Garis Darah

Naruto milik Masashi Kisimoto

Chapter 6: Pertaruhan

.

.

Terbangun di pagi buta bukan hal yang biasa Karin alami setiap hari, jam digital masih menunjukan angka 03. 48 saat tubuhnya terpaksa digerakkan untuk mengambil segelas air di dapur. Berjalan keluar tanpa menghidupkan lampu di kamar atau seonggok daging di atas kasur itu akan langsung tersentak bangun lalu mengoceh panjang, atau paling lucu akan menatapnya dengan mata merah selama jam sarapan.

Gelap atau terang bukan masalah besar untuk matanya yang bisa mudah menyesuaikan keadaan, dalam keadaan minim cahaya Karin bisa bisa melihat seseorang duduk di pinggir ranjang. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup bayangan, tengah menyusupkan tangannya di helaian pirang rambut Naruto yang tidak merasa terusik sama sekali.

"Bagaimana kau bisa ada disini?!" Tanpa melihat wajah pun Karin bisa mengenali sosok itu.

"Ah! Selamat pagi nee- san.." Menghentikan aktivitasnya, perempuan bersuara pelan itu menoleh pada Karin yang masih berdiri di dekat pintu. "Kau baik- baik saja kan?"

"Katakan apa yang kau lakukan disini, Hinata.." Suara Karin sedikit meninggi.

Hinata menatap Karin dengn wajah polos lalu bergumam pelan, kembali mengarahkan pandanganya pada Naruto,

"Tentu saja kau baik- baik saja, aku hanya melihat- lihat," Hinata kembali tersenyum pada Karin, "Dan lihat, apa yang ada di sini. Pantas saja kau terlihat gelisah, kau terlalu banyak pikiran Nee- san.."

"Aku bukan kakakmu, menjauh darinya.."

"Nee- san adikmu ini milikku, otomatis kau adalah kakak iparku. Selain itu, seharusnya bukan aku yang kau khawatirkan, aku disini hanya proyeksi. Lihat?" Hinata menunjukan tanganya yang sebenarnya tidak pernah menyentuh Naruto, "Dari pada aku, seharusnya kau lebih mengkhawatirkan Sasuke- kun. Dia memang tidak bisa melihat seperti caraku melihat, tapi dia punya intuisi yang tajam. Apa lagi jika itu berhubungan denganmu, cepat atau lambat dia pasti akan mencarimu.."

"Sepertinya Naruto sudah membuatmu kecewa, aku dan Naruto sudah menikah. Bagaimana jika kau dengan Sasuke saja? Kalian tampak serasi.." Kali ini Karin menyeringai.

"Tidak, maaf! Aku tidak mau, aku tidak cocok denganya.." Tidak lagi terlihat polos, Hinata menunjukan ekspresinya, "Aku memang harus mengingatkanmu sekali lagi jika kami sudah terikat, kau pun juga begitu. Naruto- kun ditakdirkan untuk menjadi milikku. Aku sangat yakin paman dan bibi tidak mengetahui akan hal ini, lagi pula pernikahan kalian tidak bisa diakui sebagai pernikahan yang sah. Kita membentuk aturan sendiri, Naruto- kun menikah denganmu karena dia tidak mengetahui apa- apa tentang dirinya sendiri. Saat dia melihatku, kau harus bersiap- siap patah hati. Karena saat itu juga dia akan tau siapa pasangannya yang sebenarnya.."

Karin masih menatap Hinata dalam diam, bukan karena dia ketakutan ataupun menjadi ragu. Saat itu juga Karin tersenyum, seulas senyum kasihan pada Hinata yang menatapnya dengan sengit.

"Kau lupa? Naruto dibesarkan jauh dari lingkaran keluarga, dia membentuk pemikiranya sendiri. Sebesar apa pun usahamu untuk menariknya dalam lingkaran kita, memenjarakan keinginannya, dia akan tetap berfikir sesuai keinginannya sendiri. Kenapa dia harus tertarik padamu jika dia sudah memilikiku? Naruto itu egois dan mudah terpengaruh dengan pandangan orang- orang meskipun terlihat tidak perduli. Kau belum mengenalnya, Hinata. Jangan bicara seolah kau tau segalanya."

