On- Flassback ( Karin Side) Garis Darah
Jalan Cerita Baru
.
.
Suara jangkrik sebagai hewan malam menjadi simfoni tersendiri selain suara berisik dari roda- roda kecil yang berputar diatas lantai cramik rumah sakit. Sejak sore tadi ibunya memang sudah merintih merasakan rasa mulas di perutnya lalu menjelang tengah malam suara sirine ambulance mendekati rumahnya, membawa serta keluarganya. Lalu para perawat merebut ayahnya untuk menemani ibunya yang terlihat kesakitan didalam sana, tapi tidak memperbolehkannya masuk.
Membuatnya hanya bisa duduk menunggu dengan memeluk lututnya sambil memperhatikan beberapa perawat sambil mendorong- dorong kasur.
"Karin kenapa di sini? Mana papa mu?" seoaarng wanita degn rambut hitam panjang mendekati si anak kecil.
"Karin ditinggal papa.."
"Hn? Ayo ikut…. Kita lihat adik kecilmu yang manis.."
"Adik kecil manis?" Binaran wajah senang terbaca jelas dari wajah Karin,"Adik manis seperti Sasuke?"
Wanita itu mengangguk dengan senyuman melihat binar di wajah anak kecil yang sudah dalam genggamannya, bersama Karin mendekati seorang pria bersama dua anak laki- lakinya.
Di ruang perawatan yang dipenuhi parfum obat- obatan, kedua keluarga sedang berkumpul mengitari ranjang pasien tempat wanita dengan surai merah darah tengah memeluk bayi kecil di lengan kanannya. Bayi laki- laki berambut pirang tipis yang masih merah itu tertidur meskipun pipinya sedang dimainkan oleh jari telunjuk Karin, sementara para orang tua sedang terlibat pembicaraan.
"Karin.. Jangan ganggu adikmu, dia sedang tidur.." Wanita mearah darah itu berbicara sambil mengelus rambut Karin yang memasang wajah bibir cemberut.
"Kau bisa bermain dengan Sasuke dan Itachi, Karin… biarkan adikmu tidur ya?" Kali ini wanita rambut gelap mencoba melepaskan Karin dari bayi kecil itu.
Karin menoleh ke tempat duduk tempat kakak beradik dengan rambut gelap sama seperti ibunya sedang terduduk dengan si kakak yang bermain dengan adik dalam gendongannya.
Untuk seumuran gadis kecil sepertinya, Karin cukup cerdas ketika dalam keadaan genting, "Enggak." Jika dia dilarang menjahili adiknya, maka membuat tidurnya lebih nyaman pasti tidak dimarahi, tangannya beralih mengelus selimut yang menggulung tubuh mungil adiknya. Perlahan ekspresi takjub dan senang terbentuk di wajah buatnya ketika adik manisnya menggeliat perlahan.
Mata onix dari pria dewasa rambut gelap tak lepas sedikitpun dari interaksi Karin dan adik barunya.
..
.
"Kau yakin tidak apa- apa? Kita bisa pulang begitu hari sudah terang, jangan memaksakan diri …"
Wanita merah darah itu menggeleng pelan dengan senyuman untuk menjawab suaminya, tangannya tidak berhenti mengusap pipi tembem bayinya yang baru lahir kemarin malam. Sementara pria pirang itu menghembuskan nafas pasrah mengikuti kemauan sang istri, dengan gadis kecil surai merah darah terlelap di punggunggnya yang ditahan oleh sebelah tangan dan tangan lain memegang tas jinjing cukup besar.
"Perhatikan jalanmu, jangan terlalu berlebihan."Pria itu mendesh pelan dengan kelaukuan Istrinya yang ingin mengetes kekuatan pilar penyangga bangunan di parkiran rumah sakit, sepertinya terlalu terlena memperhatikan detail bayi dalam dekapannya. "Aku jadi khawatir dengan perkataan Fugaku.."
