Chapter 2: Mimpi ini Nyata?
.
.
Naruto masih terpaku di tempat dengan wajah yang belum berubah sejak membaca namanya yang tertera sebagai calon mempelai pria, terasa mustahil sudah pasti karena april mob baru saja terlewat 4 bulan 2 hari yang lalu. Begitupun hari ulang tahunnya juga masih 2 bulan 1 minggu lagi, Naruto tidak bisa memperkirakan alasan gadis di depannya untuk membuat lelucon yang menyakitkan seperti ini.
Terasa sakit sudah pasti, meskipun ejekan verbal sudah biasa Naruto dapatkan tapi hinaan di atas permukaan kertas ternyata lebih efektif menamparnya hingga kembali kedunia nyata. Mungkin sebaiknya Naruto membalas perlakuan baik dari gadis manis di depannya karena secara langsung menyadarkan akan gelar jones yang masih di pengangnya hingga saat ini.
"Ano.. Terimakasih, aku sudah bangun kok… Jadi kau bisa pergi sekarang.." Sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menunjukan rasa hormat yang terlambat dia tunjukkan, lalu segera melangkah ke pekarangan rumah Sarutobi.
"Tunggu Naruto-sama! Kita harus segera berangkat."
Naruto langsung menghentikan langkahnya tapi bukan karena ucapan Sara, melainkan pundaknya yang ditahan oleh tangan besar kedua bodyguard yang entah sejak kapan bersiap menahan langkahnya. Naruto membalik tubuh dengan pelan, merasa was- was akan bogem mentah yang biasanya dia saksikan di film laga ketika si korban menolak patuh.
"Sebenarnya apa mau mu? Ya ya ya, leluconmu sungguh lucu.. Jadi biarkan aku pergi sekarang.."
"Saya sedang tidak membuat lelucon!"
Naruto sedikit bergeming dengan tatapan mata bulat Sara, bukanya takut tapi wajah kesal itu malah menambah poin keimutan,
"Eghm.. Jadi begini Tayuya-S A M A, aku tidak pernah menjadwalkan menikah muda, jadi sebaiknya cepat kabari Nona besarmu untuk mencari calon suami lain yang sudah siap menikah.. Bye b-"
Spontan Naruto mengerem laju lidahnya karena suara- suara celetukan sendi jari yang menyiutkan nyalinya yang memang tidak seberapa, mungkin saja para bodyguard itu sedang melemaskan otot- otot jarinya. Tapi di beberapa film di layar kaca, biasanya gerakan itu bertanda sebuah ancaman agar si korban tidak bertindak diluar aturan. Dalam masalah ini Naruto adalah si korban yang kehialangan pilihan aman.
.
.
Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan miliku (Naruto milik Masashi Kisimoto)
Warning! Abal/No Baku/Typo/DLL/ incest banzai!
.
.
"Nona besar selalu memakai lotion sejenis pemabab di kakinya sebelum tidur, itu sudah menjadi kebiasaaan rutinnya…."
Tayuya menjelaskan sambil mengenalkan merk sebuah lotion atau pelemabab, atau apalah sebuah botol berwarna putih dengan aksen hijau muda di bagian merknya. Naruto hanya memandanganya dengan enggan, sudah sepuluh menit berlalu sejak dirinya meyatakan menyerah dan memilih jalan damai dar pada harus babak belur. Jika sesuatu terjadi denganya memang siapa yang mau membayar biaya rumah sakit untuknya? Dia tidak bisa berharap lagi pada anak- anak konglomerat yang tengah gagal investasi seperti mereka.
"Tunggu! Nonamu itu sedang melamar calon suami atau melamar seorang pekerja salon?!"
"Setidaknya, anda bisa menjadi suami teladan.. Jadi, saya rasa anda perlu mendapat sedikit pengetahuna tentang kebiasaan Nona besar.."
