Chapter 3: Bunga Tidur yang Mekar di Kenyataan
.
.
Harum teh menyeruak di dalam ruangan yang cukup luas untuk sekaliber kamar tidur pribadi, memberi aroma ketenangan di pagi hari. Sinar matahari yang lolos dari celah gorden tepat menimpa kelopak matanya yang masih terpejam, perlahan mengerjab dan mendudukan diri di atas kasur dengan setengah tubuhnya hanya tertutupi bad cover.
"Hmm, akhirnya bangun juga.. Selamat pagi, Na- ru- to- kun.." Suara perempuan yang terkesan di manjan- manjakan, mengusik pendengarannya.
Di sana, tak jauh dari tempatnya terduduk masih setengah linglung. Perempuan yang kemarin baru menghabiskan malam dengannya, terlihat begitu santai menyisir rambut merah darahnya yang setengah basah masih mengenakan jubah mandi sebatas paha.
Naruto menundukkan kepala sambil menghembuskan nafas berat, situasi ini- jujur saja membuatnya frustasi, seharusnya saat pertama kali dia sadarkan diri. Seharusnya! dia langsung bangun dan memilih kembali kekamarnya dari pada harus tertidur lagi dan terbangun lagi dengan situasi macam ini. Harga dirinya sebagai laki- laki yang memang tidak pernah dia perdulikan sebelumnya tiba- tiba merasa melambung tinggi dan langsung jatuh terhempas disaat bersamaan.
Saat pertama kali membuka matanya, si teman tidurnya semalam menyapanya dengan wajah sangar yang menggoda tengah menatap dirinya yang baru saja mendudukan diri di atas kasur. 'Siaall! Situasi ini.. kuso! Kenapa dengan situasi ini? Kenapa? Kenapa rasanya aku sedang memerankan lakon perawan yang baru diperkosa oleh sang mantan! Hikz.. Sialan!'
Selesai dengan umpatan yang tidak mungkin di dengar oleh orang lain, Naruto menegakkan kembali kepalanya dengan mata menyipit karena benda lengket yang terasa masih menyegel kelopak matanya. Tidak berminat untuk menjawab sapaan dari wanita yang duduk dengan menyilangkan kakinya, mereka sama- sama saling pandang meskipun tegah tenggelam dalam dunianya sendiri.
Naruto mengamati wanita itu dengan wajah datar andalannya, meskipun penglihatannya masih sedikit kabur karena efek bangun tidur tapi figure wanita itu dapat terlihat jelas meskipun sedikit blur di sekitarnya. Naruto patut bersyukur dengan kelebihan mata lelakinya. Kedua kaki putih yang untungnya terlihat masih menapak lantai kayu, juga lekuk proporsional yang terbungkus jubah mandi warna purple muda.
"Kau?" Masih menyipitkan mata, Naruto bertanya sambil memijat tengkuknya yang terasa dingin hampir mati rasa, "Siapa?"
Perempuan itu menghentikan laju sisir di pertengahan rambutnya yang panjang, mengedipkan mata dengan mulut sedikit terbuka.
"Jahatt.. Padahal kau baru saja menikahiku kemarin.." Karin namanya, pemilih helain rambut merah itu tengah mengusap air mata buaya dengan bibir mengerucut yang sialnya malah terlihat imut.
Naruto tentu sudah mengenalinya, sayangnya rasa kesal tiba- tiba menggerogoti kesabarannya. Dia butuh penjelasan atau setidaknya perkenalan dari perempuan yang membuatnya terpaksa melepas status lajang di usianya yang baru menanjak ke remaja tanggung. Jika di telaah lebih dalam kata menikahi yang dipakai Karin terasa janggal, jika dilihat faktor keterpaksaan sebenarnya siapa yang menikahi siapa coba?
"Tsk!" Dengan wajah kesal bukan tipuan, Naruto memilih mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa membantunya keluar dari badcover dengan aman.
Dengan tanggungan rasa malu yang terasa mengepulkan ubun- ubun kepalanya, Naruto berjalan menuju kamar mandi tak jauh dari tempat Karin duduk sambil memperhatikannya. Lalu melemparkan asal badcover yang sudah menolongnya sambil mengumpat dalam diam sembari mengenakan pakaian yang ada di tangannya.
"Sialan! Dipecundangi perempuan rasanya terlalu mengenaskan." Mengingat paginya yang terlampau luar biasa benar- benar membuatnya merasa terpukul. Mimpi buruk ternyata menyertainya hingga kedunia nyata.
