Chapter 7: Omong Kosong
.
.
Katakan saja jika khayalan adalah ilusi dan kebohongan, namun ada kalanya kau tidak bisa berdalih jika kenyataan terkadang penuh tipu muslihat yang membuatmu ragu pada kenyataan itu sendiri. Keraguan selalu mengikuti kepercayaan seperti halnya bayangan akan selalu ada selama konsep cahaya dan benda terpenuhi. Seperti halnya kontradiksi yang selalu membuat tangannya gatal untuk segera membenturkan kepalanya kedinding terdekat, namun sayang.. logikanya tentang finansial mencegahnya untuk merusak apapun karena tidak ingin mengeluarkan sepeserpun untuk ganti rugi.
Decihan dan helaan nafas sudah berulang kali lolos dari bibirnya, benci dikatai sebagai penguping namun letak dapur dan ruang tamu yang berdekatan membuatnya dapat mendengar apa saja dengan leluasa. Telinga pengupingnya yang memang berspec tinggi tentu bisa mendengar bagaimana Karin terus berusaha membujuk seorang bernama Sasuke untuk kembali entah kemana, namun Sasuke masih tetap bersikeras dengan suara dinginnya. Lalu omong kosong itu terhentikan oleh dobrakan pintu bersamaan dengan tangannya yang menjatuhkan kubus gula batu.
Pria rambut orange berbadan besar menerobos kedalam ruang, wajahnya terlihat panik sambil mengatakan perjalanan mereka telah diketahui lalu dengan enggan Sasuke angkat kaki setelah memberi delikan tajam padanya dan berlalu tanpa meninggalkan sepatah kata.
Sedangkan Karin, dia menghela nafas dengan wajah tertutup helaian rambutnya sendiri membuat rumah terasa benar- benar tenggelam dalam sepi. Menyadari dirinya tidak lagi memiliki alasan untuk kembali duduk, kakinya segera melangkah beranjak pergi setelah menaruh nampan berisi perlengkapan teh.
Masih terlalu pagi dari pada biasanya, namun tubuhnya bergerak menyiapkan beberapa keperluan tanpa mengindahkan dirinya tidak menyadari kapan Karin masuk kekamar jika saja namanya tidak dipanggil, Karin menatapnya dengan wajah terkejut dan perlahan mendekat.
"Kamu akan pergi kemana?"
Merasa retoris akan pertanyaan Karin membuatnya malas untuk sekedar menoleh apa lagi menjawab,setelah persiapannya selesai Naruto berjalan melewati Karin begitu saja sambil menyisipkan earphone di kedua telinganya.
"Tidak biasanya kamu pergi pagi- pagi, tunggu-"
Meski intonasinya terdengar ragu, jangan menyebutnya Karin jika langsung menyerah begitu mudah meski tidak mendapat jawaban sekali lagi. Naruto spontan menghentikan langkahnya dan menoleh saat tas slempang dipundaknya ditarik degan sengaja, disana Karin menatapnya dengan wajah yang terlihat canggung karena senyum yang dipaksakan tak enak dilihat.
"Tunggu- sebentar aku akan ganti baju. Aku akan mengantarmu, kita berangkat bersama.. ya?"
Mendapat jawaban berupa helaan nafas pasrah membuat Karin segera melepas tas hitam Naruto dan segera berjalan cepat menuju wardrope, sementara Naruto kembali berjalan sambil mengganti playlist ipod nano hitam di tangan kirinya. Sampai langkahnya terhenti di depan pintu keluar karena Tayuya berdiri di samping pintu dengan tas hitam di depan tubuhnya sambil menggigiti kuku jari layaknya hamster memakan biji bunga matahari.
"Apa yang kau lakukan? Tayuya- san?" Perasaan aneh memakasa Naruto untuk bertanya setelah melepas salah satu earphonenya.
"Hmm.. saya ragu akan mengganggu ja- jadi.." Suara Tayuya terdengar ragu dan berbicara sambil membuang muka,"Dari pada melihat sesuatu yang.. Sugoi~ Lebih baik saya menunggu di luar,"
Alisnya mengkerut seketika mendengar perkataan tayuya,"Entah kenapa, tapi sejak kita bertemu aku selalu merasa kau selalu berusaha menyindirku?"
"Ara~ ku kira anda adalah salah satu pria tidak peka di dunia."
