Garis Darah

Chapter 5

.

.

Mobil hitam metalik itu berhenti di depan gedung tinggi, berhenti cukup lama sampai menarik perhatian beberapa orang yang melintas.

"Kita sudah sampai, Karin- sama.." Salah satu penumpang di dalamnya menginstruksikan pada nona besar yang terlihat masih tenggelam dalam lamunannya.

"Tayuya, kau mengusik hari liburku karena informasi dari perusahan milik Hyuuga bukan?" Perempuan di depannya mengangguk dengan hormat,"Aku ingin pulang, kau urus meetingnya. Perasaanku tetap tidak enak meskipun sudah menguncinya di dalam rumah.."

Si lawan bicara hanya berani menampakan wajah polos, kerena sekarang dia tau kenapa si tuan muda terlihat begitu marah dari balik lembaran kaca tadi.

"Saya rasa tuan muda sudah aman. Meskipun dia melarikan diri, bukankah anda bisa menemukannya dengan mudah, Karin- sama? Sekarang, setidaknya anda bisa menyapa rekan bisnis anda, hanya sebagai bentuk ramah tamah. Setelah itu saya yang akan mengurus sisanya."

"Sekarang akan lebih mudah menemukannya, tapi hanya memikirkanya- Sshh.. Aku jadi benar- benar ingin mengikatnya di dalam rumah.." Menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik telapak tangan,"Hanya membayangkan dia kabur, membuatku sulit mengendalikan diri. Hemmhh! A-aku tidak akan bisa melepaskannya."

Helaan nafas terang- terangan diperlihat Karin, melupakan segala etikat yang di pelajarinya sejak usia belia. Dengan enggan keluar dari mobil menuju ruang meeting yang sudah diipersiapkan sejak pagi. Lobby sudah di isi beberapa karyawan, berjalan dengan segala keangkuhanny dan membuat mereka akan dengaan senang hati sedikit menundukan tubuhnya pada si merah darah.

Baru sampai di depan lift, Tayuya kembali menegurnya. Memberikan smartphone berwarna putih yang layarnya sedang menyala, menampakan sebuah nama-

Memanggil Sasuke…

Karin menatap Tayuya sangking terkejutnya, selama ini Karin merasa bersyukur dengan sikap dingin Sasuke yang jarang sekali menghubunginya. Dan sekarang dia merasa berdebar karena Sasuke menghubunginya cukup cepat dari terakhir kali mereka saling bicara, dengan pelan mengulurkan tanganya yang sedikit bergetar kearah smartphone.

"Moshi- moshi?"

Perbincangan by phone itu terus berlanjut sampai Karin sampai di kantornya di lantai teratas gedung, masih bersama Tayuya di belakangnya. Tak jarang juga Karin tertawa garing demi menyembunyikan kecanggungan.

"Aku baik- baik saja.. Bisa kita bicara lagi lain waktu? aku ada meeting.."

Tiba- tiba dia merasa geli entah dimana yang membuatnya merasa mual karen mendengar kalimat terakhir sebelum akhirnya dia bungkam beberapa saat. Dulu saat belum mendapatkan kembali ingatanya dia sangat suka menempeli si balok es yang tampan, bahkan dia ingat pernah mencakar muka si kakak yang bernama Itachi karena selalu mendapat perhatian Sasuke. Tapi itu dulu, saat anak- anak masih belum yakin dengan pilihanya-

Kelopak matanya memejam sesaat untuk menjawab, pernyataan yang sulit dipercaya jika katakana oleh dari pria berwatak dingin seperti Sasuke,"A-aku juga men-cintaimu… Sasuke-kun.."

Begitu sambungan terputus, Smartphone segera tergeletak sembarangan," Aku mulai lelah dengan kegilaan ini.."

"Sepertinya Uchiha-sama punya intiusi yang kuat, mengingat apa yang anda lakukan memang me-"

"Tayuya! Ingat apa tugasmu! Kau mengerjakan apa pun yang ku mau, dan memberi saran saat aku menanyakannya padamu!" Iris rubynya terbelalak lebar menatap perempun merah yang sudah menundukan sebagai perwakilan rasa bersalah.

"Maaf atas lancang saya, Karin-sama.." Perempun itu berbicara rendah masih membungkukan badan.

"Mereka kumpulan orang tua mejijikan yang hanya memikirkan kelangsungan keturunan, memanipulasi fikiran anak kecil agar menuruti apa yang menurut mereka baik tanpa memikirkan bagaimana jika anak- anak sudah tumbuh dewasa dan memiliki keinginan sendiri. Padahal mereka masih melakukanya seperti tradisi masa lalu, tapi sekarang bersikeras mencegahku.." Menidurkan kepalanya di atas meja-

"Mereka bahkan membuang adikku yang manis ke panti asuhan hanya gara- gara ketidak sengajaanku saat masih kecil, sengaja membuatku lupa jika pernah memilikinya. Bagaiman anak kecil bisa mengontrol keinginannya jika saat dewasapun aku sulit mengendalikan diriku." Raut sedih terlihat jelas dari pancaran matanya yang menyendu," Benar- benar menjijikan."

.Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan milikku (Naruto milik Masashi Kisimoto)

Story juga bukan milikku

Warning! Abal/No Baku/Typo/DLL/incest!

Dan disinilah dirinya berada sekarang, ruang security karena berbuat keributan di aprtemen mewah. Sambil ngupil dengan tatapan bosan untuk menutupi rasa ketakutannya, karena pemilik unit yang berada tepat di bawah kakinya masih saja melotot dengan senang hati. Awalnya dia dituduh pembuat onar karena mengusik ketenangan penghuni lain dengan suara pantulan bola basket yang memang di sengaja, lalu berubah status menjadi penyusup dengan cepat karena mereka telat informasi jika no. 225 tidak lagi dihuni sendirian oleh si nona besar.

Tidak ada yang percaya jika si nona besar ternyata menikahi anak kecil sepertinya, dengan seenaknya membicarakan orang tepat di depan mukanya. Naruto berani bersumpah jika dia adalah salah satu manusia paling sadar diri tanpa harus di sindir- sindir begini, dia tau jika tubuhnya pendek dan nggak atletis cukup jauh dari image pria idaman. Jangan lupakan kulit kecoklatan, karena efek terpapar sinar ultraviolet jangka panjang saat dirinya masih bertahan sebagai pekerja konstruksi jalan.

Lalu keributan yang dibuatnya berakhir dengan damai setelah menghabiskan satu jam interogasi, saat pria- pria berpakaian rapi menegur security yang menahanya.