"Ah! Maaf.. Fugaku mengatakan apa?" Wanita itu akhirnya melepaskan pandangan dari bayinya.
Pria itu lebih memilih bungkam degan terus melangkahkan kakinya, menyerahkan tas jinjing pada dua bawahannya yang menunggu di mobil dengan sebuah keranjang bayi kosong. Memberikan isyarat pada Kushina agar memberikn bayi pirangnya pada perempuan rambut coklat pendek, salah satu bawahan kepercayaannya.
"Biarkan Naruto bersama Rin, kau butuh istirahat."
Terbaca jelas sebuah rasa tidak rela di wajahnya untuk melepaskan bayinya, melihatnya sampai si bawahan membawanya duduk di kursi depan lalu melangkah memasuki kursi belakang mobil. Dengan gadis kecilnya yang terlelap dipangkuannya, Pria tidak melepaskan pandangannya pada ekspresi sang istri yang terlihat begitu tidak rela. Dia harus muli membuat beberapa rencana cadanga untuk menganisipasi situasi tidak terduga yang kemungkinan besar pasti terjadi.
.
.
Seperti kehidupan bayi pada umumnya dimana dirinya masih dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan, bayi pirang yang mendapat kehidupan yang baik jika dibandingkan dengan bayi- bayi malang diluar sana. Ayah yang selalu memperhatikannya, ibu dan kakak perempuan yang selalu menghabiskan keseharian menemani tubuhnya yang masih rapuh.
Sayangnya kehidupan sebulannya yang sangat normal, tidak akan bertahan lama begitu benang takdir mulai diikatkan padanya. Salah satu keluarga lain dari garis utama akan datang untuk dirinya yang masih belum mengetahui apa pun tentang dunia, menyiapkan garis takdir untuknya saat sudah dewasa nanti.
"Sudah malam Karin, ayo tidur.. Ruto juga harus tidur, jangan ajak adikmu main terus…"
Karin memandng papanya dengan cemberut, padahal Ruto-kun saja masih terjaga di dalam box bayi dengan mata belo sesekali menggumamkan suar.
"Papa! Karin mau tidur di kamar Ruto-kun, tadi siang Ruto-kun diculik sadako.. Malam ini Ruto-kun tidur sama Karin!"
Papanya yang gemas dengan sifat Karin yang sembarangan membuat panggilan sedikit terkikik geli, putrid kecilnya biasa membuat panggilan ketika sesorang membuatnya kesal. Misalnya, Karin kecil memanggil sasuke dengan pantat ayam saat bayi yang sudah muai merangkak itu lebih memilih bermain bersama kakanya itachi ketimbang dirinya, sama halnya panggilan sadako untuk si bungsu Hyuuga yang baru datang tadi siang bersama keluarga.
"Baiklah.. Tapi dengan syarat tidak boleh mengajak main Ruto.."
"Um!" Gadis kecil itu mengangguk antusias.
Bayi yang baru belajar tengkurap itu dipindahkan ke atas ranjang besar di sebelah box bayi agar lebih aman, Karin mengikuti langkah papanya dengan sebuah mainan lain di tangan.
"Karin? Ini tugas pertama menjadi onee-chan yang baik, yaitu menidurkan adik kecil yang suka begadang.. Ingat? Jangan di ajak main lagi ok?!" Kembali mendapat anggukan, pria pirang itu keluar dengan menutup pintu perlahan.
Sepeninggal ayahnya, bayi pirang itu masih aktiv memukul- mukul udara dengan mainan yang tidak berbunyi. Sedangkan si kakak perempuan sudah tidur menyamping sambil membelai rambut pirang halus,seperti yang dilakukan ibunya untuk menidurkan adiknya.
Gelak tawa bayi yang menggemaskan membuat Karin enggan tertidur, masih menggerakan telapak tangan mungilnya di atas rambut pirang tipi situ. Mengamatiadik manisnya yang begitu aktiv bergerak otomatis membuatnya tersenyum senang tanpa sadar.