"Sial! Kau bahkan tidak berusaha untuk menyangkalnya!" Melihat Tayuya terkikik pelan dari balik telapak tangan membuatnya sadar akan sesuatu," Kalau kau memang segitunya tidak punya kerjaan tolong pegang ini. Jaa~"
Tidak ingin membuang waktu Naruto segera melangkah pergi dan mengabaikan Tayuya begitu saja, memasang kembali earphone sambil menaikkan volumenya. Tayuya yang merasa diabaikan hanya bisa diam sambil menahan kesal tanpa sedikitpun beranjak dari tempatnya berdiri.
"Bukankah hari ini terlalu pagi ketimbang bisanya?" Bergumam pada dirinya sediri begitu melihat jam di tangan kirinya,"Dan Karin- sama jadi lebih lama dari biasan-"
Kalimat Tayuya terhenti karena pintu di depannya terbuka tiba- tiba, menampakan wanita muda dengan rambut dan kaca mata frame merah yang terlihat terburu- buru.
"Tayuya?! Naruto? Kau lihat Naruto?" Bahkan suaranya pun terdengar terburu- buru,"Aku tidak menemukannya di dalam,"
"Naruto- sama sudah pergi dari tadi-"
Tayuya segera mengerem laju lidahnya begitu menyadari omongannya tidak akan didengar sama sekali, karena dengan kalap Karin segera merogoh tas dan saku mencari sesuatu. Begitu menemukannya Karin menggerakan jarinya dengan cepat lalu mendekatkan ponsel pada daun telinganya, Tayuya yang awalanya mengamati dalam diam segera menepuk bahu nona muda meminta perhatian.
Mendapati ponsel murah yang tengah menyala menunjukan icon panggilan dengan nama kontak iblis merah, di telapak tangan Tayuya. Karin yang awalnya menoleh dengan garang segera menepuk jidatnya begitu melihat Tayuya yang menunjukan ponsel flip milik pirang kurang ajar yang meninggalkannya, secepat kilat menyambar ponsel lalu berjongkok dengan merana menyembunyikan muka di balik telapak tangannya. "Tayuya~"
Meskipun merasa terpanggil, Tayuya merasa tidak akan mampu melakukan apa- apa dengan rengekan nona mudanya yang telah menengadah menatapnya dengan air mata di pelupuk mata.
"Sepertinya aku membuatnya marah~ apa yang harus kulakukan? Tayuya~"
Memang tidak hanya sekali Tayuya melihat kelabilan Karin yang seperti ini, namun sampai sekarangpun tidak ada yang bisa dilakukannya selain menepuk pundak nona mudanya berusaha menguatkan sambil berdoa dalam hati semoga waktu dan masalah akan mendewasakan nona mudanya.
Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan milikku
Naruto milik masasi kishimoto.
Garis Darah
Written by Itzhuma Hikkio
Warning! Pokoknya udah ku ingatkan, jika tidak suka sebaiknya jangan meneruskan membaca. Kecuali jika kamu masochist yg suka nyakitin diri sendiri, haha silakan saja.
Langah kaki yang tidak terencana dan tanpa arah tujuan yang jelas akhirnya membuatnya tersadar jika tujuannya pergi telah melenceng jauh dari tujuan awalnya, begitu menapaki jalan utama memasuki gedung universitas tiba- tiba pertanyaan itu menguar dan membuatnya secara spontan berputar arah dan semakin melangkah menjauh.
'Hah!'
Berulang kali kata- kata itu terus terucap dengan intonasi tinggi meski tidak benar- benar keluar dari mulutnya dan hanya bergema di kepalanya yang dipenuhi helaian rambut pirang. Kata- kata tertahan itu secara drastis merubah mimik muka yang biasanya di pertahankan datar menjadi bergelombang menukik dibagian alis nampak garang, membuat seorang bocah nyaris menangis sambil berusaha bersembunyi di bawah rok ibunya yang kebingungan.
"Cih! Kenapa aku harus melakukan sesuatu yang tidak ku kehendaki?! Hah?! Dari awal juga aku tidak berminat membuang waktu untuk hal membosankan seperti kuliah?!"
Akhirnya rasa empet yang ditahannya berlahan bocor dan membuatnya menggerutu pelan nyaris terdengar seperti bisikan, membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya otomatis bergeser tidak ingin berdekatan atau bersentuhan denga pundak hinanya. Cih!
Kryuukk~
Sampai gelombang lapar di perutnya membuat kakinya berhenti melangkah dan bibirnya bungkam seketika sambil menoleh sekitar dengan tangan berusaha menekan perut laparnya. Bahkan otaknya yang memang standar baru ingat belum makan apa pun untuk sarapan.