Gadis itu tetap bercerita berbagai rincian- rincian tentang kebiasaan sang nona besar, bodyguar di balik punggungnya masih setia memakunya dengan tatapan mengancam dan alhasil Naruto terduduk lemas di roka dengan keringat dingin bercucuran. Berbagai usaha berkelit tidak membuahkan hasil yang berarti untuk kebebasannya.
"….. Jadi, Kita bisa berangkat sekarang, Naruto-sama?" Setelah begitu panjang dan lebar memberi petunjuk perawatan nona besarnya, akhirnya Tayuya sampai di penghujung pembicaraan.
"Hah?! Ya ya ya…" Naruto yang memang tidak memperhatikan hanya manggut- manggut tanpa mendengar dan menyetujui pertanyaanTayuya begitu saja.
Para utusan itu segera berjalan menuju mobil hotam metalik, meninggalkan Naruto yang masih duduk dengan fikiran melayang entah kemana.
"Naruto-sama? Ayo.. kita harus segera bergegas.." Sara berbalik karena tidak mendapati Naruto di dekatnya.
"Memangnya aku mau kemana?" Dengan tampang kebingungan Naruto menengadah untuk menatap Tayuya.
"Kita akan segera menuju ketempat resepsi pernikahan, Naruto-sama? Anda tidak lupa jika, atas persetujuan anda beberapa saat yang lalu? Kan!" Sara tersenyum manis dengan mata menyipit, mengancam.
Kratak..
Kratakk..
Para bodyguard melakukan pemanasan jari lagi, membuat Naruto berasa menciut.
Glub..
" Ha- hai'.. Ayo segera beraangkat.. aha- ha- ha- ha.."Dengan tawa mengenaskan, Naruto mendekat kearah mobil terparkir.
Dengan penuh hormat Tayuya membukakan pintu mobil agar dirinya bisa masuk mobil dengan mudah, padahalkan tangannya baik- baik saja hanya nyalinya saja yang terasa tercabik- cabik oleh tatapan ancaman dari bodyguard lain yang berjaga di dalam mobil sedan hitam.
"Tu-tunggu!"Di saat- saat terakhir dia harus tetap berusaha mempertahankan kebebasannya, ide- ide terakhir muncul sebelum kakinya menapak kedalam mobil. "Aku belum pamitan pada anak- anak kost! Yah ya.. aku belum pamitan.."
"Tapi… mereka sudah melepas keberangkatan anda sejak tadi, Naruto-sama.." Naruto memutar leher, kearah jari Sara menunjuk rumah tradisional tempatnya menyewa kamar.
'SIAALL!' Naruto menjerit dalam benaknya ketika mendapati para gadis dan Konohamaru melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, Naruto merasa tertohok, 'Uhuk! Nilaiku hanya sebanding dengan harga sekotak bento!" kekesalan terlihat dari urat pelipisnya, karena mendapati beberapa kotak bento di sebelah mereka melambaikan tangan dengan latar bunga- bunga.
"A-aku belum mengabari kakek Hiruzen! Dia sudah ku anggap seperti kakek kandungku!"Alasan ke-2 segera terlontar karena kegagalan alasan pertama.
Tayuya terlihat sedang berfikir dengan menaruh telunjuk di bibirnya, Naruto terdiam di tempat dengan fikiran melanglang buana entah kemana, "Ara.. Humm? Benar juga.. Untuk masalah itu tenang saja!" Sara terlihat berkilau saat mendapat solusi masalah.
Dengan sigap Tayuya merangkak di jok mobil depan dan segera keluar dengan sebuat tab di tangan, dengan gerakan tangan yang cepat menekan layar tab lalu memasang headset di telinga. Naruto kembali terpuruk karena usahanya kembali gagal, sangking paniknya dia melupakan teknologi terkini yang bisa tetap menyambung komunikasi dengan orang seberang meskipun terpisah ber mil- mil jauhnya. Seolah dilingkupi cahaya pencerahan, Tayuya memutus sambungan dengan orang di seberang dan memberi isyarat pada Naruto untuk segera memasuki mobil karena maasalah mengabari kakek Hiruzen terselesaikan dengan cerdas.