Bukan lagi seulas senyum kasihan, Karin benar- benar memandang Hinata dengan raut wajah yang teramat kasihan. Tidak ada keraguan yang terpancar dari tatapan matanya. Disaat yang sama Hinata mulai tampak ragu, melepaskan kontak mata dengan iris ruby milik Karin.

"Ah.. Aku sudah terlalu lama, aku belum terbiasa melakukan ini. Nee- san.. Kau mungkin saja benar, tapi-"Ekspresi wajahnya kembali polos sambil melihat kedua tangannya yang semakin transparan, kembali menatap Karin dengan mata bulanya, "Apa yang akan difikirkan Naruto-kun, saat dia tau.. Dia menikahi saudari kandungnya sendiri? Sampai jumpa nee-san."

Saat Hinata benar- benar menghilang, Karin masih membeku di tempatnya. Apa yang dikatakan Hinata tidak sepenuhnya salah-

.Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan milikku

Story juga bukan milikku

Warning! Abal/No Baku/Typo /OOC akut, dll/Incest!

Perempuan rambut hitam sebahu itu masih mencoba memanggil perempuan lainya yag masih duduk diam di kursinya, sudah cukup lama dia melkukan usahaya tapi tetapa tidak menadapatka respon berarti.

"Hinata- sama?" Suara pelan itu berhasil mendapatkan perhatian dari gadis indigo yang sedang menopang kepala di atas meja.

"A! Shizu, bisa tolong tutup tirainya?" Mengundang Tanya pada perempuan rambut hitam sebahu yang masih berdiri di samping kursi. "Terlalu terang.. Disana masih gelap, aku cuma perlu menyesuaikan pencahayaan saja.." Kepalanya masih menduduk, sampai matanya tertutup poni rata di dahinya.

Shizune segera beranjak meraih tirai, sambil mengamati keadaan gadis indigo yang mulai menegakkan kepala begitu ruangan sedikit meredup. Rambut indigo yang membingkai wajahnya terlihat lepek dan dahi berkeringat cukup banyak, dengan pernafasan cepat tapi tetap terlihat gerakan halus yang normal.

"Anda baik- baik saja? Anda berdiam diri cukup lama.." Shizune mendekat dengan segelas air untuk Hinata.

Hinata hanya menjawab dengan gumam pelan, terlihat enggan bicara.

"Hinata- sama? Saya sudah memesan tiket, penerbangan untuk seminggu kedepan. Itu tanggal tercepat yang tersisa.."

"Batalkan saja, kita ke Jepang seperti recana awal.." Hinata menatap polos pada Shizune yang terlihat masih bingung,"Ak sudah menemukannya, tepatnya seseorang menemukannya untukku.."

"Karin- sama kah? Tapi sepertinya tidak berjalan seperti apa yang direncanakan.." Sambil tersenyum maklum, Shizune menatap Hinata untuk meringanakn suasana.

"Hmm~ Aku tau dia tidak pernah menyukaiku sejak kecil, tapi aku tetap tidak menyangka dia berani melakukannya sampai sejauh ini.." Kepalanya menunduk sambil memijit pangkal hidungnya terlihat lelah, helaian indigonya tergerai menutupi matanya." Wanita yang sedang cemburu memang menakutkan.. Dan seharusnya Karin juga takut padaku, dasar brocon, tsk.."

"Tidak terdengar seperti-" Hinata langsung menoleh pada Shizune,"Umm.. Anda biasanya terdengar seperti, segera bereskan masalahnya. Umm? Semacam itu lah.."

Hinata tersenyum tipis sambil mengingat beberapa hal di kepalanya,"Tidak untuk yang ini, aku hanya perlu duduk dan menjadi gadis baik. Karin mempertaruhkan banyak hal, bukankah aku harus menghormatinya?"Senyuman di wajahnya segera memudar dan menatap lekat pada Shizune," Selain itu, sepertinya kita hampir melewatkan jam makan siang, Ayo pergi."

.

.

Seingatnya tadi, dirinya sedang berada di tengah pertempuran besar melawan monster- monster berbentuk aneh. Tapi karena menderita luka cukup parah membuatnya tergeletak tak berdaya, lalu tiba- tiba saja tubuhnya dihinggapi siput putih tak punya rumah dengan ukuran sebesar sapi perah.

