Chapter 8: Kau? bilang aku bodoh? Ah, aku memang bodoh.. Jadi, salam kenal!

.

.

Hari yang cerah, bunga- bunga bermekaran di bawah langit biru tanpa awan seolah dapat menarik suasana hati seseorang menjadi baik lalu mengembangkan senyum di wajahnya seperti seorang bodoh. Namun sejak seminggu lalu tidak ada anak lain yang berlarian di taman luas dengan rumput tebal di samping bangunan asrama, sejak saat dibuat jadwal harian mengantar makanan di sebuah rumah pondokan.

Kebanyakan anak- anak akan kembali sambil menangis atau minimal menitikan air mata saking ketakutan setelah pulang dari rumah pondok, menyebar kabar jika kakek yang tinggal dirumah adalah mantan pembunuh bayaran, penculik anak- anak, atau mantan narapidana yang baru bebas dari penjara.

Mempresepsikan penampilan seorang pria tua dengan perban hampir menyembunyikan sebagian wajahnya, tatapan mata tajam seolah dapat menusuk siapa saja yang melihatnya ditambah bekas luka di dagu yang menambah kesan criminal pada dirinya membuat tidak ada bocah yang berani mendekatinya. Otak manusia telah berkembang sejak dini dalam membuat spekulasi, karena nyatanya..

"Veteran?"

"Kenapa? Kau tidak percaya?" Melihat tatapan polos dari bocah pirang di depannya membuat kerutan alis di wajah tuanya seolah tidak terima.

Bergumam seolah berfikir keras terlihat jelas di wajahnya, tak menemukan jawaban membuatnya harus bertanya. "Kek? Veteran itu apa?"

Dan si kakek tua baru sadar jika sedang berbicara dengan bocah yang usianya baru meninggalkan angka tujuh, masih terlalu dini mengenal banyak suku kata terlebih lagi terlalu naïf pada dunia. Memaksa tenggorokannya yang sudah tua berbicara panjang lebar, yang meski dirinya ragu anak seusia itu mampu memahami perkataanya. Setidaknya dia tahu tidak semua bocah akan berlari ketakutan ketika melihatnya, membuatnya sedikit penasaran.

"Hei bocah, memangnya kau tidak takut padaku?"

"Kakek.. sebenarnya mukamu seram sekali.." Setelah mencebik sebentar, bibir kecilnya kembali bicara sambil menendang krikil kecil di bawah kakinya. "Soalnya Airi pergi, belum kembali. Lalu Shisui menjadi sangat berisik dan dikerumuni banyak anak lain, aku malas mendekat,. Bicara dengan kakek Danzo lebih menyenangkan, soalnya kekak Danzo selalu sendirian,"

Ada sedikit cubitan kecil di dahi keriputnya karena mendengar entah kejujuran entah sindirian yang disampaikan dengan polosnya oleh si bocah pirang.

"Airi? Suster yang punya mata merah itu?" Naruto mengangguk,"Dia tidak akan kembali, jadi jangan lagi mengharapkan yang sudah tidak bisa kembali. Dia sudah mati."

"Sou?" Terlihat binar kesedihan namun segera menghilang saat kepealnya menengadah, menatap langit biru yang cerah. "Jadi, Airi sudah menjadi bintang dilangit-"

Membuat kakek tua itu hanya mengernyitkan alis merasa kebaratan, seolah bisa menebak kata- kata selanjutnya yang terdengar memuakkan baginya.

"Bintang ya bintang, benda langit yang mengelurkan cahayanya sendiri karena helium atau entaha apalah itu. Mati ya mati, saat jantungmu berhenti berdetak lalu otakmu berhenti berfikir. Lalu bagaimana caranya orang yang sudah mati akan menjadi bintang dan mengawasimu dari atas sana." Melihat bocah itu menampakan gelagat akan bertanya, membuat Danzo segera menyela karena malas menjelaskan. "Kau masih kecil, saat kau sudah dewasa perlahan kau pasti bisa berfikir sedikit lebih realistis,"

Lalu pandangan mata bocah itu terlihat berbinar, entah karena takjub atau akhirnya menyadari perasaan sedihnya tidak lagi bisa bertemu dengan seeorang yang dianggapnya berharga.

"Kakek..? Reatistis itu apa?"