"Maaf atas kesalah pahaman ini, tuan muda.." Naruto menaikan sebelah alisnya saat salah satunya membungkuk di depanya, sambil minta maaf? Jadi siapa yang membuat kesalahan, sebenarnya? Diamkan saja, lagi pula memang dia nggak kenal. "Status anda memang sengaja sedikit dirahasiakan demi keamanan anda, Tuan muda.."

Tidak ada respon selain tatapan datar, "Nama saya Kidomaru, pengawal pribadi milik Karin-sama."

"Ponselku?" Disertai tangan menengadah dan tatapan datar, tidak ada lagi yang sempat dia fikirkan selain ponsel untuk segera menguhungi Shikamaru. Waktunya semakin menipis.

.

.

"Merepotkan sekali. Dia sendiri yang minta tumpangan, tapi tidak bisa dihubungi. Hoamhh..."

"Pemalas!" Kata sinis dari sosok gadis pirang yang tiba- tiba muncul segera menyahut dengan nada kalem.

" Berisik.. Kenapa kau bisa ada di sini, Shion?" Pemuda itu cukup herang dengan kemunculan gadis pirang

"Aku punya sedikit urusan dengan Ino-san.."

Tak lama, muncul gadis pirang lainnya membawa tas kecil di pundaknya dengan wajah sumringah.

"Eh?! Kau masih belum berangkat Shikamaru? Kalau kau tidak segera bergegas, kau akan terlambat.."Sambil berjalan mendekati pemuda yang masih saja duduk di atas motor, "Atau sebenarnya kau ingin mengantarku belanja?"

"Jangan samakan aku dengan si bodoh, aku tidak mau terjebak hal- hal merepotkan. Kau bisa mengajak Sakura atau Ten- ten.." Kunci motor segera di putar dan mesin langsung dihidupkan.

"Kalau mengajak mereka, sama saja aku niat membuat keributan. Style fashion kami berbeda, Shika!"

Hanya dijawab tatapan bosan, apanya yang berbeda jika dilihat dari sudut manapun tetap saja terlihat terbuka.

"Ino- san? Aku lupa, Naruto menikah dengan siapa?"

"Karin- san, Namikaze Karin. Aku penasaran bagaimana cara mereka bertemu, mereka menikah mendadak sekali. Apa lagi Naruto! Dia bahkan tidak bilang- bilang akan menikah, aku sampai tidak punya waktu untuk melakukan persipan, Ggzz.."

"Namikaze Karin? Yang rambutnya merah?" Ino mengangguk sedang Shikamaru masih memperhatikan,"Oh.. Kalau begitu tak usah menunggu Naruto, Shikamaru-san. Mungkin dia sudah ada di kampus tempat kalian tes atau malah tidak akan bisa berangkat."

Melihat wajah- wajah penasaran dua manusia di depanya, Shion pun tergerak untuk sedikit menjelaskan,"Aku pernah bertemu dengan Namikaze-san beberapa kali dan sepertinya kami memiliki sedikit kemiripan, meskipun hanya insting perempuan saja. Mungkin Namikaze-san juga sepertiku, rasa- rasanya aku selalu ingin mencabuti bulu mata lentik seorang gadis yang terang- terangan menatap kekasihku dengan binar- binar memuakan."

Meskipun dengan segala kalimat kasar yang keluar dari bibir manisnya, tapi nada bicara kalem dan wajah yang tetap berekspresi polos membuat Shikamaru cepat- cepat memasukan gigi mesin dan memacu motornya dalam diam. Ino tidak ingin lagi menyambung pembicaraan dan segera mengajaknya berangkat, dengan alasan akan ketinggalan kereta.

"Tunggu, berarti aku tidak lagi bisa memanfaatkan Naruto. Sama saja aku harus mengambil boneka itu dari gudang dan menggunkannya lagi sebagai teman curhat, Tsk! kukira dia tipe laki- laki yang tidak akan berani menikah seumur hidupnya."

Ino hanya diam dengan senyum sedikit dipaksakan, meskipun mendengar jelas gerutuan pelan Shion yang berada tepat disampingnya.

.

.

"Tsk! Sial!" Geraman pelan membuat beberapa pelanggan menoleh padanya, tapi- masa bodoh lah. Naruto masih bergelut dengan kedongkolannya.

Decihan kesal kembali terdengar begitu matanya kembali menatap jam di tangan kirinya. Meskipun sudah tau jika dia tidak akan mungkin datang ke tempat tes tapi tetap saja, keingan menengok jam selalu membuat hatinya kecewa. Hanya kampus itu yang memberikan beasiswa pada calon mahasiswa melalu jalur tes, dan kesempatan itu sudah terlepas gara- gara ponselnya yang dikatai sakit. Memang benar ponselnya teblut pola- pola garis putih di setiap permukaan selain bagian layar, tapi-

"Seenaknya saja mengatai ponsel sakit, dasar tua bodoh! Masa jaman sekarang nggak kenal sticker! Mana ada benda elektronik sakit! Yang ada juga otaknya yang sakit!"

Sekali lagi umpatan pelan berhadiah tatapan tajam dari beberapa pelanggan yang membawa serta anak kecil, begitu sadar dengan sekitar dia segera menunduk kecil dan mengambil minuman soda di atas mejanya. Berpura- pura menyedot isinya meskipun hanya tersisa bongkahan es batu.

"Naruto!"

Uhuk!

Mendengar namanya dipanggil cukup keras membuatnya tersedak ludah sendiri. Telinganya terlalu familiar dengan suara yang memanggilnya, pura- pura saja tidak dengar meskipun banyak mata yang tertuju kearah si pemanggil.

"Kejamnya.. !Kau bahkan tidak menoleh sedikitpun, aku kan malu dilihat banyak orang.." Naruto hanya menjulurkan lidah, memang bukan kesalahnya."Yak! Apa yang kau lakukan disini?! Shikamaru tadi kebingungan menghubungimu.." Langsung saja duduk di depan Naruto dengan sebuah paper bag di sampingnya.

"Aku terkesan, mendengar Shikamaru bisa kebingungan.." Menurunkan kembali si gelas soda, "Tunggu, Ino? Bagaimana kau bisa ada disini?"

"Kau ini bicara apa? Aku sudah biasa belanja di sini, bukankah aku sering mengajakmu juga?"

"Hah?! Kau yakin!" Kepalanya langsung melihat sekitar, dia benar- benar tidak sadar karena terlalu fokus mencari tempat menyelinap di tengah keramaian. "Aku benar- benar tidak sadar."