Otaknya tidak bisa mengingat kronologis kejadian menggelikan yang dialaminya sekarang, tapi yang jelas dia merasakan perasaan geli, basah, dan berlendir melingkupi permukaan kulit lehernya. Tubuhnya terasa bergetar hebat dilanda rasa geli menggelikib bercampir jijik yang keterlaluan tapi tidak berani menyuarakan perasaanya, takutnya jika si siput berubah menjadi lintah tambang yang menelanya hidup- hidup karena berisik.

"Naruto."

Terdengar suara memanggil namanya, membuat si siput menghentikan aktivitasnya lalu mengepul menjadi gumpalan asap yang terhempas angin saat objek orange berkutil semakin terlihat besar jatuh dengan kecepatan tinggi. Jatuh tepat di atas tubuhnya-

Guh!

Matanya masih terasa kering dan perih karena kelopak matanya terbuka paksa, dan juga rasa nyeri yang menyeretnya dari dunia mimpi. Butuh beberapa detik untuknya memahami situasi menyakitkan saat ini, otot- ototnya masih terasa lemas untuk sekedar membela diri. Pencahayaan redup dari luar membantunya untuk mengidentifikasi sesosok manusia yang nangkring di atas tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan?" Suaranya masih terdengar serak tersendat ditenggorokan, "Karin~ kau duduk di atas perutku!"

"Kau tidur seperti mayat.." Suaranya tidak mengidikasikan emosi tertentu, tapi yang penting tidak ada hubunganya dengan duduk di atas perut manusia bernyawa.

"Aku pernah dengar jika tidur itu berarti mati sesaat, katanya ada juga yang mati saat sedang tidur.." Jawaban asal tidak berpengaruh pada Karin, sementara rasa nyeri itu semakin membuatnya tidak nyaman. "Karin? Cari tempat duduk lain sana, aku mulai kesulitan bernafas." Berkata apa adanya menjadi solusi dari rasa kewaspadaanya, berharap- harap Karin masih memiliki kepekaan cukup tinggi.

Naas, harapan itu hanya seperti do'a yang terkadang tidak di dengar karena detik berikutnya Karin memiringkan kepalanya dan membuat rambut panjangnya menjutai. Tubuh sintal terlindung kain itu ikut miring beberapa derajat kearah kiri, mendesak sisi perutnya dengan tidak seimbang dan membahayakan organ hati di dalamnya. Sumpah dirinya benar- benar merasa nyeri hati sekarang.

"Sakit!" Disaat kondisi normal mungkin Naruto akan menolongo tolol karena jeritan sakit itu seharusnya keluar dari tengorokannya,"Naruto~ Kenapa mencubit pahaku!"

"Sebenarnya aku lebih tertarik melemparmu, tapi itu tidak mungkin terjadi karena kau menduduki perutku.." Kalimat datar itu merupakan isyarat jika dirinya benar- benar kesal, sayangnya perasaanya tidak tersampaikan dengan baik pada si merah gila.

"Jahat~ Kalau begitu aku akan duduk di sini selamanya~" Wajahnya tersembunyi oleh bayangan tapi suaranya terdengar merengek lucu.

"Cih.. Sebenarnya kau mengatakan sesuatu yang nggak relevan, jangan bicara sembarangan seolah kau gadis remaja. Tolong ingat umurmu, menyedihkan!" Kali ini Naruto membarikan penekanan pada tiap katanya.

Karin kembali memiringkan kepalanya dan sekali lagi memelintir perut yang sedang di dudukinya, membuat si pirang meringis nyeri.

"Dari kalimatmu, kau seperti memandangku sebagai wanita tua tidak tau diri?"Sebuah pertanyaan itu menyadarakan Naruto pada perkataannya sendiri,"Tidak, tunggu.. Naruto aku sedang marah padamu, jangan berusaha menghiburku dengan mengajakku berdebat.."

"Oi! Dari sisi mana kau menganggap aku menghiburmu?! Aku sedang berusaha menyelamatkan diriku!" Naruto menatap horror pada wanita yang masih saja mendudukinya. "Kalau kau sedang kerasukan, cepat sadar dan menyingkir dari atas perutku!" Perutnya terasa mulai kram, rahangnya menggertak sambil menatap tajam Karin yang masih tidak bergerak dari tempatnya.

