umurnya—" Sakura menjeda pembicaraannya, lalu ia menatap horror Itachi.

Itachi hanya tersenyum kecil menanggapi reaksi 'okaa-san'nya yang mungkin sedikit berlebihan.

"Hei... apa kekangan kuat dari Uchiha telah membuatmu menjadi pedofil, Itachi?" bisik Sakura sepelan mungkin. Mendengar perkataan Sakura, kontan membuat Itachi tersedak.

"Uhuk! Apa yang okaa-san bicarakan? Bagaimana dengan kalian? Bukankah otou-san itu bahkan sudah setengah abad." Sindir Itachi sebal.

Sakura mengerucutkan bibirnya imut, "Tapi setidaknya kami sudah dewasa. Aku pikir Fuga-kun tidak perlu disebut pedofil lagi, daripada kau ya—"

"Apa!" seru Itachi memotong ucapan Sakura.

"Huh!"

"Ekhem... sepertinya kalian asik sekali berbincang ya..." suara berat lain menginterupsi pembicaraan antara ibu dan anak tersebut.

"Fuga-kun... kau lama sekali." Rajuk Sakura sambil menarik Fugaku agar lekas duduk.

"Tadi aku ada rapat, hime~ kau tidak sabaran sekali, kan disini ada Itachi..." jawab Fugaku sambil meminum air mineral bekas Sakura.

"Iiihh... itu kan punyaku!" protes Sakura.

"Memangnya tidak boleh?" jawab Fugaku dan terus meneguk air mineralnya.

Melihat perlakuan romantis orangtuanya membuatnya dilema. Antara ingin angkat kaki dari sini atau tetap berdiam.

"Itachi-kun? Kau tidak mau menghabiskan makananmu?" tegur sakura setelah melihat Itachi terlamun.

"Aaah.. gomen okaa-san, aku hanya kurang fokus saja. Akan aku habiskan kok." Dan akhirnya Itachi memilih untuk tetap berdiam disana. Waktu istirahat yang belum kunjung habis membuat suasana kantin tampak ramai.

"Semakin ramai saja..." gumam Sakura.

"Errr... okaa-san, otou-san aku mau ke ruanganku dulu. Aku baru ingat kalau ada yang harus aku kerjakan lagi. Aku permisi." Pamit Itachi tanpa menunggu jawaban lagi dan langsung pergi.

"Heishh... anak itu. Dia benar-benar tidak suka dengan keramaian, benar kan Fuga-kun?" tanya Sakura meminta pendapat.

"Ya, darah Uchiha benar-benar mengalir padanya." Jawab Fugaku santai sambil memainkan ponselnya.

"Apa Sasuke-kun juga benar-benar seperti itu? Kalau memang benar-benar seperti itu, bagaimana nasibku nanti? Lama-lama aku akan berbicara dengan tembok." Nada bicara Sakura makin lama makin menciut setelah dilirik sinis habis-habisan oleh Fugaku.

"Kau kesini bersama siapa?" tanya Fugaku.

"Bersama Fuji-san." Jawab Sakura sambil mengunyah potongan cumi-cumi bakarnya. Fugaku hanya ber 'oh' ria saja. Fuji adalah supir perempuan khusus Sakura untuk mengantar kemana pun ia pergi.

"Tch! Hime, sayang sekali. Aku harus kembali lagi, Orochimaru memberitahuku kalau ada rapat dadakan lagi." Ujar Fugaku dengan sirat wajah yang terlihat ragu sambil memandangi layar ponselnya.

"Hmm... pergilah, good luck my husbando, hihihi..." Sakura pun mencoba untuk tersenyum sembari merapihkan kotak bentonya.

...

~My Stepson~

...

"Uchiha Sakura... anakmu ini tidak akan pernah melepaskanmu, okaa-san..." gumam Itachi sambil menggenggam erat pulpen hitam hingga akhirnya terbagi menjadi dua.

Bayangan segala kemesraan dari 'orang tua'nya inilah yang membuat moodnya menjadi hancur. Andai saja... andai saja waktu bisa diulang, maka ia tak akan segan untuk menyatakan cintanya dan meminta Sakura untuk menjadi kekasihnya. Tapi penyesalan tetaplah penyesalan yang tidak akan pernah berubah menjadi keberuntungan.

"Memikirkan okaa-san lagi, eh?" suara Sasuke mendadak masuk melewati telinganya membuat perhatiannya terfokus pada otoutonya.

"Hmm..."

"Kalau kau ingin merebutnya, rebutlah..." ujar Sasuke santai.

"Hooo... jadi apa kau sekarang mendukungku?" sinis Itachi tak percaya.

"Itupun kalau kau bisa." Balas wakil direktur itu tak kalah sinis.

"Cih!"

"Jika kau menunjukan suatu kebaikan tetapi kau tidak menyebutnya kebaikan, maka itu adalah kelemahanMU." Ujar Sasuke sebelum keluar dari ruangan Itachi.

Itachi terdiam. Mencoba mencerna lagi perkataan Sasuke. "Tidak disebut kebaikan... kelemahan... Aaa aku mengerti sekarang, kau memang pintar." Senyum sinis keluar dari bibir Itachi setelah paham maksud dari otouto kesayangannya itu.

Mungkin pada waktu itu ia 'terlalu' baik membiarkan gadis yang dicintainya menjalankan hubungan dengan otou-sannya sehingga ia punya fikiran untuk menyerah, dan pada akhirnya Itachi sadar kalau yang dikeluarkannya waktu itu bukanlah sebuah kebaikan, melainkan sebuah kelemahan dirinya.

"Pengecut." Gumam Itachi tanpa sadar.

...

~To Be Continued~

...

Happy New Year minna-san! Kembali lagi dengan author php T_T yang sudah sekian lama tak meng-update ceritanya. Oke... saatnya balas review

sasusaku kun: Iya kok baru pertama kali buat lemon, se-hot itu kah? Wkwkwk maaf ya baru up ^^

kirara967: Nanti ada ceritanya kok

Guest: Kita liat aja nanti, hohoho *dicekek

zarachan: Yooshh!

hanazono yuri: Caawww

gubrak: I'm serious. Iya sih aku juga rada gimana gitu pas bikin scene nya /lha?

Chiwe Sakura: Aku juga sukaaaa #plak. Nanti ada bagiannya kok. Nganu tuh apa ya? #sokpolos :v

Luca Marvell: Iya kok nanti ada. Iya, mereka pacaran.

CEKBIOAURORAN: Yaaa begitulah, ketika seorang gadis dipasangkan dengan tua bangka *dibakarFugaku

cho jihyunee: Gapapa kok walaupun di skip, selera orang emng beda-beda, yg penting mah bisa idup(?). soalnya kalau Sasuke duluan kayak udh keseringan gitu.

ss: Uchisaku? Hmm...

Rein Riekho Kei: Maaf ya segini aja dulu, tapi nanti Itachi bakal ada usahanya kok.

Rein Cherry: Udah lanjut, arigatou~

Okeoke... chap 3 sudah selesai, selamat menunggu untuk chap depannnn nyaaawwww~~

.

Arigatou

Sign, Author PHP