Brukk..
Suara pintu mobil yang tertutup memberitahukan Naruto jika dia sudah tidak dapat melarikan diri, Tayuyaduduk di kursi depan sebelah sopir yang mukanya tidak kalah garang. Sedangkan dirinya duduk di himpit bodyguard membuatnya terasa sesak kekurangan oksigen. Suara deru mesin mobil terdengar.
"Tu-tunggu sebentar!" Naruto mencoba usaha terakhir dengan keringat bercucuran.
"Hmmm…?!" Para bodyguar menoleh padanya dengan geraman yang membuatnya menciut dan tercekik oksigen. Tayuya memberika isyarat baginya untuk kembali bicara.
"Ba- barang- barangku, Aku membeli mereka dengan hasil jerih payahku sendiri, meskipun hanya barang murah tapi mereka sangat berkesan untukku.. A-ku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja!" Naruto bicara dengan suara lantang g meyakinkan, membuat para bodyguard nyaris meteskan air mata terharu.
Naruto melihat ke arah Tayuya yang tengah tertegun dengan perkataannya, 'Yosh! Berhas-'
Brakk!
Suara debaman dari arah bagasi belakang mengacaukan ketenangan di dalam mobil.
"Yosh! Barang terakhir siap berangkaattt…!" Suara tepukan tangan membersihkan debu ditangan menyusul suara laki- laki dari bagasi belakang.
Di luar sana, Naruto dapat melihat Kiba, Shikamaru, dan Choji melambaikan tangan setelah selesai menutup bagasi. Naruto langsung bertatapan dengan ketiga pemuda kucel di sana yang memasang wajah tak kalah berseri seperti para gadis.
"Barang- barang anda sudah dikemas denga bantuan sahabat- sahabat anda." Tayuya kembali menghadap depan begitu selesai dengan perkataanya.
Sekelumit gerakan bibir dari Kiba, menghentakkan kesadarannya, "Selamat menempuh hidup baru, Naruto-sama!"
"PENGHIANAAAAATTTT…!" Spontan saja Naruto menjerit begitu sadar dengan kenyataan.
.
.
.
Deru suara mobil dan hentakan jalan bergelombang membuat Naruto tesadar dari alam mimpi, mengerjapkan matanya karena cahaya menyilaukan saat matahari berada di puncak cakrawala. Dengan sedikit menghalau iler yang menandakan jika dirinya benar- benar tertidur di tegah perjalanan, Naruto kembali merangkai ingatannya yang seolah bercampur kenyataan dan mimpi bunga tidur.
"Ara.. Naruto-sama, anda sudah bangun.. sebentar lagi kita akan sampai tempat tujuan!" Tayuya berbicara tanpamenoleh, melihat Naruto dari cermin di atas daskboard. "Saya sudah mengirimkan undangan kepada orang- orang terdekat anda, beruntungnya anda tidak banyak memiliki teman jadi saya tidak kerepotan sendiri.."
Diantara sadar dan tidak sadar Naruto dapat menangkap perkataan Tayuya yang menusuk dadanya begitu saja, dia yang sempat beranggapan masih bermimpi segera terjatuh ke bumi. Undangan pernikahan itu bukan sekedar olok- olokkan semata. Calon istri dadakan yang- misterius? Dia baru ingat jika tidak mendapat gambaran tentang calon istrinya selain nama dan jenis perawatan kecantikan yang dia lakukan.
"Ano.. Tayuya- san, Nona besar, memangnya berapa usia- hmm!" Naruto langsung membekap mulut sendiri begitu sadar dengan kata- kata tabu yang pernah membuatnya kehilangan kesadaran, "Etto maksudku, selis-"
"22 tahun.. Kalau tidak salah sekitar 22 tahun,.." Tayuya segera menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto melebarkan mata horror, usianya yang baru saja lulus sekolah menengah atas baru akan genap 18 tahun setelah terlewat 2 bulan lagi. Itu berarti sang calon istri mencapai kepala 3, hatinya terasa tertohok seketika tidak berani bertanya lagi.