Berusaha bangkit dari posisinya dengan menggunakan siku tanganya, tapi sepasang lengan segera menghentikan usaha kecilnya. Meskipun perutnya sudah mendapatkan kebebasannya kembali, Karin beralih menekan lengannya kembali kedalam bantal. Rambutnya berjatuhan dari punggungnya dan menggelitik muka Naruto.

"O-"

"Ada apa dengan caramu tidur?! Seperti mayat, tidak peka keadaan.." Karin tidak memberikan kesempatan untuk protes, "Kau bisa saja menjadi korban pembunuhan dengan mudah karena caramu tidur.."

"Orang baik mana yang mau repot- repot membuang waktunya untuk membunuhku. Sihh.. Kau ini sebenarnya kenapa?"

"Sudahku bilang aku sedang marah padamu, jangan mengalihkan pembicaraan, Naruto." Karin kembali menegaskan sambil mencengkram kuat lengan Naruto.

Decihan keluar dari mulutnya, memangnya dirinya harus merespon seperti apa? Karin tidak sedang bertanya atau membat pernyataan yang perlu diluruskan. Sambil menggertakan giginya Naruto berusaha membebaskan dari, tapi Karin menekan lengan atasnya dengan kuat, membuat tanganya tidak dapat menjangkau tubuh sintal di atasnya. Gertakan hanya menjadi gerakan sia- sia, Karin juga tidak melakukan hal lain selain mengencangkan tekanan pada lenganya.

Satu- satunya cara yang terlintas dalam kepalanya, "O-ya-su-mi!" Abaikan saja dan kembali tidur dengan acuh, mengabaikan Karin dengan segala tingkah anehnya.

Ckitt! *Serangan cutek!

"KARIN!" Sekali lagi Karin memberikan shockterapi di pagi hari, mendekap dadanya sendiri sambil iris birunya menatap horor pada Karin, "Apa yang kau fikirkan!?" Bersuara datar, dirinya baru sadar jika masih dalam keadaan tanpa armor di balik bad cover yang hanya menutup sebagian tubuhnya.

Karin kembali mendudukan diri lalu menatap balik sambil melakukan hal yang sama seperti Naruto, menyilangakan tangan di depan dadanya berusaha melindunginya entah dari apa. "Responmu berlebihan sekali, padahal aku tidak pernah protes padamu.."

Mendengarnya membuat Naruto hanya megap- megap menelan kembali kalimatnya, dan berakhir dengan membuang mukanya yang memerah dengana kesal. Dari beberapa perempuan yang berseliweran dalam hidupnya, Karin adalah yang paling sulit dihadapi. Karakternya yang offensive dan mulutnya yang asal bersuara merupakan perpaduan menyeramkan yang layak dihindari, jika saja dirinya punya kesempatan menghindar.

Kedua tanganya kembali menjulur, menekan bahu Naruto. "Naruto, kau sudah menikah.."

Tiba- tiba tubuhnya berjengit karena hawa dingin, "Yaa.. Aku masih ingat Karin, aku tidak sedang amnesia.."

"Kau sudah punya istri-" Mendengarnya, membuat Naruto kehilangan nafas sesaat. "Dan aku istrimu.."

Jika saja dirinya berada di dunia game, keinginan terbesarnya saat ini adalah menghapuskan keberadaan Karin dari stage. "Tentu saja, karena aku laki- laki pasti pasanganku seorang istri-" Dirinya sudah kehilangan minat bicara untuk kalimat selanjutnya. Butuh waktu cukup lama untuk membiasakan diri dengan kenyataan, apa lagi realita yang bahkan tidak pernah berani dirinya bayangkan. Jika saja dirinya adalah laki- laki bernyali mungkin dirinya tidak akan segan mengungkapkan kecintaan pada karakter 2D, selamat tinggal dakimakura.