"Nee? Kenapa adik manis onee-chan terlihat sangat senang? Hmm?" Dengan gemas Karin mengusap perut Ruto-kun yang semakin tergelak.
Senyuman di wajahnya perlahan memudar, memandang wajah bulat di depaannya dengann dalam. Memberikan sebuah kecupan di pipi adiknya yang tembem lalu membisikkan sesuatu seperti yang Itachi ajarkan untuk membuat adik manisnya menjadi tenang dan tertidur.
Bayi pirang itu perlahan mulai memejamkan mata begitu Karin memberikan perintah dengan nada datar dengan sedikit kesungguhan. Adik manisnya benar- benar terlihat sangat menggemaskan, sangat tenang membuatnya tidak rela harus berbagi dengan Hyuuga bungsu.
Telapak tangan bayi begitu mungil di genggaman Karin, terasa lembut dan kenyal membuatnya gemas ingin menggigit tangan mungil adik manisnya. Aroma khas begitu segar dan membuat Karin benar- benar terlena oleh adiknya, memakai tangan kecil bay itu untuk mengusap pipinya sendiri yang mulai hanga memerah. Adik manisnya ini miliknya bukan milik di Hyuuga bungsu pendiam yang mirip boneka itu.
"Ara~… Adik manisnya Onee-chan~"
Sementara Karin tengah memonopoli telapak tangan adiknya, bayi mungil itu mulai merintih merasa tidak nyaman karena tanpa sadar kakaknya menguarkan hawa mengancam.
Crackk..
Sebuah gerakan refleks dari kakaknya membuat bayi itu langsung terbangun dengan tangis sekencang- kencangnya, sementara sang kakak menjadi tuli karena rasa manis di indra pengecapnya.
Dbrak!
Pintu kamar terbuka, menghantam tembok dengan keras. Membuat Karin langsung berjolak karena kaget, menoleh kearah orang tuanya dengan aliran merah di ujung bibirnya.
"Astaga Karin!"
Pria pirang itu segera mendekat dan menarik Karin menjauh dari sang adik yang mulai di tenangkan oleh wanita merah darah yang datang bersamanya, membawa bayi itu dalam dekapannya meredakan tangis dari bayinya seperti ibu pada umumnya. Ruto bayi mulai tenang , bahkan ibu yang tengah nebyusuinya juka ikut terdiam dengan memandang kosong telapak tangan bayinya.
"Karin nggak sengaja Pa.." Pria itu menoleh pada gadis kecilnya.
Tatapan mata kosong dari iris ruby membuatnya yakin akan penyesalan gadis kecilnya, sayangnya itu kurang meyainkan begitu Karin menjilat sisa darah di sisi bibirnya dengan ekspresi wajahnya yang polos.
"Ya.. Papa tau,sekarang kamu kembali ke kamarmu bersama Rin ya.."
"Paa! Karin kan mau tidur sama adik manis.." Pria pirang itu terlihat putus asa dengan seringaian di bibir gadis kecilnya.
Pandangan matanya mulai mengabur saat tubuhnya ditarik oleh wanita rambut coklat, adiknya berada dalam dekapan ibunya dan saat itu juga terakhir kalinya Karin melihat adiknya di dalam rumah besar Namikaze.
Saat matanya terbuka, keadaan sunyi dengan cahaya redup tertangkap retinanya tapi bukan masalah besar untuk mengelabui pandangannya yang tajam. Mengerjapkan iris rubynya dengan pelan sambil merenung kembali kejadian masa lalu yang tiba- tiba menjamah mimpinya, seulas senyum terbentuk diwajah cantiknyaa karena mimpi buruk itu hanya masa lalu.
Menggeser tubuhnya meskipun terasa letih, jemari putihnya bergerak berlahan mmeberikan elusan pada pipi tan di bawahnya lalu bergumam,"Kali ini Onee- chan akan merawatmu dengan baik, adik manis."
ENd
.
.Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan miliku (Naruto milik Masashi Kisimoto)
Warning! Abal/No Baku/Typo/DLL/ Incast!