Begitu mengetahui ponselnya tidak ada pada Kidomaru, emosinya meroket dengan cepat. Bahkan ketika Kidomaru sedang turun ke basement menyiapkan mobil, dia beralasan akan menunggu di dekat jalan besar. Dan saat dia lepas dari pengawasan, kakinya berlari cepat menjauhi bangunan aparteman sampai menemui mall yang sedang padat pengunjung. Lalu membeli segelas soda sambil mengutuk kecerobohanya, seharusnya dia melarikan diri begitu selesai dengan tesnya. Tapi karena terlalu kesal memuatnya tidak bisa berfikir dengan benar. Menggelikan sekali, dia biasa memiliki kebebasan gerak malah diperlakukan seperti bocah.

"Naruto?" Ino bicara setelah menggoyangkan gelas yang tentu saja ringan karena hanya berisi es batu, "Ne.. Ku traktir milkshake kesukaanmu dan makan siang nanti, bagaimana?"

Naruto menatap Ino tanpa berkedip, bukan karena tawarannya yang terdengar menggiurkan apa lagi wajahnya yang memang cantik. Dia hafal situasi macam ini, "Kau ingin aku bagaimana?" Menaikan sebelah alis dengan wajah sinis.

"Ara~ Naruto.. Jangan selalu berprasangka buruk seperti aku sedang ingin memanfaatkanmu.." Ino menahan senyumanya di balik telapak tangan kiri saat tangan kiri membuat gerakan mengusir nyamuk dari depan wajahnya, terlihat manis sekali.

Pipinya berkedut karena senyuman ganjil terbentuk di wajahnya, "Jadi, apa yang bisa kubantu? Ino.."

"Temani aku!" Seulas senyuman benar- benar terlihat di wajah Ino tanpa ditutup- tutupi, tapi Naruto masih diam bersendekap menunggu penawaran tertinggi yang bisa dia dengar. "Nanti aku juga akan mengembalikan uangmu?"

"Deal! Milkshake, makan siang, dan uangku kembali.." Kesepakatan sudah tercapai,"Tidak biasanya kau belanja sendirian.."

"Sebenarnya aku tadi bersama Shion- san, tiba- tiba dia mendapat panggilan dan pergi entah kemana."

Naruto hanya menjawab dengan anggukan, mengenakan kembai hoodienya sambil mengambil peper bag saat Ino sudah bersipa melakukan perburuan.

"Tunggu Ino, setelah jam makan siang berakhir. Waktumu habis dan kita kembali ke rumah Sarutobi."

Ino menganguk kemudian mulai melangkahkan kaki meninggalkan area cafeteria, dengan Naruto yang mengekori langkah Ino.

Seperti yang sudah- sudah, Naruto tidak benar- benar memperhatikan apa saja yang diperlihatkan Ino. Dia hanya akan menangguk dan mengiyakan apa saja, tak perlu banyak komentar karena itu hanya akan membuat waktu berjalan semakin lama.

Butuh waktu beberapa jam sebelum kedua tanganya digantungi beberapa peper bag dengan nama- nama brand ternama. Dari dulu selalu muncul pertanyaan di otaknya ketika menemani Ino belanja, gadis itu bukan anggota club yang berhubungan dengan olah raga tapi kakinya kuat sekali berjalan. Berjalan berputar- putar dari satu retail ke retail lain.

.

.

Berkali- kali kepalanya menunduk demi memelototi jam di tangan kirinya, lalu menoleh pada Ino yang duduk disampingnya terfokus pada layar smartphone sambil jarinya yang belum berhenti sejak mereka memasuki gerbong kereta. Terlalu tidak biasa Ino menghabiskan waktu belanjanya dengana singkat.

"Hey, Ino.. Kau yakin? Ini masih sekitar jam 12.."Karena menyimpan pertanyaan kurang baik bagi kesehatan mentalnya, lebih baik tanyanan saja.

Mereka sudah menuju stasiun sejak jam 11, bukan kebiasaan Ino menghabiskan waktu belanja dalam waktu singkat.

"Shikamaru memintaku segera pulang, bersama kau juga tentunya.." Ino menoleh dengn wajah serius setelah mengantongi smartphonenya, "Naruto? Semuanya benar- bena terkejut kau langsung menikah setelah lulus sekolah, bahkan! Bahkan kau memberikan undangat tepat dihari pernikahan! Kau ini teman macam apa! Padahal kau nyaris tidak pernah bicara pada seorang gadis selain Aku, Sakura, Ten ten, dan Shion- san, jika saja kau dengan Shion- san mungkin kami tidak kaget. Tapi kau- kau menikah dengan Namikaze Karin!"

Naruto hanya berkedip- kedip melihat kearah Ino, dari semua rentetan kalimatnya terdengar seperti pernyataan ketimbang pertanyaan. Lalu dia harus bicara apa? Menoleh sekitar dan mendapati beberapa penumpang kepo menoleh padanya, lalu kembali lagi melihat kearah Ino begitu beberapa kalimat melintas di kepalanya.

"Kenapa bawa- bawa nama Shion? Shion kan sudah punya Taruho.." Melirik kearah lain," Bisa tidak pelankan suaramu? Kau mengganggu penumpang lain.."

"Aku kira kau ada affair dengan Shion, di sekolah kalian terlihat sering menghabiskan waktu bersama.." Suaranya mejadi lebih pelan, tapi tidak mengurangi pancaran antusias di matanya.

"Kau membuat kesimpulan hanya karena kami sering menghabiskan waktu bersama? Dangkal sekali pemikiranmu.."

Ctik! otot kecil tercetak di jidat Ino yang tidak selebar jidatnya Sakura.

Jika diingat lagi kebelakang, antara diinya dan Shion hanya tejalin simbiosis mutualisme. Shion yang butuh pendengar dan dirinya yang butuh gratisan makan siang, dan dari Shion pula sumber penghematannya selain Ino.

"Sekarang ceritakan bagaimana kau bisa kenal dengan Nami- mmppbbf."

Sekelebat gerak reflek saat tanganya tergerak sendiri untuk membungkam suara Ino, melebarkan matanya memberi isyarat pada Ino yang terlalu menggebu dengan pertanyaannya. Perempuan terkadang bisa berbicara leluasa di sembarang tempat tanpa melihat sekitar, tragedy seperti itu juga yang membuat Shion menghindari yang namanya girls talk. Dan hasilnya, beberapa pasang mata manusia yang penasaran terarah pada mereka beredua. Ino mengangguk sebagai tanda mengerti,

"Ino? Tidak ada yang bisa aku ceritakan apa pun padamu."