Banyak tempat makan atau kios penjual bento, namun hawa dingin mendekati musim dingin membuatnya ingin sesuatu yang berasa hangat dan mengepul.
"Haa.. Ingin yang rasanya gurih.." Meneruskan berjalan masih dengan mengedarkan mata melihat makanan di distrik perbelanjaan,
Wajahnya berbinar lalu berjalan cepat menyeberangi jalan, begitu matanya menangkap kroket berjajar di etalase.
"Obaa- chan! Tolong kroketnya-"
"Eh! Naruto?!"
Terlalu terfokus pada keberadaan kroket di depan matanya membuatnya acuh pada sekitar dan saat suara seorang gadis dari arah kirinya memotong omongannya begitu saja, barulah dirinya sadar bukan tengah mendatangi kroket justru malah mendatangi mara bahaya. Membuat ekspresi dan tangannya yang mengepal girang ke udara masih membeku sangking kagetnya. Di sela waktu singkat, otaknya bekerja dengan cepat ditekan kepanikan. Tanpa menolehpun dia sudah dapat mengenali si gadis garang yang tingkat bahaya dan sadisnya tidak akan kalah dari Ino atapun Sakura.
"Hei~?" Merasa tak direspon gadis itu mulai menarik pelan bahu Naruto.
Keringat dingin segera mengucur dari ubun- ubun yang tertutup rambut pirangnya, sambil terus menyalahkan waktu dan keadaan hingga harus bertemu salah seorang kenalannya di tempat yang tidak bisa membuatnya melarikan diri dengan segera. Bahkan ludahnya tertelan sangat sulit gara- gara kegugupannya, terpaksa dia harus berusaha berkelit dengan salah satu jurus andalannya untuk menghindari kenalannya.
"Aunty? Give me-" Aura gelap membatnya merinding seketika.
"Kau tidak akan bisa menipu ku dengan cara yang sama untuk kedua kalinya," Gadis itu segera menyerobot omongan dengan cepat disertai awan gelap yang mengitarinya.
Suara dingin bin datar disertai tarikan di bahunya yang semakin menuntut berhasil memaksa Naruto menoleh dengan leher seret seperti engsel karatan, namun bagaimanapun perasaan ingin kaburnya lebih besar dari pada hawa seram yang mulai menguar dari gadis beriris ametis yang sudah menatapnya dengan sorot horror.
"Sorry Miss but-"
"Nihongo wakarimasen?!Kah?!"
Gadis itu semakin menguatkan tarikan dan sorot mata yang semakin menyeramkan- membuat hawa dingin tak kasat mata seolah menyelimutinya meski terik matahari mulai terasa hangat samar. Dan sebelum keadaan semakin memburuk-
"Hai! Naruto desu!" Tapi gadis di depannya terlihat telah larut dalam rasa kesal dan tidak puas dengan jawabannya,"Aku baru ingat namaku Naruto!ha.. ha."
Membuang harga dirinya yang tidak seberapa terjun bebas dari harga pasaran, memaksa bibirnya tersungging dengan senyum canggung dan lirikan membuang pandangan, mengabaikan gadis bermata ametis yang telah kembali menatapnya dengan wajah meremehkan.
Setelah menyudahi perang dingin tidak beguna di antara mereka, Shion segera menarik lengan Naruto untuk mengikuti langkah kakinya. Sambil memberikan bungkusan mengepul berisi kroket pada Naruto, bibir tipisya mulai sesekali bicara. Sedangkan Naruto hanya sesekali menanggapi dengan anggukan atau wajah tersenyum bahagia karena akhirnya perut kosongnya terisi tanpa harus mengeluarkan yen.
Sesadis apapun Shion, gadis pirang bermata amethis di sampingnya tetaplah dewi penyelamatnya.
"Ano ne~ ku rasa sebaiknya kau menyudahi tingkah bodohmu berpura- pura sebagai gaijin meski sedang tidak ingin berinteraksi,"
"Hm? Kenapa? Tingkat keberhasilan teknik itu cukup tinggi, kau bahkan pernah tertipu sekali, hahah- Uhuk!" Shion begitu saja memberikan sikutan di perutnya,
"Jangan mengingatkanku pada kejadian itu.." Tatapan horror yang dilayangkanya membuat Naruto mengangguk dengan segera,"Tsk!