Buram.. Hal pertama yang selalu tertangkap penglihatanya begitu membuka mata, seingatnya kemarin dia dibawa ke sebuah apartemen mewah di sebuah kota. Lalu sedikit melakukan ini dan itu untuk kenyamanan hunian baru, sampai menjelang malam si nona besar melakukan treatment rutin sebelum tdurnya disertai keluhaan pegal di tungkai kakinya dan tambahan beberpa hal seduktif diiringi hal- hal lain yang memyebabkan logika Naruto menyerah pada hormone masa muda.
"Enggh… Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri.. hoammhh." Karena begtu kepalanya menoleh kesamping pemandangan indah tersaji dengan cuma- cuma tanpa harus terhubung jaringan internet. Lengan putih yang kontras dengan kulitnya yang menggelap tergeletak sembarangan di atas dadanya, dengan part lain yang tidak tertutup selimut dengan benar.
Setelah merasa Berjalan dengan sedikit terhuyung karena keseimbangannya goyah, kakinya terasa dingin menapaki lantai apartemen baru. Karena tidak ingin dipecundangi seperti kemarin, Naruto memaksakan berjalan mencari dapur meskipun mata masih terasa ngantuk. Berjalan dengan sedikit bertumpu pada dinding karena efek bangun tiba- tiba membuat kepalanya terasa pusing dan terasa diputar- putar.
Binar di wajahnya jelas tidak bisa disembunyikan begitu membuka isi kulkas yang terisi bahan- bahan makanan berkualitas, segar, nan bernilai gizi tinggi. Bahan makanan yang nyaris langka dia temukan di kulkas kost Sarutobi. Terlalu lama memandangi harta karena di dalam kulkas membuatnya lupa dengan sekitar.
"Eh!"
Terkejut membuatnya tidak bisa bergerak saat sepasang lengan putih melingkari lehernya, semakin mengerat dan membuatnya menegk ludah ketakutan begitu merasakan hawa kehadiran di belakang kepalanya gergerak semakin mendekat sedikit menyentuh rambut ditengkuknya.
"Salamat pagi.." Akhirnya benda berat itu menelusup ke sisi lehernya bergesekan dengn rambut pendek di tengkuknya yang semakin menambah romansa horror dini hari.
"Oi.. Berhenti!" Dengan suara bergetar Naruto menoleh karena berbagai hal menempel dan menekan punggungnya sedemikian rupa. "Jangan dekat- dekat leherku! Oi.."
Dengan wajah manis tidak berdosa wanita itu malah menoleh, "Hem? Kenapa~ ?" Menatap mata biru si pirang dengan bibir bawah digigit sensual. "Dapat! He he he.."
Dengan senyum tanpa dosa, Karin melenggang pergi ke dekat meja bar dengan sebotol minuman hasil rampasan. Menuangkan isinya ke dalam gelas dan meneguknya dengan anggung, tipikal nona besar yang sadar etiket.
Mengernyit, lagi- lagi dirinya dipecundangi dengan mudah. Wanita di belakangnya mungkin benar- benar kurang kewarasan yang cerdik, menyerang kepolosannya bertubi- tubi sampai logikanya dibuat mati kutu begini. Atau jangan- jangan, memang dari awal otaknya tidak sepolos seperti dugaannya? Hikz.. Rasanya jadi ingin menangis karena mengalami krisis mempercayai diri sendiri hanya gara- gara bibir merah muda berkilat di depan matanya.
"Emm.. Naruto-kun? Hari ini ada meeting mendadak.. aku boleh ke kantor kan? Hanya sampai jam makan siang, setelah itu aku langsung pulang.. Ne?" Terlihat sekali raut wajah bersalah, tapi Naruto hanya melihatnya dengan wajah polos tidak mengerti maksud permintaan maaf Karin. "Kau tak apakan? Dirumah sendiri?"