Naruto seolah membatu, mungkin ini karmanya menikah dengan calon tante- tante di usianya yang belum genap 18 tahun. Mungkin ini karma karena sering mengoda Mei Terumi si janda kembang di seberang kost Sarutobi. Berbagai spekulasi tentang sang calon istri mulai berlarian di dalam kepalanya, berusaha memilih pilihan positive untuk mengsugesti pikirannya sendiri. Meyakinkan diri jika semuanya baik- baik saja-
.
.
Mungkin Namikaze Karin itu perawan tua yang kehabisan opsi untuk menikah
Mungkin Namikaze Karin adalah secret admirer yang mengenalnya tanpa dia sadari, namanya juga secret admirer? eh? Meskipun dengan badannya yang ceking dan tinggi standar, dirinya adalah salah satu kapten basket terkece di sekolahnya dulu. Memangnya ada berapa banyak kapten basket di sekolahku?, eh?
Mungkin Namikaze Karin adalah shotacon yang dulu sering mengintainya saat masih di panti asuhan, kemungkinan terburuknya?
Mungkin Namikaze Karin tengah berbadan dua dengan sang pacar yang kabur entah kemana. Eh! Eehh…?!
.
.
Uhuk! Sebuah panah melesat menembus dadanya saat spekulasi terburuk menyeruak di kepalanya.
Memeluk tubuhnya sendiri. Sangking shoknya dengan kemungkinan terakhir membuat badanya gemetar merasa merinding, matanya mulai membentuk anakan sungai dengan arus deras. Seumur- umur dia tidak pernah mempermainkan seorang gadis, kenapa dia malah jadi korban permainan?
Mengusap ingus yang mulai meleleh dari hidungnya sambil mencoba menggali kembali pikiran positif untuk menyakinkannya jika Namikaze Karin tidak seburuk itu, kemungkinan yang paling mungkin adalah Namikaze Karin adalah shotacon yang dulu sering membuatnya merasa tidak aman tinggal dip anti asuhan. Ya! Itu saja!
"Maaf Naruto-sama.. Kita sudah sampai tujuan."
Suara Tayuya menyadarkannya dari spekulasi tentang Namikaze Karin, tanpa dia sadar jika mobil sudah berhenti melaju di dekat sebuah bangunan tradisional berlantai 2. Dengan tubuh dan emosi yang terasa letih, Naruto mengekor Sara menuju salah satu kamar yang disediakan untuknya. Sedangkan para bodyguard berjalan di belakangnya dengan menenteng barang- barang miliknya. Sekelebat cahaya melesat di dikepalanya, memberikan ide yang datang terlambat tapi datang di saat yang tepat.
Bernegosiasi dengan Tayuya sudah pasti tidak akan membuahkan hasil, karena Sara hanyalah suruhan dan pasti patuh dengan atasan. Jadi, sepertinya akan lebih baik jika berbicara langsung dengan yang bersangkutan. Naruto harus berbicara langsung dengan sang Nona besar yang tiba- tiba meminta menikah denganya.
"Tayuya-san? Apa Nona besar tinggal disini?" Naruto membuat Tayuya berhenti sete;ah melewati anak tangga.
"Tidak, Nona besar hanya membocking saja sebagai tempat resepsi.. Ano Naruto-sama, tolong jangan ikut memanggil Karin-sama dengan sebutan nona besar.. Saya itu kurang pantas bagi anda.."
"Kalau begitu dia ada dimana sekarang?" Naruto merasa heran dengan perubahan nada bicar dan raut wajah Tayuya yang berdeda dengan saat memaksanya di kost Sarutobi. Gadis di depanya berkebalikan dengan para gadis di kostnya.
"Maaf Naruto-sama, calon mempelai tidak diperkenankan untuk bertemu sebelum resepsi pernikahan dimulai.." Tayuya berbicara dengan blusing di pipi.