Apa yang ingin dia ceritaan jika dia sendiri tidak mengetahui cerita yang tengah dilakoninya. Naruto bicara tanpa melihat ke arah Ino, menggaruk pipinya sambil menerawang kejadian tiga hari yang lalu.

Bletak!

"IT-!" Sambil meringis, Naruto menatap tajam Ino yang menjitak kepalanya. Ino sediri menampakan senyum menggertakkan giginya dengan urat pipi menonjol terlihat kesal.

.

.

Awan kelabu masih terlihat mengumpul sementara bulir- bulir air menabrak jendela mobil, tak lama begitu mereka keluar dari stasiun hujan tiba- tiba mengguyur tanpa peringatan. Ino memutuskan untuk memesan jasa taksi karena Shikamaru yang tidak berhenti menteror. Cukup mengaherankan bagi Naruto mendengar Shikamaru yang biasanya tenang mengahadapi segala permasalahan, tiba- tiba menjadi pemaksa.

Tidak ada lagi percakapan antara dirinya dan Ino setelah insiden tarik menarik jaket hitam miliknya saat masih di peron menungu taksi. Terimaksih pada noda saus tomat nyasar yang menempel di rok Ino, membuat Naruto mengalah dan harus bertahan dari suhu yang mulai dingin haya dengan selapis T- shirt tipis.

"Maaf, kita sudah sampai."

Diluar sana masih gerimis, genangan air memantukan langit yang masih terlihat kelabu. Ino mengorek isi tas saat dirinya berkutat dengan tali- tali peper bag, kemudian pintu di sampingnya terbuka dengan sendirinya tanpa ada usaha darinya.

"Nona besar sudah menunggu di dalam, tuan muda."

Cih!

Saat kepalanya dirundung pertanyaan, ternyata sesosok pria sudah berdiri di sisi mobil dengan sebuah payung yang cukup lebar. Naruto masih duduk di jok penumpang tanpa menghiraukan keberadaan Kidomaru yang mengulurkan payung lain untuknya, melangkah keluar dan memeriksa jalanan yang terlihat sepi. Ino masih di dalam membayar tagihan saat Naruto memutuskan berlari menerjang titik kecil air yang terasa begitu dingin, dia masih menyimpan dendam pada Kidomaru dan lebih memilih mengabaikannya tanpa mengeluarkan suara.

Naruto duduk di genka sambil melepas sepatu saat Ino mulai terlihat di halaman dengan sebuah payung di tanganya, mengusap kedua lenganya yang tidak tertutup kain kaos sambil melangkah menuju shoji.

"Aku pu- eh?" Matanya yang tertuju ke dalam rumah segera melirik ke atas dengan malas, firatas buruk dan sedikit canggung. "Hey Ino, menurutmu aku harus menggunkan yang mana? Aku pulang atau maaf menganggu?"

"Biasanya kau masuk rumah tanpa suara seperti hantu, kenapa sekarang kau repot sendiri!" Suara Ino masih terdengar sinis, meninggalkan Naruto yang masih berdiri di depan pintu,"Aku pulang~ Shikamaru?! Berikan aku alasan yang tepat, karena kau membuatku panik!"

Suara laki- laki terdengar dari ruangan yang tepat berada di samping pintu masuk, dan berikutnya terdengar suara yang saling bersautan saat Naruto memutuskan menjadi hantu tanpa suara seperti kata Ino. Di dalam ruangan dengan deretan jendela besar yang menghadap taman, para mantan teman satu atapnya sedang berkumpul sambil menyembunyikan kaki di bawah kotatsu.

"Kau lama sekali! Tsk.." Shikamaru langsung memotong pembicaraan dengan Ino begitu Naruto melewati ambang pintu.

Naruto memberikan pepar bag pada Ino yang sedang berseberangan jalan denganya karena merasa terusir, "Hey Shikamaru. Kau benar- benar membuatnya kesal, Ino terlihat jadi lebih pemarah dari biasanya.." Shikamaru hanya mengendikan pundak tak ingin bicara.

"Kau brengsek sekali, Naruto.." Kiba tiba- tiba masuk pembicaraan dengan kalimat menghina meskipun wajahnya terlihat mengejek bercanda, Naruto hanya melongo," Istrimu menunggu disini, menanyakan kau sudah sampai mana tiap lima menit sekali.. Sedangkan kau malah menemani belanja seorang gadis, tsh.. hehhh.." Kiba mengelengkan kepalanya sambil mengehela nafas.

Naruto berkedip- kedip tidak mengerti karena telinganya mendenging begitu saja di awal tadi, apanya yang menunggunya di sini?! Tiba- tiba tengkuknya terasa merinding tanpa alasan, dan saat Shikamaru memberikan kode dengan lirikan mata kearah belakang punggungnya.

"Kau datang tepat waktu eh, Naruto- chan."

Wanita tua keriput itu memang biasa memanggilnya dengan homorific seenaknya tanpa memperdulikan perasaanya yang menjadi bahan cekikikan. Naruto menempatkan homorific -sama dan -chan pada tingkat yang sama,. sama- sama mengejeknya.

Tapi bukan penampilan seram nenek Biwako di usia senja yang membuatnya merinding. Tapi di belakanganya lagi, si merah darah- nona besarnya Kidomaru dan Tayuya membuatnya merasa terintimidasi hanya dengan tatapan mata tanpa ekspresi. Memang tidak ada yang bisa terbaca dari tatapan matanya, nah itu dia masalahnya. Yang Naruto khawatirkan jika wanita itu sedang kerasukan roh jahat lalu melakukan sesuatu yang fenomenal.

"Awas, minggir- minggir! Panas.. Panas.. To- tolong minggir, ini berat.." Konohamaru membuat kegaduhan dengan membawa sebuah panci besar yang masih mengepulkan uap.

Naruto bernafas lega begitu kontak mata terputus, entah kenapa rasa paranoidnya pada Karin masih belum bisa dikendalikan.

"Naruto-kun.. Akhirnya kau sampai juga, kami menunggu cukup lama.." Suara serak dari Kakek tua Hiruzen membuatnya kembali menoleh, hanya membalasnya dengan senyuman canggung.

"Hehehe.. Maaf, tadi kami terjebak hujan." Ino kembali dengan warna baju yang berbeda dari sebelumnya,"Namikaze-san, aku tadi meminjam Naruto sebentar." Lalu membungkuk singkat begitu Karin menoleh kearahnya.