.
. Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan miliku (Naruto milik Masashi Kisimoto)
Warning! Abal/No Baku/Typo/DLL/ Peringatan untuk segala hal tercela yang menjadi muatan fic/ Demosha, incest banzai!
.
.
Naruto kembali ke pos awalnya dengan pakaian seadanya yang disodorkan Karin, dengan enggan mengenakan T-shirt dan celana pendek hitam bermerek yang tentu tidak pernah mampir ke lemarinya. Meskipun tidak pernah belanja baju bermerk seperti kawan kostnya, Naruto sebagai buruh angkat belanjaannya Ino bisa mengenali beberapa merk ternama yang harganya tujuh kali lipat dari selembar T-shirt kesayangannya. Barang- barang bermerk yang dulu menjadi musuh besarnya kini malah menjadi penolongnya, mau tidak mau dia harus berdamai dengan batinnya demi menyelamatkan diri.
Karin yang mulai merasakan hawa kecanggungan segera menjauhkan sisir dari rambutnya, lalu mengambil sebuah nampan berisi teko dan cangkir di dekat meja riasnya. Berjalan pelan mendekat kearah Naruto yang tengah duduk bersila tanpa meninggalkan kasur. Jika diperhatikan lebih jeli wajah si nona besar lebih mengarah kearah manis dari pada cantik, terlihat lebih muda dari pada usianya. Tapi helaian merah darah itu benar- benar mirip dengan seseorang, membuatnya enggan bersikap ramah pada istrinya.
"Wajahmu terlihat pucat-"
"Aku punya riwayat tensi darah rendah."
" Aku sudah menyiapkan teh untukmu…" Semburat merah terlihat jelas di wajah putih Karin.
Karin mengambil sisi kosong setelah Naruto manarik kakinya dengan duduk bersila, menuangkan secangkir teh di atas nakas yang terlihat bersemu warna merah dengan bau yang begitu menggiurkan.
"Aku sedang menyukai teh sejenis rosella, jadi hanya jenis ini yang dibawa Sara.. Tapi tenang saja, aku berani menjamin rasanya tidak kalah dari daun teh.." Naruto memilih tetap bungkam, sambil meneliti senyuman menawan nan mencurigakan di wajah Karin.
Entah kenapa setiap kali mendapat senyuman dari seorang perempuan hatinya jadi terasa berdesir tidak tenang, bukan debaran grogi atau sejenisnya melainkan perasaan was- was yeng mengarah ke siaga level 1. Memang beberapa perempuan di kehidupanya sedikit memberinya pengalaman berharga, tentang maksud dibalik senyum manis perempuan.
Secara samar dia masing ingat jika teh rosella adalah salah satu bentuk perawatan si nona besar demi menjaga penampilan, mengamati warna merah yang senada dengan helaian merah darah si nona besar. Naruto jadi merasa curiga dengan teh dalam cangkirnya, takutnya Karin sedang mengikuti jalur minuman maut yang tengah menjadi trading topic saat ini. Bukannya parno pada istri sendiri, masalahnya Naruto kan baru mengenal sang wanita di sampingnya.
"Aku kurang yakin, bagaimana jika cangkir pertama untukmu dan katakan bagaimana rasanya.." Naruto berbicara dengaan sopan dan suara kalem buatan demi menyembunyikan kecurigaan.
Mangambil alih cangkir dari tangan Karin lalu mendekatkan bibir cangkir pada bibir Karin, terus menuangkan isinya sampai cangkir pertama habis oleh Karin sendiri. Fikiranya sedang salah fokus begitu mendapati wajah Karin yang memerah, lalu dengan segera berusaha menguasai dirinya kembali.
"Bagaimana persaanmu? Apa kau mulai pusing?" Meletakkan telapak tangan kananya di dahi Karin yang terasa sedikit hangat,"Mual? Tenggorokan terbakar?" Tanganya turun membelai leher Karin dengan sengaja, yang menjawab dengan gelengan. "Baiklah… Tehnya aman…"
Mendapat tanda- tanda aman, Naruto menuangkan teh dalam cangkir dan meminumnya dengan santai. Tak menghiraukan Karin yang mulai sadar dengan maksud pertanyaan yang sedikit melenceng dari rencana awal dirinya mengambil secangkir pertama.
"Hei! Kau kira aku meracuni teh mu?!"