Tapi jika tetap hanya menjadi jika karena itu hanya ungkapan terlambat, bukan berarti dirinya menolak keberadaan Karin sebagai karakter 3D. Dirinya sudah berdamai dengan kenyaan sejak awal, tidak perlu diungkit- ungkit atau dibahas. Dirinya tau dan mengerti dengan situasi, setiap kali seseorang mulai membicarakan masalah statusnya saat ini, rasanya seolah bertemu dengan dementor yang siap menghisap kebahagiaanmu kapan saja. Dingin!

"Aku tau dan mengerti, kau tak perlu membicarakannya berkali- kali.. Aku lelah dan ingin tidur, jangan ganggu aku!" Sebuah peringatan yang entah disadari Karin atau tidak, dia memilih untuk tidak perduli.

Tapi Karin tetaplah Karin, "Naruto~ jangan tidur.. Katakan sesuatu untukku!"

Karin bersikeras mengguncang bahu Naruto, sampai si pirang menyerah sekali lagi dirinya paham dengan cepat. Terkadang Karin benar- benar terlihat seperti bocah jika dibandingkann dengan ojou-sama manja.

"Hmm, baiklah.. Aku cinta Karin." Meskipun dengan setengah hati mengatakanya, kalimat mengerikan itu lolos dengan mulus dari tenggorokanya.

Helaan nafas pelan menjadi pengalih dari kecanggungan yang melanda batinya, kenapa perempuan selalu meminta pernyataan dalam sebuah rangkaian kalimat yang disuarakan. Untuk laki- laki macam dirinya yang tidak pernah mengikut sertakan suaranya dalam bahasan yang berbau keintiman, apa yang diucapkan mulut naifnya tadi terasa seperti sedang menyatakan. 'Hei! Aku baru saja kentut tadi.'

Sialan! Hal- hal melegakan itu, terkadang juga memalukan disaat bersamaan.

.

.

Musing panas berlalu dengan cepat tanpa meniggalkan kesan berarti, tapi setidaknya membri tambahan koleksi memori menyenangkan. Musim panas yang ceria mulai memudar dan memuram bersamaan dengan gugurnya dedaunan.

Sudah terhitung beberapa bulan terlewat sejak hari kelulusan SMA, dan sejak saat itu pula dirinya tidak lagi melakukan olah raga berkala seperti saat masih bergabung dengan club basket. Dan sekarang tubuhnya terasa seperti rongsokan berkarat, terasa kaku dan lelah. Menggeliat beberapa kali di atas sofa karena melihat si kucing besar di layar tv juga melakukanya, lumayan sedikit membantu tapi rasanya begitu konyol.

"Kau sedang apa?" Karin tiba- toba muncul dari balik dinding dengan dua cangkir teh rosella yang masih mengepul, tercium dari baunya yang khas.

Naruto sedang tengkrap dengan kedua tangan memegang tengkuk, merusaha menekup tulang punggungnya. "Back Up."

"Ku kira kau sedang menirukan sesuatu yang kau lihat.." Karin bergumam dengan senyum mengejek yang disembunyikan di balik telapak tangan, meletakkan kedua cangkir di atas top table. "Kau terlihat seperti ikan yang sedang menggelepar karena kekeringan."

Kali ini Karin tidak menyembunyikan tawa, membuat Naruto menghentikan aktivitasnya lalu mendecih sambil melirik Karin dari bahunya. Dia hampir lupa, sejak beberapa waktu lalu Karin sepertinya menikmati hobby barunya. "Karin? Aku yakin kali ini kau sengaja, masih ada tempat duduk lain. Pergi sana.."

Usapan di atas kulit kepalanya menjadi jawaban Karin, dan sebuah senyuman tanpa dosa yang terlihat mengerikan.

"Ah! Aku ingin tau pendapatmu dihari pertamamu di kantor. Hem?" Nada antusias keluar begitu saja dari mulutnya, tanganya terus bergerak seolah rambut pirang pirang itu adalah bola kristal untuk meramal.

Naruto hanya mendengus di balik lipatan tangan, "Tsk! Katakan saja kau ingin mengerjaiku! Job des tidak jelas, menunggui pintu dari balik meja bersama kembar aneh itu. Aku lupa siapa mereka, nama yang aneh terdengar seperti kombinasi seme dan uke.." Kalimat terakhir membuatnya merinding sendiri.