Selama interaksi Karin dan Ino, memberikan jeda bagi Naruto untuk mencari celah tempat duduk dengan kemungkinan kecil akan bersebelahan dengan Karin. Dia hampir saja lupa dengan rasa kesalnya akan kejadian tadi pagi. Begitu matanya menjelajah di sekitar meja bundar itu, ada celah satu orang dia antara Kiba dan Shikamaru. Syukurlah-

Sett..

Di luar dugaan, Kiba ternyata terus mengawasinya dan dapat membaca gerakan. Baru satu langkah Naruto mendekat, Kiba segera menggeser tubuhnya mendepet Shikamaru tidak memberikan celah. Mata penggila anjing itu masih mengawasinya, sampai tiba- tiba Kiba menyeringai lalu nyengir menunjukan taring. Sial! Kiba memang paling paham situasi yang tepat untuk membuatnya merasa dipermalukan.

Tak ada pilihan lain selain duduk asal di samping Kiba, dan saat semua mengambil posisi duduk di sekitar meja bundar itu. Karin benar- benar duduk di sampingnya, Kiba menyengir menyebalkan saat iris birunya melirik iris coklat itu dengan tajam.

"Kau naik taksi? Tapi rambutmu basah.." Tangan putih Karin menyisir rambut pirang di sampingnya.

Kiba bersiul- siul pelan saat Karin mencoba mengeringkan rambutnya, "Aku bisa sendiri.." Mengambil handuk dari tangan Karin tanpa melepas deathglarenya pada Kiba masih dengan cengiranya. Dan sebelum Kiba semakin mengejeknya.

Plak!

Ujung handuk dia gunakan untuk menampar wajah Kiba.

"SAAKiitt! kau bodoh..!" Kiba melotot, melihat Naruto yang teang seolah tidak terjadi apa- apa.

"Inizuka Kiba- kun! Jangan memaki di depan makanan! Jaga sikapmu."

Final! Nenek Biwako sudah buka suara, artinya shinigami sedang berkeliaran dengan sabitnya.

"Seperti perayaan, siapa yang ulang tahun?" Naruto heran dengan hidangan mewah di atas meja, hal ini sungguh tidah biasa.

"Tentu saja!" Suara tinggi Kiba segera menyela Hiruzen yang baru ingin membuka suara, jangan lupakan wajahnya yag begitu sumringah. Naruto merasa firasat buruk,

"Kita merayakan pernikanmu, Naruto! Sedikit terlambat, kau baru muncul sih!"

Batzz.. Tubuhnya diam, menelisik wajah- wajah di sekitarnya yang tampak sumringah. Rasa- rasanya, dunianya menjadi tidak lagi berwarna. Semuanya mengangkat gelas dengan semangat, suara Kiba yang paling nyaring. Dia memang penuh semangat.

"KAMPAAiiiii..!"

Krak!

Kaca dunianya reta semakin menyeretnya pada realita, masanya di sini sudah selesai. Sudah saatnya mamasuki masa yang lain meskipun tidak pernah dia rencanakan sebelumnya. Kiba terlihat bersenang- senang saat idrinya merasa tertekan.

Perbincangan ringan mengiringi makan siang, Kiba selalu berusaha membuat celah untuk membicarakan pernikahanya yang mendadak. Tapi sayangnya, selalu kalah cepat saat Naruto dengan sengaja memotong omongan Kiba. Meskipun tanpa adanya Choji, makanan habis dalam waktu singkat, nabe di suhu dingin memang yang terbaik.

"Kakek, kudengar ada penyewa baru yang mengisi salah satu kamar..? Bukan bekas kamarku kan?" Setelah perutnya terisi, Naruto harus kembali ke tujuan utama.

"Aah ya, tentu saja bukan,. penyewa barunya anak perempuan. Kamarmu masih kosong.. Hem? Apa kau ketinggalan sesuatu?" Naruto mengangguk.

.

.

Tidak ada yang spesial dari kamar sewanya di rumah Sarutobi, kamar 5 petak yang dia tempati selama 3 tahun ini. Tatami sudah dia tumpuk di sudut ruangan, sementara kakinya berputar beberapa kali untuk mengingat tempatnya menyembunyikan benda itu. Kombinasi angka yang menjadi urutannya menghitung parket, agak lupa karena dia meletakanya saat mengganti lantai berlubang.

"Naruto- kun, butuh bantuan?" Suara perempuan tiba- tiba terdengar dari belakang.

Naruto tidak perlu menoleh, dia sudah menghafal suara itu meski baru 3 hari. Tidak juga punya niat untuk menjawab, dia dalam kondisi emosi yang buruk dan pmicunya tidak lain si wanita yang ada di belakangnya. Dikunci di dalam apertemen saat dia sudah jauh- jauh hari memiliki rencana, bukan masalah yang bisa dia abaikan begitu saja.

"Naruto- kun, kenapa kau malah mencongkel lantai?" Karin berjalan mendekati Naruto yang terihat kesulitan.

"…"

"Naruto- kun?" Karin terus berusaha membuatnya bicara,

"…"

"Naruto, kau marah padaku?"

Pertanyaan retoris!

"Naruto- kun?"

"Berisik! Apa kau memang terbiasa banyak bicara?" Tanpa menatap balik Karin yang sudah berjongkok di depannya, dia hanya perlu mengatur pernafasanya agar dapat mengendalikan emosi. Dia harus tetap tenang karena jika sampai kelepasan, dia tidak punya lagi amarah untuk disimpan menjandi dendam.

"Aku minta maaf jika melakuan kesalahan-"

Tangannya sedang kesulitan tapi wanita di depannya tidak bisa diam, sebenarnya dia hanya butuh di abaikan bukan di ricuhi dengan di ajak bicara. Apa Karin baru saja mengatakan 'jika'?! Oi, dia sudah merencanakan untuk mengambil kuliah karena tawaran beasiswanya, barukali ini dia menetapkan sebuah tujuan selain bertahan hidup. Tidak ada lagi simpanan yang cukup untuk menyokong hidupnya jika mangambil kuliah tanpa beasiswa, simpananya sudah terbagi untuk sekolahnya selama 6 tahun belakangan.

"Naruto- kun?" Karin masih teguh dengan carannya menyelesaikan masalah.

"Bisa tolong tinggalkan aku sendiri.." Bukan kalimat permintaan, tanpa mengalihkan pandangan dari lantai. Jika dia di hadapkan dengan objek kemarahanya, jangankan sentuhan kulit saling menatap pun dia tidak mau sebenarnya.