Dan sekali lagi Danzo tua merasa sudah mengalami tanda- tanda demensia karena sekali lagi lupa jika tengah berbicara pada bocah yang belum tentu bisa membuang ingusnya sendiri, bahkan pengulangan kata yang diucapkannya saja masih salah. Membuat Danzo tua yang telah banyak makan asam garam juga bingung, reatistis itu apa?

.

.

Disclaimer: Karakter pinjaman dan Naruto jelas bukan milikku

Naruto milik Masasi Kishimoto.

Garis Darah

Written by Itzhuma Hikkio

.

.

Sepeninggal Shion yang berlalu seperti angin sepoi namun sekuat badai, membuat Naruto terfikir untuk merevisi kata pepatah yang mengatakan jika tenang sebelum badai karena nyatanya setelah badai berlalu suasana canggung tercipta seketika.. 'Badai memang tidak pernah berlalu.'

Naruto lebih memilik bersikap masa bodoh mengabaikan sekitar, fokusnya hanya tertuju untuk berpura- pura menikmati cola yang sebenarnya sudah lenyap dari cupnya sambil berpangku tangan membuang muka. Tayuya sebagai makhluk paling peka di antara mereka berusaha mencairkan kesunyian ditengah keramian yang tidak mengenakan, mengingatkan tentang jadwal yang telah dicatatnya dalam notes sakunya. Namun Karin hanya mendengarkan dengan pandangan jauh seolah tengah memikirkan sesuatu.

"Bisa kau reschedule saja, Tayuya?"

Merasa keberatan Tayuya berusaha mengintrupsi namun sebagai bawahan yang diandalkan oleh majikan yang terlihat tengah kesusahan, protesnya hanya menggantung.. seperti tanganya yang sebelumnya terangkat keudara untuk intrupsi kini malah berlagak membenarkan poni rambut yang menutupi dahinya lalu menundukan sedikit punggungnya untuk undur diri.

Merasa lengan bajunya ditarik membuat Naruto melirikkan matanya dengan malas, sejak Shion pergi Karin lebih banyak menundukan kepala. "Naruto, kurasa kita perlu bicara,"

"Hm? Bicara? Kau hanya perlu bicara karena telingaku bisa mendengar," Tanpa sadar dengusan lolos dari pernafasannya," Yaah.. meski sebenarnya aku tidak ingin mendengarkan,"

Dan begitu Karin menengadahkan kepalanya, dirinya baru sadar jika beberapa pengunjung menatap mereka dengan berbagai macam pandangan. Dirinya baru sadar sempat membuat keributan karena pandangannya hanya tertuju pada Naruto dan Shion.

Karin segera berdiri sambil merapikan rok span yang dipakainya, terlihat rasa enggan untuk menatap Naruto meski pada akhirnya bicara sambil mengulurkan tangan kanannya .

"Kalau begitu ayo pergi."

Naruto menyambutnya, meski dengan ekspresi datar yang tetap tidak hilang dari wajahnya. Dengan segala keyakinan yang dimilikinya untuk segera menjauhi tempat keramaian sejenis pusat perbelanjaan metropolitan, sayanganya.. sekali lagi Naruto tidak seharusnya merubah prinsipnya tentang berhadapan dengan perempuan.

Pulang atau mungkin tempat lain yang jauh dari keraiaman yang sempat dibayangkannya, rupanya hanya sugesti semu yang berakhir dengan kebohongan di depan mata. Sama seperti Karin yang membujuknya dengan wajah bersalah dan hawa minta disayangi tadi berubah seketika saat hatinya perlahan melunak karena merasa tak enak.

Saat tangan kirinya digenggam terlalu kuat yang secara tak langsung menegaskan siapa yang akan memimpin jalan. Bukannya menuju pintu keluar bangunan, kini dirinya malah terjebak di tengah rak etalase tinggi dengan berbagai macam produk di display sesuai merk.

"Yang ini, bagaimana menurutmu?"

Membuat alisnya berkedut, berusaha keras menahan gertakan gigi yang akan membuat rahangnya terlihat makin kokoh menunjolkan tulang. Setelah semua suasana suram yang mengitarinya tadi?! Lal tiba- tiba senyuman secerah matahari membuat matanya buta secara harfiah. Matahari memang hangat bukan? Tapi rasanya senyuman hangat secerah matahari di hadapannya malah membakarnya.