Karin sedikit terkekeh. "Aku masih membicarakannya pada kepala HRD, semester awal seperti ini jarang yang mengambil magang. Ku kira kau membutuhkan teman.."

Naruto hanya menjawab dengan tawa hambar sambil berusaha mengusir Karin dari atas punggungnya. Membuat mereka berbagi sofa yang sebenarnya bisa muat 3 orang.

"Silakan."

Karin memberikan cangkir lain di tangan kananya pada Naruto, teh mulai mendingin selama mereka terlibat perbincangan tidak bermutu. Naruto yang lebih tertarik dengan siaran tv, meletakkan cangkirnya di atas meja lain tanpa menyentuhnya demi meraih remot yang jatuh di sisi kakinya. Membuat Karin mendengus dan segera memindahkan isi tehnya dari cangkir ke dalam mulutnya.

Baru saja menegakkan tubuhnya, sepasang tangan membelit leher dan tengkuknya.

"Em? Ap- ngmhhhff.." Kalimat itu tertelan dan melumer bersama larutan teh yang dipaksakan oleh Karin.

Aroma manis teh memenuhi rongga mulut dan pengecapnya karena Karin terus mendesaknya, menahan tengkuknya sampai tidak bisa bergerak. Decapan basah mulai terdengar saat Karin mulai menggerakan bibirnya, air teh yang sempat menjadi alibi hanya berakhir membasahi dagu masing- masing.

"Hem!" Karin tersentak, terlihat raut kaget di wajahnya.

"Kenapa?"

Karin hanya menggeleng lalu tersenyum dan kembali meraih bibir di depannya, Naruto melingkarkan tanganya di pinggan Karin.

~Meoww~

Suara kucing yang terdengar tidak wajar otomatis membuyarkan konsentrasinya Naruto, tapi Karin seolah tidak terganggu tetap pada melilitkan lidahnya.

~Meoww~

Dan sekali lagi, kucing biadap itu mengeong . Membuat Karin yang awalnya tidak perduli malah mengencangkan tarikanya pada rambut Naruto.

"Sakit!" Naruto mendorong tubuh Karin agar menjauh darinya, "Sudah kubilang jangan seenaknya menggigit, sshh.."

Sebuah cengiran dan pose imut andalan Karin kembali ditampilkan, dan sekali lagi bibirnya berdarah.

"Baiklah.. maafkan aku.." Karin menarik kepala Naruto dan menjilat luka di bibir Naruto, "Naruto- kun tolong lihat siapa di luar."

"Hei.. bukankah kita tidak punya kucing?" Naruto cukup penasaran dan berharap , setidaknya bisa mmeberikan salah satu sepatunya agar kucing itu tidak akan pernah kembali.

"Sebenarnya, itu suara bel.. hehehe."

Berbicara dengan nada panik Karin langsung saja berjalan cepat menuju kamar, meninggalkan Naruto yang sedang manguap dengan bosan. Ekspresinya terlihat aneh, tiba- tiba saja tersentak beberapa detik sebelum bel berbunyi.

Memeriksa jarum jam yang masih menunjukan di angka 7, setidaknya bukan cirri- cirri tamu tak diundang. Dengan langkah pelan, Naruto berjalan mendekati pintu tanpa melihat terlebih dulu siapa yang membunyikan bel.

"Siapa?" Tanpa melepas pegangnya pada hendle pintu, Naruto menatap pria di depanya.

Pria itu langsung menoleh setelah menurunkan ponsel dari telinganya, sorot mata tajam lurus tertuju pada Naruto. Belum sepatah katapun terdengar, pria itu malah memindai penampilan Naruto, membuat alis si pirang berkedut kesal. Sampai perasaan risih itu semakin menggerogoti kesabarannya Naruto menatap balik pria stylist di hadapannya, lihat saja seberapa bergaya potongan rambutnya yang mencuat di bagian tengkuk. Meskipun tidak memiliki sorot mata tajam setidaknya dia punya sorot mata bosan yang cukup memuakkan, yang selalu berhasil membuat anak kecil menangis histeris. Shion pernah mengatakan kira- kira seperti itu, dan saat itu juga dirinya belajar mengontrol bakat terpendamnya sebelum tingakatan matanya meningkat lalu mendapat julukan si mata busuk.