"Kenapa tanya padaku?" Naruto masih tidak mengerti, malah jadi bingung sendiri, "Kalau kau mau pergi, yaah? Tinggal pergi bukan?" Aa.. Anggap saja aku ini makluh transparant, tak usah memperdulikan ku.."
"Mana bisa seperti itu?! Jelas- jelas kau ada di depan mataku, bicaramu suram sekali.." Dijawab kuap lebar tidak perduli, "Lagi pula kau kan su-"
"A! Aku ada sedikit urusan hari ini, jadi tak perlu khawatir nggak jelas.." Sedikit menggigil karena curiga dengan kalimat Karin berikutnya,"Lagi pula aku bukan bocah, sampai kau harus khawatir meninggalkanku di rumah sendirian.."
"Kau mau pergi kemana?" Sambil meletakkan secangkir teh yang masih mengepul, dengan cepat ekspresi wajah manisnya berubah masam penuh selidik.
"Aku ada tes masuk, lalu setelah itu aku harus kembali ke rumah Sarutobi karena ada barang tertinggal.." Naruto menjwab tanpa memandang Karin, atensinya tertuju pada uap hangat dari teh berwarna merah. "Ini benar- benar teh kan?" Sekali lagi bertanya dengan curiga.
Warna merah menyebar dengan cepat ke permukaan wajahnya yang menahan kesal, mengangkat kembali cangkir berisi air berwarna merah itu dan meneguknya dengan brutal. Mentap iris biru sampai beberapa waktu terlewat dalam keheningan, hanya iris mata saling memandang satu sama lain.
"Lihat? Aku baik- baik saja.. Tidak kejang apa lagi mengeluarkan busa.." Sambil menuangkan kembali teh ke dalam cangkir tanpa menatap iris biru yang berwajah datar, "Atau~ aku harus memberikanya dengan cara lain~?"
Naruto menaikan sebelah alis karena wanita itu berjalan mendekat, semakin mendekat dengan tangannya yang terulur menuju belakang tengkuknya yang sering merasa merinding akhir- akhir ini. Berhenti tepat di depan wajahnya sampai hembusan nafas pelan menerpa seperti angin sepoi.
"Maks-" Angin sepoi yang memicu datakan cepat di dadanya, bukana lagi angin berkadar karbondioksida dan uap air tipis melemababkan bibirnya. Membuatnya mati- matian berusaha keras tetap terlihat sok cool di depan wanita yang syarat akan godaan.
"Dari mulut ke mulut mungkin~? Jika aku benar- benar menaruh sesusatu yang berbahaya, jadi kita bisa mati bersama~?" Melihat ekspresi datar si iris biru, membuatnya sendu tiba- tiba, "Aku tidak pernah memiliki niat untuk menyakitimu. Bisakah? Aku mendapat sedikit kepercayanmu?"
Merasakan pergerakan mundur, dengan perlahan Naruto mulai menarik nafas dengan perlahan meskipun terasa sesak demi ke-cool'an yang sengaja dia pertahankan sejak awal pertemuan. Segera mengalihkan pandangan dari iris ruby itu.
"Pertama kali aku mulai mempercayai dan dekat orang lain. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun sebelumnya..." Naruto berbicara pelan dengan pandangan kosong ke dalam air di dalam cangkir, wanita merah darah berbahaya yang mudah sekali membuatnya jadi sentimentil. Dia harus memperkuat benteng tanpa menimbulkan kecurigaan perang!
"Tapi ak-"
"Aku lapar. Lakukan sesuatu yang menghibur..." bahan bicaraan yang semintil harus segera disudahi sebelum dirinya benar- benar terbawa suasana dan bicara nggak penting, tapi wanita itu malah menjawab diluar dugaan.
"Ta-tapi Naruto-kun, dari ke-kemarin malam kan sudah. A- aku ada meeting pagi, l-lain waktu saja ya…?" Suara gugub dan ragu- ragu tu jelas sekali terdengar karena unsur ambigu.