Lalu segera mengambil botol lain di sampingnya, Karin masih terlihat antusias terus mengendus botol- botol lain lalu menyodorkannya di bawah hidung Naruto tanpa melepasakan genggaman tangannya.

"Naruto! Aku suka yang ini, bagaimana menurutmu?"

Yang dapat diartikannya dari tingkah Karin saat ini hanyalah keceriaan yang tidak dimengerti olehnya, membuatnya merasa buntu oleh pikirannya sendiri. Secara sepihak berusaha melepaskan genggaan Karin yang jelas mendapat penolakan meski sama- sama tidak saling bersuara.

"Tunggu.. Aku butuh sedikit waktu jadi kau bisa diam atau melakukan apapun sesukamu dan sebaiknya kau mengabaikanku-"

Tanpa memberi jeda waktu pada Karin untuk merespon, kedua tanganya menutup kuat daun telinganya saat konsentrasinya terfokus untuk menguasai dirinya sendiri yang tengah merasa kehilangan keperibadiannya. Berbagai perasaan dan pemikiran bercampur aduk dalam benak dan otaknya hingga membuatnya merasakan kebingungan dan kehilangan dirinya sendiri.

Mengambil nafas dalam untuk memenuhi kapasitas maksimal paru- parunya, memaksa tulang rusuknya mengembang semaksimal mungkin lalu menghembuskannya perlahan. Membayangkan jika perasaan aneh yang mengendap di dadanya perlahan terkikis bersama keluarnya karbon dioksida dari paru- parunya, mengabaikan berbagai hal disekitarnya termask Karin yang tetap keras kepala ingin mengganggunya.

"Aaargghh..! Mo! Diamlah sebentar!" Suaranya menggeram menahan kesal, sementara jari- jarinya sudah beralih dari telinganya berganti sekuat tenaga berusaha meremukkan kepalanya meski tentu dirinya sadar melakukanya adalah hal percuma. Masih tetap menggeram sambil sesekali mengumpat kesal, perasannya semakin menguat seiring cetakan otot yang terlihat jelas di telapak tanganya yang kurus.

Lalu saat merasakan emosinya tidak lagi bisa dibendung, geraman melengking tinggi nyaris terdengar teriakan lolos begitu saja dari tenggoorokanya. Mengabaikan kenyataan jika saat ini dirinya berada ditempat umum, dan sedetik kemudian Naruto menyadari kenapa menyukai basket dari pada olah raga lainnya.

Kiba boleh saja disebut masternya fouls out, selalu saja dikeluarkan wasit di menit- menit kritis karena kesalahnya sendiri. Namun saat salah seorang pemain lawan mengalami cidera hingga terpaksa keluar lapangan tentu bukan salahnya Kiba, entah dirinya yang memiliki keberuntungan tinggi atau terlalu pandai menemukan celah hingga wasit tidak pernah memberikan fouls padanya. Malah memberikan hak free throw padanya secara cuma- cuma.

Mendapati wajah dan perangai Naruto yang telah kembali normal seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa- apa membuat Karin sedikit merasa terkejut dan khawatir bersamaan.

"Naruto? Kau? Emm…." Karin khawatir dan ingin bertanya namun begitu ragu dengan apa yang ingin ditanyakannya.

"Daijoubu kara." Dan seperti biasa Naruto tidak ingin terlalu banyak bicara.

"Tapi.." Melihat bagaimana Naruto telah kembali seperti biasa tidak membuat kebingunganya hilang,"Kau tadi bertingakah, aneh?"

"Hm?" Spontan menoleh pada Karin lalu mengambil tangan kanan, melalukan salaman ala eropa,"Namaku tidak penting.. tapi aku memang orang aneh, salam kenal."

Membuat Karin tidak terfikirkan apapun tentang apa yang harus dilakukannya saat ini, bahkan dia tidak terfikir bagaiaman cara merespon perkataan Naruto.

Xxxxxx

Namun bagaimanapun, setelah berbagai kejadian absurb yang telah terjadi, daftar belanja telah diselesaikan meski memakan waktus sedikit lebih lama. Dengan dua kresek besar di tangan kiri dan kanan.. tanganya Kidomaru tentunya, kacung yang disediakan Karin agar tidak perlu bersusah payah mengangkat beban belanjaan. Dia hanya perlu berjalan santai sambil menyakukan tangan di saku celana. Membuatnya mendapat pengalaman baru, untuk berlagak sebagai wakai danna.