"Kalau kau kesulitan, akan kupanggilakan Kidomar-"

Brakk

Dalam rangkaian gerak cepat, Naruto menegakkan tubuhnya lalu menghentakkan kaki kanannya di atas lantai kayu yang berusaha dia congkel. Kembali menunduk untuk mengambil potongan parket dan mengambil amplop putih yang tertempel di baliknya. Lalu beralih menatap perempuan tidak pengertian yang keras kepala, padahal dia sudah bilang ingin sendiri.

"Naruto- kun?"

Karin bicara dengan tenang, ekspresi wajah melembut. Dia kira sedang bicara dengan siapa, Naruto cuma anak laki- laki yang baru menapaki usia dewasa. Dia kira cukup hanya dengan membujuknya adengan sabar. Setiap orang punya caranya sendiri- sendiri untuk meredam emosi.

"Oi ojou- sama.." Dengan waktu singkat, tanganya mendorong Karin sampai bersandar di dinding." Aku tau kau terbiasa mendapatkan apapun yang kau mau, mengendalikan keadaan seperti yang kau inginkan. Lalu aku! Aku terlalu tidak perduli dengan yang namanya harga diri, kau ingin memaksaku menikahimu, tidak memperkenalkan dirimu, tidak menjelasan apapun padaku, kau ingin menindasku. Aku tak akan perduli selama aku tidak merasa keberatan dan tidak merugikanku. Semua itu bukan masalah besar untukku.." Meskpun harus mendongak dia berbicara dengan nada rendah dan dalam, sementara iris birunya masih menatap lebar iris ruby.

"Aku bisa menjalani hidupku dengan normal, seolah tidak terjadi apa pun. Aku selalu menjalani hidupku nyaris tanpa keluhan, tapi.. Aku tetap punya batas toleransi atas apa yang kau lakukan, sekali lagi kau mencoba megacaukanku!"Sedikit cengraman Naruto berikan di lengan baju Karin, masih dengan tatapan yang sama. "Aku tidak bisa menjamin semua hal disekitarku akan tampak baik- baik saja.. Kau mengerti?" Karin tetap tidak bersuara, hanya anggukan kecil.

Naruto melepas cengkramannya, berbalik menuju pintu keluar sambill memijit pelipisnya. Decihan pelan terdengar saat tanganya memijat pelipisnya, dia tidak suka banyak bicara karena jika dia membicarakan kemarahanya. Dia tidak punya lagi alasan untuk menyimpan amarah, dan yang paling penting- terkadang dia akan langsung lupa detail perkata apa saja keluar dari mulutnya. Karena saat dia bicara dalam keadaan terlalu emosi dia akan bicara diluar kendali, otaknya tidak lagi bekerja untuk memproses kalimat tapi memutar rekaman- rekaman kejadian yang membuatnya kesal. Membuatnya bisa biara apa saja yang sebenarnya tidak ingin dia bicarakan.

Belum sampai keluar ruang, Naruto berbalik lagi karena melupakan hal penting yang sebenarnya ingin dia sampaikan."Kau! Jangan pernah mencoba mengurungku! Atau lain kali aku akan membuat apartemenmu kebanjiran!" Padahal cuma ingin mengatakan itu saja, tapi rasanya dia tadi merangkai kalimat yang terlalu panjang. Dia benar- benar tidak ingat, pasti sesuatu yang memalukan. Cih!

"Um.. Maafkan aku." Karin menjawab dengan suara pelan, raut wajahnya yang biasanya terlihat konyol menjadi sedikit berbeda.

Ketika kakinya mulai menjauh dari bekas kamarnya, Karin msih belum terlihat juga.

Naruto kembali berbalik, Karin masih bergemin di tempat. "Oi, sampai kapan kau mau di situ?"

Lagi, Karin hanya menggumamkan kata maaf dengan pelan, meskipun mulai beranjak dari tempat semula tanpa melihat ke arahnya. Dia jadi curiga jika si nona besar baru sekali ini mendapat gertakan selama umurnya, hhhh… jadi merasa bersalah.

Atau dia terlalu berlebihan? Memang baru kali ini dirinya mengancam perempuan, apalagi dengan cara bar- bar. Tunggu! Kalau diingat, memang perempuan mana yang mau di ancam jika tidak ada yang berani mendekat padanya. Abaikan Shion lalu Ino dan kawan- kawan karena mereka bukan perempuan, mereka tidak masuk hitungan perempuan.

"Apa kau t-"

"Karin! Panggil namaku.. Karin.."

Karin berjalan mendekat menjulurkan tanganya ingin meraih tangan di depanya, lalu bergerak cepat merubah arah memilih ujung kaos Naruto. Terlihat seperti bocah yang takut tersesat.

"Kau yakin hanya itu? Hanya Karin?" Naruto melirik wanita di balik punggungnya.

"Naruto-kun, tentunya namaku sudah menjadi Uzumaki Karin."

Naruto bodoh! Refleks tanganya menampar bibirnya sendiri menyesal bertanya, jadi ingat lagi jika dia tidak lagi berstatus single. Mengingatnya hal itu lagi, hidungnya terasa mampet rasanya tetap ingin menangis. Bukanya hiperbolis, dia hanya masih berada di masa- masa berdamai dengan kenyataan.

"Aa! Kakek aku pergi, aku sudah mengambilnya. Terimakasih.." Naruto membungkuk tanpa masuk ruangan,"Mmm.. satu lagi, lantainya berlubang. Tolong perbaiki sendiri."

Orang tua itu hanya tersenyum pasrah sambil mengeppulkan asap dari mulutnya.

Mantan teman satu atap Naruto hanya mengantar sampai di dekat genka karena gerimis masih belum berhenti. "Hati- hati di jalan.. Mata aimashou!"

Karin menjawab anggukan lalu mengambil payung dari Kidomaru, melambaikan tangan dengan tersenyum ramah sambil menunggu Naruto yang masih mengikat tali sepatu.

"A… Sayonara." Tanpa menoleh Naruto menyusul Karin, semakin menjauh dari tempat tinggalnya selama 3 tahun masa sekolah menengah atas.

Meskipun diucapkan dengan pelan, masih bisa didengar dengan jelas meskipun tampak tidak yakin.

"Apa Naruto tadi mengatakan selamat tinggal?" Pertanyaan Ten- ten membuat langkah 5 lima orang tadi berhenti.

"Ara~ Ten- ten kau seperti tidak tau Naruto, dia memang berasalah dengan dengan kepribadiannya yang dingin.."