Si iris biru menurunkan cangkir karena suara aneh lain dari Karin, dan begitu menoleh pemandangan mendebarkan lain segera tertangkap matanya yang tajam. Iris ruby itu tidak sedang tertutup lensa dan frame merah, menampakan mata membulat serta rona di pipi sewarna rambut. Jempol kaki yang membuat pola- pola melingkar di atas lantai, bentuk gerak- gerik gelisah lain saat tangannya menarik- narik kebawah ujung kemeja kedodoran yang memang tidak dapat menyembunyikan pahanya keseluruhan.
Reaksi di luar dugaan menimbulkan gelenjar aneh pada tubuhnya, sebelum ini dirinya hanyalah pemuda inosen kurang pergaulan dan tidak pernah mengikuti sejenis forum laki- laki iseng kurang kerjaan. Tapi tidak sampai membuatya benar- benar lugu tentang hal seperti ini, toh referensi dan tutorial juga tidak hanya dari teman sebaya. Eh? Jadi hal- hal baru seperti ini sudah pasti mudah tertangkap inderanya dan dengan mudah diproses dengan cepat pula. Indikasi- indikasi seperti ini sudah pasti menjurus ke-situ.
"Oi...! Oi! Aku lapar, perutku yang lapar! Sa- sarapan maksudku!" Sialnya perasaan menggelitik ini sudah pasti membuat rona menggelikan di wajahnya, dia jadi bingung sendiri. Dari mana kata lapar bisa di jadikan konotasi ketika pengin begituan? Kenapa rasa lapar yang manusiawi dijadikan konotasi keinginan badani.
"Oh~"
Sial! Dulu dia tidak pernah sempat memikirkan keindahan perempuan karena kesibukan sehari- hari, tapi menjadi pengangguran ternyata sangat berbahaya bagi kewarsan otaknya yang mulai mengurai gara- gara istri dadakan dan kelakuannya yang absurb. Karena kekuranga aktivitas menyebabkan otaknya jadi suka melanglang buana tidak bertujuan.
.
Rencana sudah selesi diperhitungkan, tes akan dimulai jam 9 pagi jadi masih ada sisa waktu bebrapa jam yang bisa digunakan untuk menghubungi Shikamaru untuk menjemputnya terlebih dulu. Masalahnya, ponsel hitam miliknya masih belum kembali ke genggamanya.
"Naruto-kun, ponselmu masih ada pada Kidomaru. Nanti dia mengembalikanya padamu, sekalian mengantar ke tempat tes.."
Suara itu mengawali munculnya wanita merah darah yang sudah berganti dengan baju semi formal, rambut merah nya yang panjang tergerai rapi ke kiri dan jangan lupakan frame merah yang sudah seperti atribut wajibnya.
"Aku berangkat bersama Shikamaru, dia sudah menjanjikan hal itu. Jadi suruh Kidomaru saja degera mengembalikan ponselku..." Wanita tuterlihat ingin tetap memaksa, "Lagi pula Shikamaru membawa motor sendiri, jadi aku bisa sekalian ikut pulang ke rumah Sarutobi. Kau konsen saja dengan pekerjaanmu, lagi pula aku hanya mengambil barang kecil. Kau tak usah repot- repot..."
Dari pengamata singkatnya selama dua hari. Perempuan merah darah ini jenis wanita keras kepala, harus segera mematahkan pendapatnya sebelum kau kehilangan kesempatan bicara.
"Kau yakin tidak perlu ku temani?"
Naruto menggeleng dengan senyum paksaan yang membuatnya pipinya terasa berkedut minta ditampar.
"Kalau begitu aku berangkat dulu..."
"Um! Hati- hati di jalan."
Naruto segera melangkahkan kakinya meninggalkan dapur tempat Karin masih berdiri dengan tas laptop di tangan kanan, masih belum beranjak dari posisinya saat masih berbicara dengan Naruto. Sampai Naruto menjangkau ambang pintu, Karin masih belum beranjak dan terlihat gerakan naik- turun pundak saat mengatus pernafasan.