"Hm? Aku kira kau menganut paham laba- laba betina yang membunuh pasangannya setelah tujuannya tercapai, siapa tahu kan? Lagi pula aku tidak mudah percaya pada orang asing.."Naruto menjawab dengan entengnya sambil meneguk kembali tehnya yang terasa manis, terasa bukan manis gula tapi terasa sangat enak di lidahnya hingga Naruto menghabiskan beberapa cangkir berikutnya.
"Aku kan istrimu! Ka- kau ini.. Hemmphh!" Karin terlihat benar- benar kesal dengan wajah menggembung merah, menatap tajam Naruto dari balik lensa kaca matanya.
'Akhak!'
Istilah istri yang baru saja di tekan-kan oleh Karin, otomatis membuatnya merasa terguncang nyaris menyemburkan teh dari hidungnya. Meskipun ada rasa geli di dadanya, tapi dia cukup tahu diri dengan gelar suami yang berhasil menggulingkan gelar jonesnya dengan mudah. Aa…. Rasanya Naruto masih ingin menangis setiap kali mengingat status barunya sebagai suami, bahkan lidahnya saja masih belum sanggup mengatakan untaian kata yang menjadi momok entah mayoritas atau minoritas pria di dunia.
Ketukan pintu mengalihkan keadaan yang mulai mendekati akward, di depan pintu Sara menginstruksikan jika semuanya sudah selesai dibereskan dan akan segera melakukan perjalanan pulang.
Karin menggenggam tanganya sepanjang perjalanan menuju mobil, dari samping Naruto terus mengamati ekspresi di wajah Karin. Takut jika sedetik saja dia memalingkan perhatian, Karin akan mengubah ekspresi yang menandakan bahaya datang. Dia cukup mengayati kata pepatah jika hati wanita itu sedalam lautan, mengesampingkan maksud sebenarnya karena dia sendiri juga kurang paham dengan pemikirannya sendiri.
Tangannya terus ditarik hingga memasuki limosin hitam, dengan bodyguard yang siap berjaga di depan pintu. Melihat sekeliling dimana kursi kosong dan tempat lebar yang bisa menampung beberapa orang lagi jika diizinka, tapi Karin memilih memepetnya di sudut dekat pintu dengan wajah harap- harap menatapnya.
"Naruto-kun, bagaimana jika kita mulai membuat panggilan sayang?" Naruto hanya menggaruk belakang telinga," Misalnya kau bisa memanggilku honey…"
Naruto menatap remeh Karin, panggilan sayang bagaimana? Sebenarnya Karin yang tidak peka atau ada sekit gangguan di ingatannya jika sejak awal Naaruto bahkan belum sekalipun memanggil nama kecilnya. Jika masalah panggilan untuknya, dia merasa jika dirinya adalah pribadi dengan fleksibilitas tinggi yang tidak perduli bagaimana cara orang memanggilnya. Jika dia tidak keberatan tentu dia akan merespon entah seperti apa anehnya, jika tidak suka- abaikan saja dan biarkan si pemanggil menelan pahit kekecewaan.
" Ah, baiklah.. Aku akan memanggilmu honey~" Karin tersenyum, "Lalu kau akan memanggilku apa? Bunny? Swetty? Ah.. Atau mungkin Po? Mengingat betapa kecanduaannya beruang itu dengan si honey.." Naruto menahan rasa tawa saat mendapati muka masam Karin.
"Aku akan memanggilmu bodoh! Aku serius Naruto-kun! Itu hal biasa untuk pasangan yang baru menikah.." Terlihat sekali kekesalan diwajah Nona besar yang membuat Naruto semakin ingin tertawa, jika bisa.
"Ah.. Terimakasih, itu panggilan yang sangat cocok untuk ku…" Naruto sebenarnya sudah menahan empet sejak mendapati wajah Karin di pagi hari, Nona besar ini tetap bertingkah seolah mereka benar- benar pengantin baru yang tengah dirundung bahagia.
"Kau menyebalkan!"
Karin langsung saja menarik tangan kirinya untuk di genggam dan menjatuh kepalanya di atas panggkuan Naruto, membuat si pemiliki kaki menyuarakan protes.
"Bangunkan aku kalau sudah sampai, aku ngantuk.. Kau membuatku kurang tidur."