"Memangnya kapan hari resepsinya?"
"Sesuai yang tertera di undangan, resepsi pernikahan akan dilaksanakan malam ini di taman utama." Tayuya segera melaju pergi setelah membuka pintu sala satu kamar yang diperuntukkan bag Naruto.
"Oo.. Malam ini? Cepat juga ya?!" Manggut- manggut, Naruto bermonolog dengan dirinya,"Iehh? MALAM INII…!" Naruto langsung duduk bersimpuh di dalam kamarnya karena loading otak yang terlampau lemot belum mendapat jatah sarapan.
Sampai seluruh barang- barangnta selesai di tata dan meninggalkan tubuhnya yang masih bersimpuh di lantai sambil berkedip- kedip monoton. Terlalu mendadak, dirinya belum siap! Kabur! Lari!
Kepalanya menyerukan perintah dan tubuhnya segera berdiri mendekati pintu kamarnya yang tertutup, tapi berhenti saat tangannya baru menyentu handle. Lewat paintu pasti beresiko ketahuan lalu gagal kabur karena banyak pria sangar berjas hitam terus hilir mudik sepanjang perjalanan tadi. Jendela!
Berlari ke sisi kanan, tempat sebuah jendela besar melubangi tembok dan terhubung langsung dengan dunia luar. Dengan penuh semangat tanganya mendorong daun jendela dari kayu hingga terbuka, memandang dunia luar yang menjanjikan kebebasan tanpa sadar kaki kanannya sudah berada di atas kusen siap menyambut kebebasan.
Syuuttt..
Brukk..
Tubuhnya langsung merosot dengan kaki gemetar karena begitu pandanganya turun kebawah, pemandangan batu terjal menghilangkan keinginannya untuk kabur seketika. Dia tidak tahu jika kamarnya terletak 20 meter dari permukaan tanah, terlalu tinggi untuk level lantai 2.
Sampai sebuah ketukan pintu membuatnya berhasil menguasai diri dan segera berjalan dengan tampang sok cool untuk menyembunyikan gemetar di kakinya, seorang wanita ubanan membawa sebuah nampan berisi makanan yang terlihat sangat menggiurkan lalu meletakkannya di atas meja kecil dekat jendela.
"Silakan hidangannya Tuan muda.."
"Ettoo.. Nenek bekerja disini?" Wanitu tua itu mengangguk pelan,"Anda tau kamarnya Namikaze Karin itu yang mana?" Naruto bertanya, mengharap- harap.
"Khukhukhukhukhu…" Bukan jawaban, Wanita itu malah cengengesan menyeramkan,"Tuan Muda bersabarlah sedikit, sebentar lagi kalian akan resmi menjadi suami istri.. Jadi bersabarlah.." Lagi, tidak ada jawaban seperti yang diharapkan oleh Naruto."Dasar anak muda!" Pernyataan terakhir tadi, membuat Naruto langsung paham maksud si nenek.
Gdubrakk..
Pegangan tangannya di sandaran kursi sedikit meleset dan membuatnya, jatuh terantuk kaki meja. Naruto duduk dilantai bersandar pada kaki meja setelah menurunkan nampan makanan ke atas pangkuannya, lahapan demi lahapan makanan diatelan dengan tatapan mata kosong..
Mimpi..
Seperti scenario mimpi yang terlihat mustahil, setiap sentuhan hanya seperti hembusan angin yang tidak meninggalkan rasa di atas permukaan kulitnya. Ketika kaosnya yang kedodoran sudah berganti dengan jas mahal, kualitas kain pilihan hanya terasa seperti aliran udara. Ketika cahaya matahari mulai berpendar menjadi jingga hanya terlihat seperti lukisan dinding yang tidak bernyawa, hanya berperas sebagai pengungung yang menatap lukisan besar tanpa merasa terlibat di dalamnya.