"Apa kau melupakan sesuatu yang tertinggal?" Biasanya Naruto juga sering merasakan firasat barang tertinggal tanpa benar- benar mengingat apa benda itu, dan sering memuatnya bolak- balik kost dan tempat jauh hanya karena penyakit lupa.
Tanpa jawaban dari bibirmya, Karin hanya mendekat padanya dengan wajah memerah. Dengan cepat dan tanpa peringatan, bibir bawahnya mendapat gigitan dan tekanan lembut dari bibir lain. Detakan jantungnya meningkat karena kaget dan juga sensasi menyenangkan, wanita ini tidak perlu berusaha ekstra hanya untuk menjangkau bibirnya dengan bantuan tinggi tambahan dari sepatunya. Naruto bukan pemuda tinggi apa lagi postur tubuh menawan idaman wanita. Semakin Karin menekannya, semakin dirinya penasaran dengan alasan wanita kaya ini menjeratnya-
"Ah! Maafkan aku! A-aku tidak melihat apa- apa.. saya permisi.."
Suara Tayuya memaksa Karin menudur beberapa langkah karena kaget, tanpa suara lagi Karin segera melenggang keluar meninggalkanya di ambang pintu sendirian. Masih mencoba mengumpulkan oksigen dan kesadarannya yang sempat tenggelam.
Klek!
Suara dari pintu menyadarkannya, melengkahkan kaki untuk mengmbil baju gant meeskipun masih mengingat- ingat suara aneh tadi. Seperti suara putaran kunci? Dengan sedikit curiga mendekat pintu keluar tempat terakhir menatap wajah Karin, dan ternyata firasat buruk itu bukan hanya firasat nyasar.
Crak!
Crak!
"Sial..!"
Berkali- kali handle pintu coba dia buka dan tarik, tapi hasilnya nihil! Wanita gila itu sekarang menguncinga di dalam apertemen.
"Tante- tante gila, apa sih maunya!"
Brak..! Sebuah tendangan di rak sepatu mewakili teriakan kesalnya. Pandanganya memutar ke arah dinding kaca yang menghadap jalan besar di depan gedung apertemen, dan di sana sebuah mobil hitam metalik familiar terparkir. Dua wanita berambut merah melangkah dengan ringan membuat mulai menggedor- gedor dinding kaca.
"Hoey! Hoeii! Kuso! Oi! Tante gila yang disana! Kau sengaja mengunci pintu! Oii..!" Sia- sia sudah pasti, suaranya tidak sanggup menembus dinding kaca apalagi dari ketinggian lantai 5. Tanpa diduga salah satu dari wanita itu menoleh padanya yang menempeli kaca transparant. Respon tidak terduga nyaris membuatnya terjengkang gara- gara long kissu dari Karin.
"PINTU OI..! PINT- Oi.. oi- tunggu hey! Kuso!" Harapanya keluar sudah menjauh begitu wanita itu memasuki mobil.
Rasa kesal tidak tertahankan menyeruak, membuat dadanya terasa sesak. Merasa emosinya sudah sampai di ubun- ubun kepala, Naruto mengatur nafas dengan pelan dalam. Dirinya tidak boleh terpancing emosi sesaat yang pasti berdampak buruk pada dirinya pula, dia harus mencari solusi yang lebih effisien selain merusak pintu karena pasti ongkos perbaikan tidak murah. Dia sudah serig terkunci di dalam ruangan jadi, ini bukan maslah besar untuk.
.
.
"Sebaiknya kau mulai menjelaskan kenapa mengusik hari cutiku, Tayuya?" Wajahnya yang sempat tersenyum menjadi datar secara perlahan.
"Maafkan saya nona besar, saya baru mendapat kabar jika cabang perusahaan milik Hyuuga akan beralih kepemimpinan dalam waktu dekat.. "
"Maksudmu? Direktur bayaran itu dipecat?" Karin tidak tertarik.
"Nona ke-dua akan segera kembali ke Jepang dan mengambil alih.."