"Oo.. Jadi seperti itu Naruto menurut mu.." Kiba manggut- manggut karena pendapat Ino, "Aku setuju jika Naruto selalu mengataimu pemikir dangkal. Tunggu! Kau tidak bisa menjitakku sembarangan.. Maksudku, selama ini kalian benar- benar tidak menyadarinya?" Ketiga gadis itu hanya menatap Kiba, menunggu penjelasan. "Ah! Sudah pasti kalian tidak ada yang menyadarinya. Naruto itu sebenarnya pemalu loh.."Bagian menjatuhkan martabat Naruto sudah menjadi kesenangan tersendiri untuknya.

"Ha!? Nggak mungkin! Dilihat dari berbagai situasi, dari mana asal kata Naruto pemalu? Bagaiamanapun situasinya, ekspresi wajahnya tetap begitu- begitu saja.." Sakura histeris tiba- tiba.

"Kiba! Kau yang pemikir dangkal.." Kali ini Ino menunjuk hidung Kiba.

Kiba cuma facepalm,"Ah! Perempuan mana tau maksudnya anak laki- laki, Sudahlah.. Kau benar Shikamaru, perempuan itu merepotkan. Ayo pergi, besok kita sudah harus pulang. Dan ibuku itu sangat seram kalau sudah marah."

.

.

TBC….

Sankyu! Untuk yang sudah meluangkan waktu membaca, dan terimakasih sangat untuk yang fav or foll dan mereview. Lama sekali… :D Gomen.

Saya menyadarinya, cepat atau lambat pasti akan ada yang bilang fic ini semakin membosankan dan jelasan. Jadi sebelum saya distrap dengan review seperti itu. Saya juga juga bosan karena gk nemu slot buat nyelipin humor, lagi pula emang basic fic ini bukan humor.

Kenapa si Karin sampai berchapter- chapter tetep gk jelas juga identitasnya, saya sudah menyampaikan jika Naruto di sini punya ketidak perdulian yang tinggi dengan sekitar. Penjelasan fic ini hanya akan disampaikan melalui percakapan antar karakter. Mood yang dibangun juga berdasarkan keadaan Naruto, pov saya sebagai penulis akan bercampur dengan pov naruto. Saya hanya akan memanfaatkan narasi untuk memperjelas situasi dan pikiran Naruto.

Chapter 5 selesai artinya, maksudku membuat scene nggak jelas NaruKarin tadi untuk menunjukan jika Naruto sudah membuang kepedulianya status barunya dan motif pemaksaan Karin. Mulai chap depan Naruto masuk mode normal tanpa memusingkan masalah pernikahan lagi. Aku tambahi 'OMAKE' dibawah.

Review yang bisa dijawab…..

OrewaKaito: fic ini baru menuju inti masalah loh, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Saya cuma khawatir jika kedepannya fic ini malah menjauhi anti mainstrim. Tapi, terimaksih!

Morfheus: ini saya berusaha memperbanyak word, wah.. wah.. bahaya nih kata- kata dominasi :D. Sebenarnya saya kurang paham dengan kosep yandere, jadi cuma nulias apa yang ada di pikiranku. Dan untuk karekter Hinata, tenang saja. Fic ini sudah selesai dikonsep oleh kawan saya, lalu saya menulisakan berdasarkan gambar kasar dari dia.

Selagi belum terlambat, saya hanya memperingatkan. Jangan terlalu berharap jika ingin menemukan karakter peremuan yang 'pure' moe- moe dere di sini. Dasarnya fic ini dibuat oleh dua penulis yang punya gejala fetish(LoL). Kawan saya ini selain penggemarnya hinata, dia juga suka mikasa ackerman, jadi sedikit- sedikit saya akan melirik profil mikasa untuk Hinata. Sedangkan saya sendiri penggemarnya Buntaichou dari fandom sebelah, taukan Hanji Zoe? :D tapi, tenang saja kami nggak punya kecenderungan untuk bikin genre horror/gore/suspense

Rikudou Pein 007: saya facepalm dulu :D tapi, Terimakasih sudah mereview!

Monochrome-015: wah dari sekian review, saya paling berterimakasih banyak buatmu! Saya suka reviewmu, saya jadi bisa mengevaluasi di chap selanjutnya dan juga maaf ya atas bahasanya. Terkadang saya kurang memikirkan kosa kata saat berfikir cepat. Sekali lagi, Terimaksih!

Guest: Terimakasih banyak sudah menjabarkan kata bingungmu, jadi saya paham maksudnya. Err? Saya ragu, kalau ku jawab begitu saja. Tapi saya pakai genre supernatural bukan tanpa alasan kok. Genre dan judul saiing berkaitan, sebelum jatuh ketanganku, fic ini dikasih judul BloodLines. Sekali lagi, Terimaksih!

.dsni : Maaf :D saya hanya bisa berusaha update cepat karena ini sudah tanggal kuliah aktif. Tapi terimakasih!

SuSaH e wOnG uReP: osh! Terimakasih sudah menunggu, sasuke akan muncul di chap depanya depan. Saya bingung menjabarkan hubungan sasuke dan Karin. Sekali lagi, Terimaksih!

The White Anbu: Terimakasih banyak sudah menjabarkan kata bingungmu, jadi saya paham maksudnya. Alur pertama kemarin memang ingatanya Karin, karena kurang menyukai kata flassback jadi saya ceritakan kenangan yang menjadi mimpi buruk. Kalau Karin manusia atau vampire sayu ragu menjabarkanya sendiri, jadi hal itu akan dijelaskan sejelas- jelanya oleh salah satu karakter nantinya. Sekali lagi, Terimaksih!

pedofillgila: Hem..? Saya bingung menjabarkan hubungan mereka, jadi saya hanya bisa bilang. Tolong pahami setiap kalimat yang diucapkan Karin, setiap kata itu sejenis kode. Terimaksih!

.

OMAKE

Meskipun baru beberapa hari Naruto cukup mengerti jika Karin itu tipe Nona besar yang suka seenaknya sendiri, tapi setelah kejadian di bekas kamarnya tadi. Bahkan tadi Karin terlihat cukup mendapat shocking terapi tapi sekarang, Karin malah semakin menempel padanya sampai membuatnya terdesak di antara pintu dan tubuh manusia. Sebenarnya bukan cuma tubuhnya yag terdesak, mentalnya juga sedang terdesak.

"Kau baru saja selesai makan langsung ketiduran, kucing pemalas.." Naruto hanya bermonolog karena Karin ketiduran, menyandar kepala di bahunya dan membelit tubuhnya sampai tidak punya ruang gerak.

Dari dekat aroma manis rambut Karin bisa tercium oleh hidung Naruto, meskipun lebih suka aroma natural yang menenangkan tapi dia suka aroma yang dimiliki Karin. Saat fikiranya mulai terbagi, tanpa dikomando otaknya. Tanganya bergerak merasakan tekstur halus dari helaian merah darah-

.