Langkahnya hanya seperti gerakan ringan yang tidak memerlukan tenaga dari otot, tubuhnya bergerak mengikuti sosok pria yang menunjukannya jalan menuju altar. Adegan demi adegan tertangkap matanya tanda meninggalkan rasa berarti pada panca indranya, seolah tubuhya bukan lagi milikknya. tidak terasa apa pun saat mnatap Biwako mengusap punggung Hiruzen yang tengah mengusap air mata sambil memandangnya penuh haru.
Seperti bukan sebuah hal besar ketika tangannya menjabat tangan mungil berwarna porselen, ketika sebelumnya dia berusaha lari dari kenyataan.
Seperti dia menerima begitu saja menerima kenyataan yang mati- matian dia tolak kebenaranya, tidak lagi memikirkan bagaimana dan seperti apa sang calaon istri meskipun saat ini dia masih tidak bisa mendapat gambaran jelas di tudung yang menghalangi matanya dari wajah sang mempelai.
Seperti sebuah robot yang diprogram untuk menjawab tanpa penolakan dari setiap kata yang terlontar. Jika saja putri salju terbangun karena sebuah ciuman, dirinya mungkin mendapat kutukan yang lebih kuat dari kutukan yang di dapat putrid salju, karena sebuah ciuman semakin membuatnya terlena tanpa alasan. Sebuah pelukan yang cukup membuatnya yakin tanpa alasan logis, logikanya terselubung sesuatu yang membuatnya hanya dapat menebar senyum dengan wajah bahagia.
"Naruto-kun."
Pendengaranya hanya dapat menangkap suara halus dari wanita di sampingnya yang memanggil namanya, tidak ada debaran yang menyita oksigen dalam paru- parunya. Sangat tenang sampai Naruto tidak menyadari setiap hembusan nafas yang melewati hidungnya.
Di antara kenyataan yang terus berjalan dan dirinya yang seolah terjebak khyalan, wanita di sampingnya menguasainya. Sampai dirinya yang biasa tenggelam dalam asumsi dan spekuliasi hanya dapat tenang mengikuti scenario yang sudah disiapkan untuknya, bahkan tidak ada emosi tertentu saat helaian merah darah itu melambai dengan indah tertiup angin malam.
Rangkain scenario masih berjalan sampai tubuhnya terbaring dan ditelan kegelapan.
.
.
TBC….
.
Yo! Terimakasih untuk para pembaca, special terimakasih buat yang menyempatkan jari me-review dan foll atau fav …
Saya gak nyangka ide fic nya si muka datar bakal dapet après positif…. terimakasih
Semoga ada sedikit peningkatan di chapter 2… Tolong komentarnya ? berharap..
- Review
Kira ryushiki: Salam kenal Kira! Sebut saja Hikki tanpa suffix seperti Miura manggil hikigaya. Terimakasih reviewnya, kemarin masih ketikan asli dari si empunya cerita yang belum dia edit cuma saya tambahin beberapa bagian dan mengganti gaya tulisannya si muka datar yang kaku, maaf jika gaya tulisannya ababil. Chapter 2 sudah berusaha saya edit dan rapikan, semoga ada sedikit peningkatan dari chapter 1 yang asal saya publis heheheh.
Tomy G7: yosh nih, udah lanjut.. gak ada spoiler buat pair, liat aja cover fictionnya. Terimakasih
Laffayete: makasih
I: Makasih
Himmmecchi: maaf gak kasih spoiler tentang pair, liat aja cover fictionnya, saya suka hikki yang suka ngomong apa adanya. Makasih
Shiversteal: saya Cuma incest lover, gak ada niat buat ikutan jadi fundanshi.. tapi saya setuju denganmu! Temenku aja mulai males nogol di ff gegara banyak yang suka bikin cerita maho. Makasi
Yudha Bagus ST: oke lanjut!
Dianrusdianto39: wokeh lanjut!
Yu: polesan?
Delta31: oke lanjut!
Orewakaito: setuju! Pair langka harus mulai diberdayakan! makasi
.
.
Selasa 03 Agustus 2016
Itzhuma Hikkio