Naruto hanya melirik keluar jendela, wanita dan jam tidur cantiknya yang kurang adalah kombinasi yang cukup membahayakan jika mendapat gangguan. Matanya memandang keluar jendal tempat bangunan- bangunan tinggi seolah mencakar langit. Jika harus mengakui, Naruto tidak tahu sedang berada di kota mana sekarang. Bukannya kuper atau bagaimana, dia mengidap sejenis kebiasaan aneh yang sulit sekali meninggalkan kasur, jadinya hanya jika ada pertanding antar sekolah atau turnamen dia baru bisa lepas dari kasur dengan ikhlas.
Matahari mulai meninggi saat, rasanya seperti mengulang hari pemaksaannya kemarin. Meskipun tidak ada bodyguard sangar yang membuatnya ketar- ketir ketakutan, rasa ngeri itu tetap tidak mau hilang dari benaknya. Malah, hanya dengan memikirkan rencananya kedapan justru membuat kaki gemetaran. Menikah dengan seorang Nona Besar dengan status sosialnya yang melekat padanya pasti akan membuatnya berada dalam masalah suatu waktu nanti.
Ketukan dari pembatas di belakang kepalanya membuatnya terpaksa menoleh dan menggeser pintu kecil, menampakan wajah bodyguard sangar yang baru saja dia fikirkan.
"E- eto, Sebentar lagi kita sampaitujuan t-tuan muda."
'tuan muda.' Naruto merasa tergelitik mendengar panggilan hormat dari bodyguard yang sempat menguarkan ancaman padanya kemarin
Belum sempat Naruto membalas, pintu itu segera ditutup paksa. Memaksanya menelan kembali perkataan yang sudah sampai di tenggorokanya, dengan wajah ogah- ogahan Naruto menggoyang- goyangkan pundak Karin yang benar- benar tertidur selama perjalanan. Mobil yang membawanya sudah berhenti, tapi Karin masih tampak pulas.
"Oi.. Ba-"
Naruto kembali menelan kalimatnya begitu menyadari asal muasal rasa dingin yang tiba- tiba menyentuh kulit pahanya sedari tadi, karena begitu membungkukkan bandannya terlihat Karin yang tengah tidur pulas. Dia baru saja mendapat wawasan tambahan jika wanita cantik itu tetap manusia normal yang bisa ileran. Sekarang dia bingung caranya membangunkan Karin yang terlihat sulit dibangunkan.
.
.
TBC….
.
Yo! Saya tidak akan bosan untuk berterimakasih pada para pembaca yang menyempatkan waktunya, special terimaksi buat yang menyepatkan jarinya me-review dan fav atau foll.
Chapter 1 & 2 saya sudah dapat filenya, jadi alurnya masih asli di ketik sama si empunya cerita, saya hanya melakukan editing di kalimatnya yang kaku.
Mulai chapter 3 saya mulai mengetik sendiri dari awal? Mohon komentarnya…. jika terdapat keanehan atau sesuatu yang njomplang dari chapter sebelumnya, saya merasa chapter ini hasilnya berbeda dari sebelumnya.
Ulasan Review
28, Tomy G7, Delta31, dilousfarm, varsyi dobe, kurama zula, ramadi. riswanto, LeFay-chan, regalia9999, : Makasih.. Semoga lanjutannya tidak terlalu mengecewakan
Laffayete: asal muasalnya? baca saja tiap updatenya.. yang jelas berhubungan dengan gendre supranatural yang di tag
ayuki uzumaki: Semoga alurnya gk terlalu mengecewakan, ternyata bkin fic emang sulit.. hahaha
yu: Makasiii… udah ngasih review, tenang saja saya cukup easy going dengan pendapat kok, tentang deskripsi yang banyak. Saya membuatnya sebagai celah membuat kalimat santai sih sebenarnya, untuk percakapan saya ragu- ragu membuatnya… masalahnya percakapan itu bisa jadi cirri personal. Sekali lagi terimaksih yu, jika masih mengikuti chap 3, mohon komentarnya.
OrewaKaito: Banzaiii….
Guest (leon agsan): sesuai saran dari si empunya cerita, fic ini gk bakal banyak chapter, akan saya usahakan finish.
Guest: Anda bingung di bagian akhir itu? Saya pun juga bingung sebenarnya, itu bagian penutup chapter ketikan tanpa saya edit dari empunya cerita. Katanya dia, kalimat signifikan di akkhir itu buat ngeganti scene resepsi pernikahan dan lemon "katanya" loh "katanya" . Makasih..
.
.
Selasa 08 Agustus 2016
Itzhuma Hikkio