.

"Kubilang jangan berontak!"

Beberapa anak laki- laki berusaha menarik seorang anak lain ke dalam gudang, anak laki- laki bertubuh kecil itu hanya memelototi anak lain yang lebih besar darinya sambil menahan tanganya yang ditarik.

"Sudak kubilangkan sebelumnya, tempatmu disini sampai nyonya pergi!"

Anak laki- laki itu hanya berdiri dengan tatapan tajam tanpa suara, sampai pintu terkunci dari luar meninggalkan dirinya sendiri di dalam gudang pengap dan suram. Hal seperti ini sudah terlalu biasa terjadi padanya sampai dia malas membela diri, tubuhnya kecil dan dia sendirian melawan sekumpulan anak yang lebih dewasa dan besar.

Bukan pilihan cerdas membela diri dengan kekerasan, Suster Airi bilang jika tidak suka anak nakal yang suka berkelahi jadi akan berusaha menjadi anak baik. Lagi pula anak berbadan besar belum tentu punya kapasitas otak besar, lihat saja mereka mengunci pintu tapi membiarkan jendela terbuka lebar. Dan mereka selalu melakukanya tidak pernah belajar dari kesalahan, tak perlu di jelaskan bagaimana caranya selalu lolos dari sekapan.

"Dasar dungu!" Anak kecil itu mendekati jendela tempat sirkulasi cahaya, membuat rambut pirangnya menjadi semakin terang karena di terpa cahaya langsung.

Memandang kesekitar, setidaknya gudang lebih baik dari pada toilet yang sempit dan bau. Anak- anak kekurangan pehatian yang menyedihkan selalu iri padanya sampai suka menguncinya di tempat terpencil. Tubuhnya mulai bergerak memilih benda yang bisa dia jadikan tumpukan untuk keluar melalu jendela.

Memicingkan matanya kearah pintu yang tertutup, suara berisik terdengar dari balik pintu itu membuatnya memutar bola mata dengan bosan. "Jangan harap aku akan merengek seperti bayi, tunggu saja sampai kaki kalian mengakar di depan pintu. Aku tetap tidak mau melakukanya, menyedihkan!"

Suara berisik itu masih berlanjut sampai terdengar kerincing benda logam dan pintu terbuka lebar, menampakan siluet seseorang yang semakin medekat padanya.

"Kau baik- baik saja?" Suara lembut itu terdengar bersamaan sosok wanita yang semakin mendekat.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Wanita itu berjongkok untuk menyamakan tinggi di depan anak laki- laki yang masih tampak diam. "Namamu Naruto kan?" Anak itu mengangguk kecil, membuat wanita itu tersenyum.

Naruto selalu heran, wanita dewasa itu selalu bisa menemukanya. Bahkan saat dirinya dengan sengaja menjauh atau bersembunyi di atas pohon, nyonya itu menemukannya.

"Nah Ruto- kun, kenapa kau bisa ada di sini?" Wanita itu kembali bertanya dengan ramah.

"Mengejar tikus.." Wanita itu hanya menaikan alis dengan heran,"Maaf nyonya, namaku Naruto."

Raut wajahnya berubah dengan cepat,"Kenapa kau memanggilku nyonya?" Sambil menarik Naruto agar semakin mendekat kearahnya.

Naruto terdiam beberapa saat, terlihat berfikir,"Karena anak- anak lain memanggil anda nyonya, apa aku harus memanggil anda bibi?" Naruto tidak salah anak- anak lain juga tidak salah karena nyonya cantik dengan rambut merah itu tidak memberitaukan namanya, nyonya cantik yang sangat baik hati.

Wanita itu terlihat membuka bibir dengan ragu tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar, lalu menarik Naruto kedalam dekapannya."Benar juga, kau boleh memanggilku apa saja.. Yang menurutmu pantas untukku."

Nyonya malaikat selalu datang setiap beberapa waktu, membawakan hadiah dan mengajak bermain anak- anak di halaman. Menurut anak- anak lain nyonya baik itu adalah malaikat dan paman Danzo adalah iblis, yang baik itu adalah malaikat dan yang jahat adalah iblis.. Hahhh naifnya dunia anak- anak.

"Sekarang kau akan baik- baik saja.." Tanagn putihnya mengusap punggung kecil dalam dekapannya,"Kau tidak perlu takut lagi anak manis."

"Aku tidak ketakutan." Kenapa dia harus takut, dia saja berani berteman dengan paman Danzo yang sering membuat anak lain berlari sambil menangis ketakutan.

Nyonya malaikat mengangkatnya dalam gendonganya dengan mudah, usianya baru 7 tahun dan tubuhnya lebih kecil dari anak seusianya. Saat mereka keluar dari gudang cahaya matahari membuat matanya tertuju pada helaian warna merah di depan wajahnya, sangat halus dan harum. Dia tidak keberatan menyetujui perndapat anak- anak lain, nyonya malaikat memang cantik. Rambutnya sangat indah, rambut merah yang indah, warna-

.

.

"-merah yang indah.. Rambut merah yang indah." Naruto menggumam tanpa sadar.

Untuk sepersekian detik, Naruto tenggelam dalam lamunannya. Seharusnya kinerja otak dimasukan dalam list keajaiban dunia karena begitu cepatnya otak melakukan proses mengingat, ingatan itu hanya lewat seperti kilatan cahaya tapi sangat jelas terlihat.

Meskipun berusaha keras mengabaikan setiap masa lalunya, tapi terkadang memori itu sering datang tiba- tiba seperti hantu. Tangannyayang semula mendekap tubuh Karin yang terasa hangat, sudah terlepas begitu saja lalu menoleh keluar jendela. Sambil memandang awan kelabu,

"Cih! Terkadang aku membeci diriku sendiri yang terlalu melankolis."

Jika diminta untuk menuliskan periode kehidupanya itu sangat mudah untuknya. Masa- masa di panti asuhan akan menjadi awal dimana tahun kejadian dimulai, lalu masa 3 tahun saat di duduk di bangku menengah pertama menjadi penyambung cerita hidupnya yang mulai belajar mandiri.

Dan 3 tahun lagi saat duduk di bangku SMA, dimana dia mulai banyak berfikir dan belajar memahami dirinya sendiri. Dan di deret terbawah adalah masa sekarang, saat kegilaan mulai ambil bagian dalam rencananya di masa mendatang.

OWARI

Yk, 9/10/16

Itzhuma Hikkio