Sampai entah berapa detik terlewat, Naruto mulai meragukan keunggulan mata bosan memuakkannya karena pria itu tidak juga menunjukan respon berarti. Masih berdiri tegap di depannya, seolah matanya dapat menggantikan fungsi mesin X-ray.

Dan disaat bersamaan prasangka buruk membuatnya merinding sendiri, mengambil satu langkah kebelakang dan menarik handle pintu agar pintu tertutup. Naruto tidak tau dari mana asal pemikirannya yang jelas dia jadi ngeri karena terfikir jika pria tadi memiliki kelainan orientasi. Isu terkini yang dia dengar pria keren tertarik dengan pria keren, meskipun wajahnya tidak mencapai tahap ikemen dia cukup yakin dengan title gaijin yang sering dilontarkan orang- orang.

Dan saat harapan terbesarnya adalah mengunci pintu dan bersembunyi di balik selimut, nyatanya pintu tidak bisa menutup dengan rapat karena sepatu mengkilat yang tertimpa cahaya ternyata digunakan sebagai ganjal pintu. Membuat Naruto mengeratkan peganganya pada hendle karena kesal, lalu berhadapan lagi dengan pria mencurigakan di balik pintu yang masih tidak menjawab pertanyaannya. Kali ini Naruto hanya membuka pintu seperlunya, yang penting wajahnya terlihat untuk menguatkan pertahanan diri.

"Mencari siapa?" Pertanyaan itu terfikir seketika karena mengingat tabiat pria keren di drama shoujo yang tak sengaja nyasar di flassdisknya setelah di pinjam Ino.

"Karin." Bahkan dari cara bicara saja sudah keren, ikemen sialan.

Innernya mendecih, meskipun wajahnya terlihat konyol dengan alis terangkat sebelah dan kepala mengangguk sok pengertian. Terkutuk pria tampan sedunia, mati saja sana! Persis seperti yang diperhitungkanya, pria keren yang sering membuat para gadis menjerit fans girling itu biasanya pria bermata jahat hemat suara dan hanya bicara seperlunya. Bahkan memperkenalkan diri bukan prioritas utamanya-

"Aku mengerti."

Naruto berpindah ke belakang pintu agar pintu terbuka lebih lebar, memberikan kesempatan pada pria diluar agar bisa masuk. Saat pria itu mulai melangkah lebih dekat, Naruto menguatkan peganganya pada daun pintu tanpa melepas pengawasannya pada celah pintu. Dan saat rambut gelap itu terlihat melewati ambang pintu, Naruto mendorong pintu dengan bahu sekuat yang dia bisa.

Jdakk!

Suara- suara keras beruntunan terdengar dan di susul suara geraman manusia. Menyeringai, Naruto bisa mendengar suara kesakitan dan makian yang pasti ditujukan untuknya. Seringaian itu bertambah lebar saat Naruto melihat pengganjal pintu yang mencegah pintu tertutup, tanganya masih berusaha mendorong tapi percuma saja.

Brakk!

Suara- suara bising bagian kedua segera menyusul saat Naruto menendang pintu dengan kaki kanan. Membuat pintu terdorong keras dan akhirnya terkunci otomatis. Kakinya sendiri terasa sakit tapi tidak sebanding dengan perasaan puas yang meluap- luap karena misinya berhasil. Lalu memeriksa keadaan si pria tadi dari lubang di tengah pintu yang dia lupakan keberadaanya tadi.

Cciiiii..

"Mangkanya jangan sok keren di depanku, Kau! Mentang- mentang ikemen!" Bersuara datar, lalu melangkah pergi dari tempat kejadian.

Dia sendiri bingung kenapa harus melakukan hal seperti tadi, tapi yang jelas dia benar- benar tidak menyukai laki- laki tadi. Biasanya saat bertemu orang baru, dia akan berfikir untuk bertindak tenang meskipun sudah dari awal orang baru itu terlihat menyebalkan. Dan Naruto harus mengaku jika tindakannya barusan terasa lebih menyenang dari pada sesi melempari Kiba dengan bola basket di club dulu.

Karin keluar dari dalam kamar saat Naruto baru ingin membuka bibirnya,

"Kau sudah menyuruhnya masuk?" Terdengar nada kepanikan karena Karin berbicara dengan cepat.