Melihat mood Shion yang memburuk membuatnya menaikan bahu sambil tetap memakan kroketnya tanpa terganggu,"Ngomong- ngomong kau mau pergi kemana? Shion?"
Tidak lain dan tidak bukan, tempat dimana banyak orang berkumpul adalah lokasi yang paling sering disambangainya entah bersama Ino ataupun Shion. Setelah mengutarakan betapa tidak inginnya menghabiskan waktu sia- sia dengan mendengarkan ocehan dosen yang begitu membosankan, Shion segera saja mengganti arah tujuan mereka tanpa pikir panjang.
"Dan kau benar-benar laki- laki tidak berguna! Segitu kau tidak perdulinya dengan orang disekitarmu! Sampai acara pernikahan pun tidak mengundangku! Kau anggap apa aku?!"
"Bukanya sudah jelas? Kau itu kartu kredit berjalan."
Setelah melempar tatapan horror dan menebar aura permusuhan untuk menanggapi jawaban Naruto, Shion kehilangan mood untuk bicara sedangkan Naruto yang memang aslinya tidak banyak bicara hanya diam sambil menyedot minumannya, mengabaikan sekitar.
"Naruto?"
Cola dinginya di kerongkongannya nyaris saja menyembur dari hidung, saat telinganya mendengar suara familiar memanggil namanya. Namun sekali lagi mensugesti dirinya jika itu hanya ilusi yang menyerang pendengarannya, lalu melihat jarum jam di tanganya untuk membangun kepercayaan diri,'Hahahaha.. masih jam segini, gak mungkin kan? Dia disin-.'Dan sekali lagi, sepertinya dewi fortuna memang membencinya. Hari ini tidak ada beruntung- beruntungnya sama sekali, kesialan sepertinya menempelinya sejak tadi pagi.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini," Wanita itu melirik jam ditangan persis seperti yang Naruto lakukan,"Jam segini, dan-" ," Iris rubinya segera bergulir pada Shion, semakin menyipit. "Bersama seorang gadis pirang."
Mendapati tatapan tidak menyenangkan yang diarahkan padanya, justru memancing Shion untuk mengumbar senyum manis hingga bunga- bunga imagier beterbangan disekitarnya. Membuat awan mendung segera berputar mengitari si pemuda pirang di depannya yang telah pundung dengan wajah membiru.
Naruto sempat melihatnya meski hanya sekilas,kilatan mata aneh dan sunggingan senyum mengerikan. Aura tidak mengenakan yang dirasakannya, Naruto lebih tau Shion dari yang lainya. Di balik wajah manis dan tabiat ojou-samanya, tidak salah lagi Shion adalah loki versi perempuan.
"Masih belum sampai juga?" Secepat yang otaknya bisa lakkan memikirakan rencana aman, Shion mengalihkan wajah padanya seolah bertanya."Oi.. Kau bilang sedang mengunggu Taruho, jadi aku tidak keberatan menemanimu sebentar."
Cetakan otot didahinya membuat beberapa bunga imaginernya layu seketika, i Naruto telah mengetahu rencananya. Dengan spontan decihan samar lolos dari bibirnya.
.
.
TBC.
Sudah dulu ya..
Masih dalam rangka membangun mood jadi dikit deh wordnya.
Garing ya? Sorry lagi ngerasa kehilangan sense humor, jadi agak sulit mau nerusin fic ini saat mood gk sesuai dengan cerita yang sudah- sudah. Ah sial! Lama banget dah ninggalin fic ini. Tapi makasih buat kalian yg masih nunggu sampe nanya di review.. Terharu jadinya
Sebenernya udah dari lama mengetik kejahilan Naruto, namun setelah dipikir lagi saya menghapusnya dan membuat ringkasannya saja.
Sudah sangat lama sejak terakhir saya update, haha.. lalu saya ingat pernah mengatakan akan membuat re-make fic ini pada seseorang yg mengirim saya dm. Haaaa….? Lalu begitu banyak pertimbangan saya ingin nulis kembali, dan saya akhirnya membuat keputusan. Saya akan meneruskan cerita ini entah seberapa absurbnya sampai ending dari pada terus membuat re-make yang semakin menjauhkan saya dari garis finish, baru setelah fic ini finish saya akan membuat pertimbangan ulang untuk membuat versi re- makenya. Terimakasih kalian yang masih terus memberi support,
Somewhere, 17/12/19
Itzhuma Hikkio