Seolah tersengat sesuatu, Karin menoleh pada Tayuya dengan alis mengkerut tidak suka. "Aku baru mendapatkan Ruto-kun! Tayuya, buat sedikit masalah untuk menghambat kedatangannya ke Jepang.." Tayuya mengangguk patuh,"Lalu Sasuke?"
"Tuan muda masih menyelesaikan pendidikannya, anda tidak perlu mengkhawatirkannya untuk saat ini.."
Kabar yang di berikan Tayuya membuat Karin menggit kuku jarinya dengan tatapan kosong.
.
.
TBC….
.
Yo! Terimaksih- terimakasih..
Ehehehe, saya update sambil nyengir… Nggak perlu banyak omonglah. Selain itu, dengan bearat hati saya akan memberhentikan Sara dari fic ini dan diganti dengan Tayuya, mengingat cerita Canon rasanya Sara kurang cocok jadi pesuruh, hehehe… chap 1- 3 akn segera sya re-place begitu terkoneksi dengan wifi
Dan? Saya mulai menyeret beberapa nama lain di fic ini.. tokoh- tokoh baru akan segera dimunculkan, dan jika saat itu tiba. Saya akan tutup mata dan angkat jari jika ada yang reviewers yang mengulik pair dan penokohan.
Banyak yang mengatas namakan guest, jadi saya kan merangkum jawaban yang perlu saya jawab dari beberapa pertanyaan guest.
1. Masalah dorama keluarga naruto dan orang tua? Saya sebenarnya kurang tertarik dengan hal ini, tapi akan coba saya tanyakan pada si empunya cerita.
2. Masalah orant tua yang masih hidup atau tidak, tunggu saja narasinya. Biarkan dijelaskan oleh penokohan fic ini sendiri. Heheh
3. Karin terlalu mudah menerima Naruto? Loh? Eh? Saya kira pertanyaan anda terbalik. Jika itu yangbertanya, seharusnya kenapa naruto nerima Karin begitu saja? Kan awalaya kalian duluan yang maksa dinikahi naruto. Otomatis pasti Karin udah tau Naruto duluan.
Ulasan review
Terimakasih untuk readers, followers, fav, dan reviewrs. Guests, LeFay-chan, Paijo Payah, .980, OrewaKaito, gufanuha, The White Anbu, regalia9999.
Ayuki Hikari: wah .. masalah alur yang cepat, saya lebih menarasikan alur utama biar ceritanya gk berbelit- belit dan cepat selesai.
Laffayete: he? Kenapa bawa kapasitas otak? Hikz.. inikan bukan fic si-fi apalagi misteri.. segitu absurbnya kah narasi saya?
Yu: okay, sudah saya kasih jeda.. padahal saya suka gayanya sanaz
Hyuuhi Ga Ara: Bingung? Hahhhhh…. Sedikit bocoran, saya cuma sekedar penulis. Menuliskan seperti yang diceritakan si empunya ide, itupun karena saya suka dan seuju dengan caranya dia bikin alur cerita. Di awal kita nonton naruto canon, kita sama- sama gk taukan kalo ternyata naruto itu jinchuriki anaknya hokage ke-4 dan habanero garang. Dan begitulah pola fikir si empunya cerita, memulai cari dari awal. Dan saya sendiri juga kurang tertarik dengan cerita yang yang langsung blak- blakan. Saya ini tipe penyimpan rahasia, jadi saya gk akan kasih spoiler. Ini kan Cuma fiksi penggemar pasti mudah ketebak siapa- siapa yang saya maksud. Tapi saya akan pura- pura menganggap para reader gk tau siapa mereka.
aldy Hiraishin: baca aja di atas ini kenapa saya mau repot- repot ngetik cerita orang.
Sampai chap 4, saya bingung. Apa bedanya genre supernatural, spiritual, dan fantasi.
Adakah yang pernah nonton crimsom peak?
.
.
Selasa 06 September 2016
Itzhuma Hikkio