"Oh! Kau tidak bilang aku harus mempersilakannya masuk. Jadi kubiarkan saja dia menunggu diluar…" Naruto bicara dengan suara bosan.

"Memangnya siapa yang datang?" Karin bicara tanpa menoleh sambil mengenakan sweeter tipisnya.

"Nggak kenal." Pertanyaan Karin hanya terkesan basa dan basi sebelum ke pembicaraan utama.

Tanpa ambil pusing, Naruto berjalan menuju kamar meninggalkan Karin yang masih terlihat menenangkan diri.

"Tunggu, kau mau kemana?" Naruto hanya menggerakan jarinya untuk menuding tempat tidur, "Tidak bisa, kau harus menemaniku!"

Tidak memperdulikan decihan si pirang, Karin segera menarik sebelah tangan Naruto tanpa bicara lebih lanjut. Karin berjalan membuka pintu setelah, mendorong Naruto agar duduk di sofa.

Selama Naruto berurusan dengan si tamu di depan pintu, Karin mengganti baju rumahnya dengan celana panjang dan swetter biru pastel.

"Um! Kenapa kau tidur di lantai? Sasuke-kun?"

Ppfttt!

Meskipun mengetahui kejadian sebenarnya, tapi mendengar pertanyaan polos Karin membuat Naruto berusaha keras membungkan mulutnya. Dia jadi teringat bagaimana laki- laki tadi berguingan di lantai sambil memegangi kakinya yang terjepit pintu, dan tambahan bejol merah di dahinya.

Saat pintu di buka semakin lebar, Naruto berusaha menormalkan ekspresinya meskipun dia masih ingin menertawai laki- laki yang bernama Sasuke itu. Sebaik apa pun caranya bertampang datar, dengan langkah pelan dan sedikit pincang Naruto jadi tau jika ulahnya tadi keterlaluan. Iris hitam itu menatapnya dengan tajam, tapi siapa yang perduli yang penting dia berhasil menghibur diri.

Naruto hanya menengadahkan kelapa di sandaran sofa sambil sesekali menghembuskan nafas dari mulut, interaksi dua orang yang duduk berseberangan meja itu sangat membosankan dari awal hanya bertanya keadaan masing- masing. Sedangkan dirinya hanya jadi pajangan hidup di ujung sofa yang sama dengan Karin, benar- benar membosankan.

"Naruto- kun, kau mau kemana?" Karin yang sedari tadi mengawasi Naruto dari ujung matanya, segera bersuara melihat Naruto meninggalkan tempat duduknya.

Dengan wajah bosan Naruto menoleh sekilas, "Dapur."

.

.

TBC….

Ohayou! Saya berusaha update secepat yang saya bisa.

Ternyata... terlalu semangat membalas review membuatku tanpa sadar udah ngasih spoiler T_T Lain kali saya akan lebih berhati- hati.

Saatnya menjawab review…

Laffayete: chap ini sudah saya tarik keluar sasuke dan hinata., Tenang saja saya membuatnya fic ini dengan segenap dendam di hati saya dan sepetinya kita berada di sisi yang sama. Kha ha ha ha *ketawa jahat . sebelumnya saya sudah pernah bilang tidak ingin memperbanyak chapter jika bisa. Berhubung saya juga orangnya gampang bosen, saya akan berusaha tidak berbelit- belit agar fic ini cepat kelar. Terimakasih untuk saran

OrewaKaito: Musuh? Emhhh… saya bener- bener ragu untuk memikirkan scene permusuhan antar perempuan, terbayang akan sangat merepotkan. Untuk Karin- hinata kayaknya lebih cocok jika pinjem kalimatnya juvia- tan ,'saingan cinta' wkwkwk *anjir.. geli gwa ngetik ginian

Pandiahmad-666: errr.. saya gk ta musti jawab gimana. Hanya saja jangan terlalu berharap. hahahah

AripRif'an368: Terimaksih akan saya usahakan.

gufanuha, Guest, Seneal, Ambarthefill, Awim Saluja: terimaskasih sudah mereview.

.

.

Yk, 6/11/16

Itzhuma Hikkio