Tidak melakukan sesuatu membuatnya merasa bosan alias tidak berguna, gengsi membuatnya tidak ingin membantu Karin membereskan barang belanjaan mereka. Membuatnya terfikir untuk segera pergi untuk menginstirahatkan badan dan pikirannya. Sampai Karin membuat langkah kakinya terhenti sesaat karena mengutarakan pertanyaan retoris seperti biasanya.

"Aku mau tidur."

Karin kembali terlihat seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak jadi, membuatnya segera berlalu pergi tidak ingin terlibat apau lagi selain tidur. Namun setelah beberapa waktu menjalani hari- hari absurb akibat dirinya memutuskan untuk mengikuti alur saat undangan pernikahan itu sampai di tangannya, secara bertahap beberapa pertanyaan dan pernyataan menjejelali kepala pirangnya.

Segera melemparkan tubuhnya di atas kasur empuk berkualitas yang sebelumnya tidak pernah dimilikinya, setelah mengunci pintu, membuang kaos dan melepas ikat pinggangnya lalu mematikan saklar membuatnya merasa bisa berfikir lebih tenang sambil memandang plafon yang tidak diketahui warna aslinya karena minim cahaya.

Membuatnya bisa menentukan kesimpulan dengan lebih tenang untuk menentukan apa yang akan dilakukanya kemudian hari. Karena pada akhirnya dia merasa jika keputusannya untuk berimprofisasai menjalani kehidupan adalah sebuah kesalah, terikat pernikahan yang sebenarnya mustahil pernah difikirkannya. Dan kemunculan Sasuke membuatnya terfikir, bagaimana cara mengakhir keabsurban hidupnya ini.

Sebenarnya, sesaat sebelum pertemuannya dengan Tayuya, saat tubuhnya berjalan tanpa tujuan karena kepalanya sibuk memikirkan apa yang akan dilakukanya selanjutnya. Kehidupan macam apa yang diinginkanya setelah lulus SMA? Setelah dirinya memberanikan diri untuk kabur dari dunia kecil berbatas tembok yang dinamakan panti asuhan-

Mencengkram dahinya secepat yang dia bisa untuk menghentikan pikirannya sendiri, karena dengan segera Naruto ingat jika tujuannya adalah untuk tertidur bukanya merenung atapun meratapi kehidupannya. Tapi saat matanya mulai terpejam menyambut dunia mimpi-

Suara keras gedoran pintu dan namanya yang dipanggil berulang kali membuatnya memilih menutup kepala dengan bantal dan kembali ke tujuan awalnya tanpa perduli pada Karin di luar sana.

.

.

TBC

Yahooo.. balik lagi saya,

Rasanya wordnya jadi tambah pendek? Soalnya seharusnya chapter ini harus jadi satu chapter dengan yang kemarin, tapi karena mood belum kumpul.. apa lah daya? Dari pada gk ada yang ku update kn? Lagian saya ingin segera mengakhiri sesi absurb ini.

Huuh.. Saya baru sadar tidak sempat membalas review di chapter sebelumnya karena harus update sembunyi2, bahkan sempat ada kesalahan format karena perbedaan versi word tempat saya mengetik dan mengupload. Padahal kalian /kamu/anda/kau iya awakmu! telah memberi dukungan dan semangat dan review yang enak dibaca. Gomennaa

sebenarnya saya telah mengetik balasan review chapter 6 yang tidak sempat saya balas di chapter 7, tapi ternyata setelah di upload anatara cerita dan review porsinya imbang jadi saya deleted saja..

Chap 7

Terimakasih guest 1 karena kamu memberi review tercepat, membuat saya merasa mendengar kata "okaeri" hahahaha, terimakasih sangat.

DallGod115: thanks vroh,

mei can: saya gk ngerti apa gues mei dan mei chan orang yang sama, pokok terimakasih karena telah memberi semangat untuk nulis kembali

Guest 2: hmm? Sebenernya saya ingin berterima kasih, tapi entah kenapa setelah membaca reviewmu. Kok saya merasa telah menjadi penjahat ya? Hahahaha. Tapi pada akhirnya saya tetap berhutang terimakasih telah menunjukan eksistensimu dan memberikan pendapatmu

.

.

Somewhere, 20/12/19

Itzhuma Hikkio,